>Nur Muhammad oleh Habib Munzir AlMusawwa

>

Mengenai Nur Muhammad saw adalah makhluk pertama haditsnya telah dikeluarkan oleh Imam Abdurrazaaq dari Jabir ra dg sanad Shahih, rujuk Kitab Anwarulmuhammadiyyah hal.13, diperkuat oleh Hadits Riwayat Ibn Abbas ra, (Kitab Assyifa oleh Imam Qadhiy ?Iyadh hal 83).

mengenai Allah swt memulai penciptaan seluruh makhluq dari Nur Muhammad saw : hadis Qudsiy riwayat ibn abbas: Kalau bukan karena Muhammad tak kuciptakan Adam, tak pula Surga dan tak pula…. hingga akhir hadits.

rwyt Imam Hakim dan hadits inipun diakui dan disahkan oleh Imam Assubki dalam kitabnya Syifaus siqom, dan Imam Bulqaini pada Fatwanya.

dan juga hadis riwayat ibn Abbas dengan makna serupa rwyt Imam Addailami fi musnadihi.
Mengenai bahwa Allah menciptakan segala sesuatu untuk/sebagai hadiah bagi Muhammad saw dapat dilihat pd Musnad Imam Hakim dg sanad shahih

namun tak lepas dari Ikhtilaf dan sanggahan, maka semua permasalahan ini merupakan Ikhtilaf yg tak perlu dipermasalahkan, bagi yg mempercayainya maka berpegang pd dalilnya, dan bagi yg tak mempercayainya pun sebaiknya berpegang pd dalilnya.
Sumber Habib Munzir AlMusawwa


Nur Muhamnmad adalah Realitas Ruhani. Sesungguhnya yang pertama sekali diciptakan Allah SWT adalah suatu realitas gaib yang bersifat ruhani sebagaimana yang telah disampaikan Rasulullah Muhammad SAW yaitu bahwa yang mula – mula diciptakan oleh Allah adalah Nur Muhammad yang diciptakan dari cahaya Ketuhanan. Selanjutnya juga disampaikan bahwa yang pertama sekali diciptakan adalah Qalam dan ‘Aqal, sehingga realitas ruhani dari hakikat Nur Muhammad tersebut difahami dalam beberapa realitas konsep yang pada hakikatnya adalah satu yaitu Sifat dari Zat yang bernama Allah

Disebut Nur atau Cahaya karena Nur Muhammad itu bebas dan bersih dari segala kegelapan dan atau karena dengan Nur Muhammad tersebut segala kegelapan hilang dan musnah.

Disebut Akal yaitu Akal Alam semesta karena dengan Nur Muhammad ini Allah melahirkan sifat Ilmu – Nya yang Maha Mengetahui segala sesuatu

Disebut Qalam atau Pena karena dengan Nur Muhammad ini Allah menyampaikan dan menyebarkan ilmu dan hikmah dalam bentuk dan rupa huruf, angka dan perkataan

Disebut Ruh atau Nyawa karena dengan Nur Muhammad ini Allah melahirkan sifat hayat yang berarti hidup dan menghidupkan dan segala sesuatu yang berhubungan dengan hidup dan kehidupan makhluk dengan Tuhannya

Dengan pemahaman tersebut dapat disimpulkan bahwa Nur Muhammad adalah sumber dari segala sesuatu yang berwujud. Dialah yang awal yang menjadi hakikat alam semesta. Allah menciptakan segala ruh dari ruhnya.

Nur Muhammad adalah nama bagi insan di alam gaib yaitu alam tempat berkumpulnya seluruh ruh sebelum diturunkan ke alam yang paling rendah yaitu alam kebendaan yang nyata.

“ Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya “ ( QS : 095 : At Tiin : Ayat : 04 – 05 )

  • Bahwa nyatanya Hayat Allah Ta’ala adalah pada hidupnya Muhammad, nyatanya hidup Muhammad itu pada tubuh kita. Apabila tidak hidup tubuh kita itu , maka tidak nyata hidup Muhammad. Apabila tidak nyata hidup Muhammad, maka tidak nyata Hayat-Nya Allah Ta’ala
  • Bahwa nyatanya Ilmu Allah Ta’ala adalah pada tahunya Muhammad, nyatanya tahu Muhammad itu pada hati kita. Apabila tidak tahu hati kita itu , maka tidak nyata tahu Muhammad. Apabila tidak nyata tahu Muhammad, maka tidak nyata Ilmu-Nya Allah Ta’ala
  • Bahwa nyatanya Qudrat Allah Ta’ala adalah pada kuasanya Muhammad, nyatanya kuasa Muhammad itu pada tulang kita. Apabila tidak kuasa tualang kita itu , maka tidak nyata kuasa Muhammad. Apabila tidak nyata kuasa Muhammad, maka tidak nyata Qudrat-Nya Allah Ta’ala
  • Bahwa nyatanya Iradat Allah Ta’ala adalah pada kehendaknya Muhammad, nyatanya kehendak Muhammad itu pada nafsu kita. Apabila tidak berkehendak nafsu kita itu , maka tidak nyata kehendak Muhammad. Apabila tidak nyata kehendak Muhammad, maka tidak nyata Iradat-Nya Allah Ta’ala
  • Bahwa nyatanya Samik Allah Ta’ala adalah pada pendengaran Muhammad, nyatanya pendengaran Muhammad itu pada telinga kita. Apabila tidak mendengar telinga kita itu , maka tidak nyata pendengaran Muhammad. Apabila tidak nyata pendengaran Muhammad, maka tidak nyata Samik-Nya Allah Ta’ala
  • Bahwa nyatanya Basir Allah Ta’ala adalah pada penglihatan Muhammad, nyatanya penglihatan Muhammad itu pada mata kita. Apabila tidak melihat mata kita itu , maka tidak nyata penglihatan Muhammad. Apabila tidak nyata penglihatan Muhammad, maka tidak nyata Basir-Nya Allah Ta’ala
  • Bahwa nyatanya Kalam Allah Ta’ala adalah pada perkataan Muhammad, nyatanya perkataan Muhammad itu pada lidah kita. Apabila tidak berkata lidah kita itu , maka tidak nyata perkataan Muhammad. Apabila tidak nyata perkataan Muhammad, maka tidak nyata Kalam-Nya Allah Ta’ala

Maka tidak satu pun yang ada pada diri kita melainkan semua adalah pada Muhammad yaitu Nur Muhammad dan tidak ada segala sesuatu itu melainkan adanya Nur Muhammad, sehingga pemahaman ini adalah kelanjutan dari pemahaman kajian terdahulu yang telah disampaikan bahwa. Zat pada Allah, Sifat pada Muhammad. Rupa pada Adam dan Rahasia pada Kita.

Hakikat Nur Muhammad adalah Ar-Ruuhul A’dzom, dengan dimensi lain disebut sebagai Akal Pertama dan Hakikat Muhammadiyah atau An-Nafs al-Wahidah (Jiwa yang tunggal), yaitu yang pertama kali diciptakan oleh Allah swt. Atau disebut sebagai Khaliqah Akbar (ciptaan agung), disebut pula dengan Al-Jauhar an-Nurany (Inti cahaya). Jika dilihat dari segi inti segalanya disebut dengan jiwa yang tunggal, dan jika dipandang dari segi kecahayaan disebut sebagai Akal Pertama. Dalam fenomena semestanya memiliki sejumlah nama dan symbol, seperti Akal pertama, Al-Qolam yang luhur, An-Nuur, Jiwa yang tunggal dan Lauhul Mahfudz.

Syeikh Abdul Qadir al-Jilany mengutip hadits qudsy, ketika Allah menciptakan Ruh Muhammad dari Cahaya KemahaindahanNya, “Aku jadikan Muhammad dari Cahaya WajahKu.”

Sebagaimana disabdakan oleh Nabi saw, “Awal ciptaan Allah adalah ruhku. Awal yang dicipta oleh Allah adalah cahayaku, dan awal yang dicipta Allah adalah Al-Qolam, dan awal yang dicipta Allah adalah Akal.” (Hr. Abu Dawud).

Yang dimaksud dari keseluruhan (ruh, cahaya, qolam dan akal) adalah Hakikah Muhammadiyah. Disebut “cahaya” karena awal ciptaan itu bersih dari kegelapan Jalaliyah, sebagaimana firmanNya: “Telah dating padamu Nur dan Kitab dari Allah.” (al-Maidah 15)

Lalu disebut sebagai “akal” karena posisinya mengenal semesta global. Dan sebut sebagai al-Qolam (pena), karena sebagai faktor transmitor pengetahuan, seperti pena yang memindahkan pengetahuan dari huruf-huruf.

Ruh Muhammadi adalah adalah simpul dari semesta ciptaanNya, sedangkan awal dan asal semesta ini, sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Aku ini dari Allah dan semua orang beriman dari diriku.”

Dari rasulullah saw, itulah semua ruh diciptakan di alam Lahut dalam bentuk hakikat paling sempurna. Dan Alam Lahut itu disebut dengan Al-Qathanul Ashly (Negeri primordial). Setelah berlangsung selama 4000 tahun, Allah swt menciptakan Arasy dari Cahaya Mata Muhammad saw, dan seluruh semesta ini berasal darinya. Kemudian dari Alam Lahut tadi diturunkan secara bertahap hingga di alam paling rendah yakni alam jasad, seperti dalam firmanNya, “Kemudian Kami turunkan secara bertahap sampai alam paling bawah. “ (At-Tiin: 5)

Pertama kali diturunkan dari Alam Lahut ke Alam Jabarut, dan Allah memberi pakaian dengan Nur Jabarut dengan pakaian dari dua tempat mulia yang disebut dengan Ar-Ruh as-Sulthany.
Dengan pakaian tersebut Allah menurunkan lagi ke Alam Malakut, lalu diberi pakaian dengan Cahaya Malakut yang dinamakan Ar-Ruh ar-Ruwany.

Kemudian Allah menurunkan ke Alam Mulki dan diberi pakaian dengan Cahaya Al-Mulki, yang disebut dengan Ar-Ruh al-Jismany (ruh jasad), baru kemudian Allah menciptakan berbagai jasad, sebagaimana firmanNya : “Darinya Kami ciptakan….” (Thaha 55), lalu Allah swt, memerintahkan ruh-ruh tersebut masuk dalam jasad, maka masuklah ruh itu denganperintah Allah Ta’ala, seperti difirmankan, “Dan Aku meniup di dalamknya dari RuhKu…”.

Ketika ruh-ruh tersebut berkait dengan jasad fisik, ia lupa pada janjinya kepada Allah di Hari Perjanjian (yaumul miitsaaq), di saat Allah swt berfirman, “Bukankah Aku ini Tuhanmu….” (Al-A’raf 172), hingga kealpaannya membuatnya ia tidak mau kembali ke Negeri Asal (Al-Wathanul Asly).

Kemudian Allah swt, melimpahkan rahmatNya, lalu diturunkanlah Kitab Samawi untuk mengingatkan pada mereka yang alpa atas Negeri Sejatinya, sebagaimana firmanNya, “Ingatkan mereka akan Hari-hari Allah…”(Ibrahim 14), yakni hari-hari pertemuan dengan Allah swt dengan para arwah.

Para Nabi saw, semuanya dating ke dunia, dan pergi menuju akhirat disebabkan oleh peringatan itu. Sedikit jumlahnya yang sadar, kembali dan rindu atas Negeri Sejatinya. Sampai akhirnya Kenabian melimpah pada Ruh Agung al-Muhammady, sebagai pamungkas para Nabi (semoga sholawat dan salam paling utama dan kehormatan paling sempurna terlimpah padanya dan kepada para Nabi dan Rasul lainnya).

Allah mengutus mereka untuk menyadarkan mereka yang alpa, darui tidur kealpaannya menuju kesadaran jiwanya. Mereka diutus untuk mengajak manusia bertemu dengan Kemahaindahan Allah azza wa-Jalla. “Katakan, inilah jalanku, aku mengajakmu kepada Allah dengan matahati, aku dan orang yang mengikutiku…(Yusuf: 108).

Matahati itulah disebut sebagai “mata ruh”, dibuka di Maqom Fuad bagi para Auliya’. Dan itu tyidak bisa diraih menurut pengetahuan eksoterik (lahiriyah) namun dengan Ilmu esoteris (bathiniyah) Laduniyah, sebagaimana firmanNya: “Dan Kami ajarkan padanya ilmu dari SisiKu…”(Al-Kahfi 65).

Maka sudah jadi kewajiban bagi manusia untuk mendapatkan matahati itu dari Ahli Batin dengan cara mengambil Talqin dari seorang Wali yang Mursyid, yang diambil dari Alam Lahut.

PUSTAKA ;

>HARUMNYA KEMENYAN

>

Tentu kita mengenal yang namanya Kemenyan atau Dupa. Ini biasa dipergunakan untuk memberi aroma tertentu pada ruangan. Kemenyan sangat unik karena memiliki aroma has yang tidak dimiliki benda lain dan ketajaman aromanya mampu menembus puluhan bahkan ribuan kilometer jauhnya, beda dengan aroma-aroma lainnya. Kemenyan disebut juga Frankincense, Olibanum, Salai guggal, atau Boswellia serrata.

Bahan kemenyan berasal dari getah pohon hutan yang juga disebut pohon kemenyan.Getah kemenyan mengandung asam sinamat sekitar 36,5 persen yang banyak digunakan untuk industri farmasi, kosmetik, rokok, obat-obatan, bahkan dapat menjadi pelengkap dalam ritual tertentu.


Pohon Kemenyan merupakan sejenis tumbuhan yang terdapat di hutan INDONESIA, Malaysia serta di negara-negara ASEAN yang lain. Nama botaninya Styrax benzoin Dryand termasuk famili Stryraccaceae dari ordo Ebeneles, Disumatera utara medan bahasa Bataknya disebut HAMINJON.

Bila anda mengenal Teratai yg daun dan bunganya tidak kotor walaupun tumbuh dikolam lumpur. Pohon Kemenyan dikenal karna dapat hidup dilingkungan yg tak masuk akal. Kemenyan dapat tumbuh/hidup diatas batu padat & angin kencang. Karna kondisi tumbuh yg berupa padang pasir dgn angin kencang, kemenyan juga memiliki akar membesar utk daya cengkramnya bila badai angin tiba. Kalau tanaman biasa tidak kering ya udah terbang dihembus angin. Tanaman lain tidak memiliki keunggulan kemampuan ini. Dan dari getah yg dihasilkan pohon kemenyan ini memiliki wangin yg tiada tandingannya.

Untuk menimbulkan aroma has maka kemenyan harus dibakar terlebih dahulu agar aromanya dapat tercium. Dan asap kemenyanlah yang mampu menembus hingga ribuan kilometer.

Kalau kita berbicara tentang aroma asap kemenyan tentu bulu roma kita sedikit bergidik, karena dari zaman dahulu kala aroma asap kemenyan kerap dijadikan komoditi ritual mistis dari berbagai etnis. bahkan aroma kemenyan ada yang menyebutkan identik dengan aroma kehadiran hantu atau dedemit /lelembut.

