>Mengemis Itu Haram

>

Setiap manusia tentu membutuhkan rizki berupa makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kendaraan dan kebutuhan-kebutuhan hidup lainnya. Untuk itu, manusia harus mencari nafkah dengan berbagai usaha yang halal, Bagi seorang muslim, mencari rizki secara halal merupakan salah satu prinsip hidup yang sangat mendasar.

Kita tentu menghendaki dalam upaya mencari rizki, banyak yang bisa kita peroleh, mudah mendapatkannya dan halal status hukumnya. Namun seandainya sedikit yang kita dapat dan susah pula mendapatkannya selama status hukumnya halal jauh lebih baik daripada mudah mendapatkannya, banyak perolehannya namun status hukumnya tidak halal.

Yang lebih tragis lagi adalah bila seseorang mencari nafkah dengan susah payah, sedikit mendapatkannya, status hukumnya juga tidak halal, bahkan resikonya sangat berat, inilah sekarang yang banyak terjadi. Kita dapati di masyarakat kita ada orang yang mencuri sandal atau sepatu di masjid, mencopet di bus kota dan sebagainya. Korban penganiayaan dari masyarakat sudah banyak yang berjatuhan akibat pencurian semacam itu.

Dalam satu hadits, Rasulullah saw menyebutkan tentang kecintaan Allah swt kepada orang yang mencari rizki secara halal meskipun ia bersusah payah dalam mendapatkannya, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambaNya lelah dalam mencari yang halal” (HR. Ad Dailami).

Salah satu cara mencari harta yang tidak terhormat adalah dengan meminta atau mengemis kepada orang lain. Karena itu, sebagai muslim jangan sampai meminta atau mengemis agar kita mendapat jaminan surga dari Rasulullah saw sebagaimana sabdanya: “Barangsiapa yang menjamin kepadaku bahwa ia tidak meminta sesuatu kepada orang, aku menjamin untuknya dengan surga” (HR. Abu Daud dan Hakim).

Mengemis Yang Dibolehkan
Pada dasarnya, mengemis termasuk cara mencari harta yang diharamkan oleh Allah swt, karena itu, mengemis tidak boleh dilakukan oleh seorang muslim kecuali bila sangat terpaksa.

Qabishah bin Mukhariq al Hilat ra berkata:
“Aku pernah memikul tanggungan berat (diluar kemampuan), lalu aku datang kepada Rasulullah saw untuk mengadukan hal itu. Kemudian beliau bersabda: Tunggulah sampai ada sedekah yang datang kepada kami lalu kami perintahkan agar sedekah itu diberikan kepadamu.

Setelah itu beliau bersabda: Hai Qabishah, sesungguhnya meminta-minta itu tidak boleh kecuali bagi salah satu dari tiga golongan, yaitu:

  1. Orang yang memikul beban tanggungan yang berat (diluar kemampuannya), maka dia boleh meminta-minta sehingga setelah cukup lalu berhenti, tidak meminta-minta lagi.
  2. Orang yang yang tertimpa musibah yang menghabiskan hartanya, maka dia boleh meminta sampai dia mendapatkan sekadar kebutuhan hidupnya.
  3. Orang yang tertimpa kemiskinan sehingga tiga orang yang sehat pikirannya dari kaumnya menganggapnya benar-benar miskin, maka dia boleh meminta sampai dia memperoleh sekadar kebutuhan hidupnya.

Sedangkan selain dari tiga golongan tersebut hai Oabishah, maka meminta-minta itu haram yang hasilnya bila dimakan juga haram” (HR. Muslim).

Dari hadits di atas, dapat kita pahami bahwa mengemis yang dibolehkan adalah mengemis yang sekadar untuk memenuhi kebutuhan pokok dalam kehidupan seseorang, itupun tidak boleh menjadi pekerjaan atau profesi, karena situasi darurat seharusnya tidak berlangsung lama.

Lebih jelas, ada tiga sebab atau keadaan dibolehkannya mengemis bagi seseorang.

Pertama, orang yang memiliki beban hidup yang tidak mampu ditanggungnya sehingga dengan kesungguhan dan kerja keras ia dapat berusaha dengan cara lain yang halal untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

Dalam kehidupan sekarang, para pengemis bisa jadi berada dalam keadaan memiliki tanggungan yang berat, namun karena dari mengemis ternyata banyak yang diperolehnya meskipun tanpa keras keras, maka ia malah keasyikan sehingga tidak mau berusaha yang lain. Padahal seandainya seorang ibu yang kita lihat di jalan-jalan untuk mengemis mau jadi pembantu rumah tangga saja; makan, minum dan tempat tinggal sudah terjamin, itupun masih mendapatkan upah setiap bulan.

Kalau para preman yang suka memalak mau berusaha dengan cara berdagang minuman ringan dan makanan kecil saja, maka ia sudah bisa memperoleh uang, kalau orang cacat diberikan pendidikan ketrampilan yang membuatnya bisa berusaha dan berkarya, tentu ia tidak akan menunggu belas kasihan orang lain.

Oleh karena itu, setiap orang seharusnya bisa memahami dan menyadari bahwa semakin lama beban hidup memang semakin besar sehingga seseorang dituntut untuk meningkatkan semangat bekerja dan berusaha, termasuk di dalamnya dengan memperbanyak ketrampilan karena semakin banyak ketrampilan yang dikuasainya, semakin banyak pula pintu rizki yang bisa dibuka.

Kedua yang dibolehkan mengemis adalah orang yang tertimpa musibah seperti bencana alam yang menghabiskan hartanya, bahkan untuk sementara iapun tidak bisa berusaha sebagaimana biasanya. Di negeri kita, bencana datang silih berganti bahkan ada bencana yang sudah bisa diper-kirakan seperti banjir, tanah longsor, berbagai penyakit yang muncul akibat perubahan musim dan sebagainya.

Kalau pemerintah tanggap dalam masalah ini, apalagi dibantu oleh lembaga swadaya masyarakat, mestinya orang yang tertimpa musibah tidak akan sampai mengemis, anggaran negara dan pemerintah daerah harus disediakan dalam jumlah yang banyak untuk menghadapi situasi darurat akibat bencana alam.

Ketiga, kemiskinan yang diakui oleh masyarakat di sekitarnya bahwa dia memang miskin sehingga untuk memenuhi kebutuhan pokok saja seperti makan dan minum ia tidak sanggup lagi memenuhinya. Bila tidak ada pilihan lain, maka orang yang ditimpa kemiskinan dibolehkan mengemis sekadar untuk bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.

Namun, kemiskinan idealnya tidak sampai membuat sesecrang menjadi pengemis, tapi orang yang berkemampuan apalagi pemerintah harus segera membantu masyarakat yang miskin dengan mendidik masyarakat dan membuka lapangan kerja yang luas.

Disamping itu, ketika seseorang mau berusaha lalu membutuhkan modal, maka permodalan bisa diberikan atau dipinjamkan dari dana zakat, infak dan sedekah atau memang dana yang disediakan oleh pemerintah sehingga seseorang bisa berusaha dengan cara yang baik dan tidak lagi menjadi pengemis.

Dengan demikian dalam situasi terpaksa, seseorang dibolehkan mengemis hanya untuk mendapatkan rizki sekadar bisa memenuhi kebutuhan pokok, bukan dengan mengemis itu ia menjadi kaya apalagi sampai menipu orang lain agar ada belas kasihan kepadanya. Orang yang selama ini menjadi pengemis harus meninggalkan cara mengemis dan secara serius pemerintah harus memberi perhatian dalam masalah ini.

Oleh karena itu, motivasi dan memberi pemahaman yang utuh untuk membantu yang lemah harus dibangun kembali, sedangkan mereka yang mengalami kesulitan hidup harus mau berusaha semaksimal mungkin dan tidak menjadikan keadaan dirinya sebagai alasan keterpaksaan untuk mendapatkan rizki dengan cara yang tidak terhormat.

Sumber : Khairu Ummah, Edisi 1 Tahun XVIII – Januari 2009 [http://mimbarjumat.com/archives/310]

Iklan

>Amplop Untuk Pak Kyai Dan Pak Ustadz

>

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

Sahabat, janganlah hatimu mudah termakan fitnah manusia yang anti dengan ISLAM. Salah satu isu yang sering dilontarkan adalah menjuluki para DA’I dengan istilah KYAI AMPLOP. Sebenarnya dalam hal ini, sang kyai menjalankan dua peranan yaitu sebagai juru dakwah dan sebagai pengajar [guru]. Sebagai guru dia berhak mendapat upah yang wajar.

Sahabat, bukankah semua amal ibadah kembali kepada diri masing-masing sesuai dengan niatnya… dan setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri… jadi biasakanlah diri kita untuk berhusnudzdzon pada orang lain…. kalau memang orang lain mensyaratkan uang sebagai nilai pengganti untuk layanan yang dia berikan, lalu kenapa tidak….. itu haknya dia.. Uang hanyalah sebuah nilai tukar atas sebuah kerjasama yang saling menguntungkan atas dasar saling membutuhkan….. sebagai bentuk suatu pertukaran energi yang selaras dengan hukum alam…..

UANG HANYALAH SEBUAH BENTUK LAIN DARI PERWUJUDAN ENERGI……….
MANUSIA YANG HANYA MENEMPATKAN DIRI SEBAGAI PIHAK YANG MENERIMA DAN TIDAK PERNAH MEMBERI, BUKANKAH ITU SIKAP YANG SANGAT TERCELA. KARENA ITU TAK UBAHNYA KITA MENDIDIK ORANG LAIN AGAR MENJADI PENGEMIS DAN MENJADI MANUSIA YANG BAKHIL. SEDANGKAN MENGEMIS ADALAH HARAM DAN BAKHIL JUGA MERUPAKAN SIFAT YANG TERCELA.

Berikut ini adalah Jawaban Habib Munzir Al Musawa Seputar Upah Bagi Guru Mengaji dan Bagaimana Sebaiknya Sikap Seorang Da’i (Penyeru Ke Jalan Allah)
Sumber: Forum Tanya Jawab Majelis Rasulullah

Jawaban 1:

Habib Munzir Al Musawa

Saudaraku yg kumuliakan,

Boleh boleh saja mengambil bayaran dari mengajar agama, hal ini tidak disebut menjual agama, karena yg disebut menjual agama adalah menukar kebenaran dg kebatilan dengan iming iming bayaran dari fihak tertentu. Rasul saw bersabda : “Yang paling berhak untuk diambil upahnya adalah dari Kitabullah” (Shahih Bukhari Juz 2 hal 795).

berkata Assyu’biy menanggapi hadits ini : “tidak disyaratkan pada seorang pengajar apa apa selain menerima apa apa yg diberikan padanya bila diberi (Shahih Bukhari Juz 2 hal 795). maka jelaslah bahwa menerima bayaran atas pengajarannya itu dibenarkan oleh rasul saw dan diakui oleh syariah, bahkan Rasul saw dg tegas menjelaskan bahwa dari apa apa yg diambil upahnya berupa jasa, maka pengajar agama lah yg paling berhak untuk dberi upah.

Dan Rasul saw bersabda : “Sebaik baik manusia dan sebaik baik yg melangkah dimuka bumi adalah para Guru (guru agama), karena mereka itu bila agama ini rusak mereka memperbaikinya, maka berilah mereka dan jangan kalian sewa mereka, sungguh seorang guru bila mengajari seorang anak mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim hingga anak itu bisa mengucapkannya maka Allah tuliskan bagi anak itu pengampunan, bagi guru itu pengampunan, dan bagi kedua ayah ibunya pengampunan” (HR Tirmidzi).

