Peta & Potensi Fosfat Indonesia

Fosfat adalah unsur dalam suatu batuan beku (apatit) atau sedimen dengan kandungan fosfor ekonomis. Biasanya, kandungan fosfor dinyatakan sebagai bone phosphate of lime (BPL) atau triphosphate of lime (TPL), atau berdasarkan kandungan P2O5.

Fosfat apatit termasuk fosfat primer karena gugusan oksida fosfatnya terdapat dalam mineral apatit (Ca10(PO4)6.F2) yang terbentuk selama proses pembekuan magma. Kadang kadang, endapan fosfat berasosiasi dengan batuan beku alkali kompleks, terutama karbonit kompleks dan sienit.

Fosfat komersil dari mineral apatit adalah kalsium fluo-fosfat dan kloro-fosfat dan sebagian kecil wavellite, (fosfat aluminium hidros). Sumber lain dalam jumlah sedikit berasal dari jenis slag, guano, crandallite [CaAl3(PO4)2(OH)5.H2O], dan millisite (Na,K).CaAl6(PO4)4(OH)9.3H2O. Sifat yang dimiliki adalah warna putih atau putih kehijauan, hijau, berat jenis 2,81-3,23, dan kekerasan 5 H.

Fosfat adalah sumber utama unsur kalium dan nitrogen yang tidak larut dalam air, tetapi dapat diolah untuk memperoleh produk fosfat dengan menambahkan asam .

Fosfat dipasarkan dengan berbagai kandungan P2O5, antara 4-42 %. Sementara itu, tingkat uji pupuk fosfat ditentukan oleh jumlah kandungan N (nitrogen), P (fosfat atau P2O5), dan K (potas cair atau K2O).
Fosfat sebagai pupuk alam tidak cocok untuk tanaman pangan, karena tidak larut dalam air sehingga sulit diserap oleh akar tanaman pangan. Fosfat untuk pupuk tanaman pangan perlu diolah menjadi pupuk buatan.

Di Indonesia, jumlah cadangan yang telah diselidiki adalah 2,5 juta ton endapan guano (kadar P2O5= 0,17-43 %). Keterdapatannya di Propinsi Aceh, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah dan NTT, sedangkan tempat lainnya adalah Sumatera Utara, Kalimantan, dan Irian Jaya.

Di Indonesia, eksplorasi fosfat dimulai sejak tahun 1919. Umumnya, kondisi endapan fosfat guano yang ada ber-bentuk lensa-lensa, sehingga untuk penentuan jumlah cadangan, dibuat sumur uji pada kedalaman 2 -5 meter. Selanjutnya, pengambilan conto untuk analisis kandungan fosfat. Eksplorasi rinci juga dapat dilakukan dengan pemboran apabila kondisi struktur geologi total diketahui.

STATISTIK 2003 – 1997

2003 2002 2001 2000 1999 1998 1997
Production, tons 2,169,145.29 1,957,020.64 5,000.00 18,500.00 15,000.00 10,500.00 8,500.00
Consumption, tons 1,071,222.00 1,017,475.36 703,546.42 910,492.70 1,179,019.95 1,057,860.94 1,016,803.18
Export, tons 6,419.68 4,907.97 17,263.65 9,061.95 2,280.15 174.54 1,565.76
Import, tons 851,715.94 939,453.25 989,009.85 391,102.31 731,329.41 787,527.88 680,022.42

Source: Central Bureau of Statistics

Note: click on number for more detail info

Potensi

@www.tekmira.esdm.go.id/data/Fosfat/Ulasan.asp?xdir=Fosfat&commId=14&comm=Fosfat

Iklan

ENDAPAN FOSFAT DI DAERAH MADURA

Oleh :
A. Fatah Yusuf

Sub Dit. Eksplorasi Mineral Industri dan Batuan

S A R I

Tulisan makalah ini berupa rangkuman dari hasil penyelidikan endapan fosfat di daerah Madura yang dilakukan oleh Sub Direktorat Eksplorasi Mineral Industri dan Batuan, berlangsung dari tahun 1994 sampai dengan tahun 1999, meliputi Kabupaten Sampang, Pamekasan dan Kabupaten Sumenep.

Kisaran kadar P2O5 di daerah, Sampang 2,28 – 37,09 %, Pamekasan 5,61 – 37,79 %, Sumenep 6,20 % – 44,23 %, dengan jumlah sumberdaya fosfat di daerah Kabupaten, Sampang sekitar 5.000.000 m3, Pamekasan sekitar 23.400 m3, dan di Sumenep sekitar 827.500 m3 .

Berdasarkan kandungan P2O5 endapan fosfat di daerah, Sampang sebagian besar dapat digunakan sebagai pupuk alam, sebagian kecil lagi sebagai bahan baku pupuk super fosfat (SP36), Pamekasan sekitar 55 % dapat digunakan sebagai pupuk alam dan sebaian kecil sebagai pupuk super fosfat (SP36). Di daerah Sumenep dapat digunakan sebagai pupuk alam dengan kualitas A sebanyak 22 lokasi (sekitar 48,9 % dari seluruh jumlah lokasi), dengan kualitas C sebanyak 4 lokasi (8,9 %), yang mempunyai mutu I sebanyak 21 lokasi (46,7 %) dan mutu II 4 lokasi (8,9 %), untuk bahan baku pembuatan asam fosfat terdapat sebanyak 11 lokasi (24,4 %), untuk bahan baku pembuatan pupuk SP-36 sebanyak 14 lokasi (31,1 %).

Untuk keperluan tertentu, endapan fosfat di daerah Madura perlu mengalami proses benefisiasi baik untuk meningkatkan kadar P2O5 maupun untuk menghilangkan unsur/ senyawa pengotor lainnya sehingga endapan fosfat tersebut memenuhi syarat bagi keperluan tertentu.

Baik sebaran maupun jumlah sumberdaya endapan fosfat di daerah Madura relatif kecil, dengan demikian penambangannya hanya ekonomis untuk sekala kecil atau tambang rakyat. Untuk menghindari hal – hal yang tidak diinginkan perlu pemantauan dan penataan usaha penambangan bahan galian dalam sekala kecil.

