Menghadapi Rasa Takut

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatih…..
Sahabat, Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. Dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya dengan ikhlas, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian.

Jika keinginan atau mimpi-mimpi itu adalah sumber penderitaan, maka ingatlah bahwa ketidakinginan juga adalah bentuk keinginan yang lain. Ingin dan tidak ingin akan sama-sama menghadapi penderitaan. Sebagaimana batu dan butir pasir yang sama-sama tenggelam di dalam air. Lantas, mengapa tidak kita buat saja keinginan-keinginan, mimpi-mimpi, dan berusaha untuk mewujudkannya? Meskipun harus melalui penderitaan-penderitaan. Sederhana sajalah, nikmati saja suka & duka itu… rasa lelah dalam mencapai mimpi-mimpi indah itu sebenarnya adalah manis bila diterima dengan sabar & ikhlas.

Rasulullah SAW bersabda :

  • Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
  • Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)
  • Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)
  • Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami)

Rasa Takut

“Lakukan apa yang paling Anda takuti dan rasa takut pun pasti akan berakhir.”
—Mark Twain

Ketakutan nampaknya sudah menjadi bagian dari perilaku sebagian besar dari kita: takut gagal, takut ditolak, takut diledek, takut miskin. Bentuk-bentuk ketakutan ini pada akhirnya menyebabkan penyakit mental seperti kekhawatiran, kecemasan, stress, kesedihan dan sebagainya akibat adanya anggapan bahwa masa depan akan lebih buruk dari apa yang dialami sekarang.

Ada seorang samanera cilik yang hampir terlarut oleh rasa takut, namanya si Belalang Kecil. Suatu hari, gurunya yang buta mengajak si belalng kecil ke ruangan di belakang biara, yang biasanya terkunci. Di dalam ruangan itu terdapat kolam selebar enam meter, dengan sebuah papan sempit sebagai jembatan yang menghubungkan sisi yang satu dengan sisi seberangnya. Sang guru memperingati si Belalang Kecil untuk tidak dekat-dekat dengan pinggir kolam, karena kolam itu bukan berisi air, melainkan berisi larutan asam yang sangat pekat.

“Tujuh hari lagi,” Si Belalang Kecil diberi tahu, “kamu akan diuji! Kamu harus berjalan menyeberangi kolam asam ini dengan menjaga keseimbangan di atas papan kayu yang sempit itu. Tetapi hati-hati! Kamu lihat kan tulang belulang di dasar kolam itu?”

Si Belalang Kecil melongok was-was dari pinggir kolam, dan melihat banyaknya tulang belulang di dasar kolam itu.

“Itu dulunya tulang samanera muda seperti kamu!”

Sang guru lantas mengajak si belalng kecil keluar dari ruangan yang mengerikan itu, menuju halaman biara yang diterangi sinar mentari. Di sana, beberapa biksu senior telah memasang papan kayu dengan ukuran yang hampir sama dengan yang ada di kolam airan asam, hanya saja, yang ini ditaruh di atas tanah dengan disanggah oleh tumpukan dua batu bata. Selama tujuh hari berikutnya Si Belalang Kecil dibebaskan dari tugasnya-tugasnya untuj berlatih keseimbangan di atas papan itu.

Itu mudah. Dalam beberapa hari saja dia dapat berjalan dengan keseimbangan sempurna, dengan mata tertutup sekalipun, menyeberangi papan di halaman biara. Dan tibalah harinya ujian.

Si Belalang Kecil dibawa gurunya menuju ke ruangan dengan kolam asam. Tulang belulang para samanera yang jatuh tampak putih berkilauan dari dasar kolam. Si belalsng kecil naik ke ujung papan dan menoleh ke arah gurunya. “Jalan!” perintah sang guru.

Papan di atas kolam asam itu ternyata lebih sempit dari papan di halaman kuil. Si Belalang Kecil mulai melangkah , tetapi langkahnya goyah; dia mulai bergoyang-goyang. Bahkan belum setengah jalan dia makin terhuyung-huyung. Kelihatannya dia akan segera tercebur ke larutan asam. Si Belalang Kecil mulai kehilangan rasa percaya dirinya. Dia melangkah dengan gemetar, lalu oleng….., dia jatuh!

Guru tua yang buta tertawa terbahak-bahak ketika mendengar suara Si Belalang Kecil tercebur ke kolam. Itu bukan asam, itu cuma air. Tulang belulang tua itu telah ditaruh di dalam kolam sebagai “tipuan khusus”. Mereka telah mengakali Si Belalang Kecil.

“Apa yang membuatmu terjatuh?” tanya sang guru dengan serius. “Rasa takutlah yang menjatuhkanmu, Belalang Kecil, hanya rasa takut….”

Sahabat, ada dua macam ketakutan. Yaitu :

  1. Takut Alamiah.
  2. Takut Yang dibuat-buat.

Takut alamiah bisa dikatakan takut yang didasari oleh insting kita sebagai makhluk hidup. Takut adalah mekanisme alamiah yang diberikan Tuhan kepada kita. Tujuannya adalah, agar kita menjadi berhati-hati, dan karena itu jadi selamat. Misalnya ketika kita menyeberang jalan, kita akan tengok kiri tengok kanan untuk memastikan kita tidak tertabrak. Takut alamiah ini yang menjadi basic survival nenek moyang kita dulu dari zaman homo sapiens karena kalau tidak kita sudah punah sejak dulu kala. Takut alamiah ini berdasarkan fakta. Jadi ada parameter yang jelas kenapa kita takut sehingga kita mengantisipasinya dengan tindakan.

Tipe takut yang kedua adalah takut yang berdasarkan fiksi – bukan kenyataan. Tipe takut yang ini menyebabkan kekhawatiran, kecemasan dan stress padahal semuanya hanyalah anggapan yang tidak didukung fakta-fakta nyata. Misalnya seseorang yang takut bicara di depan umum beranggapan bahwa orang-orang akan mencemoohnya padahal belum tentu hal itu terjadi. Orang ini akhirnya memilih untuk diam saja sekedar mencari aman.

Sebenarnya yang kita takutkan seringkali bukan sesuatu yang langsung dihadapi, tapi konsekuensi lanjut dari sesuatu itu. Misalnya, takut hujan. Maksud sesungguhnya adalah takut menjadi basah sehingga jadi malu kepada orang lain, atau jadi sakit. Nah, bila konsekuensi ini tidak lagi menakutkan buat kita (misalnya yakin tidak akan jadi sakit, atau niat sudah pulang dari kantor), maka sesuatu itu juga menjadi tidak lagi menakutkan.

Di tulisan ini saya akan membahas lebih detil tentang tipe takut yang kedua dan bagaimana cara mengatasinya.

Asal Usul Takut
Takut yang sifatnya mental disebabkan karena kita punya standar, aturan, atau keyakinan yang harus dipenuhi, kalau tidak kita akan merasa gagal. Standar, aturan atau keyakinan ini biasanya timbul melalui pergaulan kita di lingkungan keluarga, teman, dan pekerjaan. Seolah-olah kita harus memenuhi tuntutan mereka dan beban ini membuat kita khawatir apabila kita gagal memenuhinya.

Contoh-contoh Standart Yang membebani diri sendiri :
“Saya harus sempurna”
“Saya harus jadi nomor satu”
“Saya harus berhasil supaya orang-orang mengagumi saya”
“Kegagalan adalah akhir segalanya”
“Saya akan dihukum kalau saya gagal”
“Saya harus menjaga citra diri”
“Pandangan orang tentang saya harus selalu baik”

Masih Banyak lagi contohnya mulai dari takut gagal ujian, takut melajang terus, takut dijauhi teman, dsb. Padahal it’s OK untuk gagal ujian yang penting kita berusaha dengan belajar. It’s OK untuk tidak menikah sebelum kita memperoleh pasangan yang tepat (daripada menikah dipaksakan tapi akhirnya berantakan). It’s OK juga dijauhi teman selama kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan.

Ironisnya, ketakutan yang cuma anggapan ini bisa menjadi kenyataan ketika kita memikirkannya terus menerus. Ingat, pikiran kita bekerja sesuai dengan fokus kita. Apabila kita fokus kepada kekhawatiran maka cepat atau lambat apa yang kita takutkan akan terjadi.

Mengatasi Rasa Takut
Pertama, ubah fokus Anda dari takut menjadi cinta, dari khawatir menjadi optimis. Sadari bahwa takut tidak lebih dari sekedar ilusi yang belum tentu terjadi. Cintai apa saja yang Anda lakukan sepenuh hati. Abaikan kekhawatiran dan hilangkan standar, aturan, atau keyakinan yang dibuat oleh orang lain karena hanya diri Andalah yang mengetahui apa yang terbaik bagi Anda.

Kedua, bangun komunikasi dengan diri Anda sendiri. Tanyakan kepada diri Anda tiap kali Anda merasa khawatir, ”Apakah kekhawatiran ini membawa kebaikan atau menyakiti diri saya?”. Katakan kepada diri Anda bahwa Anda mencintai diri Anda apa adanya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menentukan kebahagiaan Anda kecuali diri Anda sendiri. Bukan orang tua, bukan bos, bukan juga pasangan Anda.

Yang terakhir adalah berlatihlah untuk berhenti berpikir tentang masa depan dan habiskan waktu Anda sebanyak mungkin di masa kini. Artinya your mind and body selalu sinkron, bukannya badan disini tapi pikiran melayang kemana-mana. Kekhawatiran, kecemasan, pesimis hanya terjadi karena kita terlalu memikirkan masa depan. Dengan kita fokus ke masa sekarang kita menjadi lebih punya energi dan power untuk memperoleh kebahagiaan sekarang, bukan nanti, tapi sekarang dan disini….