Namun sepantasnya seorang guru apalagi Da’i, untuk tidak mengandalkan nafkahnya dari mengajar, karena itu dirisaukan akan membuatnya tak ikhlas dalam berdakwah dan mengajar, namun sebaiknya ia mempunyai mata pencaharian lain, berdagang, atau lainnya dan menjadikan pemasukan dana dari hasil dakwahnya tuk kemajuan dakwah itu sendiri, maka dalam hal ini sungguh merupakan kemuliaan yg jelas, karena dana ditarik dari muslimin dan dikembalikan untuk dakwah muslimin.

Link Sumber Jawaban 1: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid&func=view&catid=9&id=4491&lang=id#4491

Jawaban 2:

Dalam hukum syariah tidak ada larangan bagi guru pengajar untuk menerima hadiah atau menetapkan bayaran, hal itu boleh boleh saja berlandaskan Nash hadits Rasul saw : “Sungguh yg paling berhak dibalas dg bayaran adalah Kitabullah” (Shahih Bukhari hadits no.5405). Hadits ini menunjukkan bahwa Rasul saw sangat memuliakan Ilmu syariah, maka sebagaimana orang orang membalas jasa seseorang dg bayaran, misalnya pegawai, penulis, penerima tamu, maka Rasul saw menjelaskan dari semua jasa, maka yg paling berhak untuk diberi balasan adalah para pengajar agama.

Diriwayatkan pula ketika suatu ketika seorang Ahli makrifah memberi uang 1000 dinar pada guru yg mengajari anaknya, maka guru itu berkata : “ini terlalu banyak!”, maka orang itu berkata : “harta sebanyak apapun kuberikan padamu tak bisa menyaingi jasamu mengajari anakku ilmu Allah.”

Nah.. pembahasan di atas adalah secara hukum syariah, namun dikembalikan antara dia dengan Allah maka tergantung niatnya, bila niatnya adalah untuk memperkaya diri maka ia tak dapat apa apa di akhirat kelak, rugi dengan 1000 kerugian karena telah menjual ilmunya didunia dg keduniawian dan harta, di akhirat ia pailit dan bangkrut.

Imam Ghazali rahimahullah menjelaskan mengenai hal ini dalam kitab nya Bidayatul hidayah, bahwa orang yg mempelajari ilmu hanya karena ingin keduniawian, ingin punya banyak pengikut, ingin kaya raya dg memanfaatkan ilmunya, menjualnya dg menghalallkan segala cara dg dalil dalil yg disambung potong, yg penting bisa menghasilkan uang dan kekayaan, maka orang seperti ini akan wafat dalam su’ul khatimah, seburuk buruknya keadaan, inilah yg dikatakan oleh Rasul saw : “aku daripada dajjal lebih takut lagi pada fitnah Ulama Su’ (ulama jahat), yaitu mereka yg mencari cara agar mendapatkan keduniawian dg cara menghalalkan yg haram dan mengharamkan yg halal, dg dalil dalil sambung potong agar orang awam percaya dan mengikutinya.

Mengenai kaya atau miskin kita tak bisa menilai dan menuduh sebelum kita memastikan bahwa hal itu ia dapatkan dari menjual agamanya, bisa saja Allah luaskan rizkinya dengan Allah jadikan murid muridnya kaya raya dan selalu mendukungnya, atau keluarganya mendukungnya, atau teman temannya ada yg maju dalam usaha dan membantunya untuk termudahkan dalam dakwahnya, ini semua bisa saja terjadi dengan kehendak dan anugerah Allah swt.

Link Sumber Jawaban 2: http://majelisrasulullah.org/index.php?option=com_simpleboard&Itemid=&func=view&catid=9&id=1886&lang=id#1886

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh…

>Medan Resonansi Energi Sholat Dapat Menurunkan Angka Kejahatan & Kekerasan

>

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh..

بسم الله الرحمن الرحم
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.
(QS. 29:45)

MAHARISHI EFEK
Dalam sebuah penelitian pd th 1972, Maharishi Yogi melakukan uji coba di lebih 24 kota di Amerika. Dan dia menemukan bahwa resonansi energi meditasi dpt menurunkan angka kejahatan dan tindak kekerasan di kota tsb. Maharishi Yogi menerangkan bahwa angka kekerasan dan tindak kejahatan akan menurun drastis jika di setiap wilayah (kota) hanya 1% saja dari jumlah penduduknya melakukan sebuah tekhnik khusus meditasi transendental.

Inti dari meditasi adalah untuk menghasilkan rasa tentram dan damai di dalam hati. Maharishi Yogi berpendapat bahwa kedamaian di dalam hati yang dihasilkan oleh penduduk yang melakukan meditasi (yang jumlahnya hanya 1% dari jumlah penduduk tadi), secara otomatis akan dirasakan pula oleh lingkungan di sekitarnya.

Beberapa tahun kemudian, “International Peace Project In The Middle East” melakukan sebuah proyek uji coba yang sama. Hasil yang mengejutkan dari percobaan ini ini kemudian dipublikasikan pada Tahun 1988 dalam “Journal of Conflict Resolution”.

Untuk percobaan ini, para peneliti membawa para peserta test pada hari dan jam tertentu ke wilayah peperangan (Lebanon & Israel). Benar saja, hasilnya sungguh sangat mencengangkan. Selama para peserta tes tenggelam dalam meditasi mereka dan menciptakan kedamaian batin, angka kejahatan dan teror menurun drastis. Bahkan angka kecelakaanpun berkurang dan unit-unit gawat darurat di seluruh rumah sakit berkurang kesibukannya. Tapi begitu seluruh peserta tes tadi mengakhiri meditasi mereka. Maka semuanya kembali berlangsung seperti biasa.

Hal yang paling mengagumkan dari penelitian ini adalah ternyata hanya sedikit sekali orang yang dibutuhkan untuk memancarkan Medan Resonansi Perdamaian. Yaitu :

  • Untuk sebuah kota dengan jumlah penduduk 1 juta orang maka hanya dibutuhkan 100 orang utk melakukan meditasi.
  • Jumlah keseluruhan penduduk dunia saat ini adalah sekitar 6 milyar. Jadi dibutuhkan hanya sekitar 8000 orang saja untuk menciptakan Aura Perdamaian Dunia.

Sumber : Buku The Law Of Resonance Karya Pierre Franckh hal. 309-315

Medan Resonansi Energi Sholat
Tekhnik Meditasi Transendental Islam adalah SHOLAT. Nah, bagaimana dengan Resonansi Energi Sholat berjama’ah kita..? Sudahkah dapat mencegah perbuatan Keji & Munkar dengan radius pengaruh tidak hanya pd diri kita sendiri. Bahkan dapat mengurangi Angka kejahatan & tindak kekerasan di satu kota, negara, hingga dunia…?

Sudahkah sholat kita punya efek itu….? Sudahkah Sholat yang kita lakukan membawa Kedamian hati dan ketentraman batin ke dalam hati kita….?? Yang resonansi kedamaian hati kita itu akhirnya juga dapat terpancar ke lingkungan kita, memberikan nuansa sejuk dan damai ke lingkungan kita….?

LALU KENAPA WAJAH ISLAM SEKARANG IDENTIK DENGAN TERORISME….???
KATAKANLAH ITU HANYA HASIL PROPAGANDA ORANG KAFIR UNTUK MENJATUHKAN IMAGE ISLAM DI MATA DUNIA. TAPI KENYATAANNYA, KENAPA  KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA DI ZONA DAMAI MENGAPA MASIH SERING KITA DENGAR…..???

Padahal jelas sekali Allah menegaskan dalam firmannya :

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (al-Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan-perbuatan fahsya’ dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. 29:45)

Pengertian Fahsya’ dan Mungkar :

Di dalam ayat berbunyi  إِنَّ الصَّلاَةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ 
artinya : Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan fakhsya’ dan mungkar.
  • Al-Fahsya’ (الفحشاء ) dalam tafsir DEPAG-RI diartikan dengan perbuatan keji. Arti seperti ini kurang jelas dan tegas. Bila kita buka dalam kamus Al Munawwir, artinya sangat tegas-jelas dan banyak, dari sekian arti tersebut tidak ada yang baik. Al-Fahsya’ adalah suatu sikap/amalan yang buruk, jelek, jorok, cabul, kikir, bakhil, kata-kata kotor, kata yang tidak bisa diterima oleh akal sehat, dan kata fail / pelakunya diartikan zina. naudzubillahi min dzalik. ( Kamus Al Munawwir : hal. 1113)
  • Al-Mungkar (الْمُنكَرِ) dalam tafsir DEPAG-RI diartikan sama, yaitu perbuatan mungkar, mohon perhatian, arti seperti ini kurang bisa difahami. Abdullah Ar-Rojihi dalam kitabnya Al Qoulul bayyin Al Adhhar fiddakwah menyebutkan bahwa Munkar adalah setiap amalan / tindakan yang dilarang oleh syariat Islam, tercela di dalamnya yang mencakup seluruh kemaksiatan dan bid’ah, yang semua itu diawali oleh adanya kemusyrikan. Ada lagi yang mengatakan bahwa Munkar adalah kumpulan kejelekan, apa yang diketahui jelek oleh syariat dan akal, kemusyrikan, menyembah patung dan memutus hubungan silaturrahmi.

Efek pengaruh sholat yang benar, pada pelakunya akan dapat membersihkan segala kotoran-kotoran yang ada di hati, jiwa, & pikirannya. Sebagaimana hadist Nabi yang dikeluarkan At-Tirmidzi dari Abu Hurairah. Nabi bersabda :  
“Apa pendapat anda jika ada orang mandi di sungai depan anda sebanyak lima kali sehari ? Apakah masih menempel di badanya itu kotoran ? Jawab para Sahabat, Tidak, tidak ada lagi kotoranya ( bersih betul ). Jawab Nabi, itulah contoh sholat lima waktu. Allah menghapus dosa dan kesalahan-kesalahan hamba-Nya.”

Pendapat Para Ulama :

  • Abul Aliyah berkata : Di dalam sholat itu ada tiga unsur penting, yaitu Ikhlas, khosyah ( takut ) dan dzikrullah ( ingat kepada Allah ). Maka jika tiap sholat tidak ada ketiganya, tidaklah disebut sholat. Karena dengan kandungan ikhlas akan mengajak kepada yang ma’ruf, khosy-yah akan mencegah kepada yang mungkar dan dzikrullah akan mencakup makna mengajak ma’ruf dan mencegah mungkar.
  • Ibnu Mas’ud berkata : Tidaklah sholat siapa yang tidak tho’at terhadap sholatnya. Menta’ati sholat adalah mencegah perbuatan fahsya’ dan mungkar.
  • Ibnu Umar berkata : kata Nabi : Siapa telah sholat, lalu tidak beramar ma’ruf dan nahi mungkar, sholatnya tadi tidak akan menambah kecuali jauh dari Allah.
  • Al Hasan berkata : Hai anak Adam, sholat itu hanyalah mencegah keji dan mungkar, jika sholatmu tidak mencegahmu dari keji dan mungkar, maka sesungguhnya kamu tidak sholat.
  • Ibnu Mas’ud, Ibnu Abbas, Al Hasan dan Al A’masy berkata : siapa yang sholatnya tidak mencegah dari fahsya’ dan mungkar, sholatnya tidak akan menambah kecuali akan jauh dari Allah. ( padahal sholat adalah dalam rangka dekat kepada allah )
  • Al Maroghi sangat tegas mengingatkan : Sesungguhnya Allah telah memerintah kita untuk menegakkan sholat, yaitu dengan mendatanginya secara sempurna, yang memberikan hasil setelah sholat itu pelakunya adalah mencegah perbuatan keji dan mungkar, baik mungkar yang nampak maupun yang tersembunyi sebagaimana firman Allah tersebut di atas. Maka jika pengaruh itu tidak ada dalam jiwanya, sesunggunya sholat yang ia lakukan itu hanyalah bentuk gerakan dan ucapan-ucapan yang kosong dari ruh ibadah, yang justru menghilangkan ketinggian dan kesempurnaan arti sholat. Allah telah mengancam terhadap pelaku sholat dengan kecelakaan dan kehinaan. Fawailullilmusholliin, alladziinahum fii sholaatihim saahuun, artinya Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.

