>Kebangkitan INTI NAQS

>

Reiki NAQS adalah sebuah revolusi di bidang spiritualitas yang dapat membantu meningkatkan spiritualitas seseorang dengan cara yang mudah dan cepat. Karena energi spiritual yang diberikan adalah bukan hasil karya cipta manusia, namun merupakan sebuah Energi Ilahiah yang berasal dari Sumbernya langsung yaitu Tuhan itu sendiri.

Bola Energi Alam Semesta

Energi ini merupakan energi asal mula dan sumber kejadian makhluk hidup dan alam semesta. Di awal penciptaan alam semesta, Tuhan menciptakan sebuah Bola Energi Awal yang di sebut Telur Jagad (ANTIGA) dan ada yang menyebutnya dengan Nur Muhammad. Bola Energi ini kemudian memancar dalam sebuah spektrum cahaya (Energi) yang mempunyai getaran dan frekwensi yang berlapis-lapis. Dan terciptalah Alam Semesta dengan tingkat spektrum energi yang bertingkat ( 7 lapis langit dan 7 lapis bumi). Dan lapisan yang terluar (Kulit/Residu) atau paling bawah dari spektrum energi ini adalah Dunia Fisik (Alam Materi) tempat kita berada saat ini.

Nur Muhammad adalah Inti Energi alam semesta, baik alam makrokosmos maupun alam mikrokosmos. Inti dari sel dan atom, yang keberadaannya masih belum bisa dideteksi oleh tekhnologi modern. Sehingga masih tergolong dimensi alam ghaib, karena baru diketahui secara metafisik.

Walaupun asal kejadian kita adalah dari Energi Awal ini, tidak serta merta kita bisa merasakan keberadaan tingkat tertinggi dari Hirarki Spektrum Energi ini. Karena sedemikian kuatnya lapisan mantel hijab duniawi kita yang diakibatkan oleh tertutupnya kesadaran kita.

Kesadaran manusia sejak lahir telah terbiasa dengan alam materi, nalurinya telah mengajarkannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Inilah kesadaran primitive manusia. Kesadaran untuk menyadari adanya kekuatan yang lebih tinggi dan lebih besar dari dirinya diperoleh ketika dia telah dewasa.

Filosofi Alif Laam Miim ( الم )

Perlu digaris bawahi bahwa, Filosofi ini adalah sekedar tafsiran menurut bahasa kami, Arti yang sebenarnya hanya Tuhanlah yang Maha Tahu.

Simbol ini adalah landasan filosofi dari Reiki NAQS. Menggambambarkan anatomi struktur alam semesta dan hubungan antara manusia, alam semesta dan Tuhan. Alif melambangkan eksistensi Tuhan. Dan lingkaran bulat mim, melambangkan inti semesta atau Nur Muhammad. Inti ini mempunyai dua sayap, yaitu ke atas menjangkau langit. Dan ke bawah menjangkau bumi.

Lam adalah sayap mim yg menjangkau ke langit. Mim tanpa lam maka hanya bersifat duniawi. Namun ketika lam ditempelkan dg mim, maka mim bisa menjangkau langit. Lam adalah simbol pemusnahan sifat material semesta yg terungkap dalam kalimah la ilaha ilallah dan la haula wala quwwata illa billah.

Dalam literatur lain dijelaskan juga bahwa “Alif” adalah Allah, “Lam” adalah JibriL dan “Mim” adalah Muhammad.Atau “Alif” misalnya dari kata Allah, “Lâm” dari kata “Lathif”, “Mîm” dari “Majid”(www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg05376.html)

MAKNA LAM 

Hakikat Penghambaan
Bila Nur Muhammad adalah inti orbit dari Dzat Materi maka Nur Allah adalah inti orbit dari Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikan-Nya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Hakikat penghambaan adalah tetapnya manusia di dalam garis edar orbit yang sebenarnya. Yaitu berpusat kepada inti orbitnya. Sebagaimana partikel atom yamg mengorbit pada inti atom, ketidakpatuhan terhadap hukum ini menyebabkan kehancuran dan terurainya susunan partikel sel. Orang yang mengingkari (kafir) terhadap realitas ini maka dia tidak lebih daripada berusaha untuk mempersulit dirinya sendiri dan terjebak pada suatu perbuatan yang sia-sia.

Hakikat Kepasrahan
( لاَ ) Lam Alif dalam kalimah La Ilaha Illallah dan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh. Menunjukkan adanya huruf Alif yang mensifati huruf Lam, ini artinya bahwa daya kepasrahan manusia tak akan ada artinya bila tanpa petunjuk dan hidayah dari Tuhan. Semua tekhnik dan metode buatan manusia yang ditujukan untuk mememperoleh keadaan pasrah dan berserah diri (Rileksasi dan Meditasi) tidak akan membawa hasil yang maksimal, bila tanpa adanya campur tangan Tuhan di dalamnya.

Laa adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Ustâdz Hammâd Abû Mu’âwiyah @www.scribd.com/doc/12771717/Makna-Sebenarnya-Dari-Kalimat-Tauhid-La-Ilaha-Illallah)

 Filosofi Alif Lam Ro’ الَر

Risalah ( الَر )
Tanpa adanya pertolongan dari Tuhan, maka mustahil manusia dapat menemukan kembali jalan untuk kembali. Oleh karena itulah Tuhan menurunkan para nabi dan Rasul sebagai penyampai risalah petunjuk bagi umat manusia. Untuk memberikan peringatan, mengingatkan kembali kepada manusia tentang hakikat jati dirinya.

Tanpa adanya Risalah petunjuk Tuhan maka manusia akan berada di tempat kegelapan, mereka akan tetap di alam primitive mereka. Sedangkan Nuraninya menuntut dia untuk mencari jawab atas Kekuatan Rahasia dibalik alam semesta.  Maka merekapun mencari-cari di sekitarnya apa yang patut mereka jadikan sesembahan, maka terjadilah animisme dan dinamisme, penyembahan terhadap roh dan benda mati.

Ro’ mengandung makna Risalah dan Rasulullah (Utusan Allah, Sang Pembawa Risalah).
Tuhan kita memiliki nama Ar Rasyid atau Allah Yang Maha Tepat Tindakan-Nya. Kata ar-rasyid tersusun dari huruf ra’, syin, dan dal, yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata rusyd atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya. Dengan kesempurnaan ini, ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat. Susunan huruf ini melahirkan pula kata mursyid yang artinya memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi ada yang disebut mursyid, maka ia adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. ( QS. Ibrahim 14:1 )

Energi Ilahiah Nuurun ‘Ala Nuurin

Sekarang apa yang dibawa oleh Sang Pembawa Risalah..?

1. Cahaya & Kitab
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (QS. Al-Maaidah, ayat 15)

 Tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (QS-Asy Syuura 42; 52)

Bagi yang tidak mendalami konsep energi metafisika, maka cahaya ini di artikan sekedar sebagai sebuah petunjuk atau Hidayah yang datang dari Tuhan. Namun bagi kami para ilmuwan Metafisika, tidaklah berpandangan demikian.  Cahaya yang dimaksud itu adalah sebuah energi Ilahiah yang Sumber Cahayanya berasal dari Cahaya Abadi yaitu Nur Allah. Kesimpulannya, Tuhan menurunkan dua jenis kitab. Yaitu kitab yang tidak berhuruf dan kitab yang berhuruf. Kitab yang tidak berhuruf itulah Cahaya Ilahiah Nuurun ‘ala Nuurin.

Cahaya Ilahiah inilah yang menjadi sarana bagin seorang manusia  untuk mendapatkan akses kembali kepada inti dirinya yaitu Nur Muhammad. Menjadi jembatan penghubung antara lapisan terluar dari Spektrum Energi dengan Inti Energi.Cahaya Ilahiah ini adalah sebuah energi murni, di dalamnya terkandung semua kualitas terbaik dari 99 jenis Cahaya Alam semesta.Cahaya Ilahiah ini jugalah yang mempunyai kemampuan untuk memurnikan tubuh manusia. Oleh karena itulah energi ini sangat tepat digunakan untuk kultivasi energi.

2. Cahaya Al-Furqon
Dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, Al-Furqan diartikan sebagai pembeda; yang membedakan antara hak dan batil. Pada beberapa buku tafsir dijelaskan bahwa Al-Furqan ini merupakan sifat yang mempunyai potensi atau kemampuan membedakan sesuatu secara terperinci sehingga ia dapat mengungkapkan dengan jelas rahasia yang tersembunyi di balik sesuatu itu. Kalau boleh dikatakan, dia bukan saja mampu membedakan hal yang sudah jelas, misalnya antara hitam dengan putih, tetapi dia mampu membedakan yang mirip atau samar bagi kita, karena semuanya sudah terungkap dengan jelas dan terperinci sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dan terabaikan.

Untuk mendapatkan makna yang hakiki dari suatu kitab suci tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan nalar dan intelektual saja, tetapi lebih dari itu, ia memerlukan perenungan yang sangat dalam. Perenungan itu tidak bisa dilampaui manusia biasa, sekalipun ia seorang professor. Manusia yang mampu melampaui perenungan itu adalah orang-orang yang memiliki maqam yang sudah melampaui batas ambang tertentu. Sampai ke tingkat para Nabi yang memiliki nilai-nilai kesucian spiritual yang sangat tinggi. Merekalah yang bisa menembus alam tempat para malaikat berkumpul sambil bersujud dan bertasbih memuji kebesaran Penciptanya.

Dengan nilai spiritual inilah, kemampuan mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang kita sebut Al-Furqan ini dapat dicapai. Al-Qur’an mengungkapkannya dalam surat Al-Baqarah ayat 53

Dan ketika Kami (Allah) berikan kepada Musa Al-Kitab dan Al-Furqan, semoga kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah ayat 53)
Telah kami (Allah) berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan. (QS. Al-Anbiya: 48).

