>Anatomi Modelling Dan Programming

>

Modeling secara harfiah berartti meniru, yakni meniru-pola-pola tindakan orang lain atau lebih tepatnya meniru tokoh yang diidolakan. Bila Anda memodel seorang juara tennis misalnya, itu artinya sedang meniru pola-pola perilaku dari pola pikir dan pola tindakan khususnya teknik-teknik memukul dan menerima bola tenis dan seterusnya. Memodel secara serius sesungguhnya, seseorang sedang memahami dan memvisualisikan dalam pikirannya dan setelah jelas gambaran pola-polanya, ia mengendapkannya dalam alam bawah sadar menjadi file (program).

Sebenarnya teori yang mendasari modeling sangat sederhana: siapa saja meniru tindakan orang-orang sukses cenderung sukses; sebaliknya meniru orang gagal atau tepat meniru perilaku negatif ia cenderung menjadi gagal.

Meski sesimpel itu, modeling tidak akan bekerja secara efektif bila tingkat memodelnya hanya sampai dataran kognitif saja. Artinya, ia tahu persis secara konsep pola perilaku sampai cara-cara memodel pola perilaku orang-orang sukses, tetapi bila hanya tahu saja tidak sampai ke tingkat emosional untuk melakukannya secara sungguh-sungguh, modeling tidak akan berjalan efektif. Modeling mempersyaratkan adanya komitmen emosional untuk melakasanakannya.

Anatomi Modeling

Kalau saya tarik ke belakang, bagaimana seorang anak manusia lahir di muka bumi sampai tingkat peradabannya tidak lepas dari modeling. Dimulai dari budaya yang sangat sederhana pola makan dan pola (cara) berpakain tidak lepas dari hasil memodel budaya di lingkungannya. Kita bisa makan, minum dan bepakain dengan cara-cara yang sopan (paling tidak diterima oleh lingkungan) adalah hasil modeling atau meniru.

Sesungguhnya proses memodel tidaklah semudah yang kita bayangkan. Anda bisa membaca, menulis huruf dan merangkainya menjadi kata-kata misalnya, membutuhkan perjuangan keras dan waktu bertahun-tahun. Coba kita ingat ketika kita masih duduk di bangku sekolah dasar kelas (SD) satu dulu. Untuk paham lafal dan menulis huruf ”R” saja, berapa kali Anda menghafal dan melafalnya? Berapa kali Anda menirukan Bapak/Ibu Guru untuk melafal huruf ”R” sesuai mimik guru? Berapa kali Anda menulis dan menghapus huruf tersebut sehingga Anda secara mental hafal dan secara motorik bisa menulis huruf tersebut hingga dianggap benar? Berapa jumlah energi yang dikeluarkan dan sampai tingkat konsentrasi apa hingga Anda benar-benar hafal?

Kita tidak menyadarinya bahwa betapa berat perjuangan untuk bisa menghafal satu huruf saja. Ternyata otak kita untuk bisa menghafal satu huruf memerlukan pengulangan berkali-kali sehingga hafal betul! ”Hafal di luar kepala!”, begitu istilah yang sering kita dengar untuk memodel satu huruf (fenomena) saja. Sekarang saja Anda begitu otomatis menggunakan huruf dan kata karena sudah hafal di luar kepala.

Begitu pentingtnya menghafal/memodel huruf dalam kehidupan manusia sehingga Allah SWT dalam Al Qura’an surat Al Baqarah ayat 1 (satu) mengisyaratkan pentingnya huruf sebagai hal yang elementer dalam kehidupan manusia. Dalam surat itu hanya tediri 3 (tiga) huruf yakni: alif laam mim dan bukan kata-kata atau kalimat sebagaimana ayat-ayat Al Qur’an lainnya. Tentang tafsir ayat ini masih bervariasi dalam memaknaninya: ada yang mengatakan bahwa itu hanya Allah yang mengatauinya; ada pula yang menafsirkannya sebagai pembukaan bacaan yang menarik atau sebagai daya tarik dari bacaan Al Qur’an.

Bagi saya, huruf alif laam mim, bukan saja sebagai pertanda bahwa Al Qur’an sebagai ditulis dengan bahasa Arab yang indah, namun bermakna bahwa huruf merupakan simbol penting bagi manusia agar bisa memodel, meniru semua hal yang ada di dunia. Bahwa huruf dihafal (dimodel) di luar kepala sebagai bagian penting dan elementer dalam berkomunikasi melalui bahasa. Apa sebabnya?

Pertama, huruf harus dihafal agar kita bisa merangkai sebuah kata, baik kata benda, sifat maupun kata kerja. Semua hal di muka bumi ini pasti bisa diberi nama yang merupakan rangkaian huruf. Anda bisa merangkainya dalam bentuk kata (benda, sifat dan kerja) bila Anda hafal huruf-huruf yang membentuknya, yang Anda tahu, betapa sulitnya dulu saat saat masih duduk di sekolah dasar untuk menghafal/memodel huruf tersebut.

Kedua, huruf dan kata yang sudah kita model tadi, merupakan bahan membuat sebuah kalimat. Di dalam kalimat itulah Anda menemukan sebuah makna (meaning). Bagaimana Anda membuat makna? Anda mampu membuat makna juga tidak lepas dari modeling, Anda tahu makna akan sebuah kalimat karena Anda hafal akan makna setiap kata yang membentuknya. Bila tidak hafal satu kata saja Anda pasti sulit memaknainya.

Ketiga, rangkaian huruf menjadi sebuah kata, dan rangkaian beberapa kata menjadi sebuah kalimat yang di dalamnya mengandung makna, sesungguhnya Anda sedang berkomunikasi dengan apa yang disebut bahasa. Bahasa apa pun, pastinya terbentuk dari huruf dan kata berikut kaidah-kaidah kebahasaan sebagai pembentukannya. Sampai di sini saya ingin mengatakan bahwa peran bahasa dalam kehidupan dan peradaban manusia menduduki peran sentral. Bahwa manusia sangat mengandalkan bahasa dalam kehidupannya, apa pun fenomena, benda, situasi bahkan ilmu pengetahuan sangat tergantung kepada peran bahasa.

Apabila Anda hari ini mengusai bahasa tertentu tidak lepas dari usaha keras Anda dalam memodel/menghafal bahasa tersebut. Adakah seseorang yang dalam belajar bahasa yang langsung hafal tanpa menghafal dan mempraktikkannya terlebih dahulu setiap hari? Anda bisa berbahasa karena biasa, yakni biasa memodel/mengafal. Berapa kali Anda menhafal satu kata?

Linguistic Programming

Manusia menciptakan huruf, kata, kalimat dan bahasa bukan untuk sekedar sebagai alat komunikasi. Bukan sekedar alat ekspresi dari pesan yang ingin disampaikan kepada orang lain. Dalam kaitannya dengan makna pada setiap kata dan kalimat, manusia menciptakan bahasa adalah dalam rangka mind programming (pemograman pikiran). Setiap makna yang terkandung dalam setiap kata dan kalimat bahasa tertentu (bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, Perancis, Jerman dan lain-lain) mampu mempengaruhi pikiran seseorang yang setelah mengalami filter (cocok tidak cocok, bernilai atau tidak bernilai dengan belief dirinya) makna tersebut tersimpan secara baik di dalam benaknya (pikiran bawah sadar).