Bau Kemenyan Disukai Nabi
Sering kali kita jumpai pembakaran kemenyan di tempat-tempat tertentu (misalnya makam para wali). Dan juga sering dijumpai pada acara-acara tertentu (seperti doa sedekah bumi) yang dilakukan secara islami dengan menggunakan bahasa Arab. Bagi sebagian warga bau kemenyan diidentikan dengan pemanggilan roh, dan sebagian yang lain menganggapnya sebagai pengharum ruangan, dan ada pula yang merasa terganggu dengan bau kemenyan. Bagaimanakah sebenarnya hukum menggunkan kemenyan? Baik dalam kehidupan sosial bermasyarakat maupun dalam urusan beribadah?

Mengharumkan ruangan dengan membakar kemenyan, dupa, mustiki, setinggi kayu gaharu yang mampu membawa ketenangan suasana adalah suatu hal yang baik. Karena hal ini itba’ dengan Rasulullah saw. beliau sendiri sangat menyukai wangi-wangian, baik minyak wangi, bunga-bungaan ataupun pembakaran dupa. Hal ini turun temurun diwariskan oleh beliau kepada sahabat dan tabi’in. Dan menurut berita yang kami peroleh dari seorang teman yang pernah menjadi TKI di ARAB SAUDI, ternyata tradisi membakar kemenyan masih ada di sana hingga zaman sekarang. Dan Hingga sekarang banyak sekali penjual minyak wangi dan juga kayu gaharu, serta dupa-dupaan di sekitar Masjid Nabawi dan Masjidil Haram.

Beberapa hadits menerangkan tindakan sahabat yang menunjukkan kegemaran mereka terhadap wangi-wangian hal ini ditunjukkan dengan hadits:

اذا جمرتم الميت فأوتروا
Artinya: Apabila kamu mengukup mayyit, maka ganjilkanlah (HR. Ibnu Hibban dan Alhakim)

Addailami juga menerangkan

جمروا كفن الميت
Artinya: Ukuplah olehmu kafan maayit

Dan Ahmad juga meriwayatkan:

اذا اجمرتم الميت فاجمرواه ثلاثا
Artinya: Apabila kamu mengukup mayyit, maka ukuplah tiga kali

Bahkan beberapa sahabat berwasiat agar kain kafan mereka diukup

أوصى أبوسعيد وابن عمر وابن عباس رضي الله عنهم ان تجمر اكفنهم بالعود
Artinya: Abu Said, Ibnu Umar dan Ibnu Abbas ra. Berwasiat agar kain-kain kafan mereka diukup dengan kayu gaharu

Bahkan Rasulullah saw. pernah bersabda

جنبوا مساجدكم صبيانكم وخصومتكم وحدودكم وشراءكم وبيعكم جمروها يوم جمعكم واجعلوا على ابوابها مطاهركم (رواه الطبرانى)
Artinya; Jauhkanlah masjid-masjid kamu dari anak-anak kamu, dari pertengkaran kamu, pendarahan kamu dan jual beli kamu. Ukuplah masjid-masjid itu pada hari perhimpunan kamu dan jadikanlah pada pintu-pintunya itu alat-alat bersuci. (HR. Al-Thabrani).

Hadits-hadits di atas sebenarnya menunjukkan betapa wangi-wangian adalah sesuatu yang telah mentradisi di zaman Rasulullah saw dan juga para sahabat. Hanya saja media wangi-wangian itu bergeser bersamaan dengan perkembangan zaman dan teknlogi. Sehingga saat ini kita merasa aneh dengan wangi kemenyan dan dupa. Padahal keduanya merupakan pengharum ruangan andalan pada masanya.

Di satu sisi persinggungan dengan dunia pasar yang semakin bebas menyebabkan selera ‘wangi’ jadi bergeser. Yang harum dan yang wangi kini seolah hanya terdapat dalam parfum, bay fress dan fress room. Sedangkan bau kemenyan dan dupa malah diidentikkan dengan dunia klenik dan perdukunan.

Kemenyan dalam Pengobatan
Pohon kemenyan atau pohon Boswellia, ditemukan terutama di India. Pohon Boswellia adalah pohon balsamic yang mengeluarkan oleoresins aromatik yang dikumpulkan dari luka kulitnya pohon, saat kering menjadi permen karet. Dalam teks-teks kuno medis Ayurvedic dari India, eksudat bergetah dari Boswellia dikelompokkan dengan resin karet lainnya dan secara keseluruhan disebut GUGUL.

Permen karet-resin dilaporkan untuk memiliki, obat penenang dan aktivitas analgesik. Bila seluruh lemaknya dihilangkan ekstrak eksudat permen karet (oleo-gum-resin) ditemukan memiliki aktivitas anti-inflamasi dan anti-rematik ditandai terhadap arthritis ajuvan pada hewan percobaan dan bebas dari racun atau efek samping lainnya. Hal ini juga ditunjukkan untuk memiliki ditandai menurunkan kolesterol dan trigliserida aktivitas. Uji klinis pada pasien rematik telah menunjukkan hasil yang menjanjikan. asam Boswellic terisolasi dari getah menghambat, dalam konsentrasi dengan cara bergantung, pembentukan produk 5-lipoxygenase dengan IC50 1,5? M. studi toksisitas kronis di monyet sehat mengungkapkan bahwa obat itu tidak memiliki bio-kimia, dan lain toksisitas hematologi.

permen karet ini dikreditkan dengan zat, stimulan, ekspektoran, diuretik, yg mengeluarkan keringat, antipuretic, emmenagogue obat perut, ecbolic dan sifat antiseptik. Hal ini dilaporkan berguna dalam borok, tumor, gondok, payudara cystic, diare, disentri, tumpukan, asma, bronkitis, laringitis kronis, penyakit kuning, sifilis dan penyakit kulit. Hal ini digunakan dalam penyusunan sebuah salep untuk luka dan digunakan dengan mentega di sifilis. Permen karet-resin adalah zat, anti-menurunkan suhu badan, antidysentry, ekspektoran, diaphosetic, diuretik, obat perut, emmenagogue. Hal ini berguna dalam demam, diaphoresis, kejang, disentri, urethrorrhea, orchiopathy, bronkitis, asma, batuk, stomatitis, penyakit sifilis, radang tenggorokan kronis, penyakit kuning dan arthritis.

Boswellic asam adalah agen-agen anti-inflamasi dan anti-rematik yang efektif, baik untuk osteoarthritis dan rheumatoid arthritis, rematik jaringan lunak, dan nyeri pinggang. Mereka juga membantu mengendalikan berlebihan lipid darah tinggi dan atherosclerosis, dan melindungi hati terhadap endotoksin bakteri-galactosamine. Bagian non-asam dari permen karet itu telah sakit-relieving dan kualitas obat penenang, dan dalam dosis tinggi dapat menurunkan tekanan darah, dan mengurangi denyut jantung pada anjing, melainkan peningkatan dalam katak. Manfaat yang diamati Boswellia termasuk pengurangan mobilitas sendi bengkak, meningkat, steroid hemat tindakan (kurang steroid dibutuhkan dalam kombinasi perlakuan), kekakuan pagi kurang, kekuatan cengkeraman ditingkatkan, dan peningkatan umum dalam kualitas hidup, baik untuk osteoarthritis dan rheumatoid arthritis.

– Pachnanda et al., Ind J. Pharmacol., 1981; 13: 63.
– The Wealth Asia, PID, CSIR, 1996, New Delhi.
pustaka ;
http://www.nu.or.id/page/id/dinamic_detil/10/27222/Ubudiyyah/Bau_Kemenyan_Disukai_Nabi.html
DLL.

NB. 
-ukup itu sesuatu yang diletakan sebentar diatas diatas pembekaran biar kena asap.
pembakaran yg dimaksud adalah bara yang dikasih kemenyan sehingga mengeluarkan asap…barang yang diukup biasanya akan ikut wangi dari wewangian yang dibakar tadi…..

Di Arab Saudi (skrg) memang orang suka membakar bukhur atau gaharu di majlis/ruangan tanpa ada maksud apa2 kecuali agar harum. Kalo kita memasuki pasar/mall di sekitar masjid Nabawi maupun masjid harom, akan terlihat dan tercium bau kemenyan (asap dupa). Bagi yang tdk terbiasa dgn bau kemenyan akan terasa sampai eneg. Begitu juga dibeberapa masjid orang syiah di Arab Timur (Al Qatif) didalamnya dihias lampu warna warni dan membakar wewangian tsb. Menyan di Indonesia baunya sangat beda & tidak wangi serta identik dengan dukun, manggil roh, klenik, sesaji dsb. 

>MALAIKAT DAN JIN BUKAN GHAIB

>

Assalaamu ‘alaikum wr. wb.

Dalam karyanya, al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun, ber kata bahwa ada empat obyek utama para sufi:

  • Latihan rohaniah dengan rasa, intuisi, serta introspeksi diri
  • Iluminasi atau hakikat yang tersingkap dari alam gaib, misalnya: sifat-sifat rabbani, ‘arsy, kursi, malaikat, wahyu, ruh, hakikat realitas segala yang wujud, yang baib maupun yang tampak, dan susunan kosmos, Pencipta serta penciptanya.
  • Peristiwa dalam alam maupun kosmos yang berpengaruh pada berbagai bentuk karomah dan keluarbiasaan.
  • Penciptaan ungkapan yang pengertiannya samar (syathahiyyat), reaksi masyarakat awam berupa mengingkarinya, menyetujui, menginterpretasikannya.

Tersingkapnya hakikat realitas yang wujud, iluminasi, Ibnu Khaldun menungkapkan bahwa, para sufi melakukan latihan rohaniah dengan mematikan kekuatan syahwat serta menggairahkan ruh dengan jalan menggiatkan dzikir. Dengan dzikir, jiwa bisa mengalami hakikat realitas tersebut, jika hal ini tercapai, maka yang wujud pun telah terkonsentrasikan dalam dalam pemahaman seseorang, yang berarti ia berhasil menyingkap seluruh realitas yang wujud. Menurut Ibnu Kaldun Ketersingkapan yang seperti ini timbul dari kelurusan jiwa, yang seperti cermin rata dan dapat memantulkan gambar.

DEFINISI GHAIB
Di dalam Al Qur’an banyak sekali ayat yang memberikanketerangan masalah ghoib yaitu dikatakan bahwa hanya Allah sajalah yang tahu masalah ghoib,bahwa hanya Allahswt dan Rosul yang diridlai-Nya sajalah yang mengerti tentang ghoib (QS. Jin: 26-27).
“(Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yg ghaib, maka Diatidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya“.

Dalam hal ini saya akan mengambil sampel tentang bangsa Jin untuk menggambarkan definisi dari ghaib itu sendiri.Mari kita tinjau tentang bangsa Jin itu sebetulnya ghaib atau bukan.

  1. Ditinjau dari bahan pembuat Jin. Jasad manusia diciptakan dari tanah sedangkan jasad Jin diciptakan oleh Allah SWT dari api. Sekarang kita lihat sifat-sifat dari api. – Apakah api itu sesuatu yang ghaib? Jawabnya tentu bukan. Api adalah sesuatu yang bukan ghaib, karena kita dapat dengan jelas melihat api tersebut dengan mata jasad kita. Lalu apa sifat dari api itu? a. Api itu tidak bisa dipegang, kita hanya bisa memegang yang menimbulkan api saja. Contoh: kita memegang obor. Tentu kita tidak dpt memegang api dari obor itu kan? Tapi kita dapat memegang obornya dan mengendalikan api itu bukan? b. Api tidak dapat dipegang tapi dapat kita rasakan. Rasa dari api adalah panas dan dapat membakar sesuatu yang ada disekitarnya. Jadi kesimpulannya ditinjau dari bahan asalnya bangsa Jin itu adalah bukan sesuatu yang ghaib.
  2. Kita tinjau dari sisi ilmu teknik/fisika. Sebuah contoh mengenai FREKUENSI SUARA yang diterima oleh telinga kita. Telinga manusia hanya mampu mendengar suara yang mempunyai frekuensi (getaran) antara 20 Hz sampai 20 kHz.

Telinga manusia tidak mampu mendengar suara yangmempunyai frekuensi diluar range tersebut(antara 20 Hz sampai 20 kHz). Misal 30 kHz,atau 10 Hz atau frekuensi radio yang mempunyai getaran sampai ratusan mega Hz. Apakah frekuensi (getaran) tersebut suara ghaib ? Jawabnya tentu BUKAN.Contoh lagi: – Sinar infra merah, sinar ini banyak digunakan untuk remote kontrol alat-alat elektronik (TV dll). Bukankah mata kita tidak dapat melihat nya ? Tapi apa dia sesuatu yang ghaib ?. Jawab nya tentu bukan. Begitu juga sinar ultra violet.

  • Kelelawar dapat menghasilkan suara ultrasonic dgn frekuensi diatas 20 kHz yang mana telinga manusia tidak dapat mendengarkannya.
  • Jangkrik dapat mengeluarkan suara intrasonic dengan frekuensi lebih kecil atau sama dengan 20 Hz (<= 20 Hz),dimana sebagian suaranya dpt didengar oleh telinga manusia dan sebagian tdk dapat didengar oleh telinga manusia.

Sekarang mari kita bicara tentang benda:
Kita tahu bahwa setiap benda itu kalau dipecah-pecah menjadi bagian yang lebih kecil disebut MOLEKUL dan molekul ini masih dpt dilihat. Molekul jika dipecah pecah menjadi bagian yang lebih kecil lagi disebut ATOM. Atom terdiri dari INTI ATOM dan ELEKTRON. Inti atom dibagi lagi menjadi dua bagian : PROTON dan NETRON, Proton bermuatan positif (+), netron mempunyai muatan netral dan elektron bermuatan negatif (-). Elektron ternyata hidup dan berputar mengelilingi inti atom dengan kecepatan 300.000.000 meter/detik sama dengan kecepatan cahaya.

Dari teori diatas dapat diambil dua kesimpulan: 

  1. Pada hakekatnya tidak ada benda mati (meja kursi dll) karena apa? Karena elektron selalu berputar/bergerak dengan kecepatan 300.000.000 meter/detik. Siapa yang menggerakkan elektron tersebut?
  2. Elektron berputar mengelilingi inti atom dengan kecepatan 300.000.000 meter/detik, dan itulah yg dapat ditangkap oleh mata kita. Mata kita hanya mampu melihat benda yang mempunyai kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya sebesar 300.000.000 m/det saja. Diluar kecepatan itu mata manusia tidak dapat melihatnya.

Konon mata anjing, kerbau, dapat melihat sesuatu benda hidup/mati yg mata manusia tidak mampu melihat benda tersebut. Dalam hal ini mata hewan tersebut mempunyai range yang lebih lebar dibanding range mata manusia, mata hewan tersebut mampu melihat benda yang kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya lebih besar atau lebih kecil dari 300.000.000 meter/detik (mungkin 250.000.000 m/det sampai 400.000.000 m/det)

Sebuah contoh:

  • Peluru yang ditembakkan oleh seorang tentara, dengan kecepatan yang sangat tinggi peluru tersebut melesat. Mampukah mata kita melihat peluru tersebut? Tentu tidak. Apakah peluru itu sesuatu yang ghaib? Tentu bukan. 
  • Mampukah mata kita melihat pertumbuhan sebuah pohon atau tanaman yang sangat pelan sekali kecepatan tumbuh per detiknya? Tentu tidak.

