>Islam Adalah Agama Universal

>

“Tiada Kami mengutus Engkau (Muhammad), melainkan untuk seluruh umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”
(Q.S. Saba’[34] : 28)

Misi NAQS DNA

Islam merupakan agama universal, ajarannya mencakup seluruh aspek kehidupan umat manusia yang berlaku di setiap tempat dan masa. Islam merupakan agama yang memiliki keseimbangan orientasi hidup, yaitu kehidupan dunia dan akhirat. Penamaan Islam sebagai agama, langsung diberikan oleh Allah melalui wahyu-NYA (Al-Qur’an). Sementara itu, pemberian nama agama lain yang berkembang di dunia senantiasa diidentifikasikan kepada orang atau tokoh yang membawa ajaran tersebut, atau daerah tempat agama itu lahir.

Universalisme Islam terintegritas dan terkodifikasi dalam akidah, syariah, dan akhlak. Antara satu dan yang lainnya terdapat nisbat atau hubungan yang saling berkaitan dan kesemuanya berfokus dan menuju pada keesaan Allah atau bertauhid. Ajaran tauhid inilah yang menjadi inti, awal, dan akhir dari seluruh ajaran Islam[1].

Islam itu sendiri, secara totalitas, merupakan suatu keyakinan bahwa nilai-nilai ajarannya adalah benar dan bersifat mutlak karena bersumber dari Yang Mahamutlak. Dengan demikian, segala yang diperintahkan dan diizinkan-Nya adalah suatu kebenaran, sedangkan segala sesuatu yang dilarang-Nya adalah kebatilan.

Di samping itu, Islam merupakan hukum atau undang-undang (syariah) yang mengatur tata cara manusia dalam berhubungan dengan Allah (vertikal) dan hubungan antarsesama manusia (horizontal). Di dalamnya mencakup dua bidang pembahasan, yaitu pertama bidang ibadah mahdah yang meliputi tata cara shalat, puasa, zakat, dan haji. Kedua, bidang ibadah ghair mahdah yang meliputi mu’amalat, munakahat, siyasat, jinayat, dan sebagainya. Sebagai standar dan ukuran dalam pelaksanaannya merujuk pada hukum yang lima yang disebut Ahkam Al-Khamsah, yaitu, wajib, haram, mubah, mandhub, dan makruh. Penerapan kelima hukum tersebut dalam kehidupan sehari-hari memiliki variasi dan pelaksanaannya bersifat fleksible melalui ijtihad yang disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan zaman. Aspek syari’ah ini disosialisasikan oleh aspek akhlak yang meliputi cara, tata kelakuan, dan kebiasaan dalam bersosialisasi dan berinteraksi, baik yang berhubungan dengan ekonomi, politik, berkeluarga, bertetangga, dan sebagainya.

Ketiga aspek tersebut dalam operasionalnya bersumber kepada Al-Qur’an dan Sunnah Rasul. Dua pokok inilah yang mengatur kehidupan manusia dengan cermat, baik yang berhubungan dengan Allah, maupun yang berhubungan dengan sesama manusia dan alam sekitarnya. Kemudian dilakukan ijtihad untuk menetapkan hukum bagi persoalan-persoalan yang tidak terdapat secara eksplisit dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasul, sebagai hasil ketetapan para ulama yang dikodifikasi dalam ilmu fiqih.

Seluruh ajaran tersebut, baik akidah maupun syari’ah dan akhlak, bertujuan membebaskan manusia dari berbagai belenggu penyakit mental-spiritual dan stagnasi berpikir, serta mengatur tingkah laku perbuatan manusia secara tertib agar tidak terjerumus ke lembah kehinaan dan keterbelakangan, sehingga tercapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Sinkronitas dan integritas dari ketiga aspek tersebut, terlihat universalisme dan universalitas Islam dengan misinya sebagai rahmat bagi seluruh umat manusia.

Atas dasar itulah, muncul diktum Islam sebagai agama yang sempurna. Kesempurnaannya terlihat dalam ajaran-ajarannya yang bersifat universal dan fleksible (luas dan luwes) serta mengharuskan terciptanya keseimbangan hidup antara duniawi dan ukhrawi, jasmani dan rohani. Sebab, kehidupan duniawi yang baik harus dijadikan media untuk mencapai kehidupan rohani yang baik. Sebaliknya, kehidupan rohani yang baik harus dijadikan media untuk memenuhi kehidupan jasmani yang baik, legal, dan halal serta di bawah ridha Allah. Oleh karena itu, Islam merupakan kekuatan hidup yang dinamis, juga merupakan suatu kode yang sesuai dan berdampingan dengan tabiat alam, dan merupakan kode yang meliputi segala aspek kehidupan insani.

Salah satu ciri yang menonjol dalam konsep Islam adalah adanya prinsip keseimbangan (Yin-Yang) dan keharmonisan hidup. Islam adalah agama lahir dan batin, serta agama dunia dan akhirat. Keharmonisan ini karena Islam sesuai dengan bentuk dan jenis penciptaan alam raya yang menggambarkan keseimbangan, seperti yang diungkapkan Al-Qur’an dengan istilah Fithrah karena sifat fithrah itu sendiri adalah seimbang atau harmoni. Langit dan bumi adalah ciptaan Allah yang seimbang sehingga dapat terjadi harmoni di alam raya, seperti matahari, bulan, planet-planet yang menjadikan bumi berputar secara teratur dan melahirkan iklim dan cuaca yang seimbang sehingga layak dihuni manusia.

Keseimbangan ini merupakan ciri fithrah Allah pada umumnya. Demikian pula dengan fithrah manusia yang seimbang antara fisik dan jiwa, lahir dan batin, akal dan hati, sebagaimana dalam alam, ada langit dan bumi, siang dan malam, dan sebagainya. Kelestarian alam dan manusia juga terletak pada keseimbangan. Bumi akan tetap ada apabila antara daratan dan lautan, dataran rendah dan gunung-gunung tetap seimbang. Keseimbangan di bumi akan menyeimbangkan pula daya tarik menariknya dengan planet-planet lain sehingga tidak terjadi benturan yang dapat menghancurkan segalanya. Demikian pula, keseimbangan pada diri manusia. Manusia akan tetap terjaga kesehatannya apabila terjaga keseimbangannya antara bekerja dan istirahat, lahir dan batin, akal dan hati, bekerja dan ibadah, dunia dan akhirat[2].


Keseimbangan dan keharmonisan ajaran Islam mengandung implikasi bahwa Islam selalu berada pada garis tengah, tidak ekstrim pada salah satu pandangan, tidak materialistis, dan tidak pula sosialis. Islam memandang hidup secara utuh dan seimbang antara realita dan idealita. Kehadiran Islam menjadikan umatnya sebagai saksi yang berada di garis tengah terhadap seluruh realitas kehidupan.

Berbeda dengan agama lainnya yang memisahkan hidup manusia secara tegas bahwa agama hanya berkaitan dengan masalah penyembahan saja. Islam tidak hanya mengetengahkan urusan individu penganutnya, melainkan juga urusan masyarakat, negara, bahkan hubungan antarbangsa.

Islam tidak membedakan ras, suku, dan bangsa. Ia diturunkan Allah untuk seluruh manusia dari bangsa dan golongan mana pun. Orang-orang Barat sering kali menyamakan Islam dengan Arab, seolah-olah Islam itu sama dengan Arab. Padahal keterkaitan Islam dengan Arab hanya terbatas pada sejarah dan bahasa, yaitu Nabi Muhammad SAW., pembawanya, dari Arab dan Al-Qur’an sebagai kitab sucinya diturunkan Allah dalam bahasa Arab. Di luar itu, Islam tidak identik dengan Arab. Ajaran Islam mendorong lahirnya umat multiras, etnik, dan golongan, tetapi memiliki satu kebanggaan yang menyatukan semuanya. Ikatan yang memperkokoh kesatuan dirinya adalah tauhid. Oleh karena itu, perbedaan-perbedaan yang ada di antara mereka – jika mereka konsisten – tidak akan melahirkan perpecahan.