Makna dalam setiap kalimat adalah benih yang apabila benih itu terus terawat, tumbuh mengakar kuat, akan berkembang dan berbuah, yakni buah pikiran (ide-ide), buah konsep, hingga buah keterampilan yang bermanfaat bagi umat manusia. Contoh kalimat ”Aku adalah anak pandai dan ulet dalam situasi apa pun.” Makna dari kalimat ini adalah ”percaya diri dan pantang meyerah”. Apabila makna ini benar-benar tertanam kuat dalam pikiran bawah sadar seseorang maka sudah barang tentu banyak buah yang dapat dipetik. Percaya diri adalah pangkal sukses apa pun profesi seseorang. Bila ia adalah seorang yang bercita-cita jadi seorang entrepreneur, maka banyak buah-buah (produk/jasa) kreatif yang diciptakan; bila ia bercita-cita menjadi seorang karyawan, maka dengan percaya diri akan mengantarkan dirinya pada seorang pemimpin yang buah karyanya banyak dinanti anak buah dan masyarakatnya.

Sebuah makna yang tertanam kuat di dalam pikiran bawah sadar seseorang ibarat sebuah pohon subur yang siap berbuah di sepanjang musim. Seperti firman Allah SWT: ”Tidaklah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seijin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya manusia ingat dan perumpamaan kalimat yang buruk adalah seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi; tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun” (QS, surat Ibrahim 24-26)

Kata-kata yang baik akan menghasilkan sebuah kalimat yang baik; kalimat yang baik akan menghasilkan makna yang baik; makna yang baik ibarat benih pohon yang baik dan kuat, yang siap berbuah pada sepanjang musim. Sebaliknya kata dan kalimat yang buruk akan menghasilkan makna dan buah (ide) yang buruk pula. Bila ide buruk tertanam dalam pikiran bawah sadar seseorang secara kokoh maka perilaku buruk yang diperoleh. Ibarat, pikirannya terserang virus/kangker yang hasilnya (buah) tidak dapat diharapkan. Bila itu diibaratkan sebuah pohon, maka pohon yang demikian itu seperti pohon yang telah dicabut akar-akarnya alias mati.

Apa yang Anda katakan pada orang lain adalah benih yang kau taburkan di benak orang lain. Bila yang Anda katakan adalah benih unggul maka akan berbuah (karya) unggul bagi kehidupan. Sepanjang buah tersebut bermanfaat bagi yang bersangkutan dan bagi masyarakat, Anda mendapatkan pahala yang terus mengalir; sebaliknya bila yang Anda katakan adalah kata-kata/kalimat kotor maka akan menghasilkan virus-virus yang mematikan. Bila yang Anda katakan ternyata menyesatkan sehingga yang bersangkutan hidupnya sesat alias tidak bisa berbuah (karya) maka Anda akan mendapatkan ”resikonya” sepanjang masa.

Berkatalah yang baik karena kata-katamu ibarat benih yang mampu menegakkan pohon pikiran berbuah (karya) sepanjang masa. Bila ini dilakukan niscaya pahala yang mengalir sampai akhir hayat.

by. Waidi Akbar

>“Gimana nge-switch pikiran dari Negatip ke Positip?”

>Demikian salah satu pertanyaan yang paling banyak ditanyakan, baik oleh peserta pelatihan motivasi yang saya bawakan, maupun oleh pendengar acara Terapi Musik di Radio Sonora, setiap minggu malam. Cukup banyak idenya, namun salah satu ide sederhana, mudah dan unik, tiba-tiba muncul kembali saat selesai Seminar Motivasi untuk lebih dari 1.000 Consultant Oriflame di Bandung, Minggu, 22 Maret 2009 lalu.

“Aha” ini muncul saat tertidur di mobil dalam perjalanan kembali ke Jakarta. Saat terbangun, langsung saya catat di kertas kecil, lalu saya buat artikelnya untuk diposting ke PortalNLP.com

Ide “Aha” ini pernah saya lakukan sekitar 12 tahun lalu, yang diajarkan oleh Mentor, Leader dan Guru saya yakni Bpk. Viriyawan Murti yang saya kagumi dan saya hormati sampai saat ini…

Mengapa Pikiran perlu di-SWITCH?

Sederhana saja idenya, sebelum kita berbicara cara untuk sukses, cara untuk kaya, cara untuk maju dsb dsb… Sangatlah sulit untuk mengajarkan hal tersebut jika pikiran kita masih di bagian gelap, bagian hitam, bagian negatip. Mengapa? Analoginya, begini: Bila otak kita sudah berwarna hitam, maka warna apapun yang masuk, akan tetap keluar sebagai warna hitam.

Jadi, dari pada mengajarkan sesuatu kepada orang “hitam”, lebih baik ajarkan dulu orang tersebut menjadi “putih”, bukan? Agar apa yang akan dibagikan menjadi warna-warna baru yang disukainya… Nah, pertanyaan berikutnya. Apakah pikiran bisa…

Berubah dengan CEPAT?

Jawabannya YA. Kok bisa? Lha, seseorang fobia kecoa, hanya dalam beberapa detik saja. Artinya otak kita bekerja dengan SANGAT CEPAT. Kalo begitu, kita perlu cara yang bisa merubah pikiran kita dengan cepat. Tepat sekali! Ini ide sederhananya, yang di dapatkan dari terapi untuk orang gila ha ha ha… yakni SHOCK Therapy. Idenya sederhana, begini caranya, mulai sekarang gunakan…

Karet Gelang

Boleh ditangan kiri, boleh juga di tangan kanan Anda. Untuk apa? Untuk sebuah simbol janji, untuk sebuah tanda tekad. Tekad untuk apa? Tekad untuk berubah, berubah menjadi pribadi yang positip. Apa fungsinya?

Ya, untuk JEPRET tangan Anda sendiri, untuk menghukum diri Anda sendiri. Untuk memberikan rasa sakit, memberikan efek Shock Therapy.

Kapan?

Kapanpun, saat Anda berpikiran negatip, saat pikiran Anda sedang sebel, saat pikiran Anda sedang marah dan saat apapun yang membuat Anda kontra produktif. Tarik karet gelang tersebut yang tinggi, lalu lepaskaaan…. dan Preeet!!! Karet gelangpun memberi rasa perih di kulit tangan. Uh uh uh… Seru kan? Sederhana lagi…

Mudah? Nah, tentu tidak. Mengapa? Saat awal saja, Anda akan mengatasi rasa malu dengan memakai gelang karet, ada perasaan norak, ada perasaan malu, ada perasaan aneh dsb. Namun, saat Anda bisa mengatasi hal ini, Anda menang dengan diri Anda sendiri.

Setelah itu, lakukan dengan disiplin, lakukan dengan sungguh-sungguh ide yang sangat sederhana ini. Sampai kapan? Sampai Anda hanya berpikir positip…

Berapa lama saya menggunakannya?

Saya perlu waktu lebih dari setahun ha ha ha… Lama sekali ya? Betul, namun buahnya juga sangat luar biasa. I can control my self, I can control my MIND anda I can control my life.

