Kaya Hati Kaya Harta

Assalamu ‘alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh

Sahabat, Umat Islam selalu dilanda kebingungan ketika mensikapi soal pilihan antara Kaya Hati & Kaya Harta. Seakan-akan itu adalah dua hal yang saling bertentangan dan tidak dapat dimiliki kedua-duanya secara bersamaan. Orang yang miskin, selalu berujar biar miskin asal kaya hati. dan itu dijadikannya dalih untuk membiarkan dirinya tidak berikhtiar dengan maksimal serta tidak mencari ilmu yang dapat membawa peningkatan kesejahteraan hidupnya. Demikian juga yang kaya harta, terlalu memandang harta sebagai segalanya. Sehingga apapun dia lakukan demi mengejar harta. Serta berupaya mati-matian untuk mempertahankan status quo sebagai orang kaya. Sehingga enggan bahkan haram baginya untuk membantu mensejahterakan sanak saudaranya ataupun masyarakat miskin pada umumnya. Mudah-mudahan ulasan berikut ini dapat menambah wawasan kita bersama agar dapat bersikap dengan tepat mengenai kekayaan, Biarlah Kita Kaya Harta Asal Kaya Hati. Right….

Allah swt berfirman :
“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah, mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi. Orang (lain) yang tidak tahu menyangka bahwa mereka orang kaya karena memelihara diri dari meminta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”(QS. al-Baqoroh (2):273)

Orang kaya pastikah selalu merasa cukup? Belum tentu….
Betapa banyak orang kaya namun masih merasa kekurangan. Hatinya tidak merasa puas dengan apa yang diberi Sang Pemberi Rizki. Pandang matanya masih jauh menerawang melihat apa yang belum diraih dengan melupakan nikmat yang sudah diperoleh. Hatinya masih terasa hampa karena fokus hatinya adalah kekurangan yang belum dia dapatkan.

Sebenarnya kaya hati ialah kaya yang hakiki. Tidak ada lagi kekayaan di atas kaya hati. Kalau hati sudah kaya, maka kekayaan akan dirasai di mana-mana dan dalam apa jua. Keadaan Orang yang kaya hati, kalau mereka diberi kelebihan kaya harta, ramai orang boleh menumpang dan mendapat manfaat dari kekayaannya. Fakir miskin terbela, orang susah dibantu, orang yang memerlukan diberi, dan orang yang berhutang diselesaikan hutangnya .

Orang yang kaya wang ringgit dan harta benda suatu saat bisa jadi jatuh miskin dan papa bahkan boleh jatuh muflis atau bangkrut. Tetapi orang yang kaya hati akan tetap kaya selama-lamanya.

Coba kita perhatikan nasehat suri tauladan kita. Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kaya bukanlah diukur dengan banyaknya kemewahan dunia. Namun kaya (ghina’) adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari no. 6446 dan Muslim no. 1051)

Dalam riwayat Ibnu Hibban, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi nasehat berharga kepada sahabat Abu Dzar. Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu berkata,

قَالَ لِي رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرّ أَتَرَى كَثْرَة الْمَال هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْت : نَعَمْ . قَالَ : وَتَرَى قِلَّة الْمَال هُوَ الْفَقْر ؟ قُلْت : نَعَمْ يَا رَسُول اللَّه . قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْب ، وَالْفَقْر فَقْر الْقَلْب

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai Abu Dzar, apakah engkau memandang bahwa banyaknya harta itulah yang disebut kaya (ghoni)?” “Betul,” jawab Abu Dzar.
Beliau bertanya lagi, “Apakah engkau memandang bahwa sedikitnya harta itu berarti fakir?” “Betul,” Abu Dzar menjawab dengan jawaban serupa.
Lantas beliau pun bersabda, “Sesungguhnya yang namanya kaya (ghoni) adalah kayanya hati (hati yang selalu merasa cukup). Sedangkan fakir adalah fakirnya hati (hati yang selalu merasa tidak puas).” (HR. Ibnu Hibban. Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Inilah nasehat dari suri tauladan kita. Nasehat ini sungguh berharga. Dari sini seorang insan bisa merenungkan bahwa banyaknya harta dan kemewahan dunia bukanlah jalan untuk meraih kebahagiaan yang hakiki. Orang kaya yang fakir hatinya akan selalu merasa kurang puas. Jika diberi selembah gunung berupa emas, ia pun masih mencari lembah yang kedua, ketiga dan seterusnya. Oleh karena itu, kekayaan senyatanya adalah hati yang selalu merasa cukup dengan apa yang Allah beri. Itulah yang namanya Qona’ah. Itulah yang disebut dengan ghoni (kaya) yang sebenarnya.

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Hakikat kekayaan sebenarnya bukanlah dengan banyaknya harta. Karena begitu banyak orang yang diluaskan rizki berupa harta oleh Allah, namun ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang diberi. Orang seperti ini selalu berusaha keras untuk menambah dan terus menambah harta. Ia pun tidak peduli dari manakah harta tersebut ia peroleh. Orang semacam inilah yang seakan-akan begitu fakir karena usaha kerasnya untuk terus menerus memuaskan dirinya dengan harta. Perlu dicamkan baik-baik bawa hakikat kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati (hati yang selalu ghoni, selalu merasa cukup). Orang yang kaya hati inilah yang selalu merasa cukup dengan apa yang diberi, selalu merasa qona’ah (puas) dengan yang diperoleh dan selalu ridho atas ketentuan Allah. Orang semacam ini tidak begitu tamak untuk menambah harta dan ia tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk terus menambahnya. Kondisi orang semacam inilah yang disebut ghoni (yaitu kaya yang sebenarnya).”

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah menerangkan pula, “Orang yang disifati dengan kaya hati adalah orang yang selalu qona’ah (merasa puas) dengan rizki yang Allah beri. Ia tidak begitu tamak untuk menambahnya tanpa ada kebutuhan. Ia pun tidak seperti orang yang tidak pernah letih untuk mencarinya. Ia tidak meminta-minta dengan bersumpah untuk menambah hartanya. Bahkan yang terjadi padanya ialah ia selalu ridho dengan pembagian Allah yang Maha Adil padanya. Orang inilah yang seakan-akan kaya selamanya.

Sedangkan orang yang disifati dengan miskin hati adalah kebalikan dari orang pertama tadi. Orang seperti ini tidak pernah qona’ah (merasa pus) terhadap apa yang diberi. Bahkan ia terus berusaha keras untuk menambah dan terus menambah dengan cara apa pun (entah cara halal maupun haram). Jika ia tidak menggapai apa yang ia cari, ia pun merasa amat sedih. Dialah seakan-akan orang yang fakir, yang miskin harta karena ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang telah diberi. Oran inilah orang yang tidak kaya pada hakikatnya.