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Penulisan makalah ini berupa rangkuman dari hasil penyelidikan endapan fosfat di daerah Madura yang dilakukan oleh Sub Direktorat Eksplorasi Mineral Industri dan Batuan (SDEMIB), berlangsung dari tahun 1994 sampai dengan tahun 1999, meliputi Kabupaten Sampang, Pamekasan dan Kabupaten Sumenep.

Endapan fosfat di daerah Madura selama ini dikenal sebagai endapan fosfat guano, yang mempunyai sifat baik sebaran maupun sumberdayanya sangat terbatas. Berdasarkan dugaan (Wahyu S. Hantoro, LIPI, 1980 dan Arthur J. G. Nothol) bahwa di daerah Madura pada Lajur Rembang – Madura berupa engsel (shelfal basin), memungkinkan terdapatnya endapan fosfat marin (sedimenter). Oleh karena itu pada tahun anggaran 1998/1999, SDEMIB melakukan eksplorasi fosfat disertai dengan pemboran inti di daerah Kabupaten Pamekasan.

1.2. Teori Endapan Fosfat

Fosfat merupakan satu -satunya bahan galian (diluar air) yang mempunyai siklus, unsur fosfor di alam diserap oleh mahluk hidup, senyawa fosfat pada jaringan mahluk hidup yang telah mati terurai, kemudian terakumulasi dan terendapkan di lautan. Proses terbentuknya endapan fosfat ada tiga:

1. Fosfat primer terbentuk dari pembekuan magma alkali yang bersusunan nefelin, syenit dan takhit, mengandung mineral fosfat apatit, terutama fluor apatit {Ca5 (PO4)3 F}dalam keadaan murni mengandung 42 % P2 O5 dan 3,8 % F2.

2. Fosfat sedimenter (marin), merupakan endapan fosfat sedimen yang terendapkan di laut dalam, pada lingkungan alkali dan suasana tenang, mineral fosfat yang terbentuk terutama frankolit.

3. Fosfat guano, merupakan hasil akumulasi sekresi burung pemakan ikan dan kelelawar yang terlarut dan bereaksi dengan batugamping karena pengaruh air hujan dan air tanah. Berdasarkan tempatnya endapan fosfat guano terdiri dari endapan permukaan, bawah permukaan dan gua.

2. GEOLOGI DAERAH MADURA

2.1. Morfologi

Sebagian besar wilayah Madura termasuk Lajur Rembang, merupakan pegunungan yang terlipat dan membentuk antiklinorium yang memanjang dengan arah barat – timur. Pada umumnya daerah ini termasuk perbukitan landai hingga pegunungan berlereng terjal. Berdasarkan keadaan bentang alamnya daerah Madura dikelompokkan menjadi tiga satuan morfologi, yakni : dataran rendah, perbukitan dan kras.

1. Morfologi dataran rendah, dengan ketinggian antara 0 – 50 m (dpl), menempati daerah pesisir. Di pesisir selatan Madura, dataran rendah membentang dari barat ke timur yaitu dari Pamekasan sampai ke Dungke. Di daerah Pamekasan dan Sumenep daerah dataran rendah lebih luas daripada daerah lainnya dan merupakan muara S. Trokom dan S. Anjak. Daerah ini di bentuk oleh endapan sungai, pantai, rawa dan batugamping koral.

2. Morfologi bergelombang, dengan ketinggian 0 – 200 m (dpl), menempati bagian utara, tengah dan selatan, memanjang dengan arah barat – timur, umumnya dibentuk oleh batuan sedimen yang terdiri dari batulempung Formasi Tawun, batupasir Anggota Formasi Ngrayong dan batugamping.

3. Morfologi kras, dengan ketinggian 120 – 440 m (dpl), dicirikan oleh perbukitan kasar, terjal, sungai bawah permukaan, gua – gua, dolina, gawir dan kuesta, menempati bagian utara dan selatan, memanjang barat – timur, umumnya dibentuk oleh batugamping pasiran dan batugamping terumbu.

Pola aliran sungai pada umumnya mendaun dan sebagian kecil sejajar, searah dengan arah jurus lapisan, sebagian memotong arah jurus lapisan, lembahnya termasuk menjelang dewasa.

2.2. Stratigrafi

Daerah Madura dibentuk oleh batuan sedimen yang berumur Miosen Awal hingga Pliosen dan batuan endapan permukaan yang terdiri dari endapan aluvium.

Batuan tertua adalah Formasi Tawun (Tmt), terdiri dari batulempung, napal dan batugamping orbitoid, berumur Miosen Awal – Miosen Tengah, Formasi Ngrayong (Tmtn) menindih selaras Formasi Tawun yang terdiri dari batupasir kuarsa berselingan dengan batugamping orbitoid dan batulempung, berumur Miosen Tengah.

Formasi Ngrayong tertindih selaras oleh Formasi Bulu (Tmb) yang terdiri dari batugamping pelat dengan sisipan napal pasiran, berumur Miosen Tengah bagian atas. Formasi Pasean (Tmp) menindih selaras Formasi Bulu, terdiri dari perselingan napal pasiran dan batugamping lempungan, berumur Miosen Akhir.

Formasi Madura (Tpm) menindih tak selaras Formasi Pasean, terdiri dari batugamping terumbu dan batugamping dolomitan, berumur Pliosen. Formasi ini tertindih tak selaras oleh Formasi Pamekasan (Qpp) yang terdiri dari konglomerat, batupasir dan lempung, berumur Plistosen. Endapan paling muda adalah aluvium terdiri dari pasir kuarsa, lempung, lumpur, kerikil dan kerakal, berumur Holosen.

2.3. Struktur

Struktur di daerah Madura adalah lipatan dan sesar. Struktur antiklin dan sinklin berarah barat – timur, jurus sesar umumnya berarah baratdaya – timurlaut dan baratlaut – tenggara. Antiklin umumnya berkembang pada Formasi Ngrayong, Bulu dan Formasi Pasean. Sinklin pada umumnya berkembang pada Formasi Ngrayong.