Islam mengembangkan kesatuan dan kesamaan, baik kesetaraan gender maupun ras dan etnik. Oleh karena itu, Islam sangat membenci diskriminasi gender dan diskriminasi rasial. Konsep persamaan yang terkandung dalam ajaran Islam melahirkan sikap saling menghargai (demokrasi) yang menjadi salah satu ciri umat Islam. Menghargai orang lain, baik fisik, kondisi maupun pendapatnya juga merupakan salah satu ciri dari demokrasi. Saling menghargai dalam tatanan umat Islam merupakan suatu keharusan yang menjadi ciri dalam komunikasi sehari-hari.

Umat Islam bukanlah kelompok yang tertutup (ekslusif), tetapi kelompok yang sangat terbuka terhadap pihak lain bahkan terhadap perubahan-perubahan yang datang dari luar sepanjang sesuai dengan nilai-nilai ajaran Islam. Ajaran Islam sangat adaptif terhadap budaya masyarakat, bahkan pada waktu tertentu dapat mengadopsi nilai-nilai budaya (‘urf) sebagai bagian dari ajaran Islam. Dengan demikian, umat Islam merupakan masyarakat yang terbuka dan dinamis serta selalu berorientasi pada masa depan yang lebih baik tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar yang menjadi dasar pijakannya.

Agama Islam adalah agama yang menebarkan perdamaian, persaudaraan, dan persamaan. Oleh karena itu, hal-hal yang dapat menjadi pemicu lahirnya ketidakstabilan dan permusuhan antar manusia harus dihindari. Salah satu yang tidak diperkenankan dalam ajaran Islam adalah pemaksaan satu kelompok kepada kelompok lain. Agama bagi Islam adalah keyakinan yang harus datang dari kesadaran diri terhadap eksistensi dan kekuasaan Tuhan. Apa yang baik dan buruk sudah sangat jelas diperlihatkan Allah dalam ayat-ayat-NYA, baik yang tersurat dalam Al-Qur’an maupun yang tersirat dalam alam ciptaan Tuhan. Manusia tinggal melihat, memahami, mempercayai dan meyakininya melalui proses berpikir yang benar. Islam mendorong umatnya untuk bekerjasama dalam berbagai segi kehidupan dengan siapa saja, termasuk dengan umat beragama lain sepanjang kerja sama dilakukan untuk kebaikan. Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang harus berusaha untuk saling menguntungkan dan tidak melanggar hukum. Umat Islam dituntut untuk melakukannya dengan baik dan adil.

DR. Aidh Al-Qarni dalam bukunya yang berjudul LA TAHZAN (JANGAN BERSEDIH!), menyatakan, ”Sungguh menderita manusia yang tidak memahami Islam dan tak mendapat petunjuk untuk memeluknya. Islam membutuhkan promosi dari kaum muslimin dan orang-orang yang mendukungnya. Islam butuh iklan yang mendunia. Sebab Islam adalah sebuah kabar agung. Dan seruan kepada Islam, hendaknya sesuatu yang bermutu: bernilai tinggi, sistematis dan penuh daya tarik. Sebab kebahagiaan manusia tak akan ditemukan, kecuali dalam agama yang benar dan abadi ini. Manusia zaman sekarang kerap bingung. Mereka sangat membutuhkan agama yang agung ini agar mereka bisa menikmati rasa aman, kedamaian dan ketenangan”.

Dr. Ahmad Al-Mazyad : “Islam adalah satu-satunya agama yang telah menggariskan metode kehidupan secara utuh. Di dalamnya diatur segala urusan dan segala aspek kehidupan. Ia bukan metode bikinan manusia yang mengandung unsur benar dan salah, akan tetapi metode Illahi yang dapat mengantarkan orang yang mengikutinya kepada kebahagiaan, ketenangan, dan ketentraman jiwa di dunia, serta sukses meraih surga dan menggapai kenikmatan abadi pada hari kiamat. Allah SWT. Berfirman : “Kami tidak menyia-nyiakan sesuatupun dalam al-Kitab (Al-Qur’an)”

Drs. H. Syafruddin Amir, MM menulis dalam bukunya yang berjudul HIV/AIDS dalam solusi Islam : “Sejak lama berbagai solusi telah dikeluarkan untuk mengatasi gerak laju HIV/AIDS. Bagi mereka yang berisiko tinggi melalui kontak seksual, disarankan untuk menggunakan kondom saat berhubungan seksual. Solusi ini mengundang kontroversi karena dianggap melegalkan perzinaan. Bahkan, pakar kejiwaan, seperti Prof. Dr. Dadang Hawari, terkenal gencar menentang solusi tersebut. Dalam salah satu pernyataannya, ia mengatakan bahwa virus HIV lebih kecil dibandingkan pori-pori kondom. Adapun bagi pengguna narkotika suntik, kerapkali didengung-dengungkan solusi bahwa penggunaan jarum suntik tidak dilakukan secara bersama-sama. Jarum suntik hanya boleh digunakan oleh pribadi yang bersangkutan. Namun, sekali lagi solusi ini juga mengundang kontroversi karena bagaikan mengesahkan penggunaan narkotika di kalangan masyarakat. Di luar tingkat keberhasilannya, sejatinya kedua solusi tersebut hanya berjangka pendek. Ibarat pohon yang terkena parasit, hanya dipotong dahan dan dedaunannya yang tampak kering, tidak keseluruhannya, tidak juga mencapai akar-akarnya sehingga tak heran apabila bagian lain pun bisa segera terkena parasit. Berbagai solusi telah ditawarkan, baik oleh para cendekiawan maupun ahli medis bahwa untuk mengatasi penyebaran dan gerak laju HIV/AIDS, seperti yang telah diuraikan tadi, mulai dari penggunaan kondom bagi yang berisiko tinggi, menghindari penggunaan jarum suntik secara bersama-sama bagi pengguna narkoba, hingga berbagai alternative lainnya. Namun, hal itu selalu saja mengundang kontroversi dan perbedaan sudut pandang. Mengapa hal itu bisa terjadi? Sekali lagi, solusi yang ditawarkan tersebut jelas tidak menyentuh akar masalah yang dihadapi, tetapi hanya bersifat jangka pendek. Padahal, solusi yang dibutuhkan adalah bagaimana caranya menghindarkan masyarakat dari penyakit HIV/AIDS tersebut dengan pola hidup yang baik, benar, beradab, bukan memberi solusi dengan memunculkan masalah baru. Misalnya, menggunakan kondom mungkin aman, tetapi apa jadinya kalau prostitusi malah semakin menjadi-jadi. Atau, menggunakan jarum suntik hanya untuk pribadi dan sekali pun memang aman, namun bagaimana jika dengan hal itu penggunaan narkoba jenis suntik malah menjadi marak. Belum lagi kita bisa memperoleh vaksin atau obat yang bisa mengatasi HIV/AIDS, masalah sosial baru sudah pasti akan timbul. Dalam hal ini, untuk mengatasi sesuatu, harus dicari faktor penyebab utamanya. Karena itu, di sinilah titik tolak solusi itu ditawarkan. Jika faktor penyebab itu tidak dikaji lebih dulu, tindakan apa pun yang dilakukan hanya akan bersifat sementara. Kita lihat bahwa sebagian besar penyebab HIV/AIDS adalah karena berhubungan seks di luar nikah atau faktor berzina. Karena itu, upaya untuk menanggulanginya yang efektif adalah mencegah perzinaan itu sendiri. Mustahil dapat diatasi jika zina itu mewabah di tengah-tengah masyarakat, apabila dilegalkan dengan membuat lokalisasi. Karena itu, sebaiknya kita mencegahnya daripada mengobati. Artinya, menghilangkan sebab lebih baik dari mengobati penyakit yang diakibatkan oleh sebab itu sendiri”