Dalam kesempatan ini saya akan sedikit mengupas pendapat Abul Aliyah yang berkata bahwa  Di dalam sholat itu ada tiga unsur penting, yaitu Ikhlas, khosyah ( takut ) dan dzikrullah ( ingat kepada Allah ). Dan saya akan mengupas salah satu unsur sholat yaitu Dzikrullah. Karena unsur inilah yang terpenting sehingga sholat yang kita lakukan dapat memancarkan Resonansi Energi Perdamaian bagi dunia.

Efek Dzikir yang pertama adalah memberikan ketentraman di hati :
Allah Swt berfirman :

الَّذِينَ آمَنُواْ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللّهِ أَلاَ بِذِكْرِ اللّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” ( Ar Ra’d : 28)

Efek Dzikir Yang Kedua Bagi Dunia bahkan bisa meremajakan kembali bumi dan mencegah kiamat dunia :
Rasulullah bersabda :

لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ لاَ يُقَالَ فِى اْلاَرْضِ : اَلله ….اَلله
“Hari kiamat tidak akan terjadi sampai di atas bumi ini tidak ada lagi orang yang menyebut Allah,… Allah.” (HR. Muslim, Tirmidzi dan Ahmad)

Efek Dzikir Yang Ketiga adalah menjadikan Manusia sebagai Stasiun Pemancar Energi Ilahi Yang Aktif Dan Full Power, Rasulullah menyebut seorang ahli dzikir sebagai manusia yang “HIDUP”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ
Permisalan orang yang berdzikir kepada Allah dengan orang yang tidak berdzikir kepada Allah adalah seperti orang yang hidup dan mati.” (HR. Al-Bukhariy no.6407 bersama Fathul Bari 11/208 dan Muslim 1/539 no.779)

Sholat adalah Dzikir terbesar :
Allah berfirman :

وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ
Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain).” (QS. 29:45)

Sebenarnya hubungan dzikir dengan ketentraman jiwa dapat dianalisis secara ilmiah. Dzikir secara lughawi artinya ingat atau menyebut. Jika diartikan menyebut maka peranan lisan lebih dominan, tetapi jika diartikan ingat, maka kegiatan berpikir dan merasa (kegiatan psikologis) yang lebih dominan. Dari segi ini maka ada dua alur pikir yang dapat diikuti:

1. Manusia memiliki potensi intelektual. 
Potensi itu cenderung aktif bekerja mencari jawab atas semua hal yang belum diketahuinya. Salah satu hal yang merangsang berpikir adalah adanya hukum kausalitas di muka bumi ini. Jika seseorang melahirkan suatu penemuan baru, bahwa A disebabkan B, maka berikutnya manusia tertantang untuk mencari apa yang menyebabkan B. Begitulah seterusnya sehingga setiap kebenaran yang di temukan oleh potensi intelektual manusia akan diikuti oleh penyelidikan berikutnya sampai menemukan kebenaran baru yang mengoreksi kebenaran yang lama, dan selanjutnya kebenaran yang lebih baru akan ditemukan mengoreksi kebenaran yang lebih lama.

Sebagai makhluk berfikir manusia tidak pernah merasa puas terhadap ‘kebenaran ilmiah’ sampai ia menemukan kebenaran perenial melalui jalan supra rasionalnya. Jika orang telah sampai kepada kebenaran ilahiah atau terpandunya pikir dan dzikir, maka ia tidak lagi tergoda untuk mencari kebenaran yang lain, dan ketika jiwa itu menjadi tenang, tidak gelisah dan tidak ada konflik batin. Selama manusia masih memikirkan ciptaan Allah SWT dengan segala hukum-hukumnya, maka hati tidak mungkin tenteram dalam arti tenteram yang sebenarnya, tetapi jika ia telah sampai kepada memikirkan Sang Pencipta dengan segala keagungannya, maka manusia tidak sempat lagi memikirkan yang lain, dan ketika itulah puncak ketenangan dan puncak kebahagiaan tercapai, dan ketika itulah tingkatan jiwa orang tersebut telah mencapai al- nafs al-muthma’innah.

2.Keinginan Manusia Tidak Terbatas
Manusia memiliki kebutuhan dan keinginan yang tidak terbatas, tidak ada habis-habisnya, padahal apa yang dibutuhkan itu tidak pernah benar-benar dapat memuaskan (terbatas). Oleh karena itu selama manusia masih memburu yang terbatas, maka tidak mungkin ia memperoleh ketentraman, karena yang terbatas (duniawi) tidak dapat memuaskan yang tidak terbatas (nafsu dan keinginan). Akan tetapi, jika yang dikejar manusia itu Allah SWT yang tidak terbatas kesempurnaan-Nya, maka dahaganya dapat terpuaskan. Jadi jika orang telah dapat selalu ingat (dzikir) kepada Allah maka jiwanya akan tenteram, karena ‘dunia’ manusia yang terbatas telah terpuaskan oleh rahmat Allah yang tidak terbatas.

Hanya manusia pada tingkat inilah yang layak menerima panggilan-Nya untuk kembali kepada-Nya dan untuk mencapai tingkat tersebut menurut al-Rozi hanya dimungkinkan bagi orang yang kuat potensinya dalam berpikir ketuhanan atau kuat dalam ‘uzlah dan kontemplasi (tafakkur)-nya.

Jadi al-nafs al-muthma’innah adalah nafs yang takut kepada Allah, yakin akan berjumpa dengan-Nya, ridlo terhadap qodlo-Nya, puas terhadap pemberian-Nya, perasaannya tenteram, tidak takut dan sedih karena percaya kepada-Nya, dan emosinya stabil serta kokoh.

KESIMPULAN :
Islam akan tampil sebagai pembawa perdamaian dunia, bila umat islam sudah dapat melaksanakan sholat dengan benar. Sholat tidak akan benar bila umat Islam tidak tahu cara berdzikir yang benar. Dan cara berdzikir yang benar hanya dapat diperoleh di sekolah-sekolah yang mengkhususkan pendidikan mengenai dzikir. Yaitu TAREKAT (THARIQAH).

Sumber & Bahan Acuan :

  1.  Tafsir Ad-Durrul Mansyur Fit Tafsir Al Ma’tsur, Imam Suyuthi.
  2. Tafsir Al Jami’ Liahkamil Qur’an, Al Qurthubi.
  3. Tafsir Al Qur’anul Adhim, Abul Fida’ Ismail Ibnu Katsir.
  4. Tafsir Al Maroghi, Ahmad Musthofa Al Maroghi
  5. Tafsir Al Qosimi, Muhammad Jamaluddin Al Qosimi
  6. Tafsir Fathul Qodir, Al Imam Asy-Syaukani
  7. Al Asas Fie Tafsir, Said Hawa
  8. Taisir Aly Al Qodir Li-ikhtishor Tafsir Ibnu Katsir, Muhammad Nasib Ar-Rifai
  9. Bada’iut Tafsir Al Jami’ Litafsir Ibnu Qoyyim Al Jauziyyah, Yasri As-Sayyid Muhammad
  10. BLOG : agussyafii.blogspot.com & maktabah-jamilah.blogspot.com

ARTIKEL TERKAIT :

  1. Inti Dari Metode NAQS adalah Menegakkan Dzikrullah
  2. Macam-Macam Dzikir Dalam Tharekat 
  3. Ringan di Lidah Namun Besar Pahalanya
  4. Do’a dan Dzikir Pelita Hati, Cahaya Bumi dan Langit. 
  5. Arti Dzikir Dalam Tharekat
  6. Intinya Bukan Mursyid & Thariqah, Tapi Apakah Niat Di Hatimu Tulus Mencari Allah..?  
  7. Siapa Yang Tidak Memerlukan Pembimbing (Mursyid)…?
Wallahu A’lam Bish Showab

>KUMPULAN BEBERAPA HADITS PILIHAN

>

IMAN

© Iman itu, ialah engkau iman percaya dengan yakin kepada Allah, kepada malaikat-malaikatNya, kepada kitab-kitabNya, kepada utusan-utusanNya, kepada hari akhir (akan dibangkitkan dari kubur) dan yakin kepada taqdir (ketetapan Allah), taqdir yang baik maupun buruk (Muslim dari Umar)


© Seutama-utama amal, ialah beriman kepada Allah dan rasulNya (Bukhori)

© Tiga perkara, barangsiapa terdapat padanya yang tiga perkara itu, terasalah olehnya kemanisan Iman. mencintai Allah dan rasul-Nya, lebih dari mencintai segala yang lain mencintai seseorang semata-mata karena Allah benci kembali kepada kufur, serupa dengan benci dicampakkannya ke dalam api yang bernyala-nyala (Bukhori dan Muslim)

© Rasulullah bersabda: Orang yang paling bahagia dengan syafaatku di hari kiamat adalah yang mengucapkan Laailaahaillallahu dengan ikhlas dari dalam hatinya (Bukhori)

© Rasul bersabda: Allah berfirman: Jika hambaKu mengingatKu di dalam dirinya, maka Akupun akan mengingatnya di dalam diriKu (Bukhori dan Muslim)

© Rasulullah SAW: Allah tidak menerima iman tanpa amal perbuatan dan tidak menerima amal perbuatan tanpa iman (Atthabrani)

© Sabda Rasulullah SAW: Seorang mukmin bukanlah pengumpat atau suka mengutuk, tidak keji serta ucapannya tidak kotor (Bukhori)

© Abu Hurairah r.a.: Sabda Rasulullah: Allah berfirman: Apabila hambaKu mengingatKu dalam dirinya, maka Akupun akan mengingatnya dalam diriKu (Muslim)

© Orang mu’min itu adalah menjadi saudara sesama mu’min, karena itu janganlah meninggalkan memberi nasehat dalam segala hal (Ibn Najjar)

© Orang mukmin yang paling utama (baik) ialah orang yang memudahkan penjualan, memudahkan pembelian, memudahkan membayar hutang, dan memudahkan memberikan pinjaman (Thabrani)

© Rasulullah bersabda: Warisan bagi Allah Azza wajalla dari hambaNya yang beriman adalah putera-puteri yang sholeh (beriman padaNya) (Aththahawi)

ISLAM

© Islam ditegakkan atas lima rukun, (1) bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah, dan Muhammad adalah utusan Allah, (2) mendirikan shalat (fardhu lima kali sehari semalam), (3) menunaikan zakat, (4) menunaikan ibadah haji ke tanah suci di Mekah, bagi yang berkuasa, dan (5) puasa ramadhan (bukhori dan Muslim)

© Agama Islam itu luhur dan tinggi, dan tidak akan ada yang melebihi (Aidz bin Umar)

© Rasulullah SAW: Ucapan yang paling benar adalah Al Qur’an (Kitabullah), dan sebaik-baik jalan hidup adalah jalan hidup Nabi Muhammad SAW (Muslim)

