Menghadapi Rasa Takut

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatih…..
Sahabat, Katakan pada hatimu, rasa takut akan penderitaan justru lebih menyiksa daripada penderitaan itu sendiri. Dan tak ada hati yang menderita saat mengejar impian-impiannya dengan ikhlas, sebab setiap detik pencarian itu bisa diibaratkan pertemuan kembali dengan Tuhan dan keabadian.

Jika keinginan atau mimpi-mimpi itu adalah sumber penderitaan, maka ingatlah bahwa ketidakinginan juga adalah bentuk keinginan yang lain. Ingin dan tidak ingin akan sama-sama menghadapi penderitaan. Sebagaimana batu dan butir pasir yang sama-sama tenggelam di dalam air. Lantas, mengapa tidak kita buat saja keinginan-keinginan, mimpi-mimpi, dan berusaha untuk mewujudkannya? Meskipun harus melalui penderitaan-penderitaan. Sederhana sajalah, nikmati saja suka & duka itu… rasa lelah dalam mencapai mimpi-mimpi indah itu sebenarnya adalah manis bila diterima dengan sabar & ikhlas.

Rasulullah SAW bersabda :

  • Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
  • Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)
  • Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah-payahan dalam mencari nafkah. (HR. Ath-Thabrani)
  • Sesungguhnya Allah Ta’ala senang melihat hambaNya bersusah payah (lelah) dalam mencari rezeki yang halal. (HR. Ad-Dailami)

Rasa Takut

“Lakukan apa yang paling Anda takuti dan rasa takut pun pasti akan berakhir.”
—Mark Twain

Ketakutan nampaknya sudah menjadi bagian dari perilaku sebagian besar dari kita: takut gagal, takut ditolak, takut diledek, takut miskin. Bentuk-bentuk ketakutan ini pada akhirnya menyebabkan penyakit mental seperti kekhawatiran, kecemasan, stress, kesedihan dan sebagainya akibat adanya anggapan bahwa masa depan akan lebih buruk dari apa yang dialami sekarang.

Ada seorang samanera cilik yang hampir terlarut oleh rasa takut, namanya si Belalang Kecil. Suatu hari, gurunya yang buta mengajak si belalng kecil ke ruangan di belakang biara, yang biasanya terkunci. Di dalam ruangan itu terdapat kolam selebar enam meter, dengan sebuah papan sempit sebagai jembatan yang menghubungkan sisi yang satu dengan sisi seberangnya. Sang guru memperingati si Belalang Kecil untuk tidak dekat-dekat dengan pinggir kolam, karena kolam itu bukan berisi air, melainkan berisi larutan asam yang sangat pekat.

“Tujuh hari lagi,” Si Belalang Kecil diberi tahu, “kamu akan diuji! Kamu harus berjalan menyeberangi kolam asam ini dengan menjaga keseimbangan di atas papan kayu yang sempit itu. Tetapi hati-hati! Kamu lihat kan tulang belulang di dasar kolam itu?”

Si Belalang Kecil melongok was-was dari pinggir kolam, dan melihat banyaknya tulang belulang di dasar kolam itu.

“Itu dulunya tulang samanera muda seperti kamu!”

Sang guru lantas mengajak si belalng kecil keluar dari ruangan yang mengerikan itu, menuju halaman biara yang diterangi sinar mentari. Di sana, beberapa biksu senior telah memasang papan kayu dengan ukuran yang hampir sama dengan yang ada di kolam airan asam, hanya saja, yang ini ditaruh di atas tanah dengan disanggah oleh tumpukan dua batu bata. Selama tujuh hari berikutnya Si Belalang Kecil dibebaskan dari tugasnya-tugasnya untuj berlatih keseimbangan di atas papan itu.

Itu mudah. Dalam beberapa hari saja dia dapat berjalan dengan keseimbangan sempurna, dengan mata tertutup sekalipun, menyeberangi papan di halaman biara. Dan tibalah harinya ujian.