Ary Ginanjar Agustian dalam bukunya yang berjudul ESQ, menulis : “Prinsip-prinsip yang tidak Fitrah umumnya berakhir dengan kegagalan, baik kegagalan lahiriyah ataupun kegagalan batiniah. Dunia telah membuktikan bahwa prinsip yang tidak sesuai dengan suara hati atau mengabaikan hati nurani, hanya mengakibatkan kesengsaraan atau bahkan kehancuran. Prinsip-prinsip buatan manusia itu sebenarnya adalah suatu upaya pencarian dan coba-coba manusia untuk menemukan arti hidup yang sebenarnya. Mereka umumnya hanya memandang suatu tujuan dari sebelah sisi saja, tidak menyeluruh, sehingga akhirnya menciptakan suatu ketidakseimbangan, meskipun pada akhirnya keseimbangan alam telah terbukti menghempaskan mereka kembali. Mereka biasanya merasa paling benar, tanpa menyadari bahwa sisi lain dari lingkungannya yang juga memiliki prinsip yang berbeda dengan dirinya. Hanya berprinsip pada sesuatu yang abadilah yang akan mampu membawa manusia ke arah kebahagiaan hakiki. Berprinsip dan berpegang teguh pada sesuatu yang labil, niscaya akan menghasilkan sesuatu yang labil pula”

Dr. H. Syamsu Yusuf, LN. M.Pd. dalam bukunya yang berjudul MENTAL HYIGIENE ‘Pengembangan Kesehatan Mental dalam Kajian Psikologi dan Agama’ menulis : Terkait dengan dampak ditinggalkannya agama terhadap kehidupan manusia, Tarmizi Taher dalam ceramahnya yang berjudul “Peace, Prosperity, and Religious Harmony in The 21 century: Indonesian Muslim Perspektives” di George town AS, mengemukakan bahwa akibat disingkirkannya nilai-nilai agama dalam kehidupan modern, kita menyaksikan semakin meluasnya kepincangan sosial, seperti : merebaknya kemiskinan, dan gelandangan di kota-kota besar; mewabahnya pornografi dan prostitusi; HIV/AIDS; meratanya penyalahgunaan obat bius, kejahatan terorganisasi, pecahnya rumah tangga hingga mencapai 67 % di negara-negara modern; kematian ribuan orang karena kelaparan di Afrika dan Asia, di tengah melimpahnya barang konsumsi di sementara bagian belahan dunia utara (Suara Pembaharuan, 27 Nopember 1997).

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar, MA (Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Departemen Agama RI), mengatakan : ”Agama adalah Solusi yang tepat bagi penanganan Korban narkoba. Penanggulangan masalah moral, sosial, dan kemanusiaan melalui program berbasis agama adalah solusi paling baik dan tepat untuk dilakukan dalam kondisi apa pun. Karena agama menjadi faktor penting dalam membangun watak, kepribadian dan kesalehan bagi umat manusia”

RM. Lambertus Somar MSC : ”Recovery plan (rencana perawatan) pecandu perlu holistik, menyangkut raganya, mentalnya, rohaninya, dan sosialnya. Agama menyentuh manusia dalam dimensi rohaninya dan mengarahkannya kepada Tuhan serta hidup selepas kematian. Agama menawarkan ”syalom” atau kepenuhan damai sejahtera yang mencakup masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang, termasuk hidup pasca dunia. Spiritualitas memberikan artikulasi pada pengkhayatan nilai-nilai hidup dan sekaligus determinasi untuk merubah diri”

Carl G. Jung (Ahli Psikoanalisis dari Jerman) mengemukakan sebagai berikut : Selama tiga puluh tahun yang lalu, pribadi-pribadi dari berbagai bangsa di dunia telah mengadakan konseling denganku dan akupun telah banyak menyembuhkan pasien, tidak kudapatkan seorang pasien pun diantara pasien yang telah berada pada penggal kedua umur mereka, yakni dari 35 tahun yang problem esensialnya bukan kebutuhan akan wawasan agama tentang kehidupan.

Arnold Toynbee (sejarawan Inggris) mengemukakan bahwa krisis yang diderita orang-orang Eropa pada jaman modern ini pada dasarnya terjadi karena kekeringan rohaniah, dan terapi satu-satunya bagi derita yang sedang mereka alami ialah kembali kepada agama.

Zakiah Daradjat (1982 : 58) mengemukakan bahwa “apabila manusia ingin terhindar dari kegelisahan, kecemasan, dan ketegangan jiwa serta ingin hidup tenang, tentram, bahagia dan dapat membahagiakan orang lain, maka hendaklah manusia percaya kepada Tuhan dan hidup mengamalkan ajaran agama. Agama bukanlah dogma, tetapi agama adalah kebutuhan jiwa yang perlu dipenuhi”.

Henry Link (ahli ilmu jiwa Amerika) menyatakan bahwa berdasarkan pengalamannya yang lama dalam menerapkan percobaan-percobaan kejiwaan atas kaum buruh dalam proses pemulihan dan pengarahan profesi, ia mendapatkan bahwa pribadi-pribadi yang religius dan sering mendatangi tempat ibadah menikmati kepribadian yang lebih kuat dan baik ketimbang pribadi-pribadi yang tidak beragama yang sama sekali tidak menjalankan suatu ibadah

Shelley E. Taylor (1994 : 227) mengemukakan beberapa hasil penelitian para ahli tentang dampak positif agama, atau keimanan kepada Tuhan terhadap kesehatan mental dan kemampuan mengatasi stress, yang diantaranya sebagai berikut :

  • Palaotzian & Kirkpatrick (1995) mengemukakan bahwa agama (keimanan) dapat meningkatkan kesehatan mental dan membantu individu untuk mengatasi stress.
  • Elisson (1991) mengemukakan bahwa agama dapat mengembangkan kesehatan psikologis banyak orang. Orang-orang yang kuat keimanannya kepada Tuhan lebih bahagia dalam hidupnya, dan lebih sedikit mengalami dampak negatif dari peristiwa kehidupan yang traumatik dibandingkan dengan orang-orang yang rendah keimanannya kepada Tuhan (tidak melaksanakan ajaran agama)
  • Koenig dkk (1988) mengemukakan bahwa banyak orang yang secara spontan melaporkan bahwa agama sangat menolong dirinya pada saat mengatasi stress.
  • McIntosh dkk (1993) telah melakukan penelitian terhadap para orang tua yang kehilangan anaknya, karena kematian secara tiba-tiba, dengan melihat dua hal, yaitu : keyakinannya bahwa agama sebagai sistem keyakinan dan keaktifannya di gereja. Hasilnya menunjukkan bahwa mereka dapat menerima kenyataan tersebut secara wajar. secara lebih khusus, mereka mendapatkan dukungan sosial, dan lebih mampu mengambil hikmah (makna) dari peristiwa kehilangan tersebut.
  • McCullough dkk (2000) mengemukakan bahwa keyakinan beragama dapat memperpanjang usia.
  • Seybold & Hill (2001) agama itu bukan hanya sebagai bagian hidup yang bermakna, tetapi juga memberikan keuntungan dalam mengembangkan mental yang sehat.

Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa agama mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap kesehatan mental individu. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa individu tidak akan mencapai atau memiliki mental yang sehat tanpa agama.

Ibnu Al-Qayyim : ”Ada hal lain dari petunjuk Rosul, yang bila dibandingkan dengan ilmu kedokteran tenaga medis pada umumnya, seperti perbandingan ilmu kedokteran dengan ilmu pengobatan orang-orang awam. Hal ini sudah diakui oleh kalangan cerdik pandai dan tokoh-tokoh ilmu kedokteran yang ada. Sebagian di antara mereka menyatakan bahwa ilmu kedokteran yang mereka miliki adalah ‘analogi’. Ada juga yang berpendapat bahwa ilmu kedokteran mereka adalah eksperimen. Ada juga yang berani mengatakan bahwa ilmu kedokteran mereka adalah wangsit dan prediksi yang tepat. Ada juga yang menyatakan bahwa banyak dari ilmu kedokteran diadopsi dari hewan ternak. Seperti yang kita lihat bahwa kucing-kucing hutan apabila sempat memakan binatang-binatang beracun segera mendekati pelita dan menjilati minyaknya untuk mengobati dirinya. Kita juga bisa melihat ular yang baru keluar dari dalam tanah kalau pandangan matanya kabur, segera mendekati daun razyang lalu mengelebatkan matanya di depan daun tersebut. Seperti juga seekor burung yang suhu tubuhnya terlalu panas segera membenamkan diri ke dalam laut. Dan banyak lagi contoh lain yang disebutkan dalam dasar-dasar ilmu kedokteran. Bagaimana mungkin semua teori kedokteran semacam itu bisa dibandingkan dengan wahyu yang diturunkan oleh Allah kepada Rosul-NYA yang menjelaskan apa yang mendatangkan manfaat dan mendatangkan bahaya. Perbandingan antara ilmu kedokteran yang mereka miliki dengan wahyu seperti perbandingan antara ilmu-ilmu yang mereka miliki dibandingkan dengan ilmu-ilmu yang diajarkan oleh para nabi. Bahkan ajaran para nabi mengandung unsur pengobatan terhadap banyak penyakit yang belum bisa diungkap oleh otak para pakar ilmu kedokteran terhebat sekalipun; belum bisa dicapai oleh pengetahuan, eksperimen dan analogi mereka. Yakni pengobatan penyakit hati dan penyakit ruhani, memperkuat ketahanan jiwa, rasa bersandar dan tawakal kepada Allah, berpulang kepada hukum-NYA, merendahkan diri di hadapan-NYA, selalu bersedekah, berdo’a, bertaubat, istighfar, berbuat baik kepada sesama, menolong orang susah, menghilangkan kesulitan orang lain dan sebagainya. Semua bentuk pengobatan ini telah dicoba oleh berbagai bangsa dengan segala jenis agama mereka, ternyata mereka mendapatkan bentuk-bentuk pengobatan semacam itu memiliki pengaruh untuk kesembuhan dalam batas yang tidak pernah dicapai pengetahuan medis di kalangan dokter dengan segala eksperimen dan analogi mereka”.

Mengikuti Jalan Islam tidak sesulit yang dibayangkan oleh orang-orang. Banyak pula orang-orang Barat yang kita kagumi nasihatnya – disadari atau tidak – ternyata mereka juga mengembangkan ajaran Islam. Contohnya adalah seperti cerita nara sumber buku Mukjizat Gerakan Sholat, “Steven Covey mengembangkan 7 kebiasaan yang sangat efektif dalam meningkatkan kualitas hidup kita, bahkan sekarang telah menjadi 8, dengan tambahan “Keagungan” sebagai habit yang menembus wilayah Illahiyah. Kursus yang menghabiskan biaya besar ini pernah diikuti nara sumber, dan dapat sertifikat serta plakatnya, ternyata sangat sederhana dan membuat kita menjadi malu, karena sama persis dengan ajaran Islam”.

Gerakan –mengangkat kedua tangan- takbirotul ihram dalam sholat apabila dikembangkan ternyata hasilnya sangat baik untuk mengembalikan dan membangkitkan semangat seperti bagian dari teknik guncang bumi-nya Tung Desem Waringin. Jika kita mencari kebaikan dan kebenaran, pasti akhirnya sesuai dengan ajaran Islam. Islam adalah agama Universal dan untuk segenap manusia. mungkin Penjelasan satu ayat Al-Qur’an atau Hadis Nabi yang membingungkan di suatu negeri, ada di negeri yang lain, ada di suku bangsa lain, atau ada di manusia yang lain. Karena itu kita harus saling mengenal. Misalnya, untuk mengetahui bahwa pengamalan ajaran Islam menyehatkan Fisik, mental dan lingkungan hidup, salah satu caranya adalah mempelajari ilmu kedokteran Tiongkok terutama Teori Wu Sing.

Belajar kepada yang kita anggap cendekiawan Muslim, bukan berarti kita bebas dari penyesatan. Belajar kepada non Muslim, bukan berarti mereka selalu dalam kesesatan; biasanya hanya aqidahnya saja yang kurang tepat. Hanya saja kita tidak akan tersesat selama berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadist (Sunnah). Al-Qur’an hanya setebal satu buku tapi membahas segalanya dan satu Hadist hanya sependek bait. menurut saya, memang sengaja dibuat begitu agar kita mau bersatu untuk mempelajari, memahami, mengembangkan, dan berusaha mencari penjelasannya dengan menjadikan Al-Qur’an dan Hadist sebagai penuntun.

Bagi non muslim yang ingin mengetahui lebih banyak informasi tentang Agama Islam, silahkan mengunjungi http://www.mualaf.com, http://www.muslimtionghoa.com, Atau Yayasan H Karim Oei yang beralamat di Jl Lautze 87 – 89 Pasar Baru Jakarta Pusat. No. Telepon 021-629-6086 dengan Ibu Hj. Anna

[1] James Arthur Ray pernah tampil bersama dan melakukan presentasi bersama para ahli keberhasilan dan peningkatan diri yang paling hebat di Amerika Serikat- termasuk orang-orang terkemuka seperti : Zig Ziglar, Robert Schuller, Robert Kiyosaki, Tonny Robbins, Brian Tracy, Denis Waitley, Harv Eker, Howard Putnam, Jack Canfield, dan Jhon Gray. Dalam bukunya yang berjudul The Science of Success “Rahasia sukses dengan memanfaatkan hukum-hukum universal”, menulis : Saya telah mencari prinsip-prinsip yang membuat orang-orang berhasil, sehingga kita semua dapat menggunakan prinsip-prinsip itu agar kita menjadi orang yang kita inginkan, untuk memberikan konstribusi unik kita kepada dunia, dan untuk menjalani kehidupan yang sesuai dengan impian kita. Saya telah menghabiskan dua puluh tahun untuk mempelajari beberapa dari orang-orang yang paling berhasil di dunia : orang-orang yang berhasil bukan hanya secara finansial dan dalam bisnis, tetapi juga dalam kehidupan pribadi, sosial, dan spiritual. Saya membaca segala sesuatu yang saya dapatkan, dari naskah-naskah kuno sampai filsafat, psikologi, spiritualitas kontemporer, dan bahkan fisika kuantum. Karunia saya adalah menjadi seseorang yang menyatukan dan mengajarkan. Saya telah menerima semua informasi dan melakukan riset ini, dan memperhatikannya dari sudut kehidupan orang-orang yang berhasil dan pengalaman saya sendiri bekerja dengan orang-orang. Buku The Science of Succsess adalah hasilnya. Ilmu sukses membuat prinsip-prinsip universal keberhasilan menjadi tersedia bagi semua orang dan praktis. Setiap orang di atas muka bumi ini dapat menerapkan ilmu ini, dan ilmu ini akan membuat mereka berhasil setiap saat. Itu karena Ilmu sukses bekerjasama dengan hukum universal, hukum yang mendasar dan kuat sama seperti hukum gravitasi. Jika Anda menggunakan hukum ini, saya jamin Anda akan berhasil- setiap waktu, dan dalam usaha apa pun yang Anda lakukan- sama pastinya dengan sebuah pensil akan jatuh ke bawah dan bukan ke atas ketika Anda melepaskannya. Orang-orang yang menang dan sukses secara konsisten menerapkan hukum dan prinsip-prinsip ini, baik secara sadar maupun tidak. Setelah Anda memahami Ilmu sukses, Anda dapat memilih menggunakannya secara sadar. Dengan demikian, Anda menjamin keberhasilan Anda.

