>Filsafat Jalan Miyamoto Musashi

>

oleh Lazuardi Adipradana Hasyim

Dilahirkan di sebuah desa yang bernamaMiyamoto di tahun 1584, Musashi terlahir sebagai Munasai Takezo. Masa kanak-kanak Takezo tidaklah bahagia. Ia tidak akur dengan ayah kandungnya, Munasai Hirata seorang samurai pemilik tanah. Takezo selalu melontarkan kritik pedas terhadap seni bela diri ayahnya, hingga menyebabkan ketiak akuran diantara ayah dan anak ini. Situasi yang demikian membuat Takezo kabur memilih meninggalkan rumah untuk hidup bersama pamannya yang saat itu usianya belum mencapai 13 tahun.
Tapi di usianya yang 13 tahun tersebut, Takezo sudah mampu menaklukkan seorang pendekar pedang Shito-ryu yang bernama Arima Kihei. Lawannya itu dirobohkan dan dipukulinya dengan tongkat hingga tewas. Kemudian pada usia 16 tahun, Takezo bertarung dengan seorang samurai tangguh dan kembali muncul sebagai pemenang. Mulai saat itu, Takezo memutuskan pergi bertualang mengikuti “Jalan Pedang”. Tak lama kemudian Takezo terlibat dalam perang habis-habisan antara kubu daimyo (tuan tanah) Ieyasu melawan klan Hideyori dengan para pengikutnya di pertempuran besar di Sekigahara.Dalam pertempuran selama tiga hari itu tercatat 70.000 orang tewas, Takezo sendiri di pihak pasukan yang kalah berhasil meloloskan diri.
Takezo kemudian bertemu dengan Soho Takuan, seorang pendeta Zen dengan kecerdikannya kemudian berhasil “menawan” Takezo di sebuah sel gelap di puri milik Ikeda. Di sana selama tiga tahun, Takezo ditahan untuk mendalami bertumpuk-tumpuk dan beragam buku. Mulai dari seni perang dari Sun Tzu, Taoisme, buku-buku mengenai Zen hingga ke berjilid-jilid kitab mengenai sejarah Jepang. Pendeta Takuan, selalu bersikap keras itu menasihati Takezo yang terkenal bandel dan liar itu hingga mau patuh menjalani penggemblengan berat tersebut. Salah satu nasehatnya adalah;
“Anggaplah kamar ini sebagai rahim ibumu dan bersiaplah untuk lahir kembali. Kalau kau melihatnya hanya dengan matamu, tak akan kau melihat apa-apa kecuali sel yang tak berlampu dan tertutup. Tapi pandanglah lebih saksama, lihatlah dengan akalmu dan berpikirlah. Kamar ini dapat menjadi sumber pencerahan, pancuran pengetahuan yang ditemukan dan diperkaya oleh orang-orang bijak di masa lalu. Terserah padamu, apakah kamar ini menjadi kamar kegelapan ataukah kamar penuh cahaya”.
Setelah melewati masa pembelajaran tiga tahun, Takezo mendapatkan pencerahan dan dibebaskan dan boleh berkelana lagi. Saat itu usianya 21 tahun, Takezo memulai kehidupannya kembali sebagai Miyamoto Musashi.
Dalam pengembaraannya Musashi kembali bertemu dengan lawan tarung yang bukan sembarang pendekar samurai, mereka adalah para pendekar samurai terkemuka dari berbagai aliran yang mempunyai keistimewaan sendiri-sendiri. Musashi dapat mengatasi mereka satu per satu walaupun ia tidak mempunyai guru atau mewarisi ilmu pedang dari satu aliran tertentu. Ilmu pedang Musashi diperoleh secara otodidak dan bakat alami yang sangat istimewa yang diasah melalui kekuatan observasi, intuisinya dan disiplin yang kuat.
Beberapa duel yang dimenangkan oleh Musashi, banyak terdapat duel yang dianggapnya “main-main”, yaitu duel antara Musashi dan pemain pedang yang dianggapnya tidak seimbang, yang sering dimenangkannya tanpa mencabut pedang atau hanya membalas tebasan lawan dengan pukulan tangan yang tentunya tidak mematikan. Musashi meyakini, adalah sia-sia jika berduel dengan lawan yang kemampuannya jauh dibawah Musashi, lebih sia-sia lagi jika dia sampai membunuhnya. Karena boleh jadi seseorang yang tidak pandai bermain pedang adalah seseorang yang sangat pandai dengan bakat yang lain sehingga biarlah dia mengisi hidup ini dengan bakatnya yang lain yang belum ia temukan, yang mungkin bermanfaat bagi orang lain.
Pertarungan puncak bagi Musashi adalah saat menghadapi Sasaki Kojiro, saingan terberatnya yang masih muda dan sangat tangguh. Kojiro pada zaman itu sosok pemain pedang yang ideal: garis keturunannya tidak ada aib dan guru-gurunya ternama; dan dengan pelatihan yang penuh disiplin, ia berhasil menciptakan teknik permainan pedang yang mengagumkan. Tapi pada akhirnya kepala Kojiro pecah oleh tebasan pedang Musashi pada pertarungan di Pulau Ganryu, 13 April 1612.
Pertarungan Musashi melawan Sasaki Kojiro merupakan titik balik baginya. Sebelum itu, dia menyakini bahwa kemampuan seni berperang adalah kunci kemenangan dalam setiap pertarungan. Tetapi setelah mengalahkan Kojiro, Musashi menyadari bahwa kekuatan dan ketrampilan bukan satu-satunya yang bisa diandalkan untuk menentukan kemenangan;
“Ketika umurku sudah lewat tiga puluh tahun dan merenungkan kembali hidupku, aku sadar bahwa aku menjadi pemenang bukan karena kemampuan luar biasa dalam seni bela diri. Mungkin saja aku mempunyai bakat alami atau tidak menyimpang dari prinsip alami. Atau, bisa jadikah seni bela diri lawan itu yang memang mengandung suatu cacat? Setelah itu, dengan tekad jauh lebih besar untuk mencapai pemahaman yang lebih jelas mengenai prinsip-prinsip yang dalam, aku berlatih siang malam”.
Lalu, apa yang memungkinkan Musashi mengalahkan Kojiro jika bukan karena penguasan ketrampilan bertarung? Bagi Musashi, kemenangan sebuah pertarungan terletak pada prinsip atau semangat, bukan tipuan dan ketidakjujuran. Di dalam Kitab Lima Lingkaran, Musashi menulis:
“Jalan seni adalah langsung dan benar, jadi kau harus dengan tegas berusaha mengejar orang-orang lain dan menundukkan mereka dengan prinsip-prinsip sejati”.
Setelah pertarungan itu Musashi memutuskan mundur dari pertarungan, karena rasa bersalahnya sampai membawa kematian lawannya. Musashi kemudian menetap di pulau Kyushu dan tidak pernah meninggalkannya lagi, untuk menyepi dan mencari pemahaman sejati dengan menapaki paruh kedua kehidupannya untuk menjadi seorang seniman dan menjadi terfokus untuk mendalami semua seni. Di masa tuanya Musashi dikenal sebagai seniman dengan banyak kebisaan. Melukis dengan tinta india, kaligrafi, hingga membuat patung. Lagi-lagi seperti kemampuannya bermain pedang, kematangan seninya pun diperolehnya dengan tanpa guru. Buah karyanya dianggap hidup dan indah, hasil dari penyaluran energi batin yang terfokus. Sepertinya kalau inti dasar kehidupan sudah diketahui, kerja yang lain juga dapat dipahami.
Dalam kehidupannya sebagai seorang seniman, ia menulis puisi, mendesain taman, aktif dalam upacara minum teh, mempelajari drama Noh, dan terutama menciptakan lukisan-lukisan tinta dan kaligrafi. Karya seni Musashi berkelas tinggi, menunjukkan bahwa di bidang ini ia juga berbakat istimewa sekalipun menurut pengakuannya lukisan dia belumlah setara dengan teknik pedangnya. Jelas ada upaya mempertautkan antara seni rupa dan seni bela diri, hingga dikatakan, Musashi melukis dengan pikiran pedang. Intens, terkonsentrasi, dan penuh getaran chi. Ia mempunyai keyakinan dan melihat adanya kesejajaran, seperti dalam ucapannya, Dengan prinsip-prinsip seni bela diri, orang membuka jalan bagi seni serta pencapaian lain dan tidak akan keliru memahami keduanya. Pedang, seni, Zen, dan meditasi menjadi satu kesatuan yang saling mengisi, menggenapi, dan karenanya tak terpisahkan.
Musashi juga kembali mendalami ajaran Zen yang nampak dari prinsip dasar satu ini, Musashi senantiasa menekankan mutlaknya memperoleh pengetahuan nyata lewat pengalaman langsung. Tidak dapat disangkal lagi, pengetahuan nyata lewat pengalaman langsung merupakan salah satu sendi utama yang dijunjung tinggi Zen, jauh di atas yang lain, misalnya teori. Juga ungkapan pikiran sehari-hari yang alami adalah khas Zen;
“Bebaskanlah pikiranmu, maka niscaya pikiranmu akan menjadi alami.”
Selain Zen, Musashi tampak sekali menghargai tetapi mempertanyakan ajaran Sun Tzu, yang merupakan ahli strategi terbesar sepanjang masa. Terdapat perbedaan pendapat menurut Musashi dan Sun Tzu, dimana Musashi lebih mengutamakan strategi permainan bersih-sekalipun keras dan tegas, tetapi tidak licik atau kotor, menyimpulkan;
“Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.”