Rasa takut itu rahmat, yang mengeluarkan semua kemampuan. Takut, sejatinya, merupakan bayangan cermin dari berani. Takut mendorong kita untuk berusaha bertahan. Tanpa rasa takut, saya kira tidak akan pernah ada upaya untuk survive dalam hidup ini, yang pada gilirannya akan mendayai kita untuk melahirkan gagasan-gagasan yang kreatif dan inovatif.

Takut itu adalah rahmat yang memaksimalkan kekuatan. Tuhan itu tidak akan memberikan masalah, kecuali kita mampu untuk menyelesaikannya; sehingga sebetulnya kita akan mampu menyelesaikan semua masalah.

“Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal-hal yang Anda takuti”

“Apa yang Anda takutkan untuk dikerjakan adalah indikator yang jelas mengenai apa yang harus Anda kerjakan berikutnya”

“Keberanian bukanlah tanpa ketidakhadiran ketakutan, tetapi lebih merupakan suatu keputusan bahwa ada yang lebih penting dari ketakutan itu sendiri”

SIKLUS RASA TAKUT

Itulah siklus ketakutan. Biasanya pas kita mau mulai sesuatu atau disuruh sesuatu, kita sudah takut duluan dan bilang gak bisa. Dan tidak pernah mau Mencoba. Nah dari situlah kita tidak pernah melakukan sesuatu yang baru, yang kita anggap gak bisa. Padahal belum saja di coba.

Setelah kita tidak melakukan sesuatu, maka kita tidak akan mendapatkan pengalaman dari sesuatu tersebut. Padahal kita sendiri tau, kalau pengalaman itu guru terbaik. Dan ketika kita tidak mempunyai pengalaman, maka kita tidak akan punya kemampuan. Dan saat kita tidak punya kemampuan, maka kita akan terus merasa takut. Begitu seterusnya…

Rasa takut memang selalu pasti ada dalam diri manusia, Tuhan yang memberikan rasa takut kepada mahkluk hidup selain manusia yaitu hewan, rasa takut diciptakan agar kita bisa menjaga diri dari hal-hal negatif yang dapat merugikan kita. Namun, kita sebagai manusia dianugerahkan akal dan pikiran, hendaknya menempatkan rasa takut itu pada porsinya. Jangan menjadikan rasa takut itu sebagai penghalang kita untuk maju.

Jika kita tidak bisa menghadapi rasa takut, apa bedanya kita sama hewan yang ketika takut langsung lari begitu saja, hadapi dan majulah!! Tuhan tidak pernah memberikan kita cobaan melebihi dari kesanggupan kita. Dan Tuhan selalu memberikan ujian dan cobaan kepada kita agar kita bisa lebih maju.

Sekarang saatnya kita keluar dari siklus ketakutan itu dan mulai bergerak.
Jangan Takut Salah, Mari Belajar Dari Kesalahan.

Gagal Itu Indah

Apa itu gagal..?? Apa itu kegagalan..?? Ketika suatu rencana atau cita-cita tidak tercapai sesuai yang diharapkan maka itu disebut sebagai kegagalan. Betul…?? Tetapi, ingat sahabat. Kegagalan bukanlah akhir kehidupan. Right..?? The Life must go on. Gagal hanya ada jika kita berhenti. Right…?

Apa anda pernah gagal..? Saya yakin semua orang pernah mengalami kegagalan. Apapun bentuk kegagalan tersebut Tuhan memiliki rencana lain untuk hidup yang diarungi. Berlapang dada, tidak larut dalam kesedihan, dan bangkit kembali memperbaiki kekurangan diperlukan dalam menghadapi kegagalan.

Kegagalan bukan akhir dari segalanya, hikmah yang bisa dipetik menjadikan pribadi yang lebih kuat. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, apalagi orang lain demi pembenaran kekeliruan yang dilakukan penyebab kegagalan tersebut.

Gagal merupakan proses dan perkembangan. Waktu bayi pada saat kita akan belajar berjalan, dimulai dengan tiarap, kemudian merangkak, perlahan-lahan berdiri dengan memegang meja atau kursi, berjalan selangkah demi selangkah dan akhirnya mampu berjalan dengan tegak bahkan berlari. Itu sebuah proses, pada saat belajar berjalan tak terhitung berapa kali kita jatuh, terbentur meja atau kursi membuat tubuh kita lecet dan menjerit. Apakah kita menyerah? Tidak, jika kita menyerah tak mungkin kita bisa berdiri tegak, berjalan ke tempat yang indah dan berlari bagaikan sprinter peraih emas diolimpiade. Untuk menggapai kesuksesan dibutuhkan proses dan usaha yang keras.

“There Is No Failure, Only Feedback“
“Tidak ada kegagalan, yang ada hanya umpan balik“.

Memaknai kegagalan sebagai umpan balik, memberikan persepsi baru bagi saya. Semula persepsi saya atas kegagalan mirip /saya analogikan seperti terminal atau stasiun atau tempat pemberhentian (pit stop). Maksudnya kalau kita mengalami kegagalan, berarti langkah kita mesti terhenti sebentar, atau bisa juga berhenti lama, untuk menyiapkan perjalanan yang baru lagi.

Persepsi saya seperti ini, diperkuat lagi dengan banyaknya contoh orang yang gagal dalam satu usaha, terus banting stir ke usaha lain. Dan bila kembali gagal, akan mencoba lagi usaha yang lain.

Tetapi dengan persepsi baru saya, bahwa kegagalan hanyalah umpan balik, sangat cocok dengan tipikal saya, yang cenderung teknikal. Saya jadi ingat waktu SMA punya hobby elektronika, kalau sudah mengutak-atik rangkaian elektronika, saya selalu terpacu untuk bisa berhasil. Karena kalau sedang ngoprek ternyata hasilnya tidak sesuai keinginan, maka akan dicari letak penyebabnya (feed back). Dari umpan balik-umpan balik yang bisa dikumpulkan, hampir 90% proyek-proyek kecil saya bisa diteruskan dan membuahkan hasil. Ach jadi nostalgia SMP. he..he..he..

Dengan persepsi baru saya bahwa kegagalan hanyalah umpan balik, membuat saya bertambah optimis. Apapun yang nanti terjadi pada bisnis, saya siap menghadapinya. Kalau orang lain mengatakan gagal, saya akan menyikapinya sebagai umpan balik yang memberitahu saya bahwa ada strategi yang keliru atau strategi tidak tepat dijalankan. Sehingga proses harus terus berjalan dan tidak boleh terhenti, karena yakin tidak akan pernah gagal. Yang ada hanya umpan balik.

Demikian juga kalau orang lain bilang saya sukses, saya memaknainya sebagai umpan balik yang menunjukkan bahwa strategi yang dijalankan sudah tepat dan sudah pas. Jadi fokusnya tetap pada proses bukan pada hasil.

Jadi, tetap jalani prosesnya, nikmati pencapain-pencapaiannya.

Tersebutlah, seorang pemuda kampung bernama Ujang yang pantang menyerah dan tidak takut menghadapi kegagalan. Ia berprinsip, “Lebih baik mencoba lalu gagal, dari pada saya gagal mencoba.”

Setelah Ujang menguasai bahasa Arab dengan baik, kini Ujang pun ingin bisa berbahasa Inggris. Pergilah ia ke sebuah lembaga kursus. Belajarlah ia disana, dengan penuh semangat membara….

Pada hari pertama kursus dia sudah belajar menyebutkan angka2 sederhana dalam bahasa Inggris, seperti one, two, three, dst. Kemudaian ia juga belajar sedikit tatakrama seperti ucapan “I’m sorry sir”.

Kemudian pada hari kedua kursus, saking semangatnya, si Ujang berangkat dengan cepat menuju tempat kursusnya, lalu tiba-tiba secara tak sengaja ia menyenggol seorang bule.

Karena Ujang dilahirkan sebagai seorang yang optimis dan PD abizzz, maka ia pun dengan kemampuan alakadarnya berkomunikasi dengan si bule seperti berikut :

Ujang : I’m sorry sir….
Bule : Oh No problem, I’m sorry too
Ujang : (Dengan pede abis) Oh yes, I’m sorry three
Bule : (Kebingungan abis) I’am sorry three, what for ?
Ujang : Oh yes, Four five sir…
Bule : (Tambah bingung) Are you sick ?
Ujang : Oh no, I’m seven

Ha ha ha ha ha… gagal itu memang indah. Janganlah Anda menyerah dengan kegagalan, sebab kelak kegagalan itulah yang membuat sukses Anda terasa begitu indah.

Lagipula, kegagalan tidak harus dinisbatkan kepada pelakunya, cukup kepada peristiwanya saja. Sehingga pembelajaran kita bisa lebih sempurna.

Sebagaimana, seorang gadis yang menggoreng tempe, lalu tempenya gosong, MAKA sungguh yang gosong adalah tempenya, bukan gadisnya…

Berani Gagal, sebuah kisah.

Hanya orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.
– John F Kennedy

PERNYATAAN John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total itulah awal karier bisnis saya.

Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat – hanya 2 orang – sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.

Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.

Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.

Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.

Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.

Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun.

Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.

Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali. [purdiechandra.net]

Nasehat Para Bijak
Banyak kata-kata bijak yang diujar oleh tokoh-tokoh untuk memotivasi diri dalam menghadapi kegagalan. Berikut kata-kata bijak tersebut:

Anda mungkin perlu berjuang lebih dari sekali untuk meraih sukses. ( Margareth Thatcher)

“Ketika masih muda, saya memperhatikan bahwa sembilan dari sepuluh hal yang saya lakukan menemui kegagalan. Saya tidak mau menjadi orang gagal, lalu saya bekerja sepuluh kali lebih giat” (George Bernard Shaw)

” Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan gagal” (Thomas Alpha Edison)

” Apabila jatuh dan bangkit kembali, Anda menghailkan sesuatu pada diri Anda. Terlalu banyak jatuh dalam hidup adalah menyehatkan dan menyegarkan. Jika Anda bangkit kemabli, bangkit itulah yang penting” (Yoritomo Tashi)

” Ini bukan berarti Anda gagal, tetapi hanya belum menemukan sesuatu yang lebih berarti” (Alexander Graham Bell)

Mahatma Gandhi mengatakan “Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Usaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki”.

Kerja keras akan menghasilkan sesuatu, walaupun kadang tak sesuai dengan keinginan setidaknya kita telah melakukan sebuah proses kesenangan dan kepuasan pribadi.

Apakah untuk sukses kita harus cerdas atau kaya? Kecerdasan belum tentu menjamin sebuah kesuksesan. Kesuksesan ditentukan 99% kerja keras dan 1% kejeniusan (Albert einstein)

Jika aku diberi waktu 8 jam untuk menebang pohon di hutan akan kugunakan 6 jam untuk mengasah kampak ku.
(Abraham Lincoln).

Dua pernyataan dari tokoh tersebut memberi kita inspirasi bahwa kesuksesan memerlukan usaha yang keras dan perencanaan matang. Kerja keras tanpa perencanan dan didukung pandai melihat peluang memungkinkan kita untuk mendapat kegagalan yang baru.

Kesuksesan seseorang sering kita dengar tetapi proses untuk mencapai kesuksesan itu kadang tak menjadi pusat perhatian para pendengar.

Thomas Alva Edhison menemukan bohlam setalah percobaan yang gagal mencapai seribu kali;Miheal Jackson, penyaynyi terkenal memulai debutnya ketika baru tamat dari taman kanak-kanak; Sun Yat Sen gagal 10 kali dan baru jaya pada cobaan ke-11 untuk menjadi Bapak Cina modern; Henry Sy, Sr waktu kecil tak mampu membeli sepatu kini mempunyai kekayaan pribadi 2.3 juta dollar US dan membangaun shopping mall terbesar dunia. Tokoh-tokoh tersebut berjuang dan berusaha dengan keras untuk mencapai kesuksesan.

Semoga menjadi inspirasi “kegagalan bukan akhir segalanya, kegagalan proses perkembangan dan tahap menuju kesuksesan”

Kata Mutiara Einstein

Einstein seorang jenius yang banyak memberikan pengaruh pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Einstein juga sering berkata bijak yang menimbulkan motivasi dan memberikan inspirasi berikut kata-kata bijak Einstein.

  • “Hanya ada dua cara menjalani kehidupan kita. Pertama adalah seolah tidak ada keajaiban. Kedua adalah seolah segala sesuatu adalah keajaiban.”
  • “Usaha pencarian kebenaran dan keindahan merupakan kegiatan yang memberi peluang bagi kita untuk menjadi kanak-kanak sepanjang hayat.”
  • “Gravitasi tidak bertanggung-jawab atas orang yang jatuh cinta.”
  • “Kebahagiaan dalam melihat dan memahami merupakan anugerah terindah alam.”
  • “Kecerdasan tidak banyak berperan dalam proses penemuan. Ada suatu lompatan dalam kesadaran, sebutlah itu intuisi atau apapun namanya, solusinya muncul begitu saja dan kita tidak tahu bagaimana atau mengapa.”
  • “Hal yang paling sukar dipahami di dunia ini adalah pajak penghasilan.”
  • “Akal sehat adalah kumpulan prasangka yang didapat sejak usia 18 tahun.” “Hanya sedikit yang melihat dengan matanya sendiri dan merasakan dengan batinnya sendiri.”
  • “Barangsiapa yang tidak pernah melakukan kesalahan, maka dia tidak pernah mencoba sesuatu yang baru.”
  • “Nilai manusia yang sesungguhnya pada dasarnya ditentukan oleh ukuran dan rasa yang telah mencapai pembebasan dari dirinya sendiri.”
  • “Bagaimana mungkin engkau menjelaskan fenomena biologis yang sedemikian penting seperti cinta pertama dalam pengertian kimia dan fisika ?”
  • Hakikatku adalah yang aku pikirkan, bukan apa yang aku rasakan
  • Selagi ada cinta tidak perlu ada lagi pertanyaan
  • Aku Berpikir terus menerus berbulan bulan dan bertahun tahun, sembilan puluh sembilan kali dan kesimpulannya salah. Untuk yang keseratus aku benar.
  • Kalau mereka ingin menemuiku, aku ada disini. Kalau mereka ingin bertemu dengan pakaianku, bukalah lemariku dan tunjukkan pada mereka. (Ketika istrinya memintanya berganti untuk menemui Duta Besar Jerman)
  • Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan seorang ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya.
  • Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan tapi imajinasi.
  • Imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuanLogika akan membawa Anda dari A ke B. Imajinasi akan membawa Anda kemana-mana.
  • Tidak ada eksperimen yang bisa membuktikn aku benar, namun sebaliknya sebuah eksperimen saja bisa membuktikan aku salah.
  • Orang-orang seperti kita, yang percaya pada fisika, mengetahui bahwa perbedaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah sebuah ilusi yang terus menerus ada.
  • Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak perduli.
  • Generasi-generasi yang akan datang akan kehilangan keyakinan bahwa manusia akan berjalan di muka bumi dengan darah dan daging.
  • Nilai manusia terletak pada apa yang bisa dia terima.
  • Kalau nilai 9 itu kesuksesan dalam kehidupan, maka nilai 9 sama dengan x ditambah y ditambah z. Bekerja adalah x, y adalah bermain, dan z adalah untuk berdiam diri.
  • Orang berjiwa besar akan selalu menghadapi perlawanan hebat dari orang2 “PICIK”.
  • Kecerdasan belum tentu menjamin sebuah kesuksesan. Kesuksesan ditentukan 99% kerja keras dan 1% kejeniusan

Meraih Gaji Tertinggi

Ada seorang mahasiswi yang lulus dengan nilai terbaik. Setelah setahun mencari kerja ke sana ke sini, ternyata tidak ada yang cocok. Merasa dirinya lulusan terbaik, ia selalu minta gaji yang lebih tinggi dari harga pasaran. Walaupun telah dinasehati oleh orangtuanya, ia selalu berkata bahwa ia adalah siswa terbaik dan pantas mendapatkan gaji yang yang lebih tinggi.

Merasa tidak mampu mengatasi putrinya yang keras kepala, suatu hari ia mengajaknya ke pasar untuk menemaninya berjualan buah-buahan. Ketika seorang pembeli menanyakan harga buah per kilo, ibu itu menjawab, “Delapan belas ribu rupiah, tidak kurang”. Sementara harga pasarannya adalah lima belas ribu rupiah.

Beberapa pembeli urung membeli pir dan pindah ke penjual yang lain. Namun ibu tersebut tetap pada pendiriannya. Dengan heran putrinya bertanya, “Kenapa tidak dikasih kurang sedikit, Bu?”

Ibunya menjawab, “Buah pir kita yang terbaik”.

“Tapi saya melihatnya sama saja, lagi pula buah pir… ya… buah pir.” protes putrinya.

“Tidak, buah pir kita yang terbaik. Kita pantas menjualnya lebih mahal.” tukas ibunya dengan tegas.

Waktu terus berlalu. Ketika hari mulai siang, para pedagang menurunkan harga pir menjadi tiga belas ribu rupiah per kilo. Meskipun banyak orang tertarik pada buah pir-nya, namun ibunya tetap tidak mau menurunkan harga seperti para pedagang lainnya, dengan alasan buahnya lebih baik.

Ketika waktu menunjukkan pukul dua belas siang, para pedagang beranjak pulang karena barang dagangannya telah habis. Kini tinggal ibunya seorang diri.

“Kenapa ibu tidak mengikuti mereka saja?” keluh putrinya.

Lagi-lagi ibu menjawab, “”Buah pir kita yang terbaik”.

Ketika mereka berbenah hendak pulang, ada orang yang kebetulan melewati tempat mereka dan menawar pir dengan harga dua belas ribu rupiah. Akhirnya ibu itu melepaskan dagangannya.

Merasa aneh dengan tindakan ibunya, putri tersebut bertanya dengan nada kesal, “Kita sia-sia menghabiskan banyak waktu di sini, toh akhirnya terjual dua belas ribu saja. Kenapa tidak dari tadi pagi menjualnya dengan harga lima belas ribu?”

“Kenapa kamu juga menyia-nyiakan waktu kamu setahun? Kenapa kamu tidak menerima pekerjaan dengan gaji standar dari dulu? Kalau ternyata terbukti kamu yang sebagai terbaik, kamu bisa mengajukan kenaikan gaji” jawab ibunya.

Putrinya tersadar, ternyata tindakan ibunya adalah untuk menyadarkan dirinya.

Pelajaran Berharga
Di antara kunci utama meraih sukses adalah cerdas dalam menangkap peluang yang datang. Menunggu peluang yang belum pasti datang adalah perbuatan yang sia-sia. Oleh karena itu, latihlah kepekaan dan kecekatan karena hanya yang peka dan cekatan lah yang akan mampu menangkap peluang dengan baik. Alasan lain untuk melatih kemampuan menangkap peluang adalah karena peluang itu tidak akan datang dua kali. Ia hanya mampir sekali saja seumur hidup kita. Jadi jangan disia-siakan jika sudah di depan mata.