Si Belalang Kecil dibawa gurunya menuju ke ruangan dengan kolam asam. Tulang belulang para samanera yang jatuh tampak putih berkilauan dari dasar kolam. Si belalsng kecil naik ke ujung papan dan menoleh ke arah gurunya. “Jalan!” perintah sang guru.

Papan di atas kolam asam itu ternyata lebih sempit dari papan di halaman kuil. Si Belalang Kecil mulai melangkah , tetapi langkahnya goyah; dia mulai bergoyang-goyang. Bahkan belum setengah jalan dia makin terhuyung-huyung. Kelihatannya dia akan segera tercebur ke larutan asam. Si Belalang Kecil mulai kehilangan rasa percaya dirinya. Dia melangkah dengan gemetar, lalu oleng….., dia jatuh!

Guru tua yang buta tertawa terbahak-bahak ketika mendengar suara Si Belalang Kecil tercebur ke kolam. Itu bukan asam, itu cuma air. Tulang belulang tua itu telah ditaruh di dalam kolam sebagai “tipuan khusus”. Mereka telah mengakali Si Belalang Kecil.

“Apa yang membuatmu terjatuh?” tanya sang guru dengan serius. “Rasa takutlah yang menjatuhkanmu, Belalang Kecil, hanya rasa takut….”

Sahabat, ada dua macam ketakutan. Yaitu :

  1. Takut Alamiah.
  2. Takut Yang dibuat-buat.

Takut alamiah bisa dikatakan takut yang didasari oleh insting kita sebagai makhluk hidup. Takut adalah mekanisme alamiah yang diberikan Tuhan kepada kita. Tujuannya adalah, agar kita menjadi berhati-hati, dan karena itu jadi selamat. Misalnya ketika kita menyeberang jalan, kita akan tengok kiri tengok kanan untuk memastikan kita tidak tertabrak. Takut alamiah ini yang menjadi basic survival nenek moyang kita dulu dari zaman homo sapiens karena kalau tidak kita sudah punah sejak dulu kala. Takut alamiah ini berdasarkan fakta. Jadi ada parameter yang jelas kenapa kita takut sehingga kita mengantisipasinya dengan tindakan.

Tipe takut yang kedua adalah takut yang berdasarkan fiksi – bukan kenyataan. Tipe takut yang ini menyebabkan kekhawatiran, kecemasan dan stress padahal semuanya hanyalah anggapan yang tidak didukung fakta-fakta nyata. Misalnya seseorang yang takut bicara di depan umum beranggapan bahwa orang-orang akan mencemoohnya padahal belum tentu hal itu terjadi. Orang ini akhirnya memilih untuk diam saja sekedar mencari aman.

Sebenarnya yang kita takutkan seringkali bukan sesuatu yang langsung dihadapi, tapi konsekuensi lanjut dari sesuatu itu. Misalnya, takut hujan. Maksud sesungguhnya adalah takut menjadi basah sehingga jadi malu kepada orang lain, atau jadi sakit. Nah, bila konsekuensi ini tidak lagi menakutkan buat kita (misalnya yakin tidak akan jadi sakit, atau niat sudah pulang dari kantor), maka sesuatu itu juga menjadi tidak lagi menakutkan.

Di tulisan ini saya akan membahas lebih detil tentang tipe takut yang kedua dan bagaimana cara mengatasinya.

Asal Usul Takut
Takut yang sifatnya mental disebabkan karena kita punya standar, aturan, atau keyakinan yang harus dipenuhi, kalau tidak kita akan merasa gagal. Standar, aturan atau keyakinan ini biasanya timbul melalui pergaulan kita di lingkungan keluarga, teman, dan pekerjaan. Seolah-olah kita harus memenuhi tuntutan mereka dan beban ini membuat kita khawatir apabila kita gagal memenuhinya.