Musashi adalah seorang penyendiri, karena sampai akhir hayatnya ia memilih untuk hidup membujang, bahkan memilih jalan kematiannya sendiri. Menurut Musashi kematian adalah sebuah konsekwensi bagi setiap kehidupan. Karena itu saat menyadari bahwa maut akan segera mendatanginya, Musashimemilih Gua Reigan sebagai tempat tuk menyambut kematiannya dengan damai dan sendirian. Saat itu, awal musim semi tahun 1645, Musashi tidak lagi sebagai orang yang kuat, upaya pendakian bukit menuju ke gua itu dicapainya dengan tubuh sangat kesakitan. Suatu hari salah seorang mengirim tabib ke Gua itu, tetapi Musashi tetap berkeras untuk menyambut kematian dengan gayanya sendiri. Tak tega akan keadaan kesehatannya gurunya itu, sang murid kemudian berangkat kepegunungan, pura-pura berburu dengan burung rajawali, dan mampir ke Gua Reigan. Disana dia telah mendapati Musashi dalam kondisi yang sangat lemah dan dia tidak mampu melakukan perlawanan sedikitpun. Akhirnya, tanpa mempedulikan protes-protes Musashi, sang murid berhasil “membujuk” gurunya itu pulang ke rumah.
Dalam penyepian sebelum kematiannya itu Musashi berhasil menyelesaikan bukunya yang berjudul Kitab Lima Cincin (Go Rin no Sho) yang menunjukkan semua pencarian dan pencapaian spiritual serta jawabannya tentang bagaimana menemukan dan mengamalkan jalan. Ada sembilan sila yang ditawarkan Musashi untuk kita semua :
1.Berpikirlah dengan membuang semua ketidakjujuran.
2.Bentuklah dirimu sendiri di jalan (yang benar).
3.Pelajarilah semua seni.
4.Pahamilah jalan semua pekerjaan.
5.Pahamilah keunggulan dan kelemahan dari segala sesuatu.
6.Kembangkan mata yang tajam dalam segala hal.
7.Pahamilah apa yang tidak terlihat oleh mata.
8.Berikan perhatian bahkan pada hal-hal terkecil sekalipun.
9.Jangan melibatkan diri dalam hal-hal yang tidak realistis.
Dalam 62 tahun, tanggal 19 Mei 1645, Musashi menutup mata untuk selamanya di komplek Puri Chiba yang tua. Seperti yang di pinta pada detik-detik terakhirnya, tubuhnya didandani dengan seragam dan helm tempur, dilengkapi dengan enam tanda kebesaran militer, dan ditempatkan dalam peti. Sesuai dengan janji sebelumnya, Musashi kemudian dikebumikan di Kyushu tempat penyepiannya yang terakhir. Setelah selesainya upacara pemakaman yang di pimpin oleh Biksu Kepala Shunzan, terdengar suara guntur bergema di langit yang cerah sebanyak satu kali. Dan entah adakah itu pertanda bahwa Musashi sedang bertarung melawan malaikat maut di sana? Atau sang maestro pedang itu kembali bertarung kembali melawan roh musuh-musuhnya di alam sana?
Kesimpulan :
1.Menemukan dan Menciptakan Jalan
”Jalan” dalam bahasa Cina disebut dengan “Tao” dan dalam bahasa Jepang disebut “Do”. Seperti halnya akhiran –do yang biasa ada di aliran-aliran bela diri seperti kendo, aikido, karate-do, dan lainnya. Itu menandakan bahwa bela diri tersebut bukan sekadar bela diri saja, tapi juga disiplin dan jalan hidup. Makanya rata-rata beladiri tersebut filosofinya sangat dalam. Akhiran –do banyak dipakai di bela diri yang juga menunjukkan cara hidup. Sering disebut hidup sesuai jalannya, akan mengantar pada kebahagiaan dan sebuah petunjuk untuk hidup yang benar.
Bagaimana caranya menemukan jalan? Jalan dapat ditemukan dengan meniru, mencari, dan menemukan. Tetapi jika memodifikasi dan mencampurnya dengan elemen diri, dan jadilah jalan kreasi kita. Musashi, yang tak punya guru dan tak pernah belajar secara khusus pada seorang guru pun, menempuh jalannya sendiri, juga ternyata terpengaruh oleh Sun Tzu, biksu Zen Takuan Soho, samurai hebat Yagyu Munenori, dan kitab hsinhsinming. Jadi, yang ditemukan Musashi (the book of five rings) sepertinya adalah campuran ajaran Zen dari Takuan dan kitab Hsinhsinming, seni perang Sun Tzu dan keahlian Yagyu, ditambah, diaduk-aduk, dieksperimenkan dengan keseluruhan pengalaman pribadinya.
Musashi sebenarnya lebih layak untuk disebut sebagai seorang otodidak. Musashi membimbing dirinya sendiri untuk mendalami berbagai macam ilmu. Salah satu sumber yang banyak ditimbanya niscaya adalah buah pikiran Sun Tzu.Dikenal sebagai ahli strategi besar-kalau bukan yang terbesar-Sun Tzu hidup hampir 2000 tahun mendahului Musashi (400-320 tahun sebelum Masehi);
“Saya suka berpikir betapa hebatnya orang-orang kuno seperti Lao Tse, Konfusius, Socrates, Sun Tzu, sementara kebanyakan dari kita yang hidup pada milenium ketiga ini cuma segini-gini saja.”
Kalau Musashi mendekati strategi melalui contoh-contoh dari tarung-tanding (duel), Sun Tzu lebih membahasnya lewat skenario peperangan. Ada beberapa kalimat dari kitab Seni Berperang (The Art of War) Sun Tzu yang amat membekas di hati Musashi. Selama tiga tahun dalam masa penempaan, Musashi kerap membacanya secara lantang berulang-ulang dengan alunan bagaikan nyanyian;
“Barangsiapa mengenal seni perang, tak akan serampangan ia dalam gerakannya. Ia kaya karsa dalam membatasi kemungkinan.”
“Barangsiapa mengenal dirinya sendiri dan mengenal musuhnya, ia senantiasa menang dengan mudah. Barangsiapa mengenal langit dan bumi, ia menang atas segalanya.”
“Kenali musuhmu, kenali dirimu sendiri dan kemenanganmu tak akan terancam. Kenali medan, kenali iklim, maka kemenanganmu akan lengkap.”
Yang lebih menarik lagi, dalam kemampuannya untuk membaca waktu. Setelah mencapai usia 29 tahun, ia memutuskan untuk berhenti menjadi petarung. Kemudian Musashi mentransformasikan dirinya menjadi seniman dan pada usia yang lebih lanjut Musashi kembali memutuskan untuk menjadi pemikir mengenai Jalan Strategi. Keputusannya untuk pindah jalur dan beralih profesi pada saat yang tepat itu memang memerlukan ketajaman intuisi yang luar biasa. Agaknya, ini juga yang membuat Musashi menjadi petarung kehidupan yang tak terkalahkan. Musashi mengatur dan bukannya diatur oleh waktu kehidupan.
2.Keteguhan Hati Mengamalkan dan Menjaga Jalan
Memang lebih mudah untuk menjadi peka, menjadi arif dan penuh perenungan ketika kita dalam posisi yang penuh kesusahan dimana sendi-sendi harga diri kita dibenamkan dan segala kesombongan diruntuhkan. Mudah untuk memahami bentuk-bentuk pemikiran, perasaan, benda-benda dan penghargaan kita akan arti hidup itu sendiri. Mudah pula untuk menyadari akan kebeningan cita-cita.
Yang tidak mudah adalah untuk tetap konsisten pada pencapaian nurani tersebut. Tidak mudah untuk terus menjaga visi kita yang paling menggebu-gebu sekalipun. Perubahan lingkungan, kemudahan-kemudahan, orang-orang yang berbeda lambat laun dapat melunturkan pencapaian nurani. Pada prosesnya, akan muncul riak-riak yang mengganggu yang mengurangi kadar pemikiran dan tindakan kita.
Musashi pun mengalami naik turunnya semangat dalam mewujudkan jalan pedangnya. Cita-cita yang menjadi visi hidupnya. Musashi sempat terjebak dalam kesombongan sesaat ketika bertemu orang-orang yang terlihat lebih lemah. Jalan pedang seolah-olah menjadi jalan paling berarti dan dalam perjalanannya Musashi banyak mengabaikan unsur-unsur lain di luar dirinya. Musashi kemudian sadar dan berusaha membentuk jalan pedang dengan lurus-lurus pada keyakinan dirinya, menekan segala perasaan lembutnya dan satu hal yang menyelamatkannya dari bahaya keangkuhan adalah keinginannya untuk membuka pintu-pintu ilmu dan belajar dari segala macam orang, segala macam bentuk dan alam semesta.
Dalam kehidupan ini, bukan sekali kita merasakan naik turunnya iman, naik turunnya semangat baik dalam bekerja, menjaga hubungan, dan meraih mimpi-mimpi kita. Bukan sekali dua kali pula kita terjatuh dan kembali pada kebeningan pencapaian nurani. Terlalu dini untuk menyimpulkan jalan pencapain nurani, ada banyak visi dan lebih banyak konsistensi yang akan diperlukan.
Walaupun begitu, ada hal-hal menarik yang agaknya dapat dipelajari dari Musashi. Musashi adalah seorang yang sederhana, rendah hati yang bermain bersih tanpa kecurangan. Musashi keras hati dalam melatih diri dan dalam menimba ilmu berbagai aliran, karena Musashi menyadari bukannya tak mungkin terkalahkan. Musashi selalu menekankan pentingnya timing (ketepatan waktu) dan ritme dalam segala hal. Masuk terlalu cepat atau terlalu lambat dalam pertarungan dipandangnya dapat mengundang persoalan tersendiri. Kemudian perubahan yang terjadi di “langit” dan “bumi” bukan saja harus dicermati melainkan mesti pula diadaptasi untuk keselamatan diri. Juga baginya ilmu pengetahuan itu adalah sebuah “lingkaran bulat”. Artinya, kalau kita bermula dari titik A, setelah melingkar penuh kita akan kembali ke titik A semula. Apa yang dianggap paling elementer adalah juga pelajaran yang paling penting.
Sumber Bacaan:
1.Musashi, Eiji Yoshikawa, Gramedia – Jakarta
2.The Lone Samurai, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta
3.The Book of Five Rings, William Scott Wilson, Gramedia – Jakarta

