Kecerdasan Menurut Rasulullah

Cerdas atau berakal dalam Al Qur’an adalah ketika berpadunya pikir dengan dzikir dalam diri seorang muslim sejati. Pikir adalah kerja otak dan dzikir merupakan kerja hati, hati yang sehat dan hidup yakni selalu ingat kepada Allah SWT.

Didalam Al Qur’an penyebutan kata berakal atau berfikir tersebar tidak kurang dalam 19 ayat, Seperti Firman Allah SWT dalam QS.Ar Ra’d ayat : 19

” Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran”

Ternyata orang-orang yang berakal bukanlah orang-orang yang hanya mengandalkan pikir otak saja. Bahkan orang-orang yang hanya mau menggunakan pikir saja tanpa menggunakan hati bisa disebut sebaliknya yakni orang yang bodoh. Dan kedudukan manusia yang mengedepankan logika pikir saja ternyata hanya berselisih sedikit dengan seekor hewan ternak.

“atau Apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu)” QS. Al Furqan :44

Seseorang yang hatinya tidak hidup, akan sangat kesulitan dalam mengendalikan pikir. Faktanya adalah banyak sekali orang-orang yang pintar menggunakan otak tetapi tidak mau menggunakan hati. Yang terjadi adalah mereka selalu melogika apa yang dia lihat dan ucapkan.

  • “Dimanakah Allah, bukankah bumi ini berputar dengan sendirinya, sebagai bagian dari hukum alam?”
  • “Jangan berkhayal, apakah mungkin tulang-belulang (andai tersisa) dari seorang manusia bisa hidup kembali bahkan berkumpul di suatu padang keadilan?”
  • “Lia eden itu sama dengan Nabi Muhammad lho, sebab ketika awal berdakwah mendapat tantangan dahsyat dari umat””
  • “Porno atau tidak itu sangat relatif, sebab sangat tergantung dari apa yang terpikir dalam otak manusia nya masing-masing”
  • “Kerudung (jilbab) itu bagian dari budaya, jadi bukanlah suatu keharusan..yang penting tetap sopan”
  • “Kebohongan yang kita lakukan ini boleh dilakukan yang penting demi kemaslahatan orang banyak..”
  • “Lebih baik bapak dan ibu kita pindahkan dipanti jompo saja, selain lebih terawat maka akan lebih senang karena berkumpul dengan orang-orang yang sama dan sebaya..”

Itulah beberapa ungkapan dan masih banyak sekali yang lain. Yang menunjukkan sebuah pola pikir pinter yang tidak padu dengan hati yang hidup sehingga menjadi keblinger.

Realita di masyarakat yang terjadi adalah danya manusia yang secara pikir ‘lebih pandai’ tetapi hatinya tidak hidup. Atau orang dengan kemampuan berpikir ‘kurang’ tetapi hatinya tetap hidup. Nah inilah yang lebih baik dan selamat. Idealnya sih seseorang dikaruniai kecerdasan otak yang handal tetapi hatinya juga hidup, selalu ingat kepada Allah SWT, dan itulah yang paling baik.

Tetapi akan menjadi sangat berbahaya, ketika manusia yang moncer dengan otaknya tetapi hatinya tidak tersentuh atau terbimbing nilai-nilai agama. Contoh yang terjadi adalah jika mereka menempati posisi lebih tinggi dalam masyarakat, akan menindas dan juga mengakali/minteri orang-orang yang bodoh dan lemah dalam kekuasaanya.

Ini berbeda dengan orang yang secara kekuatan otak minim dan hatinyapun jauh dari Allah SWT. Efeknya bagi manusia lain tidak akan secelaka yang dilakukan orang yang pintar minus moral.

Kasus Century yang telah selesai memasuki babak final (dan belum selesai) sebenarnya tidak perlu menunggu berlarut-larut andaikan orang-orang yang pandai (secara pikir) itu tidak goroh (bohong) dari awal. Dana trilyunan milik rakyat yang dikeluarkan secara bermasalah ini, harus meminta tambahan milyaran rupiah lagi untuk mendanai operasional pansus dalam mengusut kasus ini. Dan hasilnya adalah …. (belum jelas juga) baru sebatas menyimpulkan apakah ini kasus kejahatan atau bukan kejahatan.

“Kerusakan agama seseorang yang disebabkan oleh sifat thama’ dan rakus terhadap harta dan kedudukan lebih parah daripada kerusakan yang timbul dari dua serigala yang lapar yang dilepaskan dalam rombongan kambing”. [HR. Tirmidzi]

Resiko yang didapati ketika mata (dari kepala) seseorang buta hanya akan menendang/menabrak disekitarnya. Tidak seberapa dibandingkan dengan butanya hati yang ada pada seseorang, karena akan memberikan mudhorot yang lebih hebat sehingga dimurkai Allah SWT karena telah mendholimi dirinya dan orang-orang banyak disekitarnya.
Menjadi Muslim yang paling Cerdas

Dari Ibnu ‘Umar RA ia berkata : Saya datang kepada Nabi SAW, kami serombongan sebanyak sepuluh orang. Kemudian ada seorang laki-laki Anshar bertanya, “Wahai Nabiyallah, siapa orang yang paling cerdas dan paling teguh diantara manusia ?”. Nabi SAW bersabda, “Orang yang paling banyak mengingat mati diantara mereka dan orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas, mereka pergi dengan membawa kemulyaan dunia dan kemulyaan akhirat”. [HR. Ibnu Abid-Dunya di dalam kitabul-Maut. Thabrani di dalam Ash-Shaghir dengan sanad hasan. Dan Baihaqi juga meriwayatkan di dalam kitabuz-Zuhud, dengan lafadh] : Sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, “Siapa diantara orang-orang mukmin itu yang lebih utama ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling baik akhlaqnya diantara mereka”. Orang tersebut bertanya lagi, “Siapakah diantara orang-orang mukmin yang paling cerdas/cerdik ?”. Nabi SAW menjawab, “Orang yang paling banyak ingat mati diantara mereka, dan orang yang paling baik persiapannya untuk kehidupan selanjutnya. Mereka itulah orang-orang yang cerdas”.

Dari sebuah hadist diatas terjawab sudah, siapa sih yang disebut muslim yang cerdas itu?

  • Orang yang paling banyak mengingat mati
  • Orang yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk kehidupan selanjutnya.

Alangkah indahnya ketika karunia kepandaian otak dalam diri manusia dipadukan dengan hati yang selalu dzikir. Dia pasti akan mengoptimalkan segala daya kemampuan yang ada pada dirinya demi mencapai tujuan-tujuan yang lebih kekal sesudah hidup didunia ini.

Mereka gunakan kepintarannya untuk mengajak manusia lain untuk menuju jalan yang lurus, kualitas iman dan taqwa akan semakin tebal ketika melihat dan mampu menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) dan akan semakin merasa kecil dan lemah karena pada dasarnya ilmu yang ada pada dirinya tidaklah lebih dari tetesan ujung kuku dari lautan ilmu yang dimiliki Allah SWT.

Mustinya kita selalu malu kepada Allah SWT, sudah sangat banyak dan tidak terhitung karunia yang diberikan tetapi kita belum bisa optimal dalam tugas menghambakan diri kepada-Nya. Dengan menjaga kepala ini terhadap apa yang dipikirkan,dimasukan dan dikeluarkanya serta menjaga perut ini dan apa yang dihimpunnya.

Semoga bermanfaat

Majlis Tafsir Alquran – sedekah.net 

Kecerdasan Spiritual

Kecerdasan spiritual atau spiritual intelligence atau spiritual quotient (SQ) ialah suatu intelegensi atau suatu kecerdasan dimana kita berusaha menyelesaikan masalahmasalah hidup ini berdasarkan nilai-nilai spiritual atau agama yang diyakini. Kecerdasan spiritual ialah suatu kecerdasan di mana kita berusaha menempatkan tindakan-tindakan dan kehidupan kita ke dalam suatu konteks yang lebih luas dan lebih kaya, serta lebih bermakna. Kecerdasan spiritual merupakan dasar yang perlu untuk mendorong berfungsinya secara lebih efektif, baik Intelligence Quotient (IQ) maupun Emotional Intelligence (EI). Jadi, kecerdasan spiritual berkaitan dengan kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional.

Hasil Penelitian para psikolog USA menyimpulkan bahwa Kesuksesan dan Keberhasilan seseorang didalam menjalani Kehidupan sangat didukung oleh Kecerdasan Emosional (EQ – 80 %), sedangkan peranan Kecerdasan Intelektual (IQ) hanya 20 % saja. Dimana ternyata Pusatnya IQ dan EQ adalah Kecerdasan Spiritual (SQ), sehingga diyakini bahwa SQ yang menentukan Kesuksesan dan Keberhasilan Seseorang. Dalam hal ini IQ dan EQ akan bisa berfungsi secara Baik/Efektif jika dikendalikan oleh SQ.

