THE LAW OF RESONANCE, MANAJEMEN QALBU, & KEBERLIMPAHAN

Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wabarokatuh….

APLIKASI THE LAW OF RESONANCE & THE LAW OF ATTRACTION DALAM KEHIDUPAN SOSIAL, MANAJEMEN QALBU, & KEKAYAAN.

Ketika dua getaran gelombang bertemu, maka akan terjadi dua hal berikut ini :

  1. Interferensi Konstruktif atau Resonansi Harmonis [Selaras] yaitu terjadi pelipat gandaan kekuatan getaran.
  2. Interferensi destruktif atau Resonansi yang tdk harmonis dan bersifat saling menetralkan kekuatan getaran.

Interferensi adalah interaksi antar gelombang di dalam suatu daerah. Interferensi dapat bersifat membangun dan merusak. Bersifat membangun jika beda fase kedua gelombang sama sehingga gelombang baru yang terbentuk adalah penjumlahan dari kedua gelombang tersebut. Bersifat merusak jika beda fasenya adalah 180 derajat, sehingga kedua gelombang saling menghilangkan.

Jika pada suatu tempat bertemu dua buah gelombang, maka resultan gelombang di tempat tersebut sama dengan jumlah dari kedua gelombang tersebut. Peristwa ini di sebut sebagai prinsip superposisi linear. Gelombang-gelombang yang terpadu akan mempengaruhi medium. Nah, pengaruh yang ditimbulkan oleh gelombang-gelombang yang terpadu tersebut disebut interferensi gelombang.

Ketika mempelajari gelombang stasioner yang dihasilkan oleh superposisi antara gelombang datang dan gelombang pantul oleh ujung bebas atau ujung tetap, Anda dapatkan bahwa pada titik-titik tertentu, disebut perut, kedua gelombang saling memperkuat (interferensi konstruktif), dan dihasilkan amplitudo paling besar, yaitu dua kali amplitudo semuala. Sedangkan pada titik-titik tertentu, disebut simpul, kedua gelombang saling memperlemah atau meniadakan (interferensi destruktif), dan dihasilkan amplitudo nol.

Dengan menggunakan konsep fase, dapat kita katakan bahwa interferensi konstruktif (saling menguatkan) terjadi bila kedua gelombang yang berpadu memiliki fase yang sama. Amplitudo gelombang paduan sama dengan dua kali amplitudo tiap gelombang. Interferensi destruktif (saling meniadakan) terjadi bila kedua gelombang yang berpadu berlawanan fase. Amplitudo gelombang paduan sama dengan nol. Interferensi konstruktif dan destruktif mudah dipahami dengan menggunakan ilustrasi pada Gambar Di bawah ini.

Nah, sebagaimana telah saya kupas dengan panjang kali lebar dalam TOPIK MATA KETIGA, INTUISI, & INDRA KE ENAM. Bahwa emosi manusia itu hakikatnya mengandung getaran gelombang bioelektromagnetik yang bisa bernilai Positif atau Negatif. Klik Di Sini.. [http://www.naqsdna.com/2011/09/strategi-mempertajam-intuisi.html]

Getaran Emosi yang dipancarkan oleh orang lain, hakikatnya itu hanyalah sekedar provokasi yang memancing emosi kita agar bergetar selaras dengan getaran emosi mereka. Nah, bila Fikiran dan hati kita sdh terlatih dengan Zikrullah. Maka kita punya kemampuan dan kehendak bebas untuk bereaksi sesuai dengan kehendak kita. Dan tidak mudah terpancing oleh provokasi orang lain…..

Bila Getaran Emosi yang kita terima adalah Negatif, misalnya bernada kebencian, kemarahan, iri hati, dll. Maka kita bisa bereaksi dengan tidak melayaninya bergetar dalam frekwensi mereka. Namun kita bisa bebas untuk memilih untuk tidak selaras dengan mereka dan bereaksi dengan getaran frekwensi kita sendiri.

Tekhnisnya menghadapi kejadian seperti itu yaitu dengan beristighfar di dalam hati atau dengan lisan kita. Dan untuk sesaat kita memilih diam & tersenyum… untuk menenangkan gejolak hati kita yg sedang menerima pancaran energi negatif tersebut…….

Sehingga dengan demikian, ketika dua getaran yang bersifat dikotomi (bertolak belakang, positif bertemu negatif) tadi bertemu, maka akan bersifat saling menetralkan. Sehingga permasalahan menjadi cepat segera selesai tanpa berlarut-larut………. ► Hati kita tetap terjaga stabilitas getarannya, dan getaran hati lawan bicara kita juga menjadi ternetralkan. Efeknya, Tidak ada masalah yg terjadi.

Dan bila Getaran Emosi Positif yang kita terima dari orang lain. semisal emosi kegembiraan, Rasa syukur, keceriaan, dll. Kitapun bisa bebas untuk bereaksi dengan cara sesuai pilihan kita. Bila kita memilih untuk bergetar selaras dengan mereka dengan turut serta bergembira atas kegembiraan dan kebahagiaan mereka. Maka Getaran Kebahagiaan tersebut akan mengalami pelipat gandaan efek. Sehingga terjadilah kebahagiaan berjamaah. he..he..he…

Efeknya pada hati kita yaitu getaran hati kita yg positif akan naik berlipat ganda frekwensinya. Demikian pula getaran orang lain tersebut.