Sesar yang terdapat di daerah ini adalah sesar naik, sesar geser dan sesar normal, jurus sesar naik berarah barat – timur, jurus sesar geser dan sesar normal berarah baratdaya – timur laut dan baratlut – tenggara. Kelurusan pada umumnya searah dengan jurus sesar geseran sesar normal.

3. ENDAPAN FOSFAT

3.1. Sebaran Endapan Fosfat

Sebaran endapan fosfat di daerah Madura tersebar setempat setempat mengisi rekahan, dolina dan gua – gua, dalam jumlah yang kecil – kecil, umumnya terdapat pada batugamping terumbu Formasi Madura (Tpm) sebagian kecil pada batugamping lempungan Formasi Pasean (Tmp) dan batugamping berlapis Formasi Bulu (Tmb).

Endapan fosfat di Kabupaten Sampang terdapat di Bira Timur, Kecamatan Sokobanah, Kecamatan Sampang, Omben, Kedundung, Ketapang dan Kecamatan Jrengik, jumlah sumberdaya sekitar 5.000.000 m3. Kisaran kandungan P2O5 antara 2,28 – 37,09 %.

Di daearh Kabupaten Pamekasan dilakukan pemboran inti sebanyak 10 lokasi ( 5 lokasi di daerah G. Kacepe, Kecamatan Pasean dan 5 lokasi di daerah G. Nadere, Kecamatan Palengaan) dengan kedalaman berkisar antara 25 – 50 m, total kedalaman sekitar 300,70 m. Endapan fosfat di daerah Kabupaten Pamekasan terdapat di Kecamatan Pasean, Pakong dan di Kecamatan Palengaan. Mineralnya terdiri dari kolofan, dahlit dan hidroksiapatit, dengan kisaran kandungan P2O5 antara 5,61 – 37,79 %, jumlah sumberdaya sekitar 23.400 m3.

Lokasi endapan fosfat di daerah Kabupaten Sumenep terdapat sebanyak 45, yang berada di 22 desa, sejumlah desa tersebut termasuk dalam wilayah 11 kecamatan, di setiap desa terdapat beberapa lokasi yang berdekatan maupun terpisah agak jauh. Mineralnya terdiri dari kolofan, dahlit dan hidroksiapatit, dengan kisaran kandungan P2O5 antara 6,20 – 44,23 %, terendah terdapat di Desa Ellak Daya, Kecamatan Lenteng (P/17 = 6,20 %) dan tertinggi di daerah Desa Kabunan, Kecamatan Sumenep (P/15 = 44,23 %). Endapan fosfat dengan kandungan P2O5 diatas 30 % terdapat sebanyak 15 lokasi sekitar 33,3 % dari keseluruhan jumlah lokasi, tersebar di 10 desa dan 8 kecamatan. Luas sebaran fosfat seluruhnya sekitar 31 Ha dengan jumlah sumberdaya sekitar 827.500 m3.

3.2. Genesa Endapan Fosfat

Pada beberapa conto dilakukan analisa kimia, petrografi, XRD dan SEM, dari hasil analisa tersebut mineral fosfat terdiri dari kolofan, dahlit dan hidroksiapatit, kandungan P2O5 sangat bervariasi, dan dari pemboran inti diperoleh endapan fosfat tidak lebih dari dari kedalaman 17 m, hal tersebut menunjukkan bahwa endapan merupakan fosfat guano. Unsur fosfor yang terkandung dalam kotoran burung sekitar 2 – 4 %, kemudian bereaksi dengan batuan karbonat membentuk mineral kalsium fosfat. Air hujan atau air permukaan yang mengandung CO2 dari udara maupun hasil pembusukan organik bereaksi dengan kalsium fosfat membentuk mineral karbonat hidroksi apatit.

3.3. Prospek Pemanfaatan Endapan Fosfat

Lebih dari 90% produksi fosfat di Indonesia, khususnya kalsiumfosfat Ca3(PO4)2, digunakan untuk keperluan industri pupuk, baik pupuk alam maupun pupuk buatan. Sisanya dikonsumsi oleh berbagai industri seperti kaca lembaran, karet, industri kimia, dan lain-lain. Penggunaan fosfor dalam bentuk unsur digunakan untuk keperluan fotografi, korek api, bahan peledak dan lain-lain. Terdapat dua tipe dari unsur fosfor, yaitu fosfor putih dan fosfor merah. Fosfor putih hampir tidak larut dalam air, larut dalam alkohol dan larutan organik tertentu. Fosfor putih digunakan dalam pembuatan asam fosfat (H3PO4) dan bila dicampurkan dengan lelehan metal seperti timah dan tembaga menghasilkan alloy tertentu (special alloy), fosfor dalam bentuk ferro fosfor digunakan dalam berbagai industri metallurgi, untuk memperoleh logam dengan standar dan keperluan tertentu.

Deposit fosfat yang ditemukan di Indonesia mempunyai kadar rendah sampai sedang, meskipun pada lokasi tertentu dapat mencapai kadar 40% P2O5. Terdapat pada daerah yang terpencar, berupa endapan fosfat gua atau batugamping fosfatan. Belum ditemukan deposit dalam jumlah yang cukup besar, kecuali untuk diusahakan dalam skala kecil.

Untuk pemupukan tanah, fosfat dapat langsung digunakan setelah terlebih dahulu dihaluskan (sebagai pupuk alam). Akan tetapi untuk tanaman pangan seperti padi, jagung, kedelai, dan lain-lain, pupuk alam ini tidak cocok, karena daya larutnya yang sangat kecil di dalam air sehingga sulit diserap oleh akar tanaman pangan tersebut. Untuk itu sebagai pupuk tanaman pangan, fosfat perlu diolah menjadi pupuk buatan. Variabel yang sangat menentukan bagi fosfat sebagai pupuk alam adalah nilai kelarutannya terutama kelarutan dalam asam sitrat 2 %, kelarutan pada asam tersebut mencerminkan seberapa besar fosfat yang dapat diserap oleh akar tanaman. Nilai kelarutan fosfat dalam air ditentukan oleh jenis mineral fosfat, mineral hidroksiapatit merupakan mineral fosfat yang mempunyai kelarutan tinggi, dengan demikian idealnya untuk pupuk alam digunakan endapan fosfat yang kandungan mineral hidroksiapatitnya cukup tinggi.