lazuardism.blog.friendster.com/2008/10/filsafat-jalan-miyamoto-musashi/

>The Art of War (Sun Tzu) I

>Seringkali kalau di toko buku macam di Kinokuniya , atau di waterstone ,
buku buku tentang militer terutama tentang Sun Tzu banyak terlihat. Terutama di Singapore dan Hongkong , buku buku ini dibahas khusus. Ada banyak versi tentang Art of War nya Sun Tzu ini dan kebanyakan strategi Sun Tzu ini di aplikasikan pada dunia bisnis. Bisa dipahami mengapa banyak di aplikasikan dalam dunia Bisnis. Karena antara dunia militer dan dunia bisnis mempunyai banyak kemiripan.

Kalau dilihat dari pemikiran Sun Tzu tersebut , pokok pokok dari suatu ‘perang’ juga tidak akan berubah dari tahun ke tahun , yang membuat berubah hanya medan nya saja dan strategi nya.

Berikut ini saya sarikan pokok pokok art of War nya Sun Tzu. Seharusnya kita juga harus banyak mengkaji macam pemikiran /strategi Pokok pokok Gerilya nya AH Nasution untuk banyak hal terutama untuk menenangkan bisnis.

————————–

Pemikiran Militer Jepang dan Sun Tzu

“Dalam bergerak, hendaknya secepat angin;
Dalam gerakan lambat, hendaknya seanggun rimba belantara;
Dalam menggerebek dan menjarah, mengganaslah seperti api
Dalam bertahan, bertahanlah sekokoh gunung
dalam penyamaran , hendaknya anda tak tertembus seperti gelapnya malam
Dan bila menyerang, anda harus melanda seperti guntur

Militerisasi dalam praktik bisnis Jepang

  • Dalam tahap awal ; Peniru
  • Dalam tahap kedua ; Perbaikan kecil dalam proses
  • Tahap ketiga : Improvisasi
  • Tahap keempat : Berinovasi
  • Tahap akhir : Penciptaan

  1. Perang dan bisnis
  2. Militer dan manajemen
  3. Garis Besar model art of war Sun Tzu
  4. Seni manajemen strategis dan pemikiran
  5. Seni manajemen strategis
  6. Para guru seni berperang
  7. Pemikiran kembali Jepang
  8. Kesimpulan

Pelaksanaan Strategi : Faktor Operasional

Kecepatan dalam pelaksanaan

” Kecepatan adalah intisari perang. Manfaatkan ketidaksiapan musuh; ambillah jalan yang tidak ia duga; dan serang tempat tempat di mana ia tidak mengadakan persiapan “

Penjadwalan waktu
“Ketika hantaman burung elang mematahkan badan mangsanya, hal itu terjadi karena penjadwalannya y ang sempurna”

” Biasanya mereka tyang sampai dan menduduki medan pertempuran lebih awal, mempunyai kesempatan untuk beristirahat dan menunggu musuh. Mereka yang datang lambat terpaksa tergesa gesa terlibat dalam pertempuran ketika mereka sudah lelah dan kehabisan tenaga”

  • Momentum
  • Menghindari kampanye berkepanjangan
  • Daya penyesuaian dalam manuver
  • Bentuk dan keluwesan

“Prinsip panduan dalam taktik militer dapat disamakan dengan air. Sama seperti air mengalir menghindari ketingggian dan bergegas mengalir ke daratan rendah, suatu tentara harus menghindari menyerang yang kuat dan sebaliknya menghantam yang lemah”

“Seperti juga air yang membentuk dirinya sesuai dengan medan, suatu tentara harus mengelola kemenangannya sesuai dengan keadaan musuh. Sama seperti air, yang tidak mempunyai bentuk tetap, dalam perangpun tidak ada aturan atau ketentuan tetap.

Daya innovasi
” Karena itu jangan mengulang taktik yang sudah membawa kemenangan, tetapi ubahlah sesuai dengan keadaan “

” ia harus mampu mengubah metode dan jadwalnya sehingga tidak ada yang tahu maksudnya. Ia harus mampu memindahkan lokasi perkemahan dan rute perjalanannya sehingga tidak seorangpun dapat meramalkan gerakannya”

  • Penggunaan inisiatif
  • Tipu-daya dalam tindakan dan strategi
  • Umpan

” Dengan memberikan umpan pada musuh, ia dapat dipikat untuk datang atas kemauannya sendiri “

” Berikan umpan kepada musuh untuk memikatnya; dan bila ia sdh dalam keadaan kacau,hantamlah “

Khayalan dan pura pura

” Karena itu jika mampu, anda berpura pura tidak mampu; jika aktif, berpura pura tidak aktif, Bila berada dekat dengan sasaran, berlagak seperti anda masih jauh; bila masih jauh ; tampakkan seperti sdh dekat.”

” Pada permulaan pertempuran , hendaknya anda malu malu seperti perawan supaya dapat memikat musuh dan menurunkan pertahanannya. Jika pertempuran sudah berlangsung b eberapa lama, anda harus secepat kelinci sehingga dapat memanfaatkan ketidaksiapan musuh”.

Untuk berpura pura bingung ,seseorang harus punya disiplin , untuk berpura pura menjadi pengecut, seseorang harus memiliki keberanian ; untuk berpura pura lemah, seseorang harus memiliki keunggulan dalam kekuatan.
karena itu , kemenangan yang direbut oleh seorang ahli perang tidak pernah memberikannya reputasi kearifan atau keberanian “

Penggunaan arah tindakan multpel atau tidak disangka untuk mengejutkan lawan
” Dia yang tahu bagaimana menggunakan pendekatan langsung dan tidak langsung, akan meraih kemenangan, Itu yang dinamakan seni me-manuver”

” Jika ada yang bertanya : ” Apa yang harus saya lakukan apabila dihadapkan pada pasukan musuh yang besar dan tersusun rapi dan bersiap siap memasuki
wilayah saya ? Jawaban saya adalah : ” yang pertama anda harus lakukan ialah merebut sesuatu yang sangat berharga bagi musuh, dan ia akan tunduk pada keinginan anda “
” Sebab itu jangan mengulang taktik yang sudah pernah membawa kemenangan. tetapi hendaknya itu selalu diubah ubah sesuai dengan keadaan “

  • Memanfaatkan sarana yg ada
  • Memperkirakan reaksi musuh dan perubahan dalam lingkungan
  • Kecurangan,penipuan dan koruspi dalam bisnis dan politik
  • Pengkajian Strategi
  • Pengkajian subyektif

“Barang siapa yang memiliki pengetahuan mendalam tentang dirinya sendiri dan musuh ditakdirkan u ntuk memenangkan semua pertempuran. Barangsiapa yang akan memahami dirinya sendiri tetapi tidak dapat memahami musuhnya, hanya memiliki peluang sama besar untuk menang. Barangsiapa yang tidak memahami dirinya sendiri dan juga musuhnya, ditakdirkan untuk kalah dalam pertempuran “

Dan

” Kenalilah musuh anda, kenalilah dirimu sendiri dan kemenangan anda tidak akan terancam. Kenali lapangan, kenali iklim dan kemenangan anda akan lengkap “


Karena itu panglima yang arif harus mempertimbangkan baik faktor menguntungkan maupun faktor y ang tidak menguntungkan. Dengan memperhitungkan faktor tidak menguntungkan di dalam faktor yang menguntungkan, ia dapat memastikan bahwa rencananya itu layak. Dengan memperhitungkan faktor menguntungkan di dalam faktor tidak menguntungkan, maka ia dapat memecahkan kesulitan”

  • Dia yang tahu kapan harus berlaga dan kapan tidak, akan menang ;
  • Dia yang tahu bagaimana sebaiknya menyebarkan kekuatan besar dan kecil, akan menang :
  • Dia yang memiliki tentara yang bersatu dalam tujuan, akan menang ;
  • Dia yang sudah mempersiapkan diri untuk memanfaatkan peluang, akan menang :
  • Dia yang mempunyai panglima yang mampu dan tidak dipengaruhi oleh penguasa. akan menang “

Sasaran strategis
” jangan anda bertindak terkecuali ada keunggulan pasti yang anda peroleh; Jangan menggunakan pasukan terkecuali anda dapat berhasil : jangan berlaga terkecuali anda dalam bahaya “

” Di jaman dahulu, mereka yang ahli dalam ilmu perang memperoleh kemenangan dengan menaklukkan musuh yang mudah ditaklukkan “

” Kemenangan dapat diperoleh tanpa membuat kesalahan. Alasan mengapa ia tidak membuat kesalahan adalah karena ia memastikan setiap gerakan yang ia buat dan menaklukkan musuh yang sudah kalah “

  • Kesesuian strategis
  • Keunggulan strategis
  • Penjadwalan waktu strategis

Pengkajian numerik
” Unsur ilmu perang yang pertama adalah pengukuran, kedua, perkiraan biaya, ketiga perhitungan kekuatan; keempat menimbang peluang dan kelima merencanakan kemenangan

“Berdasarkan sifat sifat lapangan, diperoleh suaty pengukuran ruang. Berdasarkan pengukuran ruang dibuat perkiraan biaya. Berdasarkan perkiraan biaya, dibuat perhitungan kekuatan. Berdasarkan perhitungan kekuatan, dipertimbangkan kemungkinan untuk keberhasilan dan kegagalan. Atas dasar pertimbangan kemungkinan, maka dimulai perencanaan kemenangan “

  • Pengukuran ruang
  • Perkiraan biaya
  • Perhitungan kekuatan
  • Menimbang kemungkinan menang atau kalah
  • Merencanakan kemenangan

Contoh Penerapan dalam bisnis

  • Menentukan bisnis seseorang (mengukur ruang)
  • Memperkirakan kekuatan finansial atau pengeluaran
  • Memperhitungkan sumber
  • Menimbang peluang untuk meraih keberhasilan
  • Taktik dan rencana fungsional (merencanakan kemenganan)
  • Perumusan strategi

Prinsip pemusatan kekuatan
Prinsip Sun Tzu tentang pemusatan kekuatan mengakui bahwa kekuatan relatif di titik kontak. dan bukan kekuaan absolut, mementukan hasil akhir pertempuran. Prinsip ini dibuktikan dengan ungkapan berikut ini :

“Tidak boleh tahu tempat dimana saya berniat menyerangnya, Karena jika ia tidak mengetahuinya, maka ia harus mempertahankan banyak tempat. Dan semakin banyak tempat yang ia pertahankan maka semakin terpecah kekuatannya sehingga menjadi lebih lemah di setiap titik”

” JIka ia (musuh ) bersiap siap di garis depan, maka garis belakangnya akan menjadi lemah; bila ia mempertahankan garis belakangnya, pertahanan depannya akan menjadi lemah. JIka ia memperkuat sisi kirinya, ia akan memperlemah sisi kanannya; jika ia memperkuat sisi kanannya, ia akan memperlemah sisi kiri. Bila mempersiapkan semua sisi makan ia akan lemah dimana mana”

” Kekuatan suatu tentara tidak bergantung pada pasukan besar. Jangan anda maju dengan mengandalkan pada banyaknya pasukan saja. Sebaiknya seseorang harus memusatkan kekuatannya dan dengan tepat memperkirakan gerakan musuh supaya dapat menjebaknya”

Memilih medan pertempuran untuk memperoleh keunggulan relatif
“Jadi saya mengatakan bahwa kemenangan dapat diciptakan. Meskipun musuh mempunyai kekuatan besar, saya dapat mencegahnya untuk menggunakannya”

Memilih kerahasiaan rencana pertempuran sendiri

” jika saya dapat mengungkapkan rencana musuh sementara saya dapat merahasiakan rencaya saya , maka saya dapat memusatkan perhatian sedangkan ia harus membaginya. Dan bila kekuatan saya terpusat sementara kekuatan musuh terbagi bagi, saya dapat melepaskan seluruh kekuatan saya terhadap sebagian kekuatan musuh di setiap titik serangan. DIsana saya akan unggul secara numeruik dan musuh pasti akan berada dalam kesulitan “

” Ia hanya membagi tugas pada prajuritnya, tetapi tidak menerangkan tujuannya ; ia mengatakan kepada mereka untuk mencapai keunggulan tetapi tidak mengatakan bahayanya “

Pengelabuhan

Prinsip menyerang
” Perang adalah suatu yang sangat penting bagi negara. ia menyangkut mati hidupnya rakyat dan mempengaruhi kelanjutan atau keruntuhan negara. Ia harus dipelajari dengan sungguh sungguh”

Perlunya Menyerang

” Ketangguhan dalam pertahanan tergantung pada usaha sendiri seseorang, sementara peluang untuk menang tergantung pada musuh. Karena itu mereka yang ahli dalam ilmu perang dapat membuat diri sendiri tangguh tetapi tidak dapat menyebabkan mush menjadi mudah diserang”

” Di Zaman Kuno, mereka yg ahli dalam ilmu perang membuat diri sendiri tak dapat diserang sebelum menunggu kesempatan mengalahkan musuh”

” Mereka yang tidak dapat menang harus bertahan; mereka yang dapt menang harus menyerang; bertahanlah apabila kekuatan anda tidak mencukupi; menyeranglah bila kekuatan anda berlimpah”

  • Perlunya menang dengan laba
  • Kebutuhan untuk menganut paham keunggulan relatif dalam jumlah
  • Kemungkinan membuat relung
  • Prinsip dari Zheng dan qi (kekuatan langsung dan tak langsung
  • Perumusan sasaran dan pilihan medan pertempuran