Sobat, ada dua cara dalam hal ini kita sebut saja dualisme peluang. Pertama, menjemput bola. Kedua, menciptakan bola sendiri.

Keduanya adalah hal yang tidak boleh dilupakan oleh para pejuang sukses. Lepas dari dualisme peluang tersebut, maka lepas lah kesempatan menikmati kesuksesan hidup.

Jika sobat baru lulus kuliah, cari informasi tentang lapangan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan sobat. Jika sobat alumnus pendidikan, carilah tempat-tempat belajar formal maupun nonformal untuk sobat masukkan lamaran pekerjaan. Jika sobat alumnus akuntansi, carilah informasi perusahaan yang sedang membutuhkan akuntan. Jika sobat alumnus tata boga, apa salahnya sobat melamar kerja ke kafe atau rumah makan? Mejadi “pekerja” di pendidikan ataupun di mana saja, tidak lah hina ketimbang menjadi pecundang yang menggantungkan dirinya pada orang lain padahal sebenarnya ia mampu berjuang.

Yang lebih hebat lagi adalah siapapun sobat bergelar akademik maupun tidak, cobalah sobat menciptakan bola keberhasilan sendiri. Jika yang lain mencari kerja, sobat malah menyediakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, minimal lapangan pekerjaan untuk diri sendiri. Menjemput bola dan menciptakan bola keberhasilan adalah kunci utama yang mesti diupayakan.

Tips menaikkan gaji anda secara drastis dari posisi sekarang.
Cara ini berhasil dilakukan beberapa orang, namun membutuhkan kerja keras dan komitmen dari masing-masing pribadi pelakunya.

Tidak ada makan siang gratis bukan?

Carilah ALASAN KUAT / IMPIAN dahulu
Sebenarnya bukan cara melakukannya yang menyebabkan berhasil, tapi alasan atau dream anda yang bisa menggerakkan anda disaat sedang malas. Dream anda yang bisa memotivasi anda kembali disaat jalan terasa buntu.

Beberapa alasan kuat yang pernah saya dengar dari teman2:
1. Ingin naik gaji agar bisa beli rumah sendiri
2. Ingin naik gaji agar bisa mencukupi kebutuhan hidup anak dan istri
3. Ingin naik gaji agar bisa menabung untuk pendidikan anak
4. …tulis alasan anda sendiri…

Lakukan tiap langkah berikut

1. Letakkan tulisan cita-cita itu ditempat yang bisa anda baca setiap hari dan doakan hal itu terus-menerus. Ini penting agar cita-cita ini MELEKAT dan membuat anda BERSEMANGAT disaat loyo.

2. Tambah kemampuan/skill yang anda perlukan. Bila posisi anda staff, contoh staff accounting. Carilah tau, kemampuan apa yang anda butuhkan untuk menjadi supervisor atau manager accounting.

Lihat lowongan supervisor atau manager di internet, skill apa yang harus dimiliki terkadang tertulis disana, terkadang range gaji juga ada di sana. Untuk posisi IT, gunakan website luar negri, meskipun anda belum berencana bekerja di sana, namun itu bisa dijadikan acuan kira-kira area apa yang memiliki gaji tinggi.

3. Bantu atasan. Kerjakan pekerjaan sendiri dengan lebih cepat dan ambil waktu lembur untuk membantu pekerjaan atasan. Ini memang kelihatan konyol tapi sebenarnya ini adalah proses belajar gratis. Kalau bisa, pilih pekerjaan yang berkaitan dengan kemampuan yang ingin anda pelajari.

Ketika dalam proses ini, papa terkadang pulang dari kantor selalu diatas pk 20:00 dan belajar ini itu di hari libur (termasuk hari Sabtu dan Minggu)

4. Pindah kerja sampai anda mencapai posisi dan gaji yang diinginkan. Ini memang tidak mudah karena dibutuhkan kemampuan menulis surat lamaran dengan baik, melewati interview, negosiasi akhir dan adaptasi dengan rekan kerja yang baru.

Cara menulis surat lamaran itu sangat penting, karna disini anda menjual diri sendiri dalam sebuah surat dan dibaca HANYA 2-3 MENIT!

Dulu ketika belajar, kami menulis 10 surat lamaran baru 1 kali dipanggil, namun ketika sudah lancar, 1 surat lamaran berarti 1 kali panggilan, menyenangkan bukan?

5. Fokus pada posisi dan gaji.

Contoh : posisi sekarang staff dengan gaji 2 juta.

Terima bila mendapatkan posisi supervisor dengan gaji 2 juta, tidak naik gaji, namun anda naik jabatan, berarti pekerjaan anda tambah sulit, namun disini anda belajar gratis !!! Namun kalau anda memiliki kemampuan no 6, anda bisa mendapatkan kenaikan gaji juga.

Bila sudah menguasai pekerjaan (lakukan dalam waktu yang singkat, 1-2 bulan), jangan ragu meminta kenaikan dan segera pindah kerja bila mendapatkan posisi sama dengan gaji yang lebih besar.

Ada seseorang yang memiliki pengalaman berikut: 3 tahun 3 kali pindah kerja setelah ada kenaikan gaji dari tempat sebelumnya. Jadi dalam 1 tahun ia mengalami 2 kali naik gaji, 3 tahun berarti 6 kali naik gaji.

6. Tingkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Ini yang TERPENTING! Bila ada 2 orang dengan kemampuan kerja yang sama, namun si A adalah orang yang lebih mampu berinteraksi dengan rekan sekantor dan atasan, sudah pasti si A akan lebih cepat untuk naik karirnya.

Cara tercepat meningkatkan kemampuan ini adalah baca buku-buku berikut:
1. Bagaimana cara mencari kawan dan mempengaruhi orang lain
2. Berpikir dan berjiwa besar
3. Skill with people

Sukses itu perlu 5% kemampuan teknis, 95% kemampuan non-teknis.

Berani Mati Berani Hidup

Banyak orang yang dengan lantang berteriak “Berani Mati”, dan itu adalah biasa. Namun siapa yang mampu berteriak Berani Hidup hingga titik darah penghabisan dalam menegakkan cita-cita. Itu baru Luar Biasa. Lho kok bisa…?? Lha iya, sikap berani mati demi harga diri khan sudah dicontohkan oleh samurai jepang dengan budaya HARAKIRI alias Mati Bunuh Diri untuk menutupi rasa malu akibat kekalahan. Dan itu bukanlah contoh budaya yang patut ditiru, Right…?? Bunuh diri itu khan dosa boss…. he…he..he… Sudah hidup di dunia kalah, di akherat masuk neraka. Rugi dobel atuh….

Sebagian besar penyebab, praktisi NAQS setelah mengikuti Attunement namun gagal dalam mengembangkan diri adalah diakibatkan oleh kurangnya keberanian di dalam diri mereka untuk berlatih & berpraktek. Mereka takut mencoba, takut untuk melangkah, dan takut untuk memulai. Mereka takut gagal, takut ditertawakan orang, takut ini, takut itu, de-el-el.

Wahai saudaraku, ketakutanmu adalah manusiawi. Semua pahlawan pemberani itu juga punya rasa takut yang sama dengan kita, yang dengan adanya rasa takut itu justru menumbuhkan kewaspadaan pada diri mereka. Rasa Takut itu mereka ubah menjadi energi positif yang semakin meningkatkan performa mereka. Mereka akrabi dan kenali ketakutan-ketakutan mereka, sedemikian kenalnya sehingga rasa takut itu sudah menjadi tidak menakutkan lagi. Ya, jangan jadikan ketakutan kita sebagai alasan untuk maju dan berkembang. Jadilah pemberani, namun tetaplah santun dan welas asih pada sesama. Karena keberanian yang kelewat batas juga tidak baik, yaitu menumbuhkan sifat sombong dan arogan.

Untuk hidup manusia membutuhkan keberanian. Untuk bertahan hidup manusia membutuhkan keberanian. Untuk bertahan hidup dan menjalani impian, orang membutuhkan keberanian. Untuk tetap bertahan dalam keyakinan mengenai kehidupan apa yang harus dijalani, orang membutuhkan keberanian.

Sebagian dari keberanian itu adalah fitrah yang tertanam dalam diri seseorang. Sebagian yang lain biasanya diperoleh melalui latihan. Keberanian fitrah maupun melalui latihan, selalu mendapatkan pijakan kuat pada kekuatan kebenaran dan kebajikan, keyakinan dan cinta yang kuat terhadap prinsip dan jalan hidup, kepercayaan pada hari akhirat, serta kerinduan yang menderu-deru untuk bertemu Allah. Semua itu adalah mata air yang mengalirkan keberanian dalam jiwa seorang mukmin.

Cobalah perhatikan ayat-ayat jihad dalam AI-Qur’an. Perintah ini hanya dapat terlaksana di tangan para pemberani. Dan cobalah perhatikan betapa AI-Qur’an memuji ketegaran dalam perang, membenci para pengecut dan orang-orang yang takut pada risiko kematian. Apakah yang dapat kita pahami dari hadits riwayat Muslim ini: “Sesungguhnya pintu-pintu surga itu berada di bawah naungan pedang?” selain dari betapa kuatnya keberanian mendekatkan kita ke surga?

Maka dengarlah pesan Abu Bakar kepada tentara-tentara Islam yang akan berperang: “Carilah kematian niscaya kalian akan mendapatkan kehidupan.”