[2] ”Kesehatan dan kebahagiaan adalah hasil dari hidup selaras dengan alam, sementara penyakit adalah akibat dari tindakan, pikiran, dan hidup dalam pola yang tidak selaras. Jika, karena kemauan kita, kita memilih untuk tidak selaras dengan lingkungan kita, penyakit akan terjadi sebagai suatu proses alamiah untuk memulihkan keseimbangan. Oleh karena itu, cara paling fundamental untuk menyembuhkan penyakit adalah mengembalikan diri kita ke arah kondisi yang selaras dengan alam semesta” (Michio Kushi, Pakar Makrobiotika Dunia)

by. Islam Adalah Agama Universal

Iklan

>Khalifatullah Fil Ardli – Proses Kelahiran Kedua (3)

>

PROSES KELAHIRAN KEDUA

Datangnya kelahiran kedua ini diawali dengan klimaks di dalam perasaan seorang hamba yang tengah melaksanakan perjalanan ibadah yang diistiqomahkan. Antara sadar dan tidak sadar tetapi sadar:[(Ketika Sidrah diliputi oleh sesuatu yang meliputi – Penglihatan tidak berpaling dari yang dilihat dan tidak (pula) melampauinya – Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar (QS.an-Najm/16-18)], klimaks tersebut terjadi ketika intensitas dzikir dan fikir sedang berada pada puncak pencapaian. Pengembaraan ruhani sedang mencapai batas pendakian untuk memasuki tahapan maqom yang ada di depan sehingga perasaan menjadi lupa kepada alam dan keadaan. Disaat hati sedang pecah di hadapan yang dicari sehingga tidak ingat apa-apa lagi selain pertemuan yang diharapkan. Disaat seperti itu…., hampir-hampir putus asa karena sang salik sadar atas ketidakmampuan diri untuk melanjutkan perjalanan, menjadikan perasaan suka melayang seperti sampan yang terapung di tengah hempasan ombak lautan sehingga tidak lagi mengetahui ke arah yang mana perjalanan itu harus dilanjutkan.


Lalu perasaan seakan menemukan dataran yang hampa waktu tapi bukan udara. Bumi yang asalnya terang kini menjadi gelap gulita. Seakan matahari berganti sehingga yang semula siang menjadi malam dan malam menjadi siang. Menjadi sendiri di dalam kesepian padahal sejatinya berada dalam kebersamaan. Selanjutnya, seketika ufuk hidup berangsur kembali terang karena fajar baru mulai menampakkan senyuman, maka hamparan kehidupan menunjukkan keaslian sehingga usia yang terlewati seakan telah menipu diri dalam perjalanan. Akhirnya, hati ingin menghentikan perjalanan, asa enggan meneruskan pengembaraan, karena takut mendapatkan kekecewaan yang bakal terulang.

Dalam kondisi demikian, jika perjalanan seorang salik dilakukan sendiri dengan tanpa ada guru pembimbing yang menuntun tangan. Tidak mau mengulurkan tangan untuk memohon syafa’at sehingga tidak ada tangan yang menarik melepaskan diri dari pusaran. Maka seorang salik tidak mudah kembali ke alam sadar karena jalan telah tertutup dengan pertanyaan-pertanyaan yang membingungkan. Akibatnya, selamanya akan tenggelam di dalam ketidaktahuan. Seperti orang mabuk yang tidak kunjung sadar karena terlalu banyak minuman keras yang terlanjur tertelan di tenggorokan. Orang lain mengira dia gila karena kehidupan yang dijalani setelah itu menjadi tidak seimbang. Memang saat itu dia sedang gila, tapi bukan lantaran dunia, melainkan karena sedang kasmaran kepada yang dirindukan.

Terlebih ketika setan yang menjadi kawan karena perjalanan kosong dari penjagaan. Setan mendapatkan kemudahan masuk ke rongga dada manusia karena saat klimaks itu hati sedang tidak terjaga oleh rahasia bimbingan guru yang menempa. Setan kemudian suka meniupkan bisikan, yang benar dikatakan salah dan yang salah dikatakan benar. Padahal manusia sadar bahwa datangnya bisikan itu dari setan, tetapi dirinya tidak kuasa lepas dari cengkraman, sehingga yang sedang bingung itu akhirnya semakin kehilangan pegangan. Kalau saat itu tidak ketulungan, setan jin yang menguasai isi dada tidak cepat-cepat dikeluarkan, maka bisa jadi orang tersebut menjadi gila beneran.

Ketika hati dan pikiran telah diselamatkan dari kebingungan panjang, karena saat jiwa sedang terseret arus, ada tangan yang menarik melepaskan dari pusaran, maka matahari kembali memancarkan sinar karena kabut mendung telah tersingkapkan. Ketika matahari malam berangsur-angsur kembali berganti dengan matahari siang karena kesadaran yang seakan hilang itu kini muncul menyinari angan, maka perasaan bagaikan dilahirkan kembali di alam dunia. Itulah kelahiran kedua, kelahiran kehidupan ruhaniyah, sehingga di dalam hati saat itu terasa ada yang berbeda.

Adapun tangan yang menarik diri dari pusaran, itulah sirr (rahasia) yang membidani kelahiran. Adalah rahasia syafa’at yang didatangkan dari alam ghaib yang diturunkan di alam kenyataan, karena sang musafir jauh-jauh telah mengkondisikan, bertawassul kepada guru ruhaniyah selama dalam perjalanan sehingga perjalanan malam yang semestinya sepi terasa menggembirakan.

Hasilnya, kalau sebelumnya yang ada dalam harapan hanya keuntungan duniawi sehingga hidup terasa sempit tidak dapat dikembangkan. Kenikmatan hidup hanya mampu dinikmati sampai batas kematian yang ketika ajalnya datang tidak lagi dapat dimundurkan. Namun sekarang hidup menjadi terasa panjang, kenikmatan lebih terasa nyaman karena setelah kematian ada yang perlu dipersiapkan. Hati menjadi bergairah karena di alam barzah masih ada yang bisa diharapkan. Yaitu pertemuan hakiki yang diidamkan dengan para guru ruhaniyah karena pertemuan di alam dunia hanya terjadi dalam perasaan.