Nah, dalam hubungannya dengan KEKAYAAN. Ketika kita ikut bergembira atas kegembiraan orang lain yang memperoleh nikmat dari Allah swt. Semisal baru beli MOBIL misalnya. Maka energi keberlimpahan yang mereka peroleh akan juga menular kepada kita. Sehingga ketika kita konsisten atau Jujur dengan perasaan itu. Maka hanya dengan turut bersyukur dan bergembira atas nikmat Allah yang diperoleh orang lain, kita menjadi selaras dengan getaran keberlimpahan orang tersebut dan efeknya kita akan ketularan memperoleh keberlimpahan rizki juga dari Allah swt. Inilah aplikasi dari Hukum THE LAW OF ATTRACTION…..

Pengendalian Pikiran
Sang Buddha bersabda:
“Dunia dikendalikan oleh pikiran, oleh pikiran dunia diganggu.
Pikiran itu sendirilah satu hal yang membawa semua yang lain ada di bawah kekuasaanya.” (Samyutta Nikaya I, 39)

Pikiran merupakan sumber segala malapetaka dan kebajikan di dunia ini.
Pikiran yang negatif akan menciptakan hal-hal yang negatif, sebaliknya pikiran yang positif akan menciptakan hal-hal yang positif pula. Adakalanya pikiran menjadi liar tak terkendali seperti monyet sakti Sun-Go-Kong yang senantiasa melompat dan bergerak tanpa henti. Mulut bisa dikendalikan kapan akan berbicara dan diam, tubuh bisa diatur untuk diam dan bergerak, tetapi pikiran adalah sesuatu hal yang paling sulit dikendalikan.

Pikiran yang sulit dikendalikan tersebut kemudian akan mempengaruhi mulut dan tubuh kita. Sehingga pikiran yang tidak terkendalikan akan menghasilkan berbagai perbuatan dari ucapan dan tindakan yang dapat menimbulkan penderitaan. Kebahagiaan dapat dicapai apabila kita sudah berhasil mengendalikan pikiran secara baik.

Sang Buddha Bersabda :
“Sukar dikendalikan pikiran yang binal dan senang mengembara sesuka hatinya. Adalah baik untuk mengendalikan pikiran, suatu pengendalian pikiran yang baik akan membawa kebahagiaan.” (Dhammapada , 35)

Jiwa Harmonis Bisa Mengubah Dunia
Depresi saat ini menjadi penyakit dunia modern, angka bunuh diri atau membunuh orang lain, sekarang meningkat pesat, dan menurut penelitian, perempuan lebih rentan mengalami depresi, mungkin ini terjadi di mana perempuan lebih bermain dengan perasaannya, dibandingkan dengan pria yang lebih mengandalkan logikanya dalam menghadapi, dan menjalani situasi-situasi yang datang dalam kehidupan.

Depresi merupakan masalah kesehatan jiwa yang utama saat ini. Sebuah keluarga akan menanggung akibatnya, jika ada anggotanya yang depresi, demikian juga yang terjadi di kantor, di perusahaan, dan di lingkup luas sebuah negara.

Sebab, orang yang menderita depresi menurun daya kreativitasnya, juga produktivitas daya hidupnya, tentu hal ini sangat mengganggu dalam kemajuan masyarakat, sehingga jika angka penderitanya semakin banyak, tidak tertutup kemungkinan sebuah negara akan terus mundur dalam segala aspek.

Depresi terselubung (masked depression) merupakan penyakit dunia modern yang saat ini, sangat banyak penderitanya, yaitu gejala yang muncul ke permukaan berupa keluhan-keluhan fisik (somatic), maka para dokter banyak dibanjiri pasien yang tidak diketahui penyakitnya, diketahui dalam pemeriksaan laboratorium didapat hasil yang normal, di sinilah diharapkan kepekaan para dokter, untuk mengarahkan pasien-pasien ini ke terapi kejiwaan, karena kemungkinan mereka penderita awal dari depresi yang akan terus bertambah parah.

Kasih Sayang
Seorang yang kuat dan sehat jiwanya, bisa saja dia jatuh dalam alam depresi jika tidak bisa mengatasi stressor (pemicu ketegangan) yang datang dalam derap kehidupannya. Perasaan gagal memenuhi rasa aman untuk diri sendiri dan orang yang dicintai. Perasaan gagal mendapatkan dan memenuhi kasih sayang. Didera perasaan bersalah pada diri sendiri.

Ambisi atau keinginan kuat, obsesi-obsesi yang tak terpenuhi. Perasaan minder atau sebaliknya, yaitu perasaan ‘super’ sama-sama sebagai bentuk pemicu depresi. Akibat terburuk dari depresi, biasanya terjadi dalam bentuk agresi, yaitu suatu reaksi terhadap frustrasi atau ketidakmampuan memuaskan kebutuhan psikologisnya.

Agresi hiper salah satu contohnya menjadi sosok penyerang, baik dalam bentuk verbal maupun nonverbal, agresi hipo salah satu contohnya, sikap yang selalu mengalah, dan menarik diri.