“Tears will not erase your sorrow; hope does not make you successful; courage will get you there.”
Air mata tidak akan menghapus dukamu; berharap tidak akan membuatmu sukses; hanya keberanian yang bisa membawamu kesana. Johni Pangalila

Setiap hal yang ingin kita raih pastilah memerlukan suatu tindakan yang harus dilakukan dan setiap tindakan yang kita lakukan itu pastilah mempunyai resiko tertentu, namun sayangnya banyak orang yang tidak menyadari akan kenyataan dari hukum alam ini atau bahkan parahnya lagi ada orang yang sudah menyadari hal tersebut tetapi malah menjadi takut untuk mengambil tindakan karena terlalu terfokus memikirkan resiko yang akan ia tanggung.

Menurut seorang filsuf dan ahli strategi perang Sun Tzu, “Kemenangan besar hanya bisa dilakukan orang yang berani ambil risiko besar”. Prinsip tersebut menjelaskan kepada kita bahwa hanya orang orang yang berani mengambi resiko besarlah yang dapat mencapai target besar dalam hidupnya. Jika kita tak dapat berani mengambil resiko besar maka hanya pencapaian hidup yang kecil saja yang dapat kita raih seumur hidup kita.

Pada dasarnya penghambat utama kesuksesan hidup seseorang adalah diri sendiri. Faktor internal menjadi sumber utama kesuksesan atau kegagalan seseorang dalam kehidupannya. Hal ini mengarah kepada sikap seseorang dalam menghadapi suatu situasi yang sulit dalam mengatasi rasa ketakutan dalam dirinya. Setiap kondisi yang dialami akan diberikan respon oleh tubuh kita dengan memancarkan emosi yang merupakan cerminan konsep diri untuk mendasari setiap keputusan dan tindakannya. Orang – orang yang positif mempunyai rasa kepercayaan diri yang kuat untuk mengatasi rasa ketakutan dalam dirinya. Orang seperti ini selalu mempunyai keyakinan dalam diri sendiri bahwa ia pasti akan berhasil. Jadi, seluruh focus energy dan pikirinnya akan berorientasi pada keberhasilan yang ia harapkan.

Namun perlu ketahui bahwa kita jangan pula kita menjadi orang yang over confident ( percaya diri yang berlebih) yang dapat mengurangi atau bahkan membutakan sensitivitas kita pada keaadan sekitar kita, kekuatan pesaing kita dsb. Rasa percaya diri pun harus dipandang dari sudut pandang yang benar. Dan kita tetap tidak boleh menghilangkan adanya factor resiko dari setiap tindakan yang kita lakukan. Tidak ada suatu tindakan yang dapat dijamin bahwa 100% akan berhasil karena banyak faktor di luar diri kita yang bisa saja terjadi. . Ada risiko gagal, ada risiko berhasil., hanya saja kita harus berorientasi pada cara untuk mencapai keberhasilan tersebut. Satu hal yang pasti, tanpa rasa percaya diri bisa dipastikan keberhasilan itu peluangnya kecil. Keyakinan dan keraguan adalah dua hal yang saling meniadakan. Jika kita lebih memihak kepada rasa “yakin” maka secara otomatis rasa “ragu” akan pergi.

Setiap hari kita mempunyai peluang yang menguntungkan, entah itu dalam skala kecil maupun besar. Bila kita cukup berani, maka peluang-peluang tersebut akan menjadi keberuntungan yang besar. Sebab keberanian akan menimbulkan aksi yang signifikan.

Keberanian adalah suatu sikap untuk berbuat sesuatu dengan tidak terlalu merisaukan kemungkinan-kemungkinan buruk. Aristotle mengatakan bahwa, “The conquering of fear is the beginning of wisdom. Kemampuan menaklukkan rasa takut merupakan awal dari kebijaksanaan.”

Artinya, orang yang mempunyai keberanian akan mampu bertindak bijaksana tanpa dibayangi ketakutan-ketakutan yang sebenarnya merupakan halusinasi belaka. Orang-orang yang mempunyai keberanian akan sanggup menghidupkan mimpi-mimpi dan mengubah kehidupan pribadi sekaligus orang-orang di sekitarnya.

Beberapa abad yang silam Virgil mengatakan, “Fortune favors the bold. – Keberuntungan menyukai keberanian.” Marilah kita belajar dari para tokoh olah raga yang mempunyai prestasi berskala internasional, yaitu Carl Lewis, Michael Jordan, Marilyn King dan lain sebagainya. Mereka mempunyai keberanian yang tinggi untuk menepis segala kekhawatiran akan keterbatasan dalam diri mereka. Karena itulah mereka mampu berprestasi di bidang olah raga dan tampil sebagai tokoh yang berkarakter.

Kita juga mempunyai peluang yang sama besar di bidang yang sama ataupun di bidang lain, misalnya di bidang seni, politik, bisnis, ilmu pengetahuan, filsafat dan lain sebagainya. Tetapi apakah kita sudah mempunyai cukup keberanian menangkap peluang yang datang setiap hari itu dan mengubahnya menjadi prestasi hidup?

Hanya diri kita yang mampu mengukur apakah keberanian kita cukup besar? Marilyn King mengatakan bahwa keberanian kita secara garis besar dipengaruhi oleh 3 hal, yaitu

  1. Visi (vision), 
  2. Tindakan nyata (action), dan 
  3. Semangat (passion). 

Ketiga hal tersebut mampu mengatasi rasa khawatir, ketakutan, dan memudahkan kita meraih impian-impian.

Berdasarkan visi atau tujuan yang ingin kita capai, satu hal yang terpenting adalah kita harus menciptakan kemajuan. Menurut Vince Lombardi, seorang pelatih rugby ternama di dunia, upaya menciptakan kemajuan akan berjalan secara bertahap. Adanya perubahan menjadikan diri kita berani membuat kemajuan yang lebih besar. Karena itu Anthony J. D’Angelo menegaskan, “Don’t fear change, embrace it.Jangan pernah takut pada perubahan, tetapi peluklah ia erat.” Maka perjelas visi, supaya berpengaruh signifikan terhadap keberanian.

Sementara itu, peluang datang terkadang dengan cara yang tidak terduga. Samuel Johnson mengatakan bahwa, “Whatever enlarges hope will also exalt courage.Apapun yang dapat memperbesar harapan, maka ia juga akan meningkatkan keberanian.” Artinya, tindakan kerja untuk mengubah peluang akan meningkatkan harapan sekaligus keberanian memikirkan kemungkinan-kemungkinan terbaik atau menanggung resiko kegagalan sekalipun. Jika sudah mengetahui secara pasti apa yang kita inginkan dan sudah melakukan tindakan, maka hal itu akan meningkatkan keberanian untuk tidak pernah menyerah sebelum benar-benar berhasil.

Faktor ketiga yang berpengaruh terhadap tingkat keberanian adalah semangat (passion). Mungkin kita akan terinspirasi semangat seorang olah ragawan Carl Lewis. Dirinya tidak merasa khawatir atau takut akan mengalami kekalahan dalam pertandingan karena ia mempunyai semangat yang tinggi. Semangat Carl Lewis memompa keberaniannya melewati bermacam kesulitan, sehingga ia berhasil meraih 22 medali emas diantaranya : 9 dari olimpiade/Games, 8 dari World Championship, 2 dari Pan America Games.

Ayahnya adalah orang yang paling berjasa dibalik keberaniannya itu. Ayahnya adalah orang yang tidak pernah bosan memberikan dorongan motivasi. Sehingga ketika ayahnya meninggal dunia pada tahun 1987 akibat serangan penyakit kanker, Carl Lewis menguburkan salah satu medali emas dari perlombaan lari 100 m yang paling disukai ayahnya. Dia berjanji untuk mendapatkan kembali medali itu. Semangat Carl Lewis meningkatkan keberaniaannya menembus halangan, hingga ia kembali berhasil mengumpulkan 9 medali emas beberapa tahun kemudian.

Carl Lewis adalah salah satu contoh orang sukses. Ia mempunyai keberanian yang tinggi untuk melakukan sesuatu yang tidak bisa atau tidak akan pernah dikerjakan oleh orang-orang yang biasa-biasa saja. Mereka konsisten menciptakan kemajuan terus menerus. Ekhorutomwen E.Atekha menerangkan, “All you need to keep moving is your ability to keep being courageous. – Segala sesuatu yang menggerakkan dirimu adalah kemampuanmu untuk memacu keberanian.” Mereka senantiasa mempunyai keberanian yang tinggi untuk mengubah kehidupan karena mereka mempunyai visi, melakukan aksi dan mempunyai semangat yang luar biasa.

Keberanian tidak hanya dimiliki oleh para tokoh-tokoh terkenal. Tetapi bukalah mata, di sekitar kita banyak pahlawan-pahlawan kehidupan. Mereka adalah orang-orang biasa yang tetap tegak berdiri walau dihantam pahitnya kehidupan. Saat ini saya sedang mengagumi keberanian sepasang suami-istri yang membuka warung makan Nasi Gandul, demikian kami biasa menyebutnya, daerah Tebet Timur. Tepatnya sekitar 100 meter dari pasar tebet timur (PSPT). Warung itu memiliki dua makanan andalan; nasi Gandul dan nasi Pindang Iga.

Sepertinya keduanya selalu tampak gembira. Senyum selalu mengembang di bibir mereka. Dalam kondisi apapun. Mereka sangat ramah terhadap pembeli dan kadang-kadang terasa sok akrab. Karena itulah saya menjadi cepat akrab dengan mereka. Pada satu waktu saya mengobrol dengan sang suami. Mencoba untuk bertanya seputar kehidupan yang dijalaninya.

