>7 KEAJAIBAN REZEKI: REZEKI BERTAMBAH, NASIB BERUBAH, DALAM 99 HARI, DENGAN OTAK KANAN

>

Bagaimana…
  • mengasah otak kanan, kreativitas, imajinasi, dan intuisi.
  • mengambil keputusan 1.000 kali lebih cepat, dengan otak kanan.
  • mengendalikan Law of Attraction dan nasib, dengan otak kanan.
  • melipatgandakan pengaruh dan go national 10 tahun lebih awal.
  • menjual lebih banyak, lebih cepat, dan lebih mahal
  • memahami 19 amal yang melipatgandakan rezeki
  • menguasai pintu-pintu rezeki, dengan otak kanan

Dengan segala kerendahan hati saya sampaikan, buku ini tidak mengupas tentang ’kesuksesan’, melainkan tentang ’mempercepat kesuksesan’. Istilahnya, percepatan-percepatan, lompatan-lompatan, atau keajaibankeajaiban. Di antara belasan buku saya (yang selama ini sudah dibaca jutaan orang di dalam dan luar negeri), saya pribadi menganggap buku 7 Keajaiban Rezeki ini adalah masterpiece saya. Karena, selain orisinil, materi buku ini juga telah saya uji pada diri saya dan ribuan orang selama 10 tahun terakhir. Di buku ini juga disisipkan CD bonus berdurasi 3 jam, memuat sharing dari tokoh-tokoh, seperti Hendy Setiono (Kebab Turki), Roni Yuzirman (TDA), Tom Mc Ifle (Master Coach), dll. Sharing langsung dari mereka! Tentang apa? Yah, bagaimana mereka membuktikan keajaiban-keajaiban itu dalam bisnis dan kehidupan mereka. Nyata! Makanya, khusus untuk buku ini, saya pun berani menjanjikan 100% money-back guarantee, tanpa pertanyaan apapun! Yap, satu-satunya buku di Indonesia dengan garansi begini. Selamat mencoba dan nantikan keajaiban! Sip?
by. Ippho Santosa

>Perlakuan Dengan Mesra

>

Awal Februari 2005, Marketing with Love diterbitkan oleh Gramedia. Uniknya, karya ini sempat diklaim sebagai konsep pemasaran berbentuk cerita yang pertama di Indonesia. Selain itu, konsep pemasaran ini dilengkapi dengan ilustrasi kartun, lagu dan film populer. Hasilnya? Ternyata publik terutama pemasar dan pengusaha pemula cukup menyukainya. Terbukti, Marketing with Love langsung dicetak ulang setelah empat minggu beredar & berhak menyandang predikat national bestseller. Seminarnya pun ditunggu-tunggu.

Sedangkan ide pokoknya adalah hikmah-hikmah yang dipetik dari cinta untuk memanusiawikan pelanggan. Pertama-tama, simaklah tembang I Will Survive-nya The Cake. Ada sepenggal lirik yang berbunyi, “As long as I know how to love, I knowI’ll be alive.” Tak perlu diperdebatkan lagi, lirik itu seratus persen benar, baik dalam cinta maupun dalam bisnis. Jadi, Anda hanya akan survive dan alive di pasar, jika Anda tahu bagaimana mencintai pelanggan-pelanggan Anda. Love them or lose them!

Nah, untuk menjalankan Marketing with Love di bidang penjualan, pemasar hendaklah mematuhi sekurang-kurangnya delapan imperatif yang disebut Salesmanship for Relationship. Kali ini kita coba membahas salah satu imperatif, yakni personalization, yang juga diistilahkan dengan individualization atau customization. Intinya ialah memperlakukan setiap pelanggan secara spesial. Di mana, pendekatan untuk satu individu tidaklah sama dengan pendekatan untuk individu lainnya.

Kok, repot-repot begitu sih? Yah, lantaran setiap individu itu adalah unik. Dengan, personalisasi, itu membolehkan pemasar untuk menjalin hubungan yang lebih erat dan lebih romantis dengan pelanggannya. Mungkin tidak ada gagasan yang lebih pas dalam hal ini, kecuali One-to-One Marketing, tesisnya ahli pemasaran Don Peppers dan Martha Rogers. Mereka berpendapat, pemasaran massal atau pendekatan satu-untuk-semua itu telah berakhir.