Stres berkepanjangan membuat emosi labil, jantung berdenyut lebih cepat karena darah harus dipompa lebih aktif dan otot di seluruh tubuh menjadi tegang, inilah awal keluhan-keluhan fisik, yang jika dibiarkan berkepanjangan, bisa menyebabkan depresi.

Pada penderita depresi pemula, gejala umum yang sering terlihat, adalah menjadi pemurung. Orang itu selalu merasa tidak bahagia, pesimistis terhadap masa depan atau terhadap orang yang diharapkan, mudah tersinggung, sering melamun, mengerutu, serta kehilangan kepercayaan diri. Mulai menarik diri dari lingkungan, bersikap masa bodoh terhadap lingkungan, serba cemas, berpikir negatif terhadap orang lain, (paranoid), mulai malas bicara, bisa juga mudah tegang, dan emosi sangat mudah terpancing untuk meledak dalam bentuk ekspresi marah menangis, atau berteriak.

Jika kita mengalami beberapa keluhan perasaan di atas, dan merasakan fisik selalu tidak nyaman, ada saja keluhan sakit yang tidak jelas. Cobalah membuat gerakan untuk keluar dari gejala depresi ini, yaitu dengan menyadari keadaan mental sendiri, menerima diri apa adanya, jauhkan sikap selalu membandingkan diri dengan orang lain, mulai menyadari/menyelidiki trauma yang menjadi pemicu/ penyebab terjadinya gangguan perasaan ini, mulailah mengerahkan kecenderungan alamiah pada nilai yang positif dan pikiran yang membangun. Jika tidak mampu mengatasi sendiri, carilah pertolongan psikolog atau psikiater

Jelas sekali setiap orang membutuhkan keharmonisan jiwa, tapi pertanyaannya bagaimana bisa meraihnya? Carilah teman yang membangun, milikilah sahabat tempat berbagi. Sahabat adalah tempat berbagi suka atau duka, dengan saling menjaga dan percaya akan keajaiban kasih sayang, dengan keterbukaan merupakan awal pemulihan.

Nah, cukup sekian dulu ya… Wallahu a’lam……

Belajar Filosofi Aikido

Seni bela diri jepang ,yang meminjam tenaga penyerang(uke) untuk digunakan oleh korban (nange). Prinsip aikido dari asal katanya adalah (Ai) keselarasan ,(Ki)Pusat kehidupan dan (DO) pusat keseimbangan.Aikido adalah beladiri cinta kasih ,karena selain pada teknik aikido tidak diajarkan teknik menyerang dan lebih condong lebih defensive, seni bela diri yang didirikan oleh Morehei Ueshiba ini tidak ada hasrat untuk menjatuhkan lawan yang ada hanya kita mencoba untuk megalirkan tenaga uke untuk menyelesaikan teknik, intinya adalah agar uke maupun nange aman.Dalam Aikido dikenal “Aiki”.

Belajar aikido tidak hanya belajar teknik (waza) ,tetapi aikidoka juga harus belajar menguasai emosi, mengontrol energi, sikap kerendahan hati,belajar memahami orang lain, alam semesta dan cinta kasih karena itu adalah hal yang utama dalam memahami jiwa atau spirit dari aikido. Hal yang tidak boleh dilupakan dari belajar aikido adalah aplikasinya, yang harus diterapkan tidak hanya pada saat latihan tetapi dalam kehidupan sehari-hari.

Aikido kaya akan filosofi kehidupan. Jika seseorang mulai mempelajarinya, maka ia akan mendapatkan sesuatu yang sangat berharga dan dapat digunakan di dalam kehidupan sehari-hari dan bukan sekedar tehnik belaka.

Aikido mengajarkan bagaimana seseorang harus bersikap, bagaimana seseorang harus menghargai kehidupan dan lain-lain. Aikido bukanlah agama tetapi pendiri Aikido pernah berkata bahwa dengan mempelajari Aikido, maka orang dapat lebih mudah mengerti dan mempelajari apa yang ia temukan dalam agama yang dipelajari. Aikido mengajarkan seseorang agar berjiwa seperti seorang samurai yang menjunjung tinggi kebenaran. Jiwa ini terefleksikan pada hakama (celana khas Jepang) yang dikenakan oleh praktisi Aikido yang telah tinggi tingkatannya. Pada hakama terdapat 7 butir ajaran samurai yang mewakili 7 pilar “Budo” (Jalan Pedang).

Tujuh ajaran ini meliputi:

  1. Kebenaran dan Kebaikan,
  2. Sikap Hormat dan Kehormatan,
  3. Ketulusan dan Kejujuran,
  4. Loyalitas,
  5. Kesopanan dan Sopan Santun,
  6. Pengetahuan dan Hikmah Kebijaksanaan,
  7. Keberanian.

Jadi praktisi aikido yang telah mengenakan hakama diharapkan mengerti, memahami dan menjalankan dari apa yang dikenakan.