Kita mengetahui bahwa kitab yang diberikan kepada Nabi Musa as adalah kitab taurat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepada Nabi Musa pun diberikan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan isi Taurat tersebut secara benar dan dapat kita buktikan dengan melihat akhir ayat ini yang diakhiri dengan kata semoga kamu dapat petunjuk. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Nabi atau Rasul memerlukan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan risalahnya (yaitu kitab suci) secara benar dan hakiki

Ayat yang lebih spesifik lagi berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw, yaitu dalam ayat:

Dia (Allah) turunkan kepada engkau (Muhammad Saw) Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan haq yang membenarkan apa yang terdahulu dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali Imran: 3-4).

Dengan bergabungnya ketiga nilai ini (Nabi, Kitab Suci, dan Al-Furqan), maka sempurnalah nilai suatu kenabian. Ketiga nilai ini, kalau mau diperumpamakan, boleh jadi ia merupakan “jembatan” atau transmitter antara alam manusia dengan alam malakut; alam dunia dengan alam gaib. Sesungguhnya apabila umat manusia ingin diantarkan untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya, maka jembatan inilah yang akan membawa dengan selamat dalam perjalan kembali menuju Allah SWT.

Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa Al-Furqan merupakan kata kunci dalam pengungkapan semua ini. Dapat dikatakan dengan senjata Al-Furqan ini, siapapun dapat mengungkapkan segala rahasia apapun yang terkandung dalam risalah terakhir ini, baik yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah Saw itu sendiri.

Dengan kebijaksanaan Allah SWT dan keadilan-Nya, walaupun tidak ada lagi pengutusan seorang Rasul, Allah tetap menurunkan Al-Furqan ini sampai hari kiamat kepada orang-orang yang dikehendaki. Artinya, tidak sembarang orang mendapatkan keistimewaan ini. Hanya orang-orang tertentu yang maqamnya sudah mencapai tingkat para nabilah yang mampu. Orang-orang ini dikenal dalam Islam dengan manusia-manusia sica atau wali-wali Allah yang disebut dengan manusia “takwa” sebagaimana yang dinyatakan Al-Qur’an: Sesungguhnya wali-wali Allah tidaklah mereka itu merasa takut dan tidak pula mereka itu bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63).

Manusia takwa inilah yang berhak mendapatkan keistimewaan menerima Al-Furqan. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:  Hai orang yang beriman, jikalau kamu bertakwa kepada Allah, (Dia) akan menjadikan untuk kamu Al-Furqan. (QS. Al-Anfa: 29).

Tradisi Attunement
Di dalam praktek Spiritualisme Islam, Attunement atau penyelarasan getaran energi pribadi dengan Getaran Energi Ilahiah disebut dengan Tawajjuh. Yang dilakukan secara rutin seminggu sekali atau seminggu dua kali. Atau minimal 40 hari sekali. Jadi attunement tidak hanya dilakukan di saat pertama kali mengikuti Majelis Dzikir. Tradisi ini di dalam REIKI NAQS dilakukan dengan cara komunikasi jarak jauh via telfon atau bersilaturahmi langsung denngan pengasuh.

Perkembangan reiki dewasa ini sebenarnya telah jauh menyimpang dari konsep aslinya. Reiki sebenarnya adalah tradisi olah spiritual dari kaum Budhis Tibet. Dan attunement atau penyelarasan energi spiritual aslinya di sebut sebagai reiju, yang artinya “menerima energi/spirit”.  Reiju ini dilakukan oleh seorang Master atau siswa senior terhadap siswa yunior setelah menyelesaikan sebuah sesi latihan olah spiritual. Jadi REIJU tidak diberikan sekali seumur hidup, tetapi diberikan setiap selesai berlatih.

Sedangkan tradisi reiki modern memberikan Attunement hanya ketika terjadi kenaikan tingkat dan di saat pertama kali mengikuti reiki. Yang bila di hitung tidak lebih dari 3 kali. Kesalahan yang lain adalah, reiki modern lebih menitik beratkan pada praktek healing dan bukan pada praktek meditasinya itu sendiri.

Dari hal di atas, maka kualitas vibrasi getaran dari para praktisi reiki yang ada menjadi patut dipertanyakan. Benarkah itu sebuah energi Ilahiah ataukah hanya sekedar energi tenaga dalam saja..?

BIBIT CAHAYA IMAN
Di saat pertama kali siswa NAQS memperoleh attunement, bibit cahaya Ilahiah telah ditanamkan di dalam Qalbunya. Dan menjadi tugas siswa yang bersangkutan untuk merawat dengan baik bibit tersebut sehingga dapat tumbuh dan bertunas.

Ketika getaran Energi Ilahiah sudah mulai bisa ditangkap oleh kesadarannya, maka kejadian inilah yang disebut kelahiran  NAQS awal atau bibitnya telah bertunas. Namun intensitas getarannya masih lemah serta terkadang masih timbul tenggelam. Oleh karena itu siswa harus semakin rajin untuk melatih meditasi  dzikirnya sehingga getarannya semakin meningkat intensitasnya serta dapat terjaga selama 24 jam penuh.

Namun bagi siswa yang masih juga belum terlahir NAQS awalnya, tidaklah perlu bersedih hati dan berputus asa. Namun bersikaplah ikhlas menerima keadaan itu, serta serahkan sepenuhynya hal itu kepada Tuhan. Serta sering-seringlah berkomunikasi dengan pengasuh.

Lambatnya kelahiran NAQS AWAL itu biasanya disebabkan oleh adanya suatu penyakit di dalam diri, sehingga energi Ilahiah lebih fokus untuk menyembuhkan kesehatan dari siswa. Energi Ilahiah adalah sebuah energi murni yang bersifat belum terpolarisasi. Sehingga ketika dia masuk ke dalam tubuh, maka dia akan menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh serta menyeimbangkan kondisi kesehatan siswa secara holistik lahir dan batin.

SISTEM KULTIVASI
Inti dari Reiki NAQS adalah membangun sistem kultivasi di dalam diri manusia, yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan dirinya lahir bathin serta meningkatkan derajat spiritualitasnya. Oleh karena itu fokus dari REIKI NAQS adalah pada upaya latihan kultivasinya. Sedangkan untuk aplikasi penyembuhan bagi dirinya sendiri baru dapat di lakukan setelah NAQS awal telah muncul. Sedangkan penyembuhan untuk orang lain baru boleh dilakukan ketika telah berlatih Meditasi Kultivasi 1.

Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhakan untuk menyelesaikan PELATIHAN REIKI NAQS adalah sekitar 3 minggu s/d 1 bulan. Yang untuk selanjutnya siswa dapat melanjutkan latihannya secara mandiri.

Reiki Tingkat Master saat ini belum dibuka. Karena energi kultivasi bukanlah energi tenaga dalam atau energi natural yang lainnya. Hanya siswa yang telah teruji kualifikasinya saja yang dapat mengikuti latihan tingkat master. Lagipula Reiki NAQS tidak menjadikan tingkatan sebagai sebuah tujuan. Namun berbuat dan berkarya yang terbaik bagi umat manusia demi terwujudnya sebuah dunia yang penuh Cinta Kasih dan perdamaian. Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri mulai saat ini juga.

Langkah untuk menumbuhkan Kedamaian Diri :
1. Memaafkan diri sendiri dan orang lain.
2. Ikhlas menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya.
3. Mengembalikan semua urusan kepadaNya.
4. Pasrah sepenuhnya kepadaNya untuk perbaikan dari situasi dan keadaan yang dialami.
5. Bersabar dalam menjalani proses pemulihan diri.
6. Bersyukur untuk setiap kemajuan yang di alami, walaupun cuma sedikit.

“Bila perlu berusahalah tersenyum dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan tertawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal sederhana ini dapat membantu Anda mempertahankan perspektif,” kata Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie & Associates.

LAMPIRAN :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الل
(La Ilaha Illallah)
Tidak ada Tuhan selain Allah

Makna La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk Disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
(lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh)
~ TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH ~

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan
(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kalimat lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh?

Jawabannya, agar kita melepaskan diri kita dari segala apa yang kita merasa mampu untuk melakukannya, dan kita serahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya yang dapat menolong dalam semua aktivitas kita hanyalah Allah Ta’ala, dan ini adalah makna ucapan kita setiap kali melakukan shalat,

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. [al-Fâtihah/1:5].

Dan kalimat ini, adalah makna dari doa yang sering kita ucapkan dalam akhir shalat kita:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Ya Allah, tolonglah aku agar dapat berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu” [1].

Pada hakikatnya seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak akan mungkin duduk di majlis ilmu, melainkan dengan pertolongan Allah. Seorang guru tidak akan mungkin dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melainkan dengan pertolongan Allah. Begitupun seorang pegawai, tidak mungkin dapat bekerja melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang hamba tidak boleh sombong dan merasa bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Seorang hamba seharusnya menyadari bahwa segala apa yang dilakukannya semata-mata karena pertolongan Allah. Sebab, jika Allah tidak menolong maka tidak mungkin dia melakukan segala sesuatu. Artinya, dengan mengucapkan kalimat ini, seorang hamba berarti telah menunjukkan kelemahan, ketidakmampuan dirinya, dan menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat membutuhkan pertolongan Allah.

Semasa peristiwa Israk Mikraj, kepada Rasulullah S.A.W., Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Engkau akan berjumpa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH.

Bahkan Allah jugalah yang memperjalankan Rasulullah s.a.w. pada malam itu. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan daripadaNYa.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1).