Berterimakasihlah kepada teknologi! Dengan adanya e-mail dan SMS, pemasar bisa memberikan sentuhan personal kepada seluruh pelanggan, dengan cara yang tetap efisien (Dengar saja lagu Nokia Girl karya CELEBrand). Namun demikian, penggunaan surat dan kunjungan fisik pun tidak ada salahnya, kendati sedikit lebih mahal.

Katakanlah, memasarkan mobil. Maka, untuk seorang dokter, kirimkan surat untuknya yang menawarkan benefit profesionalisme. Untuk dosen, tawarkanlah benefit intelektualitas. Untuk pejabat, tawarkanlah benefit citra yang positif. Untuk wanita karir, tawarkanlah benefit kemandirian. Itu adalah salah satu contoh kecilnya. Pokoknya, tidak lagi komunikasi broadcasting, pendekatan satu-untuk-semua. Tetapi, lebih mengacu ke komunikasi pointcasting, pendekatan satu-untuk-satu.

Ada pula yang melabelnya dengan pemasaran dasamuka alias pemasaran berwajah sepuluh. Kami rasa, itu sih sah-sah saja, asalkan tidak menipu atau melebih-lebihkan. Perlu dicatat, pendekatan satu-untuk-satu tidak semata-mata berlaku dalam berkomunikasi. Itu akan jauh lebih ‘menggigit’ apabila dimulai dari produk. Customized product, customized promotion. Alangkah sempurnanya! Dell dan Amazon.com adalah beberapa di antaranya.

Sekedar catatan saja, majalah L’Express edisi terakhir di abad 20 sempat memilih C’est Vous atau ‘Anda’ sebagai Men of The Year 2000, yang bermaksud setiap orang secara individual merupakan kekuatan yang layak dipertimbangkan baik dari segi politik, budaya, seni maupun bisnis.

Tidak mau kalah, seorang futuris Thomas Friedman dalam karya lawasnya The World is Flat menegaskan bahwa globalisasi terkini yang ia namakan dengan Globalisasi 3.0 bukan lagi disetir oleh korporasi raksasa atau organisasi berpengaruh layaknya Bank Dunia, melainkan dikendalikan oleh individu. Ini dipertegas dan diperjelas lagi dalam buku The Long Tail karya Chris Anderson.

Sekonyong-konyong kami teringat konsernya The Corrs, grup musik asal Irlandia. Ketika tampil di Kuala Lumpur, tidak henti-hentinya sang vokalis Andrea menggunakan Bahasa Melayu hanya untuk membuat fansnya merasa istimewa. Wow, dampaknya sungguh luar biasa! Kami saksikan sendiri, selain memancing histeris, ia juga sanggup mendapatkan tempat di hati fansnya secara instan dan spontan.

Tak ubahnya seperti hubungan Anda dan kekasih Anda yang tengah kasmaran. Untuk memenangkan hatinya, sudah sepantasnya Anda memperlakukan kekasih Anda berbeda dengan yang teman Anda lainnya. Dalam artian, dia lebih diistimewakan. Lha, di mata Anda, ia ‘kan tidak sama dengan yang lain. Jadi, bagaimana mungkin Anda memperlakukannya sama dengan yang lain? Dalam konteks pemasaran, Anda boleh menyebutnya pelanggan tapi mesra.

Dikutip dari buku WOW! 25 Formula Bisnis Teruji & Terpopuler (bersama Tantowi Yahya).
@www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Perlakuan-dengan-Mesra.html

>Darah Lebih Kental Daripada Air

>

Hari gini, siapa yang tidak tahu Paris Hilton? Ia adalah anak dari Richard Hilton dan Kathy Richards, yang juga ahli waris dari Hilton Hotels Corporation dan perusahaan real estate ayahnya. Di bukunya Confessions of the Heiress, ia melontarkan sejumlah tips sebagai seorang pewaris, “Pertama, pastikan lahir di keluarga yang tepat. Kedua, miliki nama yang hebat.” Ada pula seabrek tips lainnya yang rasa-rasanya mustahil diamalkan oleh orang kebanyakan. Sering saya bahas seminar-seminar saya bahwa menjadi muda dan kaya adalah sesuatu yang sukar untuk diraih. Bahkan, hampir-hampir mustahil. Hanya ada dua kemungkinan besar, apakah dia menjadi selebriti atau meneruskan bisnis keluarga. Adakah kemungkinan lain yang lebih masuk akal? Kalau memang masih ada, yah, silakan Anda buat buku tentang itu. ah, terkait orang muda yang kaya, banyak orang yang meremehkannya. Tukas orang-orang, “Ah, pantas saja dia kaya. Bisnis moyangnya! Kalau cuma begitu, saya juga bisa.” Kelihatannya memang segampang seperti itu. Padahal anak muda ini juga menghadapi masalah tersendiri yang mungkin tidak pernah terbayangkan oleh entrepreneur yang merintis bisnis dari nol.