Perumusan sasaran
” Menaklukkan tentara musuh tanpa bertempur langsung; merebut kota kota musuh tanpa serangan yang dahsyat; dan menghancurkan negara musuh tanpa operasi berkepanjangan”

” Tujuan anda adalah merebut semua negara dalam keadaan utuh. Jadi pasukan anda tetap segar dam kemenangan anda menjadi lengkap. INilah ini dari strategi offensif

Memprioritaskan sasaran

  • Bentuk tertinggi dari kepimpinan adalah menyerang strategi musuh;
  • Kebijakan terbaik kedua ialah dengan mengacaukan persekutuannya;
  • Setelah itu menyusul menyerang tentaranya ;
  • Kebijakan terburuk adalah mengepung kota kota berbenteng;
  • Mengepung kota dilakukan apabila tidak ada pilihan lain

Menyerang strategi musuh
” siapa yang mencapai dan menduduki medan pertempuran lebih dahulu mempunyai waktu untuk beristirahat dan menunggu kedatangan musuh. Mereka yg lambat tiba di medan pertempuran harus dengan tergesa gesa melibatkan diri dalam pertempuran sementara mereka masih lelah dan kehabisan nafas”

  • Mengacaukan persekutuan musuh
  • Menyerang tentara musuh
  • Mengepung kota berbenteng

Sasaran yang dapat dicapai
Sasaran harus menghasilkan perolehan bersih positif
” Perang adalah hal yang sangat vital bagi negara. Perang menyangkut hidup dan matinya rakyat dan mempengaruhi kelanggengan atau keruntuhan negara. Perang harus dipelajari dengan sungguh2 dan mendalam”.
Sasaran harus menghasilkan perolehan bersih positif

Perumusan Strategi : pilihan medan pertempuran

  • Prinsip memilih medan pertempuran
  • Prinsip pemusatan kekuatan
  • prinsip menyerang
  • Prinsip kekuatan zheng (langsung) dan qi (tidak langsung)

Memilih medan pertempuran

Ada tiga faktor terkait dengan prinsip pemilihan medan pertempuran

• bidang bidang yang memiliki keunggulan menonjol
• bidang yang diabaikan oleh musuh
• sifat sifat dari medan pertempuran

Bidang yang memiliki keunggulan menonjol

” jangan anda sekali kali menggerakkan pasukan tanpa mengetahui keadaan dari gunung, hutan, lembah berbahaya serta rawa dan sebagainya”

” Kita tidak dapat memperoleh keunggulan dari topologi lokal tanpa menggunakan pemandu lokal”

” Dengan memikat musuh dengan umpat menarik , ia dapat datang atas kemauan sendiri. Dengan menimbulkan kerusakan dan menempatkan rintangan, musuh dapat dicegah untuk menuju tempat yang ia kehendaki”

Dengan menjadi pertama yg menduduki medan

” Siapa yang pertama mencapai dan menduduki medan pertempuran lebih dini, pada umumnya mempunyai waktu untuk beristirahan dan menunggu kedatangan musuh. Mereka yg tiba lambat terpaksa tergesa gesa langsung bertempur sementara mereka lelah dan kehabisan energi.

Dengan memilih medan pertempuran yg lbh menguntungkan diri sendiri daripada musuh
” Maka mereka yang terampil dalam ilmu perang selalu akan membawa musuh ke tempat dimana ia ingin bertempur , dan tidak di bawa kesana oleh musuh”

Wilayah yang diabaikan oleh musuh
” Untuk memastikan keberhasilan anda dalam menyerang sesuatu adalah dengan menyerang tempat yg tidak dipertahankan oleh musuh atau di mana pertahanannya lemah. Untuk memmasikan bahwa anda dapat mempertahankan apa yang anda pertahankan, ialah dengan mempertahankan tempat yang tidak diserang oleh mush atau tidak dapat digoyahkan oleh serangan”

” Kekuatan suatu pasukan tidak bergantung pada pasukan yang besar”

Ciri ciri medan pertempuran

Medan yang tercerai berai

” jangan bertempur di medan yang tercerai berai”

” Jika berperang dalam medan yang tercerai berai, satukan tekad bulat dari seluruh pasukan “
Medan yang dapat di akses

” jangan perkenankan formasi anda sampai terpisah “

” Jaga pertahanan anda dengan keta”

” Hendaknya anda yang pertama menempati kedudukan yang lebih tinggi dan strategis yang menguntungkan bagi jalur pasokan anda sehingga anda memperoleh keunggulan dalam pertempuran “

Medan garis depan

” Jika berada di garis depan, jangan sekali kali anda berhenti “

” hubungkan semua kekuatan anda dengan ketat”

Medan yang menjebak

Medan menjebak adalah medan yang mudah dimasuki akan tetapi sulit untuk meninggalkannya

Medan menyempit
” Jadilah pasukan pertama yang menduduki titik titik strategis untuk menunggu kedatangan musuh. jangan menyerang jika kedudukan yang terbatas itu diduduki musuh. Anda hanya menyerang jika pertahanan musuh diposisi yang didudukinya itu lemah”

“ciptakan tipu muslihat”

” rintangan titik titik masuk dan keluar “

Medan kunci

” Dalam medan yang terjal, sayalah yang pertama harus menguasai puncak cerah karena matahari untuk kedatangan musuh. Bila musuh yang mendahului menduduki medan seperti itu, jangan mengikuti tetapi mundur dan usahakan untuk mengumpannya keluar “

” Jangan menyerang musuh yang menduduki medan kunci “

Medan pusat

Strategi SUn Tzu untuk negara yang terkepung , berpusat pada penggunaan diplomasi dengan :

” Memelihara persahabatan dengan negara tetangga “

” Memperkuat hubungan dengan para sekutunya “

Medan yang mengkianati

Medan yg tandus

” Jalan berdiam di medan yang tandus “

Medan yang jauh

Medan serius

” Merampas sumber musuh”

” Lindungi jalur pasokan untuk menjamin arus perbekalan yang tidak terputus “

” Karena itu , panglima yang bijak memasi8kan bahwa pasukannya dapat memperoleh makanan dari musuh , karena satu gerobak perbekalan musuh sama dengan duapuluh miliknya sendiri, dan satu pikul makanan kuda musuh, sama dengan dua puluh ppikul mikliknya sendiri”

” Suatu negara dapat menjadi miskin karena operasi militer disebabkan pengangkutan yang jauh , pengangkutan perbekalan lewat jarak yang jauh menjadikan orang menjadi putus asa “

Medan kematian

” Bertempur “

” Harus dijelaskan sejelas jelasnya , bahwa tidak ada peluang untuk bertahan hidup (terkecual dengan perang)

Medan tidak memihak
Penerapan Strategi : Faktor Manusia
Pendahuluan
Penguasa
Komando

” Kepanglimaan komandan menunjukkan kepada sifat sifat yang dimiliki panglima seperti kearifan, ketulusan, kebapakan, keberanian dan disiplin “

” Ia dapat terbunuh, jika ia sembrono “

” Jika ia pengecut, maka ia dapat tertawan”, Bila lekas marah, ia dapat dihasut “, Jika ia gila hormat, ia mudah dihina”

“Bila ia terlalu perasa terhadap orang, ia mudah dapat digoda”

“Kehancuran suatu tentara dan kematian panglimanya disebabkan oleh kelima kekurangan ini. Sebab itu perlu sekali untuk memahaminya dengan benar “

Berhati hati
Kemampuan untuk membuat rencana
Kemampuan untuk mengelola tentaranya
Kemampuan untuk melaksanakan rencana dengan efektif

  • Keberanian
  • Pengendalian diri
  • Seorang panglima tidak melakukan pertempuran karena rasa kebencian

” Sementara kemarahan dapat dikembalikan ke kebahagiaan dan kebencian dijadikan menyenangkan; suatu negara yang hancur tidak dapat dibangun kembali dan orang yang meninggal tidak dapat hidup kembali”

Pragmatisme
” JIka situasinya menyenangkan, panglima harus tetap berperang meskipun penguasa mungkin sudah memerintahkan untuk tidak melibatkan diri. Jika situasinya menggambarkan kekalahan, maka panglima tidak boleh berperang walaupun penguasa mungkin sudah memerintahkannya demikian “

  • Ketulusan
  • Tentara
  • Pengendalian

“Apabila panglima itu lemah dan tidak disiplin,jika pelatihan dan perintah tidak jelas , bila tugas dari perwira dan bawahan tidak berbeda, dan susunan pasukan itu lamban, maka hasilnya adalah disorganisasi mutlak”

” Jika seorang panglima membelai pasukannya tetapi tidak dapat menggunakannya; jika ia menyayangi mereka secara berlebihan tetapi tidak dapat memberikan perintah ; jika pasukannya tidak teratur tetapi ia tidak dapt mendisiplinkan mereka; maka mereka lebih mirip gerombolan yang dimanjakan dan tidak berguna sama sekali”

Komunikasi
” The book of military managemen mengatakan : karena suara manusia dalam pertempuran tidak dapat terdengar, gunakanlah gong dan genderang; karena mata dari kejauhan tidak dapat melihat arah dan gerakan manusia, maka gunakanlah panji panji dan bendera “

” karena itu gunakanlah sebanyak mungkin obor dan genderang dalam serangan malam hari; di siang hari, gunakanlah sebanyak mungkin panji dan bendera. Tanda yang berbeda ini dimaksudkan untuk mengarahkan perhatian dari alat pendengaran dan penglihatan “

Moral
” Bila kemenangan tertunda terlalu lama, semangat dan moral pasukan akan menurun”

” Dalam tahap awal pertempuran, semangat pasukan tinggi; kemudian hal itu menurun berangsur angsur; pada tahap akhir semangat mereka rendah dan mulailah masuk pikiran rindu kampung halaman. Karena itu mereka yang ahli dalam ilmu perang menghindar dari menyerang musuh saat semangat mereka masih tinggi, tetapi menyerang mereka pada saat semangatnya mengendor dan para serdadu sudah ingin pulang. Ini yang disebutkan sebagai pengendalian faktor moral”

” Jangan melawan musuh yang mendekat dengan panji panji teratur dan rapi; jangan menyerang musuh dengan jajaran pasukan yang kuat dan mengesankan. Inilah pengendalian dari faktor keadaan y ang berubah”

” Gunakan disiplin dan ketertiban untuk mengimbangi ketidaktertiban musuh ; gunakan ketenangan untuk menangani situasi yang kacau. Ini adalah pengendalian faktor emosional”

” Manfaatkan kedekatan dengan medan tempur untuk mengimbangi jarak dengan musuh; gunakan istirahat untuk mengimbangi kelelahan musuh ; dan pasukan yang bergizi baik untuk mengimbangi pasukan musuh yang kelaparan. INilah pengendali faktor fisik

  • Pengendalian Strategi
  • Prinsip Dinas rahasia
  • Prinsip keamanan
  • Menilai Situasi

Prinsip perencanaan terinci
Dengan Perencanaan yang seksama dan terinci, anda dapat menang , dengan perencanaan yang gegabah dan tidak terinci, anda tak mungkin menang. Dan kekalahan akan menjadi kepastian jika anda tidak mempunyai rencana sama sekali ! Dari cara perencanaan dilaksanakan sebelumnya, kita dapat meramalkan kemenangan atau kekalahan.