[1]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1522), an-Nasâ`i (III/53), Ahmad (V/245), dan al-Hakim (I/173, III/273) beliau menshahîhkannya, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

Iklan

Kebangkitan INTI NAQS

Reiki NAQS adalah sebuah revolusi di bidang spiritualitas yang dapat membantu meningkatkan spiritualitas seseorang dengan cara yang mudah dan cepat. Karena energi spiritual yang diberikan adalah bukan hasil karya cipta manusia, namun merupakan sebuah Energi Ilahiah yang berasal dari Sumbernya langsung yaitu Tuhan itu sendiri.

Bola Energi Alam Semesta

Energi ini merupakan energi asal mula dan sumber kejadian makhluk hidup dan alam semesta. Di awal penciptaan alam semesta, Tuhan menciptakan sebuah Bola Energi Awal yang di sebut Telur Jagad (ANTIGA) dan ada yang menyebutnya dengan Nur Muhammad. Bola Energi ini kemudian memancar dalam sebuah spektrum cahaya (Energi) yang mempunyai getaran dan frekwensi yang berlapis-lapis. Dan terciptalah Alam Semesta dengan tingkat spektrum energi yang bertingkat ( 7 lapis langit dan 7 lapis bumi). Dan lapisan yang terluar (Kulit/Residu) atau paling bawah dari spektrum energi ini adalah Dunia Fisik (Alam Materi) tempat kita berada saat ini.

Nur Muhammad adalah Inti Energi alam semesta, baik alam makrokosmos maupun alam mikrokosmos. Inti dari sel dan atom, yang keberadaannya masih belum bisa dideteksi oleh tekhnologi modern. Sehingga masih tergolong dimensi alam ghaib, karena baru diketahui secara metafisik.

Walaupun asal kejadian kita adalah dari Energi Awal ini, tidak serta merta kita bisa merasakan keberadaan tingkat tertinggi dari Hirarki Spektrum Energi ini. Karena sedemikian kuatnya lapisan mantel hijab duniawi kita yang diakibatkan oleh tertutupnya kesadaran kita.

Kesadaran manusia sejak lahir telah terbiasa dengan alam materi, nalurinya telah mengajarkannya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan fisiknya. Inilah kesadaran primitive manusia. Kesadaran untuk menyadari adanya kekuatan yang lebih tinggi dan lebih besar dari dirinya diperoleh ketika dia telah dewasa.

Filosofi Alif Laam Miim ( الم )

Perlu digaris bawahi bahwa, Filosofi ini adalah sekedar tafsiran menurut bahasa kami, Arti yang sebenarnya hanya Tuhanlah yang Maha Tahu.

Simbol ini adalah landasan filosofi dari Reiki NAQS. Menggambambarkan anatomi struktur alam semesta dan hubungan antara manusia, alam semesta dan Tuhan. Alif melambangkan eksistensi Tuhan. Dan lingkaran bulat mim, melambangkan inti semesta atau Nur Muhammad. Inti ini mempunyai dua sayap, yaitu ke atas menjangkau langit. Dan ke bawah menjangkau bumi.

Lam adalah sayap mim yg menjangkau ke langit. Mim tanpa lam maka hanya bersifat duniawi. Namun ketika lam ditempelkan dg mim, maka mim bisa menjangkau langit. Lam adalah simbol pemusnahan sifat material semesta yg terungkap dalam kalimah la ilaha ilallah dan la haula wala quwwata illa billah.

Dalam literatur lain dijelaskan juga bahwa “Alif” adalah Allah, “Lam” adalah JibriL dan “Mim” adalah Muhammad.Atau “Alif” misalnya dari kata Allah, “Lâm” dari kata “Lathif”, “Mîm” dari “Majid”(www.mail-archive.com/gorontalomaju2020@yahoogroups.com/msg05376.html)

MAKNA LAM 

Hakikat Penghambaan
Bila Nur Muhammad adalah inti orbit dari Dzat Materi maka Nur Allah adalah inti orbit dari Nur Muhammad. Nuurun alaa Nuurin Yahdillahu li Nuurihi mayya syau ~ “ Nur Illahi beriring dengan Nur Muhammad, yang diberikan-Nya pada orang-orang yang dikehendakiNya”

Hakikat penghambaan adalah tetapnya manusia di dalam garis edar orbit yang sebenarnya. Yaitu berpusat kepada inti orbitnya. Sebagaimana partikel atom yamg mengorbit pada inti atom, ketidakpatuhan terhadap hukum ini menyebabkan kehancuran dan terurainya susunan partikel sel. Orang yang mengingkari (kafir) terhadap realitas ini maka dia tidak lebih daripada berusaha untuk mempersulit dirinya sendiri dan terjebak pada suatu perbuatan yang sia-sia.

Hakikat Kepasrahan
( لاَ ) Lam Alif dalam kalimah La Ilaha Illallah dan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh. Menunjukkan adanya huruf Alif yang mensifati huruf Lam, ini artinya bahwa daya kepasrahan manusia tak akan ada artinya bila tanpa petunjuk dan hidayah dari Tuhan. Semua tekhnik dan metode buatan manusia yang ditujukan untuk mememperoleh keadaan pasrah dan berserah diri (Rileksasi dan Meditasi) tidak akan membawa hasil yang maksimal, bila tanpa adanya campur tangan Tuhan di dalamnya.

Laa adalah nafiyah lil jins (Meniadakan keberadaan semua jenis kata benda yang datang setelahnya). Misalnya perkataan orang Arab “Laa rojula fid dari” (Tidak ada laki-laki dalam rumah) yaitu menafikan (meniadakan) semua jenis laki-laki di dalam rumah. Sehingga laa dalam kalimat tauhid ini bermakna penafian semua jenis penyembahan dan peribadahan yang haq dari siapapun juga kecuali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Ustâdz Hammâd Abû Mu’âwiyah @www.scribd.com/doc/12771717/Makna-Sebenarnya-Dari-Kalimat-Tauhid-La-Ilaha-Illallah)

 Filosofi Alif Lam Ro’ الَر

Risalah ( الَر )
Tanpa adanya pertolongan dari Tuhan, maka mustahil manusia dapat menemukan kembali jalan untuk kembali. Oleh karena itulah Tuhan menurunkan para nabi dan Rasul sebagai penyampai risalah petunjuk bagi umat manusia. Untuk memberikan peringatan, mengingatkan kembali kepada manusia tentang hakikat jati dirinya.

Tanpa adanya Risalah petunjuk Tuhan maka manusia akan berada di tempat kegelapan, mereka akan tetap di alam primitive mereka. Sedangkan Nuraninya menuntut dia untuk mencari jawab atas Kekuatan Rahasia dibalik alam semesta.  Maka merekapun mencari-cari di sekitarnya apa yang patut mereka jadikan sesembahan, maka terjadilah animisme dan dinamisme, penyembahan terhadap roh dan benda mati.

Ro’ mengandung makna Risalah dan Rasulullah (Utusan Allah, Sang Pembawa Risalah).
Tuhan kita memiliki nama Ar Rasyid atau Allah Yang Maha Tepat Tindakan-Nya. Kata ar-rasyid tersusun dari huruf ra’, syin, dan dal, yang makna dasarnya adalah ketepatan dan lurusnya jalan. Dari makna ini lahirlah kata rusyd atau manusia yang sempurna akal dan jiwanya. Dengan kesempurnaan ini, ia mampu bertindak dan bersikap secara tepat. Susunan huruf ini melahirkan pula kata mursyid yang artinya memberikan bimbingan atau petunjuk dengan cara tepat. Jadi ada yang disebut mursyid, maka ia adalah orang yang tepat untuk menunjukkan ke jalan yang tepat dengan cara yang tepat pula.

Alif, laam raa. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu supaya kamu mengeluarkan manusia dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin Tuhan mereka, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. ( QS. Ibrahim 14:1 )

Energi Ilahiah Nuurun ‘Ala Nuurin

Sekarang apa yang dibawa oleh Sang Pembawa Risalah..?

1. Cahaya & Kitab
“Sesungguhnya telah datang kepada kamu dari Allah, cahaya dan kitab yang menerangkan”. (QS. Al-Maaidah, ayat 15)

 Tetapi Kami menjadikan Al Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. (QS-Asy Syuura 42; 52)

Bagi yang tidak mendalami konsep energi metafisika, maka cahaya ini di artikan sekedar sebagai sebuah petunjuk atau Hidayah yang datang dari Tuhan. Namun bagi kami para ilmuwan Metafisika, tidaklah berpandangan demikian.  Cahaya yang dimaksud itu adalah sebuah energi Ilahiah yang Sumber Cahayanya berasal dari Cahaya Abadi yaitu Nur Allah. Kesimpulannya, Tuhan menurunkan dua jenis kitab. Yaitu kitab yang tidak berhuruf dan kitab yang berhuruf. Kitab yang tidak berhuruf itulah Cahaya Ilahiah Nuurun ‘ala Nuurin.

Cahaya Ilahiah inilah yang menjadi sarana bagin seorang manusia  untuk mendapatkan akses kembali kepada inti dirinya yaitu Nur Muhammad. Menjadi jembatan penghubung antara lapisan terluar dari Spektrum Energi dengan Inti Energi.Cahaya Ilahiah ini adalah sebuah energi murni, di dalamnya terkandung semua kualitas terbaik dari 99 jenis Cahaya Alam semesta.Cahaya Ilahiah ini jugalah yang mempunyai kemampuan untuk memurnikan tubuh manusia. Oleh karena itulah energi ini sangat tepat digunakan untuk kultivasi energi.

2. Cahaya Al-Furqon
Dalam terjemahan Al-Qur’an bahasa Indonesia, Al-Furqan diartikan sebagai pembeda; yang membedakan antara hak dan batil. Pada beberapa buku tafsir dijelaskan bahwa Al-Furqan ini merupakan sifat yang mempunyai potensi atau kemampuan membedakan sesuatu secara terperinci sehingga ia dapat mengungkapkan dengan jelas rahasia yang tersembunyi di balik sesuatu itu. Kalau boleh dikatakan, dia bukan saja mampu membedakan hal yang sudah jelas, misalnya antara hitam dengan putih, tetapi dia mampu membedakan yang mirip atau samar bagi kita, karena semuanya sudah terungkap dengan jelas dan terperinci sehingga tidak ada satu pun yang tertinggal dan terabaikan.