© Sabda Rasulullah: Sesungguhnya Assalaam adalah nama dari Allah Taalla yang dilrtakkan di bumi, maka sebarkan ucapan Assalaam diantaramu (Bukhori)

© Rasulullah SAW bersabda: Aku tidak diutus untuk melontarkan kutukan, tapi sesungguhnya aku diutus sebagai pembawa rahmat (Bukhori dan Muslim)

© Sungguh berbahagialah bagi orang yang mendapat hidayah Islam, dan penghidupannya sederhana dan menerima apa yang ada (qana’ah ) (Turmudzi)

© Sungguh berbahagialah orang yang telah masuk Islam, dan diberi rizki cukup, lalu merasa cukup terhadap apa-apa yang diberikan Allah kepadanya (Muslim)

© Yang dimaksud kaya itu bukan saja kekayaan karena banyaknya harta benda, melainkan yang disebut kaya sebenarnya ialah kaya hati (tenangnya jiwa) (Bukhori dan Muslim)

© Tidaklah halal bagi seorang muslim mendiamkan (tidak mengajak bicara) saudaranya yang muslim lebih dari tiga hari, keduanya bertemu lalu ini memalingkan mukanya dan inipun berpaling pula. Dan yang paling baik diantara keduanya ialah yang memulai lebih dulu mengucap salam (Assalamu’alaikum) (Bukhori dan Muslim)

© Rasul SAW: Janganlah sekali-kali seorang laki-laki mukmin membenci istrinya yang beriman. Bila ada perangainya yang tidak disuka, pasti ada perangai yang disuka

SHALAT

© Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seseorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat, maka apabila shalatnya baik (lengkap), maka baiklah seluruh amalnya yang lain, dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain (Thabrani)

© Pekerjaan yang sangat disuka Allah, ialah mengerjakan shalat tepat pada waktunya. Sesudah itu berbakti kepada ibu-bapak. Sesudah itu berjihad menegakkan agama Allah (Bukhori dan Muslim)

© Anas r.a.: Nabi SAW selalu memotivasi umatnya untuk sholat berjamaah dan melarang mereka pergi keluar sebelum imam mereka pergi (Muslim)

© Shalat berjamaah lebih utama daripada shalat sendirian, pahalanya berlipat ganda sampai duapuluh tujuh derajat (dibandingkan dengan shalat sendirian) (Bukhori dan Muslim)

© Rasul Bersabda: Takutlah kamu bila angkat kepalamu dari sujud mendahului imam, karena Allah akan ubah kepalamu jadi kepala keledai (Bukhori dan Muslim)

© Ummu Salamah r.a.: Bila selesai salam pada saat sholat di masjid, Rasul berhenti sejenak agar wanita pulang lebih dahulu sebelum pria (Bukhori)

AMAR MA’RUF NAHI MUNGKAR

© Ubadah r.a.: Ketika wahyu diturunkan padanya, Nabi SAW tampak susah, sengsaranya, hingga air mukanya berubah karena beratnya wahyu tersebut (Muslim)

© Anas r.a.: Do’a Rasulullah SAW: Ya Allah, aku berlindung padaMu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, sia-siakan usia dan dari sifat kikir (Muslim)

© Abu Hurairah r.a.: Sabda Rasul: Sebaik-baiknya wanita adalah yang paling saying terhadap anak yatim yang masih kecil dan paling perhatian terhadap suami (Muslim)

© Andaikata engkau pernah berbuat dosa kepada Allah sehingga langit itu penuh dengan dosa-dosamu, lalu engkau menyesali dengan taubat, maka Allah menerima taubatmu, yakni diampuni dosamu (Ibn Majah)

© Semua manusia (anak Adam) itu melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan itu ialah orang-orang yang suka bertaubat (Turmudzi dan Ibn Majah)

© Jadilah kamu orang yang mengajar atau belajar atau pendengar (orang mengaji), atau pecinta (mencintai ilmu) dan janganlah kamu menjadi orang yang kelima (artinya tidak mengajar, tidak belajar, tidak suka mendengarkan pengajian, dan tidak mencintai ilmu), maka kamu akan hancur (Baihaqi)

© Orang yang bertambah ilmunya dan tidak bertambah petunjuk yang dimilikinya maka ia akan semakin jauh dari Allah SWT (Abu Dawud)

© Barangsiapa menuntut ilmu yang biasanya ditujukan untuk mencari keridhaan Allah, tiba-tiba ia tidak mempelajarinya kecuali hanya untuk mendapatkan harta benda keduniaan, maka ia tidak akan memperoleh bau harumnya sorga pada hari kiamat (Abu Dawud)

© Amal yang paling disenangi oleh Allah, ialah amal yang terus-menerus dikerjakan, walaupun sedikit (Bukhori dan Muslim)

© Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan yang di atas ialah yang memberikan, dan tangan yang di bawah ialah yang minta (menerima) ( Bukhori dan Muslim)

© Barangsiapa yang menanggung anak yatim di rumahnya yakni ia diberi makan dan minum (sama dengan makan dan minumnya), maka Allah akan memasukkan ia di sorga, kecuali jika ia melakukan dosa yang tidak dapat diampuni (Turmudzi)

© Rasulullah SAW: Sesungguhnya sedekah seseorang walau hanya sesuap, akan dikembang biakkan olehNya seperti gunung, maka bersedekahlah (Bukhori dan Muslim)

© Rasul bersabda: Firman Allah: Dekatkanlah dirimu padaKu (Allah) dengan cara mendekatkan diri kepada kaum yang lemah, berbuat ihsan kepadanya (Muslim)

© Pelayanmu adalah saudaramu, samakan makanan/pakaiannya denganmu, jangan beri pekerjaan yang dia tidak mampu mengerjakannya (Bukhori)

© Rasulullah bersabda: Siapa ingin doanya terkabul/dibebaskan dari kesulitan, hendaknya ia membantu/menatasi kesulitan orang lain (Ahmad)

© Rasul SAW: Firman Allah: Siapa niat lakukan kebaikan, tapi tidak kerjakan, maka Allah catat niat itu seperti satu (1) kebaikan penuh di sisiNya (Muslim)

© Nabi bersabda: bila seorang laki-laki memberi nafkah keluarganya semata-mata karena harapkan ridha Allah maka sama dengan dia memberi sedekah (Bukhori)

© Rasul bersabda: tidak satupun milikku yang kusembunyikan darimu, maka jaga harga dirinya niscaya Allah akan menjaganya (Bukhori dan Muslim)

© Rasul: Allah berfirman: Hambaku yang Aku sehatkan, luaskan rizkinya dan selama 5 tahun tidak berhaji, ia akan kehilangan rahmatKu (Al Baihaqi)

© Jabir r.a.: Rasulullah SAW bersabda: Jagalah dirimu dari sifat kikir, karena kikir itu membinasakan umat-umat sebelum kamu (Muslim)

© Rasulullah SAW bersabda: panas api neraka adalah 70x dari panasnya api yang biasa dipakai anak cucu Adam untuk memasak (Bukhori)

© Sabda Rasul: Ihsan ialah beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihatNya, jika tidak mampu, maka yakinkan hatimu bahwa Allah melihatmu (Bukhori)

© Sabda Rasulullah SAW: Sesungguhnya Allah memiliki kecemburuan dan kecemburuan Allah adalah bila seorang mukmin melanggar laranganNya (Bukhori)

© Rasul bersabda: Bila Allah benci seorang hamba, Dia menyeru para penghuni langit untuk membencinya dan kebencian itu merambat ke bumi (Muslim)

© Rasul bersabda: Bila malaikat Allah dapati majelis zikir, ia duduk bersama, kelilingi dengan sayapnya hingga menutupi sampai ke langit (Muslim)

© Ibnu Umar r.a.: Rasul bersabda: Seorang lelaki adalah pemelihara keluarganya dan bertanggungjawab atas semua anggota keluarganya (Bukhori dan Muslim)

© Rasulullah SAW: Jangan mencaci orang yang telah meninggal, karena sebenarnya mereka telah sampai pada apa yang telah mereka lakukan (Bukhori)

© Aisyah r.a.: Rasul bersabda: Bila sifat lemah lembut ada pada sesuatu maka akan menghiasinya dan bila hilang maka akan mengotorinya (Muslim)

© Rasulullah bersabda: Siapa yang mengorek-orek keburukan saudaranya semuslim maka Allah akan mengorek-orek keburukannya (Ahmad)

© Usamah r.a.: Rasul SAW: Aku berdiri di pintu surga, kebanyakan yang memasukinya orang-orang miskin dan yang kaya/berkedudukan tetap bertahan di luar (Bukhori dan Muslim)

© Abu Hurairah r.a: rasul bersabda: Bila kerabatmu jahat terhadapmu, berbuat baiklah selalu kepadanya, maka Allah senantiasa menolongmu (Bukhori dan Muslim)

© Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya Allah Taalla indah dan suka keindahan, suka melihat kenikmatan hambaNya, benci kemelaratan (Muslim)

© Hubungilah orang yang telah memutuskan engkau, dan berilah kebaikan kepada yang telah berbuat jahat kepada engkau, dan katakanlah (berbicaralah) dengan hak (yang sebenarnya) walaupun terhadap dirimu sendiri (Ibn Najar)

© Bukanlah orang yang paling baik daripadamu itu yang meninggalkan dunianya karena akhiratnya, dan tidak pula yang meninggalkan akhiratnya karena dunianya, sebab dunia itu penyampaian kepada akhirat, dan janganlah kamu menjadi beban atas manusia ( Ibnu ‘Asakir)

© Wanita beriman dilarang berkabung lebih dari 3 malam, kecuali kematian suaminya, masa berkabungnya 4 bulan 10 hari (Bukhori dan Muslim).

PUSTAKA HADITS

>Dakwah Dengan Teladan Amal Perbuatan

>

“Action Speaks Louder than Words”
Tindakan nyata lebih penting daripada cuma berkata-kata

“Barangsiapa yang menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga.” (HR Muslim 4/2074 no. 2699 dan yang lainnya dari shahabat Abu Hurairah Radhiallahu’ anhu).

“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, namun hanya mewariskan ilmu. Sehingga siapa yang mengambil ilmu tersebut maka telah mengambil bagian sempurna darinya.” (dari warisan tersebut).(HR At Tirmidzie )

“Hendaklah kamu belajar ilmu (agama) sebelum kamu menjadi pemimpin.” (Riwayat Bukhari secara mu’allaq (tanpa sanad), Ad-Darimi, Ibnu Abdil Barr, dan lainnya)

“ Barangsiapa menyeru kepada hidayah (petunjuk) maka ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun” (HSR. Muslim no. 2674, dari Abu Hurairah)

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yg kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggunganjawabanya.” (QS. Al-Isra’: 36)

“Mengapa kalian mengajak orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kalian melupakan diri (akan kewajib-an)mu sendiri, padahal kalian membaca Al kitab? Maka tidaklah kalian berfikir?” (Al-Baqarah: 44).

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apa yang kalian tidak perbuat? Amat besar kebencian disisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang kalian tidak kerjakan.” (Ash-Shaff: 2-3 ).

Dakwah adalah kegiatan yang bersifat menyeru, mengajak dan memanggil orang untuk beriman dan taat kepada Allah Subhaanahu wa ta’ala sesuai dengan garis aqidah, syari’at dan akhlak Islam. Kata dakwah merupakan masdar (kata benda) dari kata kerja da’a yad’u yang berarti panggilan, seruan atau ajakan.

Kata dakwah sering dirangkaikan dengan kata “Ilmu” dan kata “Islam”, sehingga menjadi “Ilmu dakwah” dan Ilmu Islam” atau ad-dakwah al-Islamiyah.

