>Samurai Tanpa Pedang

>“Kau pasti terkejut saat mendapati bahwa keberhasilanku dalam meraih kepemimpinan dibangun atas dasar-dasar yang terdengar lumrah seperti pengabdian, penghargaan, kerja keras dan tindakan tegas.”

“Aku tidak pernah mahir dalam seni berpedang. Bahkan ronin kelas tiga sanggup mengalahkanku dalam perkelahian jalanan! Aku sadar aku harus lebih menggunakan otak daripada tubuh, khususnya jika aku ingin kepalaku masih menempel di leher” [hal 8]

Lahir dari orang tua petani dan lingkungan yang miskin tidak membuat Hideyoshi berhenti bermimpi. Pria yang bernama asli Kinoshita Tōkichirō ini memiliki impian dan tekad menjadi seorang Samurai. Akan tetapi mengingat tidak adanya darah samurai mengalir dalam dirinya, maka hal tersebut bukan lah sesuatu yang mudah. Apalagi dengan kondisi fisiknya kecil yang tidak memungkinkannya untuk bergerak di dunia militer, sehingga membuatnya tidak memiliki kemampuan berkelahi. Menyerah, kata yang sama sekali tidak pernah mendekam dalam kamus kehidupan pria yang berjulukan si Monyet atau Tikus Botak. Berbekal tekad, keberanian dan kecerdikannya menciptakan peluang, Hideyoshi menunjukkan bahwa orang biasa dapat menjadi luar biasa.

Toyotomi Hideyoshi. Sebuah nama yang sangat terkenal di zaman peperangan antar klan, Zaman Sengoku. Pria ini memiliki perawakan mirip kurcaci botak dengan badan tak karuan, yang oleh beberapa orang diberi predikat sebagai pemimpin berwajah paling jelek dalam sejarah Jepang. Akan tetapi kondisi fisiknya tidak terlalu berpengaruh, mengingat perannya yang hingga saat ini menjadikan sosok menyejarah di mata generasi muda.

Setelah diusir dari keluarga Matsuhito, karena fitnah. Dia tidak menyerah dan terus berupaya untuk mewujudkan keinginannya. Keberaniannya menciptakan peluang di saat krisis lah yang menjadi awal perjalanan hidupnya. Sebuah langkah berani diambilnya saat Hideyoshi dengan berani menghadang Lord Nobunaga ketika akan memasuki gerbang seorang bangsawan, dengan resiko dibunuh di tempat dia menyampaikan tekadnya untuk mengabdi pada Klan Oda.

“Kau pasti terkejut saat mendapati bahwa keberhasilanku dalam meraih kepemimpinan dibangun atas dasar-dasar yang terdengar lumrah seperti pengabdian, penghargaan, kerja keras dan tindakan tegas.” [hal 6]

Bergabung dengan Klan Oda menjadi titik balik kehidupan Hideyoshi untuk meraih kepemimpinan. Bermula menjadi kacung rendahan Lord Nobunaga, dia menunjukkan banyak loyalitas dan dedikasi tertinggi, bahkan ketika membawakan sandal sang Lord, Hideyoshi mendekapnya demi menjaga kehangatan walaupun saat itu dirinya sendiri dalam kondisi kedinginan. Pengabdiannya yang luar biasa membuat Nobunaga tidak segan menaikkan pangkat Hideyoshi dengan signifikan. Hingga akhirnya Hideyoshi menjadi salah satu orang kepercayaan Lord Nobunaga.

Kematian Lord Nobunaga karena adanya pengkhianatan, menimbulkan perebutan kekuasaan dan bibit perpecahan. Keadaan ini mengharuskan Hideyoshi mengambil tindakan tepat dan cepat untuk mengatasi kondisi yang semakin memanas. Tidak sekadar kecerdikan dan ketangkasan yang akhirnya mampu membungkam sengketa, tetapi kepercayaan diri Hideyoshi membuat kondisi krisis ini menjadikannya seorang pemimpin. Setelah membalas dendam atas kematian Lord Nobunaga, Hideyoshi berusaha melanjutkan perjuangan Lord Nobunaga, yaitu mempersatukan wilayah Jepang.

Kitami Masao, si penulis buku ini, mengurai sejarah kehidupan Hideyoshi menjadi poin-poin motivasi. Tidak salah memang memilih Hideyoshi sebagai sosok pemimpin yang menginspirasi, bukan hanya karena sifat-sifatnya, tetapi juga aksi yang digunakannya terbilang unik, untuk zaman sengoku. Di saat sebagian penguasa menggunakan pedang untuk memperluas daerah jajahannya, Hideyoshi lebih memilih jalan diplomasi. Ketika sebuah wilayah berhasil didapatkan, Hideyoshi tidak menyingkirkan para penguasanya, tetapi mengendalikan. Dan taktik yang tidak biasa ini ternyata malah sangat menguntungkannya.