Untuk mendapatkan makna yang hakiki dari suatu kitab suci tidaklah cukup hanya dengan mengandalkan nalar dan intelektual saja, tetapi lebih dari itu, ia memerlukan perenungan yang sangat dalam. Perenungan itu tidak bisa dilampaui manusia biasa, sekalipun ia seorang professor. Manusia yang mampu melampaui perenungan itu adalah orang-orang yang memiliki maqam yang sudah melampaui batas ambang tertentu. Sampai ke tingkat para Nabi yang memiliki nilai-nilai kesucian spiritual yang sangat tinggi. Merekalah yang bisa menembus alam tempat para malaikat berkumpul sambil bersujud dan bertasbih memuji kebesaran Penciptanya.

Dengan nilai spiritual inilah, kemampuan mengungkapkan rahasia-rahasia kitab suci yang kita sebut Al-Furqan ini dapat dicapai. Al-Qur’an mengungkapkannya dalam surat Al-Baqarah ayat 53

Dan ketika Kami (Allah) berikan kepada Musa Al-Kitab dan Al-Furqan, semoga kamu mendapat petunjuk. (QS. Al-Baqarah ayat 53)
Telah kami (Allah) berikan kepada Musa dan Harun Al-Furqan. (QS. Al-Anbiya: 48).

Kita mengetahui bahwa kitab yang diberikan kepada Nabi Musa as adalah kitab taurat. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa kepada Nabi Musa pun diberikan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan isi Taurat tersebut secara benar dan dapat kita buktikan dengan melihat akhir ayat ini yang diakhiri dengan kata semoga kamu dapat petunjuk. Hal ini menunjukkan bahwa seorang Nabi atau Rasul memerlukan senjata Al-Furqan untuk mengungkapkan risalahnya (yaitu kitab suci) secara benar dan hakiki

Ayat yang lebih spesifik lagi berkenaan dengan Nabi Muhammad Saw, yaitu dalam ayat:

Dia (Allah) turunkan kepada engkau (Muhammad Saw) Al-Kitab (Al-Qur’an) dengan haq yang membenarkan apa yang terdahulu dan Dia menurunkan Taurat dan Injil sebelumnya sebagai petunjuk bagi manusia dan Dia menurunkan Al-Furqan. (QS. Ali Imran: 3-4).

Dengan bergabungnya ketiga nilai ini (Nabi, Kitab Suci, dan Al-Furqan), maka sempurnalah nilai suatu kenabian. Ketiga nilai ini, kalau mau diperumpamakan, boleh jadi ia merupakan “jembatan” atau transmitter antara alam manusia dengan alam malakut; alam dunia dengan alam gaib. Sesungguhnya apabila umat manusia ingin diantarkan untuk mencapai kesempurnaan ibadahnya, maka jembatan inilah yang akan membawa dengan selamat dalam perjalan kembali menuju Allah SWT.

Dari pembahasan ini dapat disimpulkan bahwa Al-Furqan merupakan kata kunci dalam pengungkapan semua ini. Dapat dikatakan dengan senjata Al-Furqan ini, siapapun dapat mengungkapkan segala rahasia apapun yang terkandung dalam risalah terakhir ini, baik yang terkandung dalam Al-Qur’an maupun sunnah Rasulullah Saw itu sendiri.

Dengan kebijaksanaan Allah SWT dan keadilan-Nya, walaupun tidak ada lagi pengutusan seorang Rasul, Allah tetap menurunkan Al-Furqan ini sampai hari kiamat kepada orang-orang yang dikehendaki. Artinya, tidak sembarang orang mendapatkan keistimewaan ini. Hanya orang-orang tertentu yang maqamnya sudah mencapai tingkat para nabilah yang mampu. Orang-orang ini dikenal dalam Islam dengan manusia-manusia sica atau wali-wali Allah yang disebut dengan manusia “takwa” sebagaimana yang dinyatakan Al-Qur’an: Sesungguhnya wali-wali Allah tidaklah mereka itu merasa takut dan tidak pula mereka itu bersedih, (yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka itu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63).

Manusia takwa inilah yang berhak mendapatkan keistimewaan menerima Al-Furqan. Allah menjelaskan dalam Al-Qur’an:  Hai orang yang beriman, jikalau kamu bertakwa kepada Allah, (Dia) akan menjadikan untuk kamu Al-Furqan. (QS. Al-Anfa: 29).

Tradisi Attunement
Di dalam praktek Spiritualisme Islam, Attunement atau penyelarasan getaran energi pribadi dengan Getaran Energi Ilahiah disebut dengan Tawajjuh. Yang dilakukan secara rutin seminggu sekali atau seminggu dua kali. Atau minimal 40 hari sekali. Jadi attunement tidak hanya dilakukan di saat pertama kali mengikuti Majelis Dzikir. Tradisi ini di dalam REIKI NAQS dilakukan dengan cara komunikasi jarak jauh via telfon atau bersilaturahmi langsung denngan pengasuh.

Perkembangan reiki dewasa ini sebenarnya telah jauh menyimpang dari konsep aslinya. Reiki sebenarnya adalah tradisi olah spiritual dari kaum Budhis Tibet. Dan attunement atau penyelarasan energi spiritual aslinya di sebut sebagai reiju, yang artinya “menerima energi/spirit”.  Reiju ini dilakukan oleh seorang Master atau siswa senior terhadap siswa yunior setelah menyelesaikan sebuah sesi latihan olah spiritual. Jadi REIJU tidak diberikan sekali seumur hidup, tetapi diberikan setiap selesai berlatih.

Sedangkan tradisi reiki modern memberikan Attunement hanya ketika terjadi kenaikan tingkat dan di saat pertama kali mengikuti reiki. Yang bila di hitung tidak lebih dari 3 kali. Kesalahan yang lain adalah, reiki modern lebih menitik beratkan pada praktek healing dan bukan pada praktek meditasinya itu sendiri.

Dari hal di atas, maka kualitas vibrasi getaran dari para praktisi reiki yang ada menjadi patut dipertanyakan. Benarkah itu sebuah energi Ilahiah ataukah hanya sekedar energi tenaga dalam saja..?

BIBIT CAHAYA IMAN
Di saat pertama kali siswa NAQS memperoleh attunement, bibit cahaya Ilahiah telah ditanamkan di dalam Qalbunya. Dan menjadi tugas siswa yang bersangkutan untuk merawat dengan baik bibit tersebut sehingga dapat tumbuh dan bertunas.

Ketika getaran Energi Ilahiah sudah mulai bisa ditangkap oleh kesadarannya, maka kejadian inilah yang disebut kelahiran  NAQS awal atau bibitnya telah bertunas. Namun intensitas getarannya masih lemah serta terkadang masih timbul tenggelam. Oleh karena itu siswa harus semakin rajin untuk melatih meditasi  dzikirnya sehingga getarannya semakin meningkat intensitasnya serta dapat terjaga selama 24 jam penuh.

Namun bagi siswa yang masih juga belum terlahir NAQS awalnya, tidaklah perlu bersedih hati dan berputus asa. Namun bersikaplah ikhlas menerima keadaan itu, serta serahkan sepenuhynya hal itu kepada Tuhan. Serta sering-seringlah berkomunikasi dengan pengasuh.

Lambatnya kelahiran NAQS AWAL itu biasanya disebabkan oleh adanya suatu penyakit di dalam diri, sehingga energi Ilahiah lebih fokus untuk menyembuhkan kesehatan dari siswa. Energi Ilahiah adalah sebuah energi murni yang bersifat belum terpolarisasi. Sehingga ketika dia masuk ke dalam tubuh, maka dia akan menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh serta menyeimbangkan kondisi kesehatan siswa secara holistik lahir dan batin.

SISTEM KULTIVASI
Inti dari Reiki NAQS adalah membangun sistem kultivasi di dalam diri manusia, yang bermanfaat untuk menjaga kesehatan dirinya lahir bathin serta meningkatkan derajat spiritualitasnya. Oleh karena itu fokus dari REIKI NAQS adalah pada upaya latihan kultivasinya. Sedangkan untuk aplikasi penyembuhan bagi dirinya sendiri baru dapat di lakukan setelah NAQS awal telah muncul. Sedangkan penyembuhan untuk orang lain baru boleh dilakukan ketika telah berlatih Meditasi Kultivasi 1.

Secara keseluruhan, waktu yang dibutuhakan untuk menyelesaikan PELATIHAN REIKI NAQS adalah sekitar 3 minggu s/d 1 bulan. Yang untuk selanjutnya siswa dapat melanjutkan latihannya secara mandiri.

Reiki Tingkat Master saat ini belum dibuka. Karena energi kultivasi bukanlah energi tenaga dalam atau energi natural yang lainnya. Hanya siswa yang telah teruji kualifikasinya saja yang dapat mengikuti latihan tingkat master. Lagipula Reiki NAQS tidak menjadikan tingkatan sebagai sebuah tujuan. Namun berbuat dan berkarya yang terbaik bagi umat manusia demi terwujudnya sebuah dunia yang penuh Cinta Kasih dan perdamaian. Dan itu harus dimulai dari diri kita sendiri mulai saat ini juga.

Langkah untuk menumbuhkan Kedamaian Diri :
1. Memaafkan diri sendiri dan orang lain.
2. Ikhlas menerima diri sendiri dan orang lain apa adanya.
3. Mengembalikan semua urusan kepadaNya.
4. Pasrah sepenuhnya kepadaNya untuk perbaikan dari situasi dan keadaan yang dialami.
5. Bersabar dalam menjalani proses pemulihan diri.
6. Bersyukur untuk setiap kemajuan yang di alami, walaupun cuma sedikit.