Intinya, orang yang kaya hati berawal dari sikap selalu ridho dan menerima segala ketentuan Allah Ta’ala. Ia tahu dan yakin bahwa apa yang Allah beri, itulah yang terbaik dan akan senatiasa terus ada. Sikap inilah yang membuatnya enggan untuk menambah apa yang ia cari.”

Orang yang kaya hati merasa cukup dengan Tuhan. Dia merasa kaya dengan Tuhan. Kalau dunia dan harta ada di tangan, dia susah hati kerana ini bererti tanggungjawab yang berat terhadap agama dan masyarakat yang perlu dipikul. Dia takut kalau-kalau tanggungjawab itu tidak dapat dilaksanakan. Kalau harta itu dapat diberi kepada orang yang memerlukan dan dapat dikorbankan ke jalan Allah, maka terhibur jiwanya dan lapang dadanya. Kalau ini tidak dapat dilakukan maka susah hatinya. Harta dan dunianya di tangan tetapi tidak di hati. Kalau dunia dan harta tidak dimiliki, senang hatinya kerana tanggungjawabnya ringan.

Dia tenang dengan ujian dan kesusahan. Dia tidak digugat oleh hal-hal dunia yang menimpanya sama ada yang berbentuk nikmat dan kesenangan mahupun yang berbentuk ujian dan kesusahan. Dunianya tidak dapat melalaikannya dari Tuhan dan dari tanggungjawabnya.

Orang yang kaya hati tidak merasa inferiority complex atau hina diri dengan orang kaya atau raja, orang cerdik pandai, orang yang berkuasa dan sebagainya. Dia memandang semua manusia semuanya setaraf sahaja. Pada dia, martabat manusia diukur mengikut iman dan taqwanya dan bukan dengan ukuran dunia.

Namun bukan berarti kita tidak boleh kaya harta. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنِ اتَّقَى وَالصِّحَّةُ لِمَنِ اتَّقَى خَيْرٌ مِنَ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنَ النِّعَمِ

“Tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa. Dan sehat bagi orang yang bertakwa itu lebih baik dari kaya. Dan bahagia (kelapangan jiwa) itu bagian dari kenikmatan.” (HR. Ibnu Majah no. 2141 dan Ahmad 4/69. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

Dari sini bukan berarti kita tercela untuk kaya harta, namun yang tercela adalah tidak pernah merasa cukup dan puas (qona’ah) dengan apa yang Allah beri. Padahal sungguh beruntung orang yang punya sifat qona’ah.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ وَرُزِقَ كَفَافًا وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ

“Sungguh sangat beruntung orang yang telah masuk Islam, diberikan rizki yang cukup dan Allah menjadikannya merasa puas dengan apa yang diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054)

Allah berfirman :
“Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (doa hamba-Nya).” (QS.11:61)
artinya membangun kehidupan atau peradaban yang baik,benar dan Islami.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al-Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi (perak, aluminium, minyak,atom dll) yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfa’at bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya ALLAH mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal ALLAH tidak dilihatnya. Sesungguhnya ALLAH Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”(QS.57:25)

artinya umat Islam haruslah mendirikan industri, membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan dan pendidikan akhirnya memakmurkan umat Islam serta memperkuat pertahanan agama dan umat.

Sifat qona’ah dan selalu merasa cukup itulah yang selalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam minta pada Allah dalam do’anya. Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أنَّ النبيَّ – صلى الله عليه وسلم – كَانَ يقول :  اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa membaca do’a: “Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina” (Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina).” (HR. Muslim no. 2721). An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “”Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/41]

Muslim Ideal: Yang Kaya atau Yang Miskin?

Rasulullah bersabda :
“Wahai Amr, alangkah baiknya harta yang baik itu dimiliki oleh orang yang baik.”[Musnad Ahmad, no. 17763.]

Sebuah tulisan yang sangat menggugah yang ditulis oleh Anis matta, “Pandangan Islam terhadap Harta” menggetarkan hati saya. Disebutkan

“INDIKATOR KESHALEHAN ATAU KEBURUKAN MASYARAKAT APABILA UANG ITU BEREDAR LEBIH BANYAK DI TANGAN ORANG-ORANG JAHAT MAKA ITU INDIKASI BAHWA MASYARAKAT ITU RUSAK. APABILA UANG ITU BEREDAR DI KALANGAN ORANG-ORANG SHALEH MAKA ITU INDIKASI BAHWA MASYARAKAT ITU SEHAT.

Kenapa umat Islam dianggap bodoh, terbelakang dan miskin. Karena yang menguasai kekayaan di Dunia adalah orang-orang jahat dan muslim yang keislamannya belum mantap. Jadi, kita sebagai orang-orang baik berdosa jika membiarkan kekayaan dikuasai oleh orang-orang jahat padahal kita juga mampu seperti mereka karena kita memiliki Allah yang maha Kaya. Kenapa kita miskin, karena kita tidak belajar masalah uang. pandangan kita tentang kekayaan harus dirubah dari “Biar miskin asal bahagia menjadi BIAR KAYA ASAL BAHAGIA”.

Jangan heran ekonomi dunia saat ini kacau balau karena yang menguasai ekonomi dunia adalah orang-orang tidak baik dan Indonesia juga menjadi negara terbelakang, karena yang menguasai ekonomi Indonesia adalah orang-orang yang tidak baik. Lihat saja, daftar 10 besar orang terkaya di Indonesia, pemilik 3 merek rokok nasional terpampang disana. Masyarakat tidak tahu, dibalik topeng-topeng beasiswa dan program sosial yang diberikan oleh perusahaan rokok tersebut, salah satu dari mereka membuat sebuah tempat judi mewah di Las Vegas.

Kaya atau miskin bukanlah sebuah dosa yang harus dihindari. Ketika Allah SWT meluaskan rizqi seseorang, bukanlah sebuah jebakan untuk menyeretkan ke dalam neraka. Dan ketika Allah menyempitkan rizqi hamba-Nya, belum tentu menjadi jaminan atas surga-Nya.

Semua akan kembali kepada bagaimana menyikapinya. Rasa kurang tepat kalau dikatakan bahwa muslim ideal itu adalah yang miskin saja atau yang kaya saja. Yang ideal adalah yang miskin tapi bersabar dan yang kaya tapi banyak berinfaq serta syukur. Keduanya telah dicontohkan langsung oleh Rasulullah dan para shahabatnya.