Ada beberapa masalah, katakanlah utang yang kadung bertumpuk-tumpuk, SDM yang terlanjur berjubel dan carut-marut, musuh bisnis di delapan penjuru angin, tuntutan idealis dari orangtua, dan masih banyak lagi. Repotnya lagi, itu semua dibebankan ke bahunya secara tiba-tiba jebret! tidak melalui tahapan-tahapan. Beda dengan entrepreneur biasa. Terlepas dari itu, bisnis keluarga, dosakah? Oh, tidak. Menurut saya, itu sih sah-sah saja. Terutama di Asia, yang mana hubungan antar kerabat begitu rapat. Lihat saja para penerus layaknya Anthony Salim, Putera Sampoerna, Sudhamek AWS, dan Rahmat Gobel. Andai saya di posisi mereka, mungkin saya juga melakukan hal yang sama meneruskan bisnis keluarga (Asalkan cocok, tentunya). Ya, iyalah. Ngapain repot-repot mengotak-atik bisnis dari nol yang kemungkinan berhasilnya jauh lebih kecil? Mendingan menggarap bisnis yang telah teruji.

Ambil contoh Chatalia. Ia menangani bisnis yang ia dirikan bersama ayahnya pada 2 Novemer 2002. Perusahaan ini menjadi pengelola ritel sepatu ABS (All ‘Bout Shoes dan Arena Belanja Sepatu) Shoe Warehouse. Kemudian ia mengembangkan ritelnya dengan konsep swalayan di mana pengunjung dapat mencomot sendiri sepatu yang mereka suka. Gerai ABS tersebar di Tangerang, Bandung, dan Bogor. Adapun investasi untuk menegakkan gerai di Bandung mencapai Rp 6 miliar. Serupa dengan Annete. Usai mengumpulkan jam terbang profesional selama lima tahun di Australia, Annete kembali ke tanah air membantu bisnis keluarga Grup Tugu Hotel. Seterusnya lulusan Teknik Komputer Monash University ini mengendalikan bisnis resto Lara Djonggrang & La Bihzad Bar dan Tao Bar & Dapur Babah Elite. Di sini, pemilik nama asli Melati Tanjungsari kelahiran Malang ini mengutamakan ciri khas asli Indonesia. Misinya, demi mengharumkan nama Indonesia ke pentas kuliner dunia. Tidak tanggung-tanggung Megawati Soekarnoputri, Andi Malarangeng dan Murdaya Poo masuk dalam daftar pelanggannya. Pada 2006 Annete merintis Restoran Shanghai Blue dan Samarra.

Nah, jarang disadari oleh kebanyakan orang, bisnis keluarga memendam benih-benih positif tersendiri. Apa saja sih? Pertama, tingkat loyalitas yang lebih tinggi. Si anak pastilah nurut dan ngikut apa saja yang diperintahkan oleh atasannya, yang kebetulan adalah ayah atau pamannya sendiri. Bekerja sampai 12 jam sekalipun tidak masalah. Toh, itu untuk dia dan keluarganya juga. Ada kompetitor atau krisis? Pasti akan dia sikat habis-habisan. Bukan semata-mata karena bisnis, tapi juga demi nama baik keluarga. Kedua, kadar pengenalan yang lebih intens. Buat apa susah-susah merekrut orang lain yang belum jelas karakter dan performance-nya? Penyesuaian dengan orang baru juga bukan perkara gampang. Yah, mendingan ngambil kerabat sendiri yang sudah ketahuan karakter dan performance-nya. Itulah alasan mengapa Sudono Salim melantik putranya, Anthony Salim untuk memerintah seluruh kerajaan bisnisnya. Ternyata dari dulu, yah sudah begitu.