Contoh-contoh Standart Yang membebani diri sendiri :
“Saya harus sempurna”
“Saya harus jadi nomor satu”
“Saya harus berhasil supaya orang-orang mengagumi saya”
“Kegagalan adalah akhir segalanya”
“Saya akan dihukum kalau saya gagal”
“Saya harus menjaga citra diri”
“Pandangan orang tentang saya harus selalu baik”

Masih Banyak lagi contohnya mulai dari takut gagal ujian, takut melajang terus, takut dijauhi teman, dsb. Padahal it’s OK untuk gagal ujian yang penting kita berusaha dengan belajar. It’s OK untuk tidak menikah sebelum kita memperoleh pasangan yang tepat (daripada menikah dipaksakan tapi akhirnya berantakan). It’s OK juga dijauhi teman selama kita bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan.

Ironisnya, ketakutan yang cuma anggapan ini bisa menjadi kenyataan ketika kita memikirkannya terus menerus. Ingat, pikiran kita bekerja sesuai dengan fokus kita. Apabila kita fokus kepada kekhawatiran maka cepat atau lambat apa yang kita takutkan akan terjadi.

Mengatasi Rasa Takut
Pertama, ubah fokus Anda dari takut menjadi cinta, dari khawatir menjadi optimis. Sadari bahwa takut tidak lebih dari sekedar ilusi yang belum tentu terjadi. Cintai apa saja yang Anda lakukan sepenuh hati. Abaikan kekhawatiran dan hilangkan standar, aturan, atau keyakinan yang dibuat oleh orang lain karena hanya diri Andalah yang mengetahui apa yang terbaik bagi Anda.

Kedua, bangun komunikasi dengan diri Anda sendiri. Tanyakan kepada diri Anda tiap kali Anda merasa khawatir, ”Apakah kekhawatiran ini membawa kebaikan atau menyakiti diri saya?”. Katakan kepada diri Anda bahwa Anda mencintai diri Anda apa adanya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang menentukan kebahagiaan Anda kecuali diri Anda sendiri. Bukan orang tua, bukan bos, bukan juga pasangan Anda.

Yang terakhir adalah berlatihlah untuk berhenti berpikir tentang masa depan dan habiskan waktu Anda sebanyak mungkin di masa kini. Artinya your mind and body selalu sinkron, bukannya badan disini tapi pikiran melayang kemana-mana. Kekhawatiran, kecemasan, pesimis hanya terjadi karena kita terlalu memikirkan masa depan. Dengan kita fokus ke masa sekarang kita menjadi lebih punya energi dan power untuk memperoleh kebahagiaan sekarang, bukan nanti, tapi sekarang dan disini….

Rasa takut itu rahmat, yang mengeluarkan semua kemampuan. Takut, sejatinya, merupakan bayangan cermin dari berani. Takut mendorong kita untuk berusaha bertahan. Tanpa rasa takut, saya kira tidak akan pernah ada upaya untuk survive dalam hidup ini, yang pada gilirannya akan mendayai kita untuk melahirkan gagasan-gagasan yang kreatif dan inovatif.

Takut itu adalah rahmat yang memaksimalkan kekuatan. Tuhan itu tidak akan memberikan masalah, kecuali kita mampu untuk menyelesaikannya; sehingga sebetulnya kita akan mampu menyelesaikan semua masalah.

“Kunci keberhasilan adalah menanamkan kebiasaan sepanjang hidup Anda untuk melakukan hal-hal yang Anda takuti”

“Apa yang Anda takutkan untuk dikerjakan adalah indikator yang jelas mengenai apa yang harus Anda kerjakan berikutnya”

“Keberanian bukanlah tanpa ketidakhadiran ketakutan, tetapi lebih merupakan suatu keputusan bahwa ada yang lebih penting dari ketakutan itu sendiri”

SIKLUS RASA TAKUT

Itulah siklus ketakutan. Biasanya pas kita mau mulai sesuatu atau disuruh sesuatu, kita sudah takut duluan dan bilang gak bisa. Dan tidak pernah mau Mencoba. Nah dari situlah kita tidak pernah melakukan sesuatu yang baru, yang kita anggap gak bisa. Padahal belum saja di coba.