Lebih mendalam lagi, Aikido mengajarkan tentang kehidupan dan bagaimana agar kita dapat menjalaninya secara harmonis. Pendiri Aikido pernah berkata “ Masa katsu Agatsu, Katsu Hayabi” yang berarti “ Kemenangan sejati adalah kemenangan atas diri sendiri; kemenangan sejati adalah kemenangan tanpa pergulatan sedikitpun”. Aikido menganut filosofi “muteki” atau “tidak ada musuh”. Maksudnya musuh terbesar dalam hidup kita adalah mengalahkan diri sendiri, setelah berhasil, maka sebenarnya tidak ada musuh di kehidupan ini. Musuh sebenarnya adalah diri kita sendiri. Agar dapat mencapai hal ini, kita membutuhkan “Makoto” atau “Hati yang bersih”. Dengan hati yang bersih, maka kita dapat melihat/ menilai apa yang ada di hadapan kita dengan lebih jelas, ibarat air danau yang jernih dan tenang, maka permukaannya akan memantulkan refleksi seperti apa adanya.

Ajaran ini sedikit banyak dapat menjelaskan mengapa Aikido tidak ada kompetisi dan bukan bela diri sport. Karena Aikido dimaksudkan bukan untuk mengajarkan menang atau kalah dan sikap sportif tetapi lebih kepada pelajaran untuk pembentukan karakter tiap praktisinya baik dari sisi hati, akhlak, moral, mental dan terakhir, fisik.

Aikido bagi saya, kurang atau lebihnya, adalah seni untuk memahami entitas energi. Energi bisa terdapat dalam unit apapun di alam dan kehidupan sehari-hari. Makhluk hidup, benda, mesin. Bahkan sesuatu yang bersifat mental; emosi, perasaan, kekuatan politik, perjanjian, hukum, norma, budaya, seni.

Dalam konteks fisik, dojo, latihan, praktik; aikido adalah seni memahami kekuatan energi penyerang, yakni tentang dari mana kekuatan dibangkitkan, disalurkan melalui mekanisme tubuh penyerang, lalu disampaikan kepada target serangan. Secara prinsipil; serangan adalah perpindahan energi yang disalurkan ke target perpindahan energi; dengan tujuan negatif. Energi bisa berpindah tempat melaui mekanisme biologis dari tubuh dan anggota tubuh pemilik energi; penyerang. Energi serangan lalu menemui titik kontak fisik dengan target serangan; lalu terjadi tubrukan energi. Akibat dari tubrukan energi adalah kerusakan, dari skala terkecil hingga terbesar; dari sekedar cidera ringan hingga kematian.

Bertahun-tahun, atau bahkan berpuluh tahun, praktisi aikido secara tehnik berlatih untuk memahami hal tersebut. Sebagian berkutat pada “bentuk” tehnik, sebagian lebih maju mengekplorasi “konsep” dan “strategi”, sebagian kecil mencapai tahap “pemecahan masalah” dengan cara “yang lebih baik” dan manusiawi.

Secara konsep dan strategi, bela diri aikido terbagi menjadi tiga bagian. Bertemu kontak dengan energi serangan, meruntuhkan keseimbangan, dan akhirnya melakukan tehnik bela diri. Konsep dan strategi ini tentu ditopang oleh pondasi tehnis lain yang sangat penting. Seperti kuda-kuda, jarak, kewaspadaan, gerak dasar, jurus dasar, dan lain-lain.

Ketika seorang praktisi telah begitu “maju” dalam hal teknis, dimana bela diri aikido adalah semudah hatinya berkehendak, maka akhirnya, aikido adalah masalah hati. Lalu tiba-tiba energi utama pembelaan diri adalah kondisi hati; kondisi batin. Terbukalah suatu tabir bahwa penyerangan bermula dari hati, maka pembelaan diri juga seyogyanya adalah dari hati. Dari pemahaman energi secara fisik, beralih menjadi pemahaman energi secara mental; atau bahkan secara metafisika.

Seorang praktisi lalu menjadi orang yang lebih “bijaksana” dibanding sekian puluh tahun yang lalu ketika ia baru saja mengenal aikido. Dari si muda yang hatinya penuh terisi dengan ambisi akan kekuatan dan penaklukan, hingga menjadi si renta “sakti” yang hatinya penuh mahfum, dengan segalanya telah digenggam di tangan. Lalu, si praktisi, betapapun tinggi gunung telah di dakinya, betapapun jalan panjang telah dilewatinya melebihi siapapun, meninggal.

Selebihnya, siapa yang tahu. Karena alam sesudah kematian bukanlah jangkauan aikido.

Aikido – jalan keselarasan: dari tiada, menjadi ada, lalu tiada kembali….

Maka akhirnya, keselarasan sejati adalah milik Sang Pencipta.
Ketika Sang Pencipta Berkata kepada ciptaan: “Datanglah kepada Ku, dengan sukarela atau terpaksa.”
Maka jawaban seluruh semesta adalah: “Kami datang dengan suka rela ya Tuhanku.”

Referensi :
[INDONESIA AIKIKAI]
Aiki Kenkyu Bogor

Hakekat Shalawat

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…

Sahabat NAQS dimanapun berada, sudah hampir setahun NAQS DNA berdiri dan melakukan kegiatan pelatihan secara on line. Walaupun secara Formal dan Offline kiprah NAQS tidak kelihatan, namun perkembangan siswa yang mengikuti melalui jalur ON LINE sungguh sangat luar biasa. Ya, mudah-mudahan apa yang kita lakukan ini menjadi amal jariyah buat kita semuanya.