Awal abad 13, tampuk kekuasaan Sang Penakluk Genghis Khan juga diserah-terimakan kepada putranya, Ogadai Khan, yang lalu digilirkan pada keturunan berikutnya, yakni Mangu Khan & Kublai Khan. Dampaknya, pengaruh Genghis Khan dan anak-cucunya terus bersemayam di tanah Asia selama berabad-abad. Suatu tingkat pencapaian yang gagal disamai oleh Alexander Agung sekalipun. Sejarah Genghis Khan barangkali serupa dengan kisah Jackson Five, yang bertunas menjadi megabintang sekaliber Michael Jackson, Janet Jackson, dan La Toya Jackson. Lagi pula agama menganjurkan membantu anggota keluarga terlebih dahulu ketimbang orang lain. Pepatah dari dataran Tiongkok juga mengisyaratkan, “Darah lebih kental daripada air.” Keluarga itu lebih utama daripada pertemanan, apalagi orang lain. Tentunya, jangan sampai menjurus ke nepotisme yang salah kaprah. Ndak benar itu! Janet Jackson saja terpaksa mendepak ayahnya sebagai manajer karena dianggap bermasalah.

Lantas, adakah sisi negatifnya? Ya pastilah. Masak mau enaknya saja? Pertama, tercampurnya persoalan pribadi dengan bisnis. Sepasang suami-istri yang tengah goncang rumah-tangganya, mana bisa ngurusin pekerjaan sama-sama. Iya tho? Belum lagi kerabat-kerabat yang tidak kebagian posisi. Tidak jadi soal apakah mereka kompeten atau tidak, pasti tuh mereka jealous dan ngomel-ngomel. Dan tahukah Anda, berdasarkan fakta sejarah, perang saudara (civil war) itu jauh lebih kejam daripada perang manapun. Selalu seperti itu! Pada akhirnya, hubungan antar anggota keluarga pun bisa retak bahkanberantakan. Begitulah, persoalan keluarga berimbas ke bisnis atau sebaliknya persoalan bisnis merembet ke keluarga. Vice versa.

Sisi negatif lainnya, apabila si orangtua kurang cermat, maka si anak bisa manja, mau enaknya saja, dan ogah berproses. Dahlan Iskan, pentolan Jawa Pos Group, malah melakoni kebalikannya. Beneran! Si anak Azzrul Ananda justru digembleng dan ‘dipaksa’ untuk tumbuh dari bawah di perusahaannya. Nah, itu bagus. Jadi, akarnya kuat. Tidak seperti tanaman cangkokan yang tiba-tiba saja nemplok di atas. Kedua mantan atasan saya di Malaysia juga begitu. Anaknya dibiarin saja berkeringat-keringat mengelola bisnis keluarga. Eh, bukan mereka tidak sayang sama anak. Justru karena mereka sangat sayang. Mereka bersikap begitu, karena ingin mendidik dan mengasah anaknya. Bukan digojlok asal-asalan. Saya setuju itu. Begitulah, darah lebih kental daripada air. Terakhir, saran saya untuk pengelola bisnis keluarga, hormatilah entrepreneur yang merintis bisnis dari nol. Begitu pula entrepreneur, hormatilah pengelola bisnis keluarga. Kedua-duanya memiliki dilema tersendiri yang saya jamin masing-masing pasti terkaget-kaget seandainya bertukar posisi. Percayalah, memang begitulah adanya. Saya sama sekali tidak mengada-ada. Anda pikir saya tukang dongeng?

Saran saya khusus untuk pengelola bisnis keluarga, jangan pernah jadi tumbuhan benalu, yang bisanya cuma morotin induknya. Tidak malu apa? Jadilah pemberi pupuk, di mana Anda turut memelihara bahkan membesarkan bisnis. Kalau orangtua Anda berhasil dengan bisnisnya, berarti Anda harus lebih daripada itu. Bukankah Anda sudah diberitahu ilmunya tidak perlu lagi menjalani sendiri untuk mengetahuinya. Bukankah Anda sudah didukung materi tidak perlu lagi mengais-ngaisnya sendiri.

Dikutip dari buku 10 Jurus Terlarang! Kok Masih Mau Bersaing Cara Biasa?
@/www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Darah-Lebih-Kental.html

>Bisnis Pelayanan, Bisnis Persiapan

>

Pagi itu di Holiday Inn Bandung, saya berbagi pengalaman untuk Bio Farma, produsen vaksin terkemuka di tanah air yang berusia lebih dari 100 tahun. Esoknya, saya melototin konser Muse, band jenius asal Inggris yang menggemparkan dunia, bersama dengan 7.000-an penonton lainnya di Istora Gelora Bung Karno, Jakarta. Walau terhitung tidak murah, tetap saja 95 persen tiketnya diborong oleh penonton (dan calo tentunya).