Lantas apakah ada benda yang mempunyai kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya diatas 300.000.000 m/det atau dibawah 300.000.000 m/det? Jawabnya ada.Alam tersebut paralel dengan dunia kita, dunia manusia. Apakah alam lain tersebut ghaib? Jawabnya BUKAN.

Alam lain tersebut mempunyai benda yang kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya diatas 300.000.000 m/det atau dibawah 300.000.000 m/det. Mata jasad manusiatidak dapat melihatnya. Tapi dia bukan ghaib. Mungkin suatu saat nanti dengan adanya kemajuan teknologi yang sangat canggih manusia dapat berkomunikasi dengan alam lain tersebut.

Jadi dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa BANGSAJIN ITU adalah BUKAN SESUATU YANG GHAIB. Perbedaannyadengan alam manusia hanya pada kecepatan elektron mengelilingi inti atomnya saja.

Kemungkinan besar kecepatan elektron mengelilingi inti atom di alam Jin lebih tinggi dibanding dengan kecepatan elektron mengelilingi inti atom di alam manusia sehingga mata jasad manusia tidak mampu melihatnya/menangkapnya.

Harapan saya mudah-mudahan dengan contoh-contoh dan penjelasan yang diuraikan diatas dapat diterima oleh pembaca dan sekaligus dapat menghilangkan perbedaan pendapat antar sesama orang Islam mengenai sesuatu yang selama ini dianggap ghaib.

Dengan tulisan ini bukan maksud saya mengajak pembaca sekalian untuk bersekutu dengan bangsa Jin (apalagi bersekutu dengan syetan dari golongan bangsa Jin)melainkan hanya sekedar menambah wawasan pembaca saja tidak lebih dari itu.

Sebetulnya definisi Ghaib yg sebenarnya telah diterangkan di dalam Al Qur’an Surat An Naml ayat 65-66 yang artinya:
Katakanlah : Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang ghaib, kecuali Allah dan mereka tidak mengetahui bila mereka akan dibangkitkan. Sebenarnya pengetahuan mereka tentang akhirat tidak sampai (kesana) malahan mereka ragu-ragu tentang akhirat itu, lebih-lebih lagi mereka buta dari padanya. ” (Q.S. An-Naml : 65-66)

Jadi definisi ghaib yang sebenarnya adalah DZAT ALLAH sendiri.

MALAIKAT DAN JIN BUKAN GHAIB

  1. MALAIKAT ADALAH BUKAN GHAIB KARENA AYAM JAGO DAPAT MELIHAT MALIAKAT.
  2. JIN (SYETAN) JUGA BUKAN GHAIB KARENA ANJING DAN KELEDAI DAPAT MELIHAT JIN (SYETAN).
  3. YANG GHAIB HANYA ALLAH SWT SAJA.

QS. Jin: 26-27:
“Dia adalah Tuhan Yang Mengetahui yg ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorangpun tentang yang ghaib itu. Kecuali kepada Rasul yang diridlai-Nya, maka sesungguhnya Dia mengadakan penjaga-penjaga (malaikat) di muka dan di belakangnya”.

Hadist Nabi:
Apabila kamu mendengar ayam jago berkokok (di waktu malam), mintalah anugerah kepada Allah, sesungguhnya ia melihat Malaikat. Tapi apabila engkau mendengar keledai meringkik (di waktu malam), mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syaitan, sesungguhnya ia melihat syaitan” (HR. Bukhari dengan Fathul Baari 6/350, Muslim 4/2092 no. 2729. Tambahan yang terdapat dalam kurung diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Adabul Mufrad no 1236, lihat silsilah Adabul Mufrad no. 938 dan Silsilah Ahaadist ash-Shahiihah no. 3183. Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu.)

Jika kalian mendengar lolongan anjing dan ringkikan keledai pada malam hari maka berlindunglah kepada Allah darinya karena ia melihat apa yang tidak dapat kalian lihat.” (HR. Abu Dawud no. 5103, Ahmad 3/306, 355-356 Shahih al-Adabul Mufrad no. 937 serta Ibnu Sunni no. 311 dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah. Dari Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu.)

Antara dalil Al-Qur’an dan dalil Hadist tersebut diatas “seolah olah” bertentangan, padahal tidak.

Meminjam istilah dari spiritual bahwa sebetulnya Malaikat, Jin, alam barzah, alam kubur, surga, neraka, alam siluman, dll (pokoknya sesuatu yang tidak bisa ditangkap oleh panca indra manusia) itu disebut dengan istilah AL-GHUYUB bukan AL-GHAIB.

  1. AL-GHUYUB adalah sesuatu yang ghaib tapi masih bisa dibayangkan oleh pikiran kita, misalkan bentuk Jin, Siluman, wajah malaikat, keadaan neraka/surga, siksa kubur seperti apa, dll.
  2. AL-GHAIB adalah hanya ALLAH SWT saja, yang bentuk-NYA, keadaan-NYA tidak boleh dan tidak bisa dibayangkan oleh pikiran kita . LAISA KAMISLIHI SYAI’UN (QS: Asy Syuura ayat 11).

Jadi ghaib yang dimaksud di Al-Qur’an surat Jin: ayat 26-27 itu adalah AL-GHAIB bukan AL-GHUYUB. Sedangkan yang di maksud di hadist Nabi Muhammad SAW di atas adalah AL-GHUYUB bukan AL-GHAIB.

Di Al-Qur’an surat Jin ayat 26 sampai ayat 27 tersebut diatas dikatakan bahwa yang mengetahui AL-GHAIB adalah hanya Allah SWT dan Rosul yang diridhai saja. Siapa Rosul yang diridhai oleh Allah SWT untuk mengetahui yang ghaib ? Tidak lain Rosul yang diridhaiNya tersebut adalah Nabi Muhammad SAW.

Mengapa?
Karena Nabi Muhammad SAW telah diperjalankan oleh Allah SWT melalui perjalanan Isra’ mi’raj sampai ke langit tertinggi (langit ke 7) dimana mailaikat Jibril AS pun tidak sanggup untuk ke langit tertinggi tersebut.

WaAllahu a’lam (Hanya Allah SWT saja yang paling mengetahui).

Wassalam.

by. Agus Mustofa

>Mengenal Filsafat Adiluhung Leluhur Jawa

>

Dalam menghadapi kehidupan yang semakin tidak menentu ini, mungkin ada baiknya kalau kita mencoba merenung, menggali kembali ajaran-ajaran bijak generasi pendahulu kita yang mungkin akan sangat berguna bagi kehidupan masyarakat sekarang ini. Ajaran yang bukan hanya diperuntukkan bagi masyarakat Jawa saja, tetapi juga bisa bermanfaat bagi siapapun yang ingin mempelajarinya.

“SURODIRO JOYONINGRAT, LEBUR DENING PANGASTUTI”
Semua Keberanian, Kekuatan, Kejayaan, dan Kemewahan yang ada di dalam diri manusia akan dikalahkan oleh Kebijaksanaan, Kasih Sayang, dan Kebaikan yang ada di sisi lain dari manusia itu sendiri.

Suro = Keberanian.
Dalam diri manusia, mempunyai sifat keberanian. Entah itu berani karena benar, berani karena jaga image, berani karena sok jago atau berani yang lain. Sifat ini sangat sebenarnya bagus tapi kalau sudah melanggar dari aturan-aturan ya sama aja boong.

Diro = Kekuatan.
Manusia mempunyai kekuatan yang sangat luar biasa. Apalagi bila dalam keadaan terdesak maka kekuatan yang akan timbul bisa lebih besar lagi dari biasanya. Akan tetapi, sekarang ini banyak manusia yang hanya mengandalkan kekuatannya sehingga menimbulkan kerusakan dimana-mana. Hal ini nantinya akan berdampak kurang baik bagi siapapun juga termasuk yang menggunakan kekuatan secara berlebihan.

Joyo = Kejayaan.
Sebagian dari kita mungkin pernah merasakan bagaimana rasanya apabila kita selalu menjadi yang terdepan, kita selalu menjadi yang terbaik diantara yang lainnya. Nantinya apabila ini menjadi berlebihan maka kita akan menjadi sombong, pongah, dan menjadi manusia yang tidak ingin kalah. Bukankah mengalah tidak selamanya kalah?

Ningrat = bergelimang dengan kenikmatan duniawi
Ningrat disini mungkin bisa diartikan bahwa kita berkecukupan namun itu tidak menjadikan kita sebagai manusia yang rendah hati. Kita menjadi takabur akan kemewahan yang kita miliki sehingga melupakan yang lainnya.

Lebur = Hancur, Musnah
Lebur artinya dilebur atau dimusnahkan atau dihancurkan. Ini mempunyai arti sesuatu yang nantinya akan dihancurkan.

Dening = Dengan

Pangastuti = Kebijaksanaan, Kasih Sayang, Kebaikan
Kata-kata yang mendasari kalimat “Surodiro Joyoningrat, Lebur Dening Pangastuti” ternyata semuanya mengandung sifat-sifat yang ada di dalam diri manusia. Bila dicermati lagi, disitu kita berada dalam posisi yang selalu di atas angin, menang sendiri.

Prinsip Hidup Jawa

  1. Ngluruk Tanpa Bala, Menang Tanpa Ngasorake, Sekti Tanpa Aji-Aji, Sugih Tanpa Bandha (Berjuang tanpa perlu membawa massa; Menang tanpa merendahkan atau mempermalukan; Berwibawa tanpa mengandalkan kekuasaan, kekuatan; kekayaan atau keturunan; Kaya tanpa didasari kebendaan)
  2. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan (Jangan gampang sakit hati manakala musibah menimpa diri; Jangan sedih manakala kehilangan sesuatu).
  3. Sepi ing Pamrih Rame ing Gawe, Banter tan Mbancangi, Dhuwur tan Ngungkuli (Bekerja keras dan bersemangat tanpa pamrih; Cepat tanpa harus mendahului; Tinggi tanpa harus melebihi)
  4. Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Kagetan, Aja Aleman. (Jangan mudah terheran-heran; Jangan mudah menyesal; Jangan mudah terkejut-kejut; Jangan mudah kolokan atau manja).
  5. Aja Ketungkul Marang Kalungguhan, Kadonyan lan Kemareman (Janganlah terobsesi atau terkungkung oleh keinginan untuk memperoleh kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi).
  6. Aja Kuminter Mundak Keblinger, Aja Cidra Mundak Cilaka, Sing Was-was Tiwas (Jangan merasa paling pandai agar tidak salah arah;Jjangan suka berbuat curang agar tidak celaka; dan Barang siapa yang ragu-ragu akan binasa atau merugi).
  7. Aja Milik Barang Kang Melok, Aja Mangro Mundak Kendo (Jangan tergiur oleh hal-hal yang tampak mewah, cantik, indah; Jangan berfikir mendua agar tidak kendor niat dan kendor semangat).
  8. Aja Adigang, Adigung, Adiguna (Jangan sok kuasa, sok besar, sok sakti).
  9. Sing Sabar lan Ngalah Dadi kekasih Allah (Yang sabar dan mengalah akan jadi kekasih Allah).
  10. Sing Prihatin Bakal Memimpin (Siapa berani hidup prihatin akan menjadi satria, pejuang dan pemimpin).
  11. Sing Resik Uripe Bakal Mulya (Siapa yang bersih hidupnya akan hidup mulya).
  12. Urip Iku Urup (Hidup itu Nyala, Hidup itu hendaknya memberi manfaat).
  13. Sura Dira Jayaningrat, Lebur Dening Pangastuti (Keberanian, kekuatan dan kekuasaan dapat ditundukkan oleh sikap yang lemah lembut).
  14. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara (Manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan; serta memberantas sifat angkara murka, serakah dan tamak).
  15. Jer basuki mawa beya. (Keberhasilan seseorang diperoleh dengan pengorbanan)
  16. Amemangun karyenak tyasing sesama.(Membuat enaknya perasaan orang lain)
  17. Kridhaning ati ora bisa mbedhah kuthaning pasthi.(Gejolak jiwa tidak bisa merubah kepastian)
  18. Budi dayane manungsa ora bisa ngungkuli garise Kang Kuwasa.(Sekuat usaha manusia tidak akan bisa mengatasi takdir Yang Maha Kuasa)
  19. Tan ngendhak gunaning janma.(Tidak merendahkan kepandaian manusia)
  20. Mangan orang mangan waton kumpul.(Menunjukkan yang penting itu kumpul, bukan sekadar kumpul, tetapi kerukunannya. Demi kerukunan kita harus melakukan apa pun. Kalau perlu sampai tidak makan. Jadi, bukannya pengertian makannya yang dikedepankan.)