Setelah kita tidak melakukan sesuatu, maka kita tidak akan mendapatkan pengalaman dari sesuatu tersebut. Padahal kita sendiri tau, kalau pengalaman itu guru terbaik. Dan ketika kita tidak mempunyai pengalaman, maka kita tidak akan punya kemampuan. Dan saat kita tidak punya kemampuan, maka kita akan terus merasa takut. Begitu seterusnya…

Rasa takut memang selalu pasti ada dalam diri manusia, Tuhan yang memberikan rasa takut kepada mahkluk hidup selain manusia yaitu hewan, rasa takut diciptakan agar kita bisa menjaga diri dari hal-hal negatif yang dapat merugikan kita. Namun, kita sebagai manusia dianugerahkan akal dan pikiran, hendaknya menempatkan rasa takut itu pada porsinya. Jangan menjadikan rasa takut itu sebagai penghalang kita untuk maju.

Jika kita tidak bisa menghadapi rasa takut, apa bedanya kita sama hewan yang ketika takut langsung lari begitu saja, hadapi dan majulah!! Tuhan tidak pernah memberikan kita cobaan melebihi dari kesanggupan kita. Dan Tuhan selalu memberikan ujian dan cobaan kepada kita agar kita bisa lebih maju.

Sekarang saatnya kita keluar dari siklus ketakutan itu dan mulai bergerak.
Jangan Takut Salah, Mari Belajar Dari Kesalahan.

Gagal Itu Indah

Apa itu gagal..?? Apa itu kegagalan..?? Ketika suatu rencana atau cita-cita tidak tercapai sesuai yang diharapkan maka itu disebut sebagai kegagalan. Betul…?? Tetapi, ingat sahabat. Kegagalan bukanlah akhir kehidupan. Right..?? The Life must go on. Gagal hanya ada jika kita berhenti. Right…?

Apa anda pernah gagal..? Saya yakin semua orang pernah mengalami kegagalan. Apapun bentuk kegagalan tersebut Tuhan memiliki rencana lain untuk hidup yang diarungi. Berlapang dada, tidak larut dalam kesedihan, dan bangkit kembali memperbaiki kekurangan diperlukan dalam menghadapi kegagalan.

Kegagalan bukan akhir dari segalanya, hikmah yang bisa dipetik menjadikan pribadi yang lebih kuat. Jangan pernah menyalahkan diri sendiri, apalagi orang lain demi pembenaran kekeliruan yang dilakukan penyebab kegagalan tersebut.

Gagal merupakan proses dan perkembangan. Waktu bayi pada saat kita akan belajar berjalan, dimulai dengan tiarap, kemudian merangkak, perlahan-lahan berdiri dengan memegang meja atau kursi, berjalan selangkah demi selangkah dan akhirnya mampu berjalan dengan tegak bahkan berlari. Itu sebuah proses, pada saat belajar berjalan tak terhitung berapa kali kita jatuh, terbentur meja atau kursi membuat tubuh kita lecet dan menjerit. Apakah kita menyerah? Tidak, jika kita menyerah tak mungkin kita bisa berdiri tegak, berjalan ke tempat yang indah dan berlari bagaikan sprinter peraih emas diolimpiade. Untuk menggapai kesuksesan dibutuhkan proses dan usaha yang keras.

“There Is No Failure, Only Feedback“
“Tidak ada kegagalan, yang ada hanya umpan balik“.

Memaknai kegagalan sebagai umpan balik, memberikan persepsi baru bagi saya. Semula persepsi saya atas kegagalan mirip /saya analogikan seperti terminal atau stasiun atau tempat pemberhentian (pit stop). Maksudnya kalau kita mengalami kegagalan, berarti langkah kita mesti terhenti sebentar, atau bisa juga berhenti lama, untuk menyiapkan perjalanan yang baru lagi.