Ilmu dakwah adalah suatu ilmu yang berisi cara-cara dan tuntunan untuk menarik perhatian orang lain supaya menganut, mengikuti, menyetujui atau melaksanakan suatu ideologi, agama, pendapat atau pekerjaan tertentu. Orang yang menyampaikan dakwah disebut “Da’i” sedangkan yang menjadi obyek dakwah disebut “Mad’u”. Setiap Muslim yang menjalankan fungsi dakwah Islam adalah “Da’i”.

Tujuan utama dakwah ialah mewujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan hidup di dunia dan di akhirat yang diridai oleh Allah. Nabi Muhammad SAW mencontohkan dakwah kepada umatnya dengan berbagai cara melalui lisan, tulisan dan perbuatan. Dimulai dari istrinya, keluarganya, dan teman-teman karibnya hingga raja-raja yang berkuasa pada saat itu. Di antara raja-raja yang mendapat surat atau risalah Nabi SAW adalah kaisar Heraklius dari Byzantium, Mukaukis dari Mesir, Kisra dari Persia (Iran) dan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia).

METODE  & SARANA UTAMA PENYAMPAIAN DAKWAH

Dakwah Fardiah
Dakwah Fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalam jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya dakwah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib. Termasuk kategori dakwah seperti ini adalah menasihati teman sekerja, teguran, anjuran memberi contoh. Termasuk dalam hal ini pada saat mengunjungi orang sakit, pada waktu ada acara tahniah (ucapan selamat), dan pada waktu upacara kelahiran (tasmiyah).

Dakwah Ammah
Dakwah Ammah merupakan jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khotbah (pidato).

Dakwah Ammah ini kalau ditinjau dari segi subyeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-doal dakwah.

Dakwah bil-Lisan
Dakwah jenis ini adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subyek dan obyek dakwah). dakwah jenis ini akan menjadi efektif bila: disampaikan berkaitan dengan hari ibadah seperti khutbah Jumat atau khutbah hari Raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.

Perkataan merupakan sarana yang paling utama dan pertama dalam penyampaian dakwah. Hal ini dapat difahami karena keberadaan Al-Qur’an sendiri merupakan kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah untuk disampaikan kepada orang-orang yang bertakwa. Dalam Al-Qur’an juga banyak didapat keterangan dan gambaran bagaimana para rasul menyampaikan risalah dan dakwahnya melalui bahasa lisan yang disampaikan secara langsung kepada kaumnya.

Perkataan yang disampaikan seorang da’i hendaknya disampaikan dengan bahasa yang jelas dan terang sehingga tidak menimbulkan kebingungan pada audiens. Begitu pula kata-kata yang disampaikannya juga harus dengan bahasa yang baik dan benar agar tidak menimbulkan kesalahfahaman terhadap makna yang dikandungnya. Sifat seorang da’i yang tawadhu’, penuh kesopanan, lemah lembut dan tidak tergesa-gesa dalam menyampaiakan sebuah materi juga sangat membantu dalam keberhasilan sebuah upaya mengajak dan mengarahkan sebuah komunitas. Bentuk konkrit dakwah melalui perkataan ini adalah khutbah, pengajaran, ceramah, amar ma’ruf nahi munkar, diskusi atau perdebatan, dan tulisan.

Pada pembagian ini DR. Abdul Karim Zaidan memasukkan tulisan sebagai bentuk dari salah satu dakwah melalui perkataan. Hal ini dapat difahami karena tulisan merupakan sarana yang sebanding dengan bahasa lisan. Perbedaannya adalah cara pengungkapannya yang menggunakan media dengan bentuk yang lain. Dakwah dengan lisan secara langsung menggunakan bahasa verbal yang disampaikan melalui suara yang dapat didengar oleh audien, sedangkan dakwah melalui tulisan disampaikan oleh seseorang melalui media yang berasal dari kertas ataupun yang sejenis dengan itu agar pesan tersebut dapat dibaca oleh orang lain. Pada awalnya dakwah dengan tulisan ini dipergunakan untuk menyampaikan sebuah pesan karena perbedaan jarak yang menghalangi seseorang untuk menerimanya secara langsung sehingga pesan tersebut dapat disampaikan dengan catatan tertulis yang sifatnya lebih permanen dan sifatnya yang lebih awet. Namun seiring perkembangan zaman, media cetak maupun elektronik memungkinkan sebuah pesan dengan bahasa lisan maupun tulisan dapat disampaikan kepada sekelompok orang dengan pengaturan kecepatan penerimaan maupun daya tahan yang dapat diantisipasi dengan memanfaatkan mesin cetak, alat perekam berupa kaset, dan media massa modern.

Rasulullah telah memulai berdakwah dengan bahasa lisan ini semenjak misi risalah itu diembannya ketika masih bermukim di Makkah maupun ketika Islam mulai dapat diterima secara baik sebagai pola hidup para shahabatnya setelah hijrah ke Madinah. Materi-materi dakwah berupa pemahaman keislaman secara menyeluruh beliau sampaikan dengan bahasa yang jelas dan disampaikan secara berulang serta dengan tahapan pengajaran yang disesuaikan dengan kondisi mental para shahabat sehingga kefahaman yang mereka peroleh selanjutnya dapat diterapkan dalam kehidupan yang lebih nyata. Kesungguhan Rasulullah dalam upayanya memberi pemahaman telah membekas dalam hati dan perilaku para shahabat. Aisyah r.a. telah menyampaikan gambaran tentang sifat ucapan Rasulullah tersebut sebagai berikut, “Ucapan Rasulullah itu selalu berupa ucapan terang yang memberi pemahaman bagi semua orang yang mendengarnya.”

Dakwah melalui tulisan juga dipergunakan oleh Rasulullah untuk menyampaikan pesan dan himbauan kepada beberapa pimpinan kabilah serta para pimpinan negara yang letaknya relatif jauh dari kedudukan beliau ketika berada di pusat kota Madinah. Para ahli sejarah maupun periwayat hadis telah mencatat beberapa kali Rasulullah mengirimkan surat kepada para pemimpin yang berkuasa di wilayah sekitar jazirah Arab dan pendudukan kekuasaan Romawi Timur ketika itu. Himbauan dan ajakan beliau untuk menjalankan ibadah kepada Allah dan menyeru kepada Islam ternyata telah telah membuka mata mereka untuk merespon kedatangan Islam pada masa-masa berikutnya.

Dakwah bil-Haal
Dakwah bil al-Hal adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah (al-Mad’ulah) mengikuti jejak dan hal ikhwal si Da’i (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah.

Pada saat pertama kali Rasulullah Saw tiba di kota Madinah, beliau mencontohkan Dakwah bil-Haal ini dengan mendirikan Masjid Quba, dan mempersatukan kaum Anshor dan kaum Muhajirin dalam ikatan ukhuwah Islamiyah.

Dakwah Bil Haal adalah sarana yang sangat penting berikutnya dalam menyampaikan pesan dakwah dan mengarahkan manusia pada keislaman. Dengan perilaku baik yang ada pada diri para da’i. Perilaku baik tersebut tercermin dari perilakunya yang terpuji, perangainya yang tinggi, dan akhlaknya yang bersih sehingga dia dijadikan sebagai panutan dan teladan yang baik. Sebagaimana Islam tersebar di belahan dunia dengan melalui perilaku baik yang ditunjukkan oleh kaum muslimin, ini merupakan hakikat dari dakwah dengan menggunakan amal perbuatan.

Ada dua hal mendasar berkaitan dengan perilaku baik yang dapat dijadikan sebagai panutan atau dorongan bagi orang lain.

  • Pertama, akhlak atau budi pekerti yang tercermin melalui tabiatnya yang baik. 
  • Kedua, adanya kesesuaian antara ucapan dengan amal perbuatannya. 

Dua hal ini tidak bisa dipisahkan ketika seorang da’i telah membulatkan tekadnya untuk secara total memaksimalkan usaha dan upaya mendakwahkan ajaran Islam, baik di lingkungan yang mayoritas telah beragama Islam dan terlebih lagi jika dia berada dalam komunitas yang berbeda.

Inilah yang telah Rasulullah lakukan dalam kehidupannya sejak masa sebelum diangkatnya menjadi seorang utusan Allah. Sejarah telah membuktikan bahwa sifat-sifat beliau yang dikenal baik dan amanah (al-amin) telah mempermudah perjalanan beliau membawa bangsa Arab ke dalam keislaman yang tidak mantap.

Penyampaian Melalui Amal Perbuatan
Yang dimaksudkan dengan amal perbuatan di sini adalah upaya menghilangkan kemungkaran secara langsung melalui perbuatan atau setidaknya membuat atau mendirikan sebuah aktifitas yang secara langsung maupun tidak langsung mempermudah seseorang untuk menjalankan syari’at Islam, seperti membangun masjid atau sekolah.

Dasar yang dipergunakan untuk dakwah dengan amal perbuatan kongkrit ini adalah hadits yang disampaikan oleh Abu Sa’id Al-Khudri, bahwasanya dia mendengar Rasulullah bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat suatu kemungkaran maka ubahlah dengan tangannya. Jika dia tidak mampu maka ubahlah dengan lisannya. Lalu jika tidak mampu maka dengan hatinya dan yang demikian demikian itulah iman yang paling lemah.”

Menghilangkan kemungkaran dengan perbuatan di sini mengandung pengertian membuang segala hal yang dapat menghalangi sesuatu yang baik atau hak. Kemungkaran itu sendiri sedikit banyak telah menghilangkan kebaikan. Oleh karena itu diperlukan langkah yang bijaksana dalam menangani berbagai macam bentuk kemungkaran yang ada dengan tetap mengacu kepada prinsip-prinsip Islam yang harus dikembangkan melalui metode dakwah yang bijaksana atau penuh dengan hikmah, mau’izdah hasanah, serta mujadalah yang baik.

Dakwah bit-Tadwin
Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, pola dakwah bit at-Tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif.

Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat. Menyangkut dakwah bit-Tadwim ini Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya tinta para ulama adalah lebih baik dari darahnya para syuhada”.

Dakwah bil Hikmah
Dakwah bil Hikmah Yakni menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak obyek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah bi al-hikmah merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasif.

Dalam kitab al-Hikmah fi al dakwah Ilallah ta’ala oleh Said bin Ali bin wahif al-Qathani diuraikan lebih jelas tentang pengertian al-Hikmah, antara lain:

Menurut bahasa:

  • adil, ilmu, sabar, kenabian, Al-Qur’an dan Injil
  • memperbaiki (membuat manjadi lebih baik atau pas) dan terhindar dari kerusakan
  • ungkapan untuk mengetahui sesuatu yang utama dengan ilmu yang utama
  • obyek kebenaran(al-haq) yang didapat melalui ilmu dan akal
  • pengetahuan atau ma’rifat.

Menurut istilah Syar’i:

  • valid dalam perkataan dan perbuatan, mengetahui yang benar dan mengamalkannya, wara’ dalam Dinullah, meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menjawab dengan tegas dan tepat.

Dakwah dengan Perbuatan
Penulis : Sus Woyo
website : kotasantri.com

Laki-laki 29 tahun itu tidak banyak bicara. Wajahnya lumayan rupawan, sehingga banyak teman perempuan sesama warga Indonesia yang sering meliriknya. Tapi ia selalu tak ambil peduli dengan itu semua. Ia sedang belajar setia kepada seseorang, yang insya Allah akan dinikahinya setelah habis masa kontrak kerja di luar negeri. Kata dia suatu saat pada saya.