Apa buah yang paling luar biasa dan berharga dari kegiatan ini? Buat saya, ternyata tidak hanya berpikir positip, namun saya malah jadi orang yang NO MIND ha ha ha…. Dan, hal ini akan sangat berguna saat saya melakukan MODELLING, proses yang saya lakukan menjadi SANGAT CEPAT. Perubahan dalam diripun menjadi QUANTUM LEAP! Thanks dan total respect to my Guru, Bpk Viriyawan Murti yang telah menorehkan sejarah sukses dalam perjalanan hidup saya…

Demikian sharing ide sederhana ini, semoga Andapun tertarik untuk ikutan “malu” ha ha ha… Semoga berhasil…

Jalan Tol Bandung-Jakarta, 22 Maret 2009

Krishnamurti – Mindset Motivator

by.

>Secret of The Secret

>

“The Secret” sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Jika anda telah menontonnya anda sudah memulai sesuatu yang baik sebagai permulaan menuju kehidupan yang lebih sejahtera. The Secret adalah film yang sangat bagus (jika anda belum menontonnya, klik disini untuk melihatnya) tapi memberikan gambaran yang kurang jelas bagaimana cara menggunakannya langkah demi langkah. Saya akan memberikan anda 7 langkah menggunakan “The Secret”:

Langkah 1: Pastikan apa yang anda inginkan dari hidup anda. Buat daftar berisi 33 hal yang anda inginkan di hidup anda meskipun anda pikir hal tersebut adalah tidak mungkin. Bob Proctor pernah berkata “Orang-orang tidak berusaha meraih hal yang mereka mau, melainkan berusaha meraih yang mereka pikir bisa dapatkan!” Sekaranglah saatnya untuk mengesampingkan apa yang anda pikir bisa dapatkan, dan mulai berpikir untuk mendapatkan yang anda mau!

Langkah 2: Bayangkan apa yang anda inginkan sekarang ini. Ini berbeda sekali dari melamun. Perbedaannya adalah, jika melamun anda berpikir “Jika saya mendapatkan ini, seberapa bagus sih?”, sedangkan jika anda membayangkan, anda memiliki gambaran dari hal yang anda inginkan dan sudah memilikinya. Anda membayangkan seakan anda dapat melihatnya, merasakannya, dan mengalaminya.

Langkah 3: Bersyukurlah pada semua hal yang anda miliki dan yang anda inginkan. Berterimakasihlah pada hal-hal yang anda miliki sekarang. Jika anda merasa bersyukur pada yang anda miliki, anda berhenti mengeluh pada hal-hal yang menurut anda kurang, dan anda akan terus menarik hal-hal yang anda miliki. Berikutnya, katakan kata-kata berikut kepada diri anda sendiri: “Saya senang dan bersyukur telah memiliki … (mimpi anda)”

Langkah 4: Rencanakan bagaimana untuk mendapatkan yang anda inginkan. Jika anda telah melakukan langkah 1-3, rencana anda akan sangat berbeda, karena rencana anda sekarang tidak berdasarkan pada pikiran negatif dan hal yang tidak anda inginkan, melainkan berdasarkan pada hal yang anda inginkan. Rencana anda memiliki kekuatan untuk menarik hal-hal yang anda inginkan sekarang!

Langkah 5: Bertindak sesuai rencana. Tindakan anda sekarang juga berdasarkan pada yang anda inginkan. Setiap pagi, bayangkan apa yang anda inginkan dan bersyukurlah pada semua yang anda miliki dan keinginan anda. Bila anda telah melakukannya setiap pagi, semua yang anda lakukan dan tindakan anda akan MENARIK apa yang anda inginkan!

Langkah 6: Bersedialah untuk menerima apa yang anda inginkan. Jangan menolaknya dengan diri anda sendiri atau pada teman anda dan mengatakan “Ah saya cuma sedang beruntung. Saya nggak melakukan apa apa kok.” Jika anda mengatakan itu, anda telah menghilangkan apa yang alam semesta berikan dan akhirnya akan berhenti.

Langkah 7: Waktunya memeriksa hasil! Periksa bahwa anda telah mencapai sesuai rencana anda. Jika tidak sesuai, rencanakan kembali dan buatlah sesuai. Jika yang anda dapatkan melebihi apa yang anda rencanakan, anda dapat memperluas apa yang anda rencanakan dan membuat tujuan yang lebih menantang!

Itu saja. Benar-benar semudah itu.
(Translated from Secrets of Unlimited Wealth)

source : ivan.gudangbaca.com/7_langkah_yang_tidak_disebutkan_di_the_secret
Link : 

>Law Of Attraction dan NLP

>

Apakah LOA Itu?

Jika Anda pernah membaca bukunya Michael Losier “The Law Of Attraction“, maka akan melihat bagaimana Michael Losier membahas LoA menggunakan ilmu NLP (Neuro Linguistic Programming). Ilmu NLP ini dikenal sebagai demistifying tools, yakni alat (perangkat berpikir) yang me-non-mistis-kan sesuatu yang sebelumnya dianggap mistis menjadi gejala sehari-hari biasa. Jika Anda ingin tahu apa itu NLP silahkan baca artikel “Apakah NLP” di bagian akhir blog ini.

Sebagai gambaran yang lebih jelas, silahkan jawab pertanyaan ini :

  • Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi dimana Anda baru melamunkan suatu makanan yang enak, tiba-tiba ada yang mengantarkan (mentraktir, memberi) Anda makanan yang Anda harapkan itu?
  • Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi dimana Anda baru saja membayangkan wajah seorang sahabat sambil mengenangkan manisnya hubungan Anda, dan tiba-tiba sahabat Anda itu menelepon Anda, atau justru tiba-tiba muncul di depan Anda?
  • Pernahkah Anda mengalami suatu kondisi di mana Anda suatu saat pernah berkhayal / berimajinasi / bervisualisasi tentang suatu pergi berkunjung ke luar negeri yang anda inginkan. Tiba-tiba suatu saat Anda mendapatkan bonus liburan dari seseorang / suatu organisasi (kantor Anda, hadiah bank, lucky draw, pemerintah, dll) padahal Anda tidak pernah meminta hal itu pada mereka.
  • Pernahkah Anda mengalami suatu kehilangan benda tertentu, namun Anda meyakini bahwa benda itu tidak benar-benar hilang. Kemudian saat Anda rileks, membayangkan benda itu sambil mengingat gunanya dan merasa bahwa benda itu sangat bermanfaat, kemudian tiba-tiba Anda seperti “didorong” pergi ke suatu tempat tertentu, dan “gubrak”, Anda menjumpai benda itu disitu? Padahal rasanya Anda sudah kesitu sebelumnya, dan bahkan Anda tidak ada dugaan bahwa benda itu disitu.
  • Pernahkah Anda sedang tertarik dan berminat sekali mengenai suatu topik, kemudian saat berjalan di toko buku/perpustakaan tiba-tiba seperti terdorong melangkah ke rak tertentu, dan tiba-tiba ada suatu sampul buku yang seolah meloncat-loncat dan mengundang Anda untuk dibaca. Dan bum…! Buku itu berisi topik yang sedang Anda cari-cari.
  • Pernahkan Anda merasa selalu beruntung karena setiap menginginkan suatu proyek/bisnis, selalu saja ada proyek yang datang, padahal Anda tidak pernah dengan sengaja mengejarnya atau memintanya.
  • Pernahkah Anda sedang menginginkan melakukan sesuatu, (misal ingin menuliskan buku), tiba-tiba ada orang yang mengenalkan Anda ke penerbit, bertemu di suatu acara dan berkenalan dengan seorang editor atau orang yang mengajak menulis bersama, dan ada seorang sekretaris yang menawarkan diri bekerja untuk Anda dalam membantu menuliskan buku itu. Semua terjadi seolah kebetulan dan Anda tidak dengan sengaja mengejarnya dan seterusnya.
  • Pernahkah Anda mengalami rasa yakin yang luar biasa akan mendapatkan tempat parkir di suatu tempat tertentu pada saat tertentu di mall atau di kantor Anda. Dan kemudian betul, saat Anda tiba di tempat itu, Anda mendapatkan tempat parkir di lokasi persisi yang Anda inginkan sebelumnya.
  • Pernahkah Anda ingin sekali berbicara di suatu forum / acara, kemudian Anda membicarakan dengan istri Anda mengenai keinginan itu dan sempat membayangkan beberapa kali. Tiba-tiba saat Anda hadir di acara itu, seseorang yang belum pernah Anda kenal sebelumnya memanggil Anda ke depan dan meminta Anda berbicara mengenai topik yang Anda maksudkan itu?
  • Pernahkah Anda menginginkan menikah umur tertentu misal umur 30 tahun, dengan seorang jodoh yang memiliki karakteristik fisik tertentu, misal berkulit putih dan tidak gendut (maaf, bukan bermaksud SARA). Beberapa kali setelah dewasa, bahkan Anda sudah melupakan hal itu, kemudian anehnya semua usaha pernikahan sebelum umur itu dan dengan orang yang berkarakteristik berbeda menjadi gagal. Lucunya pas umur 30 tahun Anda menikah dengan orang yang berkarakteristik seperti itu.
  • Pernahkah Anda menginginkan suatu barang sedemikian pingin-nya, bukan untuk Anda sendiri, namun untuk anak bayi Anda. Dan pada saat Anda setelah melahirkan, pulang kerumah, ternyata barang-barang itu sudah ada di rumah Anda. Beberapa diberi orang dan beberapa dipinjamin orang, persis seperti yang Anda inginkan.
  • Pernahkah Anda pada suatu ketika tiba-tiba tanpa alasan yang jelas ingin sekali pergi ke suatu tempat tertentu, bahkan Anda sebelumnya tidak pernah secara khusus berada di tempat itu. Dan saat Anda ikuti keinginan itu, ternyata di situ Anda menjumpai suatu kejadian yang Anda memang ingin buktikan bahwa hal itu memang terjadi. Misal Anda menemukan bahwa ada seseorang sedang mencurangi di belakang Anda.
  • Pernahkah Anda menuliskan 100 impian / harapan secara tertulis. Bahkan Anda tidak tahu bagaimana itu akan terwujud, Anda cuma yakin saja bakal terjadi, Anda cuma berkhayal saja betapa indahnya jika kesampaian. Dan beberapa tahun kemudian, saat Anda meninjau kembali ternyata beberapa impian itu sudah terjadi, dan beberapa terus menerus menyusul terjadi.
  • Pernahkah Anda sedang menulis SMS ingin mengundurkan suatu jadual pertemuan dengan seseorang, namun tepat sebelum SMS itu Anda kirimkan tiba-tiba orang itu mengirim SMS atau menelepon Anda meminta jadualnya diundur seperti keinginan Anda?
  • Atau sebaliknya, Anda sedang menelepon orang, atau sedang memberi sesuatu kepada seseorang, atau mendatangi rumah/kantor seseorang, dan lain-lain. Tiba-tiba orang itu mengatakan… “Ya ampun, aduh… saya baru saja membathin / membayangkan hal itu…, kok bisa ya….?”

Nah, kejadian seperti di atas terjadi karena apa? Jika kita perhatikan, bahkan seringkali hal itu terjadi dengan cara kita TIDAK DENGAN SENGAJA MENARIKNYA, atau dengan kata lain bahkan kita tidak MEMINTANYA pada siapapun. Kita hanya berharap itu terjadi ‘entah dengan cara apa’ dan ‘entah bagaimana itu bisa termanifestasi’.

Lha kalau kita TIDAK dengan sengaja meminta KEPADA SIAPAPUN, kenapa bisa terjadi? Inilah yang menarik, inilah yang terus menerus menjadi pertanyaan semua orang. Ada yang menyebutnya kebetulan, keberuntungan, hoki dan sebagainya. Namun hati kecil kita tergelitik, kenapa ini terus terjadi dan terjadi pada begitu banyak orang?

Dari abad ke abad begitu banyak upaya memecahkan misteri ini. Dengan suatu harapan bagaimana jadinya AGAR SAYA BISA MELAKUKANNYA DENGAN SENGAJA DAN BERULANG-ULANG.

Michael Losier mengatakan, “Apapun yang Anda berikan perHATIan, Energi dan Fokus akan membuat itu masuk ke gelembung Vibrasi Anda. Dan akan direspon oleh semesta kembali kepada Anda dalam jumlah yang luar biasa”. Itulah definisi Michael Losier mengenai LoA.

Berbagai ikhtiar manusia
Ikhtiar atau usaha manusia dalam mendapatkan keinginannya bisa dilihat dari dua dimensi. Usaha fisik dan usaha mental (spiritual). Usaha fisik untuk mendapatkan uang kita lakukan dengan bekerja keras dan sebagainya. Usaha mental kita lakukan dengan selalu berdoa, melatih sikap mental positif dalam bekerja dan sebagainya.

Dalam skala yang lebih tidak kasat mata, saya sendiri sewaktu kecil menjumpai orang berikhtiar secara mental/spiritual dalam beragam wujud do’a saat saya sekolah dan belajar mengaji. Saat remaja saya menemui beberapa rekan saya melakukan hal ini dengan mencobanya melalui cara mistik, menggunakan keris dan ajimat ini itu. Cukup beruntung saya tidak mendalaminya, karena merasa tidak berbakat dalam ‘mistik’ ini.

Saat saya cukup dewasa saya bertemu lagi dengan bentuk yang berbeda, yakni dengan cara membuat bola energi (reiki, prana, dll) lantas keinginan kita dimasukkan ke dalamnya dan dilempar ke udara terus dilupakan. Saya juga sempat menjumpai teknik lain yakni dengan cara menurunkan gelombang otak ke kondisi Theta, dimana vibrasi kita pada kondisi optimum, dan lakukan visualisasi dan lainnya di gelombang pikiran itu.

Semua cara itu memiliki klaim sukses dan penjelasannya sendiri-sendiri. Lantas di Tahun 2006 dunia dihebohkan dengan film The Secret. Film The Secret menyadarkan orang akan suatu istilah yang disebut sebagai Law Of Attraction ini, karena disebut sebut bahwa “What is the Secret? The Secret is The Law of Attraction” Sejak itu istilah LoA seolah menempel pada Film The Secret.

Bagi saya istilah LoA hanyalah suatu sebutan saja untuk mempermudah melukiskan (metafora) peristiwa di atas. Boleh saja diberi nama yang lain, istilah yang lain, bahasa yang lain. Terserah kita saja.

Nah, begitu istilah LoA ini bergulir, langsung saja ada banyak orang yang kemudian mengubah mengaitkan nama/merek dari berbagai ilmu mereka dan mengemasnya dalam merek yang sedang ngetop ini “LoA”.