Hati mengaktifkan nilai-nilai kita yang paling dalam, mengubahnya dari sesuatu yang kita pikir menjadi sesuatu yang kita jalani. Hati tahu hal-hal yang tidak dapat diketahui oleh Pikiran. Hati adalah sumber keberanian dan semangat, integritas dan komitmen. Hati adalah sumber energi dan perasaan mendalam yang menuntut kita belajar, menciptakan kerjasama, memimpin dan melayani.

Hati Nurani akan menjadi pembimbing manusia terhadap apa yang harus ditempuh dan apa yang harus diperbuat, artinya setiap manusia sebenarnya telah memiliki sebuah Radar Hati sebagai pembimbingnya. Sebagaimana yang udiungkapkan JalaludinRumi : “Mata Hati punya kemampuan 70 kali lebih besar, untuk melihat kebenaran daripada dua indra penglihatan “

Pengertian SQ (Spiritual Quotient), Menurut Danah Zohar, kecerdasan spiritual (SQ) adalah kecerdasan yang bertumpu pada bagian dalam diri kita yang berhubungan dengan kearifan diluar ego atau jiwa sadar. Pandangan lain juga dikemukakan oleh Muhammad Zuhri, bahwa SQ adalah kecerdasan manusia yang digunakan untuk berhubungan dengan Tuhan. Asumsinya adalah jika seseorang hubungan dengan Tuhannya baik maka bisa dipastikan hubungan dengan sesama manusiapun akan baik pula.

Ternyata setelah disadari oleh manusia, bahagia sebagai sebuah perasaan subyektif lebih banyak ditentukan dengan rasa bermakna. Rasa bermakna bagi manusia lain, bagi alam, dan terutama bagi kekuatan besar yang disadari manusia yaitu Tuhan. Manusia mencari makna, inilah penjelasan mengapa dalam dalam keadaan pedih dan sengsara sebagian manusia masih tetap dapat tersenyum. Karena bahagia tercipta dari rasa bermakna, dan ini tidak identik dengan mencapai cita-cita.

Kecerdasan spiritual (Spiritual Intelligence). Ini adalah kecerdasan manusia dalam memberi makna. Perawat yang memiliki taraf kecerdasan spiritual tinggi mampu menjadi lebih bahagia dan menjalani hidup dibandigkan mereka yang taraf kecerdasan spiritualnya rendah. Dalam kondisi yang sangat buruk dan tidak diharapkan, kecerdasan spiritual mampu menuntun manusia untuk menemukan makna.

Manusia dapat memberi makna melalui berbagai macam keyakinan. Ada yang merasa hidupnya bermakna dengan menyelamatkan anjing laut. Ada yang merasa bermakna dengan membuat lukisan indah. Bahkan ada yang merasa mendapatkan makna hidup dengan menempuh bahaya bersusah payah mendaki puncak tertinggi Everest di pegunungan Himalaya. pencarian makana bagi perawat seharusnya mampu mengaitkan pemberian pelayanan keperawatan atas dasar ibadah pada Allah dan pertolongan bagi manusia yang membutuhkan. Karena manusia dapat merasa memiliki makna dari berbagai hal, agama (religi) mengarahkan manusia untuk mencari makna dengan pandangan yang lebih jauh. Bermakna di hadapan Tuhan. Inilah makna sejati yang diarahkan oleh agama, karena sumber makna selain Tuhan tidaklah kekal.

Ada kesan yang salah bahwa, para orang sukses bukanlah orang yang relijius. Hal ini disebabkan pemberitaan tentang para koruptor, penipu, konglomerat rakus, yang memiliki kekayaan dengan jalan tidak halal. Karena orang-orang jahat ini ‘tampak’ kaya, maka sebagian publik mendapat gambaran bahwa orang kaya adalah orang jahat dan rakus, para penindas orang miskin. Sebenarnya sama saja, banyak orang miskin yang juga jahat dan rakus. Jahat dan rakus tidak ada hubungan dengan kaya atau miskin.

Para orang sukses sejati, yang mendapatkan kekayaan dengan jalan halal, ternyata banyak yang sangat relijius. Mereka menyumbangkan hartanya di jalan amal. Mereka mendirikan rumah sakit, panti asuhan, riset kanker, dan berbagai yayasan amal. Dan kebanyakan dari mereka menghindari publikasi. Berbagai studi menunjukkan bahwa para orang sukses sejati menyumbangkan minimal 10 persen dari pendapatan kotor untuk kegiatan amal, bahkan saat dulu mereka masih miskin. Mereka menyadari bahwa kekayaan mereka hanyalah titipan dari Tuhan, ‘silent partner’ mereka.

Akhirnya melalui kecerdasan spiritual manusia mampu menciptakan makna untuk tujuan-tujuannya. Hasil dari kecerdasan aspirasi yang berupa cita-cita diberi makna oleh kecerdasan spiritual. Melalui kecerdasan spiritual pula manusia mampu tetap bahagia dalam perjalanan menuju teraihnya cita-cita. Kunci bahagia adalah Kecerdasan Spiritual. Kecerdasan spiritual (SQ) berkait dengan masalah makna, motivasi, dan tujuan hidup sendiri. Jika IQ berperan memberi solusi intelektual-teknikal, EQ meratakan jalan membangun relasi sosial, SQ mempertanyakan apakah makna, tujuan,dan filsafat hidup seseorang.

Menurut Ian Marshall dan Danah Zohar, penulis buku SQ, The Ultimate Intelligence, tanpa disertai kedalaman spiritual, kepandaian (IQ) dan popularitas (EQ) seseorang tidak akan memberi ketenangan dan kebahagiaan hidup.

Dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir, berbagai pakar psikologi dan manajemen di Barat mulai menyadari betapa vitalnya aspek spiritualitas dalam karier seseorang, meski dalam menyampaikannya terkesan hati-hati. Yang fenomenal, tak kurang dari Stephen R Covey meluncurkan buku The 8th Habit (2004), padahal selama ini dia sudah menjadi ikon dari teori manajemen kelas dunia. Rupanya Covey sampai pada kesimpulan, kecerdasan intelektualitas dan emosionalitas tanpa bersumber spiritualitas akan kehabisan energi dan berbelok arah.

Di Indonesia, krisis kepercayaan terhadap intelektualitas kian menguat saat bangsa yang secara ekonomi amat kaya ini dikenal sebagai sarang koruptor dan miskin, padahal hampir semua yang menjadi menteri maupun birokrat memiliki latar belakang pendidikan tinggi. Asumsi bahwa kesarjanaan dan intelektualitas akan mengantar masyarakat yang damai dan bermoral digugat Donald B Caine dalam buku: Batas Nalar, Rasionalitas dan Perilaku Manusia yang sedang dibicarakan banyak orang. Mengapa bangsa Jerman yang dikenal paling maju pendidikannya dan melahirkan banyak pemikir kelas dunia pernah dan bisa berbuat amat kejam? Pertanyaan serupa bisa dialamatkan kepada Inggris, Amerika Serikat, dan Israel.

Sumber:Widodo Gunawan

PELAJARAN SELANJUTNYA KLIK..

Kuis Perjodohan & Asmara

Iseng-iseng bikin kuis ah……… he..he…he.. jawab dengan jujur ya…..

1. Mana yang lebih kamu sukai :

  • a. Mengoleksi lagu-lagu nostalgia, dan surat-surat cinta.
  • b. Mencoba resep baru, menghias rumah
  • c. Ngebut di jalan tol, main kartu
  • d. Mengoleksi barang antik, dan barang-barang seni

2. Misalkan hari ini kamu berulang tahun, kamu ingin :

  • a. Berjalan-jalan ke pantai dengan si dia
  • b. Berkumpul dengan teman dan keluarga di rumah
  • c. Main arung jeram dan bungee jumping
  • d. Makan malam dengan dia di hotel

3. Jenis tontonan yang menghibur kamu :

  • a. Musik nostalgia seperti Bee Gees dan The Beatles
  • b. Nonton film di bioskop
  • c. Nonton konser musik pop
  • d. Nonton konser musik klasik

4. Acara televisi yang sesuai dengan fantasi atau kehidupan nyatamu:

  • a. Telenovela, sinetron drama
  • b. Reality show
  • c. Film dokumenter atau traveling
  • d. Tayangan mode dan gaya..

5. Hadiah kejutan tanda cinta yang kamu harapkan.

  • a. Foto kamu berdua dalam pigura yang indah
  • b. DVD film-fillm terkenal
  • c. Pakaian dalam yang seksi
  • d. Perhiasan

6. Kalau berjalan-jalan dengan si dia, kamu lebih suka:

  • a. Menunggang kuda dengannya di tepi pantai
  • b. Putar-putar rumah dengan mobil antiknya
  • c. Naik motor naik turun gunung
  • d. Keliling kota dengan sedan baru

7. Rumah impian kamu:

  • a. Villa kecil di pegunungan
  • b. Rumah biasa dengan halaman luas di pinggiran kota
  • c. Rumah sederhana di tengah hutan
  • d. Apartemen besar di pusat kota

8. Makanan yang lebih kamu sukai:

  • a. Kue-kue yang dihias cantik
  • b. Sup ayam buatan sendiri
  • c. Mie bakso yang panas dan pedas
  • d. Steak daging sapi

9. Impian di saat kamu kecil:

  • a. Penulis buku anak-anak
  • b. Dokter
  • c. Polisi
  • d. Bintang film terkenal

10. Jika kamu mendapat penghargaan, penghargaan yang ingin kamu raih:

  • a. Sastrawan terbaik
  • b. Pasangan paling harmonis
  • c. Penakluk gunung Everest
  • d. Bintang film terbaik

Jika …

Sebagian besar jawaban kamu adalah A:
Tipe romantis: Kamu termasuk jenis orang yang sentimentil dan romantis. Bila kamu senang menonton telenovela atau sinetron drama maka kemungkinan kamu suka membayangkan dirimu sebagai tokoh dalam kisah cinta tersebut. Hidup bahagia penuh cinta bersama pasangan adalah idaman kamu.