Pupuk superfosfat terdiri dari : Single Super Phosphate (SSP), Triple Super Phosphate (TSP), Monoammonium Phosphate (MAP), Diammonium Phosphate (DAP), Nitro Phosphate (NP), Ammonium Nitro Phosphate (ANP). Superfosfat merupakan campuran antara monokalsium fosfat dan kalsium sulfat. Salah satu bentuk pupuk buatan adalah Super Fosfat, yaitu hasil reaksi antara tepung fosfat alam berkadar 30% P2O5 dengan asam sulfat pekat (Moersidi Sediyarso, 1998).

Fosfat sebagai pupuk alam harus memenuhi persyaratan SNI No. 02 – 3776, Tahun 1995 (Tabel 1), sebagai bahan baku asam fosfat harus memenuhi persyaratan seperti pada Tabel 4. Pembagian mutu fosfat menurut SII terbagi dua, yaitu fosfat mutu I dan fosfat mutu II, persyaratannya seperti tertera pada Tabel 2 dan Tabel 3.

Di luar kegunaannya sebagai bahan pupuk, fosfat dalam bentuk senyawa lain digunakan dalam berbagai industri. Asam fosfat direaksikan dengan soda abu atau batu kapur, akan diperoleh senyawa fosfat tertentu. Asam fosfat dengan batugamping akan membentuk dikalsium fosfat yang merupakan bahan dasar pasta gigi dan makanan ternak. Reaksi sederhananya sebagai berikut:

Ca3 (PO4)2 + CaCO3 =====> Ca HPO4 (dikalsium fosfat)

Asam fosfat direaksikan dengan soda abu menghasilkan 3 produk dengan fungsi berbeda. Reaksi sederhananya sebagai berikut :

H3 PO4 + Soda abu ======> 1,2,3.

1. Sodium tripoly phosphate
—–> sebagai bahan detergent

2. Sodium triotho phosphate
—–> pelembut air

3. Tetra sodium pyro phosphate
——> industri keramik.

Berdasarkan hasil analisa laboratorium dan spesifikasi berbagai persyaratan fosfat bagi produk tertentu (yang tertera pada tabel-tabel), endapan fosfat di daerah Kabupaten SAmpang sebagian besar dapat digunakan sebagai pupuk alam, sebagian kecil lagi dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk super fosfat (SP36). Di daerah Kabupaten Pamekasan sekitar 55 % kandungan P2O5 diatas 18 % dapat digunakan sebagai bahan baku pupuk fosfat alam, dan sebagian kecil sebagai bahan baku pupuk super fosfat (SP36).

Endapan fosfat di daerah Kabupaten Sumenep dapat digunakan sebagai pupuk alam dengan kualitas A sebanyak 22 lokasi (sekitar 48,9 % dari seluruh jumlah lokasi), dengan kualitas C sebanyak 4 lokasi (8,9 %), yang mempunyai mutu I sebanyak 21 lokasi (46,7 %) dan mutu II 4 lokasi (8,9 %), untuk bahan baku pembuatan asam fosfat terdapat sebanyak 11 lokasi (24,4 %), untuk bahan baku pembuatan pupuk SP-36 sebanyak 14 lokasi (31,1 %). Kegunaa tersebut hanya berdasarkan kandungan P2O5 sedangkan kandungan pengotor lainnya umumnya melampaui ambang batas, untuk memperoleh bahan galian fosfat yang sesuai dengan persyaratan maka perlu dilakukan proses benefisiasi terlebih dahulu dengan melakukan proses pencucian, sehingga unsur pengotor, terutama Al2O3 dan Fe2O3 dapat dikurangi.

3.4. Prospek Pengembangan Endapan Fosfat

Ditinjau dari junlah sumberdaya maupun variasi kandungan P2O5 yang sangat lebar endapan fosfat di daerah Kabupaten Sampang, Pamekasan maupun Sumenep kecil kemungkinannya untuk ditambang secara besar – besaran, namun demikian fosfat guano besar sumbangannya bagi industri pupuk alam, dengan demikian penambangan fosfat di daerah Madura dapat dilakukan dengan sistim penambangan sekala kecil dan dilakukan secara selektif, mengingat variasi kandungan P2O5 yang begitu lebar. Adanya kecenderungan konsumen untuk menggunakan fosfat guano sebagai pupuk, berdasarkan kepada tidak adanya (kecil) kandungan fluor dan radiasi radioaktif (fosfat sedimen mempunyai kandungan fluor dan radioaktif yang relatif tinggi), hal tersebut mendorong untuk melakukan penambangan fosfat guano meskipun dalam sekala kecil.

4. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1. Kesimpulan

1. Endapan fosfat di daerah Madura merupakan endapan fosfat guano, terdiri dari mineral kolofan, dahlit dan hidroksi apatit.

2. Kisaran kadar P2O5 di daerah, Sampang 2,28 – 37,09 %, Pamekasan 5,61 – 37,79 %, Sumenep 6,20 % – 44,23 %.

3. Berdasarkan kandungan P2O5 endapan fosfat di daerah Sampang sebagian besar dapat digunakan sebagai pupuk alam, sebagian kecil lagi sebagai bahan baku pupuk super fosfat (SP36), Pamekasan sekitar 55 % dapat digunakan sebagai pupuk alam dan sebaian kecil sebagai pupuk super fosfat (SP36). Di daerah Sumenep dapat digunakan sebagai pupuk alam dengan kualitas A sebanyak 22 lokasi (sekitar 48,9 % dari seluruh jumlah lokasi), dengan kualitas C sebanyak 4 lokasi (8,9 %), yang mempunyai mutu I sebanyak 21 lokasi (46,7 %) dan mutu II 4 lokasi (8,9 %), untuk bahan baku pembuatan asam fosfat terdapat sebanyak 11 lokasi (24,4 %), untuk bahan baku pembuatan pupuk SP-36 sebanyak 14 lokasi (31,1 %).

4. Jumlah sumberdaya fosfat di daerah Kabupaten, Sampang sekitar 5.000.000 m3, Pamekasan sekitar 23.400 m3, Sumenep sekitar 827.500 m3 .