Pra-syarat membuat rencana

Pengaruh Moral

  • Iklim
  • Siklus bisnis
  • Kondisi yg menguntungkan/tidak
  • Norma kebudayaan dan sosial
  • Tingkat teknologi serta laju perubahan teknologi
  • Perubahan dalam susunan pasar
  • Faktor ekonomi

Lapangan
Bila lokasi sebuah perusahaan sudah diterapkan maka hal itu menentukan sifat persaingannya :
• pasokan bahan mentah
• tenaga kerja yang murah dan effisien
• pasar modal
• pasokan mesin dan peralatan
• bakat dan ketrampilan manajerial
• teknologi dan pusat riset dan pengembangan
• pasar konsumen, baik lokal maupun luar negeri
• jasa infrastruktur seperti telekomunikasi , fasilitas pengangkutanm pasokan air dan listrik , kemudahan pergudangan

  • Medan operasi sulit atau mudah ?
  • Apakah medan itu terbuka/ terbatas ?
  • Jarak medan pertempuran dari lokasi perkemahan
  • Derajat bahaya yang ditimbulkan
  • Kepemimpinan

5 sifat negatif pemimpin .
“Jika berani tanpa perhitungan, ia dapat terbunuh;
” Jika ia pengecut, maka ia dapat ditawan;
“Bila cepat naik pitam, ia mudah dihasut
” Bila ia gila hormat, maka ia mudah dihina
” JIka ia mudah terhadap rakyat , maka ia mudah diusik

  • Kearifan
  • Ketulusan
  • Kebapakan
  • Keberanian
  • Kekerasan

Doktrin (hukum)
” jika tentara bingung dan curiga, maka negara tetangga pasti akan menimbulkan masalah. Hal ini sama dengan , pepatah ” tentara yang kebingunan pasti memberi kemenangan musuh”

” jangan terlibat perang dengan musuh yang bendera perangnya tertaur rapi; jangan menyerang musuh dengan jajaran pasukan yang terkuat dan mengesankan

” Pengelolaan pasukan yang besar sama saja dengan pengelolaan pasukan kecil. Yang penting adalah penyusunan dan pengorganisasiannya

” Mengendalikan pasukan yang besar dalam pertempuran serupa dengan pengendalian pasukan kecil. Semua itu persoalan penyusunan dan pemberian tanda”

” Disiplin atau tidak disiplin tergantung pada organisasi “

Kekuatan
” Jika jumlah anda lebih banyak berbanding sepuluh lawan satu, kepunglah musuhmu:
Jika perbandingan itu lima lawan satu , serang mereka
Bila perbandingan dua lawan satu, hendaknya anda memecah-belah mereka
Bila anda seimbang, anda dapat memilih untuk bertempur
Jika sedikit lebih lemah dari musuh, anda harus mampu menarik diri
Jika sangat lemah, hindari pertempuran
Sebab bagaimanapun tegarnya, pasukan kecil akan menyerah pada kekuatan yang lebih besar dan unggul”

” Sebab itu , suatu tentara yang tidak memiliki peralatan berat akan kalah dalam pertempuran; tentara yang tidak mempunyai bahan makanan tidak dapat bertahan hidup; tentara yang tidak mempunyai persediaan tak mungkin melanjutkan pertempuran”

Pelatihan
” Kekuatan suatu balatentara tidak tergantung pada kekuatan yang besar. Janganlah anda maju dengan hanya mengandalkan pada kelebihan numerik mutlak

” Sebab itu , dia (panglima) mampu memilih orang yang mampu memanfaatkan situasi

>36 Strategi Sun Tzu

>


Tiga Puluh Enam Strategi adalah sebuah koleksi sajak Tiongkok yang berisikan taktik Perang. Strategi ini disusun oleh Sun Tzu, seorang filsuf yang hidup pada abad ke-5 sebelum masehi dalam bukunya “Sun Zi Bingfa” (Seni Perang Sun Tzu). Sun Zi Bingfa sendiri tampaknya memuat beberapa petunjuk langsung tentang kehidupannya. Beberapa orang ahli menyimpulkan bahwa tulisan Sun Tzu sebenarnya digarap oleh beberapa orang filsuf China yang tidak diketahui dan Sun Tzu hanyalah tokoh fiktif dalam sejarah.

Strategi untuk Menang

Strategi 1: Perdaya Langit untuk melewati Samudera. Bergerak di kegelapan dan bayang-bayang hanya akan menarik kecurigaan. Untuk memperlemah pertahanan musuh bertindaklah di tempat terbuka dengan menyembunyikan maksud tersembunyi anda.

Strategi 2: Kepung Wei untuk menyelamat-kan Zhao. Ketika musuh terlalu kuat untuk diserang, seranglah sesuatu yang berharga yang dimilikinya. Seranglah sesuatu yang berhubu-ngan atau dianggap berharga oleh musuh untuk melemahkannya secara psikologis.

Strategi 3: Pinjam tangan seseorang untuk membunuh. Serang dengan menggu-nakan kekuatan pihak lain. Perdaya sekutu untuk menyerang musuh, sogok tentara musuh menjadi peng-khianat, atau gunakan kekuatan musuh untuk melawan dirinya sendiri.

Strategi 4: Buat musuh kelelahan sambil menghemat tenaga. Rencanakan waktu dan tempat pertempuran terlebih dahulu. Dengan cara ini, anda akan tahu kapan dan di mana pertempuran akan berlangsung, sementara musuh anda tidak. Dorong musuh anda untuk menggunakan tenaga secara sia-sia sambil menghemat tenaga. Saat ia lelah dan bingung, seranglah.

Strategi 5:
Merompak sebuah rumah yang terbakar. Saat musuh mengalami konflik internal, inilah waktunya untuk menyerang.

Strategi 6: Berpura-pura menyerang dari timur dan menyeranglah dari barat.

Strategi Berhadapan dengan Musuh

Strategi 7: Buatlah sesuatu untuk hal kosong. Buatlah tipu daya 2 kali. Setelah beraksi terhadap tipuan pertama dan kedua, musuh akan ragu-ragu untuk bereaksi pada tipuan yang ketiga. Namun tipuan ketiga adalah serangan sebenarnya untuk menangkap musuh saat pertahanannya lemah.

Strategi 8:
Secara rahasia pergunakan lintasan Chen Chang. Serang musuh dengan dua kekuatan konvergen. Yang pertama adalah serangan langsung dan yang kedua secara tidak langsung dimana musuh tidak menyangka dan membagi kekuatannya sehingga akhirnya mengalami kebingungan.

Strategi 9: Pantau api yang terbakar sepanjang sungai. Tunda untuk memasuki wilayah pertempuran sampai seluruh pihak yang bertikai mengalami kelelahan akibat pertempuran yang terjadi antara mereka. Kemudian serang dengan kekuatan penuh dan habiskan.

Strategi 10: Pisau tersarung dalam senyum. Puji dan jilat musuh anda. Ketika mendapat kepercayaan darinya, mulailah melawan secara diam-diam.

Strategi 11:
Pohon kecil berkorban untuk pohon besar. Ada suatu keadaan dimana anda harus mengorbankan tujuan jangka pendek untuk mendapatkan tujuan jangka panjang. Ini adalah strategi kambing hitam dimana seseorang akan dikorbankan untuk menyelamatkan yang lain.

Strategi 12: Mencuri kambing sepanjang perjalanan. Sementara tetap berpe-gang pada rencana, anda harus cukup fleksibel untuk mengambil keuntungan dari tiap kesempatan yang ada sekecil apapun.

Strategi Penyerangan

Strategi 13: Kagetkan ular dengan memukul rumput di sekitarnya. Ketika anda tidak mengetahui rencana lawan secara jelas, serang dan pelajari reaksi lawan.

Strategi 14:
Pinjam mayat orang lain untuk menghidupkan kembali jiwanya. Ambil cara yang telah dilupakan atau tidak digunakan lagi. Hidupkan kembali sesuatu dari masa lalu dengan memberi-nya tujuan baru.

Strategi 15:
Permainkan harimau untuk meninggalkan sarangnya. Jangan pernah menyerang secara langsung musuh yang memiliki keunggulan akibat posisinya yang baik. Permainkan mereka untuk meninggalkan sarangnya sehingga mereka akan terjauh dari sumber kekuatannya.

Strategi 16: Pada saat menangkap, lepaslah satu orang. Mangsa yang tersudut biasanya akan menyerang secara membabi buta. Untuk mencegah hal ini, biarkan musuh percaya bahwa masih ada kesempatan untuk bebas. Hasrat mereka untuk menyerang akan teredam dengan keinginan untuk melarikan diri. Ketika pada akhirnya kebebasan yang mereka inginkan tersebut tak terbukti, moral musuh akan jatuh dan mereka akan menyerah tanpa perlawanan.

Strategi 17: Melempar Batu Bata untuk mendapatkan Giok. Persiapkan sebuah jebakan dan perdaya musuh anda dengan umpan seperti kekayaan, kekuasaan, dan wanita.

Strategi 18: Kalahkan musuh dengan menangkap pemimpinnya. Jika tentara musuh kuat tetapi dipimpin oleh komandan yang mengandalkan uang dan ancaman, maka ambil pemimpinnya.Sisa pasukannya akan terpecah belah atau menyerah.

Strategi Membingungkan

Strategi 19: Jauhkan kayu bakar dari tungku masak. Ketika berhadapan dengan musuh yang sangat kuat untuk dihadapi secara langsung, lemahkan musuh dengan meruntuhkan dasarnya dan menyerang sumberdayanya.

Strategi 20: Memancing di air keruh. Sebelum menghadapi pasukan musuh, buatlah sebuah kekacauan untuk memperlemah persepsi dan pertimbangan mereka.

Strategi 21: Mepaskan kulit serangga. Ketika anda dalam keadaan tersudut dan anda hanya memiliki kesempatan untuk melarikan diri dan harus menyatukan kelompok, buatlah sebuah tipuan. Sementara perhatian musuh terfokus atas muslihat yang dilakukan, pindahkan pasukan anda secara rahasia di belakang muka anda yang terlihat.

Strategi 22: Tutup pintu untuk menangkap pencuri. Jika anda memiliki kesempatan untuk menangkap seluruh musuh maka lakukanlah, sehingga dengan demikian pertempuran akan segera berakhir. Membiarkan musuh untuk lepas akan menanam bibit dari konflik baru.

Strategi 23: Berteman dengan negara jauh dan serang negara tetangga. Ketika anda adalah yang terkuat di sebuah wilayah, ancaman terbesar adalah dari terkuat kedua di wilayah tersebut, bukan dari yang terkuat di wilayah lain.

Strategi 24:
Cari lintasan aman untuk menjajah Kerajaan Guo. Pinjam sumberdaya sekutu untuk menyerang musuh bersama. Sesudah musuh dikalahkan, gunakan sumberdaya untuk berbalik menyerang sekutu.

Strategi Pendekatan

Strategi 25: Gantikan balok dengan kayu jelek. Kacaukan formasi musuh, buatlah satu hal yang berlawanan dengan latihan standarnya. Dengan cara ini anda telah meruntuhkan tiang-tiang pendukung yang diperlukan oleh musuh dalam membangun pasukan yang efektif.