Namun, bukan penampilan fisik itu yang sedang saya kagumi. Akan tetapi tingkah laku sehari-hari yang membuat saya ‘kesengsem’ pada pemuda ini. Ia sangat sedikit buka mulut, kecuali yang penting-penting saja. Dan tak pernah sedikit pun kedengaran ia mengeluh, apalagi mengumpat. Padahal saya tahu, pekerjaan yang ia emban sangat banyak dan berat. Ia sopir untuk antar jemput anak sekolah. Ia juga setiap pagi antar barang-barang ke restoran dan pasar. Setelah itu, ia juga harus ‘stand by’ petang hari di tempat kami memproduksi mie basah milik majikan saya.

Ia juga masih sempat masak untuk kami, membersihkan kamar, mengangkat jemuran sekaligus melipatkannya rapi-rapi. Kalau ada barang-barang berserakan, cepat-cepat membereskannya, dan tanpa komentar sedikit pun kepada saya maupun kawan-kawan saya. Kalau ada kesempatan libur, ia tidak pernah diam. Pagi-pagi ia sudah membersihkan kawasan tempat kami tinggal. Menyapunya bersih-bersih. Dan memindahkan apa-apa yang dilihatnya kurang nyaman dipandang. Itupun tidak peduli, apakah kawannya mau membantu atau tidak.

Suatu hari, saya ingin sekali bicara banyak padanya. Kenapa ia bisa begitu ikhlas menjalani hidup ini. Kenapa ia bisa begitu sabar dan istiqamah merajut hari-hari di rumah seorang majikan yang boleh dikatakan cukup keras ini.

Saya tidak mengabdi kepada majikan, walaupun saya bekerja padanya. Hakekatnya saya ini sedang mengabdi kepada Yang Esa. Sehingga apa yang saya kerjakan adalah bentuk ibadah saya padaNya. Bentuk dzikir saya padaNya pula. Sehingga saya mencoba terus untuk berbuat yang terbaik. Apa yang ada di hadapan saya, pekerjaan apa saja yang disodorkan pada saya, itu adalah ladang ibadah bagi saya. Jadi saya nikmati saja.

Duh! Kawan, orang shaleh dari mana ini? Sehingga dari mulutnya keluar kata-kata yang begitu indah dan menyejukkan? Saya bertanya-tanya dalam batin. Makin lama, ternyata laki-laki ini makin mengagumkan saja.

Tak hanya sebatas pada pekerjaan. Rupanya pemuda ini juga sangat tanggap terhadap lingkungannya. Ketika di kamar kami hanya ada koleksi musik-musik pop saja, seperti Jamrud, Slank, Sheila On 7, Peterpan, dan kelompok musik pop lainnya, ia menambah koleksinya dengan lagu-lagu yang bernada dan berirama Islami, tanpa menyingkirkan kaset-kaset lainnya. Ia rajin mengoleksi Raihan, Brothers, Haddad Alwi, Mayada, Kyai Kanjeng, bahkan ia sangat gandrung sekali dengan shalawatnya grup nasyid dari beberapa pesantren tradisional. Dan tak ketinggalan ia juga membeli karya-karya legendaris dari Nashida Ria. Yang rupanya di negeri ini sangat terkenal. Sehingga, kalau pagi maupun petang, mengalunlah lagu-lagu rohani atau shalawat dari kelompok-kelompok nasyid tersebut. Rupanya kami ikut larut dalam irama-irama itu.

Dan tak ketinggalan, sehabis menerima gaji, ia memborong buku-buku Islam ataupun majalah-majalah yang berbau Islam. Ia tidak pernah menyuruh kami untuk membacanya. Tapi karena majalah dan buku-buku itu berserakan, akhirnya saya dan teman-teman punya nafsu juga untuk membaca. Satu langkah kecil telah mempengaruhi kami untuk berbuat dan bertindak dengan jalan keagamaan.

Dan beberapa waktu lalu, ia telah mengirimkan uang kepada orangtuanya, agar dipergunakan untuk membuat sumur pompa. Sebab selama ini sumur timbanya, kalau tidak hujan tiga hari saja sudah kering kerontang. Maklum, kampungnya agak sedikit susah air.

Sungguh, saya jadi makin dekat saja dengan teman yang satu ini. Saya juga banyak berteman dengan banyak pekerja dari berbagai bangsa di Brunei ini. Ada yang kalau saya ikuti bisa menjadikan saya menelusuri jalan-jalan menuju ke dasar neraka. Dan yang satu ini, kalau saya ikuti, Insya Allah, akan membawa saya menuju jalan syurga, mudah-mudahan.

Suatu saat, menjelang tidur, ia berbisik pada saya, “Di mana saja dan kapan saja, dan dalam situasi sedang bagaimana pun, dakwah harus kita laksanakan. Walaupun mungkin sangat sederhana sekali. Seperti hanya dengan perantaraan musik, bacaan, atau mungkin hanya sekedar menyingkirkan barang-barang sepele yang kurang enak dipandang mata.”

Ah, ternyata saya baru menyadari bahwa kawan saya ini sedang menyampaikan pesan-pesan mulia para kekasih Allah kepada kami. Bukan hanya lewat kata-katanya yang menggebu-gebu, bukan hanya lewat lisannya bagaikan seorang orator ulung, tapi juga lewat perbuatan sehari-harinya yang terkadang dianggap remeh oleh orang lain, namun betapa mulianya di hadapan Sang Maha Pencipta. Maka tak ada salahnya jika kita mengikuti cara dakwah model laki-laki ini. Dakwah dengan amal, dengan perbuatan.

>Karena Anda Tidak Dapat Membelah Lautan

>

Keistimewaan sejarah Rasulullah saw.
[www.rasoulallah.net] Dalam sejarah Rasulullah saw. terkumpul beberapa keistimewaan yang membuat orang yang mempelajarinya mendapatkan kesenangan ruhiyah, akliyah, dan sejarah, sebagaimana pelajaran ini adalah suatu hal yang sangat perlu di ketahui oleh para ulama syari’at dan para da’I yang mengajak kepada agama Allah Swt. yang memperhatikan kemaslahatan masyarakat. agar mereka bisa menyampaikan syari’at islam kepada orang lain dengan penuh kesabaran, hal ini dapat membuat mereka bertahan dan tetap konsisten ketika berhadapan dengan keadaan-keadaan yang sulit, sehingga ia dapat menyaksikan masyarakat menerima dakwahnya, dan akan terwujud perbaikan yang di dakwahkan oleh orang-orang yang menginginkan perbaikan, dan akan terwujud keberhasilan dan ketepatan dalam meraih target. Berikut kami akan paparkan secara global tentang keistimewaan-keistimewaan sejarah Rasulullah saw.


Pertama:
Sejarah Rasulullah saw. adalah sejarah yang paling valid mengenai sejarah seorang nabi yang di utus, dia agung dan pembaharu, telah sampai kepada kita sejarah hidup Rasulullah saw. melalui jalur-jalur ilmiah yang sangat sahih (valid/akurat) dan sangat kuat tidak tergoyahkan –sebagaimana yang akan kita lihat dalam pembahasan sumber-sumber sejarah- sehingga tidak ada lagi keraguan mengenai fakta-faktanya yang nyata dan kejadian-kejadiannya yang besar, yang memungkinkan bagi kita sekarang mengetahui dengan mudah hal-hal yang di tambahkan dalam sejarahnya tersebut pada masa-masa sekarang ini, baik hal tersebut dari segi kejadian-kejadian, mukjizat-mukjizat, atau bahkan orang yang bodoh yang ingin menambahkan sifat-sifat yang menakjubkan kepada Rasulullah saw. yang melebihi apa yang di inginkan Allah Swt. kepada Rasul-Nya.

Sesungguhnya ciri dari keabsahan sebuah sejarah ialah valid dan tidak ada keraguan di dalamnya hal ini tidak terdapat dalam sejarah para Rasul Allah Swt. terdahulu. Sebagai contoh Musa as. Sejarahnya yang valid yang kita dapati telah bercampur dengan hal-hal pemalsuan dan kebohongan yang di masukkan oleh orang-orang yahudi. Kita tidak akan mampu berfokus ke kitab Taurat yang ada sekarang, untuk mengeluarkan dari kitab tersebut tentang sejarah Nabi Musa as. Yang Valid, beberapa ahli kritik orang barat telah meragukan beberapa isi dari kitab Taurat tersebut, namun sebagian dari mereka memastikan bahwa sebagian dari isi kitab ini di tulis pada masa Nabi Musa as. Masih hidup sebagaimana yang terdapat dalam kitab Taurat.

Oleh karena itu, tidak ada jalan bagi seorang muslim untuk mempercayai keabsahan sejarah hidup Nabi Musa as. Kecuali dengan melalui al Qur’anul Kariem dan sunnah yang Valid.

Demikian juga mengenai sejarah hidup Nabi Isa as., injil-injil yang di kenal orang-orang Kristen sejak bertahun-tahun yang lalu, telah di pilih –tanpa melalui cara yang ilmiah yang valid- diantara beratus-ratus injil yang tersebar pada orang-orang Kristen pada waktu itu, kemudian penisbahan kitab-kitab injil ini ke penulisnya tidak melalui proses yang ilmiah yang valid, dia tidak di riwayatkan dengan sanad (istilah ilmu hadits) yang bersambungan ke penulisnya, di mana perselisihan juga telah terjadi di antara para ahli kritik orang-orang barat mengenai nama-nama beberapa penulisnya ? dan di tahun berapa ia menulisnya?

Jika hal ini terjadi dalam sejarah para rasul Allah Swt. para pemilik agama yang menyebar di seluruh dunia, maka keraguan akan semakin kuat mengenai sejarah pemilik agama-agama dan filosofis-filosofis yang lain yang pengikutnya berjuta-juta orang jumlahnya di dunia, seperti Budha dan konghuchu, karena riwayat-riwayat yang di ambil oleh para pengikut mereka mengenai sejarah mereka tidak mempunyai dasar yang valid dari segi tinjauan pembahasan ilmiah, akan tetapi hal tersebut adalah suatu hal yang di buat-buat oleh para pendeta di antara mereka, dan akan semakin bertambah pemalsuan dan kebohongan-kebohongan di dalamnya dari generasi sebelumnya, tidak mungkin akan di benarkan oleh akal yang sehat yang terbebas dari sifat fanatisme terhadap agama-agama tersebut. Oleh sebab itu, kita mengatakan bahwa sejarah yang paling valid dan kuat secara mutawatir (istilah ilmu hadits) adalah sejarah hidup Rasulullah saw.

Kedua:
Sesungguhnya kehidupan Rasulullah saw. sangat jelas dalam setiap tingkatannya, dari sejak ayahnya Abdullah menikahi ibunya Aminah sampai Rasulullah saw. meninggal, kita mengetahui banyak tentang kelahirannya, masa kecilnya, masa remajanya, usahanya sebelum beliau saw. diangkat menjadi seorang nabi, perjalanannya keluar dari kota mekkah, sampai beliau saw. di utus oleh Allah swt. sebagai seorang Rasul yang mulia, kemudian setelah itu kita mengenal dengan gambaran yang sangat jelas dan sempurna setiap dari keadaannya dari tahun ke tahun, sehingga sejarah hidup Rasulullah saw. sangat jelas dan terang seperti terangnya sinar matahari di siang hari, sebagaimana yang di katakan oleh beberapa orang dari ahli kritik barat:

“Sesungguhnya Muhammad saw. adalah satu-satunya yang di lahirkan dengan sinar matahari (di karenakan jelas dan terangnya sejarah hidup beliau)”.