4.2. Saran

1. Untuk memperoleh bahan galian fosfat yang sesuai dengan persyaratan maka perlu dilakukan proses benefisiasi terlebih dahulu dengan melakukan proses pencucian, sehingga unsur pengotor, terutama Al2O3 dan Fe2O3 dapat dikurangi.

2. Untuk meningkatkan kadar P2O5 dapat dilakukan dengan proses pembakaran pada temperatur antara 900 – 1.100 oC hingga kandungan CO2 dan organik lainnya dapat terurai, terbentuk trikalsium fosfat [Ca3 (PO4)] yang sukar larut dalam air.

3. Penambangan dapat dilakukan dengan membuat sumuran yang agak lebar sehingga tingkat kecelakaan kerja dapat dikurangi.

4. Penambangan fosfat dengan cara tambang rakyat (secara selektif) recoverynya tinggi namun tidak efisien.

DAFTAR PUSTAKA

1. Moersidi Sediyarso, 1998, P-Alam sebagai Pupuk P untuk Budidaya Pertanian. Makalah disajikan pada seminar Fosfat Indonesia sebagai bahan pupuk dan masalahnya, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral/BPPT, Jakarta 24 Maret 1998, Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat.

2. Situmorang, R.L., dkk., 1977, Geologi Lembar Waru-Sumenep, Jawa, Lembar 1609-3, 1608-6,1609-1 dan 1708-4, skala 1 : 100.000, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.

3. Sutaatmadja, J., Sabarna,B., Hadiana, D., Mudjahar KS., Sarino, 1994, Eksplorasi Pendahuluan Sumberdaya Endapan Fosfat di daerah Kabupaten Sampang, Pulau Madura, Propinsi Jawa Timur, Proyek Eksplorasi Bahan Galian Industri dan Batubara, Direktorat Sumberdaya Mineral, 37 h.

4. Sutaatmadja, J., Sabarna, B., Mudjahar KS., 1996, Eksplorasi Lanjutan Endapan Fosfat di daerah Kabupaten Pamekasan, Propinsi Jawa Timur, Proyek Eksplorasi Bahan Galian Logam, Industri dan Batubara, Direktorat Sumberdaya Mineral.

5. Tatang Suryana, Ir., MM., Penggunaan Phosphate Rock di PT. Petrokimia Gresik. Makalah disajikan pada seminar Fosfat Indonesia sebagai bahan pupuk dan masalahnya, Direktorat Jenderal Geologi dan Sumberdaya Mineral/BPPT, Jakarta 24 Maret 1998, PT. Petrokimia Gresik.

Tabel  1. Persyaratan Pupuk Fosfat Alam Menurut SNI No. 02-3776 Tahun 1995  

Uraian
Persyaratan
Kualitas A
Kualitas B
Kualitas C
Kadar Unsur Hara Fosfat sebagai P2O5
a. Total (Asam Mineral)
min     28 %
min   24 %
min    18 %
b. Larut dalam Asam sitrat 2 %
min     10 %
min     8 %
min      6 %
Kadar Ca dan Mg setara CaO
min     40 %
min   40 %
min    35 %
Kadar R2O3 (Al2O3 + Fe2O3)
maks    3 %
maks   6 %
maks  15 %
Kadar Air
maks    3 %
maks   3 %
maks    3 %
Kehalusan
a. Lolos 80 mesh
min     50 %
min    50 %
min    50 %
b. Lolos 25 mesh
min     80 %
min    80 %
min    80 %
             
Tabel 2. Fosfat Mutu I, Menurut SII No. 0029 Tahun 1973
No.
Uraian
Nilai
1.
Fosfat larut dalam asam mineral
P2O5   >  19 %
2.
Fosfat larut dalam asam sitrat 2 %
P2O5  > dari 80 % P2O5   yang larut dalam asam mineral
3.
Kehalusan 80 mesh
 > 90 %
Tabel 3. Fosfat Mutu II, Menurut SII No. 0029 Tahun1973
No.
Uraian
Nilai
1.
Fosfat larut dalam asam mineral
P2O5   >  11 %
2.
Fosfat larut dalam asam sitrat 2 %
P2O5  > dari 30 % P2O5   yang larut dalam asam mineral
3.
Kehalusan 80 mesh
 > 90 %
Tabel 4. Spesifikasi Bahan Galian Fosfat Untuk Bahan Baku Asam Fosfat
No.
Uraian
Batasan (%)
No.
Uraian
Batasan (%)
1.
P2O5  
Min        32,00
7.
Cl
Max         0,03
2.
H2O
Max         2,00
8.
F
3,50        4,00
3.
Fe2O3 + Al2O3
Max         0,80
9.
CO2
4,50        6,00
4.
CaO
Min         51,00
10.
T – SiO2
4,00        5,50
5.
MgO
Max          0,40
11.
Organik Carbon
Max          0,60
6.
Na2O
Max          0,75
12.
K2O
Max          0,25
Ukuran butiran
13.
+ US Mesh 4
Max          0,75
14.
+ US Mesh 20
  Min         96,00

Uji Kandungan Fosfat

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Fosfat adalah salah satu unsur hara makro yang essensial dalam budidaya tanaman.
Tujuan dari pemupukan adalah menambah ketersediaan unsur hara dalam tanah atau
untuk menggantinya karena sebagian dari unsur tersebut diangkut keluar dari lahan
pertanian bersama hasil panen. Dalam intensifikasi pertanian, penggunaan pupuk
terutama pupuk kimia menjadi suatu keharusan karena pengurangan unsur-unsur hara dari lahan juga semakin intensif. Kalau dalam pertanian konvensional sawah,
misalnya hanya ditanami sekali dalam setahun dengan produktifitas 2 sampai 3 ton
gabah perhektar, dalam pertanian intensif musim tanam sampai 3 kali setahun dengan
produktifitas mencapai 7 sampai 12 ton perhektar. Dengan demikian, pemupukan
merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan intensifikasi pertanian.