Sahabat, dalam hari-hari kemarin. Saya lebih banyak mengupas NAQS DNA dari sudut pola fikir orang Indonesia yang multi kultur. Sehingga segala pola fikiran yang senada dan seirama akan saya masukkan sebagai bahan pelajaran untuk menambah wawasan kita bersama. Nah, kali ini akan saya hadirkan sebuah tulisan karya Bpk. Kuswanto Abu Irsyad. Sekedar untuk menjawab pertanyaan siswa NAQS yang berada di Negara Malaysia, yang sering bertanya mengenai asal-usul energi yang diusung oleh NAQS DNA.

Tulisan beliau ini merupakan sebuah pendekatan yang hampir tepat untuk menjelaskan hakikat dari Energi yang digunakan oleh para praktisi NAQS. Yang merupakan Energi Wasilah atau Frekwensi penghantar dari energi Doa kita agar sampai ke hadlirat Allah SWT. Sinyal inilah yang di Attunementkan ke seluruh siswa dalam proses inisiasi. Setelah siswa terhubung dengan Sistem Komunikasi Ilahiah ini, barulah Getaran Hati & Pikiran mereka dapat tersambung secara langsung ke Alam Maha Kosmos. Bisa dikatakan, semua siswa pasti mengetahui perbedaannya. Bagaimana mereka dulu ketika berkomunikasi dengan Allah tanpa melalui sistem dan setelah melalui sistem. Sungguh sangat jauh perbedaannya.

Tapi anda jangan berfikir ngeress ya… artinya kalau sudah tersambung dengan Allah secara benar, otomatis semua ambisi duniawi kita akan di ijabahi…. he..he..he… Belum tentu sayang… Inilah pola fikir orang-orang yang menjual akhirat untuk dunia. Makanya, Attunement itu baru sebuah langkah awal. Langkah selanjutnya adalah pembinaan kepada siswa bagaimana untuk hidup dengan benar sesuai Sistem Ilahi. Dan itu adalah proses yang bertahap, step by step….. Okey, kita lanjut pembahasannya. Mari sinau tentang Hakikat Shalawat

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikatnya bersholawat atas Nabi; hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkan s a l a m dengan penghormatan kepadanya”.(QS Al-Ahzab 33:56)

Shalawat sebagai tawasul pembuka hijab
Do’a masih akan terhalang bila orang yang berdo’a tersebut tanpa bertawassul dengan bersholawat pada Nabi saw.. Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw. berkata:

‘Setiap do’a antara seorang hamba dengan Allah selalu diantarai dengan hijab (penghalang, tirai) sampai dia mengucapkan sholawat pada Nabi saw.. Bila ia membaca sholawat, terbukalah hijab itu dan masuklah do’a.’ (Kanzul ‘Umal 1:173, Faidh Al-Qadir 5:19)

Amirul Mukminin Imam Ali bin Abi Thalib kw. juga berkata, Rasulallah saw. bersabda:
“ Setiap do’a terhijab (tertutup) sampai membaca sholawat pada Muhammad dan keluarganya”. ( Ibnu Hajr Al-Shawaiq 88 )

Juga ada riwayat hadits sebagai berikut:
“Barangsiapa yang melakukan sholat dan tidak membaca shalawat padaku dan keluarga (Rasulallah saw.), sholat tersebut tidak diterima (batal)”. (Sunan Al- Daruqutni 136)

Mendengar sabda Nabi saw. ini para sahabat diantaranya Jabir Al-Anshori berkata:
‘Sekiranya aku sholat dan didalamnya aku tidak membaca sholawat pada Muhammad dan keluarga Muhammad aku yakin sholatku tidak di terima’. (Dhahir Al-Uqba : 19)

Begitu juga Imam Syafi’i dalam sebagian bait syairnya mengatakan:
“Wahai Ahli Bait (keluarga) Rasulallah, kecintaan kepadamu diwajibkan Allah dalam Al-Qur’an yang diturunkan, Cukuplah petunjuk kebesaranmu, Siapa yang tidak bersholawat (waktu sholat) padamu tidak diterima sholatnya…. “ .

Hakikat Shalawat
“Sesungguhnya orang-orang yang memaggilmu (bershalawat) dari belakang bilik-bilik (masih terhijab batinnya) itu, kebanyakan mereka tidak mengerti. Dan sekiranya mereka bersabar, sampai engkau (Nur Muhammad) keluar (menampakkan) kepada mereka, niscaya hal itu lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang” (QS 49 : 4-5)

Kebanyakan umat Islam, tidak tahu apa arti dari hakekat shalawat, tapi baru mengetahui bacaan shalawat yang berupa tulisan, padahal tulisan “allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad” bukanlah shalawat, ini hanya tulisan. Jika dibaca maka bunyinya –allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad- ini juga bukan shalawat, (ketika dibaca terdengar “bunyi bacaan shalawat”).

Kita ambil contoh lain, dari huruf m a k a n kita mendengar bunyi –makan- dan ini bukan “makan”, karena huruf m a k a n (1), berbunyi –makan- (2), ada action “makan”(3), yang di awali dengan memasukkan makanan ke mulut, mengunyahnya, hingga menelannya.