Strategi 26: Lihat pada pohon murbei dan ganggu ulatnya. Untuk mendisiplinkan, mengawal, dan mengingatkan suatu pihak yang status atau posisinya di luar konfrontasi langsung; gunakan analogi atau sindiran. Tanpa langsung menyebut nama, pihak yang tertuduh tidak akan dapat memukul balik tanpa keberpihakan yang jelas.

Strategi 27: Pura-pura menjadi seekor babi untuk memakan harimau. Sembunyi di balik topeng kebodohan untuk mencip-takan kebingungan atas tujuan dan motivasi anda. Tipu lawan anda ke dalam sikap meremehkan kemampuan anda sampai pada akhirnya terlalu yakin akan diri sendiri sehingga menurunkan level pertahanannya.

Strategi 28: Jauhkan tangga ketika musuh telah sampai di atas. Biarlah musuh mengacau ke daerah anda. Kemudian putus jalur komunikasi dan jalan untuk melarikan diri. Lalau serang sekuat tenaga.

Strategi 29:
Hias pohon dengan bunga palsu. Dengan menggunakan muslihat dan penyamaran akan membuat sesuatu yang tak berarti tampak berharga; tak mengancam kelihatan berbahaya.

Strategi 30: Buat tuan rumah dan tamu bertukar tempat. Kalahkan musuh dari dalam dengan menyusup ke dalam benteng lawan di bawah muslihat kerjasama. Dengan cara ini anda akan menemukan kelemahan dan kemudian saat pasukan musuh sedang beristirahat, serang secara langsung pertahanannya.

Strategi Kalah

Strategi 31: Jebakan indah. Kirim musuh anda umpan yang akan menyebabkan perselisihan di basis pertahanannya. Jebakan ini terutama menggunakan wanita.

Strategi 32: Kosongkan benteng. Perangkap psikologis, benteng yang kosong akan membuat musuh berpikir bahwa benteng tersebut penuh perangkap.

Strategi 33:
Biarkan mata-mata musuh menyebarkan konflik di wilayah pertahanannya. Gunakan mata-mata musuh untuk menyebarkan informasi palsu.

Strategi 34: Lukai diri sendiri untuk mendapatkan kepercayaan musuh. Berpura-pura terluka akan mengakibatkan dua kemungkinan: musuh akan bersantai sejenak karena tidak melihat anda sebagai ancaman serius; kedua, jalan untuk menjilat musuh anda dengan berpura-pura luka oleh sebab musuh merasa aman.

Strategi 35: Ikat seluruh kapal musuh secara bersamaan. Jangan pernah bergantung pada satu strategi.

Strategi 36: Larilah untuk bertempur di lain waktu. Ketika pihak anda mengalami kekalahan, hanya ada tiga pilihan: menyerah, kompromi, atau melarikan diri. Menyerah adalah kekalahan total, kompromi adalah setengah kalah, tapi melarikan diri bukanlah sebuah kekalahan. Selama tidak kalah, anda masih memiliki kesempatan menang!

Belajar dari Sun Tzu Untuk Perang Ekonomi

Anda kenal Sun Tzu? Dia adalah ahli seni perang Tiongkok pada tahun 2500 Sebelum Masehi. Buku seni perangnya terdiri dari 13 bab. Tiga bab pertama membahas falsafah perang, tiga bab berikutnya membicarakan teori siasat, dan tujuh bab sisanya membahas berbagai faktor. Ungkapannya yang paling terkenal adalah “kenallah lawanmu dan kenallah dirimu sendiri maka dalam seratus pertempuran pun kemenanganmu tidak akan dalam bahaya”.

Pada saat revolusi, teori perang Sun Tzu digunakan oleh Ketua Partai Komunis China (PKC) Mao Tze Tung untuk melawan kaum reaksioner di bawah kepemimpinan Chiang Kai Sek (Kuomintang). Hasilnya, dengan taktik gerilya mengepung kota dan dukungan luas rakyat kelas bawah, PKC memperoleh kemenangan tak hanya di China bagian utara yang merupakan basis komunis tetapi juga di China bagian selatan. Pada 1 Oktober 1949, kemenangan itu dibacakan di depan gerbang Gapura Kota Terlarang, Beijing.

Kini, dalam kondisi damai, teori tersebut dipelajari dan digunakan untuk pertempuran di medan perang ekonomi dan perdagangan. Teori ini pun wajib dipelajari para kader PKC dan semua pembuat kebijakan di negeri Tirai Bambu itu. “Ada 36 teori Sun Tzu yang harus dipelajari baik-baik.
Pemikirannya sangat luar biasa. Teori ini bukan saja untuk perang di medan bersenjata, tapi bagus digunakan untuk perang di medan ekonomi,” kata salah seorang kader dalam sebuah pertemuan pekan lalu.

Teori Sun Tzu menyebutkan arti penting kesatuan tiga faktor, yakni keadaan, momentum, bagian padat, dan bagian kosong. Yang dimaksud dengan keadaan adalah semua keadaan kedua belah pihak. Keadaan ini dibagi menjadi dua, yakni dapat dikalahkan dan tidak dapat dikalahkan. Keadaan yang tidak dapat dikalahkan itu tergantung pada diri sendiri. Sedangkan momentum adalah “saat” dan bagian padat ataupun kosong merupakan “sasaran”.

Oleh karena itu, menurut Sun Tzu, supaya tidak dapat dikalahkan seseorang harus membuat dirinya pertama-tama tidak dapat dikalahkan dan kemudian menunggu keadaan lawan untuk dapat dikalahkan. Dari situlah timbul pengertian bertahan dan menyerang. “Mereka tahu lawan sudah kalah sebelum berperang. Mereka tahu berdiri di tempat tak terkalahkan, dan mereka tahu tentaranya sudah menang sebelum berperang”.

Masuk WTO
Namun, untuk membuat seseorang tak dapat dikalahkan, harus ada perpaduan antara pendekatan tertutup dan terbuka. Kedua sifat tersebut walaupun saling berlawanan tetapi merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Pendekatan tertutup pada momentum tertentu akan melahirkan pendekatan terbuka, begitu juga sebaliknya dan seterusnya. Peralihan dari pendekatan tertutup ke pendekatan terbuka tersebut mesti dilakukan pada momentum yang tepat.

Taktik inilah yang kini diterapkan China untuk menghadapi Amerika Serikat (AS) dan sekutunya. Begitu revolusi menang pada tahun 1949, China diembargo oleh negara-negara barat. Meskipun demikian, China bergeming pada pendiriannya untuk menciptakan masyarakat sosialis.
Namun, dalam kondisi ketertutupan itu, China membangun industri dalam negeri yang ampuh, yakni pembuatan baja, senjata, bom atom, juga pesawat terbang. Di bidang pertanian, China membangun industri pupuk untuk meningkatkan hasil produksi.

Pada era 1980-an, di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, China melakukan reformasi ekonomi dan membuka diri pada dunia luar.
Penanaman investasi asing dibuka seluas-luasnya di negeri itu bahkan bisa dibilang mendapatkan jaminan. Namun, menurut Deng Xiaoping, keterbukaan itu dilakukan untuk memperkuat sosialisme. China tak hendak mengubahnya menjadi sebuah negeri kapitalis. Oleh karenanya, perusahaan negara dan sektor publik tetap dominan jika dibandingkan dengan swasta. Hasilnya yang paling besar untuk peningkatan kesejahteraan dan standar hidup rakyat China. “Ada metode kapitalis yang kami pinjam untuk mendorong ekonomi kami. Tapi dalam prosesnya tetap beda. Di sini perusahaan yang paling besar dan ekonomi makronya tetap dipegang negara,” kata kader itu.

Di Guangxi misalnya, baru-baru ini Wall Mart, swalayan terbesar Amerika Serikat (AS) diperbolehkan untuk berada di tengah kota. Namun, keberadaan Wall Mart tersebut tidak merugikan. Selain bisa menampung semua produk dalam negeri, keberadaan Wall Mart menambah munculnya banyak ritel yang menjajakan berbagai panganan karena diuntungkan dengan letak strategis. Selain itu, di dekat Wall Mart juga berdiri departemen store yang besar milik pemerintah. Harganya di ritel dan supermarket milik pemerintah ini lebih murah dibandingkan dengan produk yang dijual di Wall Mart.

Setelah menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan di berbagai bidang, China kemudian masuk ke Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO). China akhirnya berkibar-kibar. Semua produknya menjelajah semua negeri dengan harga yang murah sehingga membuat Uni Eropa dan AS kelabakan melindungi produksinya. Saat ini, bahkan ketika krisis ekonomi tengah menggelayuti AS, China berhasil menguasai surat obligasi AS sekitar 20 persen.

Seperti mengerti betul dampak krisis, China kini pelan-pelan mulai mengalihkan perhatian dari produksi barang konsumtif menuju peningkatkan industri pertanian. Oleh karena itu, China mengharapkan adanya peningkatan kerja sama dengan negara Asia Tenggara (ASEAN) di bidang pertanian.

Belajar dari Sun Tzu, China sepertinya belajar bahwa “mereka yang pandai berperang adalah mereka yang mengerti momentum dan tidak menuntut anak buahnya. Sebaliknya, mereka sanggup memilih orang dengan bakat dan kecakapan yang berbeda-beda untuk memanfaatkan momentum yang berbeda-beda”.

Untuk itulah China tetap akan mempertahankan sosialisme. Memadukan pendekatan tertutup dan terbuka. Pasar asing tetap terbuka tetapi negara tetap dominan. Dan negara ini tetap akan dipimpin oleh sebuah partai proletar.

>SUN-TZU THE ART OF WARFARE

>

“Dia yang mengenal musuh maupun dirinya sendiri takkan pernah beresiko dalam seratus pertempuran; Dia yang tidak mengenal musuh tetapi mengenal dirinya sendiri akan sesekali menang dan sesekali kalah; Dia yang tidak mengenal musuh ataupun dirinya sendiri akan beresiko dalam setiap pertempuran.” (Sun-Tzu)

Senjata paling ampuh dalam sebuah perang adalah Strategi, dan banyak jenderal ternyata mengandalkan strategi perangnya pada buku Seni Berperang karya Sun Tzu, yang ditulis kira-kira 2500 tahun yang lampau.

Berikut Kitab Asli seni berperang Sun Tzu! Terjemahan asli dari bahasa Tiongkok

SENI BERPERANG oleh : Sun Tzu

13 bab Strategi militer klasik:
1. Kalkulasi
2. Perencanaan
3. Strategi
4. Kekuatan pertahanan
5. Formasi
6. Kekuatan dan kelemahan
7. Manuver
8. Sembilan varuiasi
9. Mobilitas
10. Tanah lapang
11. Sembilan situasi klasik
12. Menyerang dengan api
13. Intelijen

Isi Tiap Bab.