Ketika dua matahari yang berbeda telah menyatu di dalam perasaan. Yang satu matahari akal dan yang satunya matahari hati sehingga yang asalnya bodoh menjadi mengerti dan faham, maka tumbuh pemahaman hati yang menyinari pandangan sehingga sinar mata mampu melipat kehidupan. Meski dunia memang selalu mengecewakan tapi hati mengerti itulah kenyataan. Karena kalau tidak demikian orang beriman enggan lagi meninggalkan yang melalaikan, sehingga angan tenggelam di dalam alam kefana’an yang mudah menjerumuskan orang ke dalam jurang kehancuran.

Itulah matahari keyakinan, ketika nurnya telah memancar di dalam rongga dada maka keraguan tidak lagi mendapatkan tempat untuk ambil bagian. Selanjutnya, meski hidup tidak pernah lepas dari rintangan dan tantangan, tapi hati tidak lagi ada kehawatiran dan ketakutan. Itulah hati orang yang mendapat hidayah sehingga iman mampu menumbuhkan keyakinan. Oleh karena di dalam rongga dada telah terbebas dari belenggu penyakit bawaan, maka matahati menjadi cemerlang dan tembus pandang. Sadar akan kelemahan diri dan kealpaan karena matahari hakiki telah memancarkan sinar kehidupan. Seperti dibangkitkan dalam kehidupan baru padahal di dunia lama karena matahari ruhani telah memancarkan sinar keabadian.

Malfiali, Desember 2008

>Khalifatullah Fil Ardli – Kelahiran Kedua

>

KELAHIRAN KEDUA

Supaya manusia menjadi Insan Kamil, menjadi manusia sempurna baik lahir maupun batin, sehingga mampu menduduki maqom Kholifah Bumi, maka manusia harus terlebih dahulu pernah mengalami kelahiran kedua. Kelahiran pertama merupakan kelahiran jasmani sedangkan kelahiran kedua adalah kelahiran ruhani. Yakni terbukanya matahati untuk menerima pancaran ‘nur makrifatullah’ sehingga manusia bisa terlepas dari kejumudan hatinya sendiri. Kelahiran kedua tersebut dalam arti, hakekat manusia yang disebut nismatul ‘adamiyah yang dibungkus dengan jismul mahsusah atau jasad kasar telah mendapatkan rahasia hidayah Alloh yang dipancarkan dari tempat perbendaharaannya. Itulah “Nur di atas Nur” yang disebut “nismatul ‘ubudiyah”. Dengan kelahiran kedua ini, maka ilmu dan iman manusia telah mampu menyinari perilakunya sendiri.

Itulah buah ibadah pertama yang dihasilkan oleh seorang salik di jalan Allah. Yaitu orang-orang berilmu dan beriman yang dengan kemauan sendiri selalu berusaha mencari tahu tentang jati dirinya dan Tuhannya. Apabila perjalanan tersebut mendapatkan petunjuk dan bimbingan yang benar, maka tahap pertama yang akan dihasilkan adalah mendapatkan futuh atau terbukanya matahati sehingga hatinya terbebas dari tipudaya nafsu dan keraguan pikir.


Rongga dada orang berilmu dan beriman yang terkadang sempat menjadi sempit di saat menghadapi kesulitan hidup yang sedang menghimpit. Disebabkan karena ilmunya baru bisa dipakai berargumentasi dan mengajari orang untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan. Ilmu dan iman tersebut belum mampu menyinari hatinya sendiri, sehingga terkadang sempat menjadi bingung kehilangan pegangan, bahkan membutuhkan orang lain untuk menemukan solusi permasalahan hidup yang sedang membelenggu angan. Dengan kelahiran kedua ini mereka mampu menempuh jalan, memohon petunjuk kepada Allah untuk terbukanya pintu penyelesaian. Karena dengan kelahiran kedua tersebut berarti manusia telah menemukan sumber rahasia hidayah yang didatangkan dari alam kelanggengan. Pintu ghaib dalam hatinya sudah pernah terbuka meski hanya sekejap, namun dengan itu,—dengan izin Tuhanya, suatu saat orang tersebut dapat membukan kembali ketika membutuhkan.

Terbukanya pintu ghaib dalam hati itu merupakan potensi hati yang harus digali oleh orang yang berilmu dan beriman. Merupakan sarana hubungan secara pribadi antara seorang hamba dengan Tuhannya. Orang berilmu dan beriman yang mendapatkan ‘futuh ilahiyat’ tersebut, sehingga setelah itu mereka mampu mengusir keraguan yang seringkali datang membelenggu hatinya sendiri, mereka itu berarti telah mengalami kelahiran kedua.

Ketika kelahiran kedua itu sudah dicapai, berarti orang tersebut bagaikan telah mendapatkan bibit unggul dalam hatinya sendiri. Selanjutnya mereka tidak boleh berdiam diri hanya sampai disitu saja. Mereka tidak boleh membiarkan bibit itu kembali menjadi mati, mereka harus menanam bibit itu dalam hatinya sendiri pula dengan melanjutkan perjalanan tiada henti.

Mereka harus meningkatkan mujahadah dan riyadhloh di jalan Allah, baik dengan dzikir maupun fikir, baik secara vertikal maupun horizontal. Dalam arti mampu meredam kehendak emosional dan rasional supaya kehendak spiritual dominan menyinari kehidupannya. Mujahadah dan riyadloh itu bahkan harus dilakukan terus-menerus sampai keraguan hati yang seringkali masih singgah dalam hati benar-benar telah menjelma menjadi keyakinan yang kuat. Allah memberikan sinyaleman hal tersebut dengan firmanNya:

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ(62)الَّذِينَ ءَامَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ(63)لَهُمُ الْبُشْرَى فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ لَا تَبْدِيلَ لِكَلِمَاتِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar”. (QS.Yunus;10/62-64)

Jika kelahiran pertama untuk memulai kehidupan jasmani, maka kelahiran kedua adalah untuk memulai kehidupan ruhani. Sebagaimana awal kehidupan jasmani, manusia harus mengalami kelahiran yang kemudian dengan proses panjang menuju kedewasaan usia, maka seperti itu pula yang terjadi di dalam kehidupan ruhani. Untuk mencapai kematangan ruhani itu, disamping manusia harus mengalami proses kelahiran ruhani, juga mampu ditindaklanjuti dengan mujahadah dan riyadloh secara istiqomah sehingga matahati seorang hamba menjadi cemerlang dan tembus pandang atau firasatnya tajam.

Jika proses kelahiran yang pertama mengikuti sistem(sunnah) yang sudah diatur mutlak oleh kehendak Allah, kelahiran kedua tidaklah demikian. Kelahiran kedua ini harus diupayakan sendiri oleh manusia, yaitu dengan jalan memadukan ilmu, iman dan amal di dalam pelaksanaan jalan ibadah atau thoriqoh yang terbimbing oleh guru mursyid yang sejati. Orang beriman harus mampu mencapai kelahiran kedua tersebut, karena tanpa pernah dilahirkan dua kali di dunia, maka mereka belum dapat disebutkan sebagai manusia sempurna (Insan Kamil). Yang hidup hanya jasmani dengan segala instrumennya tapi matahatinya masih dalam keadaan buta:

“Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS.al-Hajj; 46).

Allah s.w.t telah menegaskan kelahiran kedua itu dengan firman-Nya:

أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ لِلْكَافِرِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
“Dan bukankah orang yang mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”.
(QS. al-An’am (6); 122).

Maksud dari “Orang yang mati” dalam ayat di atas adalah orang yang mati ruhaninya, bukan jasmaninya. Alasannya, karena ayat ini ditutup dengan kata-kata “kafir”: “Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka kerjakan”. Adapun sebab kematian ruhani itu karena nismatul adamiyah belum mendapatkan pancaran ruh nismatul ubudiyah sehingga matahati manusia masih dalam keadaan buta.