Semua berusaha membuat dan mengklaim bagaimana agar fenomena LoA ini bisa direplikasi. Berbagai macam cara orang untuk menjelaskan dan mengupayakan hal ini.

  • Ada yang berusaha melihat ini dari fenomena mistis. Menggunakan berbagai pendekatan antara lain dari yang menggunakan semacam mantra, herbs, simbol-simbol, mengundang arwah dan sebagainya.
  • Ada yang mendekati secara spiritual (tanpa membawa agama apapun), seperti ajaran Abraham dari Jerry dan Esther Hicks dan seterusnya.
  • Ada yang mendekati dari ajaran agama tertentu, hampir semua agama memilikinya.
  • Ada yang mendekati dengan penggunaan energi seperti reiki, EFT dan sebagainya.

Saya menghargai setiap usaha dari mereka yang mendekati fenomena ini dari sudut pandang manapun. Setiap dari mereka punya hak atas pandangannya, atas kepercayaannya, atas keyakinannya. Dalam menghargai perbedaan saya terutama berusaha dengan tidak menyalahkan pendapat yang berbeda dengan yang saya yakini.

Loa dan NLP

Apakah LoA berhubungan dengan NLP, bisa ya dan bisa tidak. LoA bisa berjalan sendiri tanpa kita mengetahui NLP kok. Lha terus apa hubungan LoA dengan NLP?

NLP adalah ilmu modelling, alias ilmu meniru. Meniru apapun yang dianggap ekselen, apakah berasal dari perilaku dan pengalaman kita atau orang lain. Dengan mempelajari NLP, kita belajar untuk mereplikasi suatu keunggulan supaya selalu bisa direproduksi ulang.

Jadi dengan belajar NLP, dan diarahkan ke LoA, tujuannya adlah supaya kita bisa mengetahui bagaimana peristiwa-peristiwa kebetulan ini bisa terus terjadi dan kita replikasi dengan sengaja dalam kehidupan kita.

Kita mendayagunakan suatu mekanisme di semesta ini yang sementara ini disebut sebagai Law Of Attraction, dengan cara menyelaraskan diri dengan cara kerja LoA itu.

Misalkan:
Dalam hampir semua metode LoA selalu dikatakan bahwa kita perlu memiliki RASA percaya yang kuat, feel good, happy, bersyukur dan berkelimpahan. Lantas banyak pertanyaan kepada saya, bagaimana caranya kita memiliki, melatih, mengemgangkan perasaan-perasaan itu?

Banyak yang belajar mengenai RASA ini mendekati secara keliru. Mereka mengira sudah merasa berkelimpahan, padahal mereka cuman berpikir berkelimpahan. Mereka mengira sudah merasa bersyukur, padahal mereka cuman berpikir bersyukur.

Berpikir tidak sama dengan merasa. Berpikir hanya berada di level kognitif dan alam sadar. Merasa melibatkan emosi dan bawah sadar dimana level vibrasinya amat tinggi.

Nah NLP secara cantik menawarkan berbagai metode untuk mengakses, melatih, menguatkan dan mengalami perasaan ini. Bahkanmemperkuatnya sehinga vibrasinya menjadi lebih tinggi lagi.

Penutup
Bagi saya, LoA saya pahami secara sederhana sekali. Bahwa semua hal bisa terjadi dalam koridor dan atas Ijin Alloh STW / Tuhan YME. Beliau memiliki hak prerogatif untuk mencancel suatu proses yang kita sebut LoA itu atau membiarkannya berjalan terus.

Namun bagi saya, alangkahnya kurang bijaksananya kita apabila kita sendiri yang mencancel proses LoA itu. Meragukan bahwa mekanisme yang (sementara ini) kita sebut LoA, akan mencancel mekanisme itu sendiri. Lebih baik kita percaya bahwa LoA itu memang ada, inilah yang disebut dengan The Art Of Allowing. Semoga saya bisa menuliskannya dalam artikel berikutnya.
 Oleh : Rony FR ( dikutip dari lingkarloa.com )
@www.fadhilza.com/2009/10/tadabbur/law-of-attraction-dan-nlp.html

>Merancang Kinerja Ekselen Dengan NLP

>

NLP barangkali merupakan salah satu kata kunci yang paling banyak dibincangkan oleh para praktisi perilaku manusia (human behavior) di tanah air beberapa tahun belakangan ini. Apa sebenarnya NLP itu? Dan apa pula metode-metode kunci yang acap diaplikasikan dalam penerapan NLP? Tulisan pendek ini mencoba secara ringkas – namun padat – menjelaskan pengetahuan kunci mengenai NLP. Dengan itu, diharapkan aura magis yang selama ini menyelimuti konsep NLP pelan-pelan bisa mulai terkuak.

NLP sendiri merupakan singkatan dari neuro linguistic programming (wuih, singkatannya serem banget!). Dikembangkan pertama kali oleh Richard Bandler (pakar psikologi dari University of California) dan John Grinder (pakar linguistik), metode ini muncul pertama kali saat mereka meneliti para great performers (kebetulan dalam penelitian ini, profesi para great performers yang diriset adalah para ahli terapis yang sukses. Dalam riset ini, digunakan tiga terapis sukses sebagai responden, yakni : Virginia Satir, Milton Erickson dan Fritz Perls). Pertanyaan kunci Bandler dan Grinder adalah : mengapa tiga terapis ini menjelma menjadi terapis hebat nan ekselen? Apa pola komunikasi, konfigurasi bahasa, dan model perilaku yang dipraktekkan ketiga terapis itu sehingga mereka menjadi sukses dalam menangani para kliennya?

Nah, serangkaian temuan yang di-ekstrak dari riset panjang itu lalu mereka olah dan racik menjadi metode NLP. Esensi dasar dari metode ini sebenarnya adalah optimalisasi pendayagunaan belief (neuro), pola komunikasi (linguistic) dan model perilaku agar kita bisa menuju kinerja yang ekselen. Nah, disini NLP kemudian juga menyodorkan serangkaian metode yang bisa dilakukan agar pola belief dan pola perilaku kita menjadi lebih efektif; dan pada gilirannya mampu menjadikan diri kita lebih optimal kinerjanya.

Lalu apa saja metode yang ditawarkan oleh NLP itu? Berikut ini saya akan mencoba mengeksplorasi tiga metode yang acap digunakan dalam aplikasi NLP (jika Anda ingin mengetahui lebih banyak mengenai NLP, silakan datang ke blog rekan saya, Ronny FR, yang juga merupakan praktisi andal NLP).

Modelling Excellence
Metode ini secara sederhana adalah teknik menduplikasi dan mencangkokkan “keistimewaan” para great performers ke dalam diri kita. Bahasa awamnya adalah : meneladani kisah keberhasilan orang lain. Para pegiat NLP percaya bahwa salah satu cara yang paling powerful untuk meningkatkan kinerja seseorang adalah dengan cara modelling excellence ini. Inilah metode yang diberangkatkan dari satu keyakinan bahwa ketrampilan (skills), pengetahuan dan perilaku dari para excellent performers bisa ditransfer dan direplikasi (penjelasan rinci mengenai langkah demi langkah melakukan modelling excellence ini akan saya bahas dalam tulisan di kesempatan berikutnya. So, keep visiting this blog, bro).