Dasar-dasar Falsafah Hidup Kejawen: 
Hanggayuh Kasampurnaning Hurip, Bèrbudi Bawaleksana, Ngudi Sejatining Becik
Perpustakaan pelestarian budaya Yogyakarta

Ketuhanan

  1. Pangeran iku siji, ana ing ngendi papan langgeng, sing nganakake jagad iki saisine, dadi sesembahane wong sak alam kabeh, nganggo carane dhewe-dhewe. (Tuhan itu tunggal, ada di mana-mana, yang menciptakan jagad raya seisinya, disembah seluruh manusia sejagad dengan caranya masing-masing)
  2. Pangeran iku ana ing ngendi papan, aneng siro uga ana pangeran, nanging aja siro wani ngaku pangeran. (Tuhan ada di mana saja, di dalam dirimu juga ada, namun kamu jangan berani mengaku sebagai Tuhan)
  3. Pangeran iku adoh tanpa wangenan, cedhak tanpa senggolan. (Tuhan itu berada jauh namun tidak ada jarak, dekat tidak bersentuhan)
  4. Pangeran iku langgeng, tan kena kinaya ngapa, sangkan paraning dumadi. (Tuhan itu abadi dan tak bisa diperumpamakan, menjadi asal dan tujuan kehidupan)
  5. Pangeran iku bisa mawujud, nanging wewujudan iku dudu Pangeran. (Tuhan itu bisa mewujud namun perwujudannya bukan Tuhan)
  6. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, akarya alam saisine, kang katon lan kang ora kasat mata. (Tuhan berkuasa tanpa alat dan pembantu, mencipta alam dan seluruh isinya, yang tampak dan tidak tampak)
  7. Pangeran iku ora mbedak-mbedakake kawulane. (Tuhan itu tidak membeda-bedakan (pilih kasih) kepada seluruh umat manusia)
  8. Pangeran iku maha welas lan maha asih, hayuning bawana marga saka kanugrahaning Pangeran. (Tuhan Maha Belas-Kasih, bumi terpelihara berkat anugrah Tuhan)
  9. Pangeran iku maha kuwasa, pepesthen saka karsaning Pangeran ora ana sing bisa murungake. (Tuhan itu Mahakuasa, takdir ditentukan atas kehendak Tuhan, tiada yang bisa membatalkan kehendak Tuhan)
  10. Urip iku saka Pangeran, bali marang Pangeran. (Kehidupan berasal dari Tuhan dan akan kembali kepada Tuhan)
  11. Pangeran iku ora sare. (Tuhan tidak pernah tidur)
  12. Beda-beda pandumaning dumadi. (Tuhan membagi anugrah yang berbeda-beda)
  13. Pasrah marang Pangeran iku ora ateges ora gelem nyambut gawe, nanging percaya yen Pangeran iku maha Kuwasa. Dene kasil orane apa kang kita tuju kuwi saka karsaning Pangeran. (Pasrah kepada Tuhan bukan berarti enggan bekerja, namun percaya bahwa Tuhan Menentukan)
  14. Pangeran nitahake sira iku lantaran biyung ira, mulo kudu ngurmat biyung ira. (Tuhan mencipta manusia dengan media ibumu, oleh sebab itu hormatilah ibumu)
  15. Sing bisa dadi utusaning Pangeran iku ora mung jalma manungsa wae. (Yang bisa menjadi utusan Tuhan bukan hanya manusia saja)
  16. Purwa madya wasana. (zaman awal/ sunyaruri, zaman tengah/ mercapada, zaman akhir/ keabadian)
  17. Owah gingsiring kahanan iku saka karsaning Pangeran kang murbeng jagad. (Berubahnya keadaan itu atas kehendak Tuhan yang mencipta alam)
  18. Ora ana kasekten sing madhani pepesthen awit pepesthen iku wis ora ana sing bisa murungake. (Tak ada kesaktian yang menyamai takdir Tuhan, sebab takdir itu tidak ada yang bisa membatalkan)
  19. Bener kang asale saka Pangeran iku lamun ora darbe sipat angkara murka lan seneng gawe sangsaraning liyan. (Bener yang menurut Tuhan itu bila tidak memiliki sifat angkara murka dan gemar membuat kesengsaraan orang lain)
  20. Ing donya iki ana rong warna sing diarani bener, yakuwi bener mungguhing Pangeran lan bener saka kang lagi kuwasa. (Kebenaran di dunia ada dua macam, yakni benar menurut Tuhan dan benar menurut penguasa)
  21. Bener saka kang lagi kuwasa iku uga ana rong warna, yakuwi kang cocok karo benering Pangeran lan kang ora cocok karo benering Pangeran. (Benar menurut penguasa juga memiliki dua macam jenis yakni cocok dengan kebenaran menurut Tuhan dan tidak cocok dengan kebenaran Tuhan)
  22. Yen cocok karo benering Pangeran iku ateges bathara ngejawantah, nanging yen ora cocok karo benering Pangeran iku ateges titisaning brahala. (Kebenaran yang sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, itu berarti tuhan yang mewujud, namun bila tidak sesuai dengan kebenaran menurut Tuhan, berarti penjelmaan angkara)
  23. Pangeran iku dudu dewa utawa manungsa, nanging sakabehing kang ana iki uga dewa lan manungsa asale saka Pangeran. (Tuhan itu bukan dewa atau manusia, namun segala yang Ada (dewa dan manusia) adanya berasal dari Tuhan.
  24. Ala lan becik iku gandengane, kabeh kuwi saka karsaning Pangeran. (Keburukan dan kebaikan merupakan satu kesatuan, semua itu sudah menjadi rumus/kehendak Tuhan)
  25. Manungsa iku saka dating Pangeran mula uga darbe sipating Pangeran. (Manusia berasal dari zat Tuhan, maka manusia memiliki sifat-sifat Tuhan)
  26. Pangeran iku ora ana sing Padha, mula aja nggambar-nggambarake wujuding Pangeran. (Tidak ada yang menyerupai Tuhan, maka janganlah melukiskan dan menggambarkan wujud tuhan)
  27. Pangeran iku kuwasa tanpa piranti, mula saka kuwi aja darbe pangira yen manungsa iku bisa dadi wakiling Pangeran. (Tuhan berkuasa tanpa perlu pembantu, maka jangan menganggap manusia menjadi wakil Tuhan di bumi)
  28. Pangeran iku kuwasa, dene manungsa iku bisa. (Tuhan itu Mahakuasa, sementara itu manusia hanyalah bisa)
  29. Pangeran iku bisa ngowahi kahanan apa wae tan kena kinaya ngapa. (Tuhan mampu merubah keadaan apa saja tanpa bisa dibayangkan/perumpamakan)
  30. Pangeran bisa ngrusak kahanan kang wis ora diperlokake, lan bisa gawe kahanan anyar kang diperlokake. (Tuhan mampu merusak keadaan yang tidak diperlukan lagi, dan bisa membuat keadaan baru yang diperlukan)
  31. Watu kayu iku darbe dating Pangeran, nanging dudu Pangeran. (Batu dan kayu adalah milik zat Tuhan, namun bukanlah Tuhan)
  32. Manungsa iku bisa kadunungan dating Pangeran, nanging aja darbe pangira yen manungsa mau bisa diarani Pangeran. (Di dalam manusia dapat bersemayam zat tuhan, akan tetapi jangan merasa bila manusia boleh disebut Tuhan)
  33. Titah alus lan titah kasat mata iku kabeh saka Pangeran, mula aja nyembah titah alus nanging aja ngina titah alus. (Makhluk halus dan makhluk kasar/wadag semuanya berasal dari tuhan, maka dari itu jangan menyembah makhluk halus, namun juga jangan menghina makluk halus)
  34. Samubarang kang katon iki kalebu titah kang kasat mata, dene liyane kalebu titah alus. (Semua yang tampak oleh mata termasuk makhluk kasat mata, sedangkan lainnya termasuk makhluk halus)
  35. Pangeran iku menangake manungsa senajan kaya ngapa. (Tuhan memenangkan manusia walaupun seperti apa manusia itu)
  36. Pangeran maringi kawruh marang manungsa bab anane titah alus mau. (Tuhan memberikan pengetahuan kepada manusia tentang eksistensi makhluk halus)
  37. Titah alus iku ora bisa dadi manungsa lamun manungsa dhewe ora darbe penyuwun marang Pangeran supaya titah alus mau ngejawantah. (Makhluk halus tidak bisa menjadi manusia bila manusia tidak punya permohonan kepada Tuhan agar makhluk halus menampakkan diri)
  38. Sing sapa wani ngowahi kahanan kang lagi ana, iku dudu sadhengah wong, nanging minangka utusaning Pangeran. (Siapa yang berani merubah keadaan yang terjadi, bukanlah sembarang orang, namun sebagai “utusan” tuhan)
  39. Sing sapa gelem nglakoni kabecikan lan ugo gelem lelaku, ing tembe bakal tampa kanugrahaning Pangeran. (Siapa saja yang bersedia melaksanakan kebaikan dan juga mau “lelaku” prihatin, kelak akan memperoleh anugrah tuhan)
  40. Sing sapa durung ngerti lamun piyandel iku kanggo pathokaning urip, iku sejatine durung ngerti lamun ana ing donyo iki ono sing ngatur. (siapa yang belum paham, lalu menganggap sipat kandel itu sebagai rambu-rambu hidup, yang demikian itu sesungguhnya belum memahami bila di dunia ini ada yang mengatur)
  41. Sakabehing ngelmu iku asale saka Pangeran kang Mahakuwasa. (Semua ilmu berasal dari Tuhan yang Mahakuasa)
  42. Sing sapa mikani anane Pangeran, kalebu urip kang sempurna. (Siapa yang mengetahui adanya Tuhan, termasuk hidup dalam kesempurnaan).

Kebatinan

  1. Dumadining sira iku lantaran anane bapa biyung ira. (Lahirnya manusia karena berkat adanya kedua orang tua)
  2. Manungsa iku kanggonan sipating Pangeran. (Di dalam manusia tedapat sifat-sifat Tuhan)
  3. Titah alus iku ana patang warna, yakuwi kang bisa mrentah manungsa nanging ya bisa mitulungi manungsa, kapindho kang bisa mrentah manungsa nanging ora mitulungi manungsa, katelu kang ora bisa mrentah manungsa nanging bisa mitulungi manungsa, kapat kang ora bisa mrentah manungsa nanging ya ora bisa mrentah manungsa. (Makhluk halus ada empat macam, pertama ; yang bisa memerintah manusia namun bisa juga menolong manusia. Kedua; yang bisa memerintah manusia namun tidak bisa menolong manusia. Ketiga ; yang tidak bisa memerintah manusia namun bisa menolong manusia. Keempat ; yang tidak bisa memerintah anusia namun juga tak bisa diperintah manusia.
  4. Lelembut iku ana rong warna, yakuwi kang nyilakani lan kang mitulungi. (Makhluk halus ada dua macam; yang mencelakai dan yang menolong)
  5. Guru sejati bisa nuduhake endi lelembut sing mitulungi lan endi lelembut kang nyilakani. (Guru Sejati bisa memberikan petunjuk mana makhluk halus yang bisa menolong dan mana yang mencelakakan)
  6. Ketemu Gusti iku lamun sira tansah eling. (“Bertemu” Tuhan dapat dicapai dengan cara selalu eling)
  7. Cakra manggilingan. (Kehidupan manusia akan seperti roda yang selalu berputar, kadang di bawah kadang di atas. Hukum sebab akibat dan memungkinkan terjadi penitisan)
  8. Jaman iku owah gingsir. (Zaman akan selalu mengalami perubahan)
  9. Gusti iku dumunung ana atining manungsa kang becik, mulo iku diarani Gusti iku bagusing ati. (Tuhan berada di dalam hati manusia yang baik, oleh sebab itu disebut Gusti (bagusing ati)
  10. Sing sapa nyumurupi dating Pangeran iku ateges nyumurupi awake dhewe. Dene kang durung mikani awake dhewe durung mikani dating Pangeran. (Siapa yang mengetahui zat Tuhan berarti mengetahui dirinya sendiri. Sedangkan bagi yang belum memahami jati dirinya sendiri maka tidak mengetahui pula zat Tuhan)
  11. Kahanan donya ora langgeng, mula aja ngegungake kesugihan lan drajat ira, awit samangsa ana wolak-waliking jaman ora ngisin-ngisini. (Keadaan dunia tidaklah abadi, maka jangan mengagungkan kekayaan dan derajat pangkat, sebab bila sewaktu-waktu terjadi zaman serba berbalik tidak menderita malu)
  12. Kahanan kang ana iki ora suwe mesthi ngalami owah gingsir, mula aja lali marang sapadha-padhaning tumitah. (Keadaan yang ada sekarang ini tidak akan berlangsung lama pasti akan mengalami perubahan, maka dari itu janganlah lupa kepada sesama makhluk hidup ciptaan Tuhan)
  13. Lamun sira kepengin wikan marang alam jaman kelanggengan, sira kudu weruh alamira pribadi. Lamun sira durung mikan alamira pribadi adoh ketemune. (Bila kamu ingin mengetahui alam di zaman kelanggengan. Kamu harus memahami alam jati diri (jagad alit), bila kamu belum paham jati dirimu, maka akan sulit untuk menemukan (alam kelanggengan)
  14. Yen sira wus mikani alamira pribadi, mara sira mulanga marang wong kang durung wikan. (Jika kamu sudah memahami jati diri, maka ajarilah orang-orang yang belum memahami)
  15. Lamun sira wus mikani alamira pribadi, alam jaman kelanggengan iku cedhak tanpa senggolan, adoh tanpa wangenan. (Bila kamu sudah mengetahui sejatinya diri pribadi, tempat zaman kelanggengan itu seumpama dekat tanpa bersentuhan, jauh tanpa jarak)
  16. Lamun sira durung wikan alamira pribadi mara takono marang wong kang wus wikan. (Bila anda belum paham jati diri pribadi, datang dan tanyakan kepada orang yang telah paham)
  17. Lamun sira durung wikan kadangira pribadi, coba dulunen sira pribadi. (Bila anda belum paham saudaramu yang sejati, carilah hingga ketemu dirimu pribadi)
  18. Kadangira pribadi ora beda karo jeneng sira pribadi, gelem nyambut gawe. (“Saudara sejati” mu tidak berbeda dengan diri pribadimu, bersedia bekerja)
  19. Gusti iku sambaten naliko sira lagi nandang kasangsaran. Pujinen yen sira lagi nampa kanugrahaning Gusti. (Pintalah Tuhan bila anda sedang menderita kesengsaraan, pujilah bila anda sedang menerima anugrah)
  20. Lamun sira pribadi wus bisa caturan karo lelembut, mesthi sira ora bakal ngala-ala marang wong kang wus bisa caturan karo lelembut. (Bila anda sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus, pasti anda tidak akan menghina dan mencela orang yang sudah bisa bercakap-cakap dengan makhluk halus)
  21. Sing sapa nyembah lelembut iku keliru, jalaran lelembut iku sejatine rowangira, lan ora perlu disembah kaya dene manembah marang Pangeran. (Siapa yang menyembah lelembut adalah tindakan keliru, sebab lelembut sesungguhnya teman mu sendiri)
  22. Weruh marang Pangeran iku ateges wis weruh marang awake dhewe, lamun durung weruh awake dhewe, tangeh lamun weruh marang Pangeran. (Memahami tuhan berarti sudah memahami diri sendiri, jika belum memahami jati diri, mustahil akan memahami Tuhan)
  23. Sing sapa seneng ngrusak katentremane liyan bakal dibendu dening Pangeran lan diwelehake dening tumindake dhewe. (Siapa yang gemar merusak ketentraman orang lain, pasti akan dihukum oleh Tuhan dan dipermalukan oleh perbuatannya sendiri)
  24. Lamun ana janma ora kepenak, sira aja lali nyuwun pangapura marang Pangeranira, jalaran Pangeranira bakal aweh pitulungan. (Walaupun mengalami zaman susah, namun janganlah lupa mohon ampunan kepada Tuhan, sebab Tuhan akan memberikan pertolongan)
  25. Gusti iku dumunung ana jeneng sira pribadi, dene ketemune Gusti lamun sira tansah eling. (Tuhan ada di dalam diri pribadi, dapat anda ketemukan dengan cara selalu eling)