Ketika hati manusia sudah benar-benar dipancari nur iman, sehingga tidak ada lagi keraguan di dalamnya, maka hati yang asalnya mati itu menjadi hidup. Adapun awal dari kehidupan ruhani itulah yang dimaksudkan kelahiran yang kedua di alam dunia. Artinya, sejak saat itu berarti hati orang tersebut telah mendapatkan tambang “Nur Hidayah” dari Allah. Selanjutnya orang itu mendapat tugas untuk menyampaikan hidayah Allah tersebut kepada manusia yang lain – “Yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia”(QS (6); 122).

Seperti saat kelahirannya jasad, proses kelahiran manusia itu harus dibidani oleh seorang bidan, kelahirannya ruhani itu juga demikian. Hal itu betujuan supaya proses kelahiran tersebut berjalan dengan sempurna. Maka yang dimaksudkan dengan tambahan “Nur Hidayah Dari Allah” itulah bidan yang membidani kelahiran kedua itu, yaitu nur rahasia (sirr) ibadah dari rahasia hasil bimbingan para guru-guru mursyid yang ditawasuli dan diikuti.

Maka tidak bisa tidak, jika manusia menghendaki jati dirinya hidup dan selanjutnya mendapatkan pancaran nur nismatul ubudiyah, nur tersebut harus mampu mereka dapatkan dari rahasia bimbingan seorang guru Mursyid sejati, kalau tidak maka yang akan menjadi bidan bagi kelahiran kedua tersebut adalah setan jin yang selalu mendampingi perjalanan. Hal tersebut sebagaimana yang terkandung dalam ungkapan Ulama ahlinya: “Barang siapa beramal tanpa guru maka gurunya adalah setan”.

Sebelum manusia dilahirkan untuk yang kedua kalinya di alam dunia, setiap manusia sejatinya sama, yaitu sama-sama terbelenggu di dalam kegelapan rongga dadanya: “Serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya”(QS (6); 122). Maksudnya, orang yang belum mengalami kelahiran kedua itu berarti matahatinya belum dapat digunakan untuk melihat dengan sempurna sehingga seringkali mereka tidak mampu menyikapi dan mencari jalan keluar dari permasalahan hidup yang sedang dihadapi dengan baik dan benar.

Kemanfaatan ilmu dan iman yang dimiliki hanya dapat digunakan untuk menyelesaikan urusan yang lahir saja tetapi tidak mampu menembus urusan yang batin. Hanya melihat keadaan tapi tidak mampu mempersiapkan kemungkinan. Hanya melihat sebab tanpa pernah memikirkan akibat. Hanya mampu melihat secara rasional tapi tidak mampu merasakan secara spiritual. Hanya melihat yang duniawi tapi tidak tembus kepada urusan yang ukhrowi. Hal itu bisa terjadi, karena mereka itu sesungguhnya hanya melihat dengan mata kepala (rasional) tapi matahatinya (spiritual) masih dalam keadaan buta: “Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada” (QS. al-Hajj; 6).

Walhasil, barang siapa ingin mendapatkan kesempurnaan hidup, baik untuk di dunia maupun akhirat, maka jalan satu-satunya harus melaksanakan amaliyah yang istiqomah atau mengikuti jalan ibadah (thoriqoh) yang dibimbing oleh seorang guru mursyid sejati. Jika tidak, maka kita harus puas dengan keadaan yang kita alami seperti sekarang ini. Terbelenggu dalam kegelapan hati sendiri sehingga tidak mampu keluar untuk mencari solusi dan menemukan jalan penyelesaian, meski dari kesulitan hidup yang diakibatkan oleh perbuatan kita sendiri.

malfiali, Desember 2008

>Khalifatullah Fil Ardli – KEUTAMAAN MANUSIA

>

KEUTAMAAN MANUSIA

Keutamaan manusia yang paling utama ialah Allah menjadikan manusia sebagai ‘kholifah bumi’, artinya sebagai pengganti Allah s.w.t di muka bumi. Maksudnya, manusia merupakan sumber daya untuk melaksanakan segala kehendak-Nya agar terwujud suatu sebab dan akibat di muka bumi, atau dengan kata lain sebagai pelaksana terjadinya proses rahasia takdir yang sudah ditentukan Allah sejak zaman azali. Sebagai Penguasa Tunggal yang hakiki, Allah s.w.t telah memberikan mandat kepada manusia sejak zaman azali. Allah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:

َ“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang kholifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (kholifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?”. Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”.(QS.Baqoroh (2); 30).


Manusia sebagai kholifah bumi, juga mengindikasikan bahwa manusia dengan segala kemampuan yang dimiliki dijadikan oleh Allah s.w.t sebagai penguasa di muka bumi, atau menjadi sumber daya dan pengendali seluruh potensi bumi. Itulah keutamaan dan anugerah terbesar yang diberikan Allah s.w.t hanya kepada manusia yang tidak diberikan kepada makhluk lain.

Potensi pengendali bumi tersebut berupa suatu sistem (sunnatullah) yang letaknya berada di dalam jiwa manusia, merupakan kelebihan pribadi sebagai buah ibadah dan pengabdian hakiki yang datangnya semata-mata karena kehendak Allah. Barang siapa mampu mendapatkan dan mempergunakan sistem itu dengan baik dan benar, maka sesuai kapasitas kemampuan yang sudah dimiliki, seorang hamba yang sholeh berpotensi dapat mengaplikasikan sistem-sistem kehidupan yang beterbaran di alam semesta. Potensi sistem pengendali itu terdiri dari beberapa aspek:

1. Allah Menjadikan Malaikat Berpotensi Mengabdi Kepada Manusia.

Allah SWT. berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang yang kafir”. (QS. (2); 34)

Malaikat merupakan makhluk yang tidak membutuhkan makan dan minum, tidak seperti makhluk lain, bahkan merupakan makhluk yang sangat tunduk kepada perintah Allah. Allah s.w.t menyatakan dengan firman-Nya: “Penjaganya (neraka) adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS.at-Tahrim; 6)

Dinyatakan dalam firman-Nya di atas (QS. (2) 34), makhluk yang tidak butuh makan-minum itu ternyata diciptakan Allah s.w.t sebagai pendamping hidup bagi manusia, baik di dunia maupun di akhirat nanti. Oleh karena itu, bagi orang-orang beriman dan beramal sholeh, sadar ataupun tidak, sesungguhnya romantika kehidupan mereka sedikitpun tidak terlepas dari fungsi keberadaan malaikat ini. Sedangkan bagi para hamba yang `arifin, hamba Allah yang hatinya selalu dekat dengan sistem pemeliharaan dan tarbiyah azaliyah itu, keberadaan fungsi malaikat ini dijadikan sebagai bagian hidup yang sedikitpun tidak pernah ditinggalkan.

2. Allah Menciptakan Alam Semesta Berpotensi Dijinakkan Manusia

Potensi sumberdaya manusia sebagai pengendali kehidupan bumi itu tidak hanya dengan dijadikan-Nya malaikat tunduk kepada komando hati mereka saja, namun juga, bahkan langit dan bumi dengan segala isinya juga tercipta berpotensi untuk dijinakkan manusia.