“Bila perlu berusahalah tersenyum dalam menghadapi situasi sesulit apa pun. Ada saat-saat di mana kita harus pasrah dan tertawa. Humor dalam hidup ini sangat penting. Jangan lupa bahwa hal-hal sederhana ini dapat membantu Anda mempertahankan perspektif,” kata Dale Carnegie, pendiri Dale Carnegie & Associates.

LAMPIRAN :

لاَ إِلَهَ إِلاَّ الل
(La Ilaha Illallah)
Tidak ada Tuhan selain Allah

Makna La Ilaha Illallah adalah Tiada Sesembahan yang berhak untuk Disembah/diibadahi selain Allah atau dengan kata lain Tiada sesembahan yang benar kecuali Allah.

لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ
(lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh)
~ TIDAK ADA DAYA DAN UPAYA KECUALI DENGAN PERTOLONGAN ALLAH ~

Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ قَالَ: أَوْصَانِيْ خَلِيْلِي بِسَبْعٍ : بِحُبِّ الْمَسَاكِيْنِ وَأَنْ أَدْنُوَ مِنْهُمْ، وَأَنْ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ أَسْفَلُ مِنِّي وَلاَ أَنْظُرَ إِلَى مَنْ هُوَ فَوقِيْ، وَأَنْ أَصِلَ رَحِمِيْ وَإِنْ جَفَانِيْ، وَأَنْ أُكْثِرَ مِنْ لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، وَأَنْ أَتَكَلَّمَ بِمُرِّ الْحَقِّ، وَلاَ تَأْخُذْنِيْ فِي اللهِ لَوْمَةُ لاَئِمٍ، وَأَنْ لاَ أَسْأَلَ النَّاسَ شَيْئًا.

Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal:
(1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka,
(2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku,
(3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku,
(4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah),
(5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit,
(6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan
(7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”.

Mengapa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kalimat lâ haulâ wa lâ quwwata illâ billâh?

Jawabannya, agar kita melepaskan diri kita dari segala apa yang kita merasa mampu untuk melakukannya, dan kita serahkan semua urusan kepada Allah. Sesungguhnya yang dapat menolong dalam semua aktivitas kita hanyalah Allah Ta’ala, dan ini adalah makna ucapan kita setiap kali melakukan shalat,

“Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan”. [al-Fâtihah/1:5].

Dan kalimat ini, adalah makna dari doa yang sering kita ucapkan dalam akhir shalat kita:

اَللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

“Ya Allah, tolonglah aku agar dapat berdzikir kepada-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu” [1].

Pada hakikatnya seorang hamba tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang penuntut ilmu tidak akan mungkin duduk di majlis ilmu, melainkan dengan pertolongan Allah. Seorang guru tidak akan mungkin dapat mengajarkan ilmu yang bermanfaat, melainkan dengan pertolongan Allah. Begitupun seorang pegawai, tidak mungkin dapat bekerja melainkan dengan pertolongan Allah.

Seorang hamba tidak boleh sombong dan merasa bahwa dirinya mampu untuk melakukan segala sesuatu. Seorang hamba seharusnya menyadari bahwa segala apa yang dilakukannya semata-mata karena pertolongan Allah. Sebab, jika Allah tidak menolong maka tidak mungkin dia melakukan segala sesuatu. Artinya, dengan mengucapkan kalimat ini, seorang hamba berarti telah menunjukkan kelemahan, ketidakmampuan dirinya, dan menunjukkan bahwa ia adalah orang yang sangat membutuhkan pertolongan Allah.

Semasa peristiwa Israk Mikraj, kepada Rasulullah S.A.W., Nabi Ibrahim A.S. bersabda, “Engkau akan berjumpa dengan Allah pada malam ini. Umatmu adalah akhir umat dan terlalu dha’if, maka berdoalah untuk umatmu. Suruhlah umatmu menanam tanaman syurga iaitu LA HAULA WALA QUWWATA ILLA BILLAH.

Bahkan Allah jugalah yang memperjalankan Rasulullah s.a.w. pada malam itu. Tidak ada daya dan kekuatan melainkan daripadaNYa.

Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah diberkahi sekelilingnya oleh Allah agar Kami perhatikan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kekuasaan) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat” (QS Al Isra:1).

[1]. Hadits shahîh. Diriwayatkan oleh Abu Dawud (no. 1522), an-Nasâ`i (III/53), Ahmad (V/245), dan al-Hakim (I/173, III/273) beliau menshahîhkannya, dan disepakati oleh adz-Dzahabi.

>KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

>

Manusia memiliki dua tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik, yaitu: Pertama, manusia sebagai hamba (‘abid), di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan; Kedua, manusia sebagai khalifah, di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk. Tidak akan sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifah. Begitu juga sebaliknya, tidak akan sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah.

Tidak dibenarkan orang yang taat kepada Allah, sementara dia mengabaikan problematika sosial kemasyarakatan. Demikian juga, tidak dibenarkan orang yang selalu memperhatikan urusan sosial kemasyarakatan, sementara dia tidak pernah menjalin hubungan personal dengan Tuhannya. Islam menghendaki umatnya agar memiliki hubungan kepada Allah yang baik, juga memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Kekhawatiran Malaikat
Malaikat memberikan peringatan kepada kita bahwa sekufur apapun seorang manusia itu tidak akan pernah menjadi kafir mutlak. Sekufur apapun seorang atheis, pasti dalam jiwanya ada sisi-sisi ketuhanan. Oleh karena itu, malaikat tidak meragukan apakah manusia itu bisa berhubungan langsung kepada Tuhan atau tidak, karena itu sebuah kemutlakan. Akan tetapi, malaikat menyangsikan kemampuan manusia akan bisa sukses menjadi khalifah di muka bumi ini.

Allah Swt. menyatakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyampaikan maksudnya akan menciptakan mahluk pendatang baru (manusia), maka Malaikat langsung merasa keberatan terhadap dua hal, yaitu: Pertama, bukankah manusia itu bisa menyebabkan perusakan lingkungan di muka bumi; Kedua, bukankah manusia itu bisa melahirkan pertumpahan darah antar sesamanya.

Ayat ini agaknya cukup relevan dengan kondisi saat ini. Bencana alam dan problematika sosial kemasyarakatam yang terjadi agaknya membenarkan kekhawatiran Malaikat itu. Kita baru saja menyaksikan peristiwa longsor dan banjir di sebagian wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, gempa bumi di sebagian pulau Bali dan Nusa Tenggara baru-baru ini, konflik yang tiada henti di propinsi Aceh, dan berbagai konflik etnis di sebagian daerah Indonesia lainnya beberapa tahun yang lalu. Semua itu sedikit banyak membenarkan apa yang disampaikan Malaikat di atas.

Kata Kunci Sukses
Bagaimana menciptakan manusia yang sukses, baik dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Ada sebuah statement yang seringkali dihafal dan dibaca oleh kita sebagai kata kunci untuk sukses, yakni lafadz bismillahirrahmanirrahim (basmalah).

Rasulullah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca basmalah. Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya pun sangat akrab dengan basmalah. Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur. Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim. Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca basmalah. Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk.

Intisari Basmalah
Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah. Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Tuhan di muka bumi. Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Tuhan di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya. Itulah rahasia manusia sebagai ahsan at-taqwim, mahluk yang termulia.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah Swt. Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz basmalah, misalnya dalam menentukan sebuah keputusan yang diambil. Jadi, bismillahirrahmanirrahim adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama kita, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.

Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah. Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah bismillahirrahmanirrahim. Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ar-rahman dan ar-rahim. Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu rahima yang berarti “cinta kasih”. Dengan demikian, makna dibalik lafadz basmalah adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”. Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.

Allah ternyata menggunakan lafadz basmalah, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz basmalah, yakni dengan penuh kasih sayang.

Kita seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah-tengah hutan, yang terbayang dalam benak kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa dollar yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut. Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong daerah resapan air, yang terlintas di pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa juta yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun.

Inti bismillahirrahmanirrahim adalah bagaimana kita bisa menginternalisasikan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap perbuatan. Kenapa Tuhan tidak begitu saja menyiksa orang-orang yang kafir terhadap-Nya? Tiada lain, karena Tuhan lebih dominan menunjukkan diri-Nya sebagai Maha Penyayang daripada Maha Pembalas Dendam. Nilai inilah yang patut ditiru.

Akhirnya, posisi kita sebagai khalifah di muka bumi hendaknya berpegang teguh pada konsep basmalah. Sebuah konsep yang tidak saja meniscayakan sekedar ucapan biasa, tetapi implementasi dalam setiap perbuatan kita. Bârakallâhu lî wa lakum, wallâhu a’lam bishshawwâb.

Sumber :
Ditulis oleh Ustadz Nasaruddin Umar.

KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

Manusia memiliki dua tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik, yaitu: Pertama, manusia sebagai hamba (‘abid), di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan; Kedua, manusia sebagai khalifah, di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk. Tidak akan sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifah. Begitu juga sebaliknya, tidak akan sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah.

Tidak dibenarkan orang yang taat kepada Allah, sementara dia mengabaikan problematika sosial kemasyarakatan. Demikian juga, tidak dibenarkan orang yang selalu memperhatikan urusan sosial kemasyarakatan, sementara dia tidak pernah menjalin hubungan personal dengan Tuhannya. Islam menghendaki umatnya agar memiliki hubungan kepada Allah yang baik, juga memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Kekhawatiran Malaikat
Malaikat memberikan peringatan kepada kita bahwa sekufur apapun seorang manusia itu tidak akan pernah menjadi kafir mutlak. Sekufur apapun seorang atheis, pasti dalam jiwanya ada sisi-sisi ketuhanan. Oleh karena itu, malaikat tidak meragukan apakah manusia itu bisa berhubungan langsung kepada Tuhan atau tidak, karena itu sebuah kemutlakan. Akan tetapi, malaikat menyangsikan kemampuan manusia akan bisa sukses menjadi khalifah di muka bumi ini.