Pupuk fosfat dibuat dari bahan baku batuan fosfat antara lain Fluoroapatite
Ca10(PO4)6F2 yang mengandung 30 – 32 % P2O5. Karena batuan fosfat yang dapat
ditambang misalnya skala komersial hampir tidak ada, maka kebutuhan pupuk fosfat
di negeri kita sepenuhnya bergantung pada supply dari luar negeri, baik sebagai bahan
baku (Rock Phosphate) atau sebagai bahan jadi seperti TSP (Triple Super Phosphate),
SP-36 (Superphosphate) dan lain- lain.

Dari berbagai jenis pupuk fosfat yang diperdagangkan dapat dikategorikan atas
(1) pupuk fosfat hasil rekayasa dan (2) pupuk fosfat alami seperti halnya batuan fosfat.
Pupuk hasil rekayasa mengandung unsur hara yang jauh lebih tinggi dan lebih mudah
larut dibanding bahan bakunya. Salah satu tujuan rekayasa dalam hal ini adalah untuk
menghemat biaya transportasi persatuan bobot hara bersangkutan yang berpengaruh
pula terhadap harga pupuk yang sampai ke petani. Karena 2 faktor tersebut (tingginya
kandungan hara dan sifatnya yang lebih mudah larut) penggunaan pupuk hasil
rekayasa (buatan pabrik) mendominasi penggunaan pupuk fosfat dalam bidang
pertanian dan perkebunan Karena harganya yang mahal dan tingginya permintaan
pada musim tanam, seringkali beredar pupuk yang dipalsukan dimana persentase
kandungan P2O5-nya tidak sesuai dengan yang tercantum dalam kemasan. Kecuali
diperiksa di laboratorium, umumnya petani sulit untuk membedakan antara yang asli
dengan yang dipalsukan sehingga selalu menjadi korban.

Pupuk fosfat hasil rekayasa dapat dikelompokkan atas (1) pupuk tunggal,
hanya mengandung hara fosfat seperti TSP (46 % P2O5), SP-36 (36 % P2O5) dan (2)
sebagai pupuk majemuk, terdapat bersama unsur hara lain misalnya Nitrogen dan
Kalium, seperti NPK 15 : 15 : 15 dan lain-lain.

Pemalsuan pupuk terjadi dalam rantai distribusi sebelum sampai ke konsumen
dan hal ini sering terjadi saat mulai musim tanam disertai kelangkaan pupuk di pasar.
Apalagi untuk jenis pupuk tertentu pemalsuan lebih mudah dilakukan dibanding
dengan cara menganalisis apakah pupuk tersebut asli atau palsu. Pemalsuan mungkin
dilakukan dengan mencampur bahan yang serupa tapi harganya jauh lebih murah
misalnya menggunakan tanah liat untuk mencampur TSP, SP-36 atau menggunakan
NaCl untuk mencampur KCl. Kedua bahan pencampur ini ( NaCl dan tanah liat)
sangat mudah diperoleh dan dengan harga yang lebih murah dari pupuk yang akan
dipalsukan. Antara KCl dan KCl yang telah dicampur dengan NaCl hampir tidak
dapat dibedakan, kecuali dilakukan analisis di laboratorium. Karena cara memalsukan
relatif mudah dan murah sebaliknya membedakan yang asli terhadap yang palsu relatif
sulit bagi petani, maka mereka akan selalu menjadi korban yang tak berdaya bagi
orang-orang yang ingin memetik keuntungan dengan cara yang mudah. Kerugian bagi
petani bukan hanya sekedar uang yang hilang untuk membeli pupuk palsu tetapi lebih
jauh lagi mungkin akan menghadapi gagal panen karena lahan yang ditanami t idak
mengandung hara yang cukup untuk pertumbuhan dan produktifitas tanaman.Ditengah harga sarana produksi pertanian (bibit, pupuk, obat-obatan) yang
membumbung tinggi harus dilakukan sesuatu untuk melindungi petani. Berdasarkan
uraian-uraian diatas, saya sangat tertarik untuk meneliti tentang kandungan P2O5
dalam berbagai pupuk fosfat komersial.

1.2. Permasalahan
Apakah ada kesesuaian antara kandungan P2O5 hasil analisis dengan kandungan yang
terdapat pada kemasannya dan apakah ada keselarasan antara kandungan P2O5 total
terhadap bagian yang mudah larut dalam asam sitrat 2 % dan bagian yang dapat larut
dalam air sebagai indikator ketersediaan unsur tersebut bagi tanaman.

1.3. Pembatasan masalah

Penelitian ini hanya dibatasi pada uji kandungan fosfat sebagai P2O5 dalam pupuk
fosfat komersial berbagai merek yang berdasarkan penampilannya sukar dibedakan
antara yang asli terhadap yang dipalsukan.

1.4. Tujuan penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui kesesuaian kandungan fosfat total sebagai P2O5 hasil analisis dengan kandungan P2O5 yang terdapat dalam kemasan.
2. Untuk mengetahui konsistensi antara P2O5 total terhadap P2O5 yang larut dalam air
dan asam sitrat 2 % karena pupuk fosfat yang mudah larut mempunyai nilai
ekonomis lebih tinggi daripada pupuk fosfat yang sukar larut sehingga
efektifitasnya tidak semata mata ditentukan oleh P2O5 total

1.5. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipergunakan sebagai sumber informasi yang
berguna tentang kandungan fosfat dalam bentuk P2O5 yang sesuai dengan standar
yang diperbolehkan dalam pembuatan pupuk fosfat komersial

1.6. Lokasi penelitian
Penelit ian ini dilakuka n di Laborator ium Kimia Analit ik Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara serta Pusat Penelitian
Sumber Daya Alam dan Lingkungan, Universitas Sumatera Utara.