Dan hal ini yang sangat sulit untuk di contoh oleh para rasul sebelumnya. Seperti halnya Nabi Musa as. Kita tidak mengetahui sedikitpun mengenai masa kecilnya, masa remajanya dan kehidupannya sebelum beliau di angkat menjadi seorang nabi, kita hanya mengenal sebagian kecil dari kehidupannya setelah beliau di angkat menjadi Nabi, akan tetapi hal tersebut tidak memberikan kepada kita gambaran kehidupannya secara sempurna.

Demikan juga Nabi Isa as. kita tidak mengetahui sedikitpun tentang masa kecilnya, kecuali apa yang di beritakan oleh injil-injil sekarang, bahwasanya beliau as. masuk ke Haikal (tempat ibadah) orang yahudi, dan berdiskusi dengan orang-orang alim mereka, Cuma kejadian ini yang menyebutkan tentang masa kecilnya, kemudian kita tidak mengetahui mengenai keadaannya setelah beliau as. di angkat menjadi nabi kecuali hal-hal yang berkaitan dengan dakwahnya, dan sedikit sekali kita menemukan tentang cara-cara hidupnya, selain dari hal tersebut tidak terungkap.

Sementara ketika kita beralih ke sejarah hidup Rasulullah saw., sumber-sumber yang valid menjelaskan dengan terperinci mengenai kehidupan pribadi Rasulullah saw., seperti cara makannya, berdirinya, duduknya, pakaiannya, bentuknya, penampilannya, cara bicaranya, pergaulannya dengan keluarganya, ibadahnya, shalatnya, pergaulannya dengan para sahabatnya, bahkan karena sangat terperincinya riwayat mengenai Rasulullah saw. terdapat riwayat mengenai jumlah rambut dan jenggotnya yang putih saw.

Ketiga:
Sesungguhnya sejarah hidup Rasulullah saw. menceritakan tentang sejarah hidup seorang manusia yang Allah swt. memuliakannya dengan memberikan risalah kenabian kepadanya, maka beliau adalah seorang manusia biasa dan tidak akan keluar dari fitrahnya sebagai seorang manusia biasa, kehidupannya tidak di penuhi dengan mitos-mitos, sedikitpun beliau tidak pernah menyandarkan sifat ke-Tuhanan kepadanya, jika kita membandingkan hal ini dengan apa yang di riwayatkan oleh orang-orang Kristen tentang sejarah hidup Isa as., dan apa yang di riwayatkan oleh orang-orang budha mengenai Budha dan para penyembah berhala tentang tuhan-tuhan mereka, yang mereka sembah. Sangat jelaslah perbedaan antara sejarah hidup Rasulullah saw. dan sejarah mereka.

oleh karena itu, akan terwujud pengaruh yang sangat mendalam dalam perangai manusia atau masyarakat terhadap pengikut mereka, orang yang mengakui bahwa Nabi Isa as. adalah Tuhan begitupun Budha, keduanya sangat jauh untuk di jadikan sebagai panutan dalam konsep kemanusian dalam kehidupan pribadinya dan masyarakat. Sementara Rasulullah saw. senantiasa akan menjadi contoh yang ideal bagi manusia bagi siapapun yang ingin hidup bahagia dan mulia pribadinya, keluarganya dan lingkungannya, oleh karena ini Allah Swt. berfirman, yang artinya:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS: Al Ahzab: 21).

Ke empat:
Sejarah hidup Rasulullah saw. meliputi seluruh segi-segi kemanusian dalam diri seorang manusia, dia menceritakan kepada kita tentang sejarah masa remaja Muhammad Saw. yang sangat jujur (al amin) sebelum Allah Swt. mengangkatnya sebagai Rasul, sebagaimana juga dia menceritakan kepada kita tentang sejarah Muhammad Saw. sebagai seorang da’I yang mengajak kepada agama Allah swt. (Islam), yang menggunakan beberapa wasilah atau cara-cara yang baik agar di terima dakwahnya, beliau saw. mengerahkan segala kemampuannya untuk menyampaikan risalahnya, sebagaimana sejarah ini juga menjelaskan kepada kita bahwasanya beliau saw. adalah seorang pimpinan suatu Negara yang mengatur negaranya dengan tatanan yang kuat dan valid, dan menjaganya dengan segenap perhatiannya, keikhlasannya, dan kejujurannya sehingga bisa mencapai suatu keberhasilan.

Sejarah ini juga menjelaskan kepada kita bahwa beliau saw. adalah seorang suami dan ayah yang penuh dengan kasih sayang, dan berperangai indah, beliau saw. memisahkan dengan jelas antara hak dan kewajiban bagi setiap suami dan isteri serta anak-anak. Sejarah ini juga menerangkan kepada kita bahwa Rasulullah saw. adalah seorang guru atau pendidik yang membimbing dan mendidik para sahabatnya dengan ajaran yang sangat ideal, yang tertuang dari ruh beliau ke dalam ruh mereka, dari jiwa beliau saw. ke dalam jiwa mereka, yang membuat mereka (para sahabatnya) mengikuti beliau saw. dari hal-hal yang terkecil sampai yang besar.

Sejarah ini juga menerangkan kepada kita bahwa Rasulullah saw. seorang yang menunaikan kewajiban-kewajiban persahabatan, memenuhi ketentuan-ketentuannya dan etika-etikanya, sehingga hal ini menjadikan para sahabatnya sangat mencintai beliau sama seperti mereka menyayangi diri mereka masing-masing, yang melebihi cinta mereka terhadap kerabat mereka dan keluaga mereka. Sejarah Rasulullah saw. juga menjelaskan kepada kita bahwasanya beliau saw. adalah seorang ahli perang, pemberani, pemimpin yang menang, ahli politik yang sukses, tetangga yang jujur, dan beliau saw. adalah seorang yang menepati janji.

Sejarah Rasulullah saw. meliputi setiap aspek kehidupan manusia dalam masyarakat, sehingga mampu untuk di teladani oleh setiap da’I, setiap pemimpin, setiap bapak, setiap suami, setiap teman, setiap pendidik, setiap ahli politik dan setiap pemimpin suatu Negara. Dan lain-lain sebagainya.

Kita tidak akan menemukan suatu sejarah hidup yang multi kompleks seperti ini bahkan yang mirip dengannya dari sejarah para rasul terdahulu yang tersisa untuk kita sekarang ini, dan pendiri-pendiri agama baru, begitupun filosofis-filosofis klasik dan modern. Musa as. Di anggap sebagai pemimpin umat yang menyelamatkan umatnya dari perbudakan, dan beliau as. Menjelaskan kepadanya tentang kaidah-kaidah dan dasar-dasar yang baik untuk ke maslahatannya saja, akan tetapi tidak ada yang dapat di ambil oleh para ahli perang dalam sejarahnya, begitupun bagi seorang pendidik, bagi ahli politik, bagi pemimpin Negara, bagi para ayah, dan bagi para suami.

Nabi Isa as. Adalah seorang da’I yang zahid sehingga beliau wafat tanpa memiliki harta, rumah dan barang-barang yang lain, akan tetapi sejara hidup beliau as. Yang terdapat pada orang-orang Kristen beliau as. Tidak berperan sebagai pemimpin yang militan, bukan juga seorang pemimpin suatu Negara, bukan juga seorang ayah, bukan juga seorang suami –karena beliau tidak pernah menikah- dan beliau as. Juga bukan seorang pembuat undang-undang, dan selain dari hal-hal tersebut yang telah di gambarkan dalam sejarah Muhammad saw.

Dan hal ini juga tidak terdapat dalam Budha, Konghuchu, Ariesto, Aplato, dan Napoleon, dan selain dari mereka yang di anggap sebagai orang-orang besar dalam sejarah, karena mereka tidak dapat di jadikan sebagai teladan –sekalipun mereka ada benarnya- kecuali satu sisi dari sisi-sisi kehidupan yang muncul dan terkenal dalam kehidupannya, dan Cuma Muhammad saw. dalam sejarah yang bisa di jadikan sebagai teladan oleh seluruh kalangan manusia.

Kelima:
Dengan sejarah hidup Muhammad saw. saja, adalah sudah cukup sebagai bukti bahwasanya risalah yang di bawah oleh Muhammad saw. dan kenabiannya adalah benar. Dia adalah sejarah seorang manusia biasa yang berjalan menyebarkan dakwahnya dari satu kemenangan ke kemenangan yang lain, bukan dengan cara hal-hal yang di luar dari kemampuan orang-orang awam atau mukjizat, akan tetapi dengan cara alami, Rasulullah saw. telah menyampaikan dakwahnya dan mendapatkan siksaan, beliau saw. menyampaikan dakwahnya dan mendapatkan pengikut, beliau berperang, beliau seorang yang bijaksana, beliau saw. sesuai dengan kepemimpinannya, sebelum beliau saw. wafat dakwahnya telah menyebar ke seluruh Jazirah Arab dengan Iman, bukan dengan cara paksaan dan penaklukan.

Sebagaimana yang di ketahui dari kebiasaan-kebiasaan orang-orang arab dan perlawanan mereka terhadap dakwahnya dengan berbagai macam bentuk perlawanan sehingga beliau saw. hampir terbunuh, dan barangsiapa yang mengetahui singkatnya waktu yang di pakai oleh Muhammad saw. dalam menyampaikan risalahnya sampai beliau saw. wafat yaitu 23 tahun, dia akan yakin bahwasanya Muhammad saw. adalah benar-benar utusan Allah swt., dan hal-hal yang Allah swt. berikan untuknya seperti kebulatan tekad, ketetapan hati, kekuatan , pengaruh dan pertolongan tidak lain keculai bahwasanya beliau saw. adalah benar-benar seorang nabi.

Maka sejarah hidup Rasulullah saw. memberikan kepada kita suatu bukti kebenaran risalah yang di emban oleh Rasulullah saw. dengan cara yang rasional, adapun mukjizat-mukjizat yang terdapat dalam diri Rasulullah saw. bukanlah suatu dasar utama berimannya orang-orang arab dengan dakwahnya, bahkan kita tidak menemukan suatu mukjizat beliau saw. yang membuat orang-orang kafir yang keras kepala mengimaninya, bagaimanapun mukjizat yang bersifat materialis hanya menjadi hujjah bagi orang yang menyaksikannya, orang-orang muslim yang tidak pernah bertemu Rasulullah saw. dan tidak pernah melihat mukjizatnya, namun mereka beriman dengan risalahnya dengan dalil ‘aqliy yang pasti mengenai kebenaran dakwah Rasulullah saw. diantara dalil ‘aqliyah tersebut, ialah: al Qur’anul kariem, dia adalah termasuk mukjizat ‘aqliyah, yang membuat setiap orang yang berakal sehat dan bijak untuk beriman dengan kebenaran dakwah dan risalah Muhammad saw.

Hal ini berbeda dengan sejarah-sejarah para nabi yang terdahulu yang tedapat disisi para pengikut mereka, hal tersebut menunjukkan kepada kita bahwa orang-orang beriman kepada mereka ketika mereka melihat mukjizatnya, tanpa menggunakan akal mereka dalam mempelajari dasar-dasar dakwahnyakemudian mereka tunduk dengan dasar-dasar tersebut.

contoh yang paling jelas mengenai hal tersebut ialah sejarah Isa as. Allah Swt. menceritakan kepada kita melalui al Qur’an bahwasanya Allah Swt. menjadikan penopang pertama dalam menarik orang-orang yahudi untuk mempercayai kebenaran risalahnya, ialah Allah Swt. memberikan kepada Isa as. Mukjizat yang Bisa menyembuhkan penyakit kusta, menyembuhkan orang yang buta sejak lahir, menyembuhkan orang yang sakit dan menghidupkan orang mati, serta mengabarkan kepada mereka apa yang mereka makan dan apa yang mereka simpan di rumah mereka, semua hal tersebut dengan izin Allah Swt.