Sebagian besar jawaban kamu adalah B:
Tipe sederhana: Kamu termasuk tipe orang rumahan. Kamu lebih suka berada di dalam rumah ketimbang malakukan kegiatan outdoor. Tipe macho adalah bukan tipemu, tetapi tipe yang manis, sederhana, dan dapat memberimu kehidupan yang stabil, aman, nyaman.

Sebagian besar jawaban kamu adalah C:
Tipe petualang: Kamu senang menguji nyali, melakukan hal-hal yang menyerempet bahaya. Tipe pasangan yang sesuai belum tentu harus menyukai kegemaran yang sama, tapi paling tidak ia harus mendukung kamu. Meski tampaknya mandiri, kamu tetap punya sifat mencintai.

Sebagian besar jawaban kamu adalah D:
Tipe materialistis: Kamu termasuk orang yang menyenangi kemewahan dan kehidupan serba gemerlap. Kamu memerlukan orang orang yang bisa meningkatkan status dan rasa percaya diri. Pengusaha kaya raya adalah pasangan yang sesuai dengan kebutuhanmu.

TIPS ASMARA :
Pasangan asmara yang ideal tentunya adalah yang dapat memenuhi kebutuhan kamu. Misalnya saja kamu menyukai kehidupan glamor maka pasangan yang ideal adalah yang bisa melimpahi kamu dengan materi. Namun sebenarnya hal ini adalah faktor yang terlihat di permukaan saja. Ada hal-hal lain yang perlu kamu pertimbangkan dalam memilih pasangan hidup:

1. Tulus hati dan jujur
Perhatian yang diberikan kepada kamu bukanlah pura-pura atau berdasarkan pamrih. Kamu juga bisa yakin bahwa dia .jujur pada dirinya sendiri, kamu dan orang-orang di sekitarnya. Agar ia bisa jujur tampilkan dirimu apa adanya, jangan terlalu banyak memoles diri. Dengan demikian pasangan kamu akan memnunjukkan dirinya yang sebenarnya.

2. Bisa menghargai perbedaan
Dia tetap bisa menghargai keputusanmu meskipun kamu memiliki cara pandang yang berbeda dengannya.

3. Kematangan dan tanggung jawab
Tanda-tanda seseorang telah mencapai kematangan pribadi adalah bila seseorang bersedia membantu memcahkan masalah, tidak ingkar janji. Bila dia tidak memiliki kematangan dan tanggung jawab, kamu akan merasa tidak nyaman disampingnya.

4. Punya kepercayaan diri
Ia tidak mudah terombang-ambing, tidak gampang tersinggung, dan tidak menganggap dirimu sebagai ancaman. Jika pasanganmu tidak punya rasa percaya diri, akan sulit bagi Anda untuk sejalan dengannya dalam banyak hal.

5. Terbuka secara emosional
Dia mau berbagi perasaan baik ketika senang ataupun susah. Keterbukaan emosional menandakan pula bahwa ia mempercayai kamu dan merasa nyaman di dekatmu.

6. Memiliki perhatian
Perhatian bisa melanggengkan hubungan asmara. Tapi jangan kamu saja yang terkagum-kagum dengannya. Dia pun harus memiliki perasaan yang sama padamu.

Pelajaran Quantum Makrifat

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…
Jalaluddin Rumi pernah bercerita tentang seorang penduduk Konya yang punya kebiasaan aneh; ia suka menanam duri di tepi jalan. Ia menanami duri itu setiap hari sehingga tanaman berduri itu tumbuh besar. Mula-mula orang tidak merasa terganggu dengan duri itu. Mereka mulai protes ketika duri itu mulai bercabang dan menyempitkan jalan orang yang melewatinya. Hampir setiap orang pernah tertusuk durinya. Yang menarik, bukan orang lain saja yang terkena tusukan itu, si penanamnya pun berulang kali tertusuk duri dari tanaman yang ia pelihara.

Petugas kota Konya lalu datang dan meminta agar orang itu menyingkirkan tanaman berduri itu dari jalan. Orang itu enggan untuk menebangnya. Tapi akhirnya setelah perdebatan yang panjang, orang itu berjanji untuk menyingkir-kannya keesokan harinya. Ternyata di hari berikutnya, ia menangguhkan pekerjaannya itu. Demikian pula hari berikutnya. Hal itu terus menerus terjadi, sehingga akhirnya, orang itu sudah amat tua dan tanaman berduri itu kini telah menjadi pohon yang amat kokoh. Orang itu tak sanggup lagi untuk mencabut pohon berduri yang ia tanam.

Di akhir cerita, Rumi berkata: “Kalian, hai hamba-hamba yang malang, adalah penanam-penanam duri. Tanaman berduri itu adalah kebiasaan-kebiasaan buruk kalian, perilaku yang tercela yang selalu kalian pelihara dan sirami. Karena perilaku buruk itu, sudah banyak orang yang menjadi korban dan korban yang paling menderita adalah kalian sendiri. Karena itu, jangan tangguhkan untuk memotong duri-duri itu. Ambil-lah sekarang kapak dan tebang duri-duri itu supaya orang bisa melanjutkan perjalanannya tanpa terganggu oleh kamu.”

Sahabat, Perjalanan Quantum Makrifat dimulai dengan pembersihan diri dengan pemangkasan duri-duri yang kita tanam melalui perilaku kita yang tercela. Jika tidak segera dibersihkan, duri itu satu saat akan menjadi terlalu besar untuk kita pangkas dengan memakai senjata apa pun. Praktek pembersihan diri itu dalam tasawuf disebut sebagai praktek takhliyyah, yang artinya mengosongkan, membersihkan, atau mensucikan diri. Seperti halnya jika kita ingin mengisi sebuah botol dengan air mineral yang bermanfaat, pertama-tama kita harus mengosongkan isi botol itu terlebih dahulu. Sia-sia saja bila kita memasukkan air bersih ke dalam botol, bila botol itu sendiri masih kotor. Proses pembersihan diri itu disebut takhliyyah.

Dalam hal ini Proses Takhliyah pertama di NAQS DNA dimulai ketika siswa melakukan mujahadah selama 3 hari, dalam laku Ilmu Pembuka yang di dalamnya terkandung pelajaran :

  1. Lapar/Mengurangi makan (upaya untuk membersihkan diri dari ketundukan kepada hawa nafsu).
  2. Diam (upaya untuk membersihkan hati dari penyakit-penyakit yang tumbuh karena kejahatan lidah).
  3. Zikir.
  4. Menghidupkan malam dengan memperbanyak amalan sunah. 
  5. Taubat

Setelah menempuh praktek pembersihan diri itu, para penempuh jalan tasawuf kemudian mengamalkan praktek tahliyyah. Yang termasuk pada golongan ini adalah praktek zikir dan khidmah atau pengabdian kepada sesama.

Dalam Islam, seluruh amal ada batas-batasnya. Misalnya amalan puasa, kita hanya diwajibkan untuk menjalankannya pada bulan Ramadhan saja. Demikian pula amalan haji, kita dibatasi waktu untuk melakukannya. Menurut Imam Ghazali, hanya ada satu amalan yang tidak dibatasi; yaitu zikir. Al-Quran mengatakan: Berzikirlah kamu kepada Allah dengan zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab: 41) Dalam amalan-amalan lain selain zikir yang diutamakan adalah kualitasnya, bukan kuantitasnya. Yang penting adalah baik tidaknya amal bukan banyak tidaknya amal itu. Kata sifat untuk amal adalah ‘amalan shâlihâ bukan ‘amalan katsîrâ. Tapi khusus untuk zikir, Al-Quran memakai kata sifat dzikran katsîrâ bukan dzikran shâlihâ. Betapa pun jelek kualitas zikir kita, kita dianjurkan untuk berzikir sebanyak-banyaknya. Karena zikir harus kita lakukan sebanyak-banyaknya, maka tidak ada batasan waktu untuk berzikir.

Allah swt memuji orang yang selalu berzikir dalam setiap keadaan. Al-Quran menyebutkan: Orang-orang yang berzikir kepada Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring. (QS. Ali Imran: 191) Dalam ayat lain, Allah berfirman: Setelah selesai menunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah, dan berzikirlah kepada Allah sebanyak-banyaknya. Supaya kamu beruntung. (QS. Al-Jumu’ah: 10) Bahkan ketika kita mencari anugerah Allah, bekerja mencari nafkah, kita tak boleh meninggalkan zikir.