1.7. Metodologi penelitian
Sampel pupuk fosfat yang diteliti dibagi kedalam 3 kategori yaitu (1) batuan fosfat
yang telah digiling halus, (2) pupuk fosfat tunggal (TSP dan SP-36) dan (3) pupuk
majemuk yang mengandung fosfat seperti tercantum dalam daftar berikut :

No. Pupuk Kategori % P2O5 Produsen / Distributor
1. ARP Tepung Batu fosfat 28 – 30 % CV. Bitama Jaya
2. CIRP Tepung Batu fosfat 30 – 32 % CV. Rolimex Indonesia
3. CRP(coklat) Tepung Batu fosfat 32 % CV. Rolimex Indonesia
4. CRP(hitam) Tepung Batu fosfat 32 % China
5. TSP Tunggal 46 % PT. Meroke Tetap Jaya
6. SP-36 Tunggal 36 % PT. Petrokimia Gresik
7. NPK Phonska Majemuk 15 % PT. Santani Sejahtera
8. NPK Petrokimia Majemuk 15 % PT. Petrokimia Gresik
9. NPK Mutiara Majemuk 16 % PT. Meroke Tetap Jaya
10. Amophos Majemuk 20 % PT. Meroke Tetap Jaya
11. NH4 fosfat Majemuk 20 % PT. Petrokimia Gresik
12. Kaliphos Majemuk 51 % PT. Meroke Tetap Jaya

Sampel tersebut diperoleh dari berbagai toko pupuk di kota Medan dan
sekitarnya serta merupakan jenis pupuk fosfat yang paling banyak digunakan petani.

Keterangan :

  • ARP : Agipt Rock Phosphate
  • CIRP : Chrismast Island Rock Phosphate
  • CRP : China Rock Phosphate
  • TSP : Tripel Super Phosphate

1.8. Metode analisis fosfat
Kandungan fosfat sebagai P2O5 dalam setiap sampel ditentukan sebagai P2O5 total,
P2O5 larut dalam 2 % asam sitrat dan P2O5 yang dapat larut dalam air. Analisis fosfat
dilakukan dengan metode biru–molibdem (molybdenum blue) dengan pereaksi
ammonium molibdat-asam askorbat yang menghasilkan senyawa kompleks berwarna
yang mengabsorpsi cahaya maksimum pada 880 nm.

sumber : Universitas Sumatera Utara

Lapisan Sedimen Batuan Rock Guano Phosphat

Posted by Picasa

GUANO ROCK PHOSPHAT FROM JAVA


Rock Guano phosphate made from mineral mountains and environmental friendly. Directly taken rock guano phosphate from the caves. There are a abundance source of rock guano phosphat in indonesia especially in east javanese province. Guano from Madura Island was wellknown as the best quality of GUANO at all of the world, and so do of other places at east javanese province, as at gresik, tuban, and bojonegoro. Natural fertilizer is composition of soil’s nutrition . Having contents of Phosphate (P205) since 10% , 15%, 18%, 23%up etc and included bat droppings . With Rock Guano Phosphate making it helpful for plants growth especially towards the flowering, fruiting and vegetables.
Our natural fertilizer with rock guano phosphate no other added chemical ingredients but
100 % is pure and natural. It is can be applied in all kinds of cultivation especially fruits, flowers and vegetables.

Advantage of using Natural fertilizer rock guano phosphate :

· Increase the crop

· Neutralizing pH of acid soil

· Balancing pH (acidity) of soil

· Grow more root, longer and bigger

· Freshen the plant

· Increase the sweet taste of fruit

· Increase the amount and size of fruit

· Improve the fruit color, become more attractive

· Improve result of crop.

· Improve medium and plant productivity

· Overcoming symptom of organic matter deficiency

· Ready to be absorbed by medium (soil)

· Reduce the transport cost

· Non toxic and not dry the plant

· Can be utilized for any type of plant and any medium (soil)

BAT GUANO PHOSPHAT

Give Healthy Soil with Phosphate Guano Fertilizers HOME NEWS GUANO The 100% Natural Organic Soil Amendment The word guano originated from the Quichua language of the Inca civilization and means “the droppings of sea birds”. It is a misnomer to refer to bat dung as guano. As the word is used today, guano describes both bat and sea bird manure. The most famous guano was that used by the Inca. The guano would collect on the rainless islands and coast of Peru. Atmospheric conditions insured a minimal loss of nutrients. There is very little leaching of valuable material, nor is there a considerable loss of nitrogenous matter. For this the Inca would guard and regulate the treasured soil enricher. Access to the guano deposits were restricted to chosen caretakers. Disrupting the rookeries could result in punishment by death. Guano became a very important part of the development of agriculture in these United States. During the peak of the guano era, drastic steps were taken to maintain a supply for the U.S. farmer. “On August 18, 1856, Congress passed an act to authorize protection to be given to citizens of the United States who may discover guano, under which any citizen of the United States was authorized to take possession of and occupy any unclaimed island, rock or key containing guano. The discoverers of such islands were entitled to exclusive rights to the deposits thereon, but the guano could only be removed for the use of the citizens of the United States.”Nutrients in guano are as different as there are a variety of producers, food sources and environmental constraints. Sea birds eat strictly small fish and are not scavengers. Bat guano is available from one species that thrives on fruit, while another feasts on insects. Guano can be fresh, semi-fossilized or fossilized and will be a factor, among others, on the nutrient content when used. Guano is provided in the ready to use condition, thoroughly aged to the vintage state of a good natural fertilizer. Guano can be used inside or outdoors for all living plants. Guano supplies fast and slow release nutrients to the biological system. Apply the pure guano in smaller amounts than ordinary barnyard or poultry manure. Applied as a top dressing and worked into the soil or mixed with water and applied, guano will have a dramatic influence. Hydroponic growers, in contrast to normal fertilization, are finding that guano and water are a natural alternative to chemical solutions. Use nitrogen guano for growth, phosphorus guano for budding and all guano for your plants general health and well being. Guano can be blended with topsoil before laying sod or grass seed and while planting trees and shrubs. Add guano to your container growing mix for a supercharged potting soil. For more information on bats and their importance to our ecosystems, please visit Bat Conservation International by clicking here.