Filsafat Kemanusiaan

  1. Rame ing gawe sepi ing pamrih, memayu hayuning bawana. (Giat bekerja/membantu dengan tanpa pamrih, memelihara alam semesta /mengendalikan nafsu)
  2. Manungsa sadrema nglakoni, kadya wayang umpamane. (Manusia sekedar menjalani apa adanya, seumpama wayang)
  3. Ati suci marganing rahayu. (Hati yang suci menjadi jalan menuju keselamatan jiwa dan raga)
  4. Ngelmu kang nyata, karya reseping ati. (Ilmu yang sejati, membuat tenteram di hati)
  5. Ngudi laku utama kanthi sentosa ing budi. (Menghayati perilaku mulia dengan budi pekerti luhur)
  6. Jer basuki mawa beya. (Setiap usaha memerlukan beaya)
  7. Ala lan becik dumunung ana awake dhewe. (Kejahatan dan kebaikan terletak di dalam diri pribadi)
  8. Sing sapa lali marang kebecikaning liyan, iku kaya kewan. (Siapa yang lupa akan amal baik orang lain, bagaikan binatang)
  9. Titikane aluhur, alusing solah tingkah budi bahasane lan legawaning ati, darbe sipat berbudi bawaleksana. (Ciri khas orang mulia yakni, perbuatan dan sikap batinnya halus , tutur kata yang santun, lapang dada, dan mempunyai sikap wibawa luhur budi pekertinya)
  10. Ngunduh wohing pakarti. (Orang dapat menerima akibat dari ulahnya sendiri)
  11. Ajining dhiri saka lathi lan budi. (Berharganya diri pribadi tergantung ucapan dan akhlaknya)
  12. Sing sapa weruh sadurunge winarah lan diakoni sepadha-padhaning tumitah iku kalebu utusaning Pangeran. (Siapa yang mengetahui sebelum terjadi dan diakui sesama manusia, ia termasuk utusan tuhan)
  13. Sing sapa durung wikan anane jaman kelanggengan iku, aja ngaku dadi janma linuwih. (Siapa yang belum paham adanya zaman keabadian, jangan mengaku menjadi orang linuwih)
  14. Tentrem iku saranane urip aneng donya. (Ketenteraman adalah sarana menjalani kehidupan di dunia)
  15. Yitna yuwana lena kena. (Eling waspdha akan selamat, yang lengah akan celaka)
  16. Ala ketara becik ketitik. (Yang jahat maupun yang baik pasti akan terungkap juga)
  17. Dalane waskitha saka niteni. (Cara agar menjadi awas, adalah berawal dari sikap cermat dan teliti)
  18. Janma tan kena kinira kinaya ngapa. (Manusia sulit diduga dan dikira)
  19. Tumrap wong lumuh lan keset iku prasasat wisa, pangan kang ora bisa ajur iku kena diarani wisa, jalaran mung bakal nuwuhake lelara. (Bagi manusia, fakir dan malas menjadi bisa/racun, makanan yang tak bisa hancur dapat disebut sebagai bisa/racun, sebab hanya akan menimbulkan penyakit)
  20. Klabang iku wisane ana ing sirah. Kalajengking iku wisane mung ana pucuk buntut. Yen ula mung dumunung ana ula kang duwe wisa. Nanging durjana wisane dumunung ana ing sekujur badan. (Racun bisa Lipan terletak di kepala, racun bisa kalajengking ada di ujung ekor, racun bisa ular hanya ada pada ular yang berbisa, namun manusia durjana racun bisanya ada di sekujur badan)
  21. Geni murub iku panase ngluwihi panase srengenge, ewa dene umpama ditikelake loro, isih kalah panas tinimbang guneme durjana. (Nyala api panasnya melebihi panas matahari, namun demikian umpama panas dilipatgandakan, masih kalah panas daripada ucapan orang durjana)
  22. Tumprape wong linuwih tansah ngundi keslametaning liyan, metu saka atine dhewe. (Bagi orang linuwih selalu berupaya menjaga keselamatan untuk sesama, yang keluar dari niat suci diri pribadi)
  23. Pangucap iku bisa dadi jalaran kebecikan. Pangucap uga dadi jalaraning pati, kesangsaran, pamitran. Pangucap uga dadi jalaraning wirang. (Ucapan itu dapat menjadi sarana kebaikan, sebaliknya ucapan bisa pula menyebabkan kematian, kesengsaraan. Ucapan bisa menjadi penyebab menanggung malu)
  24. Sing bisa gawe mendem iku: 1) rupa endah; 2) bandha, 3) dharah luhur; 4) enom umure. Arak lan kekenthelan uga gawe mendem sadhengah wong. Yen ana wong sugih, endah warnane, akeh kapinterane, tumpuk-tumpuk bandhane, luhur dharah lan isih enom umure, mangka ora mendem, yakuwi aran wong linuwih. (Penyebab orang menjadi lupa diri adalah : gemerlap hidup, harta, kehormatan, darah muda. Arak dan minuman juga membuat mabuk sementara orang. Namun bila ada orang kaya, tampan rupawan, banyak kepandaiannya, hartanya melimpah, terhormat, dan masih muda usia, namun semua itu tidak membuat lupa diri, itulah orang linuwih)
  25. Sing sapa lena bakal cilaka. (Siapa terlena akan celaka)
  26. Mulat salira, tansah eling kalawan waspada. (Jadi orang harus selalu mawas diri, eling dan waspadha)
  27. Andhap asor. (Bersikap sopan dan santun)
  28. Sakbegja-begjane kang lali luwih begja kang eling klawan waspada. (Seberuntungnya orang lupa diri, masih lebih beruntung orang yang eling dan waspadha)
  29. Sing sapa salah seleh. (Siapapun yang bersalah akan menanggung celaka)
  30. Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake. (Bertanding tanpa bala bantuan)
  31. Sugih ora nyimpen. (Orang kaya namun dermawan)
  32. Sekti tanpa maguru. (Sakti tanpa berguru, alias dengan menjalani laku prihatin yang panjang)
  33. Menang tanpa ngasorake. (Menang tanpa menghina)
  34. Rawe-rawe rantas malang-malang putung. (Yang mengganggu akan lebur, yang menghalangi akan hancur)
  35. Mumpung anom ngudiya laku utama. (Selagi muda berusahalah selalu berbuat baik)
  36. Yen sira dibeciki ing liyan, tulisen ing watu, supaya ora ilang lan tansah kelingan. Yen sira gawe kebecikan marang liyan tulisen ing lemah, supaya enggal ilang lan ora kelingan. (Jika kamu menerima kebaikan orang lain, tulislah di atas batu supaya tidak hilang dari ingatan. Namun bila kamu berbuat baik kepada orang lain hendaknya ditulis di atas tanah, supaya segera hilang dari ingatan)
  37. Sing sapa temen tinemu. (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil)
  38. Melik nggendhong lali. (Pamrih menyebabkan lupa diri)
  39. Kudu sentosa ing budi. (Harus selamat ke dalam jiwa)
  40. Sing prasaja. (Menjadi orang harus bersikap sabar)
  41. Balilu tau pinter durung nglakoni. (Orang bodoh yang sering mempraktekan, kalah pandai dengan orang pinter namun belum pernah mempraktekan)
  42. Tumindak kanthi duga lan prayogo. (Bertindak dengan penuh hati-hati dan teliti/tidak sembrono)
  43. Percaya marang dhiri pribadi. (Bersikaplah percaya diri)
  44. Nandur kebecikan. (Tanamlah selalu kebaikan)
  45. Janma linuwih iku bisa nyumurupi anane jaman kelanggengan tanpa ngalami pralaya dhisik. (Manusia linuwih adalah dapat mengetahui adanya zaman keabadian tanpa harus mati lebih dulu)
  46. Sapa kang mung ngakoni barang kang kasat mata wae, iku durung weruh jatining Pangeran. (Siapa yang hanya mengakui hal-hal kasat mata saja, itulah orang yang belum memahami sejatinya Tuhan)
  47. Yen sira kasinungan ngelmu kang marakake akeh wong seneng, aja sira malah rumangsa pinter, jalaran menawa Gusti mundhut bali ngelmu kang marakake sira kaloka iku, sira uga banjur kaya wong sejene, malah bisa aji godhong jati aking. (Bila anda mendapat anugrah ilmu yang membuat banyak orang senang, janganlah kamu merasa pintar, sebab apabila Tuhan mengambil lagi ilmu yang menyebabkan anda terkenal itu, anda akan menjadi orang biasa lagi, malah lebih bermanfaat daun yang kering)
  48. Sing sapa gelem gawe seneng marang liyan, iku bakal oleh wales kang luwih gedhe katimbang apa kang wis ditindakake. (Barang siapa gemar membuat orang lain bahagia, anda akan mendapatkankan balasan yang lebih besar dari apa yang telah anda lakukan)

>God Spot : DNA Kuantum Spiritual Quotient

>

Spiritual Quotient Sebagai Kecerdasan Tertinggi

Setiap mahluk ciptaan Tuhan dianugerahi suatu kecerdasan, biasanya kecerdasan yang dimiliki oleh semua mahluk yang hidup dibumi ini adalah kecerdasan untuk tetap bertahan hidup, cara bagaimana seorang mahluk serta generasinya agar dapat terus survive dengan melakukan adaptasi dan evolusi.

Rasa aman adalah implementasi dari kecerdasan primitif ini, terhindar dari bahaya yang berupa pemangsa maupun kekejaman alam merupakan akibat dari penggunaan quotient. Semakin tinggi tingkat kerumitan suatu mahluk diciptakan maka anugerah kecerdasan yang diberikan Tuhan juga semakin tinggi, dan manusialah mahluk yang diciptakan dengan kecerdasan yang paling tinggi, jika dilihat dari fisik otak , kemampuan otak manusia meliputi kecerdasan reptil atau batang otak, kecerdasan mamalia atau sistem limbik dan kecerdasan manusia atau neokortek yang membedakan dengan mahluk lainnya.

Fungsi dari batang otak atau otak reptil adalah perilaku yang berkaitan dengan insting untuk mempertahankan hidup, dorongan untuk mempertahankan spesies dengan memperhatikan pada ketersediaan makanan, tempat tinggal dan keberlangsungan reproduksi. Keadaan bahaya atau gawat membangkitkan otak reptil untuk memutuskan menghadapinya atau menghindarinya.

Di sekeliling otak reptil terdapat sistem limbik yang cukup luas dan kompleks, sistem limbik dimiliki seluruhnya oleh hewan mamalia, fungsinya menyimpan emosi dan bersifat kognitif, sistem limbik menyimpan perasaan, pengalaman, memori dan kemampuan belajar pada mamalia. Sistem limbik merupakan panel kontrol utama menggunakan informasi yang disampaikan oleh panca indera manusia, kemudian informasi ini disampaikan ke bagian neokortek yang terbungkus di sekitar bagian atas dan sisi-sisi sistem limbik, fungsi bagian ini adalah mengatur pesan-pesan yang disampaikan oleh sistem limbik yang dapat berupa penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan dan lain-lain. Jadi sebenarnya yang membedakan manusia dengan mahluk lainnya adalah adanya neokortek dan disinilah kecerdasan manusia : IQ, EQ dan SQ berasal.


Pada mulanya, kecerdasan manusia hanya diukur dari tingkat kecerdasan Intelektualnya atau IQ, IQ seorang manusia dapat ditempatkan pada tingkat-tingkat tertentu ; dibawah rata-rata, rata-rata, diatas rata-rata dan genius. Pemeringkatan ini berdasarkan hasil tes yang dilakukan saat, seseorang menyelesaikan suatu uji IQ.

Ketika orang tersebut menganggap serius tes yang akan dihadapinya, akan mendapatkan hasil yang berbeda saat orang tersebut menganggap uji IQ sebagai suatu permainan belaka, karena ternyata tingkat emosi seseorang juga berpengaruh besar pada hasil uji tersebut. Dalam keadaan tertekan membuat seseorang cenderung mendapatkan hasil IQ yang lebih rendah dibandingkan jika ia menganggap tes IQ hanya main-main.

Dari hasil pengamatan ini, ternyata IQ bukanlah satu-satunya patokan mengukur kecerdasan manusia, ada kecerdasan lain yang juga mempengaruhi. Kemudian timbulah konsep kecerdasan emosional atau EQ yaitu kecerdasan yang muncul dan dipengaruhi oleh nilai perasaan dan emosi kita, dan hal yang lebih mencengangkan adalah kecerdasan emosional ternyata lebih mendominasi dan mempengaruhi kehidupan manusia dibandingkan kecerdasan intelektual.

Dari hasil riset yang dilakukan oleh para ahli psikologi didapat bukti ilmiah : keberhasilan hidup seseorang yang diukur dari tingkat kesuksesan dan kekayaan ternyata disebabkan oleh tingkat EQ orang tersebut, bukan dari kecerdasan intelektualnya. Kecerdasan intelektual hanya menjadi pengantar bagi keberhasilan seseorang yang lebih dipengaruhi oleh kecerdasan emosinya.

Jadi orang yang memiliki IQ tinggi belum menjamin keberhasilan orang tersebut, bisa jadi di bagian pendidikan formal seperti sekolah ia akan mendapatkan kesuksesan, sebab pendidikan formal cenderung memberi porsi yang lebih besar untuk kecerdasan intelektual tetapi ketika ia memasuki dunia kerja, tempat orang tersebut harus berinteraksi dengan orang lain, pengaruh kecerdasan emosional akan lebih dominan. Biasanya orang yang memiliki IQ tinggi cenderung egois sehingga sukar diajak kerja sama maka orang tersebut akan mendapatkan kesukaran saat menghadapi dunia kerja yang lebih membutuhkan team work dibanding kerja individual. Orang dengan IQ cukup tinggi sulit untuk beradaptasi dengan dunia yang tidak sesuai dengan pandangannya, berbeda dengan individu yang berEQ tinggi, individu ini mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan kerja apapun karena memiliki kemampuan yang lebih dalam menghargai dan bekerja sama dengan yang lain.

Namun ketika orang tersebut dalam puncak kesuksesan dan keberhasilan, bergelimang dengan harta, prestasi dan penghargaan, akan muncul suatu titik balik berupa rasa jenuh dan bosan. Orang tersebut akan menanyakan kembali pada dirinya, apakah hal semua itu perlu bagi dirinya ? mengapa kesuksesan dan keberhasilan, tidak membuat hatinya bahagia ? okelah ketika seseorang mendapatkan prestasi tinggi misalnya dianugerahi Nobel, dia disambut dan dipuja-puja seluruh dunia, saat itu perasaannya dipenuhi oleh rasa senang tetapi untuk berapa lama rasa gembira itu akan hinggap didalam dirinya, dia akan kembli jatuh pada perasaan jenuh karena semua yang diinginkan dan dicita-citakan telah terwujud semuanya, dan menyangka bahwa dengan mencapainya akan memberikan rasa bahagia abadi, tetapi apa yang terjadi ternyata hanya rasa kehampaan yang didapatnya. Dunia serasa berhenti, vitalitas yang dimilikinya semakin hilang dan jika ia tidak memiliki kecerdasan lain ia akan terperosok pada jurang kehampaan yang penuh dengan perasaan depresi.

Maka agar kita bisa memaknai hidup ini, saat suatu keberhasilan digapai dan mampu melihat keberhasilan tersebut sebagai suatu proses bukan tujuan hidupnya, diperlukan suatu kecerdasan yaitu kecerdasan spiritual atau SQ.

Didalam otak manusia terdapat suatu titik yang dinamakan god spot, titik ini berhubungan dengan keyakinan kita akan keberadaan tuhan dan dalam god spot bersemayamlah kecerdasan spiritual atau SQ.