I. Kalkulasi

“Perang adalah urusan vital bagi negara; jalan menuju kelangsungan hidup atau kehancuran. Oleh karena itu, mempelajari perang secara seksama adalah suatu keharusan;”
Lima hal yang harus dipertimbangkan dalam mempelajari peperangan :
1. Alasan moral : keyakinan rakyat dan kepentingan negara untuk tujuan bersama.
2. Alam : cuaca, iklim, waktu.
3. Situasi : jarak, sifat alami, kondisi fisik.
4. Kepemimpimnan : kebijaksanaan, kepercayaan diri, keberanian, belas kasihan.
5. Disiplin : imbalan, ancaman, hukuman, logistik.

Tujuh aspek dan fakta kalkulasi :
Untuk memulai perang setidaknya panglima harus memperhatikan beberapa fakta dilapangan seperti dibawah ini.
1. Siapa yang dapat mempersatukan rakyat dan angkatan bersenjata
2. Siapa yang memilki komandan yang lebih baik
3. Siapa yang mampu memanfaatkan iklim dan keadaan suatu daerah?
4. Siapa yang dapat memberi perintah dan disiplin yang lebih baik?
5. Pasukan mana yang lebih tangguh?
6. Anggota pasukan mana yang lebih terlatih?
7. Siapa yang memiliki sistem imbalan dan ancaman hukuman yang lebih adil?
Jika kita lebih mampu memenuhi semua faktor diatas melebihi musuh, maka kemungkinan menang kita diatas musuh, sangat wajar untuk memulai peperangan.
Jika faktor diatas kertas saja tidak mampu meyakinkan panglima untuk menang bagaimana dia dapat meyakinkan rakyat dan prajuritnya bahwa mereka semua akan berperang dan menang!
Jika tidak yakin menang untuk apa memulai perang!

Tipu muslihat :
perang dipenuhi oleh tipu muslihat dalam bentuk strategi, siapapun yang tidak mampu berstrategi dan tidak cakap dalam menggunakan tipu muslihat, tidak akan menang dalam perang apapun.
1. Yang mampu harus berpura-pura tidak mampu
2. Tampillah seolah-olah tak ada apa-apa padahal sedang mengaktifkan kekuatan.
3. Bila ingin menyerbu sasaran terdekat, seolah-olah sedang ingin menyerbu yang lebih jauh.
4. Bila ingin menyerbu daerah yang lebih jauh , seakan-akan ingin menyerbu daerah yang terdekat.

Eksploitasi :
Gunakan negaramu, ekonomimu, tentaramu dan segala daya upayamu untuk mengalahkan dan melemahkan musuhmu!
1. Pancing musuh dengan umpan yang kecil, lalu hancurkanlah setelah menyebarkan operselisihan diantara angkatan bersenjata.
2. Waspada musuh senantiasa siap siaga dan tanpa kelemahan.
3. Langkah mundur jika musuh kuat
4. Berpura-pura lemah sehingga musuh dikuasai rasa puas diri.
5. Sebar perselisihan jika kekuatan musuh bersatu padu.
6. Serang saat musuh tidak siap siaga.

Pertimbangan :
1. Kekuatan dan kelemahan pasukan diri dan musuh
2. Perencanaan yang cermat.

II. Perencanaan

Waktu adalah uang :
– Perbekalan
– Pengeluaran harian

Hindari pertempuaran yang berlarut :
– Moral jadi turun
– Biaya yang boros
– Tidak aman dan rentan kalah

Bertempurlah agar cepat menang
Manfaatkalah sumber-sumber kekuatan musuh :
Misal : bekal rampasan musuh
– Pancing amarah musuh
– Bangkitkan motivasi untuk membunuh
– Rangsang untuk merampas harta kekuatan musuh

Taktik jitu menentukan nasib sebuah bangsa :
– Perang cepat negara aman
-Perang berlarut larut, persediaan negara habis, ekonomi ambruk, motivasi tentara jatuh.

III. Strategi

Perbandingan jika pasukan kita berhadapan dengan musuh :
Jika pasukan kita 10 : 1 dari musuh= kepung dan serang
Jika pasukan kita 5 : 1 dari musuh= pecahkan dan bagilah musuh lalu serang
Jika pasukan kita 2 : 1 dari musuh= menyerang 2 arah
Jika pasukan kita 1 : 1 dari musuh= dahului perang
Musuh sedikit lebih besar bertahan.
Musuh lebih besar berkelit dari serangan.
Musuh jauh lebih besar, mundur.

Kepemimpinan:
1. Panglima bagaikan pilar negara
2. Cakap berperang menjadi negara kuat
3. Bukan pejuang yang baik negara menjadi lemah

Penguasa akan membahayakan angkatan bersenjata :
1. Memerintahkan maju / mundur saat waktu yang tidak tepat
2. Tak bisa memperlakukan kemiliteran tanpa tahu militer itu sendiri
3. Mengambil alih komando tanpa paham strategi militer.

Lima cara untuk menang :
1. Tahu saat perang dan tidak berperang
2. Tahu memanfaatkan kekuatan pasukan
3. Rebut simpati dan dukungan rakyat
4. Tunggu untuk antisipasi yang belum siap
5. Perwira cakap menjadi komandan yang tanpa campur tangan pemerintah.

Mengenal lawan dan diri sendiri :
1. Tahu kekuatan sendiri dan musush utuk mampu masuk dalam peperangan tanpa ancaman bahaya
2. Tahu kekuatan sendiri dan tak tahu kekuatan musuh memberikan kesempatan menang hanya separonya.
3. Tak tahu kekuatan sendiri dan musuh akan kalah.

IV. Kekuatan pertahanan

Alasan menyusun strategi :
1. Kita harus berjuang keras agar tidak kalah
2. Musuh yang harus terlebih dahulu membuat kesalahan besar baru kita mengalahkannya.
3. Kita tak bisa bilang kita tak akan kalah tapi kita tak bisa memastikan musuh akan membuat kesalahan sehingga kita meraih kemenangan, orang bisa tahu cara untuk menang tapi tidak bisa memastikan akan memperoleh kemenangan.
4. Yang merasa tidak yakin menang akan bertahan
5. Yang merasa akan menang maka menyeranglah
6. Meraka yang cakap dalam bertahan seolah-olah tak tampak oleh musuh
7. Mereka yang calak dalam hal bertahan akan menang bila tiba saatnya untuk menyerang.

Menang tanpa air mata :
1. Ahli taktik akan tetap bertahan dalam keadaan aman.
2. Tak pernah lewatkan kesempatan hancurkan musuh.
3. Yang ingin menang harus terlebih dahulu menciptakan kemenangan.

Pahlawan yang benar-benar sejati tidak pernah membanggakan kecakapan atau keberanian mereka.

Mereka menang karena memiliki rasa percaya diri serta kemampuan untuk tetap pada posisi yang aman

Mengatur posisi :

1. Ahli tatik mempunyai sasaran-sasaran jelas dan disiplin yang ketat dalam pasukan.
2. Ahli taktik cakap :
a. Ukur jarak
b. Memperkirakan ongkos
c. Memepelajari kekuatan
d. Memperhitungkan kesempatan
e. Merencakan kemenangan.

V. Formasi

Penyergapan tiba-tiba, konfrontasi langsung :
1. Atur pasukan (organisasi) besar dan kecil
2. Komando (Komunikasi) pasukan besar dan kecil
3. Pasukan besar.

Hakikat kejutan :
1. Perang adalah konfrontasi lansung
2. Pasukan yang melakukan kejutan akan menang

Serangan tiba-tiba dan kofrontasi langsung ada dalam peperangan, kombinasi kedunya membuat suatu variasi perang.

Kesiagaan

Gerakan.

VI. Kekuatan dan kelemahan

Inisiatif :
1. Pasukan pertama mengambil posisi yang fleksibel
2. Pasukan akhir ikut perang walau dalam keadaan kelelahan
3. Perwira melakukan gertakan mental
4. Umpan untuk mencapai tujuan yang dimaksud
5. Gertakan ke musuh
6. Ganggu musuh

Mengacaukan musuh :
1. Buat kegaduhan (kacaukan perhatian)
2. Serang satu arah

Ibarat air :
1. Tinggi ke rendah, menghindari musuh yang kuat tapi serang yang lemah
2. Ikut bentuk yang dilalui . Rencana berubah sesuai perubahan kubu musuh.
3. Tidak dominan pada suatu perubahan, ubah strategi sesuai perubahan pihak musuh.

VII. Manuver

Dari keterbatasan ke keuntungan ;
1. Strategi baik adalah lebih dahulu mencapai garis depan untuk menempati posisi yang menguntungkan lalu hancurkan musuh.
2. Atur jalan pintas
3. Hitung seksama keterbatasan menjadi keuntungan.
4. Sekalipun dalam keadaan yang prima tetap dalam keadaan yang waspada.

Keuntungan dan kerugian :
1. Amankan perbekalan
2. Pasukan yang lincah maju terus tanpa istirahat
3. Organisir pasukan
4. Negara netral tidak boleh masuk dalam persekutuan
5. Jangan perang yang belum pernah kita tahu kondisinya
6. Manfaatkan orang asli wilayah sebagai pemandu arah

Angin, hutan, api, dan gunung :
1. Serang saat waktu yang tepat
2. Manuver pasukan yang efektif
Angin – cepat bagai tiupan angin
Hutan – tenag sesunyi hutan
Api – ganas bagai amukan api
Gunung – tahankan diri bagai gunung
Kegelapan – sembunyi tak tembus
Kilat – serangan tiba-tiba

VIII. Sembilan variasi

1. Jangan sekali-kali mencari perlindungan disuatu wilayah yang tidak aman
2. Jangan mengabaikan basa-basi diplomasi dalam meminta simpati suatu negara.
3. Jangan menunda suatu perjalanan pada saat suatu gerakan justru sulit dilakukan.
4. Dalam situasi penuh bahaya , merencanakan untuk meloloskan diri secepat mungkin.
5. Saat situasi sulit, bertempurlah sampai titik darah penghabisan
6. Ada rute perjalanan yang harus dihindari dan dipintasi agar dapat mengubah keadaan yang serba terbatas untuk memberikan peluang yang besar.
7. Biarkan musuh meloloskan diri sebagian walau punya kemampuan mengejar, pikirkan serangan berikutnya.
8. Untuk menghancurkan angkatan bersenjata, jangan terperdaya dengan kemudahan merebut kota.
9. jika perintah penguasa negara tidak mendukung kemajuan perang yang sedang berlangsung maka abaikan saja.

Kelemahan umum komandan :
1. Saat sembarangan mudah dibunuh
2. Saat takut mudah ditangkap
3. Saat marah mudah dihasut
4. Saat sensitif mudah merasa hina
5. Saat emosional mudah gelisah

Akhir cerita panglima :
1. Bertempur untuk mati biasanya mati
2. Takut mati biasanya tertangkap
3. Tidak sabar biasanya mudah marah dan terima ejekan
4. Merasa terhormat biasanya menerima segala hal yang merendahkan
5. Terlalu baik hati biasanya terus menghadapi masalah.