FFFFRDRDRRDEEDREDFRESHIK

FRESH BAT GUANO (PUPUK KOTORAN KELELAWAR)

Keberadaan kelelawar bagi kita sudah bukan binatang asing lagi. Mamalia dari ordo Chiroptera yang bisa terbang ini memang mempunyai perbedaan dan kekhasan tersendiri dibanding binatang terbang lain, misalnya burung. Kelelawar mempunyai dua tangan layaknya binatang lain. Tangan yang digunakan untuk aktifitas memegang benda tersebut berkembang menjadi sayap. Kelelawar terbang dengan mengandalkan frekuensi suara. Namun pada tulisan kali ini bukan masalah gelombang suara yang akan kita bincangkan. Biarlah masalah gelombang suara dibahas oleh ahlinya. Kita akan membincangkan sisi lain dari kelelawar yang terlupakan namun kalau mau kita manfaatkan tentu akan mendatangkan manfaat yang besar. Keberadaan kelelwar bagi ekosistem memang tidak bisa kita pandang sebelah mata. Lihatlah pada keseimbangan alam dinegeri kita tercinta ini. Kelelawar mempunyai peranan yang sangat penting. Hamper setiap malam kelelawar mencari makan dari buah-buahan dan dari buah-buahan yang dimakan tersebut kelelawar memancarkan biji-biji buah tersebut keberbagai lokasi yang jaraknya berkilo-kilo meter. Sebagai penyerbuk tanaman yang bernilai ekonomis, mulai dari jambu, duwet, ace, petai, kapuk, keluwih, cendana dan lain sebagainya. Satu lagi yang tak kalah hebatnya. Kotoran kelelawar ternyata juga bisa menjadi pupuk yang sangat bagus. Karena kotoran kelelawar khususnya yang hidup digua-gua yang ada di Indonesia mengandung senyawa organik. Kotoran kelelawar yang dalam dunia pertanian disebut pupuk guano mengandung nitrogen, fosfor dan potassium sangat bagus untuk mendukung pertumbuhan, merangsang akar dan pembungaan serta kekuatan batang tanaman. Kotoran kelelawar yang sudah mengendap lama dalam dasar gua akan bercampur dengan tanah dan bakteri pengurai. Pupuk seperti inilah yang saat ini sedang dicari sebagai pengganti pupuk dari bahan kimia. Selain lebih ramah lingkungan juga tidak mengandung efek lain yang ditimbulkan. Anda ingin mencoba. Saat ini telah banyak tersedia dipasaran khususnya di tempat penjual tanaman hias dan pupuk di kota anda. Info selengkapnya…….klik………. (see more)


GUANO by wikipedia

Guano (from the Quechua ‘wanu’, via Spanish) is the excrement (feces and urine) of seabirds, bats, and seals. Guano manure is an effective fertilizer and gunpowder ingredient due to its high levels of phosphorus and nitrogen and also its lack of odor. Superphosphate made from guano is used for aerial topdressing. Soil that is deficient in organic matter can be made more productive by addition of this manure.
Contents:

• 1 Composition

• 2 History

• 3 Sourcing

• 4 Properties

Composition

Guano consists of ammonia, along with uric, phosphoric, oxalic, and carbonic acids, as well as some earth salts and impurities. Guano also has a high concentration of nitrates.
Currently vast volumes of phosphorus are needed to produce fertilizer, as it is an essential plant macronutrient. Guano is rich in phosphorus and is an intensely effective phosphorus fertilizer.

History

The word “guano” originates from the Quichua language of the Inca civilization and means “the droppings of sea birds”. Incas collected guano from the coast of Peru for use as soil enricher. The Incas assigned great value to guano, restricting access to it and punishing any disturbance to the birds with death.
Guano has been harvested over several centuries along the coast of Peru, where islands and rocky shores have been sheltered from humans and predators. The Guanay Cormorant has historically been the most important producer of guano; its guano is richer in nitrogen than guano from other seabirds. Other important guano producing species off the coast of Peru are the Peruvian Pelican and the Peruvian Booby. In November 1802, Alexander von Humboldt studied guano and its fertilizing properties at Callao in Peru, and his subsequent writings on this topic made the subject known in Europe.
The high concentration of nitrates also made guano an important strategic commodity. The War of the Pacific (1879 to 1883) between the Peru-Bolivia alliance and Chile was primarily based upon Bolivia’s attempt to tax Chilean guano harvesters and over control of a part of the Atacama Desert that lies between the 23rd and 26th parallels on the Pacific coast. The discovery during the 1840s of the use of guano as a fertilizer and saltpeter as a key ingredient in explosives made the area strategically valuable.In this context the US passed the Guano Islands Act in 1856 giving citizens discovering a source of guano the right to take possession of unclaimed land and entitlement to exclusive rights to the deposits. However, the guano could only be removed for the use by citizens of the United States. This enabled US citizens to take possession of unoccupied islands containing guano.
By the end of the 19th century, the importance of guano declined with the rise of artificial fertiliser, although guano is still used by organic gardeners and farmers

Sourcing

The ideal type of guano is found in exceptionally dry climates, as rainwater drains the guano of nitrates. Guano is harvested on various islands in the Pacific Ocean (for example, the Chincha Islands) and in other oceans (for example, Juan de Nova Island and Christmas Island). These islands have been home to mass seabird colonies for many centuries, and the guano has collected to a depth of many metres. In the 19th century, Peru was famous for its supply of guano.
Bat guano is usually mined in caves and this mining is associated with a corresponding loss of troglobytic biota and diminishing of biodiversity. Guano deposits support a great variety of cave-adapted invertebrate species, which rely on bat faeces as their sole nutrient input. In addition to the biological component, deep guano deposits contain local paleoclimatic records in strata that have built up over thousands of years, which are unrecoverable once disturbed.
The greatest damage caused by mining to caves with extant guano deposits is to the bat colonies themselves. Bats are highly vulnerable to regular disturbance to their roosts. Some species, such as Phyllonycteris aphylla, have low fat reserves, and will starve to death when regularly disturbed and put into a panic state during their resting period. Many species will drop pups when in panic, with subsequent death, leading to a steady reduction in population. Research in Jamaica has shown that mining for bat guano is directly related to the loss of bat species, associated invertebrates and fungi, and is the greatest threat to bat caves on the island.

Properties

In agriculture and gardening guano has a number of uses, including as: soil builder, lawn treatment, fungicide (when fed to plants through the leaves), nematicide (decomposing microbes help control nematodes), and as composting activator (nutrients and microbes speed up decomposition).