Persepsi saya seperti ini, diperkuat lagi dengan banyaknya contoh orang yang gagal dalam satu usaha, terus banting stir ke usaha lain. Dan bila kembali gagal, akan mencoba lagi usaha yang lain.

Tetapi dengan persepsi baru saya, bahwa kegagalan hanyalah umpan balik, sangat cocok dengan tipikal saya, yang cenderung teknikal. Saya jadi ingat waktu SMA punya hobby elektronika, kalau sudah mengutak-atik rangkaian elektronika, saya selalu terpacu untuk bisa berhasil. Karena kalau sedang ngoprek ternyata hasilnya tidak sesuai keinginan, maka akan dicari letak penyebabnya (feed back). Dari umpan balik-umpan balik yang bisa dikumpulkan, hampir 90% proyek-proyek kecil saya bisa diteruskan dan membuahkan hasil. Ach jadi nostalgia SMP. he..he..he..

Dengan persepsi baru saya bahwa kegagalan hanyalah umpan balik, membuat saya bertambah optimis. Apapun yang nanti terjadi pada bisnis, saya siap menghadapinya. Kalau orang lain mengatakan gagal, saya akan menyikapinya sebagai umpan balik yang memberitahu saya bahwa ada strategi yang keliru atau strategi tidak tepat dijalankan. Sehingga proses harus terus berjalan dan tidak boleh terhenti, karena yakin tidak akan pernah gagal. Yang ada hanya umpan balik.

Demikian juga kalau orang lain bilang saya sukses, saya memaknainya sebagai umpan balik yang menunjukkan bahwa strategi yang dijalankan sudah tepat dan sudah pas. Jadi fokusnya tetap pada proses bukan pada hasil.

Jadi, tetap jalani prosesnya, nikmati pencapain-pencapaiannya.

Tersebutlah, seorang pemuda kampung bernama Ujang yang pantang menyerah dan tidak takut menghadapi kegagalan. Ia berprinsip, “Lebih baik mencoba lalu gagal, dari pada saya gagal mencoba.”

Setelah Ujang menguasai bahasa Arab dengan baik, kini Ujang pun ingin bisa berbahasa Inggris. Pergilah ia ke sebuah lembaga kursus. Belajarlah ia disana, dengan penuh semangat membara….

Pada hari pertama kursus dia sudah belajar menyebutkan angka2 sederhana dalam bahasa Inggris, seperti one, two, three, dst. Kemudaian ia juga belajar sedikit tatakrama seperti ucapan “I’m sorry sir”.

Kemudian pada hari kedua kursus, saking semangatnya, si Ujang berangkat dengan cepat menuju tempat kursusnya, lalu tiba-tiba secara tak sengaja ia menyenggol seorang bule.

Karena Ujang dilahirkan sebagai seorang yang optimis dan PD abizzz, maka ia pun dengan kemampuan alakadarnya berkomunikasi dengan si bule seperti berikut :

Ujang : I’m sorry sir….
Bule : Oh No problem, I’m sorry too
Ujang : (Dengan pede abis) Oh yes, I’m sorry three
Bule : (Kebingungan abis) I’am sorry three, what for ?
Ujang : Oh yes, Four five sir…
Bule : (Tambah bingung) Are you sick ?
Ujang : Oh no, I’m seven

Ha ha ha ha ha… gagal itu memang indah. Janganlah Anda menyerah dengan kegagalan, sebab kelak kegagalan itulah yang membuat sukses Anda terasa begitu indah.

Lagipula, kegagalan tidak harus dinisbatkan kepada pelakunya, cukup kepada peristiwanya saja. Sehingga pembelajaran kita bisa lebih sempurna.