Metode Anchoring
Metode ini adalah sebuah upaya agar kita selalu berada pada kondisi psikologis yang kita inginkan dalam beragam situasi yang mungkin kita hadapi. Caranya pertama-tama Anda mesti membangun situasi psikologis yang ingin Anda simpan, misalnya suasana hati yang kalem dan relax. Lalu ingat dalam situasi apa Anda pernah benar-benar bisa mengalami suasana tenang dan relax; misal ketika Anda bangun di waktu subuh yang sunyi, atau ketika Anda duduk sendirian di pinggir pantai di suatu sore yang teduh.

Rasakan dan resapkan setiap detil dari momen-momen itu, sehingga secara emosional Anda benar-benar merasa tenang dan relax setiap kali mengingat situasi ketika Anda berada di pinggir pantai yang teduh itu. Simpan memori ini kuat-kuat kedalam otak Anda, dan secara berkala “aktifkan” memori itu dengan misalnya, sebuah kode bisikan dalam hati. Sehingga, setiap kali Anda berbisik dalam hati : “relax….”, maka seketika itu pula Anda benar-benar merasa tenang dan relax persis seperti suasana psikologis ketika Anda duduk sendirian di pinggir pantai. Lakukan proses pengaktifan ini secara berulang-ulang, sehingga proses “anchoring” itu berlangsung dengan sempurna dan otomatis.

Apa gunanya proses anchoring itu? Nah, bayangkan suatu ketika Anda harus berbicara di depan publik serta para bos Anda, dan Anda benar-benar merasa nervous. Kalau proses anchoring Anda telah terlatih, maka Anda tinggal membisikkan satu kata di hati : relax……dan abrakadabra, detik itu juga Anda akan berada pada situasi psikologis yang nyaman dan relax (persis seperti saat Anda mengalaminya pada sore yang teduh di pinggir pantai itu). Selanjutnya……..Anda bisa berbicara di depan para petinggi Anda itu dengan nyaman, tenang dan relax.

Proses anchoring ini tentu juga bisa diterapkan dalam situasi lain, semisal : ketika Anda sedang stres dan panik karena deadline pekerjaan, atau juga ketika Anda sedang emosi dengan pasangan hidup Anda. Setiap kali Anda menghadapi situasi rumit seperti ini, maka Anda tinggal bisikkan kata dalam hati : relax, dan seketika itu juga suasana batin Anda bisa lebih tenang dan “nyaman”, sehingga tindakan Anda dalam merespon situasi problematis itu menjadi lebih efektif.

The Map is Not the Territory
Kalimat ini merupakan kalimat favorit para NLP-ers. Intinya : sebuah even (fakta, kejadian, peristiwa) selalu bersifat netral, yang lebih penting adalah persepsi kita terhadap even itu. Anda mungkin pernah mendengar cerita berikut ini : suatu ketika ada dua salesman sepatu dikirim ke sebuah negara seberang. Dua hari setelah melakukan observasi, salesman pertama langsung minta dikirim pulang ke negaranya. Alasannya : tidak ada satupun penduduk di negeri seberang itu yang memakai sepatu. Salesman yang kedua, setelah juga melakukan observasi, langsung mengirimkan fax ke kantor pusatnya, minta dikirimi segera sepatu sebanyak-banyaknya. Alasan dia sama : tidak ada satu pun penduduk di negeri seberang itu yang memakai sepatu. You got the point, right?

Esensinya adalah ini : persepsi kita atas sebuah peristiwa – dan bukan fakta peristiwa itu sendiri – yang akan mempengaruhi pola perilaku dan kinerja kita dalam memaknai perjalanan kehidupan ini. Dalam konteks ini, para pelaku NLP memberi saran, agar kita selalu melihat “sisi positif” dan “peluang” yang ada dibalik setiap kejadian/fakta/peristiwa. Kita mesti bisa melakukan “reframing” terhadap setiap jejak peristiwa dalam sejarah hidup kita : apa hikmah positif yang bisa kita petik dari kejadian ini; apa perspektif lain yang bisa kita kedepankan agar bisa tercapai solusi hidup yang makin optimal.

Dengan kata lain, persepsi kita akan sebuah kejadian bukanlah sebuah kebenaran tunggal – ada persepsi dan sudut pandang lain yang boleh jadi lebih mendekatkan kita pada solusi yang lebih optimal. Tugas kita adalah selalu mencoba mengeksplorasi beragam persepsi dan sudut pandang itu, agar keputusan dan tindakan yang kita ambil benar-benar efektif dan berdaya guna tinggi. Sebab dengan itu, nasib kita mungkin akan lebih baik dibanding salesman sepatu yang pertama itu……

Photo Credit by :Hamed Masoumi under common creative license.
sumber = http://strategimanajemen.net/2008/04/21/merancang-kinerja-ekselen-dengan-nlp/#more-361

>Apakah NLP itu?

>

Saat ini NLP (Neuro Linguistic Programming) seolah tengah menjadi suatu bidang baru yang digandrungi oleh berbagai pihak di Indonesia. Mulai dari eksekutif papan atas, pengusaha, psikolog, dokter, olahragawan, dosen, bintang film bahkan sampai politisi. Sebenarnya apakah NLP itu ?

Beberapa sumber menyatakan mempelajari NLP mirip dengan mempelajari manual otak manusia, terkadang disebut sebagai people skill technology, atau disebut juga psychology of excellence. Intinya adalah mengetahui bagaimana cara kerja otak agar seseorang bisa menjadi tuan atasnya, bukan menjadi budaknya. Sedangkan para pengagas NLP sendiri merumuskan NLP sebagai The study of subjective experience .

Neuro merujuk pada otak / pikiran, bagaimana kita mengorganisasikan kehidupan mental kita. Linguistic adalah mengenai bahasa, bagaimana kita menggunakan bahasa untuk mencipta makna dan pengaruhnya pada kehidupan kita. Programming adalah mengenai urutan proses mental yang berpengaruh atas perilaku dalam mencapai tujuan tertentu, dan bagaimana melakukan modifikasi atas proses mental itu.

Sejarah dimulai ketika seorang ahli Mathematika / Computer Programming (Dr. Richard Bandler) dan seorang Profesor Linguistik (Dr. John Grinder) mempelajari keahlian sejumlah pakar dan terapis yang teramat sukses di bidangnya.

Metode yang dipergunakan untuk mempelajari keahlian ini disebut sebagai modelling (ilmu memodel). Tokoh-tokoh awal yang dimodel adalah : Fritz Perls (Gestalt Psychotherapist), Virginia Satir (Family Therapist), Gregory Bateson (Anthropologist, cybernetics) dan Milton Erickson (Hypnotherapist). Setelah bertahun-tahun memodel, mereka berdua berhasil mengembangkan seperangkat teknik mental yang yang sangat berguna dalam dunia terapi.

NLP lantas dipopulerkan oleh Anthony Robbins hingga meluas di USA dan seluruh dunia, belakangan Anthony Robbins membuat merek sendiri, yakni NAC (Neuro Associations Conditioning). Barisan pelopor NLP lantas mulai mengibarkan sayapnya merambah dataran aplikasi di luar terapi. Ilmu memodel ini dikembangluaskan untuk memodel berbagai keunggulan manusia; antara lain untuk memodel keunggulan dari orang yang berprestasi unggul di bidang komunikator, olahraga / atlit, leadership, sales, pengajar, bisnisman, karyawan, penyanyi, meditasi, dan berbagai orang sukses lainnya.