Allah Swt. menyatakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyampaikan maksudnya akan menciptakan mahluk pendatang baru (manusia), maka Malaikat langsung merasa keberatan terhadap dua hal, yaitu: Pertama, bukankah manusia itu bisa menyebabkan perusakan lingkungan di muka bumi; Kedua, bukankah manusia itu bisa melahirkan pertumpahan darah antar sesamanya.

Ayat ini agaknya cukup relevan dengan kondisi saat ini. Bencana alam dan problematika sosial kemasyarakatam yang terjadi agaknya membenarkan kekhawatiran Malaikat itu. Kita baru saja menyaksikan peristiwa longsor dan banjir di sebagian wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, gempa bumi di sebagian pulau Bali dan Nusa Tenggara baru-baru ini, konflik yang tiada henti di propinsi Aceh, dan berbagai konflik etnis di sebagian daerah Indonesia lainnya beberapa tahun yang lalu. Semua itu sedikit banyak membenarkan apa yang disampaikan Malaikat di atas.

Kata Kunci Sukses
Bagaimana menciptakan manusia yang sukses, baik dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Ada sebuah statement yang seringkali dihafal dan dibaca oleh kita sebagai kata kunci untuk sukses, yakni lafadz bismillahirrahmanirrahim (basmalah).

Rasulullah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca basmalah. Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya pun sangat akrab dengan basmalah. Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur. Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim. Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca basmalah. Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk.

Intisari Basmalah
Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah. Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Tuhan di muka bumi. Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Tuhan di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya. Itulah rahasia manusia sebagai ahsan at-taqwim, mahluk yang termulia.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah Swt. Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz basmalah, misalnya dalam menentukan sebuah keputusan yang diambil. Jadi, bismillahirrahmanirrahim adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama kita, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.

Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah. Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah bismillahirrahmanirrahim. Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ar-rahman dan ar-rahim. Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu rahima yang berarti “cinta kasih”. Dengan demikian, makna dibalik lafadz basmalah adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”. Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.

Allah ternyata menggunakan lafadz basmalah, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz basmalah, yakni dengan penuh kasih sayang.

Kita seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah-tengah hutan, yang terbayang dalam benak kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa dollar yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut. Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong daerah resapan air, yang terlintas di pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa juta yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun.

Inti bismillahirrahmanirrahim adalah bagaimana kita bisa menginternalisasikan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap perbuatan. Kenapa Tuhan tidak begitu saja menyiksa orang-orang yang kafir terhadap-Nya? Tiada lain, karena Tuhan lebih dominan menunjukkan diri-Nya sebagai Maha Penyayang daripada Maha Pembalas Dendam. Nilai inilah yang patut ditiru.

Akhirnya, posisi kita sebagai khalifah di muka bumi hendaknya berpegang teguh pada konsep basmalah. Sebuah konsep yang tidak saja meniscayakan sekedar ucapan biasa, tetapi implementasi dalam setiap perbuatan kita. Bârakallâhu lî wa lakum, wallâhu a’lam bishshawwâb.

Sumber :
Ditulis oleh Ustadz Nasaruddin Umar.

>KUNCI SUKSES MANUSIA SEBAGAI KHALIFAH

>

Manusia memiliki dua tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan baik, yaitu: Pertama, manusia sebagai hamba (‘abid), di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara vertikal dengan Tuhan; Kedua, manusia sebagai khalifah, di mana manusia dituntut untuk sukses menjalin hubungan secara horizontal dengan sesama mahluk. Tidak akan sukses sebagai hamba, jika seseorang gagal dalam menjalani tugasnya sebagai khalifah. Begitu juga sebaliknya, tidak akan sukses sebagai khalifah, jika seseorang gagal menjalin hubungan sebagai hamba dengan Tuhan. Manusia yang paripurna atau manusia seutuhnya (insan kamil) adalah orang yang sukses sebagai hamba juga sebagai khalifah.

Tidak dibenarkan orang yang taat kepada Allah, sementara dia mengabaikan problematika sosial kemasyarakatan. Demikian juga, tidak dibenarkan orang yang selalu memperhatikan urusan sosial kemasyarakatan, sementara dia tidak pernah menjalin hubungan personal dengan Tuhannya. Islam menghendaki umatnya agar memiliki hubungan kepada Allah yang baik, juga memiliki perhatian terhadap berbagai persoalan kemasyarakatan.

Kekhawatiran Malaikat
Malaikat memberikan peringatan kepada kita bahwa sekufur apapun seorang manusia itu tidak akan pernah menjadi kafir mutlak. Sekufur apapun seorang atheis, pasti dalam jiwanya ada sisi-sisi ketuhanan. Oleh karena itu, malaikat tidak meragukan apakah manusia itu bisa berhubungan langsung kepada Tuhan atau tidak, karena itu sebuah kemutlakan. Akan tetapi, malaikat menyangsikan kemampuan manusia akan bisa sukses menjadi khalifah di muka bumi ini.

Allah Swt. menyatakan: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di dalamnya, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al-Baqarah [2]: 30).

Ayat di atas menjelaskan bahwa ketika Tuhan menyampaikan maksudnya akan menciptakan mahluk pendatang baru (manusia), maka Malaikat langsung merasa keberatan terhadap dua hal, yaitu: Pertama, bukankah manusia itu bisa menyebabkan perusakan lingkungan di muka bumi; Kedua, bukankah manusia itu bisa melahirkan pertumpahan darah antar sesamanya.

Ayat ini agaknya cukup relevan dengan kondisi saat ini. Bencana alam dan problematika sosial kemasyarakatam yang terjadi agaknya membenarkan kekhawatiran Malaikat itu. Kita baru saja menyaksikan peristiwa longsor dan banjir di sebagian wilayah Jawa, Sumatera, dan Kalimantan, gempa bumi di sebagian pulau Bali dan Nusa Tenggara baru-baru ini, konflik yang tiada henti di propinsi Aceh, dan berbagai konflik etnis di sebagian daerah Indonesia lainnya beberapa tahun yang lalu. Semua itu sedikit banyak membenarkan apa yang disampaikan Malaikat di atas.

Kata Kunci Sukses
Bagaimana menciptakan manusia yang sukses, baik dalam menjalankan tugasnya sebagai hamba maupun sebagai khalifah. Ada sebuah statement yang seringkali dihafal dan dibaca oleh kita sebagai kata kunci untuk sukses, yakni lafadz bismillahirrahmanirrahim (basmalah).

Rasulullah bersabda, apapun yang akan kita lakukan hendaknya membaca basmalah. Bahkan, tidak hanya Rasulullah, para Nabi sebelumnya pun sangat akrab dengan basmalah. Ketika membuat perahu di atas bukit, di mana saat itu belum ada mesin, Nabi Nuh As. membaca basmalah, yakni bismillahi majraha wa mursaha, dan langsung perahu itu meluncur. Dalam riwayat lain disebutkan, pegangan tongkat Nabi Musa As. terdapat ukiran yang bertuliskan bismillahirrahmanirrahim. Ketika menghidupkan orang mati, Nabi Isa As. membaca basmalah. Begitu juga, yang digunakan oleh Nabi Sulaiman As. untuk menundukkan jiwa Ratu Balqis adalah basmalah, dan Ratu Balqis pun langsung takluk.

Intisari Basmalah
Jika kita melakukan sesuatu dengan menyebut nama Allah, berarti kita mengatasnamakan perbuatan kita kepada-Nya, jadi seakan-akan kita mewakili Allah. Ini sesuai dengan arti khalifah sendiri, yaitu representasi Tuhan di muka bumi. Satu-satunya mahluk yang diciptakan khusus untuk menjadi wakil (representasi) Tuhan di alam raya ini adalah manusia, bukan malaikat, jin, dan bukan pula mahluk lainnya. Itulah rahasia manusia sebagai ahsan at-taqwim, mahluk yang termulia.

Oleh karena itu, kita harus hati-hati setiap melakukan sesuatu. Sebab, apapun yang kita lakukan itu mengatasnamakan Allah Swt. Apapun yang kita lakukan hendaknya mengimplementasikan lafadz basmalah, misalnya dalam menentukan sebuah keputusan yang diambil. Jadi, bismillahirrahmanirrahim adalah satu kunci sukses yang diajarkan oleh agama kita, baik sebagai hamba (‘abid) maupun sebagai khalifah.

Dalam buku-buku tasawuf dijelaskan bahwa kandungan pokok al-Quran terdapat pada surat al-Fatihah. Pada surat itu, kalimat yang paling penting adalah bismillahirrahmanirrahim. Dalam kalimat itu, kata yang paling inti adalah ar-rahman dan ar-rahim. Dua kata tersebut berakar dari kata yang sama, yaitu rahima yang berarti “cinta kasih”. Dengan demikian, makna dibalik lafadz basmalah adalah “kerjakanlah semua perbuatan itu dengan penuh cinta kasih”. Sebab, di dalam “cinta kasih” pasti terkandung unsur keikhlasan, niat yang baik, ketenangan, tidak ada dendam, tidak ada pamrih yang berlebihan, dan tidak atas dasar motivasi yang berjangka pendek, tetapi mengupayakan yang abadi dan universal.

Allah ternyata menggunakan lafadz basmalah, tidak dengan sebutan lafadz-lafadz lain, seperti al-‘aziz, al-ghafar, dan sebagainya. Ini menunjukkan bahwa dalam mengelola alam raya, sebagai konsekuensi sebagai khalifah, kita harus menyandarkan pada lafadz basmalah, yakni dengan penuh kasih sayang.