Al-Quran menyebutkan orang yang tidak berzikir sebagai orang yang munafik. Dalam surat Al-Nisa ayat 142, Tuhan berfirman: Dan tidaklah mereka (orang munafik) berzikir kepada Allah kecuali sedikit saja. Jadi, salah satu ciri orang munafik adalah zikirnya sedikit.

Sahabat, pelajaran Dasar selanjutnya setelah melakukan ilmu pembuka dalam Quantum Makrifat adalah meliputi 3 tekhnik Kultivasi/Tazkiyatun Nafs, yaitu :

  1. Kultivasi Inti
  2. Kultivasi Liqo Allah
  3. Kultivasi Semesta

Dalam kesempatan kali ini akan saya akan jelaskan sedikit landasan dasar dari tekhnik Kultivasi yang sebenarnya itu bersumberkan dari pelajaran Tasawuf yang disebut KHALWAT DAR ANJUMAN.

Khalwat bererti bersendirian dan Anjuman bererti khalayak ramai, maka pengertiannya ialah bersendirian dalam keramaian. Maksudnya pada zahir, Salik bergaul dengan manusia dan pada batinnya dia kekal bersama Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Terdapat dua jenis khalwat iaitu :

  1. Khalwat Luaran atau disebut sebagai Khalwat Saghir yakni khalwat kecil.
  2. Khalwat Dalaman atau disebut sebagai Khalwat Kabir yang bermaksud khalwat besar atau disebut sebagai Jalwat.

Khalwat Luaran menghendaki Salik agar mengasingkan dirinya di tempat yang sunyi dan jauh dari kesibukan manusia. Secara bersendirian Salik menumpukan kepada Zikirullah dan Muraqabah untuk mencapai penyaksian Kebesaran dan Keagungan Kerajaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Apabila sudah mencapai fana menerusi zikir pikir dan semua deria luaran difanakan, pada waktu itu deria dalaman bebas meneroka ke Alam Kebesaran dan Keagungan Kerajaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ini seterusnya akan membawa kepada Khalwat Dalaman.

Khalwat Dalaman bermaksud berkhalwat dalam kesibukan manusia. Hati Salik hendaklah sentiasa hadir ke Hadhrat Tuhan dan hilang dari makhluk sedang jasmaninya sedang hadir bersama mereka. Dikatakan bahawa seseorang Salik yang Haq sentiasa sibuk dengan zikir khafi di dalam hatinya sehinggakan jika dia masuk ke dalam majlis keramaian manusia, dia tidak mendengar suara mereka. Kerana itu ianya dinamakan Khalwat Kabir dan Jalwat yakni berzikir dalam kesibukan manusia. Keadaan berzikir itu mengatasi dirinya dan penzahiran Hadhrat Suci Tuhan sedang menariknya membuatkannya tidak menghiraukan segala sesuatu yang lain kecuali Tuhannya. Ini merupakan tingkat khalwat yang tertinggi dan dianggap sebagai khalwat yang sebenar seperti yang dinyatakan dalam ayat Al-Quran

Surah An-Nur ayat 37:
“Para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak pula oleh jual beli dari mengingati Allah, dan dari mendirikan sembahyang, dan dari membayarkan zakat, mereka takut kepada suatu hari yang hati dan penglihatan menjadi goncang.”

“Rijalun La Tulhihim Tijaratun Wala Bay’un ‘An Zikrillah,” bermaksud para lelaki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan jual beli dari mengingati Allah. Inilah merupakan jalan Tariqat Naqshbandiyah. Hadhrat Khwajah Shah Bahauddin Naqshband Qaddasallahu Sirrahu telah ditanyakan orang bahawa apakah yang menjadi asas bagi Tariqatnya?

Beliau menjawab, “Berdasarkan Khalwat Dar Anjuman, yakni zahir berada bersama Khalaq dan batin hidup bersama Haq serta menempuh kehidupan dengan menganggap bahawa Khalaq mempunyai hubungan dengan Tuhan. Sebagai Salik dia tidak boleh berhenti dari menuju kepada maksudnya yang hakiki.”

Sepertimana mafhum sabdaan Hadhrat Baginda Nabi Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam, “Padaku terdapat dua sisi. Satu sisiku menghadap ke arah Penciptaku dan satu sisi lagi menghadap ke arah makhluk ciptaan.”

Hadhrat Shah Naqshband Rahmatullah ‘alaih berkata, “Tariqatuna As-Suhbah Wal Khayru Fil Jam’iyyat.” Yang bererti, “Jalan Tariqah kami adalah dengan cara bersahabat dan kebaikan itu dalam jemaah Jam’iyat.”

Khalwat yang utama di sisi Para Masyaikh Naqshbandiyah adalah Khalwat Dalaman kerana mereka sentiasa berada bersama Tuhan mereka dan pada masa yang sama mereka berada bersama dengan manusia. Adalah dikatakan bahawa seseorang beriman yang dapat bercampur gaul dengan manusia dan menanggung berbagai masaalah dalam kehidupan adalah lebih baik dari orang beriman yang menghindarkan dirinya dari manusia.

Demikianlah sedikit penjelasan mengenai pelajaran dalam Quantum Makrifat. Bila anda berminat untuk bergabung, silahkan Klik….

Hening Menuju LIQO ALLAH

Hening membuat bening si nada sunyi.
Bening membuat jernih si mata hati.
Jernih untuk berkaca melihat si isi diri.
Tersenyum sadar untuk merubah rasa.
Geli tertawa sadar salah untuk merubah Jiwa.
Mungkin bersih, mungkin baru, mungkin transformasi.
Mungkin, mungkin dan mungkin.
Tergantung ijin si Empunya diri.

[Krishnamurti]

Sahabat, Orang zaman sekarang kebanyakan seharian sibuk, bukankah sebaiknya Anda di dalam kesibukan dapat menyempatkan waktu untuk sesa’at saja menenangkan diri Anda, melakukan Zero Mind Process dan mengaktifkan Kekuatan keheningan anda.

Kekuatan Keheningan akan membawa anda ke dalam suasana hening yang membantu Anda melakukan introspeksi diri. Sehingga, dalam keheningan tersebut Anda dapat menelusuri apa sebenarnya visi dan misi hidup hidup di dunia dan bertanya kepada hati nurani apa cara yang lebih baik dari yang sudah kita lakukan saat ini untuk meraih sukses abadi di dunia akherat.

Saat hidup memutar kita bagaikan roda, amat mudah kita tergulung dan terombang-ambing dalam putarannya. Hanya jika kita berdiam di pusatnya, maka sekencang apa pun roda berputar, batin kita tetap hening, dan bening.

Namun roda kehidupan modern yang bergerak sangat cepat seringkali tidak mengizinkan kita untuk diam dan berhenti sejenak. Bahkan kita tidak lagi tahu caranya bernapas dengan sadar, berserah pada inteligensi tubuh, dan beristirahat secara total. Saat tubuh berbaring, pikiran kita berputar. Saat tubuh beraktivitas, pikiran kita bercabang liar. Saat hati berontak, logika kita meredam dan menolak.

Begitu banyak timbunan sampah batin—dari mulai urusan hati yang tak tuntas, trauma yang belum sembuh, sampai segudang rencana dan ketakutan akan masa depan—yang kita gendong dari hari ke hari, tahun ke tahun. Beban ini, jika tidak pernah kita kuras, akan muncul ke permukaan sebagai penyakit fisik, stres, paranoia, dan aneka fenomena lain yang kita sebut sebagai “problem”.

Memang Untuk hidup yang baik, haruslah bekerja. Bahkan bekerja keras adalah keharusan dalam kehidupan. Tanpa kerja keras tidak akan ada keberhasilan. “Saya sangat percaya akan keberuntungan”, kata Thomas Jefferson, “tapi saya menemukan bahwa semakin keras saya bekerja, semakin banyak yang saya peroleh dari padanya”.

Tetapi tidak jarang orang terjebak dalam kesibukan demi kesibukan tanpa henti, sampai kemudian terhenyak, kecapean, dan bertanya pada diri sendiri, “Saya ini sibuk untuk apa, untuk siapa, dan mengejar apa?”

Dalam kesibukan yang sering terasa tidak habis-habisnya dan membuat waktu terlalu cepat berjalan, kau perlu mengambil waktu untuk berhenti sejenak. Menyendiri. Mendengarkan diri kita sendiri.

Sering tidak disadari, kita (telah) tenggelam atau menenggelamkan diri dalam kesibukan dan hiruk-pikuk sekitar kita, karena alasan yang salah: ingin melupakan hiruk pikuk perbantahan dalam diri kita, di mana kita sendiri berdiri sebagai tersangka, dan hakim, tapi tanpa ada keputusan yang final. Sering juga, karena terlalu banyak bicara, kita tidak pernah mengenal kesendirian dan keheningan jiwa sendiri, yang sangat berharga bagi diri kita.

Kita harus menjaga agar kesendirian dan keheningan diri itu tidak menjadi asing bagi kita. Menjadi orang yang selalu rame memang menyenangkan. Tapi sesungguhnya tidak ada yang orang lebih irikan pada diri kita daripada keteduhan diri kita. Bukankah diam-diam kita begitu iri melihat orang lain yang tetap tenang dan memancarkan kedamaian pada saat begitu keadaan yang sukar atau duka?