Seseorang yang memiliki kecerdasan spiritual yang tinggi dapat dilihat dari perilaku kehidupannya yang selalu dipenuhi oleh rasa kebahagiaan dan kegembiraan, ia memandang sekelilingnya bukan sebagai sesuatu yang perlu ditaklukan demi keberhasilannya tetapi lebih sebagai suatu ciptaan yang perlu disyukuri keberadaannya, rasa ego atau ke-aku-annya telah melebur hilang digantikan dengan rasa kebersamaan yang muncul setiap saat. Ia tidak lagi menghiraukan apa yang telah menjadi miliknya dan bukan miliknya, tidak lagi memikirkan mendapatkan apa yang belum ia miliki sebab semuanya yang ada disekelilingnya telah ia miliki. Ia tidak lagi terjebak dalam rasa penyesalannya terhadap masalah di masa lalu, tidak lagi mengkhawatirkan kehidupan di masa depan, tidak lagi terbebani oleh rasa khawatir, takut dan penyesalan tetapi hidup di masa sekarang, saat ini dengan indah dan apa adanya. Hal yang selalu dilakukan oleh orang dengan kecerdasan spiritual tinggi adalah mensyukuri apapun yang ia peroleh ; kegagalan, keberhasilan, sanjungan, makian, penghinaan. Ia telah mendapatkan kedamaian didalam dirinya yang memancar menyebar ke sekelilingnya memberikan rasa kasih sayang bagi semuanya. Seperti bunga yang menyebarkan keharuman bagi dunianya atau seperti matahari yang memancarkan sinar kehidupan, sang bunga dan matahari tidak pernah meminta balas jasa atas apa yang ia berikan, ia hanya memberi dan memberi.

Kita sebagai mahluk yang diciptakan oleh Tuhan paling mulia, ternyata diberikan anugerah yang begitu besarnya. Kemampuan kita sebagai manusia melebihi apa yang dimiliki mahluk lainnya, apalagi kecerdasan yang kita miliki mampu membuat kita menjadi seorang manusia dalam arti sebenarnya. Kita bisa menggapai suatu kecerdasan yang membuat kita menjadi bahagia bila mengetahui password untuk membukanya. Proses untuk mendapatkan kecerdasan ini adalah perjalanan mengenal dirinya sendiri, suatu safari agung menembus bayang-bayang dan topeng-topeng yang kita anggap selama ini sebagai diri yang sejati.

Topeng tersebut sepertinya melekat kuat sehingga seakan-akan kita selalu diidentikkan dengan topeng yang kita pakai, topeng itu adalah ego kita, rasa ke-akua-an yang kita miliki menutupi sinar cemerlangnya diri sejati. Ego membuat kita tergantung terhadap apa yang orang lain pandang, kita menjadi begitu malu saat, pakaian yang kita kenakan dikatakan tidak sesuai dengan tubuh , kita menjadi marah saat seseorang mencela, menghina dan memaki kita. Ego menjadikan sesuatu sebagai yang disukai atau yang tidak disukai, ego cenderung untuk melampiaskan keinginan-keinginan kita, memberikan makanan-makanan yang lezat bagi nafsu dan hasrat.

SQ Reformation
Kecerdasan Spiritual merupakan satu-satunya Kecerdasan Bawaan manusia yang bersifat Ilahi (tak terbatas dan langgeng), di samping kecerdasan bawaan lainnya yang bersifat manusiawi (terbatas dan sementara). Dengan Kecerdasan Spiritual barulah seseorang bisa disebut sebagai Manusia Pribadi Utuh yang mempunyai kecerdasan bawaan selengkap seperti yang Tuhan anugerahkan. Firman Tuhan mengatakan bahwa Manusia Pribadi Utuh yang dilengkapi oleh Kecerdasan Spiritual inilah yang mempunyai kemuliaan tertinggi dan bahkan melebihi malaikat.

”Aku telah menyempurnakan dan meniupkan kedalamnya Ruh-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah seluruh malaikat bersama-sama”.

Oleh karenanya Kecerdasan Spiritual akan membentuk manusia seutuhnya, yaitu seorang Profesional Berhati Ulama dan seorang Ulama Berkinerja Profesional.

Fakta bahwa beberapa kemampuan tertentu tidak muncul secara spontan melainkan tersimpan secara laten di dalam gen kita adalah sebuah penemuan yang revolusioner.

Fakta menunjukkan bahwa Tingkat Kecerdasan Spiritual tidak selalu ditentukan oleh Tingkat Religiusitas, Psikologis, Intelektualitas, Umur dari seseorang. Sebab Kecerdasan Spiritual merupakan akses dari turunnya Hidayah Tuhan yang mempunyai dimensi “dibalik” Kecerdasan Intelektual IQ dan Kecerdasan Emosional EQ.

Mayoritas manusia dengan populasi X = 90 – 99 % Tidak Cerdas SQ.

Akibatnya adalah, Manusia X = 90-99 % :

1. Kehendaknya Berlawanan dengan Kehendak Tuhan
2. Motivator Kehidupannya Salah (Data Harvard : 90 %)
3. Cara Berpikirnya Salah (Berdosa)
4. Sakit Jiwa (Data IDI Ahli Jiwa : 94 %)
5. Karakternya Tidak Dewasa
6. Visi-Motivasi Imannya Tidak Aktif
7. Tidak Mampu Mengendalikan Nasib dan Takdir-nya
8. Tidak Menikmati Kelimpahan Sejati

Sebabnya adalah : Hidayah Tuhan merupakan ‘rahasia’ yang tidak mampu difahami oleh mayoritas manusia, kecuali yang cerdas spiritualnya.

Kinerja Kecerdasan Spiritual ini sudah teruji dan terbukti hasilnya karena merupakan lebih dari tujuh tahun pengalaman nyata dari pemrakarsa sebagai Praktisi Kecerdasan Spiritual dan masih terus berlangsung sampai saat ini. Pengalaman nyata ini bersifat supra rasio-emosional yang melampaui dan dibalik “ghoib” akal dan rasa tetapi mampu difahami oleh pemrakarsa yang mempunyai talenta kuat ilmu eksakta dan profesi dibidang teknik.

Di dalam prakteknya Kecerdasan Spiritual ini sangat efektif untuk penyelesaian berbagai masalah kehidupan, seperti masalah keluarga, pekerjaan, kesehatan, pengaruh, dan materi. Solusi ini tidak biasa secara akal, melainkan luar biasa supra akal-rasa “supra rasio-emosional” atau supra normal (bukan para normal).

Kecerdasan Spiritual merupakan solusi masalah kehidupan nyata secara sistimatis dan tuntas yang menjangkau akar permasalahan dengan menggunakan dasar dari esensi (hakikat) kebenaran Firman Tuhan secara praktis.

Seperti mahasiswa dengan Kecerdasan Intelektual IQ rendah yang rajin sekali belajar tetapi nilai ujiannya lima atau enam, sebaliknya mahasiswa dengan IQ tinggi walau belajarnya hanya sewaktu tetapi mendapat nilai sembilan atau bahkan sepuluh. Demikianlah halnya dengan pribadi dengan Kecerdasan Spiritual SQ rendah walaupun religius tetapi selalu gagal didalam kehidupannya, disamping itu pribadi yang cerdas spiritualnya selalu bisa menikmati kelimpahan didalam kehidupannya.

SQ Reformation merupakan solusi masalah kehidupan secara “top-down” yang diawali dan dipimpin oleh potensi Ilahi yang mengendalikan dan memberdayakan potensi manusiawi. Bukan seperti jamaknya solusi “bottom-up” yang diawali oleh potensi manusiawi yaitu Kecerdasan Intelektual & Emosional, yang kemudian (disadari atau tidak) diharapkan bisa memicu potensi Ilahi Kecerdasan Spiritual.

Sesungguhnya tidak ada solusi kehidupan yang permanen dan tuntas hasilnya bila hanya kinerja potensi manusiawi yang berperan, karena potensi Ilahi manusialah yang mampu mewujudkannya sebab Tuhan ikut berkarya.

Prinsip Kerja SQ Reformation “Supra Halus dan Adidaya”

Prinsip kerja SQ Reformation adalah secara “supra halus” sesuai dengan frekwensi gelombang Otak God-Spot. Disamping itu potensi energinya sungguh luar biasa “adidaya” yang menurut penyelidikan para ahli adalah sebesar Sepuluh Pangkat (750 – 1000) kali lipat dari potensi Otak Sadar-IQ dan Bawah Sadar-EQ, sebab SQ merupakan kecerdasan anugerah Tuhan yang berpotensi ilahi dan mengakses langsung kepada Kuasa Tuhan.

Prinsip kerja SQ seperti inilah yang mendasari kenapa tingkat suksesnya begitu tinggi dan akurat, sebab IEQ tidak akan menyadari pada saat SQ bekerja dikarenakan begitu halus dan luar biasa potensinya sehingga mampu mendobrak masalah apapun secara supra rasio-emosional.

Potensi adidaya SQ ini mempunyai kemampuan :

  1. Merobohkan “dari dalam” Benteng Karakter manusia yang degil dan keras yang sulit ditembus dari luar diri manusia secara sadar untuk mereformasi (membentuk dan memperbarui) nya.
  2. “Penciptaan” dari pra-ada menjadi ada, guna mewujudkan Kelimpahan Sejati bagi pribadi Genius Hakiki yang sudah terbentuk.

Siapa Perlu SQ Reformation ?

Pribadi-pribadi tidak cerdas spiritual yang mengalamai fenomena berikut di dalam kehidupannya dan tak pernah terselesaikan :

1. Sulit memulai sesuatu
2. Motivasi tidak konsisten
3. Stres dan terbeban berat
4. Hasil selalu mengecewakan
5. Banyak efek samping dan kerugian
6. Lingkungan (manusia) tidak mendukung

Reformasi SQ akan membentuk pribadi cerdas spiritual melalui proses yang disebut Tujuh Tahap Kurikulum Kehidupan yang wajib ditempuh secara berurutan di dalam kehidupan setiap manusia hingga akhir hayatnya.

Target dari Reformasi SQ ini adalah menjadi Pribadi dengan Karakter Genius Hakiki yaitu genius sesungguhnya di mata Tuhan dan tidak hanya menurut pandangan manusia.

>Agomo Ageming Aji & Serat Wedhatama

>

Agama adalah baju alias pakaian. Yang namanya pakaian berarti harus dipakai dengan baik, harus bisa menutupi seluruh aurat. Pakaian sifatnya adalah pelindung diri dari panas dan dingin, tentunya ada tata cara alias tatanan alias ada undang-undang dasar. Jangan pula pakain ini dipaksakan untuk dipakai orang lain, karena jadi tidak akan pas meskipun sama-sama pakaianya, sama-sama ada lengan, kancing, kerah leher, saku dll. Bajuku jelas beda dengan baju anak-anakku, juga beda dengan baju istriku. Yang ada adalah himbauan, bukan paksaan, itupun harus disampaikan dengan cara yang baik dan tepat. Kalau tidak berada di tempat yang pas, anjuran itupun bisa jadi masalah. Kalau ndak percaya, ketika di Supermarket, anda ketemu cewek dengan rok pendek, kaos ketat, pusar kelihatan, dan lalu kasih nasehat, ntar kamu digampar. Lain ceritanya ketika berada di masjid atau tempat ibadah lainnya, nasehat itu akan diterima dengan baik dan lapang dada.

Agama bukan ritual alias tradisi karena kalau hanya ritual alias tradisi, maka selesai ritual selesailah sudah. Karena sifatnya ritual atau juga tradisi, maka ketika ritual tidak dilakukan, ya tidak ada sanksi apa-apa, namanya saja ritual alias upacara. Karena agama adalah ritual, maka jangan salahkah ketika selesai jamaah di masjid atau selesai pengajian lalu keliling kota, bawa motor, pentungan lalu menghancurkan warung-warung remang-remang, tempat diskotik sambil meneriakkan Allahu akbar.

Mingkar-mingkuring angkoro
Akarono karnan mardi siwi
Sinawung resmining kidung
Sinubo sinukarto.

Aduh Gusti pakertining ngelmu
ingkang tumrap ning ngalam dunyo
Agomo ageming aji.

Sopo entuk wahyuning Allah
Gyo dumilah mangulah ngelmu bangkit
Bangkit mikat reh mangukut

Kukutaning jiwanggo.
Yen mangkono keno sinebut wong sepuh
liring sepuh sepi howo, awas roroning atunggil

Hong wilaheng sekareng bhawono langgeng… Sekar mayang…
Hong wilaheng sekareng bhawono langgeng… Sekar kajang…
Hong wilaheng sekareng bhawono

Maksudnya:
Menghindarkan diri dari angkara. Bila akan mendidik putra. Dikemas dalam keindahan syair. Dihias agar tampak indah. Agar tujuan ilmu luhur ini tercapai. Ya Tuhan, kenyataannya, di dunia, agama dianut raja.

Barangsiapa mendapat anugrah Allah. Akan cepat menguasai ilmu. Bangkit merebut daya. Atas kesempurnaan dirinya. Bila demikian, ia dapat disebut orang tua. Artinya sepi dari nafsu kemurkaan (nafs al-muthmainnah; QS 89:27). Memahami apa yang dua dalam satu.

>ENERGI MALAIKAT DAN JIN

>

Alam semesta, selain objek‑objek materi, juga mengandung energi‑energi dalam bentuk listrik, magnetisme, panas, cahaya, dan sebagainya. Al‑Qur’an, di samping membahas alam semesta yang berupa materi, juga menggunakan kata‑kata yang terkenal seperti matahari, bulan, bintang‑bintang, dan sebagainya, sedangkan pokok bahasan mengenai energi tampaknya dibahas dalam istilah‑istilah seperti malaikat‑malaikat dan jin, yang sangat tidak dikenal dalam sains.

Malaikat‑malaikat, menurut pemyataan Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Muslim, dicipta dari نو ر (nur)1) Kata nur yang biasanya diterjemahkan dengan sinar, sebagaimana dikemukakan sebelumnya, bisa juga berarti energi radian. Selain itu, kata‑kata Arab ملك (Malak) yang diterjemahkan dengan malaikat juga berarti perasaan kuat, kekuatan atau energi.

Mengenai jin Al‑Qur’an menyatakan:
“Dan Dia [Allah] telah mencipta Jin dari gelombang panas yang dikeluarkan oleh api.

Sesuatu yang dikeluarkan oleh api, dalam terminologi sains, berarti sinar‑sinar infra atau energi panas. Dengan mengacu informasi tersebut di atas, mungkinkah para malaikat dan jin itu tersusun dari beberapa ben­tuk energi radian yang tidak dapat kita persepsi melalui indera‑indera fisik kita tetapi yang ada memberikan pe­ngaruhnya terhadap kita tanpa kita sadari, sebagaimana sinar X, yang menembus daging manusia tetapi tidak menimbulkan rasa apa‑apa pada manusia yang bersangkutan?


Energi Radian
Energi, menurut sains, bisa dikaitkan dengan materi sebagai energi kimia, energi mekanik, dan lain‑lainnya, atau bisa ada tanpa adanya materi, yakni di ruang kosong sebagai energi radian, yang contoh paling terkenalnya adalah cahaya.