Rupanya mereka telah berdagang cukup lama di Jakarta. Kurang lebih lima tahun. Sebelum di Tebet, mereka memiliki warung cukup lumayan di daerah Glodok. Namun beberapa bulan lalu, warungnya kena gusur. Mereka harus mulai lagi dari awal. Mencari tempat dagang di wilayah lain. Alhasil, mereka menemukannya di daerah Tebet Timur. Satu juta rupiah perbulan yang harus di keluarkan untuk mengontrak tempat yang memiliki ukuran sekitar 4×4 meter. Tempat itu berfungsi juga sebagai tempat tinggal.

Rutinitas mereka tiap hari adalah; tiap jam lima pagi sang suami pergi belanja ke pasar Jatinegara. Mulai jam 10 pagi hingga jam 12 malam mereka berjualan di tempat itu. Kadang-kadang jam 8 pagi saya sering lihat si suami sedang makan pagi di warteg yang letaknya dekat dengan warung mereka. Rupanya dia kelelahan setelah berbelanja di pasar. Sementara sang istri sibuk mempersiapkan masakan.

Walau baru sekitar dua bulan, tampaknya mulai banyak pengunjungnya. Terakhir saya lihat mereka telah membuka kios rokok dan minuman dingin di depan warungnya. ”Lumayalah lah mas, untuk nambah-nambah,” demikian cetus sang Istri. Tapi ada satu masalah yang menghadap mereka. Sang suami berkata pada saya, ternyata pemilik tempat itu mau menjual kiosnya ke seseorang. Otomatis bila itu hal itu terjadi, mereka harus mencari tempat berjualan yang baru lagi.”Ah, nasib pedagang kaki lima,” demikian tutur sang suami sambil tersenyum.

Anehnya, pada saat bicara demikian tak tampak kekhawatiran di wajahnya. Luar biasa. Mereka menjalani hidup, yang tampaknya sangat sulit itu, dengan senyum. Tanpa mengeluh. Tetap bekerja penuh gembira dan bersemangat. Itulah keberanian. Itulah keberanian menjalani hidup.

Kemudian saya juga menemukan pemberani lainnya, yaitu pemilik bengkel Honda daerah Tebet. Saat itu saya sedang melakukan service motor di tempatnya. Itu rutinitas yang biasa saya lakukan tiap dua bulan. Pertama-tama kami mengobrol hal-hal bersifat umum. Tentang keluarga, hobi dan kerjaan. Kemudian , saya berkisah kepadanya, bahwa saat ini saya dan istri sedang mencoba bisnis baju. Hanya bermodal sedikit uang, relasi dan nekad.

Sambil tersenyum dia bertutur pada saya. Bahwa, bisnis itu modal utamanya adalah keberanian. Setelah itu baru yang lain. Itu yang dia lakukan saat memulai bisnis bengkel. Dengan penuh keberanian dia meninggalkan pekerjaan kantoran. Dan memulai bisnis bengkelnya 10 tahun yang lalu. Padahal sebagai pegawai kantor dia memperoleh gaji yang cukup memadai. Pada tahun 1997 dia telah di gaji sekitar 5 juta rupiah. Tapi dia berfikir bahwa model kerja seperti ini tidak akan membuatnya kaya. Dan juga dia tak dapat memaksimalkan kemampuan yang dimiliki. Dan memang akhirnya, dia sukses dengan bisnisnya.

Sayang, saat itu motor saya sudah selesai di servis. Sehingga kita harus mengakhiri pembicaraan yang mulai menarik itu. Tapi, sebelum saya keluar, dia tiba-tiba menunjukan sebuah buku tentang bagaimana memulai bisnis dari nol. Dia menyarankan agar saya membeli buku tersebut. Saya mengiyakan, dan kemudian memotret sampul buku itu.

Pengalaman mengobrol dengan kedua orang itu cukup membesarkan hati saya. Maklum, beberapa hari ini saya sedang ”kehilangan” keberanian untuk terus menggapai mimpi. Untuk dapat bersabar,tekun dan bekerja keras dalam mewujudkan mimpi. Pikiran saya malah dipenuhi beragam ketakutan yang tidak jelas. Oleh karena itu, saya butuh bergaul dengan orang-orang yang telah melewati proses kehidupan dengan penuh keberanian. Bergaul dengan orang-orang yang terlihat “biasa” tetapi memiliki mental pejuang. Orang-orang sederhana yang jiwanya tidak sederhana. Orang-orang yang berani berusaha dari nol. Hanya bermodal keyakinan, kerja keras, berani hidup sederhana dan selalu berdoa kepada Yang Maha Memberi. Mereka-lah orang-orang luar biasa.

Milikilah rasa keberanian untuk menghilangkan ketakutan-ketakutan yang sering kali muncul dalam diri. Keberanian untuk mengambil resiko merupakan langkah pertama anda menuju tindakan ke arah kesuksesan yang anda impikan. “Just do it and stay confident”.

Refrensi Sumber Kisah :
NETSAINS
Keberanian yang Dapat Mengubah Kehidupan oleh Andrew Ho
TOP MOTIVASI

Mengubah Masalah Jadi Berkah

Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…
Sahabat, Hakikat dunia ini adalah masalah. Dengan banyaknya masalah maka terciptalah berbagai lapangan kerja dan profesi. Right..??

Nah, hakikat masalah yang membebani kehidupan kita adalah sebuah pesan yang datang dari Allah swt, sebuah pesan dari alam bawah sadar kita. Sebuah pesan yang berbunyi,”Perbaiki diri, evaluasi diri, Tingkatkan ketakwaan, & mendekatlah pada-Ku, jalan menuju kemuliaan dirimu sudah Aku berikan lewat ujian masalah ini.”

Sahabat, dalam kehidupan ini kita sering mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Oleh karena itu daripada memendam sakit hati kepada kehidupan, adalah lebih baik bila kita belajar untuk menyukai apapun yang kita dapatkan. Dengan menerapkan sikap ini kita sudah merubah posisi diri kita, yaitu bila kita suka berkeluh kesah ataupun marah-marah atas segala masalah kehidupan kita. Maka saat itu posisi diri kita adalah sebagai KORBAN. Sebagai object yang tidak berdaya mengahadapi kondisi dan situasi yang tidak menyenangkan.

Nah, alih-alih berkeluh kesah. Bukankah lebih baik Kita terima saja dengan ikhlas segala keadaan itu, toh… itu adalah situasi yang dimana kita sudah dalam posisi tidak bisa untuk menghindarinya. Mau tidak mau situasi itu harus kita lalui… Nah, dengan merubah sikap kita tersebut. Posisi kita berubah dari sekedar KORBAN, kita sekarang menjadi PELAKU atau Subject. Sebagai pelaku, maka kitapun punya kemampuan untuk merubah Masalah menjadi Berkah.

Pandangan kita akan berubah, tidak lagi memandang masalah sebagai sebuah beban. Namun memandang masalah sebagai sebuah kesempatan untuk memperbaiki kualitas kehidupan kita. Sebuah kesempatan untuk memperbaiki keadaan, dan menghapus kesalahan di masa lalu. Sehingga dengan begitu kita malah bisa mengucapkan puji syukur kepada Tuhan, atas masalah yang diberikan kepada kita. Yang dengan masalah itu bisa menjadi sebuah batu pijakan untuk kita meraih kesuksesan di masa mendatang. Inilah, ciri-ciri karakter orang-orang Sukses yang harus juga kita miliki.

Contohnya, Limbah kotoran sapi yang dulunya mengganggu pemandangan dan menjadi pusat pencemaran lingkungan dan polusi udara di desa saya. Saat ini bisa disulap menjadi Pupuk Organik yang berkwalitas tinggi. Menjadi lahan kerja yang bisa menghidupi ratusan keluarga. Baca selengkapnya di sini… Dan masih banyak contoh-contoh seperti itu di lingkungan kita.

Life is Never Flat
Kehidupan di dunia tidak pernah datar dan lurus-lurus saja. Life is never flat and life is never straight. Pengusaha sukses tidak akan selamanya sukses suatu saat ia harus besiap menghadapi kerugian. Pelajar yang pintar nan cerdas tidak akan selalu mendapatkan nilai di atas rata-rata, suatu saat ia harus siap dengan nilai yang tidak memuaskan. Orang yang badannya selalu sehat, harus siap jika suatu hari tubuhnya dilanda kesakitan. Di suatu waktu, kebahagiaan tiba memenuhi ruang di dalam hati, tapi di lain waktu seseorang harus siap ketika kesedihan kunjung.

Ini adalah wujud bahwa semua yang ada di dunia ini diciptakan oleh Allah swt. secara berpasangan dan semuanya tidak pernah diam dalam suatu keadaan. Terus berputar, silih berganti.

Dua Macam Ujian
Kita sering merasa bahagia jika yang terjadi pada diri kita adalah sesuatu yang kita harapkan, sesuatu yang kita inginkan dan kita cita-citakan. Kaya raya, bisnis sukses, memiliki tubuh yang selalu sehat, memiliki keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Itu adalah beberapa contoh harapan dan keinginan hidup.

Sebaliknya, kita merasa sengsara, sedih, dan berduka ketika mendapatkan segala hal yang tidak kita inginkan. Misalnya, sakit. Siapa yang mau sakit? Tidak akan ada kan, karena semua orang hanya menginginkan sehat. Misalnya juga bangkrut. Siapa pengusaha yang ingin usahanya gulung tikar? Oh… tidak bisa! Begitu kata Sule, he…he…he… Atau tidak lulus Ujian Nasional (UN) yang momok menakutkan bagi para pelajar kelas IX dan XII. Saya kira tidak ada pelajar yang ingin gagal UN, semuanya pasti hanya menginginkan satu kata saja tidak yang lain yaitu L-U-L-U-S alias lulus.