Masalahnya memang, penyakit orang kini tidak lagi tahan sendirian. Bagi banyak orang kesepian adalah menyakitkan. Padahal dalam kesendirianlah akan tampak kekuatan kita. Seperti dikatakan oleh Henrik Ibsen dalam An Enemy of the People, “The strongest man in the world is he who stands most alone (Orang yang paling kuat adalah ia yang dapat diam sendiri). Tetapi, dalam kesendirian jugalah akan tampak kelemahan dan kerapuhan kita. Kebiasaan apa yang kita lakukan, apa yang kita baca, apa yang kita tonton, bahkan apa yang kita pikirkan, semuanya itu akan berlomba- lomba datang menawarkan diri pada saat anda sendiri dan kesepian. Tinggal pilihan ada pada kita. Namun, tragisnya, tidak banyak yang mempunyai cukup kekuatan untuk memilih yang dikehendaki, tetapi yang disukai.

Hanya dengan hening menyendiri, kita dapat menyentuh jiwa kita dan… disentuh Tuhan.

Rahasia itulah yang dilukiskan gadis remaja Anne Frank, dalam catatan hariannya dengan mengatakan, “Obat yang paling baik bagi mereka yang takut, kesepian atau tidak bahagia adalah pergi alam terbuka di mana mereka dapat berdiam diri, sendiri dengan langit, alam dan Tuhan. Sebab hanya dengan demikian seseorang merasakan bahwa semua adalah sebagaimana seharusnya — that all is as it should be (dan mengetahui), bahwa Tuhan ingin melihat manusia berbahagia, ditengah-tengah keindahan alam yang sederhana”.

Ketika Ibu Theresa merasakan betapa ia setiap kali perlu menemukan Tuhan, sumber kekuatannya, ia mengatakan, “Dia (Tuhan) tidak dapat ditemukan dalam kebisingan dan keresahan. Tuhan adalah sahabat dari keheningan. Lihatlah bagaimana alam — pohon, bunga-bunga, rumput yang tumbuh dalam hening; lihatlah bintang-bintang, bulan, dan matahari, bagaimana mereka bergerak dengan hening… Kita membutuhkan kesenyapan dan keheningan… untuk dapat menyentuh jiwa- jiwa”.

Memang begitulah seharusnya kita. Hanya dalam keheningan itu jugalah kita dapat mengenal dan menemukan makna hakiki bahwa kerja, kegiatan serta kesibukan kita hanya berarti dalam Tuhan. Karena, (akhirnya) benarlah kata bijak yang mengatakan “Apart from God every activity is merely a passing whiff of insignificance” — Lepas dari Tuhan setiap kegiatan kita hanyalah ketidakberartian yang berlalu begitu saja! Meninggalkan bukan saja kelesuan, kecapean, tetapi kekosongan. Karena seperti dikatakan C.S. Lewis, yang sebelumnya adalah atheis: “Allah tidak memberi kita kebahagiaan dan damai sejahtera terlepas dari diri-Nya, karena hal itu tidak ada dan tidak pernah ada!”

LIQOILLAH
Marilah kita renungkan ayat-ayat berikut…

“Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas Arasy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Rabb-mu.” (TQS.13:2)

“Barang siapa yang mengharap pertemuan dengan Allah, maka sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (TQS.29:5)

“Kemudian Kami telah memberikan Al Kitab (Taurat) kepada Musa untuk menyempurnakan (ni`mat Kami) kepada orang yang berbuat kebaikan, dan untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk dan rahmat, agar mereka beriman (bahwa) mereka akan menemui Tuhan mereka.” (TQS.6:154)

Apa Yang Seharusnya kita Lakukan jika Mengharapkan Pertemuan dengan Allah SWT?

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (TQS.18:110)

Bagaimana Nasib Mereka Yang Mendustakan Pertemuan dengan Allah SWT?

“Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata: “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!”, sambil mereka memikul dosa-dosa di atas punggungnya. Ingatlah, amatlah buruk apa yang mereka pikul itu.” (TQS.6:31)

“Dan (ingatlah) akan hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka, (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah berdiam (di dunia) hanya sesaat saja di siang hari (di waktu itu) mereka saling berkenalan. Sesungguhnya rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah dan mereka tidak mendapat petunjuk.“ (TQS.10:45)

Untuk meraih keheningan hati, apakah harus bertapa di gua-gua, atau di kuburan-kuburan keramat, ataukah di tengah hutan rimba belantara….??
Apakah Anda mau lari dari kenyataan?
Lari dari gigitan paling pedih dari kesunyian ruhani anda?
Lari dari keterlemparan diri anda akibat dosa dan kegelapan?  
“keinginanmu untuk lari menuju Tuhan dan hanya ingin sendiri bersamaNya, hanya ingin ‘anda dan Dia’, sedangkan kenyataannya anda harus menghadapi dengan alam fikiran, logika sebab akibat, hasrat anda itu tadi hanyalah Nafsu tersembunyi dalam bilik ketololan, kemalasan, ketidak beranian, kepengecutan, dan kelelahan hati anda.”

Hadapilah!
Karena Allah tak pernah hilang, tak pernah ghoib, tak pernah berjarak, tak pernah bergerak atau diam, tak pernah berpenjuru atau bernuansa, tak pernah berbentuk dan berupa, tak pernah berwaktu dan ber-ruang. Tak ada alasan apapun yang bisa menutup, menghijabi, menghalangi, menirai Allah dari dirimu, apalagi sekedar untuk “menyendiri bersamaNya” dalam hiruk pikuk dunia. Tanpa harus melepaskan tantangan zaman, perjuangan, kegairahan kehambaan, kita tak pernah terhalang sedetik pun untuk menggelayut di “PundakNya” apalagi bermesraan dalam pelukanNya.

Jika ruang sunyi di hatimu terganggu oleh buar dan suara-suara nafsu, masuklah ke dalam bilih ruhmu, karena dalam bilik ruhmu ada hamparan agung Sirrmu, dimana sunyimu menjadi sirnamu kepadaNya, bahkan tak kau sadari kau panggil-panggil namaNya, karena kau telah berdiri di depan GerbangNya. Kelak kita bisa kembali bersamaNya, untuk melihat dunia nyata yang tampak di mata kepala, “BersamaNya aku melihat mereka,” begitu sunyi ungkapan Abu Yazid Bisthami kita.

Inilah awal keberangkatan kita,
menuju tetapi dituju,
memandang tetapi dipandang,
melihat tetapi dilihat,
bergerak tetapi diam fana,
berkata tetapi bisu,
memanggil tetapi dipanggil,
bersyari’at tetapi hakikat,
berhakikat tetapi syari’at,
bertangis dalam senyuman
senyum tak menahan airmata
bersunyi-sunyi tetapi ramai
beramai-ramai tetapi sunyi

Lalu kita berbondong-bondong menempuh jalan Khalwat, menuju Gua Hira Agung tak terperi, Hira’ hamparan hati. Agar hati lebih luas dari Arasy Ilahi, berbondong-bondong melepaskan atribut- atribut manusiawi, dan apapun alasan dan alibi kewajaran kita, agar kita tak punya alasan lagi, untuk tidak durhaka kepadaNya, untuk tidak menghindariNya, untuk tidak berselingkuh dengan selain DiriNya, untuk tidak memproduksi bermilyar-milyar syetan setiap hari, untuk tidak menyembah ribuan berhala dalam hati.

Kita keluar dari khalwat menuju Uzlah Jiwa, lihatlah betapa sunyinya keramaian peradaban manusia, betapa senyapnya suara-suara yang berdesing atau bagaikan nyanyian tapi sunyi. Kecuali yang ramai di detak jantungmu, Allah Allah Allah, Subhanallah Walhamdulillah wa-Laailaaha Illallah Allahu Akbar, menyelimuti seluruh keramaian semesta. Sampai semesta sunyi dalam kefanaan, Allahu Akbar! Walillahil Hamd. Maha Puja Puji bagi AbadiNya.

PELAJARAN SELANJUTNYA KLIK..

Meraih Gaji Tertinggi

Ada seorang mahasiswi yang lulus dengan nilai terbaik. Setelah setahun mencari kerja ke sana ke sini, ternyata tidak ada yang cocok. Merasa dirinya lulusan terbaik, ia selalu minta gaji yang lebih tinggi dari harga pasaran. Walaupun telah dinasehati oleh orangtuanya, ia selalu berkata bahwa ia adalah siswa terbaik dan pantas mendapatkan gaji yang yang lebih tinggi.

Merasa tidak mampu mengatasi putrinya yang keras kepala, suatu hari ia mengajaknya ke pasar untuk menemaninya berjualan buah-buahan. Ketika seorang pembeli menanyakan harga buah per kilo, ibu itu menjawab, “Delapan belas ribu rupiah, tidak kurang”. Sementara harga pasarannya adalah lima belas ribu rupiah.