Semua injil yang ada pada saat ini mengabarkan kepada kita bahwasanya umat nabi Isa as. Beriman kepadanya di sebabkan karena mukjizat-mukjizat tersebut, bukan karena beliau adalah seorang rasul sebagaimana yang telah di ceritakan oleh Al Qur’anul kariem, akan tetapi karena mereka menganggap Isa as. Sebagai tuhan dan anak tuhan (Maha Suci Allah Swt. dari hal-hal tersebut), orang-orang kristen setelah al Masih tersebar dengan mukjizat dan hal-hal yang di luar dari kemampuan orang-orang biasa, dalam safar a’maalu rrusul (bahagian kitab perbuatan-perbuatan rasul) adalah suatu bukti tentang hal tersebut, sehingga bisa kita mengatakan bahwa agama Kristen yang di percayai oleh para pengikutnya adalah agama yang berdiri berdasarkan mukjizat dan hal-hal yang di luar dari kebiasaan sebagai manusia biasa bukan dengan hasil penalaran akal.

Dari sini kita dapat melihat perbedaan yang nyata dalam sejarah Rasulullah saw. bahwasanya tidak satupun orang yang beriman kepada beliau saw. karena menyaksikan mukjizatnya, akan tetapi dengan penalaran akal dan perasaan, jika Allah swt. telah memuliakan rasulnya dengan beberapa mukjizat, hal itu hanya suatu bentuk kemulian terhadap Muhammad saw. dan bantahan terhadap orang-orang yang menolaknya orang-orang yang sombong, barangsiapa yang meneliti al Qur’an dia akan menemukan bahwasanya Muhammad saw. memakai cara pendekatan rasional dalam menyebarkan dakwahnya, begitupun pemandangan-pemandangan sebagai bukti ke Agungan ciptaan Allah Swt. yang bisa terjangkau oleh panca indra, dan dengan mengenal pribadi Rasulullah saw. secara lengkap beliau adalah seorang yang buta huruf hal ini adalah suatu bukti bahwasanya di turunkannya al Qur’an kepada beliau saw. adalah bukti kebenaran risalah Muhammad saw.

Allah Swt. berfirman dalam surah al ‘Ankabut, yang artinya:
“Dan orang-orang kafir Mekkah berkata: mengapa tidak di turunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?” katakanlah: “sesungguhnya mukjizat-mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata”. Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu al Kitab (al Qur’an) sedang dia di bacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (al Qur’an) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman”. (QS. Al ‘ankabuut: 50-51).

Dan ketika orang-orang Quraisy memaksa meminta mukjizat, Allah swt. memerintahkan Rasulullah saw. untuk menjawab mereka dengan mengatakan: “Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia biasa yang menjadi rasul”. (QS. Al Israa’: 93).

Coba anda perhatikan Firman Allah swt. yang artinya:
Dan mereka berkata: “kami sekali-kali tidak percaya kepadamu hingga kamu memancarkan mata air dari bumi untuk kamu, atau kamu mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu kamu alirkan sungai-sungai di celah kebun yang deras alirannya, atau kamu jatuhkan langit berkeping-keping atas kami, sebagaimana kamu katakan atau kamu datangkan Allah dan malaikat-malaikat berhadapan muka dengan kami. Atau kamu mempunyai sebuah rumah dari emas, atau kamu naik ke langit. Dan kami sekali-kali tidak akan mempercayai kenaikanmu itu, hingga kamu turunkan atas kami sebuah kitab yang kami baca” katakanlah: Maha Suci Tuhanku, bukankah aku ini hanya seorang manusia biasa yang menjadi Rasul”. (QS. Al Israa’: 90-93).

Demikianlah al Qur’an menetapkan dan menjelaskan dengan sejelas-jelasnya bahwasnya Muhammad saw. adalah seorang manusia biasa yang di angkat sebagai Rasul, dan bahwasanya beliau saw. tidak mengandalkan mukjizat dalam mengemban risalahnya, akan tetapi Rasulullah saw. berbicara kepada hati dan akal, Allah swt. berfirman yang artinya:

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam”. (QS. Al An’am: 125).

>Ulama Pewaris Ilmu Nabi

>

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلاَئِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي اْلأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ اْلأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ»

Siapa saja yang menempuh perjalanan untuk mencari ilmu, Allah memperjalankannya di atas salah satu jalan surga. Sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap mereka karena ridha kepada penuntut ilmu. Sesungguhnya seorang alim itu dimintakan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi hingga ikan yang ada di dasar lautan. Sesungguhnya keutamaan seorang alim atas seorang abid (ahli ibadah) seperti keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, melainkan mewariskan ilmu. Karena itu, siapa saja yang mengambilnya, ia telah mengambil bagian yang besar.” (HR Abu Dawud, Ibn Majah, at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, al-Hakim, al-Baihaqi dan Ibn Hibban).

Sanad Hadis
Abu Dawud meriwayatkan hadis ini dari Musaddad bin Musarhad. Ibn Majah dan ad-Darimi meriwayatkannya dari Nashr bin Ali al-Jahdhami. Ibn Hibban meriwayatkannya dari Muhammad bin Ishhaq ats-Tsaqafi, dari Abdul A‘la bin Hamad. Al-Baihaqi meriwayatkannya dari Abu Muhammad Abdullah bin Yusuf al-Ashbahani, dari Abu Said Ahmad bin Muhammad bin Ziyad al-Bashri, dari Abu Ya‘la as-Siyaji. Imam Ahmad meriwayatkannya dari Muhammad bin Yazid, dari Ashim bin Raja’ bin Haywah. At-Tirmidzi meriwayatkannya dari Mahmud bin Khidasy al-Baghdadi, dari Muhammad bin Yazid al-Wasithi. Semuanya berasal dari penuturan Abdullah bin Dawud, dari Ashim bin Raja’ bin Haywah, dari Dawud bin Jamil, dari Katsir bin Qais, yang bersumber dari Abu Darda’.

Prof. DR. Kadirun Yahya, M.Sc.

Makna Hadis
Man salaka tharîqan yathlubu fîhi ’ilm[an] salakallâh bihi tharîq[an] min thuruq al-Jannah. Kata tharîq[an] dan ‘ilm[an] dinyatakan dalam bentuk nakîrah (indefinitif). Hal itu untuk mencakup semua jenis jalan yang bisa mengantarkan pada diraihnya ilmu-ilmu agama, juga untuk mencakup gradualisasi dalam hal itu, baik sedikit maupun banyak. Frasa salakallâh bihi maksudnya adalah sahhalallâh lahu (Allah memudahkan untuknya). Artinya, Allah akan memudahkan untuknya jalan ke surga. Hal itu bisa terjadi di akhirat atau di dunia saat Allah memberinya taufik untuk melakukan amal-amal salih yang nantinya bisa mengantarkannya ke surga. Ini merupakan basyarah, bahwa orang yang menuntut ilmu agama akan dimudahkan untuk menguasainya. Frasa ini merupakan dorongan untuk menuntut ilmu-ilmu agama.

Inna al-Malâikah…li thâlib al-‘ilm, artinya para malaikat menaungi penuntut ilmu dengan sayapnya. Hal itu karena para malaikat ridha dan menyukai apa yang diperbuat penuntut ilmu itu.

Wa inna al-‘âlim layastaghfiru lahu … fî al-mâ’. Al-Khathabi menjelaskan, bahwa Allah mengilhamkan kepada ikan dan hewan-hewan agar memohonkan ampunan untuk ulama. Ini merupakan majaz untuk memuji baiknya aktivitas ulama dan kelemahlembutan mereka.

Inna fadhla al-‘âlim (keutamaan seorang alim), yaitu orang yang sibuk menyebarkan ilmu serta melaksanakan amal ibadah yang dharûrî saja, yakni yang wajib dan sunnah muakad. ‘Alâ al-‘âbid (atas seorang ahli ibadah), yaitu orang yang menghabiskan lebih banyak waktunya untuk menunaikan amalan sunnah, dan ia hanya menuntut ilmu yang dharûrî atau pokok saja.

Kafadhli al-qamar laylah al-badri ‘alâ sâ’ir al-kawâkib (seperti kelebihan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang). Diumpamakan demikian karena kesempurnaan, cahaya dan manfaat ibadah seorang ahli ibadah hanya terbatas untuk dirinya sendiri. Hal itu seperti bintang-bintang yang bersinar tetapi sinarnya tidak menerangi bumi. Sebaliknya, kesempurnaan, cahaya dan manfaat ilmu ilmu seorang alim, selain untuk dirinya sendiri, juga sampai kepada orang lain yang ada di sekitarnya bahkan yang sangat jauh darinya. Hal itu seperti bulan yang bersinar dan sinarnya menerangi seantero bumi. Ini juga mengisyaratkan, bahwa kesempurnaan, cahaya dan manfaat ilmu itu bukan ilmu yang datang dari diri ulama itu sendiri, melainkan ilmu yang ia ambil dari ilmu yang diwariskan Nabi saw.; ibarat bulan yang mendapatkan sinar untuk menerangi bumi itu dari matahari.

Wa inna al-ulamâ’ waratsah al-anbiyâ’. Menurut al-Hafizh Ibn Hajar, bahwa orang yang mewarisi menempati kedudukan yang diwarisi berserta hukum pada posisi yang ia gantikan. Artinya, ulama menggantikan peran dan tugas para nabi, yakni mengemban misi penyampaian dan penyebaran risalah Islam.

Wa inna al-anbiyâ’ lam yuwarritsû dînâr[an] wa la dirhâm[an]. Dinar dan dirham (kekayaan) merupakan bentuk warisan pada umumnya. Namun, para nabi tidak mewariskan itu. Hal itu menunjukkan bahwa para nabi tidak mangambil dunia kecuali dalam kadar kebutuhan dharûriyah mereka sehingga mereka tidak mewariskan sesuatu pun dari dunia itu. Ini juga mengisyaratkan bahwa ulama pewaris para nabi itu tidak mengedepankan dunia sebagaimana juga para nabi yang mereka warisi.

Warratsû al-‘ilma, artinya yang diwariskan para nabi tidak lain adalah ilmu, yakni untuk menampakkan Islam dan menyebarkan hukum-hukumnya. Abu Hatim berkata, “Tidakkah Anda memperhatikan Beliau bersabda: Ulama adalah pewaris para nabi dan para nabi tidak mewariskan kecuali ilmu. Ilmu Nabi saw. adalah sunnahnya. Karena itu, siapa saja yang menanggalkan sunnah Nabi saw., ia bukan pewaris para nabi.”

Fa man akhadzahu akhadza bi hazhzhin wâfirin. Ba’ di sini adalah tambahan untuk menyatakan penekanan (li ta’kîd). Artinya, siapa saja yang mengambil ilmu warisan nabi, ia mengambil bagian besar atau secara sempurna; maksudnya mengambil dan mempraktikkan bagian besar dari warisan nabi. Boleh juga akhadza di sini bermakna perintah. Artinya, siapa saja yang ingin mengambil ilmu warisan nabi, hendaknya tidak tanggung-tanggung dan mengambil bagian besarnya atau secara sempurna.

Wallâh a‘lam bi ash-shawâb.

sumber: al-wa’ie [http://forum.dudung.net/index.php?topic=4346.0]