Kita seringkali tidak melandaskan pada kasih sayang dalam menentukan keputusan. Begitu melihat pohon raksasa di tengah-tengah hutan, yang terbayang dalam benak kita berapa meter kubik kayu yang bisa diambil dan berapa dollar yang bisa diraup jika diekspor, dengan tanpa pernah mempertimbangkan berapa banyak habitat hewan dan tumbuhan yang hidupnya tergantung pada pohon tersebut. Begitu pula ketika kita melihat hamparan tanah kosong daerah resapan air, yang terlintas di pikiran kita berapa kavling rumah yang bisa dibangun dan berapa juta yang didapat bila dijual atau disewakan, dengan tanpa pernah sedikitpun mempertimbangkan efeknya terhadap keseimbangan ekosistem di lingkungan tersebut, sehingga terjadi banjir suatu waktu karena tanah tidak lagi bisa meresapkan air hujan yang turun.

Inti bismillahirrahmanirrahim adalah bagaimana kita bisa menginternalisasikan sifat kasih sayang Tuhan dalam setiap perbuatan. Kenapa Tuhan tidak begitu saja menyiksa orang-orang yang kafir terhadap-Nya? Tiada lain, karena Tuhan lebih dominan menunjukkan diri-Nya sebagai Maha Penyayang daripada Maha Pembalas Dendam. Nilai inilah yang patut ditiru.

Akhirnya, posisi kita sebagai khalifah di muka bumi hendaknya berpegang teguh pada konsep basmalah. Sebuah konsep yang tidak saja meniscayakan sekedar ucapan biasa, tetapi implementasi dalam setiap perbuatan kita. Bârakallâhu lî wa lakum, wallâhu a’lam bishshawwâb.

Sumber :
Ditulis oleh Ustadz Nasaruddin Umar.

>Evolusi dan Insan Kamil

>

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” [Q.S. al-Israa’ 17:70]

Sebagai makhluk yang sempurna berarti manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling berevolusi di muka bumi ini. Organisme yang paling mampu mengendalikan lingkungan dan organisme yang lain, serta paling mampu menjamin kelangsungan hidupnya dan paling mampu melakukan pelestarian dirinya. Pemahaman kita sekarang tentang evolusi merupakan hasil dari kenyataan bahwa kita telah berevolusi hingga sekarang dengan cara mengeksplorasi realitas fisik melalui panca indera. Melalui panca indera kita mengetahui bahwa setiap tindakan merupakan sebab yang berakibat.

Ketika lingkungan fisik dilihat hanya dari sudut pandang panca indera, kelangsungan hidup fisik tampak menjadi kriteria evolusi yang mendasar, karena tidak ada jenis evolusi lain yang dapat dikenali. Ketika persepsi dunia fisik terbatas pada persepsi panca indera, dasar kehidupan dalam arena fisik adalah rasa takut.

Kekuatan untuk mengendalikan lingkungan, dan semua yang berada pada lingkungan itu tampak menjadi esensial.

Kebutuhan pada kekuatan fisik menghasilkan suatu jenis kompetisi yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Kebutuhan itu mempengaruhi hubungan antar teman, antar kekasih, antar negara, antar ras, antar jenis kelamin. Kekuatan eksternal ini dapat diperoleh dan dapat pula menghilang.

Persepsi tentang kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal telah membentuk struktur kehidupan dan ekonomi kita. Uang merupakan simbol kekuatan eksternal. Orang yang memiliki uang terbanyak memiliki kemampuan terbesar untuk mengendalikan lingkungan beserta isinya. Pendidikan, status sosial, ketenaran dan barang-barang yang dapat dimiliki lainnya, jika dipandang dari pengertian peningkatan keamanan, merupakan simbol-simbol kekuatan eksternal. Rasa takut merupakan akibat dari cara memandang kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal.

Perebutan untuk memperoleh kekuatan eksternal merupakan inti semua kekerasan. Inti sekunder dibalik konflik ideologis, seperti kapitalisme melawan komunisme, konflik keagamaan dan geografis, serta konflik keluarga dan perkawinan, tak lain adalah kekuatan eksternal.

Dari dinamika ini, kita menemukan pemahaman kita sekarang tentang evolusi sebagai proses peningkatan kemampuan secara terus-menerus untuk menguasai lingkungan dan pihak lain. Definisi ini mencerminkan keterbatasan pemahaman dunia fisik hanya dengan menggunakan panca indera. Definisi itu mencerminkan perebutan kekuatan eksternal yang diakibatkan oleh rasa takut.

Fenomena munculnya aliran-aliran yang dianggap “sesat” belakangan ini mungkin merupakan pencarian manusia akan makna yang lebih mendalam atau mungkin juga hanya usaha-usaha alternatif manusia atau sekelompok manusia untuk memperoleh kekuatan eksternal. Manusia  yang menyatakan aliran lain yang memiliki kepercayaan yang berseberangan dengannya merupakan aliran sesat, juga tidak kalah sesatnya. Mereka semua tersesat dalam perebutan kekuatan eksternal. Jika kita masih menganggap diri kita lebih eksklusif, lebih suci, lebih berpengetahuan daripada orang lain maka kitapun masih tersesat.

Setelah melewati berbagai kebrutalan, baik antar individu maupun antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, sekarang menjadi jelas bahwa rasa tidak aman yang mendasari persepsi kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal tidak dapat disembuhkan dengan cara mengumpulkan kekuatan eksternal. Kita harus memperluas dan memperdalam pemahaman kita yang akan menuntun kita pada suatu jenis kekuatan lain, yaitu kekuatan cinta kasih, kekuatan yang tidak menghakimi apapun yang dihadapinya, kekuatan yang menghargai kebermaknaan dan tujuan dari segala rincian hal-hal terkecil yang ada di bumi.

Kekuatan cinta kasih berakar pada sumber terdalam dari keberadaan kita. Seseorang yang digerakkan oleh kekuatan ini tidak mampu menjadikan siapapun atau apapun sebagai korban, dan orang ini sedemikian kuat, sedemikian berkuasa, sehingga tidak pernah terlintas dalam kesadarannya untuk menggunakan kekerasan pada orang lain.

Bunda Theresa pernah berkata : “Kita tidak dapat melakukan hal-hal yang besar, yang dapat kita lakukan adalah melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar”. Kehidupan umat manusia telah dibentuk secara mengagumkan oleh kekuasaan dan cinta dari Dia yang bersedia “menyerahkan hidupnya” untuk orang lain. Karena itu Dia merupakan salah satu diantara spesies manusia yang paling berevolusi.

Transformasi, membawa pemahaman kita tentang evolusi dari evolusi fisik menjadi evolusi spiritual. Dengan bercermin pada pemahaman tentang evolusi yang baru dan lebih luas, pemahaman yang dapat memvalidasi kebenaran terdalam kita, kita dapat melihat arah dan arti evolusi itu dalam pengertian apa yang kita alami, apa yang kita hargai, dan bagaimana kita bertindak.

Kesadaran atau pencerahan adalah sebuah rahmat. Kita tidak dapat mengundang pencerahan itu. Bagaikan sedang kegerahan di dalam kamar, kita harus membuka jendela kamar kita agar angin sepoi-sepoi dapat masuk dan menyegarkan kita, tetapi kita tidak dapat mengundang angin itu untuk datang. Usaha yang dapat kita lakukan sekedar membuka jendela dan membiarkan angin itu masuk. Rahmat Ilahi bagaikan angin yang melimpah di alam semesta ini. Melaksanakan latihan spiritual, ibadah, ubudiyah dan kegiatan lain yang dianjurkan oleh-Nya adalah salah satu upaya untuk membuka jendela hati kita agar rahmat Allah dapat masuk.

Evolusi Spiritual Adalah Potensi Manusia yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk yang lain. Pohon dan tumbuhan, misalnya, adalah hampir tidak giat. Mereka termasuk kategori ‘kesadaran tertutup’. Namun, ketika kita mengamati mereka secara seksama, kita akan melihat bahwa mereka memiliki kesadaran yang terbatas. Jagadish Chandra Bose memberitakan bahwa tumbuh-tumbuhan memiliki kesadaran.44 Entitas hidup yang lain, seperti cacing atau ulat, serangga, dan binatang-binatang yang lain berada dalam “kesadaran mengkerut.’ Mereka tidak tertutup seperti tumbuh-tumbuhan, akan tetapi juga kesadaran mereka tidak berkembang sepenuhnya.

Manusia memiliki ‘bibit kesadaran Ilahiah yang masih kuncup’. Sebuah pucuk kuncup nampaknya mengkerut, namun ia berpotensi untuk menjadi sekuntum bunga mekar. Kesadaran manusia memiliki potensi yang serupa. Jadi, umat manusia memiliki kemampuan bawaan untuk mengembangkan kesadaran sampai batas hampir tak terhingga, hingga titik mengetahui Kebenaran Mutlak. Spesies yang lain tidak memiliki kemampuan khusus ini. Itulah sebabnya Allah mempermaklumkan bahwa bentuk kehidupan manusia adalah yang paling tinggi, Insan Kamil khususnya dimaksudkan bagi bentuk kehidupan manusia.

Kesadaran terus mengalami perkembangan dengan cara seperti ini karena tujuan kehidupan adalah untuk mencapai keadaan kesadaran Ilahiah. Jadi kehidupan adalah berbeda dengan badan-badan material yang ditempatinya. Dalam bentuk kehidupan manusia, ketika seseorang dengan tulus mulai bertanya tentang Allah, Kebenaran Mutlak, maka kesadaran spiritualnya yang seperti pucuk kuncup mulai mengalami perkembangan. Itulah keadaan kesadaran yang ‘mulai mekar.’ Ketika dia mempraktekkan disiplin-spiritual yang teratur sebagai hasil dari pertanyaannya, dia akan berkembang terus dan terus. Akhirnya, dia akan mencapai realisasi trancendental (keinsyafan rohani), kesadaran Tuhan yang sempurna, keadaan kesadaran yang ‘mekar sepenuhnya’.