Bagi saya, musik Muse sangat eksentrik dan futuristik. Ah, pokoknya sukar didefinisikan. Namun di atas segalanya, yang membuat saya terperanjat adalah aksi panggung vokalisnya. Wuih, memukau! Sambil menaik-turunkan vokalnya, tangannya tiada henti menyayat-nyayat gitar dengan kecepatan tinggi.

Itu tok? Tidak, tidak. Selain berlari, sesekali ia juga berpose layaknya rocker sejati. Bahkan tanpa beban, ia menukar-nukar instrumen antara gitar dan piano (juga memainkannya). Dalam hati, saya bergumam, “Wow, ini baru show!” Berbeda dengan aksi band Good Charlotte yang saya tonton beberapa waktu sebelumnya menjemukan.

Esok siangnya saya ngobrol berjam-jam dengan seniman senior WS. Rendra dan istrinya di Grand Hyatt Jakarta. Selain bertukar pikiran tentang grup musik saya ANDALUS, kami juga menyinggung soal teater dunianya Rendra. Ia mengaku, untuk sebuah pementasan berdurasi 2 jam saja, ia membutuhkan persiapan sekitar 3 bulan. Sebagai pembicara seminar, saya sih tidak heran. Karena saya juga menggodok persiapan yang kurang-lebih serupa untuk sebuah topik. Dan saya yakin, Muse juga begitu. Paling tidak, untuk penampilan perdana.

Ternyata bisnis berbasis pelayanan tak ubahnya seperti show, yang mana identik dengan persiapan. Katakanlah, rumah sakit, salon, hotel, dan bank. Begitu sebuah bank dibuka jam 8 teng, berarti sebuah show dimulai. Bukan cuma itu, seluruh personil juga dituntut perform sesuai skenario. Ndak boleh akting seenak udel. Untuk berapa lama sih? Setidaknya, sampai 9 jam berikutnya. Nah, agar show berlangsung apik dan menarik, maka persiapan kudu matang. Ya, iyalah. Mana boleh setengah matang? Anda pikir telor mata sapi?

Dan perlu digarisbawahi, kadang kala durasi persiapan itu jauh lebih lama daripada durasi show. Sebenarnya, persiapan sebuah bank memakan waktu bertahun-tahun sebelum beroperasi untuk pertama kalinya. Setelah beroperasi, tetap saja persiapan menjadi suatu keniscayaan. Itu tidak bisa dipungkiri. Bentuknya bisa berupa morning briefing, rapat harian,evaluasi bulanan, pelatihan berkala, koordinasi lapangan, dan masih banyak lagi. Yah, persiapan demi persiapan.

Saya teringat ketika 2 hari berada di Disneyland belum lama ini. Sekedar berbagi cerita, di sana setiap jengkal didesain tidak lain untuk memuaskan indera penglihatan dan indera pendengaran pengunjung-pengunjungnya. Sepertinya, segala khayalan masa kecil dihalalkan di theme park tersebut. Beneran! Dan dapat dikatakan, Disneyland betul-betul berhasil menjamu tamu-tamunya yang berdatangan dari seluruh penjuru bumi.

Siangnya sempat saya menyaksikan pementasan opera Lion King, yang jauh-jauh hari sudah dikenal sebagai film box office. Diperkaya dengan tembang legendaris dari Elton John, Circle of Life dan Can You Feel The Love Tonight, pementasan itu bagaikan dongeng. Betapa tidak? Tanpa diduga-duga, para pemain muncul dari dasar lantai atau dari langit-langit. Belum lagi binatang-binatang tiruan berukuran raksasa yang berakting di tengah-tengah panggung. Dan segudang kejutan lainnya. Dengan pementasan yang begitu mempesona, saya jadi tidak habis pikir betapa melelahkan persiapan mereka.