Sebagaimana, seorang gadis yang menggoreng tempe, lalu tempenya gosong, MAKA sungguh yang gosong adalah tempenya, bukan gadisnya…

Berani Gagal, sebuah kisah.

Hanya orang yang berani gagal total, akan meraih keberhasilan total.
– John F Kennedy

PERNYATAAN John. F. Kennedy ini saya yakini kebenarannya. Itu bukan sekedar retorika, tetapi memang sudah terbukti dalam perjalanan hidup saya. Gagal total itulah awal karier bisnis saya.

Pada akhir 1981, saya merasa tak puas dengan pola kuliah yang membosankan. Saya nekad meninggalkan kehidupan kampus. Saat itu saya berpikir, bahwa gagal meraih gelar sarjana bukan berarti gagal dalam mengejar cita-cita lain. Di tahun 1982, saya kemudian mulai merintis bisnis bimbingan tes Primagama, yang belakangan berubah menjadi Lembaga Bimbingan Belajar Primagama.

Bisnis tersebut saya jalankan dengan jatuh bangun. Dari awalnya yang sangat sepi peminat – hanya 2 orang – sampai akhirnya peminatnya membludak hingga Primagama dapat membuka cabang di ratusan kota, dan menjadi lembaga bimbingan belajar terbesar di Indonesia.

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.

Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.

Mengapa saya melukiskan gambaran yang begitu buruk bagi seorang entrepreneur yang gagal? Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.

Menurut pengalaman saya, apabila orang gagal, maka tidak ada gunanya murung dan memikirkan kegagalannya. Tetapi perlu mencari penyebabnya. Dan justru kita harus lebih tertantang lagi dengan usaha yang sedang kita jalani yang mengalami kegagalan itu. Saya sendiri lebih suka mempergunakan kegagalan atau pengalaman negatif itu untuk menemukan kekuatan-kekuatan baru agar bisa meraih kesuksesan kembali.

Sudah tentu, kasus kegagalan dalam bisnis maupun dunia kerja, saat krisis ekonomi kian merebak dan bertambah. Ribuan orang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan kehilangan mata pencahariannya. Sungguh ironis, seperti halnya kita, suka atau tidak suka, setiap manusia pasti akan mengalami berbagai masalah, bahkan mungkin penderitaan.

Bagi seorang entrepreneur, sebaiknya jangan sampai terpuruk dengan kondisi dan suasana seperti itu. Kita harus berani menghadapi kegagalan, dan ambil saja hikmahnya (kejadian dibalik itu). Mungkin saja kegagalan itu datang untuk memuliakan hati kita, membersihkan pikiran kita dari keangkuhan dan kepicikan, memperluas wawasan kita, serta untuk lebih mendekatkan diri kita kepada Tuhan. Untuk mengajarkan kita menjadi gagah, tatkala lemah. Menjadi berani ketika kita takut. Itu sebabnya mengapa saya juga sepakat dengan pendapat Richard Gere, aktor terkemuka Hollywood, yang mengatakan bahwa kegagalan itu penting bagi karier siapapun.

Mengapa demikian? Karena selama ini banyak orang membuat kesalahan sama, dengan menganggap kegagalan sebagai musuh kesuksesan. Justru sebaliknya, kita seharusnya menganggap kegagalan itu dapat mendatangkan hasil. Ingat, kita harus yakin akan menemukan kesuksesan di penghujung kegagalan.

Ada beberapa sebab dari kegagalan itu sendiri. Pertama, kita ini sering menilai kemampuan diri kita terlalu rendah. Kedua, setiap bertindak, kita sering terpengaruh oleh mitos yang muncul di masyarakat sekitar kita. Ketiga, biasanya kita terlalu “melankolis” dan suka memvonis diri terlebih dahulu, bahwa kita ini dilahirkan dengan nasib buruk. Keempat, kita cenderung masih memiliki sikap, tidak mau atau tidak mau tahu dari mana kita harus memulai kembali suatu usaha.