“Untuk menggenggam musuh dalam tangan dan tidak meremasnya sampai hancur, untuk menahan pasukan yang mabuk kemenangan tidak kelepasan, ini adalah ciri kepemimpinan yang sebenarnya” [h.108]

Dengan menggunakan aku sebagai subyek pencerita, buku biografi ini menuturkan totalitas Hideyoshi sebagai pemimpin. Sesuai dengan arti Samurai, yaitu orang yang melayani, Hideyoshi benar-benar menerapkan bahwa tugas seorang pemimpin adalah melayani bukan dilayani. Kerendahan-hatinya terlihat dari bagaimana dia memaknai kedudukannya dengan baik, yang selalu mencamkan pada diri sendiri bahwa untuk tetap menjadi seorang pemimpin, bukan atasan.

“Setiap orang memiliki kelebihan, maka tugas seorang pemimpin adalah membantu bawahan menemukan bidang keahlian masing-masing yang paling mungkin untuk dimanfaatkan secara efektif” [h.145]

“Rendah hati, melakukan penghargaan dengan hal yang mungkin dianggap sepele. “Salah satu cara untuk mengenali kinerja—dan mendemonstrasikan empatimu—adalah menulis surat sendiri dengan tulisan tangan” [h.168]

Tidak salah jika buku ini menginspirasi banyak pihak, termasuk Redline Publishing untuk terus berkembang di dunia penerbitan, karena perjalanan hidup Hideyoshi tidak hanya memuat kesuksesan, tetapi juga kesuraman masa pemerintahannya. Tidak ada yang sempurna. Dan ketidak-sempurnaan inilah yang menjadi semacam peringatan untuk lebih mengekang obsesi dan memperhatikan langkah-langkah yang diambil. Sekali lagi, tugas seorang pemimpin adalah melayani bukan dilayani.

Judul : The Swordless Samurai, Pemimpin Legendaris Jepang Abad XVI
Penulis : Kitami Masao
Penerjemah : Mardohar S.
Penerbit : Redline Publishing
Tahun : Februari 2009
Genre : Biografi-Motivasi
Tebal : 262 halaman
Harga : Rp. 49.800,-
ISBN : 978-979-19337-0-4

>Pengembangan Diri Ala Samurai Sejati

>

Oleh: Risfan Munir*

Kisah sukses ekonomi atau industrialisasi Jepang selalu dikaitkan dengan budaya bangsa itu, di mana spirit samurai menjadi salah satu kekuatannya. Oleh karena itu akan bermanfaat sekali untuk mempelajari spirit samurai itu. Dan, salah satu sumber maupun simbol etos samurai adalah Miyamoto Musashi. Dialah pendekar samurai tiada tara yang menulis buku The Book of Five Rings (Go Rin No Sho). Ini adalah hasil renungan atau kontemplasinya setelah menjadi samurai tak terkalahkan.

Musashi memberikan penjelasan singkat pemilihan judul itu: BUMI, simbol pandangan dasarnya tentang seni bela diri; AIR, terkait gayanya yang dilandasi sifat mengalir dan kejernihan; API, atau peperangan, dikaitkan dengan energi dan kemampuannya berubah; ANGIN, terkait pengamatan atau kritiknya atas atas macam-macam gaya dari perguruan lain; KEHAMPAAN, ini bagian yang sangat filosofis, bahwa ujung kesempurnaan adalah kehampaan jua.

Meski media buku ini adalah panduan teknik samurai, tetapi intinya adalah tentang “permainan pikiran” juga. Bagi Musashi, seni bela diri adalah sebuah pendekatan (psikologi) pada Jalan (disiplin, destiny) yang sesuai untuk dijadikan panduang pengembangan diri.

Ada beberapa prinsip yang menjadi benang merah kelima Bab, yaitu:
(1) Pentingnya timing, yang mesti selalu diserasikan dengan ritme lawan dan situasinya.
(2) Pentingnya pengetahuan yang menyeluruh atas diri sendiri dan lawan, mirip analisis SWOT (strengths, weaknesses, opportunities, threats).
(3) Pentingnya permainan “persepsi”, agar betul-betul bertindak berdasar fakta, bukan persepsi, dugaan, agar tak mudah diprovokasi, dan dikelabuhi.
(4) Berikutnya, pentingnya mengendalikan “pikiran lawan”, dengan tipuan, pengecohan, gertak, provokasi, dan taktik lainnya.
(5) Akhirnya ialah pentingnya praktik, praktik dan praktik, kalau mau mahir. Ukuran keberhasilan belajar bukan lulus ujian oleh guru, tetapi keberhasilan menaklukkan lawan.

Memahami ajaran Musashi tentu tidak untuk belajar samurai, karena kalau mau belajar seni bela diri apa pun ya lebih praktis ikut kursus. Sekali lagi, ini bertujuan untuk menggali spirit samurai yang katanya mampu memompakan etos maju bangsa Jepang.