Malamnya meski gerimis ada pertunjukan penutup yang tidak boleh dilewatkan, yakni atraksi kembang api dan kobaran api di angkasa. Yang satu ini lain lagi serunya. Asal tahu saja, atraksi tersebut menyeruak di sela-sela istana yang megah. Silih-berganti, seolah-olah tiada henti. Ribuan pasang mata dipaksa untuk terbelalak karenanya. Ditambah lagi alunan musik Beauty and The Beast dan A Whole New World yang membahana selama setengah jam. Telinga bak dininabobokan. Kok bisa, ya? Sekali lagi, prinsip dasarnya ialah persiapan.

Seperti yang disinggung sebelumnya, bisnis riil terutama yang berbasis pelayanan juga tidak luput dari faktor persiapan. Pelayanan, mana mungkin dijamah (intangibility), mana mungkin disimpan (inventory absence)? Sudah begitu, produksi dan konsumsi berlangsung serentak pula (inseparability). Dampak pun sukar untuk diseragamkan (inconsistency). Yah, lantaran variabel manusia dan variabel lingkungan. Istilahnya, 4 I’s of Service.

Mengingat keempat ciri tersebut, maka faktor persiapan menjadi kian krusial. Jelas itu! Rasa-rasanya, tidak perlu diperdebatkan lagi. Sebagai pembanding, tengok saja persiapan dan penampilan Muse, Rendra, dan Disneyland. Ringkasnya, gagal mempersiapkan berarti Anda mempersiapkan kagagalan. Camkan itu!

Dikutip dari buku Begini Harusnya Bisnis!
@www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Bisnis-Pelayanan.html

>Sambutlah Anti Brand

>

Empat kontestan dari Belanda, Portugis, Jepang, dan Indonesia mengikuti perlombaan adu tahan terhadap bau busuk. Sesudah keempat kontestan dimasukkan ke dalam kandang kambing yang luar biasa tengiknya, lantas juri menghitung berapa lama mereka sanggup bertahan di dalamnya. Yang paling lama bertahan, dialah pemenangnya.

Setelah satu jam berlalu, pintu kandang kambing pun terbuka dan keluarlah si Belanda dari kandang tersebut. Setelah dua jam berlalu, pintu kandang kembali terbuka dan keluarlah si Portugis berbarengan dengan si Jepang. Akibat didera bau busuk sekian lama, ketiga-tiganya langsung semaput dan dilarikan ke rumah sakit.

Terus, bagaimana dengan si Indonesia? Jam demi jam dilewati, akan tetapi ia tetap bertahan di dalam. Tepat duabelas jam, akhirnya pintu kandang terbuka. Ternyata yang keluar bukannya si Indonesia, melainkan si kambing! Sambil berjalan sempoyongan, si kambing menggerutu dalam bahasa hewan, “Berani-beraninya manusia nyaingin gue.”

Persaingan, siapa sih yang sanggup menghindar darinya? Dan sudah menjadi hukum alam, begitu mengorbit, merek akan berhadap-hadapan dengan anti-brand. Di tanah air, kesuksesan Flexi dan Indomie mengundang anti-brand namanya Esia dan Mi Sedaap. Hadir pula Filma, anti-brand-nya Bimoli. Indopos, anti-brand-nya Kompas (Konon, inilah babak baru pergulatan antara Dahlan Iskan dan Jakoeb Oetama).

Bagaimana di luar negeri? Yah, kurang-lebih sama saja. Kesuksesan Windows dan PlayStation mengundang anti-brand bernama Linux dan X-Box. Ada pula Warner Bros, anti-brand-nya Walt Disney. Papa John’s, anti-brand-nya Pizza Hut. Seiring perjalanan waktu, gesekan anti-brand pun semakin keras. Undoubtedly!

Persis seperti dunia entertainment, di mana popularitas seorang celeb juga sering dibuntuti tentangan dan tantangan. Perlu contoh? Lihatlah, Britney Spears yang dikecam oleh Christina Aguilera. Boy band Backstreet Boys yang diejek oleh band alternatif Blink 182. Inul Daratista yang dihujat oleh Rhoma Irama. Nah, apakah penolakan-penolakan itu berhasil memudarkan popularitas mereka? Ternyata, apa yang terjadi malah sebaliknya. Siapa sih yang meragukan ketenaran Britney, Backstreet Boys dan Inul? Setidak-tidaknya ketika itu. Dunia politik pun tidak luput dari pengecualian. Pamor SBY justru meroket bahkan menang telak saat pemilu setelah dilecehkan sebagai anak kecil oleh lawan politiknya. Sidang pembaca sekalian, itulah manfaat nomor satu dari anti-brand, yakni melejitkan bahkan melambungkan popularitas.