Energi radian atau radiasi elektromagnetik ditampilkan dalam bentuk gelombang‑gelombang yang sama dengan gelombang‑gelombang yang terjadi di permukaan air ketika terganggu oleh batu yang dijatuhkan atau oleh angin. Ada bermacam‑macam bentuk energi radian, yang berbeda‑beda satu sama lain dalam panjang gelombangnya (jarak antara satu puncak gelombang dan puncak gelombang lainnya) dan frekuensinya jumlah gelombang yang timbul selama satu detik). Rentang frekuensi‑frekuensi dan panjang gelombang‑gelombang itu sangat besar dan angka‑angka yang menunjukkannya bisa sangat besar atau sangat kecil, sebagai konsekuensinya angka‑angka itu harus dinyatakan dalam 10 macam kekuatan seperti dijelaskan berikut ini:

Panjang gelombang dalam mtr.
Nama Radiasi Elektromagnetik
Frekuensi Kilo­ saikel per detik 3
10-13 – 10-15
Sinar Kosmik
1019 – 1020
10-11 – 10-13
Sinar Gama
1017 – 1019
10-8 – 10-11
Sinar X
1014 – 1017
10-6.5 – 10-8
Sinar Ultra Violet
1012 – 1014
10-6 – 10-6.5
Sinar yang terlihat
1011.5 -1012
10-4 – 10-6
Sinar Infra Merah
109 – 1011.5
104 – 10-4
Frekuensi Radio
102 – 109
107 – 104
Frekuensi Audio
0.1 – 102

Satu Kilosaikel adalah 1.000 gelombang per detik

Spektrum elektromagnetik yang diringkaskan di atas menunjukkan bahwa panjang-panjang gelombang berkisar mulai dari seperjuta-juta milimiter hingga beberapa ratus kilometer dan frekuensi-frekuensinya berkisar mulai 100 gelombang per detik hingga 1020 gelombang per detik. Dalam cakupan panjang dari panjang-panjang gelombang dan frekuensi-frekuensi ini, cahaya yang terlihat menenmpati porsi yang sangat besar. Ini berarti bahwa mata kita bersifat sensitif terhadap radiasi elektromagnetik yang sangat kecil sekalipun dan tidak sensitif terhadap porsi besar, yang dengan jelas menunjukkan keterbatasan indera‑indera fisik kita dan membuktikan bahwa hal‑hal yang tidak dapat dipersepsi oleh indera‑indera fisik kita bisa saja dan memang benar‑benar ada.
 
Malaikat‑malaikat
Allah berfirman:

Segala puji bagi Allah. Dialah yang telah mencipta langit‑langit dan bumi. Dia yang telah menjadikan malaikat‑malaikat sebagai utusan‑utusan yang memiliki dua, tiga dan empat buah sayap4. ‘QS. 35: 1.

Pesan‑pesan kita disampaikan dengan sarana‑sarana radiasi elektromagnetik melalui radio, televisi, telepon, teleprinter, dan sebagainya. Ayat Al‑Qur’an yang dikutip di atas, yang menggambarkan para malaikat sebagai utusan-utusan, mendukung pandangan bahwa para malaikat tersusun dari energi radian karena para malaikat itu, menurut Al‑Qur’an, dan radiasi elektromagnetik menurut sains, menyampaikan pesan‑pesan. Kata‑kata Arab جناح (janah) yang diterjemahkan dengan sayap juga dipergunakan untuk pengertian kekuatan, yang dalam pengertian itu, para malaikat juga dapat dianggap sebagai utusan‑utusan yang memiliki berbagai atau beberapa macam kekuatan.

Apakah keempat sayap atau kekuatan yang disebut dalam ayat Al‑Qur’an tersebut di atas menunjukkan makna keempat kekuatan pokok di alam?. Hal ini akan dibahas lebih lanjut di bagian belakang.

Sesungguhnya orang‑orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah,’ kemudian dia berpegang teguh dengan pendirian mereka maka turunlah kepada mereka para malaikat [seraya mengatakan], ‘Janganlah kamu merasa takut dan jangan bersedih; dan gembirakanlah mereka dengan syurga yang telah dijanjikan Allah untuk kamu. Kamilah pelindung‑pelindungmu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Di dalamnya kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan dan juga memperoleh apa yang kamu minta; sebagai hiburan yang diturunkan oleh [Allah] yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih.(41: 30-32)

Apakah kita pemah mendengar, merasakan atau menyadari pesan para malaikat ini: ‘Kamilah pelindung‑pelindungmu dalam kehidupan di dunia (ini)’ Pesan ini diberikan kepada orang‑orang yang mengatakan: ‘Tuhan kami adalah Allah.” dan kemudian dia berpegang teguh dengan pendirian mereka itu. Kapan saja, karena beriman kepada Allah, kita ingat dengan‑Nya, beribadah kepadaNya atau berbuat baik, kita akan mendapatkan kepuasan tertentu, ketenangan, [atau] sejenis kedamaian pikiran. Apakah pengalaman atau perasaan ini disebabkan oleh turunnya para malaikat yang membawa pesan itu dan interaksi mereka dengan pikiran manusia yang merupakan pusat segala macam penerimaan? Ayat‑ayat Al‑Qur’an berikut ini memberikan tambahan penjelasan mengenai hal ini.

[Ingatlahl ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para mala­ikat, “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah [pendirian] orang‑orang yang beriman itu.” Kelak akan Aku jatuhkan rasa takut ke dalam hati orang‑orang kafir. Sebab itu penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap‑tiap ujung jari mereka. (8:12)

Kemudian Allah menurunkan ketenangan‑Nya kepada Rasul‑Nya dan kepada orang‑orang beriman. Dan Dia menurunkan tentara‑Nya yang tidak kamu ketahui dan menurunkan siksa kepada orang­orang kafir. Dan itulah balasan kepada orang‑orang kafir itu.'[9:26]

Dalam momentum‑momenturn kita yang tragik dan meresahkan kita berdoa dan memohon pertolongan Allah, dan sangat sering terjadi bahwa setelah kita berdoa kita kelihatan memiliki energi yang segar, harapan dan kepercayaan diri. Apakah kondisi jiwa kita itu disebabkan oleh interaksi para malaikat dengan pikiran dan hati kita, dalam bentuk energi radian?

Mengenai masalah kematian, Al‑Qur’an menyatakan:

Katakanlah [Muhammad], ‘Malaikat maut yang diserahi untuk [mencabut] nyawamu mematikanmu. Kepada Tuhanmulah kamu akan dikembalikan.'[32:11]

Kematian bisa disebabkan oleh radiasi yang berat melalui penghancuran sel‑sel tubuh manusia. Dalam pengobatan kanker, bagian [tubuh] pasien yang rusak dikenakan radiasi yang menghancurkan sel‑sel kanker itu. Apakah malaikat maut itu terbentuk dari energi radian, yang menyebabkan kerusakan sebagian organ vital tubuh manusia, seperti sistem saraf pusat, yang akhirnya mengakibatkan kematian? Radiasi elektrornagnetik mernang menghasilkan anestesia pada tikus‑tikus dan obat ini menyebabkan manusia tidak sadar, [dan] dosisnya yang berlebihan bisa menyebabkan kernatian.

Al‑Qur’an, mengenai malaikat‑malaikat sebagai sahabat‑sahabat manusia, menyatakan:

Baginya [manusia] ada [malaikat‑malaikat] yang mengikutinya secara bergiliran di depan dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah [13:11]

Kita belum pernah menyadari tentang para malaikat yang menemani kita ini, tetapi pada kesempatan‑kesempatan tertentu, misalnya ketika menyelamatkan diri dari kecelakaan‑kecelakaan yang serius kita benar‑benar merasakan adanya sejumlah kekuatan eksternal yang menyelamatkan kita dari lindasan mobil atau terjatuh ke dalam jurang.

Mengenai perbuatan‑perbuatan kita, Al‑Qur’an menyatakan:

Dan sesungguhnya terhadap kamu ada [malaikat‑malaikat] yang mengawasi, yang mencatat [pekerjaan‑pekerjaanmu]. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan [82:10-12]

Kita memiliki alat‑alat seperti pita‑pita rekaman, kaset-kaset video, dan kamera‑karnera yang merekam suara-suara dan tindakan‑tindakan kita. Ini adalah alat‑alat elektronik yang mempergunakan radiasi elektrornagnetik. Apakah sulit bagi Allah, Sang Pencipta kita, mengatur alat‑alat semacam itu dalam bentuk malaikat‑malaikat yang tidak terlihat? Apakah malaikat‑malaikat ini ditugaskan sebagai perekam‑perekam, membantu kita mengumpulkan kembali sejumlah peristiwa di masa lampau sebagaimana penyimpan rekaman di suatu kantor yang membantu mengeluarkan arsip lama? Sangat boleh jadi ingatan kita tidak menyimpan apa‑apa tetapi alat perekam para malaikat itu berhubungan dengan kita.

Mengenai tugas‑tugas lain para malaikat, Al‑Qur’an menyatakan:

Ya. Bila kamu tetap sabar dan bersiap siaga, dan mereka menyerang kamu seketika itu juga, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda. Maka sesungguhnya Allah adalah Pelindungnya [Muhammad], dan Jibril dan orang‑orang mu’min yang baik; dan selain itu para malaikat pun adalah penolongnya juga. [66:4]

Wahai orang‑orang yang beriman! Jagalah dirimu sekalian dan orang‑orangmu dari [siksa] neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Di atasnya ada malaikat-­malaikat yang keras dan kejam. Mereka tidak berbuat ma’siyat kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan‑Nya kepada mereka dan mereka mengerjakan apa yang diperintahkan kepada Mereka.[66:6}

Para malaikat dan ruh turun atas izin Tuhan. Mereka membawa [program mengenai] segala hal. Disertai kedamaian hingga saat terbit faJar. [97:4-5]

Dari ayat‑ayat yang dikutip di atas terbukti bahwa disamping tugas‑tugas lain yang tidak diberitahukan kepada kita, para malaikat mengkomunikasikan pesan‑pesan Allah, menjaga keselamatan manusia, mencatat perbuatan-perbuatan mereka, menghukum dan membantu, membawa kematian, menjaga neraka dan turun [ke bumi] dengan membawa berbagai macam urusan. Dengan demikian tampaknya para malaikat merupakan utusan‑utusan yang melaksanakan pekerjaan tetapi tidak tampak sebagai materi di alam sehingga kita tidak dapat melihat mereka dalam bentuknya yang normal. Bagi ilmuwan segala sesuatu yang mampu melaksanakan pekerjaan adalah energi, yang juga mendukung pandangan bahwa para malaikat adalah bentuk‑bentuk energi atau makhluk tertentu yang melakukan peran berbagai macam energi. Barangkali mereka seperti para eksekutif dalam pernerintahan yang dipimpin oleh Allah yang hasil‑hasil kinerjanya dapat dilihat tetapi pelaku‑pelaku aktualnya tidak terlihat.

Jibril

Mengenai [malaikat] Jibril yang juga disebut الروح [Ar‑ruh] atau Jiwa, menyatakan:

Mereka bertanya kepadamu [Muhammad] tentang Ar‑Ruh. Katakanlah bahwa Ar‑Ruh itu salah satu di antara urusan Tuhanku. Pengetahuan yang diberikan kepadamu [mengenai hal itu] hanya sedikit. [17:85]

[Orang‑orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kiamat] … adalah mereka yang dalam hati mereka telah ditulis iman [oleh Allah] dan telah dikukuhkan‑Nya dengan Ruh daripada‑Nya.”[58:22]

Dialah [Allah] Yang meningkatkan beberapa derajat, Yang memiliki ‘Arsy [singgasana alam semesta]. Dialah yang me­nurunkan Ar‑Ruh membawa urusan‑Nya kepada sebagian hamba‑hambaNya yang dikehendakiNya untuk mengi­ngatkan mereka akan Hari Pertemuan.[40:15]

Dengan demikian Jibril yang tampaknya merupakan utusan untuk berkornunikasi, adalah energi yang mengilhami manusia. Jadi sebagaimana halnya dengan mata yang sensitif terhadap corak radiasi elektrornagnetik tertentu (cahaya), hati para nabi pun tampaknya sensitif terhadap komunikasi dengan Allah yang dikirimkan melalui Jibril (Ar‑Ruh) yang juga terbukti dari ayat‑ayat Al‑Qur’an berikut ini.

Dan sesungguhnya [Al‑Qur’an] itu diturukan daripada Tuhan Penguasa seluruh alam semesta. Ar‑Ruh yang terpercaya menurunkannya kepada hatimu [Muham­mad] agar kamu menjadi salah seorang pembawa peringatan dengan bahasa Arab yang jelas.[26:192-195]

Dalam sistem penyiaran radio (broadcasting system], gelombang‑gelombang suara dikonversi menjadi gelombang‑gelombang elektromagnetik, yang mentransformasikan kembali menjadi gelombang‑gelombang suara pada pesawat penerima, yaitu radio. Apakah pesan Allah yang dikornunikasikan itu dilakukan dengan cara yang sama, dalam hal ini Jibril mengilhami hati para rasul yang kemudian mentransformasikan ilham ini menjadi kata‑kata dalam bahasa yang mereka tuturkan, yaitu bahasa Arab dalam kasus Nabi Muharnmad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Sistem penyiaran radio, televisi, telepon, teleprinter dan sebagainya yang merupakan alat‑alat untuk menyalurkan radiasi elektrornagnetik, adalah alat‑alat bikinan manusia. Apakah Allah, Sang Maha Pencipta, tidak mampu membikin alat‑alat yang sama atau lebih baik dan tidak dapat dilihat itu?

Al‑Qur’an, Taurat dan Beibel
Al‑Qur’an yang memberi informasi mengenai berbagai komunikasi Allah, menyatakan sebagai berikut.

  • Dan demikianlah Kami telah mewahyukan kepadamu [meIalui] Ruh sebagian perintah Kami. Kamu tidak mengetahui apa [isi] Al-Kitab itu dan [juga] apakah iman itu. Akan tetapi Kami jadikan ia sebagai sinar yang dengannya Kami menunjukkan jalan kepada sebagian hamba Kami yang Kami kehendaki, dan sesungguhnya engkau [Muhammad] pasti akan menunjukkan kejalan yang lurus.[42:45]
  • Sesungguhnya Kami telah menurunkan [Kitab] Taurat yang di dalamnya ada petunjuk dan cahaya.[5:44]
  • … dan Kami telah memberikan kepadanya [Isa, Jesus] Kitab Injil yang didalamnya terdapat petunjuk dan cahaya.[5:46]

Al‑Qur’an, Taurat dan Injil dikatakan memiliki cahaya, atau radiasi. Bagi orang awam ini berarti cahaya (sinar) yang membantu menemukan jalan yang benar, tetapi bagi pengkaji sains kata‑kata نور [Nur] memiliki arti energi radian. Al‑Qur’an bila dibaca akan memberikan berbagai efek pada hati. Apakah pembacaan Al-­Qur’an itu mentransfer gelombang‑gelombang suara menjadi radiasi elektrornagnetik jenis tertentu yang mempengaruhi hati pendengamya sehingga menimbulkan perasaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata‑kata ‑ suatu perasaan yang kadang‑kadang membuat orang menangis, bahkan mereka yang sama sekali tidak memahami makna yang mereka dengar itu?

Ayat‑ayat Al‑Qur’an berikut ini tampaknya mendukung pandangan ini.