Abu Bakar as-shiddiq, Utsman bin Al-Affan, Abdurrahman bin Al-Auf radhiwallu anhum adalah tipe-tipe shahabat nabi yang diluaskan rezekinya oleh Allah. Bahkan Umar bin Al-Khattab pun pernah diberikan kekayaan yang luar biasa berlimpah. Dan yang paling kaya di antara semua itu adalah Rasulullah SAW sendiri.

Siapa bilang Rasulullah SAW itu miskin dan tidak punya penghasilan. Bahkan dibandingkan dengan saudagar terkaya di Madinah, pemasukan Rasulullah SAW jauh melebihi. Memangnya apa sih profesi Rasulullah SAW? Berdagang?

Tidak, beliau SAW bukan pedagang. Dahulu sewaktu belum diangkat menjadi nabi, memang beliau pernah menekuni profesi sebagai pedagang. Tapi profesi itu sudah tidak lagi beliau lakoni setelah itu, terutama setelah beliau diangkat jadi nabi.

Pemasukan beliau adalah dari ghanimah (harta rampasan perang), di mana oleh Allah SWT beliau diberikan hak istimewa atas setiap harta rampasan perang. Bila suatu kota atau negeri ditaklukkan oleh kaum muslimin, maka beliau punya hak 20% dari pampasan perang. Hak ini menjadikan Rasulullah SAW sebagai orang dengan penghasilan terbesar di Madinah. Rampasan perang itu bukan harta yang sedikit, sebab terkait dengan semua aset-aset yang ada di negeri yang ditaklukkan.

“Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebagai rampasan perang, maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan ibnussabil, jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba Kami di hari Furqaan, yaitu di hari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS Al-Anfal: 41)

Namun semua hak yang beliau terima itu tidak menjadikan beliau hidup di istana megah, atau mengoleksi semua baju termahal dunia, atau makan makanan terlezat di dunia. Semua tidak terjadi pada beliau, sebab semua harta yang beliau dapatkan hanya beliau kembalikan lagi buat para fakir miskin dan orang-orang tak punya yang membutuhkan.

Kehidupan pribadi beliau sendiri terlalu bersahaja, tidur hanya beralas tikar kasar yang kalau beliau bangun, maka masih tersisa bekas cekatannya di kulit beliau. Bahkan pernah 3 bulan dapur rumah beliau tidak mengepulkan asap.

Demikian juga shahabatnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq, apa sih yang beliau tidak punya dari harta kekayaan dunia. Beliau seorang saudagar besar yang kalau mau menumpuk kekayaan, tidak akan habis dimakan tujuh turunan. Tetapi seluruh harta yang beliau miliki diinfaqkan ke baitul muslimin. Ketika ditanya apa yang disisakan untuk anak dan isteri, beliau hanya menjawab bahwa untuk anak dan isteri adalah Allah SWT. Subhanallah!

Perilaku gemar infaq ini sampai membuat Umar bin Al-Khattab ra iri dengan Abu Bakar. Beliau baru mampu menginfaqkan 50% dari total hartanya saja. Bahkan pernah beliau mendapatkan hak eksklusif atas perkebunan kurma di Khaibar. Kalau dinilai nominal, maka hak itu akan membuatnya sangat kayaraya dan bisa membangun istana termegah di muka bumi dengan biaya pribadi, tetapi beliau justru mewakafkannya di jalan Allah. Padahal perkebunan kurma itu selalu menghasilkan panen tiap tahun sepanjang masa.

Belum lagi Utsman bin Al-Affan ra. yang kemaruk untuk bershadaqah, tidak boleh melihat orang susah, kepinginnya langsung membantu dengan hartanya yang sangat berlimpah.

Pendeknya, Islam sangat tidak mengharamkan kekayaan, bahkan nabi dan para shahabat boleh dibilang termasuk jajaran milyarder dengan usaha dan jerih payah mereka, tetapi yang menarik kita kaji adalah sikap mereka setelah menjadi milyarder itu sendiri. Tidak ada keinginan untuk bermewah-mewah, apalagi pamer kekayaan. Justru semuanya malah dinafkahkan ke baitul-mal muslimin.

Barangkali inilah yang sulit kita contoh di masa sekarang. Untuk sekedar jadi kaya, bikin usaha, punya beberapa perusahaan multi nasional, mungkin kita bisa mencapainya. Tetapi bisakah kita tetap berada di jalan para shahabat itu ketika kekayaan sudah di tangan?

Tentu ceritanya akan lain bila kita sendiri yang mengalaminya. Sehingga banyak orang yang terjebak dengan situasi ini, lalu lebih memilih hidup miskin saja. Tentu ini masalah pilihan hidup dan selera masing-masing individu.

Yang penting, Islam sama sekali tidak mengharamkan umatnya jadi orang kaya, sebab nabi dan para shahabat pun banyak yang kaya. Tapi kalau tidak mampu jadi orang kaya, hidup jadi orang miskin saja pun tidak apa-apa. Tapi biar pun jadi orang miskin, jangan dikira masalah sudah selesai. Selamanyawa masih dikandung badan, selama itu pula ujian dan cobaan masih harus kita hadapi.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Melaju Meraih Tujuan Hidup

“Without goals, and plans to reach them, you are like a ship that sail with no destination” –(Fritzhugh Dodson)

Manusia terlahir di dunia ini dengan kondisi yang berbeda ada laki-laki dan ada wanita, terlahir dalam keluarga kaya, sederhana atau miskin, serta kondisi fisik yang sempurna dan tidak sempurna. Perbedaan ini merupakan anugerah karena dengan perbedaan ini kita bisa belajar lebih banyak lagi mengenai kehidupan. Hal yang paling penting kita harus berusaha sebaik-baiknya dalam hidup ini, kita mempunyai kesempatan yang sama untuk bahagia dan sukses.

Jangan pernah berfikir bahwa ketika kita lahir dalam keluarga miskin maka kita akan miskin selamanya, memang ketika lahir kedunia ini itu bukan kuasa kita untuk menentukan dimana kita akan lahir dan dalam kondisi apa kita terlahir tapi ketika harus meninggal dalam keadaan miskin itu salah anda yang salah dalam menentukan jalan hidup kita.

Tuhan lebih tahu mengapa anda terlahir di dunia ini dalam kondisi miskin atau kaya, syukuri di mana posisi anda sekarang dan mulailah berjuang. Kita akan di beri jawaban ketika kita sudah menjalani kehidupan ini dan ketika kita mulai dewasa kita akan mulai mengerti perjalanan hidup ini, tidak ada sesuatu yang kita lakukan sia-sia dalam kehidupan ini. Semakin bijak anda menyikapi kondisi yang terjadi maka kita akan bisa mengambil hikmah dari kejadian tersebut.