Hei, tunggu dulu! Jangan salah paham, ya! Di sini saya tidak berkhotbah bahwa anti-brand tidak perlu diwaspadai. Bukan, bukan! Waspada, itu sih harus. Apa yang saya coba ungkapkan di sini adalah sejumlah dampak positif yang jarang diketahui oleh kebanyakan orang.

Di antaranya, mengedukasi & menghimpun konsumen, sehingga pada akhirnya memperluas market size secara keseluruhan. Sebenarnya, perseteruan tiada henti antara Kacang Garuda dan Kacang Dua Kelinci memaksa konsumen untuk lebih aware akan keberadaan kacang ketimbang snack yang lain. Selain itu, anti-brand juga memicu dan memacu potensi diri. Lebih jauh lagi, anti-brand akan menebar citra positif pada seluruh pemain sekaligus menjadi bahan benchmarking.

Jadi, soal musuh, nggak perlu dikuatirkan. Nabi saja punya musuh, apalagi Anda! Justru kemasyhuran Anda patut diragukan, seandainya Anda tidak pernah ditentang dan ditantang. Ada pepatah yang memperingatkan, “Semakin tinggi pohon, semakin kuat anginnya.” Dirangkai dengan, “Kalau Anda tidak ingin diterpa angin, maka jadilah rumput dan relakanlah diri Anda untuk diinjak.” Hm, pilih yang mana? Bagi saya, akan jauh lebih menyenangkan menjadi besar, meskipun untuk itu saya terpaksa digencet oleh anti-brand. Siapapun dia!

Barangkali ada yang bertanya, “Saudara Penulis, apa yang mesti kami perbuat jika nyatanya anti-brand tidak pernah muncul?” Aha! Anda telah bertanya pada orang yang tepat. Jawaban saya, “Ciptakanlah anti-brand bagi merek Anda sendiri!” Terkejut? Ah, kalau begitu, jantung Anda terlalu lemah. Semestinya, Anda tidak perlu terkejut.

Coba cermati dulu Elex Media Komputindo, Grasindo dan BIP yang merupakan seteru sekaligus sepupu dari Gramedia. Fanta, Sprite dan Sarsi yang merupakan saingan terdekat sekaligus saudara terdekat dari Coca Cola. Apa pula kaitan antara Radar Surabaya dan Jawa Pos? Mentari dan Matrix? Citylink dan Garuda? Nissan dan Infiniti? Semua jawabannya sama: anti-brand yang berasal dari satu keluarga besar. Begitulah anti-brand, layak untuk disambut. Hm, ada pertanyaan?

Dikutip dari buku Hot Marketing: Cara Paling Panas Mengorbitkan Merek.
@www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Sambutlah-Anti-Brand.html

>Teknologi 3G: Gila, Gelo, Gendeng

>

Siang itu, di sela-sela sebuah acara di Denpasar saya ngobrol dengan Purdi Chandra dan Mr. Joger, dua pengusaha yang terkenal humoris. Mr. Joger sempat bercerita bahwa dia tidak pernah sekalipun merasa sedih. Dia selalu gembira, antusias dan berpikir positif. Ternyata, konsep duka memang tidak ada dalam benaknya. Terus, dia bertutur tentang Purdi Chandra yang hampir selalu berhasil dalam bisnis-bisnisnya. Rupa-rupanya, Purdi Chandra memang tidak pernah memasukkan konsep gagal ke dalam pikirannya.

Mirip-mirip dengan orang gila. Hush, jangan sembarangan! Lha, saya serius! Apa pernah orang gila jatuh sakit? Jarang-jarang ‘kan? Itu karena konsep sakit tidak pernah ada di benak orang gila. Tengok pula anak kecil. Sebenarnya sih konsep takut tidak pernah terlintas di kepalanya. Namun sayangnya, acapkali orangtuanyalah yang menjajal dan menjejalkan konsep takut kepadanya, “Kalau kamu nakal, ntar digigit anjing lho!” atau, “Kalau kamu nggak mau makan, bakal didatangin kuntilanak lho!” Akhirnya, si anak jadi merinding beneran. Konsep takut pun menyelinap dan bersemayam di otaknya.