Dengan mengetahui sebab kegagalan itu, tentunya akan membuat kita yakin untuk bisa mengatasinya. Bila kita mengalami sembilan dari sepuluh hal yang kita lakukan menemui kegagalan, maka sebaiknya kia bekerja sepuluh kali lebih giat. Dengan memiliki sikap dan pemikiran semacam itu, maka akan tetap menjadikan kita sebagai sosok entrepreneur yang selalu optimis akan masa depan. Maka, sebaiknya janganlah kita suka mengukur seorang entrepreneur dengan menghitung berapa kali dia jatuh. Tapi ukurlah, berapa kali ia bangkit kembali. [purdiechandra.net]

Nasehat Para Bijak
Banyak kata-kata bijak yang diujar oleh tokoh-tokoh untuk memotivasi diri dalam menghadapi kegagalan. Berikut kata-kata bijak tersebut:

Anda mungkin perlu berjuang lebih dari sekali untuk meraih sukses. ( Margareth Thatcher)

“Ketika masih muda, saya memperhatikan bahwa sembilan dari sepuluh hal yang saya lakukan menemui kegagalan. Saya tidak mau menjadi orang gagal, lalu saya bekerja sepuluh kali lebih giat” (George Bernard Shaw)

” Saya pasti akan sukses karena telah kehabisan percobaan gagal” (Thomas Alpha Edison)

” Apabila jatuh dan bangkit kembali, Anda menghailkan sesuatu pada diri Anda. Terlalu banyak jatuh dalam hidup adalah menyehatkan dan menyegarkan. Jika Anda bangkit kemabli, bangkit itulah yang penting” (Yoritomo Tashi)

” Ini bukan berarti Anda gagal, tetapi hanya belum menemukan sesuatu yang lebih berarti” (Alexander Graham Bell)

Mahatma Gandhi mengatakan “Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil. Usaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki”.

Kerja keras akan menghasilkan sesuatu, walaupun kadang tak sesuai dengan keinginan setidaknya kita telah melakukan sebuah proses kesenangan dan kepuasan pribadi.

Apakah untuk sukses kita harus cerdas atau kaya? Kecerdasan belum tentu menjamin sebuah kesuksesan. Kesuksesan ditentukan 99% kerja keras dan 1% kejeniusan (Albert einstein)

Jika aku diberi waktu 8 jam untuk menebang pohon di hutan akan kugunakan 6 jam untuk mengasah kampak ku.
(Abraham Lincoln).

Dua pernyataan dari tokoh tersebut memberi kita inspirasi bahwa kesuksesan memerlukan usaha yang keras dan perencanaan matang. Kerja keras tanpa perencanan dan didukung pandai melihat peluang memungkinkan kita untuk mendapat kegagalan yang baru.

Kesuksesan seseorang sering kita dengar tetapi proses untuk mencapai kesuksesan itu kadang tak menjadi pusat perhatian para pendengar.

Thomas Alva Edhison menemukan bohlam setalah percobaan yang gagal mencapai seribu kali;Miheal Jackson, penyaynyi terkenal memulai debutnya ketika baru tamat dari taman kanak-kanak; Sun Yat Sen gagal 10 kali dan baru jaya pada cobaan ke-11 untuk menjadi Bapak Cina modern; Henry Sy, Sr waktu kecil tak mampu membeli sepatu kini mempunyai kekayaan pribadi 2.3 juta dollar US dan membangaun shopping mall terbesar dunia. Tokoh-tokoh tersebut berjuang dan berusaha dengan keras untuk mencapai kesuksesan.

Semoga menjadi inspirasi “kegagalan bukan akhir segalanya, kegagalan proses perkembangan dan tahap menuju kesuksesan”

Kata Mutiara Einstein

Einstein seorang jenius yang banyak memberikan pengaruh pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Einstein juga sering berkata bijak yang menimbulkan motivasi dan memberikan inspirasi berikut kata-kata bijak Einstein.