Pada Kitab Bumi, Musashi menganalogikan belajar samurai seperti kerja tukang kayu yang harus menguasai aneka alat (gergaji, palu, penyerut, dst), menguasai banyak teknik (memotong, menyambung, meluruskan), serta memilih kayu yang tepat untuk pilar, palang, kusen, pintu, dst. Di samping mahir secara pribadi juga mahir memimpin pasukan dalam pertempuran. Ini juga seperti tukang kayu yang harus mampu memilih tukang, mengorganisir, dan disiplin mengikuti blue-print.

Pada Kitab Air dia meggarisbawahi pentingnya mengikuti watak air yang “jernih dan fleksibel.” Jernih menilai lawan, tak tertipu oleh persepsinya sendiri. Dan, fleksibel atau lentur. “Tanaman yang fleksibel hidup, tanaman kaku adalah tanaman mati.”

Kitab Api, membahas aspek taktik duel dan strategi pertempuran. Di antaranya ada dua strategi yang menarik bagi saya. Pertama, taktik meminjam tenaga lawan. Seorang samurai tua bisa menghadapi lawan yang muda, dengan taktik gerak tipuan untuk membuat lawan bertindak sia-sia, sibuk kelelahan. Kedua, strategi “menyeberang sungai”, saat kita menjalankan rencana, kadang tak terhindarkan harus menentang arus desar. Pada titik itu tak ada pilihan kecuali kerja keras mendayung untuk sampai ke seberang.

Kitab Angin, dalam kitab ini Musashi banyak membandingkan do-jo-nya (perguruan) dengan do-jo lain yang dia kritik sebagai mengembangkan seni akrobat, kembangan, daripada seni pedang sesungguhnya yang tujuannya semata mengalahkan lawan.

Musashi juga mengajarkan agar taktik dan serangan yang dilakukan “tidak terbaca”. Karena sering melakukan serangan “di luar pakem”, atau yang konvensional” tujuannya agar lawan tak bisa menebak, atau bisa diprovokasi. Contohnya, saat duel dengan musuh bebuyutannya Sasaki Kojiro, di perahu menuju pantai tempat duel, dia buat pedang kayu dari dayung cadangan. Datangnya pun terlambat , ini pantangan bagi disiplin samurai. Akibatnya Kojiro heran dan tersinggung emosional. Di situ dia terpecah pikirannya dan Musashi pegang kendali dan menang.

Kitab Kehampaan, ini bab paling tipis. Sesuai dengan judulnya, isinya sangat filosofis. Mengingatkan kita untuk melihat “fakta sesungguhnya”, atau hakikat. Karena kita umumnya terbiasa melihat “label” daripada “realita objektifnya”. Kalau disebut kata “laut”, seketika terbayang “luas dan biru.”

Dalam duel, dalam pengambilan keputusan, subjektivitas, persepsi dini, juga prejudice, stereotyping, bisa mengecoh diri sendiri. Apalagi kalau lawan tahu pikiran bias dan preferensi kita, mereka bisa sengaja mengecoh kita. Maka Musashi menyarankan “kosongkan pikiran”, hadapi lawan (realitas) apa adanya, bebaskan dari asumsi, praduga. Pahami realita apa adanya. Ini sulit, tetapi alangkah indahnya kalau kita bisa selalu berpikiran “jernih”, tak dikacaukan, dipusingkan dan dibikin rancu oleh persepsi dan preferensi, judgement tertentu, yang seringkali tanpa fakta objektif.

Apalagi di era informasi ini, tiap hari kita dicekoki oleh berita televisi, koran, gosip yang lebih banyak “opini”-nya daripada faktanya.”Bersihkan pikiran dari bias dan ego, bebaskan pandangan dari mode, tekanan teman, prakonsep, maka Anda akan melihat (fakta atau) kebenaran sejati.”

Ketajaman mengobservasi adalah salah satu rahasia kekuatan Musashi. Mengamati semua hal, tanpa terkecoh oleh pesona, godaan ataupun provokasi dari yang diamatinya. Kuncinya, dia katakan, adalah “persepsi”. Kita harus bisa malihat situasi apa adanya. Sering kali “hasrat” dan “ketakutan” kita yang mendominasi pikiran, sehingga kita tak bisa melihat sesuatu apa adanya.

Dari pesan sang Samurai saya berkaca, betapa seringnya saya membaca, mendengar, mengamati banyak hal dengan “frame” saya sendiri. Lalu dengan cepat prejudice, menghakimi. Akibatnya kita tidak banyak belajar dari orang lain. Dan, sering salah menilai maupun salah mengambil keputusan. Sebagai fasilitator, trainer, metode partisipatif juga menghendaki kita untuk tidak “datang membawa jawaban”, tetapi betul-betul terbuka terhadap aspirasi audiens. Para manajer masa kini juga diajar untuk lebih banyak mendengar sebelum bicara. Kata Covey,”first seek to understand, then to be understood.” Jernihkan persepsi, memahami dulu aspirasi audiens, baru minta dimengerti.[rm]

http://www.andaluarbiasa.com/pengembangan-diri-ala-samurai-sejati