Kesimpulannya, hati-hati dengan pikiran Anda. Pilah dan pilih konsep yang patut bercokol di sana. Tayangan di televisi, majalah dan suratkabar acap kali mencekoki otak Anda dengan hal-hal yang negatif. Dan repotnya lagi, sering kali Anda tidak menyadarinya. Pst, kalau sudah begitu, siapa sih yang rugi? Yah, Anda sendiri! Si pembuat acara mana mungkin rugi! Rating acara meroket. Iklan-iklan pun berdesakan. Saldo mereka pun melambung.

Kembali pada orang gila. “Hei, Penulis! Nggak salah nih? Kita yang waras gini malah ngomongin orang gila!” Yah, mana mungkin orang gila yang cerita tentang kita? Hahaha, saya bercanda. Bagi saya, orang-orang yang luar biasa adalah orang-orang yang sedikit gila. Bukankah sesepuh Intel, Andy Groove bersikeras, “Only paranoid can survive.” Yang gila, yangbertahan. Makanya, gunakan Teknologi 3G alias Gila, Gelo, Gendeng.

Tentu saja, bukan dalam pengertian sakit jiwa. Tetapi maksudnya, tidak jarang mereka berpikir dan berkhayal secara tidak rasional. Betul-betul lateral. Pokoknya, rada ngawur, rada ngelantur. Sehingga lingkungan di sekitarnya tanpa tedeng aling-aling menuding, “Ah, dasar gila! Mana mungkinitu terjadi!” Toh, pada akhirnya itu terjadi juga. Tidak perlu contoh. Anda pasti sudah sering menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut saya, untuk menjadi orang yang luar biasa, lakukanlah apa yang tidak dilakukan oleh orang biasa. Kurang jelas? Baiklah, saya tampilkan beberapa ilustrasi. Orang biasa menghabiskan waktunya 2-3 jam sehari untuk menonton sinetron (Menurut sebuah riset, orang Indonesia menghabiskan 2 jam 48 menit dalam sehari di depan televisi. Bilamana dibandingkan dengan negara-negara lain, durasi itu terhitung lama).

Orang biasa menghabiskan Sabtu-Minggu-nya untuk bermalas-malasan. Orang biasa menghabiskan waktu, uang dan kartu kreditnya di pusat-pusat perbelanjaan. Ketahuilah, orang luar biasa tidak pernah melakukan semua itu. Dan ketika Anda coba meniru orang luar biasa, saya jamin Anda akan dicap ‘gila’ oleh orang biasa. Tidak percaya? Lakoni saja!

Belum lama ini di Jakarta, saya bertemu dan bertukar pikiran dengan Helmi Yahya, biangnya Reality Show di tanah air. Ketika ia berkisah tentang betapa workaholic-nya dia semenjak kecil, saya langsung bergumam dalam hati, “Dia telah membayar harganya dan dia pantas memperoleh ganjarannya.” Lihat pula Aa Gym, pendakwah sekaligus pengusaha. Saya menyaksikan sendiri bagaimana ia memanfaatkan waktunya menit demi menit secara optimal. Dan kita semua maklum apa yang telah ia capai.

Sebelumnya, maafkan saya apabila tulisan saya kali ini sedikit semrawut. Maklum, tulisan ini memang dibikin sespontan mungkin, seinstan mungkin! Lagi pula, tulisan ini memang hanya untuk orang gila kok. Hei, jangan tersinggung! Tetapi yang penting, Anda pilih yang mana? Menjadi orang biasa atau orang luar biasa? Setidak-tidaknya, sebelum menjadi orang luar biasa, Anda sudah menjadi orang biasa di luar ‘kan? Hahaha, saya bergurau.

Sekali lagi, jadilah orang yang luar biasa! Meskipun untuk itu, Anda kudu merelakan diri untuk dilabel ‘gila’ oleh orang-orang di sekitar Anda. Percayalah, sebenarnya gelar ‘gila’ tersebut merupakan luapan kekaguman alias pujian dari mereka. Ngomong-ngomong, beranikah Anda mengusulkan kepada presiden untuk mencanangkan Hari Gila Nasional? Yah, Anda uruslah sendiri. Kali ini saya tidak ikutan. Rasa-rasanya, saya belum segila itu.

Dikutip dari buku 10 Jurus Terlarang! Kok Masih Mau Bersaing Cara Biasa?
@www.ipphosantosa.com/Ippho-Santosa-Artikel-Teknologi-3G.html