Beberapa pembeli urung membeli pir dan pindah ke penjual yang lain. Namun ibu tersebut tetap pada pendiriannya. Dengan heran putrinya bertanya, “Kenapa tidak dikasih kurang sedikit, Bu?”

Ibunya menjawab, “Buah pir kita yang terbaik”.

“Tapi saya melihatnya sama saja, lagi pula buah pir… ya… buah pir.” protes putrinya.

“Tidak, buah pir kita yang terbaik. Kita pantas menjualnya lebih mahal.” tukas ibunya dengan tegas.

Waktu terus berlalu. Ketika hari mulai siang, para pedagang menurunkan harga pir menjadi tiga belas ribu rupiah per kilo. Meskipun banyak orang tertarik pada buah pir-nya, namun ibunya tetap tidak mau menurunkan harga seperti para pedagang lainnya, dengan alasan buahnya lebih baik.

Ketika waktu menunjukkan pukul dua belas siang, para pedagang beranjak pulang karena barang dagangannya telah habis. Kini tinggal ibunya seorang diri.

“Kenapa ibu tidak mengikuti mereka saja?” keluh putrinya.

Lagi-lagi ibu menjawab, “”Buah pir kita yang terbaik”.

Ketika mereka berbenah hendak pulang, ada orang yang kebetulan melewati tempat mereka dan menawar pir dengan harga dua belas ribu rupiah. Akhirnya ibu itu melepaskan dagangannya.

Merasa aneh dengan tindakan ibunya, putri tersebut bertanya dengan nada kesal, “Kita sia-sia menghabiskan banyak waktu di sini, toh akhirnya terjual dua belas ribu saja. Kenapa tidak dari tadi pagi menjualnya dengan harga lima belas ribu?”

“Kenapa kamu juga menyia-nyiakan waktu kamu setahun? Kenapa kamu tidak menerima pekerjaan dengan gaji standar dari dulu? Kalau ternyata terbukti kamu yang sebagai terbaik, kamu bisa mengajukan kenaikan gaji” jawab ibunya.

Putrinya tersadar, ternyata tindakan ibunya adalah untuk menyadarkan dirinya.

Pelajaran Berharga
Di antara kunci utama meraih sukses adalah cerdas dalam menangkap peluang yang datang. Menunggu peluang yang belum pasti datang adalah perbuatan yang sia-sia. Oleh karena itu, latihlah kepekaan dan kecekatan karena hanya yang peka dan cekatan lah yang akan mampu menangkap peluang dengan baik. Alasan lain untuk melatih kemampuan menangkap peluang adalah karena peluang itu tidak akan datang dua kali. Ia hanya mampir sekali saja seumur hidup kita. Jadi jangan disia-siakan jika sudah di depan mata.

Sobat, ada dua cara dalam hal ini kita sebut saja dualisme peluang. Pertama, menjemput bola. Kedua, menciptakan bola sendiri.

Keduanya adalah hal yang tidak boleh dilupakan oleh para pejuang sukses. Lepas dari dualisme peluang tersebut, maka lepas lah kesempatan menikmati kesuksesan hidup.

Jika sobat baru lulus kuliah, cari informasi tentang lapangan pekerjaan yang sesuai dengan jurusan sobat. Jika sobat alumnus pendidikan, carilah tempat-tempat belajar formal maupun nonformal untuk sobat masukkan lamaran pekerjaan. Jika sobat alumnus akuntansi, carilah informasi perusahaan yang sedang membutuhkan akuntan. Jika sobat alumnus tata boga, apa salahnya sobat melamar kerja ke kafe atau rumah makan? Mejadi “pekerja” di pendidikan ataupun di mana saja, tidak lah hina ketimbang menjadi pecundang yang menggantungkan dirinya pada orang lain padahal sebenarnya ia mampu berjuang.

Yang lebih hebat lagi adalah siapapun sobat bergelar akademik maupun tidak, cobalah sobat menciptakan bola keberhasilan sendiri. Jika yang lain mencari kerja, sobat malah menyediakan lapangan pekerjaan untuk orang lain, minimal lapangan pekerjaan untuk diri sendiri. Menjemput bola dan menciptakan bola keberhasilan adalah kunci utama yang mesti diupayakan.

Tips menaikkan gaji anda secara drastis dari posisi sekarang.
Cara ini berhasil dilakukan beberapa orang, namun membutuhkan kerja keras dan komitmen dari masing-masing pribadi pelakunya.

Tidak ada makan siang gratis bukan?

Carilah ALASAN KUAT / IMPIAN dahulu
Sebenarnya bukan cara melakukannya yang menyebabkan berhasil, tapi alasan atau dream anda yang bisa menggerakkan anda disaat sedang malas. Dream anda yang bisa memotivasi anda kembali disaat jalan terasa buntu.

Beberapa alasan kuat yang pernah saya dengar dari teman2:
1. Ingin naik gaji agar bisa beli rumah sendiri
2. Ingin naik gaji agar bisa mencukupi kebutuhan hidup anak dan istri
3. Ingin naik gaji agar bisa menabung untuk pendidikan anak
4. …tulis alasan anda sendiri…

Lakukan tiap langkah berikut

1. Letakkan tulisan cita-cita itu ditempat yang bisa anda baca setiap hari dan doakan hal itu terus-menerus. Ini penting agar cita-cita ini MELEKAT dan membuat anda BERSEMANGAT disaat loyo.

2. Tambah kemampuan/skill yang anda perlukan. Bila posisi anda staff, contoh staff accounting. Carilah tau, kemampuan apa yang anda butuhkan untuk menjadi supervisor atau manager accounting.

Lihat lowongan supervisor atau manager di internet, skill apa yang harus dimiliki terkadang tertulis disana, terkadang range gaji juga ada di sana. Untuk posisi IT, gunakan website luar negri, meskipun anda belum berencana bekerja di sana, namun itu bisa dijadikan acuan kira-kira area apa yang memiliki gaji tinggi.

3. Bantu atasan. Kerjakan pekerjaan sendiri dengan lebih cepat dan ambil waktu lembur untuk membantu pekerjaan atasan. Ini memang kelihatan konyol tapi sebenarnya ini adalah proses belajar gratis. Kalau bisa, pilih pekerjaan yang berkaitan dengan kemampuan yang ingin anda pelajari.

Ketika dalam proses ini, papa terkadang pulang dari kantor selalu diatas pk 20:00 dan belajar ini itu di hari libur (termasuk hari Sabtu dan Minggu)

4. Pindah kerja sampai anda mencapai posisi dan gaji yang diinginkan. Ini memang tidak mudah karena dibutuhkan kemampuan menulis surat lamaran dengan baik, melewati interview, negosiasi akhir dan adaptasi dengan rekan kerja yang baru.

Cara menulis surat lamaran itu sangat penting, karna disini anda menjual diri sendiri dalam sebuah surat dan dibaca HANYA 2-3 MENIT!

Dulu ketika belajar, kami menulis 10 surat lamaran baru 1 kali dipanggil, namun ketika sudah lancar, 1 surat lamaran berarti 1 kali panggilan, menyenangkan bukan?

5. Fokus pada posisi dan gaji.

Contoh : posisi sekarang staff dengan gaji 2 juta.

Terima bila mendapatkan posisi supervisor dengan gaji 2 juta, tidak naik gaji, namun anda naik jabatan, berarti pekerjaan anda tambah sulit, namun disini anda belajar gratis !!! Namun kalau anda memiliki kemampuan no 6, anda bisa mendapatkan kenaikan gaji juga.

Bila sudah menguasai pekerjaan (lakukan dalam waktu yang singkat, 1-2 bulan), jangan ragu meminta kenaikan dan segera pindah kerja bila mendapatkan posisi sama dengan gaji yang lebih besar.

Ada seseorang yang memiliki pengalaman berikut: 3 tahun 3 kali pindah kerja setelah ada kenaikan gaji dari tempat sebelumnya. Jadi dalam 1 tahun ia mengalami 2 kali naik gaji, 3 tahun berarti 6 kali naik gaji.

6. Tingkatkan kemampuan berinteraksi dengan orang lain. Ini yang TERPENTING! Bila ada 2 orang dengan kemampuan kerja yang sama, namun si A adalah orang yang lebih mampu berinteraksi dengan rekan sekantor dan atasan, sudah pasti si A akan lebih cepat untuk naik karirnya.

Cara tercepat meningkatkan kemampuan ini adalah baca buku-buku berikut:
1. Bagaimana cara mencari kawan dan mempengaruhi orang lain
2. Berpikir dan berjiwa besar
3. Skill with people

Sukses itu perlu 5% kemampuan teknis, 95% kemampuan non-teknis.

Laduni Quotient, Model Kecerdasan Masa Depan

Assalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh…
Sahabat, NAQS DNA dalam pembinaan kepada siswanya adalah sudah pada ranah praktek. Berupa latihan-latihan praktis untuk mengolah kekuatan Fikiran, Hati Nurani, dan Jiwa serta Ruh. Oleh karena itu untuk mengisi di bidang teoretisnya, NAQS DNA banyak mengambil dari berbagai sumber untuk disesuaikan dengan pelajaran yang ada. Dan itu saya tuangkan dalam bentuk artikel di blog ini ataupun blog NAQS yang lain. Serta ada beberapa yang sudah saya rangkum dalam sebuah buku, sehingga siswa sudah tidak perlu bersusah payah mencari artikel yang diperlukan.