“Dan bagi setiap orang ada memiliki arah yang dituju ke arah mana dia menghadapkan wajahnya. Maka berlomba-lombalah kamu dalam berbuat kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Q.S 2:148)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (Al Wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”( QS. Al Maidah 5:35 )

Sahabat, anda tentu sudah memahami Mekanisme Aliran Energi uang yang saya tulis dalam 2 artikel kemarin. Yaitu MEKANISME ALIRAN ENERGI UANG (Ilmu MetaFisika Uang) dan MEKANISME ALIRAN ENERGI UANG Level 2. Nah, tentu anda sudah memahami bagaimana aliran energi rezeki mengalir dan juga memahami konsep untuk menabung energi positif serta mengkonversinya menjadi wasilah bagi terpenuhinya hajat dan kebutuhan dunia kita.

Sahabat, Visi dan Misi hidup kita hanyalah untuk menuju kepada Allah swt. Tujuan utama dan orientasi kehidupan kita adalah kehidupan akherat. Namun untuk sampai di sana diperlukan manajemen dan strategi yang cukup matang dan jitu. Sehingga kita dapat sampai di tujuan dengan selamat dan sukses. Nah, di sinilah kita harus melengkapi diri dengan berbagai bekal keilmuan dunia yang diperlukan untuk meraih sukses di kehidupan akhirat kita.

Hal itulah juga yang saya berikan melalui program-program pelatihan di NAQS DNA. Dengan berlandaskan SUNATULLAH dan KITABULLAH kami menelurkan berbagai Tool atau perlengkapan hidup untuk membekali diri agar dapat hidup dengan selamat dan sukses di dunia dan akhirat kita. Saya tidak langsung mendidik siswa dengan pelatihan-pelatihan ibadah syariat. Saya tidak mengadakan pelatihan sholat khsyu’ misalnya. Namun hasil akhir dari pelatihan-pelatihan saya, akan sangat menunjang kehidupan beragama dan peningkatan spiritualitas siswa. Mereka akan dapat merasakan hakikat Sabar, Syukur, Ikhlas, dan khusyu’ itu bukan sebatas retorika pembicaraan belaka, tetapi betul-betul sebuah pengalaman jiwa yang dapat dirasakan.

Dalam mencapai tujuan hidup manusia yang sempurna berbagai macam cara dilakukan untuk mewujudkannya. Dalam kenyataan hidup ketika kita menjalani kehidupan ini tidak sesederhana yang kita teorikan saja, hidup ini lebih rumit dari yang kita bayangkan tapi dengan berlandaskan pada Iman, Ilmu dan methode yang benar. Insya Allah jalan hidup kita akan menjadi lebih mantap dan selalu optimis dalam menghadapi segala macam rintangan.

Dari pagi hingga malam orang-orang berlomba-lomba mencari rezeki untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Persaingan dan pengangguran semakin tinggi karena sistem kapitalisme yang sedang mengatur dunia ini membuat manusia menjadi egois, cinta dunia, dan mementingkan diri sendiri, sehingga rasa keperdulian sosial semakin menurun. Yang akibatnya adalah terjadinya monopoli aliran uang oleh beberapa gelintir orang. Sehingga bagi kebanyakan orang akan merasakan bahwa rezeki itu sulit dicari. Yang kaya semakin kikir yang miskin semakin berani.

Oleh karena itulah gerakan Gemar bersedekah yang digaungkan oleh beberapa ulama dan motivator Indonesia, semoga menjadi penyeimbang bagi situasi ini. Ya, Ada solusi yang diluar nalar dan logika bagi penganut Otak Kiri yaitu dengan jalan bersedekah. Manfaat sedekah diluar logika otak kiri, karena sedekah memang merupakan ciri khas amalan penganut otak kanan. Banyak keajaiban dalam sedekah yang kadang membuat kita tercengang.

Bagi logika Matematika 1+ 1 = 2 tapi keajaiban sedekah bisa 1 + 1 = 10, inilah keajaiban dari Allah Swt bagi yang menjalankan amalan yang mulia ini. Semakin kita bersyukur dan ikhlas dalam berbagi untuk bersedekah maka semakin kaya-lah kita, Ini adalah Jaminan dari Allah. Bilamana kita bersyukur maka nikmat akan ditambah.

Ibadah sedekah adalah ibadah yang tidak hanya melibatkan dua pihak yaitu pihak pemberi dan Tuhan tapi juga pihak ketiga yaitu pihak penerima. Ibadah sedekah selalu ada tiga pihak yaitu Pemberi, penerima dan Tuhan. Sehingga manfaat Ibadah Sedekah lebih dari dari Ibadah sendiri (fardu ain).

Berdasarkan kenyataan dalam kehidupan banyak ditemukan keajaiban, hikmah dan manfaat sedekah dan hal ini di luar logika manusia. Orang yang biasa bersedekah batin dan fisiknya akan selalu sehat karena batin terisi dengan kebahagiaan, keihklasan menolong sesama.

Apakah Sedekah harus menunggu iklas?
Pertanyaan diatas pasti pernah terlintas di pikiran dan hati kita. Ternyata menurut Ustadz Yusuf Mansur keikhlasan-pun harus dilatih. Tanamkan kebiasaan dalam bersedekah baik besar maupun kecil dalam kehidupan sehari-hari kita. Ikhlas butuh proses untuk eksis dibalik kondisi susah dan senang, baik sedang sehat ataupun sakit. Sehingga bila terlatih apapun kondisi kehidupan kita rasa ikhlas bersedekah akan selalu ada. Jadi kesimpulannya Niat Sedekah tidak perlu menunggu ikhlas. lakukan saja..

Percayalah, sedekah perlu latihan. Sedekah banyak juga perlu latihan. Percayalah bahwa Allah swt itu Maha Mencukupi kebutuhan makhlukNya. Saya kira anda tentu sering mengalami pengalaman yang aneh dan di luar logika. yaitu, berapapun pengeluaran anda dalam satu bulan. Ada saja rezeki dari Allah yang datang untuk menutupi kebutuhan kita akan biaya pengeluaran tersebut. Betul tidak…??

Saya sering mengalami hal seperti itu, ada sebuah kisah. Dulu saat saya masih bekerja menjadi Kepala Produksi di sebuah perusahaan swasta. Saya mendapat Gaji sebesar Rp. 1.200.000 per bulan. dan saat itu sepeda motor saya satu-satunya sudah terlalu banyak memerlukan biaya perawatan dan perbaikan, maklum motor tua. Akhirnya saya putuskan untuk menjualnya dan saya mengambil kreditan sepeda motor dengan cicilan sebesar Rp. 950.000,- per bulan. nah, kebayangkan….. Apakah cukup gaji saya untuk menutupi biaya cicilan dan biaya hidup keluarga…?? tapi, apa yang terjadi. Motor dapat saya bayar hingga lunas tanpa pernah telat mengangsur. dan keluarga sayapun tidak pernah kekurangan makan. Nah. itulah kebesaran Allah SWT yang Maha Mencukupkan Rezeki.