Modelling dalam NLP memungkinkan untuk mempelajari dan menduplikasi keahlian seseorang. Aplikasi modelling ini sungguh tak terbatas, nyaris bisa dikatakan “Bila ada seseorang pernah melakukan sesuatu hal, maka dengan modelling kita juga dapat menduplikasi agar bisa melakukannya juga”.

Melalui NLP kita bisa melakukan coding suatu perilaku unggul manusia dan memetakannya dalam suatu pola-pola inti tertentu. Pola-pola inilah yang kemudian disusun ulang dengan urutan dan kombinasi tertentu akan menjadi model of excellence yang dengan mudah untuk diduplikasikan kepada orang lain.

Beberapa nama besar yang tercatat menggunakan ilmu NLP dalam meraih kesuksesannya adalah : Bill Clinton, Andre Agassi, Lady Di, dan Nelson Mandela, dan masih banyak lagi.

Untuk belajar NLP, seseorang bisa memilih 2 macam pendekatan :

1. Mendalami ilmu NLP, yakni dengan mengambil sertifikasi berikut : NLP Practitioner (biasanya 7-14 hari), NLP Master Practitioner (biasanya 14 hari), NLP Trainer, dan NLP Master Trainer.
Umumnya orang-orang yang mendalami ilmu NLP memiliki goal untuk menjadi trainer, coach atau ahli di bidang NLP.
2. Mempelajari aplikasi NLP tanpa mendalami ilmu NLP-nya sendiri. Misal mempelajari NLP at Work, NLP for Sales, NLP for Trainer, NLP For Customer Services, Objection Mastery, Personal Mastery, Therapy with NLP, Interview with NLP dan seterusnya. Biasanya training dilakukan dalam waktu 1-3 hari saja dengan biaya yang lebih terjangkau.
Umumnya, para pengusaha, eksekutif, olahragawan, pengajar, politisi dan lain-lain yang tidak punya waktu lebih suka mempelajari NLP dengan cara ini. Dengan demikian mereka tidak perlu lagi meramu / memikirkan ulang bagaimana menggunakan NLP untuk keperluan mereka, tinggal dipraktekkan secara langsung.

Written by Ronny F. Ronodirdjo.
@www.cahyopramono.com/2008/04/apakah-nlp-itu.html

>Irresistible Communication : Komunikasi Tanpa Penolakan

>

Mungkin Anda pernah kenal seseorang seperti Jaka yang nampak selalu sukses di kantor? Secara konstan kariernya terus melaju, sekalipun tak pernah secara jelas kualitas yang dimilikinya. Jika diamati, bahkan tak ada sedikitpun tanda tanda memiliki kecerdasan yang luar biasa, atau gelar akademik dari luar negeri.

Kedengarannya, apapun yang dilakukannya cenderung mendapat anggukan dari atasan. Saat meeting, pendapatnya kerap mendapat support dari rekan kerjanya. Bawahannya pun betah bekerjasama. Mereka senang memberikan bantuan kepadanya. Orang semacam Jaka, sekalipun acapkali tidak berhasil menyelesaikan suatu tugas dengan baik, namun ia selalu tetap dipertimbangkan untuk mengerjakan project selanjutnya. Jaka tidak memanfatkan senioritas, tidak pula bermain intrik atau menggunakan keterdekatannya dengan Pimpinan. Jadi apa yang sebenarnya terjadi?

Jika diamati lebih dekat, kita akan menemukan suatu kekuatan yang ia miliki yang mungkin diperoleh secara alamiah. Itulah ketrampilan menjalin hubungan. Atau dalam istilah Neuro Linguistic Programming (NLP) disebut sebagai the skill of rapport building. Kekuatan semacam ini yang seolah olah membuatnya selalu dapat tune in dalam ‘panjang gelombang’ yang sama dengan setiap orang. Ia memiliki kemampuan ‘menjual’ dirinya secara konsisten pada setiap orang disekelilingnya. Ia menyadari bahwa dalam setiap situasi perlu menciptakan persahabatan agar dimasa depan dapat melakukan hubungan dalam bentuk win win. Bukankah seringkali kita mendengar orang menyesal semacam ini “Ah, seandainya saya kenal si A dengan baik, tentu saja saya akan bisa minta tolong dengan lebih nyaman sekarang”.

Kabar baiknya sekalipun kita tak punya kemampuan seperti Jaka, yang seakan bawaan lahir, ternyata kita bisa mempelajarinya dengan cukup mudah. Saat ini sudah berkembang pesat sebuah bidang baru yang dikenal dengan Neuro Linguistic Programming (NLP). Melalui NLP orang dapat memodel keunggulan setiap orang lain, karena NLP mampu memecah kode kode sukses yang dimiliki orang orang yang berhasil sehingga dapat diduplikasi oleh setiap orang.

Ada berbagai teknik rapport yang dikembangkan dalam NLP. Dalam tulisan ini kita akan mempelajari beberapa teknik yang basic. Jangan terkecoh dengan istilah basic, karena dibalik kesederhanaan hal basic itu menyimpan kekuatan hubungan yang sangat powerful. Teknik ini bahkan Anda dapat pergunakan pada orang yang baru Anda kenal. Yang penting adalah keberanian dan konsistensi melatihnya. Sejalan dengan seringnya dilatih, maka akan terasa berjalan normal dan wajar.

Rapport Building
Komunikasi ternyata mirip dengan situasi penjualan, sekitar 83% keberhasilannya ditentukan jika pembeli menyukai penjual. Kata kunci dari menyukai adalah adanya rasa kesamaan di antara keduanya. Seseorang menyukai orang lain jika ada sesuatu yang sama antara dirinya dengan diri orang lain tersebut.

Anda pasti pernah berkenalan dengan kawan baru, jika tertarik dengannya, maka pembicaraan secara otomatis akan mencari kesamaan diantara anda berdua. Misal menanyakan asal usul daerah, asal sekolah, atau hal yang lainnya. Jika ternyata kita memiliki kesamaan, rasanya tiba tiba dekat dengan kawan baru itu. Kesamaan membuat orang saling menyukai, jika sudah suka akan mempercepat munculnya proses percaya (trust).

Kepercayaan kepada kita akan membuat mereka merasa Anda berada di pihaknya. Orang membeli kepercayaan terlebih dahulu, baru membeli ide kita. Dalam berbagai percobaan sosial, para peneliti telah melaporkan bahwa kepercayaan itu amat penting bagi sukses komunikasi. Kalau sudah ada kepercayaan, orang akan lebih mudah menerima saran saran, memberikan lebih banyak waktu dan secara terbuka berbicara dengan kita, bahkan pada hal-hal yang terkadang sensitif.

Secara umum NLP menganjurkan 2 cara membangun pondasi kesamaan agar kita disukai orang lain dalam berkomunikasi, yaitu :
1. Bangun pondasi kesamaan fisiologis / postur tubuh
2. Bangun pondasi kesamaan dalam berkata kata.

Dua hal ini yang akan memunculkan suatu kepercayaan jika dibangun dengan sungguh sungguh, yang kemudian akan menghasilkan suatu proses komunikasi yang mulus dan harmonis.