IX. Mobilitas

Penyebaran :
1. Ketika bergerak maju, jangan melalui punggung gunung / bukit tapi lewat lembah
2. Naik dataran yang lebih tinggi untuk tahu posisi yang paling menguntungkan menyerang dan bertahan.
3. Jika musuh di dataran yang lebih tinggi, jangan sekali-kali melayani/mendahului serangan.
4. Segera seberangi sungai, jadi musuh tidak ambil kesempatan – jangan serang musuh saat musuh di sungai – seranglah musuh saat baru menapakkan kaki di daratan ketika separo kekuatan ada di sungai.
5. Dataran lebih tinggi lebih baik daripada sungai.
6. Jangan menyerang musuh dihulu sungai.
7. Bial bertempur ditempat berawa, tetaplah bertahan dekat dengan tepi rawa yang berumput.
8. Lebih bagus lagi bila dibelakang pasukanmu terdapat pepohonan , ini strategi untuk bertempur didaerah rawa.
9. Pertempuran di tanah datar, maka letakkanlah ditanah yang datar.

Strategi perang :
1. Jika pasukan musuh tampil tenang dan mantap berarti yakin akan posisi strategis dan kekuatan yang dimilikinya.
2. Jika pasukan musuh menantang, mereka sangat cemas gerak maju lawan.
3. Jika musuh pada posisi datar yang tidak menguntungkan berarti melakukan jebakan.

X. Tanah lapang/Medan

Tipe tanah lapang/medan pertempuran:
1. Mudah dilalui
2. Sulit dilalui
3. Netral : sama-sama sulit menyerang
4. Sempit
5. Berbahaya
6. Jangkaun jauh.

Bahaya yang dilakukan oleh pemimpin militer :
1. Sulit meloloskan diri.
2. Pembangkangan perintah dari bawahan
3. Guncangan
4. Kehancuran
5. Kekacauan
6. Gerakan mundur.

Panglima yang cakap merupakan aset yang paling berharga .
– Panglima wajib memerintahkan perang jika yakin pasukannya akan menang.
– Jika yakin akan kalah, jangan ikuti perintah penguasa untuk perang.

XI. Sembilan situasi klasik

1. Biasa-biasa – berada di wilayah sendiri.
2. Sederhana – wilayah musuh
3. Kritis – posisi yang sama-sama punya 2 pihak.
4. Terbuka – wilayah yang dapat dimiliki 2 pihak
5. Memegang komando – untuk merebut posisi strategis, komando semua daerah.
6. Serius – di dalam wilayah musuh
7. Berbahaya – wilayah yang tidak aman dan sukar
8. Sulit – wilayah yang merupakan jalur masuk dan keluar
9. Putus asa – terpojok

Keprajuritan yang cakap :
1. Paham hubungan internasional dalam hal diplomasi
2. Paham keadaan alam, gunung, rawa dan lainnya.
3. Paham dapat pemandu dari penduduk sekitar.

Ular dari gunung Chang :
1. Diserang kepala ekor melawan
2. Diserang ekor kepala melawan
3. Diserang tengahnya kepala dan ekor melawan.

XII. Menyerang dengan api

Lima serangan ganas :
1. Bakar pasukan musuh
2. Rebut atau hancurkan perbekalan mereka
3. Sarana transportasi diganggu
4. Gudang senjata dihancurkan
5. Jalur perbekalan di rusak.

Serang saat musim panas dan kering atau malam hari ketika angin berhembus kencang.

Bergerak dari kesempatan yang menguntungkan :
1. Menyerang jika yakin menang.
2. Penguasa tidak menyatakan perang karena rasa marah
3. Komandan menyatakan perang bukan karena rasa dengki
4. Berperang jika punya tujuan yang pasti

XIII. Intelijen

Jenis mata-mata :
1. Penduduk setempat lawan
2. Perwira militer dalam dewan istana
3. Mata-mata yang beralih haluan tetapi dapat dibeli
4. Mata-mata pembawa kematian – tawanan yang diinterogai
5. Mata-mata pembawa kepastian – membawa informasi dengan selamat

Upah yang besar bagi mata-mata

Rahasia

Info dari mata-mata dianalisa

Bidang intelijen merupakan kegiatan yang paling penting dalam peperangan sebab tidaklah akan tersusun suatu rencana perang yang efektif tanpa informasi dari musuh.

Menurut Roger Ames, buku ini diterjemaahkan dari berbagai temuan arkeologis di beberapa tempat di Cina dari waktu yang berbeda. Yang pertama, Naskah 13 Bab Inti dari Sun-Tzu Chiao-shih yang diedit oleh Wu Chiu-Lung dan kawan-kawan yang diterbitkan pada tahun 1990. Kedua, dari Lima Bab Tambahan yang ditemukan dari makam-makam Han di gunung Silver Mountain volume 1, yang disusun oleh Komite Rekonstruksi Tulisan-tulisan Han di Yin-ch’ueh-shan, serta diterbitkan oleh Wen-wu Publishing House tahun 1985. kemudian bahan-bahan ensiklopedia yang diterjemaahkan dari lampiran-lampiran Sun-tzu hui-chien karya Yang Ping-an (1986) dan Sun-tzu tao-tu karya Huang K’uei (1989) yang didasarkan pada koleksi dinasti Ch’ing dari Pi I-hsun, Sun-tzu hsu-lu (Surat penghargaan Dari Sun Tzu).

Koleksi dinasti Ch’ing ini telah disusun dari tulisan-tulisan bambu dari dinasti Western Han yang ditemukan pada tahun 1978 dalam makam ke-115 dari kompleks keluarga Sun di kabupaten Ta-t’ung, provinsi Ch’ing-hai. Selanjutnya, Wang Jen-chun, Sun-tzu i-wen (naskah yang tidak diterbitkan , yang dilestarikan dalam catatan sejarah di perpustakaan Shanghai).

Berbeda dengan kebanyakan buku yang bersumber dari karya guru Sun yang beredar di Indonesia, selain merupakan terjemaahan atas temuan-temuan arkeologis tulisan-tulisan bambu yang berasal dari berbagai zaman yang berbicara tentang guru Sun, di dalam pendahuluan buku ini, Profesor Roger Ames yang merupakan salah seorang penerjemaah filsafat Cina terkemuka di Amerika Serikat, memberikan penjelasan tentang latar belakang filosofis buku Sun-Tzu, karena ia menyadari bahwa karya ini merupakan buku filosofi berperang.

Untuk memperkuat nilai sejarah isi buku ini, penulis buku The Art of Rulership: Studies in Ancient Chinese Political Thought (1983) ini melampirkan salinan tulisan Cina-nya, deskripsi lokasi penemuan dan kondisi barang-barang hasil temuan serta gambar perlengkapan perang Cina kuno lengkap dengan penjelasannya. Keunggulan lain buku ini dibanding terjemaahan atas karya Sun Wu lainnya adalah komprehensifitas. Sebab ia memuat bab-bab tambahan dari temuan arkeologis di Yin-ch’ueh-shan maupun dari kisah-kisah dari berbagai sumber yang menyebutkan nama Sun Wu.

Judul buku : SUN-TZU THE ART OF WARFARE
Penerjemaah bahasa Inggris : Roger Ames
Penerjemaah bahasa Indonesia: Arvin Saputra DRs.
Penerbit : Lucky Publisher, 2002

“Shang chang ru zhan chang”: Pasar adalah medan pertempuran.

Strategi Sun Tzu, atau yang lebih dikenal dengan “The Art of War”, sudah banyak diterjemahkan dan diinterpretasikan banyak penulis. Adaptasinya juga beragam. Ada strategi Sun Tzu yang diterapkan dalam organisasi, manajemen, kepemimpinan, hingga pemasaran.

Dalam literatur Cina, strategi perang Sun Tzu bukanlah satu-satunya. Harap maklum, daratan Cina, hingga Tibet, selama beribu-ribu tahun menjadi medan pertempuran yang tidak pernah reda. Selalu ada revolusi, ada tokoh yang ingin memproklamasikan raja baru. Tak mengherankan apabila strategi perang terbaik lahir di wilayah ini.

Konon, sejak 500 tahun sebelum Masehi hingga 700 tahun sesudah Masehi, atau selama 1.200 tahun, tak kurang ada tujuh literatur strategi perang Cina yang terdokumentasikan. Literatur tersebut mempengaruhi cara berpikir orang-orang Cina, termasuk para pebisnisnya. Literatur yang paling beken memang strategi perang Sun Tzu.

Dalam bahasa Cina, ada pepatah populer, “Shang chang ru zhan chang”: Pasar adalah medan pertempuran. Mpu Peniti pernah mengingatkan saya bahwa dominasi ekonomi Cina setelah membuka pasarnya memperlihatkan perilaku yang sejalan dengan pepatah di atas. Setelah Perang Dunia II, negara-negara Asia yang memahami ungkapan tersebut satu per satu mulai muncul menguasai pasar. Dimulai dari Jepang, Taiwan, Korea Selatan, dan kini Cina Daratan.

Strategi perang Sun Tzu ditulis dalam 13 langkah sederhana. Mulai dari perencanaan perang hingga intelijen. Namun, kalau Anda urut ke-13 langkah Sun Tzu itu, maka inti sarinya cuma ada tiga langkah. Yaitu, mengenal diri Anda dengan baik, mengenal musuh Anda, dan mengenal tempat di mana kita bertarung.

Nah, tiga langkah ini sama sebangun dengan teori positioning dalam pemasaran. Mereka mirip saudara kembar. Uniknya, walau secara teori Anda bisa menang perang hanya dalam tiga langkah itu, banyak orang mengeluh strategi Sun Tzu tidak sesederhana itu.

Selama 10 tahun mengaplikasikan Sun Tzu dalam pemasaran, saya menemukan tiga kelemahan penerapannya. Pertama, dalam langkah mengenal diri kita sendiri, pemasar kerap mengalami rabun penglihatan. Theodore Levitt menyebutnya dengan fenomena marketing myopia. Dalam praktek, seorang pemasar bisa jadi kurang percaya diri. Atau kebalikannya, menjadi sombong dan arogan setelah berhasil meraih sebuah sukses. Akibatnya menjadi kabur dan gagal mengenali kelemahan dan kekuatannya.

Kedua, kurang tekun mempelajari perilaku musuh. Sun Tzu dalam bab ke-13, atau langkah terakhir, menganjurkan pemakaian intelijen untuk memastikan keberhasilannya. Ada pepatah Cina bahwa kemenangan tertinggi adalah menangkan perang tanpa satu pertempuran pun. Artinya, kalau kelemahan musuh sudah diketahui persis, kita akan selalu beberapa langkah lebih maju dari musuh itu. Jadi, kita bisa menghindari perang terbuka, seperti perang harga yang merugikan kedua pihak.

Langkah ketiga Sun Tzu, tentang pengenalan medan perang, memang termasuk yang sulit. Bagian ini memerlukan pengalaman di lapangan. Sun Tzu menulisnya di bab 11, tentang sembilan medan perang yang berbeda dengan dinamika kompetisi yang berbeda satu sama lainnya.

Di bab 5, Sun Tzu menulis soal momentum. Pemasar yang tidak menguasai medan pertempuran, dan gagal mengikuti dinamika kompetisi, biasanya tidak akan memiliki kesempatan untuk memanfaatkan momentum. Sebaliknya, pemasar yang mengontrol dinamika kompetisi akan mampu terus-menerus berinovasi dan menciptakan momentum.

Bila ini terjadi, Sun Tzu mengatakan, 1.000 perang memastikan 1.000 kemenangan. Ini rahasianya!