Nah, maka mengapa kita ragu-ragu untuk mensedekahkan sebagian harta kita..?? Bila sedekah sudah menjadi bagian dari pola hidup kita, alias sudah biaya tetap pengeluaran rutin kita. Maka, Insya Allah rezeki kita tetap akan dicukupi oleh Allah swt. Bahkan tidak menutup kemungkinan, Allah aan memberikan anugerah rezeki yang berlipat ganda. Baik rezeki yang berbentuk materi (Fisik) ataupun rezeki yang non materi (metafisik) berupa ketentraman hati dan keluarga kita. Serta keberkahan hidup kita.

Dalam hadits dikatakan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« إِنَّ اللَّهَ قَالَ لِى أَنْفِقْ أُنْفِقْ عَلَيْكَ ». وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَمِينُ اللَّهِ مَلأَى لاَ يَغِيضُهَا سَحَّاءُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْفَقَ مُذْ خَلَقَ السَّمَاءَ وَالأَرْضَ فَإِنَّهُ لَمْ يَغِضْ مَا فِى يَمِينِهِ »

“Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993)

Dalam hadits qudsi disebutkan, Allah Ta’ala berfirman,

يَا عِبَادِى لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ قَامُوا فِى صَعِيدٍ وَاحِدٍ فَسَأَلُونِى فَأَعْطَيْتُ كُلَّ إِنْسَانٍ مَسْأَلَتَهُ مَا نَقَصَ ذَلِكَ مِمَّا عِنْدِى إِلاَّ كَمَا يَنْقُصُ الْمِخْيَطُ إِذَا أُدْخِلَ الْبَحْرَ

“Wahai hamba-Ku, seandainya orang-orang yang terdahulu dan orang-orang yang belakangan serta semua jin dan manusia berdiri di atas bukit untuk memohon kepada-Ku, kemudian masing-masing Aku penuhi permintaannya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan yang ada di sisi-Ku, melainkan hanya seperti benang yang menyerap air ketika dimasukkan ke dalam lautan.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar Al Ghifari).

Ibnu Hajar Al Asqolani rahimahullah berkata, “Allah sungguh Maha Kaya. Allah yang memegang setiap rizki yang tak terhingga, yakni melebihi apa yang diketahui setiap makhluk-Nya.” [Fathul Bari, Ibnu Hajar Al Asqolani, Darul Ma’rifah, Beirut, 1379, 13/395.]

Sahabat, Tulisan saya ini tidak hanya tertuju kepada para pembaca saja, tetapi yang terutama adalah tertuju kepada diri saya sendiri. Artinya, saya tidak boleh hanya bisa ngomong doang. Tetapi saya juga harus aktif melatih diri untuk giat bersedekah. Ya, memang demikianlah hakikatnya belajar di NAQS DNA. Sebagai guru besar NAQS DNA, saya ini juga tidak pernah berhenti belajar dan berlatih. Komunitas NAQS DNA adalah komunitas pembelajar. Maka semua personilnya, siapapun saja haruslah menumbuhkan spirit seorang pembelajar sejati.

Kembali pada pembahasan sedekah. Nah, tentu sahabat tahu. Bahwa amal ibadah itu tidak bisa dibeli dengan uang. Tetapi dengan sedekah, kita bisa meraih faedah amalan tanpa perlu melakukannya.

Contoh :

  • Ingin dapat pahala Zikir..?? Biayai dan suport majelis zikir. Insya Allah anda turut mendapat pahala Zikir.
  • Ingin dapat pahala haji & Umroh..?? Biayai haji & Umroh orang lain. Insya Allah anda turut mendapat pahala haji & Umroh.
  • Ingin dapat pahala Ilmu yang bermanfaat..?? Biayai dan suport kegiatan keilmuan dengan mengirimkan donasi anda ke majelis NAQS DNA misalnya. Insya Allah anda turut mendapat pahala orang yang belajar ilmu yang bermanfaat.
  • Dan masih banyak lagi. hampir-hampir semua amalan.

Sedekah juga sebuah amalan yang praktis.

  • Haji & Umrah, anda perlu berhari-hari di mekkah.
  • Puasa sunah, butuh waktu seharian.
  • Sholat sunah, perlu waktu minimal 5 menit hingga seperempat jam.
  • Membaca Kitab Suci, mungkin perlu waktu seperempat jam.
  • Berzikir, perlu waktu 10 menit hingga setengah jam.
  • Kalau sedekah…?? hanya perlu sekian detik anda merogoh uang dari dompet anda. Tidak perlu bacaan khusus, tidak perlu gerakan husus, Tidak perlu takut apakah amalan ini mengandung unsur syirik, dll. Nah praktis khan…??
  • Bahkan bagi praktisi NAQS DNA, perlu anda ketahui. Sedekah itu dapat meningkatkan level energi anda hingga ribuan kali lipat dan menyempurnakan keilmuan anda. Tidak percaya, tanya ke semua orang pintar dan guru spiritual. Bukankah hampir semua akan meng-iya-kan bahwa ketika seseorang selesai mengamalkan sebuah ilmu, biasanya akan ada ritual selamatan. Betul tidak…?? Bukankah selamatan itu adalah juga sedekah…???

Memang setiap amalan mempunyai keutamaannya sendiri-sendiri yang tidak bisa dibandingkan sesederhana itu. Di sini, kami hanya berusaha menunjukkan betapa praktisnya amalan sedekah itu. Bukan saja Praktis, sedekah juga POWERFULL.

Sahabat, bila anda belajar ilmu apapun saja. Anda tidak akan berhasil dengan sempurna bila hati anda setengah-setengah. Curahkan segenap hati dan jiwa, juga tenaga dan harta (JIHAD). dan menghadaplah dengan wajah yang lurus. Serta berlomba-lombalah dalam kebaikan. Maka segala keberhasilan akan menjadi milik anda. Kesuksesan hidup akan berada di dalam genggaman tangan anda.