Saya adalah seorang praktisi, dan bukan ahli teori. Latar belakang pendidikan saya, Di Sekolah keruhanian yang saya ikuti yaitu Tarekat/Tasawuf, di sana tidak ada materi yang dijabarkan secara lisan atau banyak berteori. Yang ada adalah praktek dan praktek. Namun karena untuk memberikan penjelasan kepada siswa NAQS. Maka mau tidak mau sisi teori juga harus saya tampilkan sebagai media pembelajaran untuk siswa. Dan Sebagai suatu bentuk tanggung jawab saya untuk mendidik mereka.

Nah, disinilah tugas berat menanti saya. Kalau untuk diri saya sendiri, saya sudah tidak memerlukan banyak teori, tetapi untuk memberikan pemahaman yang tepat dan benar kepada siswa. Maka sayapun harus sekolah lagi. Banyak belajar dan membaca berbagai literatur, Maka sebagaimana yang sering saya katakan. Sebuah cara sukses dalam pembelajaran adalah Rajin Belajar dan rajin mengajar. Dari sinilah terjadi arus limpahan ilmu yang tiada henti dari Allah swt.

Saya terkadang menugaskan siswa untuk membelikan saya sebuah buku. Sebenarnya hal itu adalah sebuah pesan untuk mereka agar juga belajar dari buku tersebut. Bahkan kalau perlu, buku yang sudah mereka beli itu, tidak usah dikirimkan ke saya. Tetapi untuk diri mereka sendiri saja. Atau kalau mereka merasa ingin menjaga amanah, maka merekapun beli dua buku. Satu untuk saya dan satu lagi untuk diri mereka sendiri.

Nah, mengenai Laduni Quotient sebenarnya sudah ada sebuah buku yang berjudul Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan karya Ilung S. Enha. Silahkan bagi siswa NAQS DNA yang berminat untuk mengetahui lebih dalam tentang Kecerdasan Laduni untuk memiliki buku tersebut.

Akal yang dalam bahasa Yunani disebut nous atau logos atau intelek (intellect) dalam bahasa Inggris adalah daya berpikir yang terdapat dalam otak, sedangkan “hati” adalah daya jiwa (nafs nathiqah). Daya jiwa berpikir yang ada pada otak di kepala disebut akal. Sedangkan yang ada pada hati (jantung) di dada disebut rasa (dzauq). Karena itu ada dua sumber pengetahuan, yaitu pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah) dan pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Kalau para filsuf mengunggulkan pengetahuan akal, para sufi lebih mengunggulkan pengetahuan hati (rasa).

Bagi para filusuf, kesempurnaan manusia diperoleh melalui pengetahuan akal (ma’rifat aqliyah), sedangkan para sufi melalui pengetahuan hati (ma’rifat qalbiyah). Akal dan hati sama-sama merupakan daya berpikir.

Menurut sufi, hati yang bersifat nurani itulah sebagai wadah atau sumber ma’rifat –suatu alat untuk mengetahui hal-hal yang Ilahi. Hal ini hanya dimungkinkan jika hati telah bersih dari pencemaran hawa nafsu dengan menempuh fase-fase moral dengan latihan jiwa, serta menggantikan moral yang tercela dengan moral yang terpuji, lewat hidup zuhud yang penuh taqwa, wara serta dzikir yang kontinu, ilmu ladunni (ilmu Allah) yang memancarkan sinarnya dalam hati, sehingga ia dapat menjadi sumber atau wadah ma’rifat, dan akan mencapai pengenalan Allah. Dengan demikian, poros jalan sufi ialah moralitas.

Latihan-latihan ruhaniah yang sesuai dengan tabiat terpuji adalah sebagai kesehatan hati dan hal ini yang lebih berarti ketimbang kesehatan jasmani sebab penyakit anggota tubuh luar hanya akan membuat hilangnya kehidupan di dunia ini saja, sementara penyakit hati nurani akan membuat hilangnya kehidupan yang abadi. Hati nurani ini tidak terlepas dari penyakit, yang kalau dibiarkan justru akan membuatnya berkembang banyak dan akan berubah menjadi hati dhulmani—hati yang kotor

Hati nurani bagaikan cermin, sementara pengetahuan adalah pantulan gambar realitas yang terdapat di dalamnya. Jika cermin hati nurani tidak bening, hawa nafsunya yang tumbuh. Sementara ketaatan kepada Allah serta keterpalingan dari tuntutan hawa nafsu itulah yang justru membuat hati-nurani bersih dan cemerlang serta mendapatkan limpahan cahaya dari Allah Swt.

Bagi para sufi, kata Al-Ghazali, Allah melimpahkan cahaya pada dada seseorang, tidaklah karena mempelajarinya, mengkajinya, ataupun menulis buku, tetapi dengan bersikap asketis terhadap dunia, menghindarkan diri dari hal-hal yang berkaitan dengannya, membebaskan hati nurani dari berbagai pesonanya, dan menerima Allah segenap hati. Dan barangsiapa memiliki Allah niscaya Allah adalah miliknya. Setiap hikmah muncul dari hati nurani, dengan keteguhan beribadat, tanpa belajar, tetapi lewat pancaran cahaya dari ilham Ilahi.

Penggalian model-model kecerdasan untuk mempercepat proses berpikir, masih terus dilakukan para ahli di bidangnya. Setelah ditemukan belahan otak kanan dan otak kiri, kini ditemukan lagi pilahan otak tengah. Penemuan-penemuan tersebut dimaksudkan untuk mempercepat proses kecerdasan tersebut. Lalu, adakah model-model kecerdasan yang bisa digali dari al-Qur’an? “Kecerdasan otak hanya bagian kecil dari seluruh totalitas kecerdasan manusia. Dalam bahasa agama kita mengenal istilah qalbun salim dan aqlun dzakiyyun… hati dan akal yang tercerahkan,” tutur Ilung S. Enha, Penulis buku Laduni Quotient; Model Kecerdasan Masa Depan kepada Dedy Kurniawan dan Ahmad Suprianto dari JENDELA SANTRI. Berikut petikan wawancara selengkapnya.

Penemuan model-model kecerdasan untuk mempercepat proses berpikir, makin digandrungi masyarakat. Lantas, apakah di dalam al-Qur’an sendiri ada tawaran tentang model-model kecerdasan tersebut?

Ada dua ratus lebih ayat al-Qur’an yang menginspirasikan tentang kecerdasan. Di dalamnya banyak sekali model-model kecerdasan selain IQ, EQ dan SQ yang belum sanggup kita gali. Jika para cerdik-cendekia Muslim mau menggalinya, maka kita akan mengerti jika IQ, EQ dan SQ itu hanyalah merupakan sebagian kecil dari model kecerdasan yang diinspirasikan oleh al-Qur’an.

Bisa disebutkan sebagian dari model-model kecerdasan tersebut?
Sebut saja misalnya fu’ad (IQnya hati). Ini adalah merupakan potensi qalb yang bertanggung jawab pada masalah-masalah rasionalitas. Jika otak rasionalitas kognitif manusia dapat “menipu”, namun fu’âd senantiasa berpikir dengan kejujuran dan merujuk pada realitas yang objektif. Meminjam idiom al-Qur’an, fu’ad itu tidak mendustakan apa yang dilihat (QS. an-Najm: 11). Juga potensi kecerdasan lainnya seperti dzauq (intuisi), aql (akal), qalb (hati), shadr (EQnya hati), bashirah (SQnya hati), lubb (ketajaman inti hati) dan ruh (totalitas kecerdasan). Hanya lantaran istilah-istilah al-Qur’an tersebut belum sanggup diterjemahkan ke dalam bahasa sains, sehingga umat Islam lebih gemar mengekor ke pengetahuan neurologi Barat tanpa merujuknya dengan al-Qur’an.

Bukankah selama ini mereka sudah mengkomparasikannya dengan al-Qur’an?
Yang selama ini terjadi bukanlah mengkomparasikan, melainkan justru menjustifikasi kebenaran neurologi Barat tersebut dengan ayat-ayat al-Qur’an. Ini sudah menjadi tradisi para cerdik-cendekia kita yang hingga kini masih belum juga berubah. Jadi, yang namanya psikologi Islam adalah pengetahuan psikologi Barat yang ditambah dengan dalil-dalil dari al-Qur’an. Begitu pun dengan metodologi dan teori-teori pendidikan Islam, itu teori pendidikan Barat yang ditambah dalil-dalil al-Qur’an. Begitupun dengan IQ, EQ dan SQ, agar tampak islami lantas kita carikan dalil-dalil al-Qur’an atau al-Hadits untuk mendukungnya.