Islam memandang bahwa bagaimana pun kondisi yang sedang terjadi, semua adalah ujian kehidupan. Mau kesenangan atau kesengsaraan, mau kebahagiaan ataupun kesedihan, dua hal ini adalah ujian. Dan, memperkuat realitas tersebut, Ibnu Abbas mengungkapkan bahwa sesungguhnya dunia adalah ruang ujian. Innaddun-yā dārul balā. Demikian tegasnya.

Namun, kebanyakan manusia baru merasa sedang diuji oleh Allah ketika mendapatkan sesuatu yang tidak diharapkan kedatangannya. Jika ini terjadi pada diri seseorang, Umar bin Khathab lebih dahsyat menegaskan bahwa orang tersebut adalah makhdū’un ‘an ‘aqlihi, tertipu oleh akalnya sendiri. Pertanyaan saya adalah, mungkinkah ada orang yang tertipu oleh akalnya sendiri? Jika ada, orang tersebut adalah orang yang sangat bodoh. Dan label ini diberikan Umar putra Khathab kepada orang yang tidak merasa sedang diuji oleh Allah dengan segala bentuk kesenangan hidup.

Menyikapi Ujian Hidup
Berdasarkan pemaparan di muka, ujian hidup dibagi menjadi dua, yaitu ujian berupa kesenangan dan ujian berupa kesengsaraan. Ujian kesenangan diistilahkan dengan al-minhatu dan ujian kesengsaraan dilambangkan dengan al-mihnatu.

Lalu, bagaimanakah kiat-kiat dalam menghadapi kedua ujian tersebut? 
Untuk ujian kesenangan, sudah pasti bahwa sikap terbaik kita adalah bersyukur kepada Allah atas segala karunia yang diberikan. Syukur yang ditanamkan di dalam hati kemudian tumbuh menjadi amal-amal baik amaliyah lisan maupun amaliyah badan, akan menjadi penambah karunia dan nikmat. Allah swt. berfirman, ”Dan (ingatlah juga), ketika Rabb kalian memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S. Ibrahim [14]: 7).

Yang akan saya kaji secara fokus pada ruang ini adalah bagaimana kita menghadapi al-mihnatu atau ujian kesengsaraan (menurut penilaian manusia)?

1. Yakini bahwa yang terjadi adalah takdir Allah swt.
Jurus pertama dalam menghadapi ujian hidup adalah tanamkan keyakinan bahwa apa yang sedang terjadi merupakan takdir Allah dan takdir Allah tidak akan salah sasaran serta tidak akan ada yang mampu menahannya. Yakini juga bahwa ketika Allah menghendaki sesuatu terjadi kepada kita, itulah yang terbaik untuk kita karena Allah Mahaadil dan tidak pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Sekali lagi, Allah tidak akan pernah menzalimi hamba-hamba-Nya. Musibah yang terjadi pada hakekatnya adalah kebaikan yang sedang Allah berikan.

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيْبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَ اللهُ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ
Mā ashōba min mushībatin illā bi idznillāhi, wa man yu`min billāhi yahdī qolbahu, wallōhu bikulli syai`in ‘alīmun
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya, dan Allah Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu.” (Q.S. At-Taghabun [64]: 11).

Beriman terhadap takdir Allah akan membuat hati kita berada dalam hidayah Allah. Justru pikiran akan menjadi “gelap” saat hati kita merasa sangat sengsara dengan ujian yang diterima. Insya Allah, orang yang mengimani bahwa musibah itu bagian dari jalan hidup yang Allah gariskan, ia akan merasa tenang dan ketenangan akan mempercepat pemecahan masalah, insya Allah.

2. Beban ujian setara dengan kekuatan diri
Bobot ujian yang menimpa sebanding dengan kekuatan diri dalam menghadapinya. Jika pundak kita mampu memikul beban sampai 100 kg, misalnya, maka beban ujian yang Allah berikan tidak akan melebihi 100 kg. Demikian ilustrasinya.

Nah, karena fitrah ujian adalah setara dengan kekuatan diri, jurus jitu selanjutnya adalah yakini bahwa kita mampu menghadapinya. Tetapi, banyak diantara kita yang merasa begitu sengsaranya sampai berkeluh kesah dengan ujian yang dihadapinya. Ini adalah akibat yang muncul karena kurangnya keyakinan terhadap fitrah ujian tersebut sebagaimana difirmankan dalam al-Quran:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَ عَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ
Lā yukalliful-lōhu nasan illā wus’ahā lahā mā kasabat wa ‘alayhā maktasabat
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 286).

Yakinlah bahwa kita bisa menghadapi ujian yang ditimpakan, insya Allah…

3. Lapangkan hati
Jika sesendok garam dilarutkan ke dalam segelas air, bagaimana rasanya? Pasti asin, bukan? Lalu, jika sesendok garam dilarutkan ke dalam air sekolam, bagaimana rasanya? Pasti tetap tawar.

Demikianlah gambaran ujian yang Allah berikan. Jika hati kita sempit, ujian sekecil apapun akan terasa berat. Sebaliknya, jika hati kita lapang, ujian seberat apapun insya Allah akan terasa ringan.

Trik agar hati kita lapang adalah berdzikir kepada Allah setiap saat termasuk ketika mendapat ujian. Dzikir kepada Allah akan menenangkan hati kita dan hati yang tenang adalah hati yang lapang yang akan memperingan bobot ujian hidup.

اَلَّذِيْنَ آمَنُوْا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ
Alladzīna āmanū wa tathma`innu qulūbuhum bi dzikrillāhi alā bi dzikrillāhi tathma`innul-qulūbu
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (Q.S. ar-Ra’du [13]: 28).

4. Buatlah perbandingan bobot ujian dengan yang lebih berat
Selanjutnya, buatlah perbandingan bobot ujian dengan yang lebih berat. Misalnya, uijan berupa rasa sakit. Padahal sudah diperiksakan ke dokter tapi masih belum menemui kesembuhan sehingga terkadang ada yang menyesali keadaan atau bahkan mempertanyakan keadilan Allah, na’udzubillāhi min dzālik (kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut).

Dalam keadaan seperti itu, coba bandingkan bobot ujian yang kita rasakan dengan sahabat kita yang saat itu juga sedang mengalami rasa sakit. Sementara saat sakit kita masih bisa buang air sendiri tanpa harus dipapah berjalan ke jamban atau dibantu prosesnya, sahabat kita harus diapapah dan dibantu proses buang airnya. Sahabat kita pun masih untung bisa ke jamban buang airnya meskipun harus dipapah dan dibantu, yang lain harus buang air di tempat berbaringnya menggunakan selang. Terus demikian, lakukan perbandingan dengan yang bobot ujiannya lebih berat. Insya Allah ini akan membuat kita bersyukur dalam lautan musibah.

5. Jemputlah solusi, jangan menunggunya!
Hukum kausalitas mengatakan bahwa tidak ada asap kalau tidak ada api. Ada akibat karena ada sebab dan keduanya selalu selaras dalam muatannya. Jika ingin mendapat akibat yang baik, maka ciptakanlah sebab yang baik. Itu kata kuncinya.

Dalam cobaan pun berlaku hukum kausalitas. Jemputlah solusi, jangan menunggunya! Berikhtiarlah mencari jalan keluar karena yakinlah bahwa Allah memberikan masalah satu paket dengan jalan keluarnya. Tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya. Likulli dā`in dawā`un, untuk setiap penyakit ada obatnya. Demikian sabda Rasulullah saw. sebagai representasi dari seluruh permasalahan hidup.

Jika saat ini Anda sedang sakit, berobatlah secara total dan sekemampuan diri. Berobat adalah bagian dari pencarian jalan keluar agar segera sembuh. Begitu pula untuk seluruh masalah hidup, berikhtiarlah menjemput solusi.

6. Jangan lupa berdoa kepada Allah swt.
Rasulullah saw. bersabda:

الدُّعَاءُ سِلاَحُ الْمُؤْمِنِ ، وَعِمَادُ الدِّينِ ، وَنُورُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ

Ad-du’ā`u silāhul-mu`mini, wa ‘imādud-dīni, wa nūrus-samāwāti wal ardli
“Doa adalah senjata orang beriman, tiangnya agama dan cahaya langit dan bumi”. (H.R. Hakim dari Abu Hurairah. Al-Hakimberkata: sanadnya shahih).

Banyak-banyak lah berdoa kepada Allah ketika cobaan dirasa berat. Insya Allah doa adalah satu kiat yang akan membuat hati tenang dan tersemangati. Selain berdoa sendiri, minta pula lah doa kepada orang lain termasuk kepada orang saleh yang masih hidup. Sehingga banyak “senjata” yang dilancarkan kepada Allah sebagai upaya untuk mendapatkan solusi.

7. Tawakalkan sepenuhnya kepada Allah
Ketika sudah mengupayakan segala daya, serahankanlah urusannya kepada Allah. Jika segala urusan diserahkan kepada Allah, insya Allah jaminan solusi sudah di tangan. Logikanya adalah, Allah Mahatahu tentang diri kita, tentang apa yang kita rasakan, tentang apa yang kita inginkan dan tentang apa yang sedang diupayakan, maka Allah akan memenuhi hajat kita jika kita menyerahkan urusan kepada-Nya.

وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا. وَبَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللهُ لِكُلِّ شَيْئٍ قَدْرًا
Wa man yattaqil-lā`ha yaj’al lahū makhrojan. Wa yarzuqhu min haitsu lā yahtasibu, wa man yatawakkal ‘alallōhi fahuwa hasbuhu innallōha bāligu amrihi qod ja’alallōhu likulli syai`in qodron

“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar, dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sesungguhnya Allah telah membuat ketentuan bagi segala sesuatu”. (Q.S. ath-Thalaq [65]: 2-3).