Di dalam Al-Qur’an, baik atau kebaikan menggunakan kata ihsan, birr dan ishlah. Kata ihsan (ahsan dan muhsin) bisa dilihat pada firman Allah:

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Dan siapakah yang lebih baik agamanya daripada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia pun mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya. (QS 4:125)

Bila dikaitkan dengan definisi ihsan dalam hadits kedatangan Jibril kepada Nabi Muhammad Saw, maka ihsan adalah perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang karena merasakan kehadiran Allah dalam dirinya atau dia merasa diawasi oleh Allah SWT yang membuatnya tidak berani menyimpang dari segala ketentuan-Nya.

Sedangkan kata baik dalam arti birr bisa dilihat pada firman Allah:

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَءَاتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Bukanlah sekedar menghadapkan wajahmu ke timur maupun ke barat yang disebut suatu kebaikan, tetapi sesungguhnya kebaikan itu ialah beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat, kitab dan nabi-nabi serta memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa (QS 2:177).

Bila kita kaji ayat-ayat tentang kata al birr, termasuk ayat di atas, maka akan didapat kesimpulan bahwa kebaikan itu seperti menurut Mahmud Syaltut dalam tafsirnya dibagi menjadi tiga, yakni birr dalam aqidah, birr dalam amal dan birr dalam akhlak.

Adapun kata baik dengan menggunakan kata ishlah terdapat dalam banyak ayat, misalnya pada firman Allah:

فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْيَتَامَى قُلْ إِصْلَاحٌ لَهُمْ خَيْرٌ وَإِنْ تُخَالِطُوهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ الْمُفْسِدَ مِنَ الْمُصْلِحِ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَأَعْنَتَكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Tentang dunia dan akhirat. Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah: mengurus urusan mereka secara patut adalah baik. (QS 2:220)

Istilah ishlah (berlaku baik) digunakan dalam kaitan hubungan yang baik antara sesama manusia. Dalam Ensiklopedia Hukum Islam, jilid 3 hal 740 dinyatakan: “Ishlah merupakan kewajiban umat Islam, baik secara personal maupun sosial. Penekanan ishlah ini lebih terfokus pada hubungan antara sesama umat manusia dalam rangka pemenuhan kewajiban kepada Allah SWT”.

Di dalam Al-Qur’an, Allah SWT menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Namun, kemuliaan manusia ternyata tidak terletak pada keindahan fisiknya. Kalau manusia dianggap mulia dengan sebab badannya yang besar, tentu akan lebih mulia binatang ternak seperti sapi, kerbau, unta, gajah dan sebagainya yang memiliki berat badan jauh lebih berat. Karenanya bila manusia hanya mengandalkan kehebatan dan keagungan dirinya pada berat badan, maka dia bisa lebih rendah kedudukannya daripada binatang ternak yang kemuliaannya terletak pada berat badannya. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. (QS 7:179)

Oleh karena itu, kemuliaan manusia bisa kita pahami dari iman dan amal shaleh atau kebaikannya dalam bersikap dan bertingkah laku, di manapun dia berada dan dalam keadaan bagaimanapun situasi dan kondisinya. Itu sebabnya, semakin banyak perbuatan baik yang dilakukannya, maka akan semakin mulia harkat dan martabatnya di hadapan Allah SWT. Di sinilah letak pentingnya bagi kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sebagaimana firman Allah di awal tulisan ini.

Sahabat, Hidup itu harus mempunyai arah dan tujuan. Andai kata tujuan sudah ditetapkan, sepelan apapun kita bergerak insya Allah itu merupakan sebuah kemajuan, tetapi bagi orang yang tujuannya tidak tetap, segigih apapun bergerak bisa jadi menuju kehancuran.

Tujuan adalah acuan dalam membuat rencana. Sementara rencana adalah panduan dari tindakan Anda. Tanpa tujuan Anda tidak punya rencana, tanpa rencana tindakan Anda tidak akan terarah. Tujuan akan sangat membantu dalam keefektifan Anda bertindak, bahkan tujuan bisa memberikan gairah hidup yang lebih besar.

Tujuan sangat vital bagi kesuksesan Anda, selain sebagai sumber motivasi, dengan tujuan bisa melihat sudah sampai dimana kemajuan kita. Tujuan dapat memfokuskan tindakan kita dengan kata lain dapat meningkatkan konsentrasi. Tindakan yang terfokus atau konsentrasi akan menghasilkan hasil yang lebih baik dan lebih cepat.

Tujuan membuat hidup lebih mudah, karena tindakan-tindakan yang akan kita lakukan lebih tersusun dan terorganisasi. Hidup kita lebih jelas, rapi, teratur, dan yang lebih penting ialah hidup kita menjadi lebih terkendali. Ketidakpastian tujuan adalah titik awal dari semua kegagalan. Untuk menjadi sukses, Anda harus memutuskan dengan tepat apa yang Anda inginkan, tuliskan dan kemudian buatlah sebuah rencana untuk mencapainya.

Sahabat, semakin jelas tujuan Anda maka akan semakin jelas juga langkah-langkah Anda untuk mencapai tujuannya itu, bahkan mungkin sebagian langkah Anda akan menjadi otomatis. Tujuan menimbulkan energi yang luar biasa dahsyatnya. Dengan adanya tujuan hidup yang jelas, kita bisa melangkah dengan pasti tak peduli seganas apapun jalan yang harus dilalui.

Banyak kisah yang dapat kita baca, yang mana seseorang rela menjadi seorang office boy, namum beberapa tahun kemudian kita mengenalnya sebagai seorang dosen, trainer, pengusaha dan juga motivator. Tujuan hidup yang mengkristal membuat kita tetap beroleh cahaya walau dunia kita seakan-akan sedang gelap gulita. Dan ketika mentari bersinar kita akan tersenyum bahagia karena menyadari kita masih berada di jalan yang kita tuju.

Tidak seperti mereka yang hidup tanpa tujuan setelah mendapati jalannya berujung semak belukar, mereka berbalik arah mencari jalan lain yang lebih mudah padahal jalan yang baru itu tak berujung. Atau mereka yang mendaki tangga, setelah lama nian mendaki tingkat demi tingkat, sampai di atas baru mereka sadar ternyata tangga yang mereka daki bersandar di dinding yang salah. Mereka bersandar pada dinding semu, yang berupa tujuan-tujuan jangka pendek belaka. Tanpa visi hidup yang menjangkau hingga kehidupan akherat.

Bersama komunitas NAQS DNA, anda di bimbing menemukan tujuan hidup hakiki anda yang tidak hanya menjangkau dimensi duniawi belaka, tetapi juga jauh menjangkau kehidupan setelah kematian kita. Bersama NAQS DNA anda ditunjukkan langkah-langkah mudah dan praktis dalam meraihnya. Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus pada Tujuan Hidup anda tersebut, dan berlomba-lombalah menyambut setiap program yang diluncurkan. Jadilah orang yang pertama yang mendahului siswa yang lain dalam menyongsong wasilah yang diberikan. Jangan hanya duduk di tepian, tetapi masuklah ke tengah ruang keluarga. Dan nikmatilah kehangatan & kebersamaan keluarga besar NAQS DNA. SALAM SUKSES..