Ambil SQ misalnya, bukankah dalam al-Qur’an sendiri memang banyak ayat yang menjelaskan tentang masalah-masalah yang ruhaniah?
Nah, kan? Dengan begitu entengnya kita mentransliterasi istilah spiritualitas dengan ruhaniah. Kita memang terbiasa latah mempadankatakan istilah-istilah yang sebenarnya tidak sama maknanya. Seperti ketika kita menyebut kata jasmani-ruhani. Kata ruhani di situ kerapkali kita maknai dengan jiwa. Padahal jiwa dalam al-Qur’an disebut dengan idiom nafs. Sehingga kata jasmani-ruhani seharusnya bukan diterjemahkan sebagai jasad dan jiwa, melainkan jasad dan ruh. Dan kata ruh sendiri tak bisa kita samakan dengan kata spirit dalam terminologi Barat.

Lho.. bukankah padan kata spiritualitas itu adalah ruhaniah?
Neurosains Barat menjelaskan spiritualitas itu bersarang di otak manusia. Sedangkan ruhaniah itu beroperasi di wilayah ruh. Jadi.. spiritualitas dalam terminologi Barat sangat berlainan dengan kata ruhaniah yang dimaksud oleh al-Qur’an. Menurut persepsi Barat, orang yang humanis, liberal, atau bahkan atheis sekalipun, mereka bisa mencapai tingkat spiritualitas yang tinggi. Sedangkan menurut al-Qur’an, tak mungkin seseorang yang mengingkari eksistensi Tuhan bisa mencapai tingkat ruhaniah yang tinggi.

Jadi arti dari istilah spirit itu sendiri…
Jika kita merujuk pada kata aslinya, itu dekat dengan pengertian al-Qur’an. Kata spirit diambil dari kata spiritus yang diadopsi Barat dari Yunani. Kata spiritus memiliki makna ruh. Tapi Barat rupanya kurang konsisten dalam memaknainya, sehingga SQ lebih didefinisikan sebagai sesuatu yang menghidupkan, semangat hidup atau nafas kehidupan dengan tanpa sama sekali merujuk pada ruh. Jadi.. ketika manusia merespon insting keberagamaan, dipahami oleh Barat itu karena aktivitas God Spot yang terletak di lobus temporal dan bukan sesuatu yang bersifat ruhani. Sedangkan menurut al-Qur’an, kecerdasan yang bersifat ruhaniah tersebut bersarang di hati manusia dan bukan di otak. Sebab dengan hati yang senantiasa tercerahkan, maka seseorang akan selalu merasakan kehadiran Tuhan dalam dirinya.

Lantas, di mana sebenarnya posisi IQ, EQ dan SQ sendiri dalam ranah al-Qur’an?
Kalau ketiganya dipersepsi dengan terminologi Barat, maka ketiganya masuk dalam ruang al-fikr yang di al-Qur’an diungkapkan dengan idiom fakkara, yatafakkaru, tatafakkaru atau yang senada dengan itu. Sebab Barat memahami IQ, EQ dan SQ merupakan aktivitas dari kinerja otak. IQ dan EQ mereka pahami sebagai kinerja dari otak kognitif dan otak intuitif. Begitu juga dengan SQ yang mereka jelaskan sebagai aktivitas dari noktah otak yang mereka sebut sebagai God Spot. Jadi ketiga-tiganya bersarang di otak manusia.

Lalu… bagaimana kita bisa menjelaskan model-model kecerdasan yang diinspirasikan al-Qur’an itu sehingga dianggap masuk akal oleh masyarakat?
Nah, istilah akal. Kita kerapkali keliru dalam mempergunakan istilah tersebut. Akal itu bukanlah pikiran. Kalau pikiran itu al-fikr, tapi kalau akal itu al-aql. Pikiran itu hasil kinerja otak atau dimagh. Sedangkan akal itu merupakan kinerja dari hati. Di dalam al-Qur’an dengan jelas disebutkan lahum qulubun ya’qiluna biha (Surat al-Hajj: 46). Jadi, di hamparan hatilah akal bertempat dan bukan di tabung otak.

Berarti kecerdasan manusia itu tak hanya berproses di wilayah otak saja?
Betul! Kecerdasan otak hanya bagian kecil dari seluruh totalitas kecerdasan manusia. Dalam bahasa agama sendiri, kita mengenal istilah qalbun salim dan aqlun dzakiyyun… hati dan akal yang tercerahkan. Sebuah qalbun yang salim, di dalamnya tersimpan kumparan energi yang sangat luar biasa. Jika energi ini dapat kita kelola dengan baik dan benar serta berhasil mentransfernya ke ranah akal, maka akal akan berkembang menjadi aqlun dzakiyyun. Dan apabila kecemerlangan akal semodel ini yang men-support energi ke dalam rongga otak, tentu hasilnya adalah sebuah pencerahan pikiran yang sangat menakjubkan.

Jika di dalam al-Qur’an begitu banyak tawaran model kecerdasan, kenapa yang lebih dikenal umat Islam justru IQ, EQ dan SQ?
Karena selama ini umat Islam memang lebih gemar menjadi konsumen sains Barat ketimbang menjadi produsen pengetahuan yang digali sendiri dari kitab sucinya. Ketika orang-orang Barat menemukan SQ misalnya, kita dengan gegap gempita rebutan “membeli”nya dan langsung meramunya dengan dalil-dalil al-Qur’an untuk mendukungnya. Itulah yang membuat kita cuma sibuk mengelola pikiran, tanpa pernah menengok kecerdasan lain yang diinspirasikan oleh al-Qur’an. Padahal banyak sekali potensi kecerdasan selain pikiran, yang jika kita sanggup mengelolanya secara tepat akan terjadi lompatan percepatan proses kecerdasan yang tak pernah diperhitungkan sebelumnya.

Tapi… bukankah di dalam al-Qur’an banyak ayat yang memerintahkan kita untuk berpikir?
Kalau yang dimaksudkan berpikir itu merujuk pada ayat afalaa tatafakkarun atau yang seirama dengan itu, maka pengertiannya bisa kita perluas. Tatafakkarun di situ lebih pas diterjemahkan dengan tafakkur atau merenung, dan bukan sekedar berpikir rasional. Sebab berpikir rasional hanya membutuhkan elemen otak kognitif saja. Tetapi merenungkan atau tafakkur, selain menggunakan elemen otak kognitif, otak emosional, otak spiritual, juga dengan melibatkan hati dengan segala perangkatnya. Jadi tafakkur itu merupakan pertemuan dari akal pikiran dan akal hati. Sehingga elemen kecerdasan yang dipergunakan untuk merenung, disamping menggunakan IQ, EQ dan SQ, juga menggunakan perangkat kecerdasan dzauq, aql, shadr, fu’âd, qalb, bashîrah dan lubb.

Kalau tak salah mengerti, istilah-istilah yang Anda maksudkan itu operasinya di wilayah hati?

Benar.

Lantas bagaimana dengan kecerdasan yang beroperasi di wilayah ruh?
Di ruang pusat gravitasi energi ruh tak hanya menyimpan energi kecerdasan semata, melainkan juga energi kekuatan, energi kecermatan, energi percepatan, energi kesabaran, energi keikhlasan, energi gerak yang tiada kenal putus asa, energi niat dan kesungguhan, energi inovasi, energi hening dan kebeningan, serta sederet energi-energi lain yang bisa kita perpanjang sendiri. Di wilayah pusat energi ruh inilah, segala bentuk energi itu telah manunggal menjadi satu-kesatuan yang tak terpilahkan. Dengan benih energi inilah, apa yang saya sebut dengan Laduni Quotient (LQ) tumbuh dan berkembang. Mula-mula benih itu tertanam di kedalaman lubb. Lalu dipancarkan oleh bashîrah ke dalam ruangan qalb. Dari sana kemudian mengalir menuju fu’âd dan shadr. Lantas disambungkan oleh akal ke tabung intuisi dan tabung pikiran. Dengan totalitas kecerdasan itulah, seseorang akan dapat menyongsong seruan-Nya: “Dan bertakwalah, niscaya Allah yang mengajarimu.” (QS. al-Baqarah: 282).

Lantas untuk mencapai hal tersebut…
Untuk bisa memperoleh kecerdasan laduni, seseorang harus sanggup masuk ke pusat gravitasi energi ruh tersebut. Sebab dari kecerdasan ruhaniah, dan bukan kecerdasan spiritual, LQ dapat diraih. Seseorang akan dapat memasuki wilayah tersebut jika mampu mengelola jiwa (nafs), membersihkan hati (qalb) – dari nafsu internal (hawa) dan nafsu eksternal (syahwat), mengelola kesadaran akal (aql), mengoptimalkan pikiran (fikr) dan hati rasional (fu’âd), memperindah intuisi (dzauq) dan kreativitas hatinya (shadr), mempertajam kecermatan mata hati (bashîrah), dan memperhalus inti terdalam nurani hati (lubb). Tanpa itu semua, menggapai kecerdasan laduni (LQ) hanya lebih bersifat khayalan daripada semangat penggalian yang sungguh-sungguh dan tak pernah merasa berputus-asa.

Nb. Anda tidak akan mempunyai kecerdasan Laduni, bila hanya sekedar membaca teorinya. Anda harus melatihnya dan tekun berlatih diri. Nah, bila anda siap untuk berlatih. Silahkan mendaftar sebagai siswa NAQS DNA. Salam..

Referensi : Ruang Bening