Sebagai ilustrasi pondasi yang pertama, Lady Diana terkenal pandai menjalin hubungan dengan semua orang, bahkan pada anak yang masih kecil. Namun sedikit yang tahu bahwa itu bukan bakat yang dibawa sejak lahir. Lady Diana belajar memodel dunia anak anak dari guru NLP, Anthony Robbins. Saat mendekati anak, Lady Di akan berjongkok dan memasang muka seperti anak-anak. Berjongkok berarti menyamakan fisiologis / postur dalam hal ketinggian tubuh, agar dapat masuk ke model dunia (model of the world) anak anak. Ia juga memasang mimik muka anak-anak, supaya tidak terlihat wajah analitis yang hanya dimiliki orng dewasa. Bisa dicatat disini, menyamakan postur fisiologi orang lain adalah cara tercepat untuk membentuk hubungan, cara ini biasa disebut mirrorring (bercermin).

Pengalaman mendermin tanpa sadar ini mungkin pernah terjadi pada Anda. Pada saat berbicara dengan kawan akrab dan terjadi kecocokan, makin lama posisi tubuh keduanya semakin mirip satu sama lain seperti layaknya orang bercermin. Bahkan jika anda perhatikan lebih jauh, sepertinya saling menirukan tanpa disadari. Proses pencerminan ini terjadi dalam level alam bawah sadar.

Dari kedua contoh di atas, maka dengan sengaja kita dapat melakukan pencerminan untuk mendapatkan rapport pada orang lain secara mendalam dan cepat. Menariknya, yang dapat kita cermin bukan hanya postur tubuh (gesture), namun kita juga bisa mencermin pola nafas (kecepatan, posisi tekanan), gerak mata, rona wajah, tinggi rendah suara, kecepatan berbicara, dll. Kurangi atau tambah kecepatan bicara Anda sesuai dengan kecepatan lawan bicara. Anda, demikian juga dengan tinggi rendah nada suara. Mereka akan merasa sangat nyaman, karena merasa sama dengan kita.

Mirrorring berbeda dengan “mimicking”, mirrorring harus dilakukan dengan sangat subtle (tidak kentara), sehingga alam sadar lawan bicara tidak mengenalnya namun dikenali oleh alam bawah sadar. Untuk meningkatkan ketidakkentaraan, Anda dapat melakukan cross mirrorring, yakni melakukannya dengan sedikit berbeda namun esensinya mirip. Semisal lawan bicara menggerakkan tangan kiri, maka Anda dapat menggerakkan tangan kanan. Semisal ia menumpangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, maka Anda dapat melakukan dengan menyilangkan kaki kanan di depan kaki kiri tanpa menumpangkannya. Anda juga bisa melakukan yang disebut matching, yakni jika lawan bicara menyilangkan tangan maka kita menyilangkan kaki. Matching adalah melakukan pencerminan dengan bagian anggota tubuh yang berbeda.

Harus dicatat, mirrorring memiliki esensi respek , yakni ingin memhami alam pikiran orang lain karena kita merespeknya dengan cara menyamakan posisi tubuhnya. Sedangnya mimicking adalah meniru-niru gerakan orang lain tanpa respek.

Pondasi kesamaan yang kedua adalah menyamakan kata kata (verbal mirrorring). Menyamakan kata-kata dalam NLP tidaklah sekedar menyamakan kata yang diucapkan oleh lawan bicara. Yang disamakan adalah sesuatu yang disebut predikat, yang menunjukkan preferensi pikiran lawan bicara dalam mengolah informasi.

PREFERENSI SISTEM PENAFSIRAN DAN PREDIKAT
NLP secara umum membagi empat cara dasar manusia dalam menafsirkan dunia sekitar mereka: orang dengan preferensi Visual (V), orang dengan preferensi Auditorial (A), orang dengan preferensi Kinestetik (K) dan orang dengan preferensi Auditorial Digital (Ad).

Orang dengan preferensi V melihat dunia, orang dengan preferensi A mendengarnya, orang dengan preferensi K merasakannya, sedangkan orang dengan preferensi Ad mendengarkannya dengan kata-kata sendiri (konseptualisasi). Keempat cara ini akan membentuk peta peta mental, yakni cara seseorang mengorganisasikan semua stimulus yang diterima. Sistem sistem itu menolong kita memahami dunia dan berhubungan dengannya. Dengan peta peta mental ini sebagai petunjuk, kita membuat keputusan keputusan tentang bagaimana menanggapi apa saja yang terjadi di sekitar kita. Penggunaan peta mental ini berlangsung secara tak sadar. Seseorang secara tidak secara sadar memilih peta mana yang akan digunakannya untuk berkomunikasi dan terjadi secara konsisten.

Oleh sebab itu, bila Anda mengetahui bagaimana membaca peta mental seseorang, berarti Anda memiliki alat yang maha dahsyat untuk mengetahui bagaimana pikiran seseorang bekerja. Para manajer yang mengetahui peta peta mental yang digunakan oleh anak buahnya, akan memperoleh hasil lebih balk. Dasarnya adalah karena secara harfiah, mereka dapat memahami cara anak buahnya dalam berpikir dan mengolah informasi selama bekerja.

Salah satu cara untuk mengetahui peta mental orang lain termasuk preferensinya dapat dilakukan dengan jalan mengamati predikat yang digunakan dalam berbicara. Orang preferensi visual akan mengatakan: “Saya bisa melihat point penting yang Anda maksudkan”. Sedangkan orang preferensi auditorial akan mengatakan “Kedengarannya ide Anda cukup menarik”. Sementara orang preferensi kinestetik akan mengucapkan “Saya dapat merasakan kekuatan yang tersembunyi dari gagasan Anda.” Disisi lain seorang bepreferensi Ad akan mengatakan “Setelah saya renungkan , gagasan Anda bisa saya terima.

Dengan mengamati kecenderungan penggunaan predikat yang dipergunakan oleh seseorang secara ekstensif, maka kita bisa mengetahui preferensi berpikirnya. Dengan demikian, saat berbicara dengannya, gunakan predikat yang cenderung sama dengan yang dipergunakannya. Misalkan calon pembeli mengatakan “Hhmmm, nampaknya menarik, namun saya belum melihat apa keuntungan saya jika membeli jasa yang Anda tawarkan?”. Maka kita bisa menjawab: “Oke, kelihatannya Anda sangat menguasai persoalan ini, jika jasa ini kita pandang dari perspektif investasi, maka…”

Dengan jalan ini lawan bicara tak perlu menerjemahkan ulang kata kata kita dalam modus yang cenderung mereka sukai, sehingga ia terhindar dari kebingungan menangkap maksud kita. Jadi bila Anda tidak berkomunikasi dengan orang lain menurut cara yang mereka sukai, bahayanya adalah pembicaraan Anda akan menjadi tidak mudah dicerna oleh lawan bicara.

Mempraktekkan ketiga hal basic ini saja sudah akan menjadikan Anda sebagai irresistible communicator (selalu diterima orang lain). Terlebih jika Anda. mampu menguasai skill dan teknik NLP lainnya. Tentunya ketrampilan yang kita bahas diatas bisa dipergunakan dalam lingkup keluarga, hubungan pertemanan, sosial, pacaran dan sebagainya.

Written by ronny f r
@www.cahyopramono.com/2008/04/irresistible-communication-komunikasi.html