Ingat sekali lagi bahwa hidup itu tidak pernah datar dan hidup juga tidak lurus terus melainkan berkelok. Semoga kita termasuk golongan orang yang ketika ditimpa ujian baik al-minhatu maupun al-mihnatu, kita bisa melaluinya dengan sukses yang pada akhirnya kita naik ke tingkat yang lebih tinggi.

Salam perjuangan…!!!

Mutiara Kehidupan

Konon kabanya, menurut para ahli, mutiara yang mahal itu berasal dari masuknya sebutir pasir kedalam tiram yang terbuka. Pasir yang masuk ini ternyata menimbulkan sakit yang luar biasa sehingga untuk menahan rasa sakit tersebut, sang tiram membungkus pasir itu dengan “air liurnya” terus menerus selama bertahun-tahun. Sebutir pasir yang terus menerus dibungkus dengan “air liurnya” tiram tersebut, secara tidak sadar telah menghadirkan mutiara yang indah dan mahal harganya.

Terkadang hidup ini perlu merasakan rasa sakit dan ujian bahkan jatuh hingga titik nol untuk menemukan esensi nilai hidup itu sendiri.

Setiap orang akan menghadapi masalah-masalah dalam hidup ini. Tidak ada hidup tanpa masalah, hidup bukanlah hidup tanpa masalah. Dalam setiap periode perkembangan dan perjalanan hidup manusia selalu ada tahapan-tahapan dan memiliki masalah dan penyelesaian masing-masing. Setiap penyelesaian masalah selalu mengalami proses, ada yang pendek, ada yang sedang kadang-kadang prosesnya begitu lama.

Masalah juga bukanlah hambatan hidup, masalah adalah bagian dan realita dari hidup, bukan untuk dihindari tetapi untuk dihadapi dan dijalani dengan kerelaan, kesabaran, keteguhan hati dengan hikmat dan dengan pertolongan Tuhan. Intinya seseorang yang mau bertumbuh ia harus menghadapi masalahnya dan harus siap menghadapi prosesnya.

Setiap masalah yang dihadapi dengan benar dan bijaksana, biasanya berakhir dengan baik dan seringkali membawa kebahagiaan. Selain itu, setiap kali kita menghadapi masalah dan pergumulan seharusnya mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik, lebih kuat dan lebih bijaksana. Tanpa perubahan ke arah yang lebih baik sia-sialah pergumulan dan kesulitan-kesulitan yang dihadapi.

Tapi bukan lantas kita mencari-cari masalah. Tidak usah dicari, masalah juga pasti akan datang sendiri kok. Dia akan datang, disaat kita dirasa sudah waktunya untuk naik level. Yang penting adalah bagaimana sikap kita terhadap masalah. Apakah kita mau lari dan bersembunyi dari masalah atau kita memilih fokus mencari solusi dan menyelesaikan semua masalah tersebut.

Yang jelas, mereka yang mendapatkan masalah dan berhasil menyelesaikannya tentu menjadi lebih ahli dari sebelumnya. Bukankah kita belajar dari pengalaman. Walaupun ada yang bilang belajar dari pengalaman orang lain itu lebih baik, adakalanya kita mesti belajar dari pengalaman kita sendiri.

Ketika kita mendapatkan suatu masalah, maka pertama yang harus kita pahami adalah memahami problem dari masalah tersebut, lalu bangkitkan motivasi dalam diri kita untuk menyelesaikan masalah-masalah itu. Kemampuan yang tersimpan di dalam diri anda dan pikiran anda akan mampu membelokkan kenyataan. munculnya suatu masalah dalam kehidupan kita bukanlah peristiwa yang perlu kita takutkan, tetapi justru bisa berubah menjadi peristiwa yang dapat meninggalkan kualitas hidup kita.

Dimanana-mana ada kemauan, di situ ada jalan, hal serupa juga bisa di ambil hikmahnya, setiap masalah itu selalu ada jalan keluaranya,karena setip kesulitan pasti ada jalan keluar yang tersimpan di balik kesulitan itu sendiri. Kita jangan terlalu takut berlebihan ketika kita sedang menghadapi masalah, cukup kita ingat, Tuhan memberikan masalah pasti satu paket dengan solusinya, oleh sebab itu jangan membuat diri kita menjadi lemah karenanya. Sehingga pikiran dan perasaan kita pesimis menghadapi masalah kita sendiri. Tegarlah dengan masalah-masalah kita dan kerahkan sisi terbaik dalam diri kita pasti kita akan menemukan pemecahan masalahnya.

Tak ada manusia yang luput dari ujian hidup. Tak ada keberhasilan yang tak melewati ujian dan rintangan. Semakin bertambah usia seseorang, semakin kencang pula angin kehidupan berhembus untuk menguji ketegaran dan keimanannya. Saat jabatan di amanatkan di pundak seseorang, saat itu pula cobaan dan godaan datang menghadang silih berganti, untuk menguji apakah ia betul-betul layak mengemban amanat jabatan tersebut.

Harta, tahta, dan wanita adalah tiga hal yang sering jadi ujian yang berat dalam hidup. Jabatan adalah juga kursi panas yang siap membakar orang yang duduk di atasnya. Penguasa bisa terguling karena godaan harta yang membuatnya berkorupsi ria.

Hidup dan mati memang diciptakan Sang Pemilik semesta sebagai wahana ujian untuk memilih siapa makhluk-Nya yang terbaik. Mengapa harus repot-repot menjadi orang yang terbaik? Karena hal itulah tujuan hidup manusia. Jika manusia tak memiliki tujuan hidup yang jelas dan luhur, selamanya ia akan didera kebingungan dan kegelisahan, tak ubahnya seperti orang tersesat di tengah hutan dan tidak tahu ke mana jalan pulang. Jika manusia tidak lagi memikirkan tujuan hidupnya, berarti ia merendahkan dirinya menjadi seperti benda, hewan, atau tumbuhan.

Ujian hidup bukanlah bentuk kekejaman dari Sang Pencipta. Sebagaimana ujian sekolah bukanlah bentuk hukuman sewenang-wenang dari sang guru untuk murid-muridnya. Namun itu semata merupakan sebuah kesempatan untuk meningkatkan taraf & kelas kehidupan. Diadakan ujian, karena memang sebelumnya sudah ada pelajaran yang telah diberikan oleh sang guru. Begitu pula ujian hidup. Sang Pemilik hidup sudah membekali manusia dengan akal, hati nurani, kitab suci, dan wejangan para Nabi-Nya. Jika bekal itu sudah diberikan, maka pada saatnya ujian itu akan datang.

Seorang profesor pernah mengatakan bagaimana perak harus dimurnikan sebanyak tujuh kali. Perak yang masih kotor harus dipanaskan dan dilelehkan, karena perak berberat jenis cukup besar, maka ketika dipanaskan dia akan turun dan kotorannya akan naik. Saat itulah kotoran2 yang sudah naik tersebut disaring dan dibersihkan. Setelah mengalami pembersihan tahap pertama, maka kembali perak itu dicairkan untuk tahap kedua kalinya lalu disaring kembali. Hal ini harus dilakukan berulang kali untuk mencapai tingkat kemurnian yang diharapkan. Setelah tujuh kali, barulah perak itu murni, tinggal menyisihkan kotoran2 yang halusnya saja.

Alhasil, setelah melalui berkali-kali proses pembersihan, perak itu begitu cemerlang bagaikan cermin. Padahal, ketika masih kotor, betapa sulitnya untuk bercermin pada perak tersebut. Namun setelah tujuh kali dipanaskan, orang baru dapat melihat wajahnya sendiri pada perak tersebut. Dari sini kita dapat ambil hikmah, bahwa ketika ‘kotoran hidup’ (karakter, watak dan kebiasaan negatif sulit lekang sekalipun sudah berkali-kali berusaha untuk meninggalkannya), maka kita tampaknya perlu masuk dapur api pengujian hidup agar dapat menemukan kembali makna hidup itu sendiri.

“Sesungguhya bersama kesulitan tersimpan kemudahan. Dan sungguh bersama kesulitan itu kemudahan.” (Al-lnsyirah: 5-6)

Mestinya tidak ada lagi tersisa kata untuk menyerah dalam hidup. Sebab, janji Allah adalah suatu hal yang pasti. Jelas, bahwa bersama kesulitan tersimpan kemudahan. Dan tidak ada satupun manusia yang hidup di dunia ini kecuali ia akan mengenyam kesulitan beberapa saat. Namun, bukankah tidak selamanya siang itu ada atau malam itu bertahta. Namun, siang akan berganti malam dan malam pun akan disambut oleh siang.

Jadi, jalanilah hidup ini sesuai dengan sunnatullah dari Yang Maha mencipta alam ini dan seisinya. Merupakan sunnatullah juga, bahwa manusia hendaknya memulai kesuksesannya dari hal yang kecil. Mereka harus meniti anak-anak tangga untuk menuju kesuksesan. Jika ia terjatuh pada satu anak tangga, maka sadarlah bahwa sesungguhnya ia sedang menyambut kemenangan dan kelapangan.

Maka, bukalah pintu-pintu kemenangan dan kelapangan tersebut dengan kunci-kunci yang tepat, agar engkau termasuk orang-orang yang beruntung.

“Dan ketahuilah sesungguhnya kemenangan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesulitan, dan sungguh bersama kesulitan itu bersama kemudahan.” (Al-Arba’un an-NawawTyyah, no. 19).