Langit dan bumi serta segala kandungan di dalamnya, tercipta bagaikan rangkaian alat mekanik yang bertebaran di seluruh alam, ternyata dikendalikan oleh sistem (sunnah) pengendali dari pusatnya, hal itu sebagaimana yang ditegaskan Allah s.w.t dalam kandungan firman-Nya:
“Kemudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. Keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (QS.Fush-Shilat (41); 11)

Ayat di atas telah mengungkap rahasia besar yang tersimpan di dalam kehidupan alam semesta, urusan Ilahiyah yang sudah ditetapkan sejak zaman azali, bahwa sejak langit dan bumi menjawab panggilan Allah Yang Maha Kuasa: “Kami datang dengan suka hati” (QS (41); 11). Maka sejak itu dan bahkan untuk selamanya sesuai dengan kehendak-Nya, seluruh makhluk yang ada di langit dan di bumi itu terkendali dengan satu sistem komando. Hanya dengan Urusan dan Ilmu Allah Yang Maha Perkasa, ketika Allah s.w.t memberikan komando dari sistem tersebut, maka seluruh perangkat yang ada itu, baik yang di bumi maupun yang di langit niscaya dengan serta merta menjalankan masing-masing fungsinya.

Sistem pusat komando itulah hati seorang kholifah bumi, dengan izin-Nya seorang kholifah bumi berpotensi menjinakkan potensi langit dan bumi itu. Allah s.w.t telah menyatakan dengan firman-Nya:
Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir” (QS. Al-Jaatsiah; 13)

Dengan dua potensi besar tersebut, maka berarti seluruh makhluk yang ada di alam raya ini berpotensi ditundukkan oleh manusia, kecuali makhluk jin, yang jin memang tercipta sebagai musuh manusia. Namun demikian, sesungguhnya manusia tetap berpotensi dapat menundukkan musuh utamanya itu. Hanya saja, untuk dapat menundukkan jin tersebut manusia terlebih dahulu harus memiliki “sulthonan nashiiro” atau kekuatan penolong yang didatangkan Allah s.w.t kepada manusia. Tanpa kekuatan penolong tersebut justru manusia rentan dikuasai jin, terlebih bagi mereka yang sering bekerja sama dengan jin.

Diriwayatkan dalam sabda Nabi s.a.w, ketika Allah menyatakan cinta-Nya kepada seorang hamba, maka dengan serta merta seluruh makhluk yang ada ikut mencintai hamba tersebut. Dengan kecintaan tersebut, secara otomatis mampu menciptakan peluang yang lebih besar lagi bagi orang yang dicintai-Nya itu untuk mengomando sistem yang sudah tersedia baginya.

Potensi kecintaan seluruh makhluk kepada seorang hamba yang dicintai Allah s.w.t itu telah dinyatakan oleh sebuah Hadits Shahih riwayat Bukhari dan Muslim:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a berkata: Rasulullah s.a.w bersabda: Apabila Allah s.w.t mencintai seorang hamba niscaya memanggil Jibril a.s dan berfirman: Sesungguhnya Aku mencintai Fulan, oleh karena itu cintailah dia. Baginda Nabi s.a.w bersabda: Lalu Jibril mencintainya. Kemudian Jibril menyeru ahli langit dengan berkata: Allah telah mencintai Fulan, maka cintailah dia, sehingga semua ahli langit mencintainya. Baginda Nabi s.a.w bersabda: Kemudian orang tersebut diterima oleh semua golongan yang berada di muka bumi. Apabila Allah s.w.t memurkai seorang hamba, niscaya Dia juga akan memanggil Jibril a.s dan berfirman: Sesungguhnya Aku benci orang tersebut, oleh karena itu bencilah dia. Baginda Nabi s.a.w bersabda: Lalu Jibril membencinya. Kemudian Jibril menyeru ahli langit dengan berkata: Allah telah membenci orang tersebut, maka kamu semua membencilah kepadanya, sehingga semua ahli langit membencinya. Kemudian dia dibenci oleh semua penghuni bumi. (HR Bukhari dan Muslim)

Pernyataan dalam Hadis itu sejatinya adalah bahasa kias, di mana dengan perlambang itu manusia dapat membayangkan sendiri, betapa ketika seorang hamba dicintai Allah s.w.t maka Malaikat Jibril a.s dan seluruh makhluk, baik di bumi maupun di langit akan mencintainya. Dengan kecintaan tersebut berarti tumbuh semangat pengabdian. Bagaikan tentara-tentara yang setia, maka seluruh makhluk tersebut akan menjaga kekasihnya melebihi menjaga dirinya sendiri, sehingga dinyatakan oleh Allah di dalam firman-Nya: “Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik” (QS.az-Zumar; 34).

Seperti itulah keadaannya, ketika Allah s.w.t menghendaki Nabi Dawud a.s dijadikan sebagai kholifah bumi zamannya, maka Allah s.w.t berfirman:

يَادَاوُدُ إِنَّا جَعَلْنَاكَ خَلِيفَةً فِي الْأَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ بِالْحَقِّ
“Hai Dawud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu kholifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil”. (QS.Shood (38); 26)

Untuk mengatur kehidupan bumi, menggali dan mengendalikan segala potensinya, menegakkan keadilannya serta memberantas kezaliman dan keangkaramurkaan yang ada di atasnya, maka tugas pertama yang dilaksanakan Dawud a.s adalah membunuh Jalut yang perkasa, sebagaimana telah diabadikan Allah s.w.t dengan firman-Nya:

فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُدُ جَالُوتَ وَءَاتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ
“Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Dawud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Dawud) pemerintahan dan hikmah, (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya”.(QS. al-Baqoroh (2); 251)

Dalam sebuah riwayat, ketika Dawud a.s memutuskan untuk ikut bergabung menjadi tentara Tholut. Dalam perjalanan Dawud a.s bersama rombongannya ke medan perang, di tengah perjalanan ada tiga buah batu menyapa Dawud: “Hai Dawud, apakah engkau akan berperang melawan Jalut?, bawalah aku dan bunuhlah Jalut denganku”, maka diambillah ketiga buah batu itu oleh Dawud dan diletakkan di dalam ketapelnya. Dawud a.s merupakan orang yang terkenal sangat ahli menggunakan ketapel sebagai senjata.

Singkat cerita ketika masing-masing tentara sudah berhadapan di medan laga, ternyata Dawud a.s benar-benar berhasil membunuh Jalut dengan batu yang dibawanya itu, padahal Jalut adalah seorang raja yang sangat perkasa dan selalu dapat kemenangan di setiap peperangan yang dihadapinya. Jadi, tiga batu yang dibawa Dawud a.s tersebut adalah awal sebuah skenario dari sistem yang terkendali oleh rahasia perintah tersembunyi. Perintah Allah s.w.t Yang Maha Kuasa dengan Segala Kehendak-Nya. Ketika Dawud a.s dengan izin-Nya dapat membunuh Jalut, maka selanjutnya, “Allah memberikan kepadanya pemerintahan dan hikmah, serta mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya”(QS. (2); 251).

Walhasil, keutamaan manusia itu tidak hanya karena manusia mempunyai akal saja, sebagaimana yang difahami banyak kalangan, namun jauh lebih dari itu. Dengan akal dan ilmunya manusia sesungguhnya berpotensi menjinakkan sistem-sistem yang bertebaran di mukan bumi, bahkan di seluruh alam semesta ini. Di sini ada rahasia besar yang harus dikuak, sehingga manusia dapat memperoleh jatahnya itu. Siapa saja dapat mencapai kedudukan yang utama itu, asal mereka mengetahui ilmunya. Maka anda jangan heran jika anda menemukan seseorang bisa merubah batu menjadi emas atau tanah menjadi burung, hal itu karena terjadi atas ilmu dan izin Allah s.w.t. Allah yang menciptakan alam beserta hukum-hukumnya, maka hanya Allah pula yang mampu merubah keadaan ciptaanya tersebut.

(malfiali, Desember 2008)