MEKANISME ALIRAN ENERGI UANG Level 2

Menjual Semua Hartanya untuk Sedekah, Malah Kaya Raya (Kisah Nyata)
Kisah ini sebenarnya diawali kegundahan sepasang suami istri akan kebahagiaan yang mereka dapatkan dari harta yang dimiliki. Mereka seakan tidak merasa bahagia walaupun hartanya berlimpah. Bagi mereka, yang terpenting adalah ketenangan hidup. Akhirnya suami istri ini mengambil keputusan yang tergolong nekat. Mereka memberikan hampir semua hartanya untuk mereka sedekahkan di jalan Allah. Hanya satu tujuan mereka; ingin hidup tenang dan tidak terbelenggu dengan nikmat sementara duniawi. Mobil dan beberapa harta berharga lain mereka jual dan mereka sedekahkan. Mereka tidak takut akan kelaparan, karena mereka yakin Allah pasti akan menolong dan memberikan jalan terbaik bagi mereka.

Allahu Akbar! Bukan kesengsaraan yang mereka dapatkan akibat membuang hampir semua harta mereka demi ingin memulai hidup sederhana itu, tetapi kekayaan suami istri ini malahan berlipat-lipat tak terhingga. Kini mereka mempunyai dua perusahaan besar, seakan-akan perusahaan yang dulu dijual untuk disedekahkan malahan diganti 2 perusahaan yang jauh lebih besar dan sangat terkenal oleh Allah. Kini mereka sangat bahagia dengan kekayaan yang mereka miliki. Lebih dahsyat lagi, sepasang suami istri ini ingin memulai lagi seperti yang mereka lakukan beberapa tahun yang lalu. Mereka akan menyedekahkan dua perusahaan itu, bukan imbalan Allah yang mereka harapkan, tapi perasaan sangat dekat dengan Allah dan merasa diperhatikan dan disayang Allah itulah yang tidak bisa digambarkan oleh mereka saat melakukan cara ini.

Sebenarnya langkah yang dilakukan oleh sepasang suami istri ini adalah langkah logis, cuma belum banyak orang yang berani melakukannya. Tentang sedekah Allah bahkan menjanjikan langsung akan melipat gandakan beberapa kali lipat jika manusia melakukannya dengan ikhlas hanya untuk Allah semata. Bahkan balasan atau pahala dari sedekah akan lebih berlipat-lipat lagi jika dilakukan untuk keperluan berjuang di jalan Allah. Semoga kisah di atas bisa membuka mata hati kita akan kekuatan sedekah. Sedekah seperti bernafas, kita harus mengeluarkan nafas kotor banyak untuk bisa menghirup udara bersih banyak pula. Jika mengeluarkan nafas kotor sedikit, akan sedikit pula udara bersih yang bisa kita hirup. (Sumber cerita : Petamalang)

The Power Of Giving Menolak Kematian
SUATU hari, Malaikat Izrail mendatangi Nabi Ibrahim, dan bertanya, “Siapa anak muda yang tadi mendatangimu wahai Ibrahim?…”
Yang anak muda tadi maksudnya?…” tanya Ibrahim. “Itu sahabat sekaligus muridku.”

“Ada apa dia datang menemuimu?…”
“Dia menyampaikan bahwa dia akan melangsungkan pernikahannya besok pagi.”

“Wahai Ibrahim, sayang sekali, umur anak itu tidak akan sampai besok pagi.”
Habis berkata seperti itu, Malaikat Kematian pergi meninggalkan Nabi Ibrahim. Hampir saja Nabi Ibrahim tergerak untuk rriemberitahu anak muda tersebut, untuk menyegerakan pernikahannya malam ini, dan memberitahu tentang kematian anak muda itu besok. Tapi langkahnya terhenti. Nabi Ibrahim memilih kematian tetap menjadi rahasia Allah.

Esok paginya, Nabi Ibrahim ternyata melihat dan menyaksikan bahwa anak muda tersebut tetap bisa melangsungkan pernikahannya.

Anak muda itu masih dikaruniai umur panjang hingga usia 70 tahun.
Nabi Ibrahim bertanya kepada Malaikat Kematian.
“Apa gerangan yang membuat Allah menahan tanganmu untuk tidak mencabut nyawa anak muda tersebut, dulu?…”

“Wahai Ibrahim, di malam menjelang pernikahannya, anak muda tersebut bersedekah. Dan ini yang membuat Allah memutuskan untuk memanjangkan umur anak muda tersebut, hingga engkau masih melihatnya hidup.”

Imam Ja’far Ash-Shadiq (sa) berkata:
Pada suatu hari orang yahudi lewat dekat Rasulullah saw, lalu ia mengucapkan: Assam ‘alayka (kematian atasmu). Rasulullah saw menjawab: ‘Alayka (atasmu). Lalu para sahabatnya berkata: Ia mengucapkan salam atasmu dengan ucapan kematian, ia berkata: kematian atasmu. Nabi saw bersabda: “Demikian juga jawabanku.” Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya orang yahudi ini tengkuknya akan digigit oleh binatang yang hitam (ular dan kalajengking) dan mematikannya. Kemudian orang yahudi itu pergi mencari kayu bakar lalu ia membawa kayu bakar yang banyak. Rasulullah saw belum meninggalkan tempat itu yahudi tersebut lewat lagi (belum mati). Maka Rasulullah saw bersabda kepadanya: “Letakkan kayu bakarmu.” Ternyata di dalam kayu bakar itu ada binatang hitam seperti yang dinyatakan oleh beliau. Kemudian Rasulullah saw bersabda: “Wahai yahudi, amal apa yang kamu lakukan? Ia menjawab: Aku tidak punya kerjaan kecuali mencari kayu bakar seperti yang aku bawa ini, dan aku membawa dua potong roti, lalu aku makan yang satu potong dan satu potong yang lain aku sedekahkan pada orang miskin. Maka Rasulullah saw bersabda: “Dengan sedekah itu Allah menyelamatkan dia.” Selanjutnya beliau bersabda: “Sedekah dapat menyelamatkan manusia dari kematian yang buruk.” (Al-Wasail 6: 267, hadis ke 4)

Malaikat Pro Dengan Anda
“Tiada matahari masih menyinari bumi melainkan ada dua malaikat. Masing-masing menyeru manusia dan berdoa, ‘ Wahai manusia, bergegaslah menuju Tuhanmu sedikitnya harta tapi mencukupi lebih baik daripada banyak tapi kau lupa. Sedangkan satunya berkata, ‘ Wahai Allah, berikan ganti harta kepada mereka yang bederma dan bagi si kikir segera binasakan saja hartanya.” ( HR.Abu Darda ).