  • “Hanya ada dua cara menjalani kehidupan kita. Pertama adalah seolah tidak ada keajaiban. Kedua adalah seolah segala sesuatu adalah keajaiban.”
  • “Usaha pencarian kebenaran dan keindahan merupakan kegiatan yang memberi peluang bagi kita untuk menjadi kanak-kanak sepanjang hayat.”
  • “Gravitasi tidak bertanggung-jawab atas orang yang jatuh cinta.”
  • “Kebahagiaan dalam melihat dan memahami merupakan anugerah terindah alam.”
  • “Kecerdasan tidak banyak berperan dalam proses penemuan. Ada suatu lompatan dalam kesadaran, sebutlah itu intuisi atau apapun namanya, solusinya muncul begitu saja dan kita tidak tahu bagaimana atau mengapa.”
  • “Hal yang paling sukar dipahami di dunia ini adalah pajak penghasilan.”
  • “Akal sehat adalah kumpulan prasangka yang didapat sejak usia 18 tahun.” “Hanya sedikit yang melihat dengan matanya sendiri dan merasakan dengan batinnya sendiri.”
  • “Barangsiapa yang tidak pernah melakukan kesalahan, maka dia tidak pernah mencoba sesuatu yang baru.”
  • “Nilai manusia yang sesungguhnya pada dasarnya ditentukan oleh ukuran dan rasa yang telah mencapai pembebasan dari dirinya sendiri.”
  • “Bagaimana mungkin engkau menjelaskan fenomena biologis yang sedemikian penting seperti cinta pertama dalam pengertian kimia dan fisika ?”
  • Hakikatku adalah yang aku pikirkan, bukan apa yang aku rasakan
  • Selagi ada cinta tidak perlu ada lagi pertanyaan
  • Aku Berpikir terus menerus berbulan bulan dan bertahun tahun, sembilan puluh sembilan kali dan kesimpulannya salah. Untuk yang keseratus aku benar.
  • Kalau mereka ingin menemuiku, aku ada disini. Kalau mereka ingin bertemu dengan pakaianku, bukalah lemariku dan tunjukkan pada mereka. (Ketika istrinya memintanya berganti untuk menemui Duta Besar Jerman)
  • Kebanyakan orang mengatakan bahwa kecerdasanlah yang melahirkan seorang ilmuwan besar. Mereka salah, karakterlah yang melahirkannya.
  • Tanda kecerdasan sejati bukanlah pengetahuan tapi imajinasi.
  • Imajinasi lebih berharga daripada ilmu pengetahuanLogika akan membawa Anda dari A ke B. Imajinasi akan membawa Anda kemana-mana.
  • Tidak ada eksperimen yang bisa membuktikn aku benar, namun sebaliknya sebuah eksperimen saja bisa membuktikan aku salah.
  • Orang-orang seperti kita, yang percaya pada fisika, mengetahui bahwa perbedaan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan hanyalah sebuah ilusi yang terus menerus ada.
  • Dunia ini adalah sebuah tempat yang berbahaya untuk didiami, bukan karena orang-orangnya jahat, tapi karena orang-orangnya tak perduli.
  • Generasi-generasi yang akan datang akan kehilangan keyakinan bahwa manusia akan berjalan di muka bumi dengan darah dan daging.
  • Nilai manusia terletak pada apa yang bisa dia terima.
  • Kalau nilai 9 itu kesuksesan dalam kehidupan, maka nilai 9 sama dengan x ditambah y ditambah z. Bekerja adalah x, y adalah bermain, dan z adalah untuk berdiam diri.
  • Orang berjiwa besar akan selalu menghadapi perlawanan hebat dari orang2 “PICIK”.
  • Kecerdasan belum tentu menjamin sebuah kesuksesan. Kesuksesan ditentukan 99% kerja keras dan 1% kejeniusan