Contoh lain, dari huruf s h a l a t (1) berbunyi –shalat- (2), ada action “shalat (3), yang diawali dengan takbir diakhiri dengan salam.

Kembali ke s h a l a w a t (1), terbaca/berbunyi –shalawat- (2), actionnya…(3)?

Jika dijawab : Itu…allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad…Lho itu kan bacaannya….Jadi ada hal yang harus kita pertanyakan. *Bagaimanakah action shalawat itu sehingga jika kita melakukan action itu secara otomatis melewati wilayah s h a l a w a t dan –shalawat.

Lewat action “makan” di dalamnya kita telah m a k a n dan –makan-. Dengan penjelasan di atas dapat disimpulkan untuk setiap konsep, pemahamnya selalu ada tiga. Jadi ada segitiga pemahaman konsep.

* Untuk/kepada siapakah “shalawat” itu diberikan/ditujukan? Jika melihat bunyi ayat tentang shalawat…inna llaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala nnabiyyi ya ayyuha lladzina amanu shallu ‘alayhi wa sallimu taslima…maka shalawat ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.) …bacaannya ..allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad…Menurut pendapat saya pribadi….sangat pantas beliau mendapat penghargaan seperti itu…sangat tidak mengherankan jika orang-orang yang hidup di sekeliling beliau siap mati…siap berkorban… siap meninggalkan kemewahan dunia… anak.. isteri.. jabatan….. karena beliau memberi tuntunan sehingga para sahabat dapat “melihat” dapat “mendengar”, dan dapat “berbicara”. Apa yang bisa menandingi kebahagiaan tak terukur yang diakibatkan dari bisa “melihat”, bisa “mendengar, dan bisa “berbicara”. Jawabannya “tidak ada”. Ada ayat yang sangat “keras” bunyinya : (lebih kurang) Katakan :Jika bapakmu, anakmu, harta bendamu, niaga yang kau khawatirkan untung ruginya lebih aku cintai daripada aku maka rasakanlah azabku.

* Lalu bagaimana beliau ber”shalawat” kepada “diri”nya sendiri?Beliau tidak akan membunyikan bacaan shalawat. Tapi beliau melakukan actionnya. Lalu sekarang ini apakah kita sudah bisa menulis a l l a h u m m a s h a l l i ‘ a l a m u h a m m a d w a ‘ a l a a l i m u h a m m a d, apakah kita sudah bisa membaca tulisan itu sehingga berbunyi –allahumma shalli ‘ala muhammad wa ‘ala ali muhammad , dan apakah kita sudah bisa actionnya…?

Catatan : Kita memang kadang sering lupa bahwa cahaya terang di ruangan ini karena ada bohlam dan bohlam bisa menyala karena ada gardu dan gardu ini tak berarti apa-apa jika tidak ada listriknya…dan tentang listrik ini kita sebenarnya hanya melihat “tanda-tanda adanya listrik/gejala listrik”. Saya tidak bisa melihat listriknya.

“Sesungguhnya Allah dan Malaikat-Malaikatnya bersholawat atas Nabi; hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah untuk Nabi dan ucapkan s a l a m dengan penghormatan kepadanya”.(QS Al-Ahzab 33:56)

Berdasarkan fiman Allah seperti tersebut diatas, umat Islam diperintahkan untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Pada saat ini kita mengenal beberapa jenis kalimat sholawat yang dibuat oleh para Ulama, sesuai dengan keyakinan dan ajaran alirannya masing-masing, diantaranya adalah sebagai berikut :

“Semoga Allah memberi sholawat atas Nabi kita, “Muhammad” dan atas “Keluarga” serta Sahabat-sahabatnya”.

“Dan berikanlah rahmat Allah dan salam Allah atas Nabinya “Muhammad” dan atas keluarganya dan sahabatnya”.

“Ya Allah” berilah rahmat dan sejahtera atas penghulu Nabi kami Muhammad Rosulullah”.

Dalam dunia kaum Ma’rifatullah, terdapat sebuah hadits yang cukup terkenal, yaitu :

“Dia (Allah) berada dalam qolbu hambanya yang beriman”. (Al Hadits)

Qolbu yang tersebut dalam hadits Nabi di atas oleh kaum Ma’rifatullah dinamakan :

  • Mahligai–Nya Allah
  • Keraton-Nya Allah
  • Istana-Nya Allah
  • Masjid-Nya Allah
  • Rumah-Nya Allah

“Qolbu” itu disebut juga “Induknya Rasa” dan juga disebut “Babuning Roh atau Rohul Qudus atau Hu”.

Induknya Rasa atau “Rasanya Allah“ sama dengan Rasa Hakekat Muhammad. Sedangkan Babuning Roh itu sama dengan “Hakekat Muhammad” juga. Jadi “Rasa Allah” (Rosulullah) adalah Hakekat Muhammad yaitu “Hakekat Rosul Allah”.
.
jadi kesimpulannya adalah bahwa Qolbu itu adalah “Muhammad” sebagai makhluk pertama yang Allah ciptakan dari Diri-Nya sendiri atau disebut juga dengan “Sifatullah” atau “Nurullah” atau Jauhar Awal (Cahaya Pertama) atau Hu, yaitu “Hakekat Muhammad”.