  • Dan Kami telah menurunkan melalui Al‑Qur’an bahwa ia merupakan obat dan rahmat bagi orang‑orang yang beriman. [17:82]
  • Wahai ummat manusia! Sungguh telah datang nasihat dari Tuhanmu dan obat bagi [penyakit] hati dan petunjuk serta rahmat bagi orang‑orang yang beriman. [10:57]
  • Dan ketika mereka mendengar apa yang diturunkan kepada Rasul engkau melihat mata mereka menggenang air mata karena mereka mengetahui sebagian dari kebenaran itu [5:83]

Kenyataan yang sangat terkenal bahwa beberapa penyakit jasmani dan ruhani disembuhkan dengan beberapa jenis radiasi elektrornagnetik tertentu. Al‑Qur’an dikatakan sebagai penyembuh bagi [penyakit] yang ada dalam hati. Apakah pembacaan Al‑Qur’an, sebagaimana dinyatakan di atas, menimbulkan jenis radiasi elektromagnetik tertentu. (atau Nur) yang menyembuhkan penyakit-penyakit spiritual, yakni kejahatan yang ada dalam hati?

Daya‑daya Pokok di Alam
Sains sejauh ini hanya menemukan empat macam daya (tenaga) pokok yang bisa menjelaskan semua gejala alam: (1) Daya gravitatif, (2) Daya listrik, (3) Daya nuklir yang kuat (strong nuclear force), dan (4) Daya kehancuran beta yang lemah (weak beta decay force).

Al‑Qur’an dalam hal ini menyatakan:
Dan milik Allahlah pasukan‑pasukan [daya‑daya] langit dan bumi.[48:4]
Menurut kepercayaan‑kepercayaan Islam yang populer ada empat malaikat penting yang melaksanakan tugas-tugas sebagai berikut:

  • 1. IsrafiI: membunyikan terompet untuk mengakhiri alam semesta.
  • 2. Jibril: mengkomunikasikan pesan‑pesan Allah.
  • 3. Mikail : bertugas mengatur hujan, angin dan sebagainya.
  • 4. lzra’il: menyebabkan kematian.

Kami sudah mengemukakan pendapat bahwa para malaikat sebagai energi‑energi atau makhluk‑makhluk yang menjalankan [tugas] berbagai macam energi, dan karena semua daya adalah milik Allah, maka marilah kita Iihat apakah kita dapat mengkorelasikan tugas‑tugas keempat malaikat yang penting itu dengan keempat daya alam yang pokok itu.

1. Gravitasi – Israfil
Semua benda langit dan objek‑objek yang ada di permukaannya masing‑masing terikat bersama oleh daya gravitasi. Jika daya gravitasi itu diperbesar maka segala sesuatu akan terkumpul bersama dan alam semesta akan hancur dan jika ia diperkecil maka segala sesuatu akan terpisah [dan] berterbangan ke mana‑mana. Apakah Israfil yang menjalankan tugas daya gravitasi, yang sekarang menjaga segala sesuatu dalam keseimbangan tetapi, jika atas perintah Allah, akan memperbesar daya ini sehingga menyebabkan semua benda langit terkonsentrasi di satu tempat untuk mengakhiri alam semesta dan kemudian mereduksi daya gravitasi itu yang akan menyebabkan terciptanya kembali alam semesta itu? Mekanisme berakhirnya dan terciptanya kembali alam semesta itu merupakan tema utama dalam teori Oscillating Universe [atau Teori Ledakan Hebat] dan sangat boleh jadi bersesuaian dengan peniupan terompet dua kali untuk mengakhiri dan mencipta kembali alam semesta, sebagaimana dinyatakan dalam Al‑Qur’an sebagai berikut.

Dan akan ditiupnya terompet [struktur alam semesta] itu sehingga siapa saja yang ada di langit‑langit dan bumi akan ja­tuh tidak sadarkan diri kecuali orang‑orang yang dikehendaki Allah. Kemudian akan ditiupnya terompet itu untuk kedua kalinya sehingga mereka akan berdiri melihat.[39:68]

Daya Listrik ‑ Jibril
Telekomunikasi pada hakikatnya bersifat elektrik. Apakah Jibril menjalankan semua tugas daya listrik di alam, atau telekomunikasi sebagai satu‑satunya bagian tugasnya?

Daya Nuklir yang Kuat – Mikail
Panas dan cahaya yang kita terima dari matahari adalah akibat dari reaksi‑reaksi nuklir yang terjadi di dalamnya. Cahaya dan panas matahari mendukung kehidupan di muka bumi. Panas menguapkan air untuk membentuk awan‑awan, menyebabkan terjadinya perbedaan‑perbedaan temperatur yang mengakibatkan gerakan angin, yang mendorong awan‑awan dan percikan‑percikan hujan. Apakah Mikail bertugas menjalankan [reaksi] semua daya nuklir di alam, termasuk [reaksi‑reaksi] nuklir yang terjadi di matahari itu?
 
Transformasi Energi menjadi Materi

Sebelumnya kita sudah mengetahui bahwa materi dan energi bisa saling dikonversikan. Jika para malaikat adalah energi‑energi, maka apakah mereka pemah mengambil bentuk materi? Dalam kaitan ini marilah kita kaji ayat-ayat Al‑Qur’an berikut ini.

  • Dan para utusan Kami telah datang kepada Ibrahim membawa berita gembira. Mereka mengatakan, ‘Selamat.’ Selamat’ kata Ibrahim dan dia pun tanpa mengulur­ulur waktu menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang. Kemudian ketika melihat bahwa tangan mereka tidak dapat menjamahnya, dia pun menganggap perbuatan mereka aneh dan merasa takut kepada mereka …[11:69:70]
  • Kemudian Kami kirimkan kepadanya [Maryam] Ruh Kami, maka ia pun menjelma di depan matanya seperti manusia yang sebenarnya.[19:17]

Dalam kisah sejarah Nabi Lut a.s. [11:77-81] juga, para utusan dikatakan telah datang dalam bentuk manusia. Melalui hadis‑hadis yang terkenal dan sahih kita mengetahui bahwa Jibril muncul sebagai manusia di depan Nabi Muhammad saw. dan para sahabatnya.

Ayat‑ayat AI‑Qur’an yang dikutip di atas mendukung pendapat bahwa para malaikat dan Ruh itu merupakan bentuk‑bentuk energi radian yang berbeda‑beda karena mereka juga dapat berubah menjadi bentuk‑bentuk materi sebagaimana energi berubah menjadi materi.

Jin
Mengenai jin Al‑Qur’an menyatakan:

  • Dan jin telah Kami cipta sebelumnya dari gelombang api yang sangat panas.[15:27]
  • Dan di antara jin‑jin itu ada yang bekerja untuknya atas izin Tuhannya. [34:12]

Ayat‑ayat Al‑Qur’an ini memberikan kesan kepada kita bahwa jin pun, sebagaimana para malaikat, merupakan energi radian dan diberi pekerjaan oleh Allah.

Di banyak tempat dalam Al‑Qur’an, jin‑iin itu disebut bersama‑sama dengan manusia dan pada satu tempat tujuan utama penciptaan mereka disebutkan sebagai berikut.Sesungguhnya Aku tidak mencipta Jin dan manusia kecuali agar [mereka] beribadah kepada‑Ku.” [51:56]

Dalam bidang Fisika Quantum sudah ditunjukkan bah­wa sebuah photon tunggal (partikel cahaya) atau sebuah elektron, bisa dijatuhkan di sebuah layar yang memiliki dua buah lubang sempit, kita mendapatkan pola peneri­maan sinyal yang memberikan kesan bahwa photon atau elektron tunggal menerobos melalui kedua lubang itu se­cara simultan. Bagi setiap pengamat yang melihat photon atau elektron itu datang melalui salah satu di antara lu­bang‑lubang itu, maka ada pengamat lain di dunia lain yang melihatnya melalui bagian integral eksperimen itu dan tidak ada sesuatu pun bila ia tidak dipersepsi. Kedua pengamat itu. sama‑sama benar. Alam semesta membagi dirinya menjadi dua. Apakah pengamat lain itu Jin yang berhubungan dengan manusia tertentu itu?

Diriwayatkan oleh lbnu Mas’ud bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berabda: ‘Tidak ada seorang pun di antara kamu tetapi ada yang bertugas mengawasinya, seorang sahabat di antara Jin‑jin dan seorang di antara para Malaikat. [HR Muslim]

Syetan
Mengenai syetan atau Iblis, Al‑Qur’an menyatakan:

  • Dia [Iblis] berkata, ‘Saya lebih baik daripada dia [manusia, Adam] Engkau mencipta saya dari api dan Engkau men­cipta dia dari tanah liat.[7:12] Maka mereka [para malaikat] pun bersujud [kepada] Adam, kecuali Iblis. Dia adalah dari Jin dan kemudian mereka membangkang perintah Tuhannya. [7:12]
  • Mereka [Iblis] berjanji kepada mereka [manusia] dan mem­bangkitkan angan‑angan kosong kepada mereka. Sesung­guhnya yang dijanjikan oleh Syetan kepada mereka hanyalah tipu daya.”[4:120]
  • … sehingga Dia [Allah] menjadikan apa yang disampaikan oleh Syetan itu cobaan bagi orang‑orang yang hatinya berpenyakit dan yang hatinya keras.”[22:53]

Ayat‑ayat Al‑Qur’an ini menunjukkan bahwa Iblis juga dicipta dari bentuk energi yang sama sebagaimana Jin. Dia tersusun dari energi dan manusia dari materi. Barangkali karena menyadari kemungkinan bisa terjadinya antaraksi antara materi dan energi, maka dia menyatakan: ‘Saya akan menyesatkan mereka [manusia] dan menggoda mereka dengan kesenangan-­kesenangan semu. ‘ Beberapa jenis penyakit jasmani disebabkan oleh bibit‑bibit penyakit yang tidak terlihat, sama halnya dalam penyakit-penyakit kehidupan spiritual di hati disebabkan oleh Iblis. Penyakit‑penyakit jasmani disembuhkan dengan obat dan dalam beberapa kasus, dengan radiasi elektromagnetik, maka demikian pula halnya dengan penyakit‑penyakit hati, sebagaimana dinyatakan sebelumnya, bisa disembuhkan dengan Al‑Qur’an, yang dinyatakan sebagai ‘Nur’ dan dipahami dengan makna energi radian.

Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dilaporkan pemah bersabda, sebagaimana disebutkan sebelumnya, seorang Jin dan seorang Malaikat menemani setiap orang. [HR Muslim] Sangat boleh jadi Malaikat itu membisikkan ke dalam hati manusia gagasan‑gagasan yang baik dan Jin dengan gagasan‑gagasan jahat. Bisikan atau ilham dari Malaikat itu mungkin beru­pa apa yang kita sebut kesadaran yang membantu mem­bedakan antara yang baik dan buruk dan mendorong kita untuk berbuat baik dan [bisikan] Syetan boleh jadi berupa keinginan jahat kita yang menimbulkan pikiran‑pikiran jahat dan yang menggoda kita untuk melakukan kejahatan. Dua corak bisikan atau ilham ini adalah penyebab-­penyebab utama semua tindakan dan perbuatan manusia, salah satunya menuju ke surga dan yang lain ke neraka.

Hubungan antara Manusia, Malaikat dan Jin
Penyataan bahwa hati atau jiwa kita sensitif terhadap bisikan atau ilham atau, dengan bahasa sains, terhadap radiasi elektromagnetik, melalui Jiwa, para Malaikat, Jin atau Syetan, tidak berarti bahwa hati atau jiwa manusia berisi instrumen‑instrumen seperti transmitter, amplifier, transformer, dan sebagainya. la hanyalah berarti bahwa pekerjaan‑pekerjaan yang dilakukan oleh alat‑alat ini atau alat‑alat lain di dunia materi dilakukan oleh hati dan atau jiwa di dunia spiritual disamping fungsi­-fungsinya yang lain, jiwa manusia adalah komputer terbaik di muka bumi. Ini tidak berarti bahwa otak itu sama dalam konstruksinya dengan komputer elektronik; ia hanya berarti bahwa otak melaksanakan pekerjaan‑pekerjaan yang sama dengan yang dikerjakan oleh komputer elektronik. Otak dan komputer berbeda ukurannya, mekanismenya dan konstruksi materialnya, namun sifat pekerjaan yang dilakukannya sama.

Dengan demikian manusia tampaknya merupakan perpaduan yang erat antara gejala‑gejala materi dan energi. Keyakinan pada hakikatnya bersifat spiritual dan para Malaikat merupakan hal penting dalam keyakinan Muslim sebagaimana terbukti dari ayat Al‑Qur’an berikut ini.

Akan tetapi kebaikan itu adalah siapa saja yang beriman ke­pada Allah,

Keyakinan atas adanya para Malaikat, dalam semua pengertian yang sudah dikemukakan sejauh ini, berarti keyakinan atas adanya energi‑energi berikut efek­efeknya dan bahwa energi‑energi ini sudah dicipta oleh Allah, yang perbedaamya hanya dalam nama‑namanya saja. Al-Qur’an lebih lanjut menyatakan sebagai berikut.

Dan [ingatlah] ketika Kami berbicara dengan para malaikat ‘Bersujudlah kamu sekalian kepada Adam!’ Maka mereka pun bersujud kecuali Iblis. Dia enggan melakukannya dan bersombong diri. Dan dia tennasuk kelompok kafir.[2:34]

Menurut ayat Al‑Qur’an tersebut di atas para malaikat disuruh bersujud kepada Adam as. Sernuanya taat kecuali Iblis. Ini berarti bahwa IbIis juga diakui sebagai malaikat, tetapi menurut ayat lain dalam Al‑Qur’an [18:50], Iblis dinyatakan sebagai Jin. Dengan memperhatikan makna ini, katakata Arab ملائكة [Mala’ikah], jamak dari kata ملك [Malak] untuk makhluk Malaikat tampaknya mempunyai makna energi‑energi yang dalam hal ayat Al‑Qur’an tersebut di atas, berarti semua energi diperintah oleh Allah untuk bersujud [tunduk] kepada manusia, dan semuanya mematuhi kecuali energi jahat, yaitu IbIis. Manusia ditugaskan untuk mengendalikan berbagai energi itu karena[nya] Allah memerintah energi‑energi itu untuk tunduk di bawah kontrolnya [manusia]. Karena itu penghargaan terhadap kemajuan yang dicapai dalam sains dan teknologi kembali kepada Allah dan bukan kepada manusia. Karena hak untuk memerintah berbagai energi itu bukan merupakan keberhasilan manusia, maka meletakkan energi yang jahat, yakni Syetan, di bawah kontrolnya sajalah yang merupakan keberhasilannya. Sebenamya inilah satu-satunya tantangan yang dihadapkan kepadanya. Apakah kita tidak akan melakukan usaha secara sungguh‑sungguh ke arah ini dengan mengikuti perintah‑perintah yang terkandung dalam Al‑Qur’an?

http://www.akhirzaman.info/allien-a-ufo/75-alien/860-energi-energi-malaikat-dan-jin.html