Pengetahuan ilmiah untuk mencari Kebenaran Mutlak akan menjadi sebuah perjalanan spiritual. Albert Einstein pernah menyatakan, “Hal yang penting adalah bukanlah untuk berhenti bertanya. Keingin-tahuan memiliki alasan tersendiri atas keberadaanya. Orang tak dapat berbuat apa-apa kecuali kagum dan terpesona ketika kita merenungkan misteri kekekalan, kehidupan, struktur realitas yang mengagumkan. Cukup jika seseorang semata-mata berusaha untuk memahami sedikit saja dari misteri-misteri ini setiap hari.”

Evolusi dan Insan Kamil

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rejeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” [Q.S. al-Israa’ 17:70]

Sebagai makhluk yang sempurna berarti manusia dikatakan sebagai makhluk yang paling berevolusi di muka bumi ini. Organisme yang paling mampu mengendalikan lingkungan dan organisme yang lain, serta paling mampu menjamin kelangsungan hidupnya dan paling mampu melakukan pelestarian dirinya. Pemahaman kita sekarang tentang evolusi merupakan hasil dari kenyataan bahwa kita telah berevolusi hingga sekarang dengan cara mengeksplorasi realitas fisik melalui panca indera. Melalui panca indera kita mengetahui bahwa setiap tindakan merupakan sebab yang berakibat.

Ketika lingkungan fisik dilihat hanya dari sudut pandang panca indera, kelangsungan hidup fisik tampak menjadi kriteria evolusi yang mendasar, karena tidak ada jenis evolusi lain yang dapat dikenali. Ketika persepsi dunia fisik terbatas pada persepsi panca indera, dasar kehidupan dalam arena fisik adalah rasa takut.

Kekuatan untuk mengendalikan lingkungan, dan semua yang berada pada lingkungan itu tampak menjadi esensial.

Kebutuhan pada kekuatan fisik menghasilkan suatu jenis kompetisi yang mempengaruhi setiap aspek kehidupan kita. Kebutuhan itu mempengaruhi hubungan antar teman, antar kekasih, antar negara, antar ras, antar jenis kelamin. Kekuatan eksternal ini dapat diperoleh dan dapat pula menghilang.

Persepsi tentang kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal telah membentuk struktur kehidupan dan ekonomi kita. Uang merupakan simbol kekuatan eksternal. Orang yang memiliki uang terbanyak memiliki kemampuan terbesar untuk mengendalikan lingkungan beserta isinya. Pendidikan, status sosial, ketenaran dan barang-barang yang dapat dimiliki lainnya, jika dipandang dari pengertian peningkatan keamanan, merupakan simbol-simbol kekuatan eksternal. Rasa takut merupakan akibat dari cara memandang kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal.

Perebutan untuk memperoleh kekuatan eksternal merupakan inti semua kekerasan. Inti sekunder dibalik konflik ideologis, seperti kapitalisme melawan komunisme, konflik keagamaan dan geografis, serta konflik keluarga dan perkawinan, tak lain adalah kekuatan eksternal.

Dari dinamika ini, kita menemukan pemahaman kita sekarang tentang evolusi sebagai proses peningkatan kemampuan secara terus-menerus untuk menguasai lingkungan dan pihak lain. Definisi ini mencerminkan keterbatasan pemahaman dunia fisik hanya dengan menggunakan panca indera. Definisi itu mencerminkan perebutan kekuatan eksternal yang diakibatkan oleh rasa takut.

Fenomena munculnya aliran-aliran yang dianggap “sesat” belakangan ini mungkin merupakan pencarian manusia akan makna yang lebih mendalam atau mungkin juga hanya usaha-usaha alternatif manusia atau sekelompok manusia untuk memperoleh kekuatan eksternal. Manusia  yang menyatakan aliran lain yang memiliki kepercayaan yang berseberangan dengannya merupakan aliran sesat, juga tidak kalah sesatnya. Mereka semua tersesat dalam perebutan kekuatan eksternal. Jika kita masih menganggap diri kita lebih eksklusif, lebih suci, lebih berpengetahuan daripada orang lain maka kitapun masih tersesat.

Setelah melewati berbagai kebrutalan, baik antar individu maupun antara satu kelompok dengan kelompok lainnya, sekarang menjadi jelas bahwa rasa tidak aman yang mendasari persepsi kekuatan sebagai sesuatu yang bersifat eksternal tidak dapat disembuhkan dengan cara mengumpulkan kekuatan eksternal. Kita harus memperluas dan memperdalam pemahaman kita yang akan menuntun kita pada suatu jenis kekuatan lain, yaitu kekuatan cinta kasih, kekuatan yang tidak menghakimi apapun yang dihadapinya, kekuatan yang menghargai kebermaknaan dan tujuan dari segala rincian hal-hal terkecil yang ada di bumi.

Kekuatan cinta kasih berakar pada sumber terdalam dari keberadaan kita. Seseorang yang digerakkan oleh kekuatan ini tidak mampu menjadikan siapapun atau apapun sebagai korban, dan orang ini sedemikian kuat, sedemikian berkuasa, sehingga tidak pernah terlintas dalam kesadarannya untuk menggunakan kekerasan pada orang lain.

Bunda Theresa pernah berkata : “Kita tidak dapat melakukan hal-hal yang besar, yang dapat kita lakukan adalah melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar”. Kehidupan umat manusia telah dibentuk secara mengagumkan oleh kekuasaan dan cinta dari Dia yang bersedia “menyerahkan hidupnya” untuk orang lain. Karena itu Dia merupakan salah satu diantara spesies manusia yang paling berevolusi.

Transformasi, membawa pemahaman kita tentang evolusi dari evolusi fisik menjadi evolusi spiritual. Dengan bercermin pada pemahaman tentang evolusi yang baru dan lebih luas, pemahaman yang dapat memvalidasi kebenaran terdalam kita, kita dapat melihat arah dan arti evolusi itu dalam pengertian apa yang kita alami, apa yang kita hargai, dan bagaimana kita bertindak.

Kesadaran atau pencerahan adalah sebuah rahmat. Kita tidak dapat mengundang pencerahan itu. Bagaikan sedang kegerahan di dalam kamar, kita harus membuka jendela kamar kita agar angin sepoi-sepoi dapat masuk dan menyegarkan kita, tetapi kita tidak dapat mengundang angin itu untuk datang. Usaha yang dapat kita lakukan sekedar membuka jendela dan membiarkan angin itu masuk. Rahmat Ilahi bagaikan angin yang melimpah di alam semesta ini. Melaksanakan latihan spiritual, ibadah, ubudiyah dan kegiatan lain yang dianjurkan oleh-Nya adalah salah satu upaya untuk membuka jendela hati kita agar rahmat Allah dapat masuk.

Evolusi Spiritual Adalah Potensi Manusia yang menjadikan manusia lebih mulia dari makhluk yang lain. Pohon dan tumbuhan, misalnya, adalah hampir tidak giat. Mereka termasuk kategori ‘kesadaran tertutup’. Namun, ketika kita mengamati mereka secara seksama, kita akan melihat bahwa mereka memiliki kesadaran yang terbatas. Jagadish Chandra Bose memberitakan bahwa tumbuh-tumbuhan memiliki kesadaran.44 Entitas hidup yang lain, seperti cacing atau ulat, serangga, dan binatang-binatang yang lain berada dalam “kesadaran mengkerut.’ Mereka tidak tertutup seperti tumbuh-tumbuhan, akan tetapi juga kesadaran mereka tidak berkembang sepenuhnya.

Manusia memiliki ‘bibit kesadaran Ilahiah yang masih kuncup’. Sebuah pucuk kuncup nampaknya mengkerut, namun ia berpotensi untuk menjadi sekuntum bunga mekar. Kesadaran manusia memiliki potensi yang serupa. Jadi, umat manusia memiliki kemampuan bawaan untuk mengembangkan kesadaran sampai batas hampir tak terhingga, hingga titik mengetahui Kebenaran Mutlak. Spesies yang lain tidak memiliki kemampuan khusus ini. Itulah sebabnya Allah mempermaklumkan bahwa bentuk kehidupan manusia adalah yang paling tinggi, Insan Kamil khususnya dimaksudkan bagi bentuk kehidupan manusia.

Kesadaran terus mengalami perkembangan dengan cara seperti ini karena tujuan kehidupan adalah untuk mencapai keadaan kesadaran Ilahiah. Jadi kehidupan adalah berbeda dengan badan-badan material yang ditempatinya. Dalam bentuk kehidupan manusia, ketika seseorang dengan tulus mulai bertanya tentang Allah, Kebenaran Mutlak, maka kesadaran spiritualnya yang seperti pucuk kuncup mulai mengalami perkembangan. Itulah keadaan kesadaran yang ‘mulai mekar.’ Ketika dia mempraktekkan disiplin-spiritual yang teratur sebagai hasil dari pertanyaannya, dia akan berkembang terus dan terus. Akhirnya, dia akan mencapai realisasi trancendental (keinsyafan rohani), kesadaran Tuhan yang sempurna, keadaan kesadaran yang ‘mekar sepenuhnya’.

Pengetahuan ilmiah untuk mencari Kebenaran Mutlak akan menjadi sebuah perjalanan spiritual. Albert Einstein pernah menyatakan, “Hal yang penting adalah bukanlah untuk berhenti bertanya. Keingin-tahuan memiliki alasan tersendiri atas keberadaanya. Orang tak dapat berbuat apa-apa kecuali kagum dan terpesona ketika kita merenungkan misteri kekekalan, kehidupan, struktur realitas yang mengagumkan. Cukup jika seseorang semata-mata berusaha untuk memahami sedikit saja dari misteri-misteri ini setiap hari.”