Bermula manusia (Muhammad) itu rahasia-Ku dan Aku adalah rahasianya dan rahasia-Ku adalah sifat-Ku dan sifat-Ku tidak lain adalah Aku. ( Hadits Qudsi )
“ Aku (muhammad) berasal dari Allah dan Alam ini bersal dari Aku (Muhammad). ( Hadits Qudsi )

Telah datang akan kamu dari pada Allah itu “NUR”. (yaitu Nabi kita Muhammad SAW). (QS An-Nisa 4:174)

“…………. Dan dia (Hu) bersama kamu dimana saja kamu berada” (atau jikasudah menjadi insan yang suci, Dia selalu bersamamu). (QS Al-Mujadilah 58 : 7)

“…………. Kami lebih dekat denganmu, dibanding leher dan urat lehermu”. (QS Qaf 50:16)

TUJUAN BERSHOLAWAT.
Tujuan bersholawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, atas keluarganya, serta sahabat-sahabatnya, terbagi atas 2 (dua) pendapat yang dapat diartikan secara Syariat dan secara Hakikat yaitu :
1. Secara Syariat.
Umat Islam bersholawat dan mengucapkan salam atas Nabi Muhammad SAW, keluarganya dan atas sahabat-sahabatnya, secara terperinci ditujukan kepada:

  • Rosul dan Nabi Muhammad bin Abdulah yaitu insan yang dibersihkan dan disucikan oleh Allah SWT. Dan diangkat sebagai Nabi dan Rosul terakhir yang sekarang sudah tidak ada lagi (wafat).
  • Keluarga Muhammad SAW yaitu : “Anak–istri-Ibu-Bapak-saudara dan famili yang terdekat. ( Mungkin juga termasuk pamannya yang bernama Abu Jahal yang selalu menjadi rintangan tugas Nabi ).
  • Kesemuanya itu sudah tidak ada lagi (wafat).
  • Para sahabat-sahabatnya yaitu yang diamksud : Abubakar r.a. – Umar – Usman r.a ‘Ali r.a. dsb. Ini pun keseluruhanya sudah tidak ada lagi. (wafat)

2. Secara Hakekat.
Umat Islam yang sudah menguasai ilmu syariat, Hakikat, Tarekat dan Ma’rifat juga bersholawat dan mengucapkan salam kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi mereka bersholawat bukan ditujukan kepada Nabi Muhammad bin Abdullah, juga tidak ditujukan kepada para keluarga dan para sahabat Nabi, tapi ditujukan khusus kepada:

“Nabi Muhammad selaku Hakekat Rosul Allah, sebagai makhluk yang pertama kali diciptakan, makhluk yang tercinta dan termulia sesudah Allah, sebagai Rosul awal dan akhir yang diberi rahmat untuk semesta alam. (Ini pun tergantung sampai dimana tingkatan ilmu dan terbukanya hijab yang pernah dianugrahi Allah kepada hamba-hamba-Nya).

“ Muhammad itu bukanlah bapak dari salah seorang diantara kamu, tetapi ia adalah utusan Allah dan penghabisan semua Nabi”.(QS Al-Ahzab 33:40)

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya ditengah-tengah kamu ada Rasul Allah “. ( QS Al Hujurot 49 :7 )

“ Orang-orang yang telah Kami beri Al Kitab ( Kitab Yang Bercahaya ), mengenalnya ( Nur Muhammad ) seperti mengenal anak-anak meereka sendiri dan sesungguhnya segolongan diantara mereka menyembunyikan kebenaran, padahal mereka mengetahuinya “. ( QS Al Baqoroh 2 : 146 ) lihat juga QS Al An’am 6 : 20.

“Tugas Ku selesai setelah kiamat” (Hadits)

Disamping ditujukan khusus kepada Hakekat Muhammad ketika membaca sholawat, ada juga sebagian kaum Ma’rifatullah menyebutkan keluarga dan sahabat-sahabatnya Nabi dalam arti secara hakekat pula yaitu:

  1. Yang dimaksud “Keluarga Muhammad” adalah mereka yang pernah mengenal kepada “Hakekat Muhammad” yaitu yang pernah ma’rifat kepada Dzat & Sifat Allah.
  2. Yang dimaksud dengan para sahabat-sahabat Muhammad yaitu: mereka yang pernah Allah tunjukan jalan yang lurus; apakah mereka sudah sampai atau belum (tahap ma’rifat kepada Hakekat Rosul Muhammad atau disebut ma’rifat kepada Dzat dan sifat Allah). Hal ini tergantung dari keuletan, ketakwaan, keikhlasan, dan keimanan dalam menjalankan amar ma’ruf nahi mungkar yang diridhoi Allah, sesuai dengan ajaran agama Islam.

“Dan kalau sekiranya mereka bersabar sampai kamu (Muhammad) keluar menemui mereka, sesungguhnya itu adalah lebih baik bagi mereka dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(QS Al-Hujarat 49:5).

(Bahagialah mereka jika mereka bersabar sampai Hakekat Muhammad menampakan dirinya).