Berbahagialah bagi muslim yang dermawan karena mereka didoakan makhluk suci itu setiap pagi. Karena malaikat makhluk yang tidak berdosa, maka kalau mereka berdoa, selalu dikabulkan Tuhan. Terbukti siapa saja bersedekah hartanya tidak pernah berkurang, bahkan lebih. Tidak ada faktanya orang menjadi miskin karena bersedekah. Yang ada justru semakin banyak orang bersedekah semakin kaya dirinya.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata : “Sedekah itu adalah pemancing rezeki. Orang yang bersedekah sebungkus nasi kepada fakir miskin misalnya, maka balasan dari Allah jelas berlipat-lipat. Allah senantiasa akan memback – up orang yang tak pernah surut semangatnya untuk bersedekah. Walau sekecil apa pun barang yang ia sedekahkan.“

“Peliharalah dirimu dari neraka kendati hanya dengan secuil kurma,“ demikian pesan Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya. Maknanya tersirat dari sabda beliau tersebut menunjukkan pentingnya sedekah direalisasikan dalam kehidupan sosial. Sebab, sedekah merupakan sebentuk ibadah dimana kepedulian antara sesama manusia menjadi tumpuannya.

Yang menakjubkan bahwa dahsyatnya ganjaran sedekah itu bukan hanya menjadi monopoli muslim. Siapa saja yang suka memberi, walaupun non muslim pasti Allah ganti. Salah satu contoh Bill Gates, orang terkaya di dunia, sampai sekarang telah menyumbang untuk kegiatan sosial sebesar US.$ 123 milyar. Tapi, toh sampai saat ini posisinya sebagai orang terkaya nomor satu di dunia belum tergeser.

Dalam kaitan ini Rasul SAW. menegaskan satu hadis qudsi : “Allah telah berfirman: “Yaa aadamu, anfiq, unfiq ‘ alaika. Wahai anak Adam!. Infakkanlah hartamu, Aku akan menambah hartamu ! “ ( HR.Abu Hurairah ). Dalam surah Saba 39 Allah SWT berfirman: “Barang siapa menafkahkan hartanya, maka Dia akan menggantinya dengan yang lebih baik.” Dalam menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir dalam kitanya Tafsir Ibnu Katsir mengatakan: ”Apabila Anda membelanjakan harta pada hal-hal yang diperintahkan oleh Allah kepada Anda atau pada hal-hal yang Allah memperbolehkan Anda membelanjakannya, maka Allah sendiri yang akan mengganti harta Anda itu di dunia dan memberi Anda pahala di akhirat.”

Ingatlah Anda denga sumpah Rasulullah SAW. bahwa harta yang disedekahkan tidak akan pernah berkurang, apalagi habis. Kalau Rasul SAW sendiri yang bersumpah, apakah kita masih tidak percaya dengan kedahsyatan, keajaiban dan kekuatan sedekah, infak ? Simaklah pesan Rasul SAW kepada sahabat Bilal agar rajin berinfak dan bersedekah : “Berinfaklah wahai Bilal! Dan jangan kuatir Yang Memiliki Arsy akan membuatmu fakir,” demikian sabda Rasulullah SAWsebagaimana direkam dengan baik oleh Abu Hurairah dan di tulis oleh Ath-Thabrani.

Alangkah kuatnya jaminan untuk orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Tentu saja orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, maka Zat yang Memiliki Arsy akan menjamin rezekinya. Ia takkan mati karena kemelaratan dan kekurangan. Itu takkan terjadi. Percayalah.

Berbagai pengalaman nyata telah membuktikan bahwa pertolongan yang datang dari Allah (kepada seseorang) sebanding dengan pertolongan yang ia keluarkan. Sedangkan rezeki seseorang akan datang sebanding dengan apa yang ia berikan dan infakkan. Barangsiapa yang banyak berinfak, tentu akan banyak pula rezeki yang datang kepadanya. Demikian pula sebaliknya .

Simak salah satu contoh. Saat itu Siti Aisyah RA sedang berpuasa. Menjelang berbuka datang seorang miskin minta sesuatu kepadanya. Yang ada pada waktu itu hanya sepotong roti kering. Aisyah RA berkata kepada pembantunya : “Berikanlah roti itu kepadanya !“. Si pembantu berkata : “Dengan apa Anda akan berbuka puasa ?“ Siti menjawab, “Sudahlah, berikan saja padanya ! Perintah itu ia turuti. Lalu apa yang terjadi? Sejurus kemudian ada satu keluarga yang menghadiahkan daging kambing yang dibungkus dengan roti. Aisyah RA memanggil pembantunya seraya berkata : “Makanlah ini. Roti ini lebih baik dari rotimu.”

Memang apa yang telah dicontohkan oleh Aisyah hanyalah sepotong roti. Bukan intan. Bukan pula sebidang tanah. Tapi nilai-nilai esensial yang terkandung di balik kisah ini adalah sifat kedermawanannya : bagaimana Aisyah RA mampu mampu keluar dari kungkungan dunia dengan menyedekahkan septong roti yang menurut pengamatan kita sangat dibutuhkan mengingat kondisinya sangat kritis. Bukankah kita berpikir seribu satu kali ketika berada dalam kondisi sebagaimana yang Aisyah alami ? Keyakinan yang berpaut erat dengan Tuhan itulah yang sebenarnya mendorong Aisyah mengambil keputusan yang cukup mengejutkan pembantunya. Aisyah yakin bahwa apa yang telah disedekahkan bukan berarti hilang tak berbekas. Tapi justru dengan sedekah itulah Tuhan akan senantiasa melimpahkan rezeki-Nya jauh tak terkira. Tuhan akan menjamin rezeki hamba-Nya yang hanya bergantung kepada-Nya dan yakin terhadap pemberian-Nya. Sehingga ulama besar Al Hasan Al Basri berkata : “Barangsiapa yang yakin bahwa Allah akan mengganti sedekah seseorang, tentu Ia akan segera mengganti.”

Rasul SAW bersabda : “Kedermawanan bagaikan pohon. Akarnya di surga, dahannya menjulur ke dunia. Siapa berpegang padanya, akan ditarik ke surga. Kekikiran, seumpama pohon. Akarnya di neraka, dahannya menggantung ke dunia. Siapa berpegang padanya akan ditarik ke neraka.” (HR.Aisyah). Wallahualam. **