Umat Islam yang sudah sampai ke martabat Ma’rifatullah, selalu bersholawat kepada Nabi karena perintah Allah dalam Al Qur’an, dengan tidak menuntut imbalan jasa atau pahala.

  1. “Bahagialah orang yang bertemu dan mengenal Aku dan beriman kepada-ku”. (Mereka sudah mencapai derajat Isbatul yakin kepada Hakekat Muhammad).
  2. “Bahagialah, orang yang tidak bertemu aku, tapi bertemu dengan orang yang mengenal kepada-ku (ma’rifat) dan beriman kepada-ku”.
    Mereka baru mencapai derajat ilmul yakin terhadap adanya Hakekat Muhammad dalam dirinya sesuai dengan ajaran Islam (ilmu) yang diterima dari guru mursyidnya yaitu guru yang pernah bertemu dan mengenal Hakekat Muhammad.
    Mereka sudah dapat dianggap sebagai para “sahabat Nabi Muhammad” dan apabila mereka tekun dalam menjalankan “tarekat”, dan lebih bersabar serta lebih mencintai Allah dan Rosul-Nya, Insya Allah dapat meningkat dari “sahabat” menjadi “Keluarga” Nabi Muhammad.
  3. “Bahagialah, orang yang tidak bertemu dengan aku dan juga tidak mengenal dengan orang yang mengenal kepada-ku (ma’rifat), tapi beriman kepada ku.

Mereka yang tidak bertemu dengan hakekat Muhammad dan juga tidak bertemu dengan orang yang mengenal Hakekat Muhammad (ma’rifat), sehingga tidak dapat “Berguru” kepadanya, tetapi beriman kepada Muhammad dan berguru kepada Ulama Syariat dan bisa mendapat ilmu dari hasil membaca buku yang dikarang oleh para “Ulama” besar, mereka berarti sudah percaya menurut kabar adanya Hakekat Muhammad pada dirinya sendiri.

Pada tahapan tersebut, mereka sudah termasuk umat Muhammad dan mudah-mudahan dengan izin Allah, dibukakan hijab yang menjadi penghalang Qolbu sehingga lamabat laun semoga Allah memberikan atau memancarkan Nurrun Ala Nurrin dan meningkat menjadi insan atau sahabat Hakekat Muhammad.

“Rasa Allah” itulah Rasa Muhammad, itulah induknya Rasa atau disebut “Hakekat Muhammad” induknya rasa yang bersih dan suci disebut “Qolbu mu’min” yang menjadi mahligai Allah.

Induk Rasa (Hakekat Muhammad) itu terbagi atas 2 kategori:
Terdiri dari 5 (lima) rasa lahir dan 1 (satu) rasa lahir batin yang mencangkup kelima rasa tersebut tadi. Jadi jumlahnya ada 6 (enam) rasa.

  1. Rasa ke 1 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa jasad,Rosulnya Adam a.s. dan sahabat Rosulnya “Adam Kholifatullah”
  2. Rasa ke 2 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa pendengaran /kuping, Rosulnya Ibrahim a.s dan sahabat Rosulnya “Ibrahim Habibullah”
  3. Rasa ke 3 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa penglihatan / mata, Rosulnya Daud a.s dan sahabat Rosulnya “Daud Kholilullah”
  4. Rasa ke 4 “: Nyatanya dibadan kita yaitu rasa mulut/lidah, Rosulnya Musa a.s dan sahabat Rosulnya “ Musa Kalamullah”
  5. Rasa ke 5 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa mencium atai hidung, Rosulnya Isa a.s dan sahabat Rosulnya “Isa Rohullah”
  6. Rasa ke 6 : Nyatanya dibadan kita yaitu rasa Qolbu, rasa lahir batin yang mencakup kelima (5) rasa tersebut diatas atau disebut “Hakekat Muhammad” atau “Rosul/Rasa Allah”.Rosulnya Muhammad Saw. Dan sahabat Rosulnya “Muhammad Rosulullah”.

Dengan adanya keterangan / penjelasan tersebut diatas, semoga pembaca sudah dapat menangkap atau sudah dapat menerima bahwa yang dianggap Hakekat “Keluarga” dari Hakekat Muhammad itu adalah para Rosul dan para Nabi.

Para Nabi itu adalah bersaudara seayah dan seibu, syareatnya berbeda-beda, sedangkan asal dan pokok agamanya satu ( Hadits ).

Adapun yang dimaksud “ Sahabat-sahabat “dari Hakekat Muhammad itu adalah “Insan yang benar-benar beriman dan sedang menjalankan Sabilillah, berusaha mencapai tingkat tinggi, hingga diberi anugerah Allah untuk dapat ma’rifat (bertemu, melihat dan mengenal) dengan Hakekat Muhammad atau disebut “Sifatullah” atau “Hakekat Syahadat”.

Dimana ada sifat disitu ada Dzat. Dimana ada Muhammad disitu ada Allah.

Merekalah yang dianugerahi Ilmu Laduni yaitu “NURRUN ALA NURRIN” (ma’rifatullah).
(Bapak Kuswwanto Abu Irsyad) [http://nurhayun.blogspot.com/2010/07/hakikat-shalawat.html}

PELAJARAN SELANJUTNYA KLIK..